C'est La Vie
Chapter Fourteen
© 2015 This story belong to me. The Cast belong to their agency. If there same place or anything else, its not on purposed. This story just fiction.
KAISOO Pedofile FANFICTION
MATURE CONTENT
BY DON'TJUDGEMELIKEYOU'RERIGHT
Proudly Presents
Author POV
Hari-hari setelah insiden di penjara, Kyungsoo tidak merubah wajahnya selain ekspresi muram, murung, sedih, dan kesal. Semua menjadi satu dalam bias cahaya matanya yang semakin meredup. Tidak ada yang dilakukannya selain berdiam diri, kadang menangis sambil memandangi jendela. Hal mutlak seperti ia kehilangan semangat hidup.
Kai adalah manusia berhati. Ia masih memiliki nurani atas ketidaktegaannya menyaksikan keterpurukan Kyungsoo. Namun disisi lain, Kai memiliki seribu satu alasan mengapa ia enggan mengabulkan permintaan Kyungsoo. Meski hatinya teriris, meski batinnya berulangkali mengucap maaf—tanpa pernah didengar Kyungsoo—dan meski kejadian ini benar-benar membuatnya miris.
Sekali lagi, tidak ada yang bisa Kai lakukan. Oh, ada sebenarnya, jika ia mau. Sayangnya, Kai terlalu berkeras hati, Kai terlalu berkeras kepala dengan pernyataan bahwa Kyungsoo hanya miliknya seorang. Mengabaikan fakta bahwa ia sama sekali tidak ada hubungan keluarga atau sanak saudara, bukan semua itu. Mereka hanya orang asing, terkait karena rasa cinta yang tak semestinya.
Sungguh, Kai tidak pernah bisa memalingkan atensinya dari keadaan Kyungsoo. Takut jika anak itu kemudian pergi dengan cara apapun. Hingga inisiatif gila itu datang, Kai mengurung Kyungsoo. Biarkan bocah sepertinya menutup dunia sosial, biarkan Kyungsoo tidak bersekolah, biarkan Kyungsoo tidak tersenyum atau tertawa lagi. Secara perlahan, Kai telah menyakiti Kyungsoo dan kelak bisa membunuhnya.
Hanya egois. Karena Kai seegois itu. Ia rela mati-matian mengupayakan beragam cara agar setidaknya Kyungsoo menetap disini. Apapun, apapun, meski kesekian kalinya Kai harus melihat kesedihan di mata bulat itu. Ya, karena Kai hanya menginginkan Kyungsoo—tanpa sedikitpun peduli dengan perasaannya—entahlah.
"Kyungsoo, kau belum makan sedari pagi." Ini sudah ketiga kalinya Kai mengatakan hal yang sama—sedikit menegur. Tapi sang objek hanya melamun, bahu lesu dan mata sayu. Kerap memandangi jendela dengan dua tangan hampir membenamkan kepalanya. Ini sebuah ironi dan Kai tak kuasa. "Kyungsoo, kau bisa sakit. Kau harus makan." Kemudian ia melangkah, masuk ke kamar serba putih itu. Perlahan mendekat dan menyentuh kulit Kyungsoo.
Tapi tidak ada reaksi. Terlalu hanya menatap jendela—atau angin yang berembus kencang—dengan tatapan kosong bercampur hampa. Bahkan nafasnya masih teratur, tidak menggebu. Kedipan matanya pun sewajarnya. Ya, aksi diam Kyungsoo memang sudah seharusnya membuat Kai semakin khawatir. Kyungsoo hanya sedang mogok, berharap jika dengan cara ini Kai bisa melapangkan dadanya.
Sayang, terlalu mustahil.
"Kyungsoo—aku bawakan sup krim kesukaanmu. Ada kue beras juga."
Hening. Kai mendudukkan diri dibelakang Kyungsoo, menyalang nanar pada punggung sempit itu.
"Kyungsoo—kumohon, jangan begini. Aku tidak mau kau sak—"
"Memang kau ini sebenarnya siapa?"
"Ma-maksudmu?"
Diam. Lagi. Hanya sebaris kalimat itu yang diucapkan Kyungsoo setelah dua hari. Kai tidak mempermasalahkan jika disana tanpa embel-embel 'Tuan', yang menjadi masalahnya adalah nada sinis dalam suara serak Kyungsoo. Seakan menohok hatinya, Kyungsoo tidak pernah sebegini kejam padanya.
Maksud Kai, Kyungsoo adalah pribadi hangat, gemar memaafkan meski kau sakiti—Kai mempelajari hal ini dengan baik—juga tutur katanya yang selalu sopan dan perilakunya yang kelewat santun. Intinya, Kyungsoo bocah manis yang sangat tertata.
"Ah, Kyungsoo, makananmu bisa dingin." Bahkan Kai sengaja melupakan kesangsian Kyungsoo. Berpuas diri untuk sekedar kedok—Barusan-bukan-apa-apa—dan Kai berdalih bahwa Kyungsoo baik-baik saja. Selalu. "Ayolah, Kyungsoo, atau kau mau ditemani Tao ge dan Kris ge?"
Tidak ada gelengan ataupun anggukan. Setidaknya satu tanggapan. Pun tidak ada sahutan. Kai menghela nafas—entah untuk keberapa kali—lalu mengurut dadanya sendiri—menguatkan hati agar ia bisa sedikit lebih sabar.
"Kyungsoo, kau sudah terlalu lama mendiamkan aku. Ja-jangan begini."
"Karena ini maumu."
Eh?
"Karena ini maumu, kan?"
Dia mengulang. Penuh penekanan dalam intonasi bertaraf rendah.
"Ti-tidak, Kyungsoo. Maksudku, kau tidak boleh seperti ini."
Tidak boleh seperti apa? Karena pertanyaan itu malah disuarakan Kai didalam hatinya. Kai mengatupkan sejenak kedua matanya, yang terlalu lelah menerima perlawanan lagi. Ia cukup berharap, saat membuka indera penglihatnya nanti, Kyungsoo telah kembali seperti semula. Seolah tidak pernah ada kejadian kemarin, seolah hanya ada cinta. Picik, huh.
"Kyungsoo.." Sekalipun Kai melirih penuh memelas. Kyungsoo tetap bergeming diposisinya, tidak lagi menampakkan raut ceria seperti biasa. Tidak ada, karena semua itu enyah berkat Kai menyuruh mereka pergi. Karena Kai berdiri diatas egoismenya yang angkuh. "Maaf. Hanya ini yang bisa kulakukan."
Kai kira setelah kalimat menjemukkan itu, Kyungsoo akan berteriak histeris. Mengamuk, atau apalah. Nyatanya? Tetap sama. Hampir tuli, hampir buta. Ia seolah tak pernah mengenal Kai, pun jerat dunia gelap yang ditawarkannya.
"Kyungsoo, akan aku panggilkan Tao ge dan Kris ge untuk mengata—"
"Aku tidak perlu mereka."
"Kyungsoo, mereka bisa memberimu pengertian, atau apapun kalau kau memang pan—"
"Aku ingin sendiri. Jangan ganggu aku. Oh, apa permintaanku yang satu ini tak juga kau kabulkan? Apa kau ingin menyiksaku lagi? Apa kau ingin membunuhku? Kenapa tidak melakukannya sekarang? Kenapa hanya memisahkan aku dengan orangtuaku? Kenap—"
Terhenti. Karena Kai sudah membungkam mulut Kyungsoo dengan mulutnya sendiri. Turut menenggelamkan cerocosan asa yang benar membuatnya muak. Mereka berciuman, selembut kapas beranai. Tidak lama, karena Kyungsoo terburu mendorong dada Kai, dan tangis itu luruh sebagai pengganti.
"Hentikan, Kyungsoo, hentikan menyak—"
"Kau yang menyakitiku. Hiks—hiks." Terlalu datar. Tidak ada seruan dan suara keras sebagai penunjuk kemarahannya. Kyungsoo menghapus airmatanya, menggunakan sebelah punggung tangan dan berpaling dari Kai. Entah, bagaimana siratan sendu itu tampak lagi. Bersama sapuan sengguk dan isak yang tertahan. "Pergilah. Kalau kau tak mau aku yang pergi, kau saja yang pergi."
Crap! Sesakit itukah mendapat penolakan? Sesakit inikah saat seseorang membencimu? Terang-terangan menyuruhmu pergi? Ya, segala macam godam telah dihantamkan ke ulu hati Kim JongIn sekarang. Ia mundur, bersama ambisi dan adidaya yang telah dijunjungnya tinggi-tinggi. Kini hancur tak berbekas, meluntur saat malaikatnya itu tampak menyedihkan.
Berkat siapa?
"Kumohon, Kyungsoo. Ingatlah aku sebagai orang yang pernah ada dihidupmu."
Hanya deru nafas keduanya yang menyambut. Berikut udara lembab dan dinding kokoh pembatas. Tidak ada hal lain, mereka bak dua orang yang dipertemukan lewat kemaksiatan, lewat kehancuran. Penyesalan, apapun. Kai merasa sanagt jauh dengan Kyungsoo sekarang.
"Makanlah. Jangan lupa."
Kai meletakkan nampan berisi asupan gizi itu di nakas samping tempat tidur.
"Beristirahat yang cukup."
Ia juga merapikan selimut tebal dan bantal-bantal diranjangnya.
"Baiklah, aku pergi dulu. Semoga harimu menyenangkan."
Tidak akan pernah. Dari bagian mananya? Oh, Kai hanya sedang berformalitas. Begitu ia menutup pintu kamar, punggungnya menyandar diluar sana. Kai mengesah, frustasi. Ia bak kehilangan waras, entah bagaimana seharusnya kini. Kai hanya tidak punya pilihan. Tunggu, dia punya, dia punya. Hanya enggan, gengsinya terlalu kuat untuk ditumbangkan. Kyungsoo mutlak miliknya.
Ponselnya berdering, layar menyala-nyala bersama satu nama andalannya. Kris. "Ya, Kris?" Kai menjauh dari area Kyungsoo, kemudian menghempaskan tubuhnya ke sofa empuk diruang tengah. Sementara si penelepon tak juga membalas, Kai bisa mendengar bising berisik diujung sana. "Ada apa, sih? Ramai sekali."
["Oh, Kai-ya."]
Kai mengernyit, "Ada apa dengan panggilan semanis itu?"
["Tidak. Hanya ingin memanggilmu seperti itu."]
Entah itu suatu bentuk kilahan atau memang Kris sedang mengada-ada sekarang. "Kenapa kau tahu kalau aku akan menghubungimu?"
["Jinjja? Wah, kita punya keterikatan batin rupanya."] Hell, hanya sejak kapan suara Kris menjadi cempreng? ["Ada apa, Kai? Kyungsoo lagi?"] Tepat sasaran.
"Bantu aku menenangkannya." Ya, dan dominasi sarat putus asa menjadi latar belakang suara Kai. "Maksudku, dia tidak sedang dalam kondisi hati yang baik."
Kris menggumam sebentar, ["Apa karena kemarin kau mempertemukan dia dengan orangtuanya?"] Kai mengangguk, tentu tanpa diketahui Kris. ["Jadi, kau mau mengajaknya jalan-jalan atau—"]
"Kemarilah. Bujuk dia agar mau makan." Kai mengalihkan pandangannya dari vas bunga menuju pemandangan diluar jendela. Gulungan awan putih, langit cerah, matahari terik. Benar-benar hari yang menakjubkan jika saja Kyungsoo tidak menjadi seperti sekarang. "Percuma. Dia tidak akan mau jalan-jalan."
["Uhm, baiklah. Aku akan tiba disana limabelas menit lagi."] Jeda, Kris menjauhkan ponselnya dan berteriak selanjut itu. ["Ya! Tao! Telurmu hangus! O-oh, maaf, Kai. Kami sedang memasak. Ya, kau tenang saja."]
Kai membayangkan suasana pada sambungan diseberang, Kris sedang membaca Koran sementara Tao sibuk didapur. Kai memang tidak tahu pasti kebiasaan mereka—tapi ia menilik dari keakraban—keduanya pasti selalu memiliki banyak hal untuk diperdebatkan. Benar-benar hidup yang menarik dengan mendapati ada seseorang yang bisa menyayangimu. Ah, tidak seperti dirinya, tidak seperti Kai—yang bahkan memperjuangkan cintanya untuk seorang bocah—mengejarnya seolah ia bisa menikah dengannya. Uh. Konyol.
["Kai?"]
"Y-ya, ya. Ah, selesaikan saja dulu, tidak apa-apa."
["Aku sudah selesai. Tao juga."] Kris berucap, santai. ["Oh ya, aku benar kan, tentang opini bahwa semakin lama kau menahan Kyungsoo, semakin banyak pula kesedihan yang kentara? Sudah, ya. Aku berangkat."]
Klik. Terputus. Kai membiarkan ponselnya meluncur tatkala pegangannya melonggar. Begitu saja. Kalimat Kris barusan terngiang, kalimat Kris barusan ia benarkan. Betapa. Kai sempat tertegun, sebelum akhirnya memaksakan satu senyuman. Entah untuk siapa. "Do Kyungsoo, berumur sepuluh tahun, mata bulat, bibir hati—dan aku mencintainya."
-ooo-
"Kau tidak membiarkannya pergi ke sekolah? Kau tidak mempertemukannya dengan teman-temannya? Mana bisa dia tidak stress, Kim JongIn?"
Itu reaksi Kris begitu Kai menceritakan bagaimana perlakuannya dua hari ini. Kai kelabakan, terlebih saat ia baru menyadari—mengurung Kyungsoo sama saja membunuh jiwa anak-anaknya.
"Aaaah~ Aku tidak punya jalan keluar, Kris. Buntu. Aku tidak mau dia lari, kabur, atau semacamnya. Atau keluarganya tahu-tahu mengambil alih, aku bisa apa?"
Kris memutar bola matanya, malas. "Ya, kau tidak bisa apa-apa."
"Nah, kan." Kai sudah menduga. Kemudian tatapannya mengarah pada Tao. "Mungkin kau bisa merajuk padanya. Dia selalu manut padamu, kan?" Tao mengangguk.
Kris melirik adiknya, lalu mengamati Kai lagi. "Kau seberantakan ini karena cinta pada bocah?"
"Sudahlah, yang terpenting Kyungsoo mau makan dulu. Baru kita urus yang lainnya." Tao bersikap bijak lagi—belakangan ini ia sering memotivasi orang, termasuk Kris—kemudian ia melangkah menuju kamar si target. "Aku masuk, ya? Gege mau ikut?"
"Tentu saja." Karena Kris belum bisa mempercayai kelainan pedofil adiknya ini tidak akan kambuh. "Aku bekerja dulu, Kai." Lalu ia menyusul Tao, tanpa memperhatikan cebikan Kai dibalik punggungnya.
Tao sudah memutar kenop, mendorong bahan mahoni itu dengan kakinya. Hal pertama yang seketika memenuhi ruang pikir Tao, adalah Kyungsoo yang sedang depresi. Benar saja, meski wajahnya masih semenggemaskan seperti ia balita dulu, meski hampir tidak ada yang berubah, Tao tetap sadar apa-apa yang menjadi beban hidup si mungil ini.
"Kyungsoo." Merasa namanya terpanggil, ia tahu jika pemilik suara berat itu adalah Tao. Pasti bersama Kris—dan Kyungsoo tak perlu menoleh. Tao mendekat dan mensejajarkan dirinya dipinggiran kursi—tempat Kyungsoo mengadu pandangan—dan disusul Kris yang bersiap menjadi penonton disudut lain. "Kenapa makanannya tidak disentuh sama sekali? Kau tidak suka? Mau makan diluar?"
Kris pikir, Tao bisa melamar menjadi pengasuh anak setelah ini. "Kris ge juga punya diskon untuk makan di La Fier'a. Kyungsoo suka steak, kan?" Ia turut duduk disamping Tao kini, memandangi betapa pucatnya wajah Kyungsoo. "Kau sudah tidak makan berapa hari, Kyungsoo?"
"Kyungsoo hanya ingin pulang."
Pulang. Ya. "Kau takut pada ahjussi Kai? Dia jahat lagi, hm?" Tao sekedar memancing.
"Dia selalu jahat."
Kris menaikkan satu alisnya, lalu berbisik sesuatu pada Tao. Begitu selesai, Tao membuka suaranya. "Kalau begitu, kau ingat janji kami yang akan membawamu ke Daegu?" Benar. Tebakan Kris selalu jitu. Sekarang wajah itu berseri, matanya berbinar. Ia antusias menatap Tao dan Kris bergantian.
"Ne. Aku ingat. Apa kalian akan membebaskanku?" Tidak. Itu jawabannya. Sayang, Kris dan Tao sama-sama mengulumnya dalam hati. Kyungsoo berkata seolah-olah ia sedang menjadi tawanan. Tsk. Apa ia begitu merindukan keluarganya? Oh tentu saja. "Ya kan, ya kan?"
"Ergh.." Tao meminta persetujuan dari Kris. "Tidak." Satu kata dari Tao itu sukses merubah ekspresi Kyungsoo untuk kembali seperti semula. Kecewa.
"Begini, Kyungsoo. Kita hanya berkunjung untuk mengobati ke—"
"Shireo! Kalau begitu tidak perlu, daripada memberiku harapan tanpa pernah terwujud!"
"Tapi, paling tidak kau bisa bertukar kerind—"
"Tidak mau!" Kali ini Kyungsoo berteriak, dan Kris tidak punya bantahan lagi. "Aku mau kalian keluarkan aku darisini! Ternyata kalian sama saja dengan ahjussi jahat itu! Aku benci!"
"Kau tidak boleh seperti itu, Kyungsoo. Kai telah menjadi pengganti orangtuamu, dia juga telah menolongmu, dan dia—"
"Dan dia jahat." Desisan Kyungsoo tidak luput dari delik matanya. "Dia selalu menggunakan kekerasan. Aku sudah cukup hati memaafkannya, tapi—tapi.."
Tao segera memberi pelukan, mengelus surai cokelat itu agar emosinya bisa teredam. "Sssh, ssh, tenang, Kyungsoo. Kau melakukan hal yang benar. Kau menyayangi Kai, begitu pula dia. Jauh lebih menyayangimu. Kau ingat bagaimana kalian menghabiskan waktu bersama, kan?..
..Dia datang menjadi ayahmu, kalian berbelanja berdua, kalian memasak didapur dan bercanda kemudian. Ingat semua kebaikannya, Kyungsoo. Hanya satu, lebih dari apapun, ia bahkan rela memberi nyawanya untukmu." Rentetan kalimat Tao agaknya cukup menyentuh kalbu Kyungsoo. Ia memutar kilas balik memorinya, dan benar.
"Hiks—tapi, aku tetap ingin pulang."
"Kau pasti pulang, Kyungsoo. Hanya tunggu saja." Eh? Tao mendongak, bertanya-tanya mengapa Kris seyakin itu. "Kalau kau berani merebut hati Kai, suatu saat ketukan akan menghampirinya. Lalu ia membiarkanmu pulang, melepasmu. Yah, meski pada akhirnya, dia menjadi gila—atau entahlah."
"Pokoknya, aku hanya ingin pulang."
"Berarti kau dan Kai sama-sama egois." Eh? Tao tak habis pikir, lagi. Ada apa dengan kakaknya? Mau memperburuk keadaan? Ini sama saja dengan memojokkan Kyungsoo, dan dia masih menganggap ini hal enteng? "Seharusnya, ada pihak yang mengalah. Mungkin Kai akan melakukannya. Karena dia terlalu menyayangimu, percayalah, pada akhirnya dia juga akan merelakanmu atas kebahagiaan."
Entah. Namun, saat kalimat Kris terlontar begitu saja, Kyungsoo merasakan sakit yang teramat sangat. Bagaimana jika memang begitu? Kai gila, Kai bunuh diri? Kyungsoo jelas tak ingin hal itu terjadi. Tapi, sungguh, ia lebih dari sekedar bingung sekarang.
"Aku tidak tahu, ge."
Hening, bersirobok dengan meragu. Bertahan selama lima menit, dan Tao berusaha mencairkan suasana lagi. Karena menurutnya, apa yang dibicarakan Kris terlalu dewasa untuk bocah seumuran Kyungsoo. Mana tahu ia tentang egois, mana tahu ia tentang mengalah, pikiran bocah hanya ingin kesenangannya sendiri—dan Tao memperhitungkan itu.
"Kalau begitu, kau mau apa sekarang?"
"Dia sudah bilang kalau ingin pulang, Tao." Kris terburu menyambar, lalu kepergiannya menuju nakas diikuti pandangan Tao. "Ayo, makan, Kyungsoo. Kau tidak boleh manja, kau tidak boleh menyerah karena hal sesepele ini. Hidup dengan Kai memang membuatmu menjadi pembangkang, kurasa berbeda saat kau hidup dengan orangtuamu dulu." Tsk. Tao tidak percaya Kris mengatakan hal sesakit itu. Hingga ia meletakkan nampan tadi dihadapan Kyungsoo.
"Aku tidak mau."
"Kau harus mau."
"Aku kenyang."
"Kau harus lapar."
"Kris ge! Apa-apaan, sih? Jangan memaksanya!" Tao membentak.
"Dia harus tahu hidup tidak melulu tentang dirinya, Tao!" Kris menuding Kyungsoo, sarat jengkel. "Dia harus belajar mandiri, bukan menyusahkan orang lain dengan—"
"Caramu salah, caramu kelewatan, caramu keterlaluan!" Tao memotong.
Kini, ketiganya sama-sama jengah. Nafas naik-turun dan tersengal untuk Tao serta Kris, sementara Kyungsoo menetap diposisinya—diam seribu bahasa sambil melamun—seolah sama sekali tidak terpengaruh dengan keadaan sekitarnya.
"Kris ge, kau tidak tahu bagaimana bocah sekecil dia disakiti terus-menerus. Jangan anggap hidupmu sama dengan hidupnya, kebahagiaan kita berbeda." Penerangan Tao adakalanya menyentil batin Kris. Benar juga. Ah, apa yang barusan dilakukannya? Kyungsoo seharusnya dilindungi, bukan saatnya memaki. "Kita tidak tahu semengerikan apa menjadi sepertinya. Kau kira mudah-mudah saja dilecehkan berulang kali, dipukuli setiap hari, bocah sekecil dia pantasnya bersenang-senang, Kris ge!"
Kris berlutut, "Maaf, maafkan gege. Aku kelepasan tadi, Kyungsoo. Maaf, maafkan gege."
"Gege benar, kok." Hah. Kris mendongak dari tundukan kepalanya. "Aku memang menyusahkan, merepotkan, juga—tidak tahu diri."
Kris tercekat, ia tahu kesalahannya sulit diperbaiki. Hingga gelengannya terulang terus. "Tidak, tidak, Kyungsoo. Tidak sama sekali, kau menyenangkan, kau benar-benar kebanggaan. Hanya maafkan gege, terlalu marah—gege yang tidak tahu diri, gege seenak jidat menganggapmu manja. Padahal, padahal—ah, maafkan aku, Kyungsoo."
"Gege tidak salah, jadi untuk apa meminta maaf?" Kepolosan atau kebesaran hati, yang mananya tak diketahui Kris. Ia patut bersyukur karena Kyungsoo bukan semacam bocah yang meletup-letup dan berapi. Hanya, tetap saja. Ia tetap salah. "Lupakan saja. Nanti Kyungsoo makan sendiri kalau makan. Kalian pasti sibuk. Bisa tinggalkan aku sendiri?"
Kris dan Tao bersikap seolah mengerti. Mereka paham jika Kyungsoo ingin dituruti. Sehingga, keduanya segera pamit untuk undur diri. Setelah mengecup puncak kepala Kyungsoo secara bergantian, tentunya.
Begitu keluar, dan suasana didalam kamar menyepi—Kyungsoo meloloskan tangisannya. Kencang setengah tertahan. Tanpa didengar, tanpa dilihat, ia tahu sesakit ini tidak bisa melihat dunianya. Ia tahu sesayang apa Kai padanya, ia tahu sebaik apa Kai dibalik sifat otoriternya, Kyungsoo tahu itu.
"Hiks—padahal Umma dan Appa sudah meminta maaf dan sudah—hiks—menerimaku. Tapi kenapa—hiks—ahjussi jahat tidak mau mempertemukanku?"
Ya, tidak ada yang tahu gejolak seperti apa yang bersarang dihati Kai maupun Kyungsoo. Keduanya sama-sama tersakiti, sama-sama meracuni diri sendiri seiring berlarutnya waktu.
-ooo-
"Tidak ada hasil."
"Aku tahu." Kai memasang senyum tipisnya sebagai balasan dari laporan Kris.
"Lalu, bagaimana mengembalikan dia yang semula?"
Kai mengedikkan bahu. Jujur, ia juga tidak tahu. Harus bagaimana lagi meladeni Kyungsoo, sedangkan Kai tetap ingin bocah itu berada disisinya. Selalu terdengar semaunya sendiri, tapi inilah ketakutan terbesar yang menjadi kenyataan. Hadir saat ini juga.
"Kita akan berbicara dengan keluarganya." Tao mengucap ide—entah cemerlang atau percuma—tapi disela itu ia tampak berpikir keras. "Jangan orangtuanya. Cukup adiknya. Ya, bagaimana kalau adiknya?"
"Hah?" Kris dan Kai sama-sama tidak bisa menutupi keterkejutan bercampur kebingungan mereka. Hingga Tao memijit pelipisnya dan mendudukkan diri diantara Kris serta Kai. Kedua tangannya menepuk paha si pirang dan si legam itu.
"Kita menjemput adiknya kemari. Biarkan mereka bercerita banyak lalu Kyungsoo bisa sedikit bernostalgia kemudian—"
"Tidak perlu." Tiba-tiba Kai menyahut dengan suara pelan. "Tidak perlu cara seperti itu."
"Lalu?" Kris turut menyuarakan kepenasaranannya.
"Silahkan. Silahkan. Kembalikan—dia ke orangtuanya." Seketika itu pula, Kai meneteskan airmatanya. Tidak ada suara tangis membahana sambil membanting-banting benda, ia hanya terlalu tenang. Sedangkan Tao dan Kris saling memeluk Kai, memberinya alir kekuatan meski tak berguna barang satupun. "Aku—berat untuk ini. Hanya—egois dan gengsi sudah kutepis jauh-jauh. Aku terlalu banyak mengambil kebahagiaannya, merenggut masa kanak-kanaknya dengan seks, dan—ya, aku harus melepasnya."
"Kau yakin? Tidak, kau bukan Kai. Kai tidak semudah ini menyerahkan apa yang telah didapatnya. Terlebih setelah berjuang mati-mati—"
"Tidak lagi, Kris. Aku justru lebih tersiksa melihatnya kehilangan semangat hidup. Aku ingin Kyungsoo yang dulu." Kemudian Kai merenung, matanya menatap ubin tanpa gairah. Karena sejak kalimat itu, hidupnya ikut hilang. "Sudah cukup aku menyengsarakannya. Biarkan dia sekarang menikmati kehidupan yang semestinya. Aku yakin orangtuanya sudah khilaf."
"Kau se-khilaf ini? Begitu saja?" Kris masih mencecar, agak tidak percaya bahwa apa yang dinalarnya secepat ini terjadi. "Kau yakin tidak menjadi seperti Kyungsoo yang sekarang? Seperti mayat hidup, tidak mau makan, tidak mau melakukan apa-apa dan tahu-tahu bunuh diri? Aku tidak mau sahabatku menjadi yang seperti itu."
"Tidak, Kris." Kai merasakan tenggorokannya disedak, ia merapal beberapa kalimat penguat untuknya sendiri. "Aku berjanji tidak akan melakukannya. Tenanglah, aku akan mengurus gelandang sampai mati."
"Jangan, sampai kau menikah saja." Kris berusaha jenaka, hanya tidak ada derai tawa setelahnya. Baik Tao maupun Kai masih terpekur dalam pikiran masing-masing. "Mm, kau masih bisa berkunjung ke rumahnya, kan?"
"Ya. Aku bisa dan aku akan berkunjung sesering mungkin."
"Begitu lebih baik. Oh, tapi kau tidak akan mencari anak kecil lain, kan?" Kris mulai terpikir, bagaimana jika tidak ada Kyungsoo, Kai akan semakin menjadi-jadi?
"Antarkan aku berobat supaya pedofil nista ini hilang sepenuhnya."
Meski mengucapkannya tanpa beban, baik Tao maupun Kris sangat tahu bahwa disana masih bersisa ketidakrelaan. "Kau yang harus bicara sendiri dengannya, Kai." Saran Tao ini tentu disetujui Kai.
Sekaligus memberinya kesempatan untuk berdialog, terakhir kali dengan Kyungsoo. Tidak benar-benar terakhir sebenarnya, mengingat ia masih bisa mengunjungi Kyungsoo. Meski tak bisa lagi ada disampingnya, meski tak bisa lagi menyaksikan tumbuh kembangnya, masa remajanya dan lain-lain. Kai—hanya belajar jika sesuatu yang menjadi milikmu tak selamanya abadi.
"Aku lebih tidak yakin, Kai. Ini Kyungsoo, bukan uang receh. Hei, kawan, apa kau seyakin itu?"
"Aku yakin, Kris." Ada kemantapan yang dibuat-buat oleh Kai. "Meski tidak seratus persen."
"Baiklah. Asal kau menepati janjimu, sepeninggal Kyungsoo bukan akhir hidupmu."
"Aku tahu." Kai mengusap wajahnya, kasar. Seakan dengan itu bisa membuatnya tampak segar. Nihil. Tidak sama sekali. "Aku akan bicara dengannya nanti malam. Besok, aku akan mengantarnya pulang."
Kris dan Tao bersamaan mengangguk lemah. Menyesali jika ini malah membuat Kai semakin sakit. "Kuatkan dirimu, Kai. Kau pasti bisa melalui ini. Hanya pikirkan jika semua ini demi kebahagiaan Kyungsoo. Dia tetap menyayangimu." Kai tersenyum, tidak benar-benar tersenyum karena pelupuknya sekuat tenaga menahan kristal bening.
"Terima kasih, Tao." Kai membalas pelukan Tao, menepuk punggungnya sekilas. "Aku berterima kasih pada kalian berdua. Perjalanan kita sampai disini, perjuangan kita tidak sia-sia. Kyungsoo memberiku banyak perubahan, banyak tawa, banyak canda dan yang terpenting—kebahagiaan. Dia membuatku begini, dia ada disini karena kalian." Kali ini ia menggeret Kris agar bergabung dalam pelukannya juga.
"Seharusnya kau katakan ini pada Kyungsoo." Kris berpura-pura mendecih, sesaat setelah Kai melepas pelukannya. "Baiklah. Kau tidak boleh bersedih. Setelah ini normalkan dirimu, lalu menikah." Gurauan Kris bersambut pukulan ringan dari Kai.
"Sembuhkan—ya?"
"Jangan sok kuat, Kai. Menangislah. Asal jangan menyayat pergelangan tanganmu."
"Ya! Kau ingin aku mati?"
Kris tergelak, ditemani suara tawa dari Tao pula. "Kai, kami tahukau tidak sekuat itu. Kau rapuh dan masih berlagak ampuh." Sindiran Tao diterima Kai, meski telak ia juga mengakui ini.
Karena bagaimanapun, Kyungsoo adalah nomor satunya. Orbit perputaran buminya, tata suryanya, oksigennya. Kau boleh sebut ia berlebihan, namun ini cinta. Cinta klise yang menghempaskan semua hal penting menjadi posisi terbawah. Karena bersama Kyungsoo, Kai baru merasakan hidup.
"Jangan biarkan aku kesepian, ya?"
"Tidak akan. Kami akan selalu mengunjungimu—dan mencarikanmu kekasih." Kris mendapat toyoran dari Kai kali ini. "Aw! Sekarang kau mudah bersikap kurang ajar, hah?"
"Kemana sikap hormatmu untuk majikan, hm?" Kai seakan mengingatkan, tapi Kris malah menjulurkan lidah. "Ah, beruntung kalian sudah seperti keluargaku. Kehidupan pahit kita tanggung bersama-sama, jadi—yah, aku berhutang budi."
"Baguslah." Begitu Kris dan Tao saling merangkul, seketika matanya terarah ke pintu kamar. Bagaimana Kyungsoo didalam sana? Apa dia baik-baik saja? Ah, tidak, sebentar lagi dia akan mendapat apa maunya. Meraih kesenangan dan menggapai kebahagiaannya sendiri. Toh, masalah jarak bukan hal besar bagi Kai. "Kami pulang, ya. Daah~"
Setelah Kai melambai, keduanya pun tak lagi disini. Sunyi senyap. Apakah akan seperti ini jika tanpa Kyungsoo nanti? Ya. Tentu saja. Kai menekan dadanya sendiri, terasa nyeri begitu sekelebatan momen bersama Kyungsoo hadir lagi. Ia sesak, ia benar sesak. Kai jatuh, terpuruk. Bohong besar kalau ia rela begitu saja, sumpah matipun ia tak akan pernah bisa melepas Kyungsoo.
Tapi lihat, barusan ia meyakinkan dirinya sendiri, tanpa pernah tahu kesakitannya jauh lebih perih.
-ooo-
"Kyungsoo-ya, aku ingin bicara."
Satu. Hening.
"Pertama, aku ingin meminta maaf padamu."
Dua. Hening.
"Kedua, aku ingin berterima kasih padamu."
Tiga. Hening.
"Aku mencintaimu, kau pasti tahu."
Empat. Hening.
Kai menutup tirai, membatasi pandangan Kyungsoo yang terus-terusan melongok keluar jendela. Ini saatnya, ini saatnya Kai membunuh pesakitan untuk diganti dengan dua kali lipat pesakitan baru. Ia duduk, disamping Kyungsoo. Lalu membelai helaian rambutnya.
"Kyungsoo, jangan biarkan aku bermonolog. Kau kemanakan sebagian hidupku? Kau mengambilnya dengan tidak tersenyum, dengan tidak bicara, dengan cara seperti ini. Aku bisa mati, Kyungsoo."
Kai menengok sisisan wajah Kyungsoo—ada bercak airmata mengering. "Apalagi, kau menangis. Kau semakin membuatku mati dan terkubur."
"Kyungsoo, kalau aku tanya, apakah kau bahagia bersamaku—mungkinkah jawabannya tidak? Aku sudah memastikan itu. Maka, aku ingin ini untuk terakhir kalinya kau mengadu nasib denganku. Kau terlalu lama mengundi nyali untuk menghadapiku. Ini terakhir."
Terakhir. Kyungsoo mengerjap. "Aku tidak mengerti."
"Kau harus mengerti." Kai memeluk Kyungsoo dari arah belakang, seketika meruntuhkan benteng pertahanannya. "Aku—melepasmu. Untuk bahagia." Jeda. Kyungsoo terhenyak. Merasa bahwa sisi lain dirinya berontak dan meronta. "Biarkan, ini terakhir kalinya aku membaui aroma tubuhmu, memelukmu sehangat ini, dan menciummu. Perlu kau tahu, kalau aku menyayangimu melebihi nyawaku sendiri." Kai menarik nafas, semakin jeru memeluk Kyungsoo. "Tapi ini konyol sekaligus nyata. Aku mencintaimu."
Karena Kyungsoo belum—atau tidak mau—mengerti tentang cinta. Semagis apa, ia hanya merasakan ini sangat sakit.
"Ini salam perpisahan. Kau pasti senang telah bebas dari belengguku." Benar, dan seharusnya memang ya. Tapi Kyungsoo merasakan mozaik dirinya bertarung dengan hipokrit milik Kai. Tidak ada tujuan, tapi disini ia nyaman. "Tidak lagi menuruti semua keinginanku, tidak perlu memasak untukku, tidak perlu menemaniku tidur. Ah, akhirnya kau bisa menjadi anak-anak, Kyungsoo. Bukan jelmaan orang dewasa, bukan—milikku lagi." Kyungsoo merasakan pelukan Kai kian mengerat.
Mata bulatnya sedang tidak sinkron dengan bibir hatinya. Alih-alih menjawab, Kyungsoo malah memberengut. Ia tidak punya alasan mengapa hidupnya begini, mengapa terjadi sepelik ini, dan—kenapa harus ada Kim JongIn dalam beberapa bab kisah hidupnya?
"Ahjussi—" Kyungsoo mencicit, membiarkan kedua lengan Kai mengamankan dadanya. "Apa kau baik-baik saja?" Tidak tahu. Kyungsoo tidak tahu kenapa malah kalimat itu yang ia berikan sebagai timbal-balik.
"Aku—baik-baik saja." Semoga. Kata itu menyusul dalam hati. Kai menyerukan teriakan tanpa henti, ia berulang kali menggambarkan sosok Kyungsoo di lubuk tereloknya. Sungguh, tidak ada apapun yang ia inginkan selain pikiran Kyungsoo—agar berubah. Agar anak itu beralih memikirkan keluarga lamanya, dan disini bersama Kai—keluarga baru. Mustahil. "Percayalah."
Percaya, jika aku sedang berbohong.
Lanjutan itu membelah stagnasi berbeton milik Kai. Ia tidak sadar dengan mimpi berbalik dengan nyata. Berujung semu yang memuakkan. "Pulanglah. Kembali pada orangtuamu, kembali pada teman-temanmu—ah, sampaikan salamku untuk Chanyeol, juga adik-adiknya. Jadilah bocah pintar, mandiri, dan jantan." Jantan. Memang selama ini Kyungsoo perempuan? "Maksud jantan adalah jiwa laki-lakimu harus bisa mengalahkan kekejaman dunia diluar." Terlalu retoris, dan Kyungsoo tidak bisa menangkap pasti.
"Aku tahu."
"Jaga dirimu baik-baik." Kai tidak akan pernah bisa berhenti berpesan. Ia bisa menghabiskan semalaman penuh hanya untuk membangun lagi benteng kokohnya. Berlanjut gerbang besi terkuat agar tidak mudah goyah. "Jangan lupa makan teratur, istirahat cukup, olahraga rutin. Kau harus sehat, Kyungsoo."
"Kenapa?"
"Kenapa?" Kai mengulang, "Kenapa—apanya?"
"Kenapa?" Kyungsoo memekik, meski terhalang sekat-sekat dalam nafasnya. "Kenapa ahjussi akhirnya melepasku? Apa kau sudah tidak menginginkanku?"
Kai belum menyediakan stok jawabannya. Selain gemuruh pekat malam dan rembulan yang berpendar kuning, Kai bersumpah—ia sendiri juga tidak tahu. Tapi, pertanyaan tetap membutuhkan jawaban, hingga sebulir itu menetes begitu saja. Berakhir dengan membasahi kaus Kyungsoo. Kai menangis, lagi.
"Tidak mungkin aku tidak menginginkanmu lagi. Bohong besar." Kai semakin melesakkan kepalanya, agar tersembunyi dibawah ketiak kecil Kyungsoo. Ia memeluknya semakin erat, seolah ada rantai baja yang membantunya. "Aku melepasmu—karena kau menginginkannya. Aku tidak bahagia jika kau tidak bahagia." Sesederhana itu.
Kyungsoo membisu, seolah semua kata-katanya telah tertelan.
"Jangan—melupakanku." Kai melirih, berbaur bersama uap nafasnya. "Aku pernah mengukir kisah denganmu, menggoreskan sakit, memberimu pengalaman—meski aku tidak tahu kau bersyukur atau tidak. Aku tahu, kehadiranku hanya memperburuk keadaanmu, semakin menyiksa dan menghancurkanmu. Tapi, asal kau tahu, Kyungsoo—" Detikan jam terdengar lagi.
"..asal kau tahu, jika dibalik semua itu—selalu tersimpan hatiku, yang hanya untukmu seorang."
Kyungsoo mematung. Tidak bergerak barang se-centipun. Ia hanya membiarkan Kai berceloteh—sedikit-banyak telah menjadi dongengnya. Namun, Kyungsoo menikmati. Ia tetap hanyut dalam suara berat Kai, dalam pelukannya, dan dalam setiap kata yang diucapkannya.
"Kau bisa menyebutku gila, Kyungsoo. Karena kesialan selalu menimpaku dan memaksaku jatuh pada pesonamu. Aku mencintaimu—melebihi matahari mendedikasikan dirinya untuk bumi, melebihi air-air yang tersedia dimuka bumi dan demi apapun—aku selalu mencintaimu. Mungkin, aku berharap rasa ini hilang. Namun, sebatas rencana sementara takdir punya rahasianya."
Benar. Tidak ada celah untuk mencela semua perumpamaan Kai.
"Nanti, saat kau sudah belajar mengenai kelainan seks. Ingatlah tentang pedofil, dengan itu maka kau juga akan mengingatku. Aku—yang pedofil dan jatuh cinta pada kaum anak-anak sepertimu. Tidak peduli apapun yang dunia kecam, aku hanya terpusat padamu." Kai merasakan sekali lagi degup jantung Kyungsoo—yang menggetar digendang telinganya. "Maaf, aku terlalu banyak bicara. Tapi, ijinkanlah aku dalam posisi ini. Sebentar saja."
Dan Kyungsoo membolehkan. Jemarinya tidak lagi bertaut satu sama lain, kini menjurus pada lengan besar Kai. Tertumbuk pada satu pola, untuk tergerak agar menyentuhnya, membelainya. Kai—spontan membelalakkan mata. Reaksi Kyungsoo terlalu—mengharu.
"Aku sayang ahjussi."
Singkat. Tapi Kai bersorak-sorai, gembira.
"Aku—lebih-lebih menyayangimu, Kyungsoo."
Kemudian Kai melepas pelukannya, perlahan ia membalik tubuh Kyungsoo sehingga wajah mereka berhadapan. Tatapan saling melekat—seolah ada banyak lem yang direkatkan didua pasang mata itu—Kai mendekat, bermodalkan rasa ingin, ia berani. Untuk kesekian kali, mencium Kyungsoo, tepat dibibir.
Terakhir, mencecap rasanya. Terakhir, berlama-lama dalam payung malam dan renda bulan. Ini terakhir.
-ooo-
Kai berusaha sebaik mungkin mengurangi kadar overdosisnya akan Kyungsoo. Ia cukupkan setelah lma tahun, ia cukupkan setelah berhasil menyembuhkan luka Kyungsoo dengan obat kasih sayangnya yang tulus. Setidaknya, Kai telah menghapus titik demi titik terdahulu, betapa kekalahan yang pernah menguasai Kyungsoo itu kini tengah musnah. Bukan Kai ingin berbangga diri, tapi itu semua berkat dirinya. Perlahan, ia menukar trauma Kyungsoo dengan kehidupan layak—yang terimpikan abadi oleh Kai.
Seperti pagi ini. Terlalu dini untuk terbangun di subuh. Namun, mereka seolah mengejar larinya waktu, tak berbalas. Kai menyiapkan Kyungsoo agar berkemas, setumpuk koper dan beberapa kenangan darinya. Untuk kemudian dibawa Kyungsoo dan Kai berharap agar anak itu menjaganya baik-baik.
"Ahjussi."
"Ya?"
Kyungsoo tidak menimpali lagi. Ia terpaku menyaksikan bagaimana orang ini sebelumnya bersikeras—sekarang melunak. Kai bersemangat memasukkan setel pakaian Kyungsoo, mainan-mainannya, buku-bukunya—semua barang yang pernah diberikan Kai.
"Ada apa, Kyungsoo? Jangan bilang kau ingin merengek dan tidak jadi pul—" Ah, tidak mungkin. "Baiklah. Kau mau bicara apa?" Kai menghentikan aktivitasnya—setelah menutup koper—lalu berlutut guna mensejajarkan tingginya dengan Kyungsoo.
"Apa ahjussi tahu rumahku?" Oh. Hanya itu dan Kai tidak mungkin berharap banyak-banyak. Ia mengangguk. "Aku ingin pulang ke rumah orangtuaku, bukan Daegu."
"Aku tahu." Kai mengelus puncak kepala Kyungsoo, mereka saling beradu tatap tak terdefinisi selama beberapa detik. "Bolehkah aku mengunjungimu sesering mungkin?"
"Tentu saja." Iris legam itu berkilat antusias, bersirobok dengan manik cokelat Kai yang menyipit. "Kapan saja, aku pasti merindukan Ahjussi."
"Walaupun kau tidak lagi tinggal bersamaku?"
"Walaupun aku tidak lagi tinggal bersama ahjussi."
Selanjutnya, senyuman mereka terpatri. Melamban bersama lambat.
"Tidurlah selama di perjalanan. Aku tahu kau masih mengantuk." Kai menggeret koper besar Kyungsoo, lalu anak itu ikut mengekor disebelahnya. "Ayo, berangkat—dan ucapkan selamat tinggal untuk apartemen ini."
Kyungsoo menunduk sejenak, menapaki ubin seolah benda itu lebih menarik, baru sekian menit ia mendongak dan mengembangkan senyum. "Selamat tinggal apartemen ahjussi—jaga baik-baik ahjussi, ya."
Mm-hm. Itu terakhir kalinya Kyungsoo berada disana, itu terakhir kalinya Kyungsoo memijak karpet tebal, terakhir kalinya berjumpa dinding elegan dan lain-lain hal didalam sana. Termasuk dapur—tempatnya memasak kimchi selama ini—ruang tengah bertungku api untuknya menghabiskan sepanjang siang, dan kamar. Kamar yang mengurungnya dan kamar yang memberinya cerita terbaik sepanjang masa. Ranjang empuknya untuk tertidur, bersama mimpi dalam pelukan Kai.
Ya, Kai. Terakhir kalinya Kyungsoo—tidak akan lagi melihat kulit eksotis, rambut ikal, dan otot biseps itu. Kyungsoo tekankan, ini terakhir kali. Meski Kai berjanji untuk berkunjung sesering mungkin dan apakah lelaki itu mampu melawan rasa-rasanya untuk tidak bersimbah darah saat dihadapan Kyungsoo?
Kelak. Bahas ini nanti saja.
Setelah Kai mengunci pintu apartemennya, ia melenggang menuju elevator bersama kaki-kaki pendek Kyungsoo. "Kalau kau sudah dirumah dan aku sudah pulang, bukalah bingkisan yang ada dibawah baju-bajumu, ya." Karena satu-satunya perwakilan dari Kai—sebagai magnesi dirinya yang begitu tak ingin melepas Kyungsoo.
Hati selalu berkata lain dengan bibir. Tidak pernah sinkron antara perasaan dan diksi.
Begitu sampai di basement, Kai bisa dengan cepat menemukan mobil mewahnya. Ia membukakan pintu untuk Kyungsoo sekaligus memberi bantuan seperti biasa—memasang sabuk pengaman. Baru dia sendiri ada dibangku kemudi, dan melajukan kendaraan itu.
"Kyungsoo, ini mungkin terakhir kalinya kau naik mobil mahalku."
Kyungsoo tidak bersambat, masih menatapi jendela didepan matanya. Angin dingin yang mengelu ini berhasil menerbangkan selebaran brosur, berikut dedaunan kering dan rintik air dijalanan. Tidak ada satupun manusia yang berjalan di trotoar.
"Kenapa ahjussi mengantarku sepagi ini?"
Supaya aku bisa lebih cepat melupakanmu. Terbatin.
"Karena kalau nanti siang bisa macet. Bukankah kau ingin segera bertemu orangtuamu?"
"Ahjussi benar." Nah. Kai menahan nafasnya, praduga selalu telak. "Tapi, aku ingin berlama-lama bersama ahjussi untuk hari ini."
"Aku akan berkunjung bersama Kris dan Tao. Kau jangan khawatir." Kai memfokuskan diri pada jalanan, meski sebagian dirinya hilang didalam koper Kyungsoo dibagasi. "Tidurlah."
"Tidak mau. Aku akan memandangi wajah ahjussi. Aku akan mengambil sebanyak-banyak memori bagaimana rupa ahjussi sekarang." Kai tidak bohong, jika ia terenyuh sekarang. "Aku tidak mau begitu saja melupakan jasa-jasa ahjussi, garis tegas wajah itu, netra malang, dan apapun itu." Katakan Kyungsoo bocah sepuluh tahun—tapi ia punya bakat menjadi penyair.
-ooo-
Ini rumahnya, rumah keluarga Do. Masih sama, seperti lima tahun lalu, seperti pertama kali Kyungsoo bisa melihat dan menyadari bahwa ini tempatnya bernaung. Meski ada beberapa bagian terbengkalai, meski taman depan tidak lagi terurus dan yah—disana sepi. Sesaat Kyungsoo sempat meragu, oh tapi ini keputusannya. Terlebih saat Kai sudah memarkir mobil dan mengajaknya turun.
"Ada apa, Kyungsoo?"
"Aku takut." Kai menampar jidatnya, sekali-kali melalap habis raut wajah Kyungsoo. "Kalau aku salah?"
"Kau tidak salah, kau benar. Percayalah, mereka sudah berubah." Terkutuk. Kai sebatas menata ulang gembok-gemboknya yang bercecer ditanah. "Ayo, masuk. Ini rumahmu yang sebenarnya. Keluargamu."
Kai bersepakat dengan mata batinnya sendiri, ia lalu menggandeng Kyungsoo. Gamitan jemari besarnya yang berkait dengan jemari mungil milik Kyungsoo. Bergetar, berkeringat. Kyungsoo gugup. Kyungsoo menerima kehidupan barunya tepat saat Kai mengetuk pintu. Sebaliknya, Kai melepas warna-warna cerahnya saat pintu itu menjeblak—dan dua manusia tampil disana. Sebagai orangtua Kyungsoo.
"Kyungsoo?" Suara ibunya—benar-benar ibunya. Wanita itu terburu memeluk Kyungsoo. Sementara Kai mendapat jabat tangan dari ayah Kyungsoo. "Terima kasih sudah mau berbesar hati." Dengan segala kerelaan diatas rata-rata, Kai menyetujui ucapan Tuan Do itu.
Begitu dipersilahkan masuk, Kai duduk diseberang Kyungsoo. Ibunya memangku anak itu sambil terus menciumi wajahnya. Tidak, Kai tidak boleh panas. Toh, Kyungsoo memang darah daging wanita itu.
"Jadi, kau benar-benar mengembalikan Kyungsoo?" Pertanyaan sang kepala keluarga itu dihadiahi senyum getir dari Kai. "Sekali lagi, kami berterima kasih. Kau memberi kami kesempatan untuk memperbaiki kesalahan. Kau memberi kesempatan atas waktu-waktu yang terbuang. Kyungsoo—adalah harta berharga kami." Begitu pula aku. Kai hanya bisa berpuas diri dalam hati. "Sayang sekali, kami baru menyadari ini. Keterlambatan."
"Tidak apa-apa. Sudah sepantasnya. Kalian telah khilaf, dan lebih baik berterima kasihlah pada Kyungsoo." Kai berujar tenang. "Selama lima tahun ini, dia menunjukkan jika perubahan besar terjadi dalam dirinya. Traumanya hampir tidak membekas. Bahkan dia sudah berani tidur diruangan gelap." Karena Kai. Ia bak melapor kejadian-kejadian sementara majikannya pergi dan ia menjadi pengasuh.
"Benarkah? Wah, sudah pintar, hm?" Ayahnya mengusak rambut Kyungsoo—yang susah payah disisiri Kai tadi pagi. Kyungsoo tersenyum, tersamarkan dengan tumpuk asing yang menjelma keraguan. "Bagaimana makannya?"
"Dia baik. Bisa memasak, sekelas koki malah." Kai mencoba akrab, meski sejujurnya apa-apa yang tersua dari mulutnya adalah pemukulan hati. "Juga teman-temannya. Aku memasukkan ke sekolah dasar yang sejurus dengan TK-nya dulu."
"Ah, baiklah. Aku mengerti." Kali ini ibunya angkat suara. Kai bisa melihat secara langsung bagaiman potret keluarga seharusnya—yang bisa Kyungsoo rasakan sejak ia lahir. Juga Kai, seharusnya keluarganya juga seperti ini. Tapi entah bagaimana latar belakang mereka hingga ketegaan semudah itu muncul. Biarkan Kai tumbuh dikerasnya jalanan dalam label sebatang kara. "Aku dan suamiku akan menjadi orangtua yang baik setelah ini. Untuk Kyungsoo dan Hyera."
"Umma—" Kyungsoo memanggil, tanpa penggalan. "Dimana Hyera?"
Soojin tersenyum, tidak hambar namun tulus. "Ada dikamar. Kemarin kami menjemputnya dan dia pasti akan seg—"
"Kyungsoo Oppa!"
Gadis kecil itu memekik begitu turun dari tangga dan mendapati sosok lama yang begitu ia rindukan. Kyungsoo menghambur ke pelukan adiknya, saling menukar sambut selamat datang atau sekedar basa-basi.
Sekali lagi, Kai dipaksa menyaksikan keluarga yang semestinya.
"Hyera, sudah tidak cadel? Berapa umurmu, eoh? Delapan?" Hyera mengangguk, lalu kembali memeluk kakaknya yang benar-benar nyata ada didepan matanya. "Aigoo, kau sudah besar. Cantik sekali, hm? Oppa menepati janji, kan? Kita bertemu lagi."
"Oppa, terlihat baik. Uhm, pokoknya aku mau bermain dengan Oppa setiap hari."
"Pasti." Kyungsoo—memang kakak yang baik. Setidaknya itu yang direkam Kai. Dia begitu menyayangi adik kecilnya, apapun yang terjadi sebagai penghalang. "Aku akan selalu menamnimu dan tidak akan pergi lagi."
Itu berarti, tidak aka nada kesempatan bagi Kai. Ya, Kyungsoo telah bahagia. Kai mengalihkan pandangannya menuju sepasang suami isteri dihadapannya, ikut sunggingkan senyum terbaik tanpa dibuat-buat. Ah, setidaknya lagi, Kai bisa meninggalkan Kyungsoo dengan tenang. Tanpa kecemasan dan was-was.
"Karena tidak ada lagi yang ingin disampaikan, lebih baik aku pulang."
Pahit. Kai dicekoki pil-pil pahit agar mengalir tanpa air dikerongkongannya.
"Oh, kenapa terburu-buru? Aku akan membuatkan teh." Soojin menawarkan, tapi Kai menggeleng sekali. "Begitu? Ah, kalau begitu terima kasih banyak. Sungguh, kami berhutang budi padamu..?"
"Kai. Namaku Kai. Si pemegang hak asuh Kyungsoo, biar nanti kuurus agar hak asuhnya kembali pada kalian."
Satu lagi pil pahit yang dijejalkan. Kai melapangkan dadanya, seluas Bandar udara agar sakitnya tak menyeluruh.
"Baiklah, Kai." Yeonso berdiri, kembali mengajak Kai bersalaman. Kemudian Kyungsoo dan Hyera ikut bergabung. Menyendu dimata bulat itu, dan sumringah diwajah adiknya. "Mungkin kami tidak bisa membalas kebaikanmu, tapi ketahuilah kami amat sangat takdir telah menuntunmu bertemu Kyungsoo. Sehingga bisa menjadi orangtua yang baik—yang telah menggantikan peran buruk kami dimasa lalu. Sungguh, kami sangat berterima kasih."
Kai mengangguk, melepas tautan tangan mereka. Lalu melempar senyum kepada Kyungsoo—tak berbalas karena justru gelengan keras yang didapatnya. "Ahjussi tidak boleh pergi." Eh? Bagaimana bisa? "Tinggal disini. Denganku."
Hah. Kai mengatur ulang bagaimana system pernafasannya. Ia menghampiri Kyungsoo, lagi-lagi berlutut dihadapannya. "Baik-baiklah disini. Jangan nakal. Inga tapa saja yang kita lalui? Kuharap kau tidak melupakanku, Kyungsoo." Kai mengusak kepala Kyungsoo, sayang. "Aku masih punya pekerjaan, tidak bisa ditinggal. Intinya, aku menyayangimu, kita saling sayang. Ya?" Kemudian, Kai menyentil hidung Kyungsoo yang memerah. Ia menerjang delusi agar hologram Kyungsoo tertanam dalam memori.
Yeonso dan Soojin saling melirik, sementara Hyera ada dibawah mereka dan mendapat pelukan dari kedua orangtuanya. Setidaknya mereka tahu, apa-apa yang terjadi dalam skip masa kala itu—bukan main-main. Sebuah perasaan mungkin terjalin, berkat kebersamaan dan entah hal manis apalagi.
Kyungsoo menangis, tidak lagi ia bisa membendung airmata itu. Hingga pelukan Kai padanya terjadi lagi, mengerat. Meski Kai tidak yakin, perasaan Kyungsoo untuknya hanya sebatas rasa sayang. Tapi Kai? Ia lebih dari itu. Mencintai dengan seluruh hidup dan matinya. Konyol. Tapi, beginilah rasanya seorang pengidap pedofil.
"Aku pergi, Kyungsoo. Jaga dirimu baik-baik. Tenanglah, aku akan kembali bersama Kris dan Tao." Kai beranjak, tidak akan membiarkan leleh bulir itu menjatuhkan harga dirinya. Sekilas ia membungkuk pada orangtua Kyungsoo dan mengacak rambut Hyera sebagai salam temu. "Mm, tolong jaga Kyungsoo. Perlakukan ia selembut berlian."
Setelah melihat kesanggupan mereka, Kai berbalik. Benar-benar berbalik dan tidak akan menoleh lagi. Ia bertekad, sekalipun Kyungsoo memanggil, sekalipun Kyungsoo memeluk kakinya, ia tidak akan berpasrah.
"Ahjussi! Hiks—terima kasih. Hiks—maafkan aku. Hiks—hati-hati dan jaga—hiks! Ahjussi!"
Tidak. Kai tidak mendengar, ia tuli. Tidak. Kai tidak melihat, ia buta. Tapi hatinya tersenyum, meski wajahnya siratkan penderitaan.
"Ahjussi! Kembalilah jika kau siap—hiks! Aku menyayangimu!"
Kyungsoo berteriak, hampir mengejar Porsche-nya. Kai tidak akan menatap spion, tidak akan melongokkan kepala.
Ini terakhir. Terakhir. Ia benar melepas Kyungsoo, berturut dengan merelakannya. Tidak mudah, tapi efeknya akan ia simpan rapat-rapat.
Bagaimanapun, Kyungsoo sosok terindahnya. Mahakarya yang ia agung-agungkan. "Aku lebih mencintaimu, Kyungsoo. Sekarang dan selamanya." Bisikan itu tersapu embusan angin pagi yang menyejuk.
Hilang. Tak membekas.
-ooo-
TO BE CONTINUE!
ROAD TO LAST CHAPTER!
Ah elaah, kira-kira kecepetan ngga alurnya? Chapter lima belas ending, ya.
Author mau mengumumkan Hiatus juga. Ini judul fanfic yang terselesaikan untuk terakhir kali. H-10 menuju tanggal hiatus aku u,u Aku menghiatuskan hampir semua fanfic, semoga bisa dilanjut dan diselesaikan saat aku comeback. Tidak akan discontinue.
Kapan? Di waktu yang ditentukan. Tergantung ujian kelas duabelas kelar baik-baik atau ngga -_- aku bakal sibuk banget separuh tahun ini dan separuh tahun depan. Bakalan belajar mulu dan itu membuatku jauh dari EXO dan terutama Kaisoo hueee~ Ngga rela tapi yah, mau gimana lagi. Derita pelajar.
Semoga readers setia menunggu, aku hanya berharap itu. Syukur-syukur kalo kalian mau mendoakan ujian-ku juga. Hehe. Yasudah. Aku mengucap salam terakhirnya di chapter depan aja, ya. Ucapkan selamat tinggal juga buat ending fanfic ini. Semoga Jongin dan Kyungsoo langgeng dan juga masih bersedia jadi starring di ff-ku.
YO!
BYE!
SEE YA ON LAST CHAPTER!
