Title: After A Minute
Cast: Kyuhyun, Donghae, Changmin, and others
Desclaimer: Semua cast milik Tuhan YME, but this story is mine
Genre: Family, hurt, brothership, friendship
Rating: Fiction T
Warning: just fanfic, don't like don't read, typos, OOC, masih author baru, alur membosankan, cerita pasaran
Summary: Keadaan yang memaksanya untuk berubah. Hanya ingin membalas semua rasa sakit yang ia terima di masa kecil.
(Np: Super Junior KRY - Hanamizuki)
Happy reading
Puput257™
Chapter 14
Duak duak duak
Untuk kesekian kalinya, namja kepala tiga itu melayangkan bogem mentah pada namja di hadapannya. Ia menatap nyalang namja yang kini terpekur dengan lebam yang menghiasi hampir seluruh wajahnya.
"Demi Tuhan, Jungsoo hyung. Appa sudah babak belur. Aku mohon berhenti," pinta Donghae sembari mencekal kedua tangan namja kepala tiga itu -Jungsoo.
Jungsoo berdecih. Ia melepas cekalan Donghae pada lengannya lalu duduk dengan kasar di sofa. Ia membuang mukanya ke samping dan sedetik itu pandangannya berubah melembut kala melihat keponakan terkecilnya yang sejak tadi hanya menatap kosong kedepan.
"Donghae-ya... biarkan Jungsoo membunuh appa. Appa bersalah. Appa berdosa pada kalian..." namja yang hanya pasrah saat Jungsoo memberinya bogem mentah kini meraung.
"Appa... "
Donghae tidak bisa berdiam lebih lama. Mau bagaimanapun namja yang sedang meraung itu adalah appanya. Diraihnya tubuh Younghwan untuk duduk di sofa.
Donghae meraih kotak P3K di laci. Dengan tangan bergetar ia mulai mengobati wajah sang appa yang hanya menurut. Mungkin namja paruh baya itu tengah menyesali perbuatannya.
"Kenapa kau kembali?" tanya Jungsoo dengan nada datar. Ada kilat marah di balik matanya.
Jungsoo kembali teringat. Ia hanya bisa menaikkan alisnya saat baru turun dari taksi sore tadi. Changmin yang berdiri mematung di depan pagar rumah keponakannya hanya diam saat ia bertanya. Ia mengikuti arah pandang Changmin. Sedetik kemudian ia langsung berlari menerjang seseorang yang telah menghilang selama tiga belas tahun itu. Emosinya memuncak kala menyadari kedua keponakannya tengah menangis. Bahkan Kyuhyun, bocah itu menangis -walau tanpa suara- di dekapan Donghae.
"Jawab aku, Kim Younghwan! Apa yang kau inginkan sebenarnya?!"
Menunduk. Younghwan hanya bisa menundukkan kepalanya. Ia menepis dengan lembut tangan Donghae yang masih mengobati lukanya.
"Sudah, Donghae-ya..." ucapnya pada sang sulung. Ia mencelos melihat wajah sang putra. Entah raut apa yang tergambar di wajah Donghae.
"Sebenarnya apa maumu, Younghwan?!" Tanpa menggunakan rasa sopannya Jungsoo kembali bertanya pada Younghwan.
"Aku ingin kembali pada Hanna," jawaban Younghwan membuat Jungsoo mengepalkan tangan. "Tapi ternyata sudah terlambat," lanjut Younghwan dengan senyum pahit.
"Aku tahu, Jungsoo-ya. Kau membenciku. Kau marah padaku. Aku meninggalkan noonamu tiba-tiba. Maafkan aku," ucapnya penuh rasa penyesalan.
"Katakan itu pada kedua putramu." Setelah mengatakan itu, Jungsoo pergi. Suara bantingan pintu terdengar keras.
Seolah tersadar, Younghwan menatap Donghae dan Kyuhyun bergantian. Bodoh. Bagaimana bisa perasaan tidak pekanya separah ini. Kedua putranya pasti lebih dari sekedar marah padanya. Kedua putranya pasti lebih dari sekedar benci padanya. Terutama Kyuhyun, putra bungsunya yang dengan terang-terangan tidak mengakuinya sebagai appa.
"Appa adalah orang yang jahat. Kalian pantas menghukum appa."
Donghae berusaha mencegah sang appa yang bersikeras bersujud di lantai yang terasa berkali lipat lebih dingin dari biasanya. Sedangkan Kyuhyun, ia hanya menatap kedua orang itu dengan datar.
"Appa... " lirih Donghae melihat sang appa. Namun ia tersentak saat melihat sang adik beranjak dari duduknya tiba-tiba. "Kyuhyun," panggilnya. Ia baru maju selangkah, namun Kyuhyun bersuara.
"Aku ingin tidur."
Donghae hanya bisa menatap punggung sempit Kyuhyun yang menghilang di balik tangga. Ia memejamkan matanya sejenak kemudian meraih tubuh sang appa lalu menegakkannya.
"Jangan pernah melakukan hal ini. Aku memang marah pada appa. Aku memang benci pada appa." Air mata mulai menggenangi manik Donghae.
"Donghae-ya... "
"Tetapi kau tetap appaku, suami dari eommaku. Seorang namja brengsek yang selalu aku nanti kepulangannya."
Younghwan merasa dirinya sungguh jahat. Putra sulungnya bahkan masih menanti kepulangannya. Sedangkan Younghwan sendiri, ia justru hidup tenang di negara orang. Tanpa berniat mencari informasi tentang keluarga kecilnya yang ia tinggalkan.
"Maafkan appa. Maaf... "
Seseorang yang masih berdiri di anak tangga teratas itu mengeratkan genggamannya. Ia membalikkan badan setelah melihat dengan jelas pemandangan di lantai satu.
"Hyung, aku harus bagaimana?"
.
.
.
Gelapnya malam seolah tidak menyadarkan namja tinggi yang tengah duduk merenung di kursi taman. Suhu udara bahkan hampir mencapai lima derajat dibawah nol setelah salju mereda. Entah sudah berapa lama Changmin hanya duduk di sana. Entah sudah berapa kali pula Changmin menghela napas dan mengusap wajahnya kasar.
"Aku tidak bisa terlalu jauh ikut campur. Semua sudah diluar urusanku sebagai sahabat. Kyu, kuharap kau tau dimana hatimu berada. "
Changmin kembali teringat bagaimana wajah Kyuhyun saat menatap kedua orang bermarga sama dengannya itu. Ia teringat jelas kedua mata Kyuhyun yang nampak terluka walau dari kejauhan. Ia teringat dengan jelas saat Jungsoo tiba-tiba berlari lalu memukul wajah Younghwan yang tengah berteriak pada Kyuhyun.
Disatu sisi, Changmin ingin berlari pada Kyuhyun. Ia ingin menenangkan Kyuhyun. Namun disisi lain, ia harus sadar diri. Ia tidak boleh terlalu jauh masuk dalam kehidupan pribadi keluarga Kim.
Namja tinggi itu beranjak dari duduknya. Ia harus segera pulang ke rumah. Eomma dan appanya pasti khawatir. Apalagi ia terus mengabaikan getaran pada saku celananya.
.
.
.
"Kyuhyun... "
Hening
"Kyu... "
Masih hening
"Kyuhyun... dongsaeng-ah... "
Donghae mengeraskan rahang kala sang dongsaeng tidak menyahuti panggilannya. Padahal sudah jelas Kyuhyun tengah duduk di pinggir ranjang kamarnya. Dongsaengnya itu hanya memandang kosong jendela kamar yang terbuka, menampilkan bulan sabit yang kini tertutup awan. Gorden berwarna krem itu tersibak akibat hembusan angin musim dingin.
"Kau bisa kedinginan jika membuka jendelanya," ujar Donghae sembari berjalan menuju jendela yang terbuka kemudian menutupnya.
Namja dua puluhan tahun itu berharap saat membalikkan badan, Kyuhyun dapat mengalihkan atensi padanya. Namun, ia terpaksa menggigit pipi bagian dalamnya kala Kyuhyun tetap memandang kosong pada jendela di belakangnya. Bahkan kedua mata itu nampak gelap, hanya gelap. Wajah tanpa emosi itu justru menampar Donghae.
Donghae memejamkan matanya sejenak lalu duduk disamping Kyuhyun. "Kau bilang ingin tidur. Lalu kenapa masih terjaga, eoh?" tanya Donghae. Ia berniat menyentuh pundak Kyuhyun. Berbeda dengan kejadian beberapa jam lalu saat Kyuhyun dengan nyaman bersandar di bahunya, Kyuhyun kini justru menarik tubuhnya menjauh dari Donghae. Detik itu pula ingin rasanya Donghae menangis dengan keras.
"Aku akan tidur."
Setelah mengatakan itu, Kyuhyun mulai merebah di ranjang -membelakangi Donghae- lalu menarik selimutnya sebatas dada. Ia menutup matanya, mencoba untuk mendapatkan kembali rasa kantuknya.
Selama beberapa detik tidak ada pergerakan sama sekali, pertanda Donghae belum beranjak dari kamarnya.
Srekk
Gesekan antara lantai dengan alas kaki membuat Kyuhyun tahu jika Donghae akan keluar dari kamarnya.
"Baiklah, hyung mengerti. Selamat malam. Jaljayo, Kyu." Tangan kekar itu beralih untuk mengusak rambut ikal Kyuhyun, namun Donghae kembali menelan ludahnya. Kyuhyun menghindari usakkan pada kepalanya meskipun matanya tetap terpejam.
Dengan gontai Donghae melangkah keluar dari kamar Kyuhyun. Ia sempat menoleh pada Kyuhyun yang masih menutup matanya di ranjang, berharap sang dongsaeng mau membalas ucapannya. Namun, ia harus menelan ludahnya lagi.
Blam
Pintu jati itu tertutup sempurna, menelan tubuh Donghae yang berada di baliknya. Kyuhyun membuka mata sepuluh detik kemudian. Ia merubah posisi tubuhnya menjadi terlentang -masih berbalut selimut.
Pikirannya tiba-tiba penuh sampai Kyuhyun tidak bisa menjelaskan apa yang ia pikirkan saat ini. Dipandangnya lekat langit-langit kamarnya.
"Jaljayo, hyung," ucap Kyuhyun lirih. Ia kembali menutup kedua matanya diiringi sebulir airmata yang menetes.
.
.
.
Kursi makan yang biasanya hanya diisi oleh dua bersaudara Kim kini nampak berbeda. Dua orang yang sebelumnya jarang -bahkan tidak pernah bagi namja tertua disana- tengah duduk di kursi yang saling berseberangan. Harusnya suasana hangat tercipta karena kehadiran orang lain di ruangan yang tidak bisa dibilang sempit itu. Namun sebaliknya, ruang makan itu terasa dingin, sedingin suhu udara di pagi ini.
Jungsoo yang masih emosi dengan kehadiran Younghwan seolah menganggap suami dari mendiang noonanya itu tidak ada disana. Younghwan yang masih dibayangi perasaan bersalah juga tetap diam. Sedangkan Donghae, ia tidak berpihak pada siapapun. Ia tidak akan membela Jungsoo ataupun menyalahkan Younghwan, begitu pun sebaliknya.
"Kau tidak sarapan, Kyu," ucap Donghae menghentikan langkah Kyuhyun.
Remaja kelas dua SMA itu berhenti di tengah ruang tamu. Ia melepas earphone yang menggantung di telinganya.
"Tidak," jawabnya tanpa membalikkan badan.
"Tapi Max belum kesini," ucap Donghae lagi, ia berdiri tepat di belakang Kyuhyun.
Kyuhyun melangkah pergi tanpa menjawab pertanyaan Donghae. Namun diambang pintu ia berhenti.
"Aku bisa berangkat sendiri," balasnya tanpa nada setelah itu menghilang di balik pintu yang tertutup.
Krieett
"Aku selesai."
Donghae hanya bisa mengusap wajahnya kasar saat Jungsoo beranjak dari meja makan. Ia menghela napas kala pandangan Younghwan bertemu dengan pandangannya.
"Bagaimana ini bisa terjadi?"
.
.
.
Changmin melangkah dengan cepat di sepanjang koridor kelas -yang masih sepi. Ia seperti biasa menjemput Kyuhyun untuk berangkat bersama. Namun apa yang ia dapat tadi. Kata Donghae, Kyuhyun sudah berangkat sepuluh menit yang lalu.
"Aishh... Kumohon, Kyu... " gumam Changmin di sela langkahnya. Ia tadi langsung berlari setelah Donghae mengakhiri kalimatnya.
Brakk
Dengan -sedikit- kasar Changmin membuka pintu ruang kelasnya.
Kosong
Tanpa ba bi bu Changmin berlari ke arah gedung belakang sekolah. Wajahnya sarat akan kekhawatiran. Syal yang awalnya menggantung rapi di lehernya nampak berantakan. Mantel abu-abu yang dipakainya juga tidak serapi tadi.
"Kau dimana, Kyu?"
Changmin melongok ke sudut halaman belakang sekolah yang kini dihiasi butiran salju. Ia berhenti di bawah satu-satunya pohon yang ada disitu lalu mendongak ke atas.
Sedetik kemudian Changmin kembali berlari. Tidak peduli dengan beberapa siswa yang harus mencium lantai koridor yang dingin. Ia harus menemukan Kyuhyun.
"Hei! Shim Changmin! Kau mau kemana? Bel masuk akan berbunyi sepuluh menit lagi?"
Changmin bahkan mengacuhkan teriakan dari guru kedisiplinan saat melewati gerbang sekolah.
"Jangan bertindak bodoh."
.
.
.
"Yeoboseo, Hyuk-ah. Aku tidak masuk hari ini. Tidak. Hanya sedikit masalah. Ya. Mungkin seminggu ini. Baiklah. Terima kasih."
Donghae meletakkan ponselnya di meja ruang tamu. Baru saja Hyukjae menanyakan apakah ia masuk kuliah atau tidak. Dan Donghae dengan berat hati harus menjawab tidak.
Donghae duduk di sofa lalu menyandarkan tubuhnya pada benda berwarna merah tersebut. Ia memejamkan matanya sejenak. Entah berapa lama ia melakukan hal itu. Yang jelas saat Donghae membuka mata, sang appa kini tengah duduk di sofa yang sama dengannya.
Tergambar jelas raut penuh penyesalan pada wajah Younghwan.
"Appa berselingkuh di belakang Hanna. Mantan kekasih yang membuat appa hilang kendali. Selama hampir satu tahun appa melakukannya, dibelakang eommamu. Kejadian itu terjadi saat Kyuhyun masih berumur tiga tahun."
Jeda. Younghwan terdiam sesaat.
"Suatu hari Jungsoo memergoki appa yang tengah berciuman dengan yeoja itu. Appa tidak bisa mengelak. Appa akhirnya mengaku pada eommamu tentang perselingkuhan waktu itu. Appa kira Hanna, eommamu akan marah dan menceraikan appa."
Donghae menoleh pada Younghwan, namun ia tetap bungkam.
"Hanna hanya bilang tidak apa-apa dan menyuruh appa untuk tidak mengulangnya lagi. Jujur, appa merasa bersalah. Bagaimana bisa appa mencintai orang lain saat istri appa sendiri sangat tabah dalam mencintai appa. Aku... appa merasa tidak pantas bersanding dengan Hanna. Appa memilih pergi dari eommamu."
Younghwan menjelaskan apa yang ia lakukan dulu pada sang anak. Egois? Memang Younghwan egois. Ia tidak peduli, ia hanya ingin Donghae tahu kebenarannya.
"Sebelum pergi, appa memutuskan hubungan dengan mantan kekasih appa."
Kedua mata Donghae membulat. Setahu Donghae, appanya berselingkuh dan pergi meninggalkan eommanya begitu saja. Sempat terpikir di otak Donghae jika appanya pergi bersama 'yeojanya' -selingkuhannya.
"Appa pergi bersama teman lama menuju Jepang. Maafkan appa."
Seseorang di balik dinding dapur itu terdiam mendengar penjelasan Younghwan. Jadi Younghwan memutuskan yeoja itu. Jadi selama ini...
"Appa masih mencintai eommamu. Appa hanya mencintai istri appa."
.
.
.
Di salah satu kursi di taman itu nampak seorang namja dengan seragam pelajar tengah terduduk disana. Tanpa mantel, tanpa syal, tanpa jaket, hanya memakai seragam sekolah yang melekat pada tubuhnya.
Beberapa pejalan kaki yang lewat menaikkan alisnya.
Bodoh sekali
Begitu pikir mereka. Saat ini salju tengah turun -walau tidak deras- dan orang itu duduk disana tanpa mengenakan pelindung udara dingin di tubuhnya. Oh, ayolah. Suhu udara bahkan mencapai sepuluh derajat di bawah nol.
Kyuhyun. Seseorang yang tengah duduk disana adalah Kyuhyun. Dengan earphone yang menggantung di kedua telinganya, namja yang mungkin tengah membolos itu hanya terdiam. Sejak beberapa menit -hampir satu jam- ia tidak bergerak se-inch pun. Mungkin jika Kyuhyun tidak berkedip, orang-orang benar akan mengiranya sebagai patung.
"Ini appa... Appa pulang..."
"Kyuhyun kecil appa... Ini appamu, nak. Appa merindukanmu..."
"Katakan pada appa! Dimana Hanna?! Dimana eommamu?!"
"Hanna-ya..."
Kyuhyun memejamkan matanya erat. Ucapan-ucapan Younghwan kemarin selalu berputar di otaknya layaknya rol film yang tidak mengenal tanda stop. Tadi malam Kyuhyun bahkan tidak bisa memejamkan matanya lagi. Ia terus terjaga sampai pagi datang.
Dan saat ini seluruh tubuhnya terasa kebas dan beku. Kepalanya terasa pening akibat udara dingin -juga salju yang jatuh di kepalanya. Namun ia enggan untuk beranjak. Kyuhyun ingin sendiri. Walau kenyataannya memang seperti itu.
"Kenapa tidak menunggu aku menjemputmu tadi? Kau tidak ingin berangkat denganku lagi?"
Tanpa menoleh pun Kyuhyun tahu siapa yang tengah berbicara saat ini. Ia merasakan pergerakan di kursi tempat duduknya, pertanda orang itu tengah mengambil tempat disampingnya.
"Bagaimana kau tahu jika aku disini?" Uap putih terlihat kala Kyuhyun membuka mulutnya.
"Aku sahabatmu. Aku tahu kemanapun kau pergi," jawab Changmin seadanya.
Setelah berputar-putar di sekitar taman, Changmin akhirnya menghela napas lega saat melihat siluet Kyuhyun tengah duduk sendiri di kursi taman.
Changmin merapatkan posisinya disamping Kyuhyun. Ia mencopot earphone di telinga kanan Kyuhyun lalu memasangkannya pada telinganya sendiri.
Tidak ada suara apapun.
Changmin menaikkan alisnya. Beberapa kali ia melepas lalu memasang earphone tersebut pada telinganya. Apa earphonenya rusak?
"Kenapa tidak terdengar apapun?" tanya nya pada Kyuhyun.
Tanpa memutar wajahnya pada Changmin, Kyuhyun menjawab. "Memang tidak ada yang kuputar."
"Maksudmu kau tidak memutar musik atau sejenisnya selama menggunakan benda ini."
Kyuhyun hanya tersenyum miring menanggapi ucapan Changmin.
"Ya"
Changmin tiba-tiba menarik ujung earphone dari saku seragam Kyuhyun dan benar saja, ujung earphone itu tidak terhubung pada ponsel ataupun mp3 player.
"Jadi kau mendengar semua ucapan orang-orang selama menggunakan ini?" tanya Changmin dengan wajah kaget.
"Kau juga mendengar apa yang kukatakan selama ini, bukan?"
Kyuhyun tidak menanggapi ucapan Changmin. Ia sibuk dengan rasa pusing yang tiba-tiba menderanya. Tangannya beralih memegang kepalanya.
"Astaga, Kyu! Ada apa?"
Changmin yang sibuk bertanya ini itu pada Kyuhyun refleks memegang bahu sahabatnya itu saat tubuh Kyuhyun tiba-tiba limbung ke samping. Ia tertegun kala tangannya bersentuhan dengan lengan Kyuhyun.
"Kau kedinginan, bodoh!"
Dengan satu tangan yang masih memegangi Kyuhyun, Changmin melepas syal di lehernya lalu memakaikannya pada Kyuhyun.
"Aku tidak apa-apa," kalimat lirih dari Kyuhyun justru membuat Changmin semakin khawatir. Ia menggosok kedua tangannya lalu menempelkannya pada kedua pipi Kyuhyun yang terasa beku. Wajah pucat itu berkali lipat lebih pucat dari biasanya.
"Kau bilang tidak apa-apa? Tubuhmu bahkan sudah sedingin es."
Changmin merutuki kebodohannya hingga tidak menyadari pakaian Kyuhyun yang jauh dari kata layak untuk dipakai di tengah salju yang turun.
"Bertahanlah. Aku akan menelpon Donghae hyung." Changmin membiarkan tubuh Kyuhyun menumpu sepenuhnya pada tubuhnya. Ia melepas mantel yang ia pakai untuk menyelimuti tubuh Kyuhyun. Kemudian Changmin mengambil ponsel di saku celananya.
"Astaga, Kyu!"
Belum sempat Changmin menggeser layar ponsel, ia sudah dikagetkan karena tubuh Kyuhyun yang kembali limbung dengan mata yang terpejam erat.
.
.
.
Donghae menghela napas. Ia berulang kali mengelus punggung tangan Kyuhyun yang terbebas dari infus.
"Pasien mengalami guncangan emosi dan hipotermia. Selain itu, sepertinya Kyuhyun-ssi belum memakan apapun hari ini hingga menyebabkan kondisinya turun."
Donghae berulang kali menyesali kejadian kemarin dan hari ini. Ia bahkan melupakan jika sang dongsaeng belum mengisi perutnya sejak kemarin.
"Maafkan hyung, Kyu. Cepatlah bangun, semua khawatir padamu."
Pukul delapan pagi tadi Changmin menelponnya dan berkata untuk segera datang ke rumah sakit.
"Siapa yang sakit?" Pertanyaan itu terlontar begitu saja setelah Changmin mengakhiri kalimatnya.
"Kyuhyun" Dan satu kata balasan dari Changmin dengan sukses membuat ponsel yang Donghae pegang meluncur ke lantai.
Cklek
Suara pintu kamar rawat yang terbuka mengalihkan atensi Donghae dari Kyuhyun yang masih terpejam. Changmin masuk dengan raut khawatir yang kentara.
"Kyuhyun masih belum bangun, hyung?" tanya Changmin yang kini berdiri di samping ranjang Kyuhyun. Donghae hanya menggeleng.
"Terima kasih sudah membawanya kesini, Max. Aku tidak tahu jika tidak ada kau apa yang akan terjadi pada Kyuhyun."
"Tidak masalah, hyung. Sudah tugasku untuk mengawasinya selama di sekolah." Changmin menatap wajah Kyuhyun yang sudah tidak sepucat tadi.
Selama beberapa menit hanya keheningan yang mengisi ruang rawat itu.
"Maafkan aku, hyung. Kemarin aku tidak sengaja mendengar semuanya." ucap Changmin akhirnya. Ia berganti menatap Donghae penuh penyesalan.
Untuk sejenak Donghae terdiam. Ia cukup terkaget Changmin mengetahui kejadian kemarin.
"Tidak perlu minta maaf. Kau hanya berada di waktu dan tempat yang salah. Harusnya aku yang minta maaf." Donghae tersenyum maklum dan Changmin hanya tersenyum tipis kemudian.
.
.
.
Jungsoo hanya melirik sinis pada Younghwan yang sejak tadi berjalan bolak-balik di depan pintu rawat Kyuhyun.
"Hentikan itu, Younghwan!" desis Jungsoo. Ia tidak suka dengan kehadiran Younghwan yang seolah menghawatirkan Kyuhyun. Jungsoo yakin, Kyuhyun sakit karena namja brengsek itu. Ia meyakini itu karena Kyuhyun tidak pernah sakit selama ini.
Younghwan berhenti melangkah. Ia menatap Jungsoo penuh tanya. "Jungsoo-ya, aku hanya mengkhawatirkan putraku. Apa itu salah?" ucapnya.
Senyum miring diiringi decihan terdengar di koridor rumah sakit yang terasa sepi. "Salah jika itu adalah kau!" balas Jungsoo dengan nada tinggi.
"Apa maksudmu?" Tidak terima. Younghwan memang mengakui kesalahannya di masa lalu. Tapi ia adalah appa dari anak yang sedang terbaring di dalam sana. Ia punya hak untuk mengkhawatirkan Kyuhyun, putranya.
"Kyuhyun sakit karena dirimu. Dia sakit karena kedatanganmu." ucapnya seraya memegang kerah baju Younghwan. Menatap tajam bola mata yang sewarna dengan milik Kyuhyun.
Younghwan bungkam.
"Kyuhyun banyak tersakiti karena kau. Dia bahkan baru bisa hidup sebagai manusia beberapa bulan ini."
Dibalik nada tinggi terselip nada sendu di kalimat Jungsoo. Pandangannya kosong mengingat bagaimana sikap Kyuhyun padanya beberapa bulan lalu. Tanpa sadar genggamannya pada kerah Younghwan mengendur lalu lepas begitu saja.
"Apa maksudmu?" Hanya sebaris kalimat itu yang mampu Younghwan ucapkan. Seberapa banyak hal yang telah ia lewatkan?
Jungsoo terduduk di kursi. Ia mengusap wajahnya, seolah bisa menghilangkan pikiran buruk dalam otaknya.
"Kyuhyun... Ia menjadi korban bullying di masa kecil. Dan hal itu terjadi karena Kyuhyun tidak punya appa. Sejak kecil noona merahasiakan sosok appa darinya."
Kedua bola mata Younghwan membulat. Ia ingin marah namun merasa tidak pantas. Ia yang meninggalkan keluarganya terlebih dulu.
"Yang Kyuhyun tahu, ia tidak punya appa. Appanya telah meninggal dan ia tidak tahu bagaimana rupa appanya. Ia masih bisa tersenyum bahkan setelah kematian noona. Ia anak yang ceria jika bersama Donghae."
Jungsoo menarik napas. Ia tidak tahu kenapa ia harus menceritakan hal ini pada Younghwan yang jelas telah menorehkan luka di hati keponakannya.
"Kyuhyun dan Donghae tinggal bersamaku di Ulsan dua hari setelah kematian noona. Semua baik-baik saja selama beberapa tahun kemudian. Namun semua berubah saat ia menemukan potretmu bersama noona di kamar Donghae dua tahun lalu. Ia marah besar dan merasa di bohongi. Kyuhyun memaksa pulang ke Seoul saat itu juga."
"Aku hanya bisa menurutinya. Donghae yang baru masuk kuliah juga tidak bisa berbuat apapun. Dan setelah itu..."
Younghwan menoleh pada Jungsoo yang menjeda ucapannya, seolah mengumpulkan kekuatan untuk menyampaikan kalimat selanjutnya.
"Kyuhyun berubah. Menjadi anak pembangkang, nakal, tidak bisa diatur, dan datar. Dia menutup diri dari orang lain bahkan Donghae dan aku sekaliapun."
Raut wajah Jungsoo berubah sendu. Ia beralih menatap pintu kamar rawat Kyuhyun.
"Setidaknya ia sudah membuka dirinya belakangan ini. Dia mau tersenyum dan bercerita padaku dan Donghae."
"Kenapa?" Jungsoo menoleh. Younghwan tengah menatapnya dengan ekspresi yang tidak terbaca. Marah, kecewa, menyesal, mungkin?
"Kyuhyun pernah bilang jika ia tidak marah. Ia tidak pernah marah pada siapapun. Hanya setitik rasa kecewa yang menjalar di hatinya, membuat kepercayaannya pada orang lain hilang. Ia terlalu takut dikecewakan. Ia terlalu takut untuk kecewa... "
Younghwan tidak bereaksi saat Jungsoo beranjak dari duduknya.
"Aku belum memaafkanmu, Younghwan! Tapi kumohon... jangan sakiti Kyuhyun. Ia hanya perlu kenyamanan untuk menaruh rasa percayanya pada orang lain," jeda, "Termasuk padamu."
Tertegun. Younghwan mengangkat wajahnya untuk menatap punggung Jungsoo yang menghilang di balik kamar rawat Kyuhyun.
.
.
.
"Eungg... " lenguhan pelan membuat Donghae yang duduk di samping ranjang rawat Kyuhyun menoleh. Ia tersenyum kala Kyuhyun mulai mengerjapkan matanya.
"Kyu... kau sudah sadar...?"
Belum ada respon sampai tiga puluh detik setelahnya. Donghae dengan sabar menunggu.
"Hyung... " suara serak itu membuat Donghae tersadar lalu meraih gelas air di atas nakas.
"Minumlah dulu... " dengan perlahan Donghae menegakkan badan Kyuhyun untuk minum. Ia hanya acuh saat Kyuhyun menatapnya tanpa kedip.
"Sudah merasa lebih baik, eum?" tanya Donghae lagi. Dengan segenap keberaniannya, Donghae mengelus pucuk kepala Kyuhyun. Ia tersenyum saat Kyuhyun hanya mengangguk samar sambil menatapnya.
"Aku kenapa?"
Donghae menghentikan gerakan tangannya. "Kau pingsan. Max membawamu ke sini." balas Donghae jujur.
Kyuhyun membuang pandangannya ke luar jendela. Ia hanya teringat saat kepalanya tiba-tiba pusing lalu Changmin memberinya syal. Ia tidak ingat hal yang terjadi selanjutnya.
"Lalu dimana Max sekarang?"
"Hyung menyuruhnya pulang. Ia terlihat kacau saat hyung baru datang."
Walau sebenarnya tidak hanya Changmin yang kacau. Donghae, Jungsoo, dan juga... Younghwan juga nampak begitu.
Kyuhyun termenung.
"Kau butuh sesuatu? Atau ingin bertemu dengan appa dan Jungsoo hyung?"
Dengan erat Kyuhyun memegang lengan Donghae yang berniat bernjak dari tempat duduknya. Tubuhnya kini terduduk di atas ranjang.
"Aku percaya padamu, aku percaya. Aku bilang aku percaya padamu, hyung."
Donghae tertegun dengan kalimat yang tidak sinkron -dengan pembicaraannya- yang dilontarkan Kyuhyun.
Yang Donghae tahu, seharusnya setiap kalimat yang terucap dari bibir pucat itu terdengar penuh dengan kesungguhan. Namun tidak, Donghae seolah mendengar nada memohon disana. Adiknya, Kyuhyun tengah mencoba meyakinkan diri.
"Ada apa, eoh? Hyung tahu itu tanpa kau perlu mengatakannya." Dengan perlahan Donghae merengkuh pundak dongsaengnya. Ia merasakan tangan Kyuhyun melingkari pinggangnya.
"Hyung disini, hyung disini. Gwenchana... "
Kyuhyun tidak mengerti. Ia bimbang dengan pemikirannya sendiri. Selama beberapa menit, keheningan meliputi keduanya.
"Hyung... "
"Eumm... Wae?"
"Aku lapar."
Donghae tergelak. Ia melepas pelukannya pada Kyuhyun. Dengan gemas Donghae mencubit pipi Kyuhyun, menghasilkan protesan dari sang empunya.
"Kau memang nakal. Uisa bilang kau belum mengisi perut hari ini. Kemarin sore kau juga belum makan apapun, Kyu. Ditambah duduk di saat hujan salju tanpa mengenakan mantel, karena itu kau sampai pingsan." ucap Donghae membuat Kyuhyun menggembungkan pipinya.
Diraihnya sepiring bubur yang diantarkan oleh ganosha beberapa saat sebelum Kyuhyun tersadar.
"Jja, saatnya makan. Buka mulut, hyung akan menyuapimu." perintah Donghae.
Beberapa kali Kyuhyun menolak dengan menggelengkan kepalanya dengan kedua tangan yang menutupi mulut saat melihat benda berwarna-warni di dalam mangkuk putih itu. Namun Kyuhyun terpaksa membuka mulutnya karena death glare dari Donghae.
"Dongsaeng pintar... " Donghae terkekeh melihat Kyuhyun yang mendengus. Menurutnya itu lebih baik daripada melihat Kyuhyun yang terpejam dengan wajah pucat.
.
.
.
TBC
.
.
Hai hai... Akhirnya update juga. Maaf banget buat update yg lama, hampir sebulan kah? Sibuk, sesibuk-sibuknya sama tugas sekolah.
Pasti pada nanyain kenapa Kyuhyun sama appanya belum ada adegan bareng. Itu sengaja. Niatnya gak mau tbc disini. Tapi ternyata udah gatel pengen ngepost ini chapter. Maaf kalo amburadul -_-
Buat yg review, follow, sama favorit, terima kasih banget. Utamanya buat yg setia review, maaf lagi-lagi belum bisa bales reviewnya.
Uhm, buat yg mau nge add fbnya author: Jung Je Ah
Silahkan di add. Isinya cuma cucuran hati anak labil yg mau ditinggal Kyuhyun wamil tahun depan. Ok abaikan ini.
Last, thank you very much*bow
