CAST

Park Chanyeol (25)

Byun Baekhyun (19)

.

.

.

Aku meringkuk diatas ranjang, menekan kedua kaki didepan dada. Dokter Zhang baru saja mengobati luka di sudut bibirku yang sedikit sobek, mungkin sekarang telah sedikit membiru juga memasang perban yang kini melilit leherku.

Aku menyadari Bibi Yoon dengan perasaan ragu-ragu memasuki kamar sambil membawa secangkir teh dengan harum bunga melati. Tapi pada akhirnya dengan perlahan Bibi Yoon meletakkan cangkir dengan semerbak wangi bunga itu diatas meja disebelah ranjang.

"Tuan.. ini teh hangat untuk anda" ucapnya.

Aku melirik teh itu sebentar, kemudian menyimpan pandanganku kembali. Aku tidak menginginkan apapun. Aku ingin Chanyeol, aku hanya ingin dia.

"Tuan Baekhyun.."

"Chanyeol" cicitku kemudian.

"Tuan Chanyeol sedang dalam perjalannya kesini Tuan, mohon anda bersabar"

Aku tidak bisa menunggunya lebih lama lagi, aku membutuhkannya sekarang.

"Tolong tinggalkan aku sendiri" ucapku akhirnya.

Aku mendengar Bibi Yoon menghela napas.

"Tuan.."

"Kumohon"

"Baiklah saya berada di bawah jika anda membutuhkan sesuatu" ucapnya terdengar begitu tak rela kemudian beranjak keluar dari kamar.

Setelah Bibi Yoon benar-benar pergi, pikiranku kembali melayang pada kejadian tadi. Aku bertanya-tanya pada diriku sendiri tentang pada siapa mereka bekerja ? siapa orang yang mereka panggil 'Sir' ?. Aku menghembuskan napasku begitu berat. Sepanjang hidupku, baru kali ini ada seseorang yang begitu ingin mencelakaiku. Aku bahkan tidak pernah membayangkannya. Tanganku perlahan naik keatas, meraba perban yang kini melilit luka pada leherku.

"Baekhyun !"

Aku menoleh, begitu lega ketika netraku jatuh pada kedua phoenixnya. Emosiku meledak, aku menangis lagi ketika kedua lengannya merengkuhku. Ketakutanku rasanya ditarik, semua terasa menjadi ringan. Aku memeluk lehernya begitu erat, terlalu takut untuk sekedar melonggarkannya walau kutahu mungkin Chanyeol sedang merasa sesak saat ini karena tarikan tanganku. Tapi siapa peduli ?

"Chanyeol", bahkan namanya seperti sebuah mantra penenang untukku.

"Baekhyun maafkan aku, maafkan aku" Ucapnya berulang-ulang.

Aku merasakan kecupannya dibelakang telingaku juga pada sisi leher kiriku sebelum melepaskan rengkuhannya. Aku terkejut ketika manikku mendapati air mata yang telah siap turun di sudut matanya.

"Chanyeol"

"Aku minta maaf aku- Oh Dear tidak, kumohon jangan menangis. Aku salah, seharusnya aku bisa menjagamu, aku minta maaf. Tolong maafkan aku"

Aku merasakan jemarinya bergerak mengelus perban yang melilit leherku dengan pandangan begitu menyakitkan. Alis tajamnya bertaut. Bibirnya tidak berhenti mengucapkan maaf, memohon agar aku tidak menangis bahkan saat dirinya sendiri sudah akan menangis. Tanpa kusadari bibirku melengkung membentuk sabit dengan sendirinya, lalu tertawa kecil. Membuat keningnya mengeryit keheranan.

"Baekhyun kenapa kau tertawa ?"

"Tidak.." elakku berusaha untuk mengontrol suara tawaku.

"Baekhyun"

"Chanyeol kau- baik, kau tahu bahwa aku begitu ketakutan karena kejadian tadi"

Chanyeol mengangguk.

"Aku minta maaf, seharusnya-"

"Ssh.. Chanyeol, aku tidak mengerti kenapa kau meminta maaf. Sang Yeon telah menjagaku, kau menyuruhnya untuk menjagaku saat kau tak berada didekatku"

"Seharusnya aku selalu ada didekatmu Baekhyun. Tidak seharusnya-"

"Ssh.. kau memotong ucapanku" ucapku dengan sedikit mendelik padanya.

"Aku.."

Aku menangkup kedua pipinya, membawa phoenixnya untuk menghadapku.

"Chanyeol, sayang.. hei, kau tak melakukan kesalahan apapun. Kau memang tak bisa seterusnya berada didekatku, kau memiliki pekerjaan, aku memiliki rutinitas sendiri. Sang Yeon telah menjagaku dengan sangat baik, dia menyelamatkanku. Baik, aku memang masih merasa ketakutan atas kejadian tadi. Tapi kau datang, kau memelukku, lalu perasaan takut itu kemudian hilang entah kemana. Chanyeol bahkan kau menyuruhku untuk berhenti menangis sedangkan kau sendiri menahan air matamu" ucapku terkekeh.

"Aku takut kehilanganmu" ucapnya begitu lirih.

Oh My… Suaranya begitu datar tanpa emosi tapi berhasil membuat kupu-kupu berterbangan didalam perutku.

"Aku disini" ucapku.

Chanyeol kembali memelukku, menenggelamkan diriku didalam tubuhnya. Mengecup pucuk kepalaku beberapa kali.

"Kau ingin beristirahat ?"

Aku mengangguk mengiyakan atas pertanyaannya. Kemudian Chanyeol menarik diriku untuk berbaring diranjang bersamanya. Lengannya masih setia merengkuhku sedangkan kepalaku saat ini telah kunyamankan untuk berada diatas lengannya dan mulai memejamkan mata. Semua kejadian ini begitu melelahkan dan menguras banyak emosiku. Aku terhanyut oleh elusan tangannya pada surai rambutku, menggumamkan kalimat-kalimat penenang yang begitu disukai telingaku.

"Aku mencintaimu" ucapku pada akhirnya sebelum kesadaranku benar-benar hilang.

"Aku lebih mencintaimu", lalu kecupan Chanyeol diatas kepalaku menjadi pengantar tidurku menuju alam mimpi.

.

.

.

Aku terbangun ketika dingin menyengat kulit lenganku. Tanganku bergerak menarik selimutku keatas lalu bergelung kembali ke sisi Chanyeol. Aku mengeryit ketika tubuhku tidak lagi bersentuhan dengannya. Membuka kelopak mataku untuk memastikan, dan benar saja, sisi kiri ranjang kosong. Chanyeol tidak ada.

"Chanyeol ?" panggilku masih dengan suaraku yang begitu serak kemudian mendesis ketika merasakan perih pada sudut bibirku.

Sial, aku melupakan luka yang kudapatkan tadi. Mendudukkan tubuhku dengan perlahan, mataku mencari-cari jam dinding. Aku memejamkan mataku sebentar karena rasa kantuk yang masih menyelimuti. Dimana Chanyeol di jam 2 pagi seperti ini ?, batinku. Menyibak selimutku, lalu membawa tubuhku untuk beranjak dari ranjang. Aku kembali mendesis ketika telapak kakiku menyentuh dingin dari lantai kamar. Kenapa dingin sekali ?. Apakah Bibi Yoon tidak menyalakan penghangat ruangannya ?. Tanganku meraih jas Chanyeol yang disampirkan diatas kursi dan memakaikannya pada tubuhku. Untuk sekedar menghalau udara yang dingin, kuharap. Kaki telanjangku perlahan berjalan keluar kamar lalu menuruni tangga dan mendapati bahwa dapur menyala begitu terang.

"Chanyeol ?" panggilku lagi setelah benar-benar sampai dilantai bawah. Dentingan gelas yang diletakkan dengan kasar pada kerasnya meja marmer membuatku sedikit terkejut. Lalu manikku menangkap figure seorang pria tengah duduk disana, dengan gelas dan beberapa botol wine.

"Chanyeol.." panggilku sedikit terkejut oleh bau wine yang begitu menyengat, menusuk indra penciumanku. Berapa botol yang telah diminum Chanyeol ?.

"Oh hai Dear.." jawabnya dan aku tahu bahwa dia telah benar-benar mabuk.

"Chanyeol, ayo kembali ke kamar, ini jam 2 pagi"

Chanyeol terkekeh, memutar gelas dengan cairan dengan kadar alkohol tinggi itu diantara ibu jari dan telunjuknya. Kemudian meminumnya dalam sekali tegukan. Tangannya bergerak untuk meraih botol baru tapi tanganku menghentikannya.

"Chanyeol kau sudah minum terlalu banyak. Ayo berhenti dan kembali ke kamar"

Phoenixnya yang memerah itu menatapku sebentar. Dewa batinku tersentak didalam sana, apakah Chanyeol baru saja menangis ?. Aku membeku diatas kakiku sendiri ketika tangannya menepis tanganku dan menuangkan kembali wine dari botol itu kedalam gelasnya sampai airnya tumpah lalu menegaknya kembali dengan tak sabaran.

Aku menarik napasku begitu dalam, kemudian menggigit bibirku, ragu untuk membawanya kedalam sebuah percakapan.

"Chanyeol.. kita kembali ke kamar, hm ? Kau sudah minum terlalu banyak. Lagipula kenapa kau minum dijam 2 pagi seperti ini ?"

Bibirnya masih terkatup, diam, tak juga melirikku.

"Aku takut" ucapnya.

Apa ?

"Aku takut" ulangnya.

Apakah ini tentang kejadian penculikkan tadi ?. Apa ini yang membuatnya khawatir dan minum di tengah malam seperti ini ?.

"Chanyeol aku disini, aku baik-baik saja" ucapku sambil meletakkan tanganku pada bahunya.

Kepalanya menggeleng begitu keras dan gelas pada tangan kanannya dicengkeram begitu kuat.

"Mereka akan membawamu, mereka akan mengambilmu dariku" ucapnya. Dapat kurasakan kini bahunya menegang. Aku meraih tangannya, phoenixnya beralih pada manikku. Aku menggigit bagian dalam pipiku ketika merasakan emosi didalam matanya. Chanyeol, apa yang kau takutkan ?.

"Aku disini. Mereka tidak akan bisa membawaku, mereka tidak akan bisa mengambilku darimu Chanyeol. Aku tidak akan membiarkan mereka" ucapku berusaha meyakinkannya.

Prang !.

Aku terdorong mundur, terlalu terkejut ketika Chanyeol membanting gelas yang masih digenggamnya diatas meja. Pecahan-pecahan gelas kaca itu tercecer dimana-mana. Aku membelalakkan mataku ketika darah mengalir pada sela-sela jari tangannya.

"Chanyeol.." ucapku mendekatinya kembali. Tapi Chanyeol membawa tubuhnya mundur, menjauh. Matanya bergerak liar, kebingungan.

"Mereka akan membawamu Baek, mereka akan membawamu. Mereka akan membawamu jauh dariku dan aku tidak bisa melakukan apa-apa ! Aku tidak bisa menjagamu ! Mereka akan membawamu tanpa sepengetahuanku Baekhyun ! "

"Mereka tidak akan membawaku Chanyeol !" ucapku berusaha mendekatinya kembali.

Tanganku berusaha meraihnya. Dewa batinku berjalan mondar-mandir kebingungan didalam sana, bertanya-tanya kapan terakhir kali Chanyeol menjadi begitu tersesat seperti ini ? meragukan dirinya kembali. Kekalutan perasaannya benar-benar sesuatu yang tidak bisa ditebak. Bagaimana aku mengatasinya ?

"Ya ! Mereka akan membawamu dan aku tidak beguna untuk sekedar menjagamu !" teriaknya kembali.

Napasnya memburu, matanya seperti dibelenggu kesedihan berbanding terbalik dengan emosinya yang berapi-api. Bagaimana bisa seseorang bisa menjadi serumit ini ?.

"Chanyeol !" pekikku ketika tubuhnya jatuh.

Tangannya terkepal dikedua sisi, menekan lantai begitu kuat. Sedangkan napasnya kini berubah menjadi pendek-pendek. Tangannya beralih meremat dadanya begitu kuat. Aku berubah begitu panik.

"Tolong !" teriakku.

Aku kembali menangis saat mendapati Chanyeol seperti meregang nyawa. Aku pernah melihatnya menangis dan tak terkendali. Tapi aku tidak pernah melihat Chanyeol yang seperti ini.

"Tolong !" teriakku kembali penuh keputusasaan.

Apakah bibi Yoon sudah pulang ?. Astaga, apa yang harus kulakukan ?.

"Chanyeol, tunggu sebentar. Kumohon bertahanlah" ucapku lalu berlari kembali keatas untuk mengambil handphone lalu menelpon dokter Zhang dan segera berlari kembali kebawah.

Chanyeol masih kesulitan bernapas dan suara tercekik yang keluar dari mulutnya membuat lelehan air mata dipipiku semakin deras. Aku mengumpat beberapa kali ketika panggilanku tidak juga diangkat oleh dokter Zhang. Dokter Wang ! Bodoh, aku tidak memiliki kontak nomornya. Tapi Chanyeol pasti memilikinya. Tanganku seketika bergerak merogoh saku celananya untuk mencari handphonenya. Jari-jariku yang bergetar segera mengaktifkannya setelah mendapatkan handphone Chanyeol. Aku menggigit bibirku begitu keras untuk menahan isak tangisku ketika melihat lockscreen handphonenya, itu adalah foto wajahku yang tengah tertidur. Kapan pastinya pria ini mengambil fotoku ketika tidur ?.

"Chanyeol.."

Tidak, aku harus segera menelpon dokter Wang sekarang. Aku menekan pahaku dengan jempol begitu keras, gelisah saat panggilan tidak juga diangkat. Aku mendongak kembali dan melihat Chanyeol yang begitu kesakitan.

"Kumohon.. kumohon angkat telponnya"

"Yeobseo ?"

"Dokter !" pekikku.

"Baekhyun-ssi ?"

"Tolong cepat kesini ! Chanyeol, Chanyeol- dia kesulitan bernapas ! Kumohon kesini secepatnya"

"Apa ? Baik, saya akan segera kesana. Sementara itu sebelum saya sampai kesana tolong angkat tangannya lalu letakkan tepat pada dada anda. Minta Tuan Park untuk memejamkan matanya dan bernapas dengan meniru bagaimana anda bernapas melalui tangannya"

"B-baik. Tolong cepat kesini !" ucapku lalu memutuskan panggilan.

Meletakkan handphone itu sembarangan. Tanganku mati rasa ketika meraih tangannya yang masih mengucurkan darah untuk diletakkan didepan dadaku.

"Chanyeol pejamkan matamu.. Chanyeol ayo bernapas, ikuti aku oke ?" ucapku dengan sedikit terisak.

Aku mengelus jari-jarinya yang masih begitu tegang didadaku.

"Sayang kumohon.. bernapas, ikuti aku, Tarik.. hembuskan.. ayo bernapas untukku" ucapku sambil terisak.

"Hah hah hah"

Chanyeol telah memejamkan matanya, mulutnya terbuka lebar tidak berhenti untuk mengais oksigen. Tapi kenapa Chanyeol masih begitu kesulitan untuk bernapas ?.

"Kumohon Chanyeol.. hiks hiks"

Brak !. Suara pintu penthouse yang dibuka secara kasar terdengar.

"Baekhyun-ssi ?"

"Disini !" teriakku.

Pria yang pernah kutemui dirumah sakit dulu segera berlari menghampiri kami.

"Bisakah anda membantuku mengangkatnya ke kamar?"

"Ya ? Ya, tentu" ucapku.

Dokter itu meletakkan tangannya diantara lengan Chanyeol sedangkan tanganku berada dikakinya. Chanyeol masih kesulitan bernapas ketika kami mengangkatnya menuju kamar.

Segera setelah kami membaringkan Chanyeol diatas ranjang, dokter itu segera memasang nebulizer untuk membantu pernapasannya.

"Bisakah anda keluar sebentar ?"

Apa ? Kenapa aku harus keluar ?.

"Baiklah" ucapku dengan berat hati meninggalkan kamar.

.

.

.

"Baekhyun-ssi ?"

"Dokter ! Bagaimana keadaan Chanyeol ?" Tanyaku ketika dokter itu menghampiriku diruang tamu.

Dokter itu menghela napasnya lalu duduk tepat berseberangan denganku.

"Tuan Park baik-baik saja, beliau sedang tertidur. Saya telah menyuntikkan obat penenang untuknya dan memasang perban untuk tangannya yang terluka"

Aku menghembuskan napas sedikit lega sambil mengangguk-angguk kepada dokter itu.

"Baekhyun-ssi ?"

"Ya ?"

"Bisakah anda memberitahu saya apa yang terjadi sebelum Tuan Park mengalami kesulitan bernapas ?"

Aku mengeryit, merasakan mataku memanas kembali, mungkin bisa meledak kapan saja. Tapi aku tidak boleh menangis lagi, aku telah banyak menangis hari ini.

"Sore tadi.. sempat terjadi percobaan penculikan pada saya"

"Maaf"

Aku menggeleng dan tersenyum pahit.

"Kurasa Chanyeol menyalahkan dirinya sendiri karena tidak bisa menjaga saya. Dia mengatakan bahwa dia tidak bisa melakukan apapun. Saya- saya berusaha meyakinkannya bahwa saya tidak akan kemana-kemana, saya meyakinkannya bahwa mereka tidak bisa membawa saya pergi. Saya berusaha meraihnya, tapi Chanyeol menjadi tidak terkendali. Saya.. saya belum pernah melihatnya seperti ini. Saya benar-benar takut, rasanya saya bisa kehilangan dia kapan saja"

Dokter itu mengangguk, mengerti.

"Saya ikut menyesal mendengar percobaan penculikan yang terjadi pada anda. Saya rasa, Tuan Park memang merasa bahwa anda akan meninggalkannya"

"Tapi saya disini, saya bersamanya" ucapku.

"Saya mengerti. Tapi Tuan Park memiliki sesuatu pada masa lalunya, yang tersimpan jelas pada memori otaknya"

"Apa itu ?"

Dokter itu menggeleng.

"Saya tidak tahu, Tuan Park begitu tertutup kepada saya. Hanya anda yang bisa membuat beliau mengatakannya. Ini bisa jadi begitu mudah jika saja Tuan Park terbuka kepada saya. Tapi saya rasa masa lalunya terlalu berat untuk diceritakan, terlalu membekas pada beliau sehingga begitu tertutup bahkan kepada dokternya sendiri. Ketika Tuan Park tahu bahwa anda diculik, salah satu memori pada masa lalu kembali diputar, dan mungkin saja seperti yang anda katakan tadi. Tuan Park berpikir bahwa beliau tidak bisa melakukan apa-apa karena mungkin, di masa lalu, memang beliau tidak bisa melakukan apa-apa. Ini seperti kejadian yang terulang bagi beliau"

"Apa yang harus saya lakukan ?" ucapku penuh keputus asaan.

"Ada baiknya jika anda bisa berbicara dengan Tuan Park mengenai masa lalunya, hal yang mengganggunya dan membuat Tuan Park menjadi seperti ini. Lalu tetap coba untuk meyakinkannya. Tapi jangan memaksanya untuk berbicara jika beliau tidak ingin mengatakannya. Tuan Park telah melalui kemajuan yang besar semenjak bersama anda, dan saya mengakui itu. Maka dari itu, perlahan saja, Tuan Park membutuhkan waktu tapi tetap pada anda yang selalu berada disisinya. Beliau membutuhkan anda"

Menahan napasku, hatiku kembali digerus oleh sisi gelapnya. Yang belum sepenuhnya bisa kujangkau hingga saat ini. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana seorang Park Chanyeol di masa lalu. Apa yang terjadi padanya ?.

"Saya mengerti" ucapku pada akhirnya.

"Saya tahu bahwa anda terlalu terkejut dengan semua ini, tapi ini telah terjadi begitu lama", ucap dokter itu.

"Maaf ?"

"Kesulitan bernapas. Tuan Park telah mengalaminya dalam waktu yang lama. Tuan Park hanya ketakutan dan mendapat trauma dari masa lalunya. Saya harap anda bisa mengerti dan tetap berada di sisinya. Saya bersungguh-sungguh ketika mengatakan bahwa beliau membutuhkan anda"

Aku mengangguk sekenanya, telah kehilangan kata-kataku.

"Kalau begitu saya permisi" ucapnya lalu beranjak dari kursi.

Aku mengikutinya dan membungkuk mengucapkan terimakasih atas ketersediannya datang ditengah malam seperti ini.

.

.

.

Tanganku mengelus surai rambutnya yang kini telah tumbuh cukup panjang. Alisnya mengkerut beberapa kali dan telunjukku bergerak mengelusnya untuk membuatnya tenang kembali. Matanya yang tertutup dan wajah nya saat ini begitu damai, begitu tenang. Berbanding terbalik dengan phoenixnya tadi. Penuh ketakutan, kebingungan dan sarat akan kesedihan. Bahkan bibir penuhnya yang biasanya menciumku, menerbangkanku ke surga, tadi menjadi bergetar. Aku menghembuskan napasku lalu membawa keningku untuk menempel pada keningnya lama. Kemudian bibirku mencium bibirnya sekilas.

"Aku telah berjanji pada Tuhan bahwa aku akan bersamamu dalam waktu yang lama Chanyeol. Aku disini untuk seluruh ketakutanmu. Jangan lagi, jangan jatuh lagi. Aku tidak bisa melihatmu kesakitan seperti ini"

Airmataku kembali turun saat bibirku telah menyelesaikan kalimatku. Menghembuskan napasku lalu tanganku segera menyeka airmata itu. Menarik wajahku kemudian beranjak berjalan menuju kamar mandi.

"Lihat bagaimana berantakannya dirimu Baekhyun" ucapku pada cermin didepanku.

Mata yang memerah, sudut bibir yang kini membiru bercampur dengan warna ungu, juga bajuku yang penuh darah. Darah dari tangan Chanyeol. Jari-jariku bergerak untuk melepaskan kancing-kancing bajuku. Kurasa aku membutuhkan mandi. Kau gila Baekhyun ? Ini bahkan hampir jam 3 pagi, teriak dewa batinku didalam sana. Tanganku menyalakan keran shower, sedang tanganku masih memegang bajuku yang telah kulepaskan. Mataku menatap kain yang kini telah basah menyebabkan air berwarna merah perlahan mengalir dari ujung-ujung jari kakiku.

"Mereka akan membawamu Baek, mereka akan membawamu. Mereka akan membawamu jauh dariku dan aku tidak bisa melakukan apa-apa !"

"Kesulitan bernapas. Tuan Park telah mengalaminya dalam waktu yang lama. Tuan Park hanya ketakutan dan mendapat trauma dari masa lalunya. Saya harap anda bisa mengerti dan tetap berada di sisinya. Saya bersungguh-sungguh ketika mengatakan bahwa beliau membutuhkan anda"

Percobaan penculikan, Chanyeol, semua yang dikatakan dokter Wang membuat emosiku kembali meledak, bertebaran tak karuan. Pada akhirnya aku kembali menangis, dibawah guyuran shower dengan mendekap bajuku. Mengabaikan perban yang melilit leherku yang kini telah basah atau jam dinding yang kini tepat menunjukan pukul 3 pagi.

.

.

.

.

.

Terimakasih untuk semua review dari kalian pada chapter sebelumnya. Terharu baca review kalian satu-satu. Jangan lupa tinggalkan komentar/tanggapan kalian untuk chapter ini di kolom review ya ! See u !