CHAPTER 14

Could you forgive me

Matanya setengah terbuka ketika ia melihat bayangan sosok ibu dan adiknya sedang menatapnya, ia membuka seluruh matanya dan melihat kedua sosok itu sedang menatapnya khawatir

"Umma, Sohyun, kalian kenapa ada disini?" Tanya namja cantik itu pada dua sosok yang berada diruangan itu, ia mencoba bangun tapi kepalanya kembali berdenyut

"Oh kepalaku"

"Aduh sayangku kau sudah sadar, istirahatlah! Kau ini di rumah sakit" ibunya mendorongnya kembali ke kasur sambil merapatkan kepalanya kembali dengan bantal

"Rumah Sakit? Memangnya aku ini sakit apa?" namja cantik itu berusaha bangkit lagi dari ranjang tapi ummanya memukul punggungnya

"Aigooo lihat anak nakal ini, sudah kubilang jaga badanmu" katanya lagi sambil menepuk pundak anaknya, matanya menangkap sosok polos mata anaknya dan ia tidak bisa menahan kesedihannya "Jae kenapa nasibmu malang sekali…" katanya perlahan-lahan sambil terisak

"Umma kenapa kau menangis, aku kan cuma dirawat disini, aku ini belum matikan?" kata namja cantik itu setengah bingung, dirinya kan sudah sadar seharusnya ummanya gembira tapi kenapa wanita itu malah menangis

"Aduh kau ini masih saja bisa bercanda…aku ini jadi semakin sedih…aku beli minuman dulu ya" kata ibunya yang memilih untuk menghindari tatapan anaknya yang kebingungan. Ia tidak sanggup untuk menjelaskan kebenaran padanya

"Sohyun, kenapa dengan umma?"

"Ia hanya sedih dengan kondisimu. Kau pingsan tadi pagi dirumah, kami langsung kemari begitu mendapat telepon dari yunho"

Bayangan kejadian mengerikan tadi malam kembali terngiang di ingatan pemuda cantik itu setelah mendengar penjelasan dari adiknya, pingsannya mungkin efek dari rasa sakit akibat perlakuan yunho padanya

"Lalu dimana yunho?" tanyanya

"Ia sedang diluar"

"Oh…"

Jae ingin sekali melihat suaminya itu, bukan karena ia rindu padanya tapi ia ingin melihat reaksi suaminya melihatnya terbaring disini, mungkinkah ia akan menyesali perbuatannya padanya, belum tuntas pikirannya melayang pada sosok suaminya adiknya memeluknya

"Jae jangan bersedih ya, kami semua ada disini untukmu"

"Apa maksudmu?" Tanyanya semakin penasaran dengan sikap adik dan ibunya

"Kau mengalami pendarahan waktu dibawa kesini, dokter bilang kau sedang dalam posisi mengandung"

"A…apa?" mata namja itu terbelalak, adiknya semakin mengeratkan ikatannya

"Tapi mereka tidak bisa menyelamatkannya…aku menyesal mengatakannya jae, kau kehilangan bayimu"

Tubuhnya bergetar sesaat merasakan shock yang sangat melemaskan semua saraf tubuhnya sebelum ia tertunduk lemas di pundak adiknya

"Ba…yiku" isaknya lirih, dadanya sakit, ia sangat terpukul mendengarnya tapi ia tahu ia tidak bisa berbuat apa-apa lagi selain menyesali dan menangis dipelukan adiknya

"Aku tahu, aku turut menyesal" kata gadis itu berusaha menenangkan kakaknya yang berlinang air mata

"Yunho apa dia tahu?"

"Dia masih terkejut setelah dokter menyampaikan hal itu kepadanya, seharian ia melamun diluar"

-oOo-

Yunho tidak banyak bicara ketika umma dan adiknya menyerahkan pemuda cantik itu padanya setelah proses perawatan selesai, didalam mobilpun ia tidak banyak berbicara, sesekali ia hanya menanyakan kondisi tubuh pemuda cantik yang masih terpukul dengan kabar kematian janinnya itu. Yunho sadar semua itu terjadi akibat kesalahannya dan ia tahu pemuda itu pasti sangat kecewa serta marah padanya

"Kau mau makan malam dimana?" Tanya yunho dari kursi supir tiba-tiba dalam setengah perjalanan pulang

"Aku tidak lapar, kita pulang saja" jawab namja cantik itu pelan, matanya masih kosong menatap jalanan didepannya, mereka kembali lama terdiam sebelum yunho akhirnya mengatakan sesuatu padanya

"Jae…tentang janinmu…aku sungguh menyesal, maafkan aku" yunho berkata dengan emosional, ia sungguh-sungguh menyesali perbuatannya

"Aku juga, maafkan aku, seandainya aku tidak membuatmu marah" balas jae sebentar sambil menatap kaca jendela disebelahnya, matanya tidak pernah sekalipun diarahkan pada pria jangkung itu

"Aku benar-benar menyesal…" kata yunho lagi tanpa ada balasan apapun dari pemuda sebelahnya

-oOo-

Setelah mereka tiba di apartemen Jaejoong langsung menuju kamar dan membaringkan dirinya dikasur

"Jae sebaiknya kau makan dulu, aku akan panaskan sesuatu" kata yunho dari balik pintu

"Aku tidak lapar, kau saja yang makan" katanya sembari memunggungi yunho yang mendekat kearahnya, pria jangkung itu hendak mencium rambut pemuda yang sedang berbaring itu tapi belum saja bibirnya menyentuh rambut namja cantik itu, jae langsung menggeser tubuhnya menghindarinya sambil mencengkeram selimutnya

"Ah ma…maafkan aku, apakah aku boleh tidur duluan?" kata jae yang ketakutan, begitupun dengan yunho yang kaget dengan sikap remaja cantik itu

"Tentu saja, aku akan meninggalkanmu disini, tidurlah" jawabnya sambil menjauh

"Terimakasih"

Pelan-pelan jaejoong kembali merapatkan selimutnya sambil melihat suaminya beranjak pergi

"Jae!" kata yunho sebelum keluar kamar

"Iya"

"Maafkan aku"

-OoO-

Pagi pagi sekali jaejoong terbangun setelah jam weker membangunkannya, melihat ranjang disampingnya yang masih rapi ia sadar yunho tidak kembali ke kamarnya tadi malam, ia segera bangkit karena ia harus menyiapkan sarapan, ada suasana berbeda ketika ia menuju dapur, yunho sedang berada ditempat biasanya ia berada pagi-pagi buta untuk menyiapkan sarapan mereka berdua

"Yunho kau sedang apa didapur?"

"Oh jae kau sudah bangun, duduklah, aku sedang menyiapkan sarapan" katanya dengan wajah yang berseri-seri, tangannya sibuk membuka aluminium foil dari wadah makanan

"Kau memasaknya sendiri?"

"Ini dari ummaku, tadi pembantu di rumah kami mengirimkannya kesini" katanya sambil memindahkan makanan itu ke meja makan

"Ayo jae makanlah" katanya lagi

"Terimakasih"

Jae menunjukkan senyum kecilnya sebelum ia meraih nasi dan ikan segar pemberian mertuanya

"Kau semalam tidur dimana?"

"Di sofa" jawab yunho "Bagaimana dengan tidurmu?"

"Baik" balas jae singkat lalu melahap makanannya lagi

"Ehm…Bagaimana kalau hari ini kita jalan-jalan?"

"Kau tidak pergi ke kantor?"

"Aku mengambil cuti, aku ingin merawatmu"

"Tapi aku tidak sakit"

"Iya tapi aku ingin bersamamu hari ini"

"Kau tidak pergi ke rumah sakit menjenguk yuri?"

"Ada adik-adiknya disana"

"Oh tapi aku sudah tak apa-apa, aku hanya tak ingin diperlakukan seperti orang sakit"

"Jae…"

"Terimakasih kau perhatian sekali padaku tapi hari ini aku ada janji dengan Sohyun, kau pergi saja ke rumah sakit menjenguk yuri"

"Kau mau pergi kemana?"

"Aku akan mengirimkan aplikasi pendaftaran ke sebuah kampus"

"Dimana?"

"Nanti kau juga akan tahu"

Yunho sedikit tersinggung dengan jawaban jae tapi ia mencoba bersabar dengan tersenyum

"Baiklah, apa mau aku antar?"

"Tidak usah, aku akan naik sepeda, sepertinya aku butuh berolahraga"

"Oh baiklah"

-oOo-

Jaejoong pergi sebentar menemui adiknya di gerbang salah satu universitas terkenal di korea untuk mendaftar test masuk, karena masih siang ia memutuskan untuk pergi berjalan-jalan sendirian menyusuri jalanan setelahnya, adiknya enggan menemaninya karena cuaca dingin musim semi yang sangat ia benci, alhasil ia berjalan sendirian dengan mantel hangat yang sebentar-sebentar ia rapatkan ke lehernya, kakinya terus melangkah sampai ia tiba disebuah gedung yang familiar baginya

"Maaf bisa saya menemui direktur Choi Siwon" tanya jae pada seorang resepsionis

"Sudah punya janji dengan beliau?"

"Belum, tapi aku ini teman beliau, tolong katakan Kim Jaejoong ingin menemuinya"

"Baiklah aku akan menghubunginya, bisa tolong kartu identitasnya?"

"Oya ini"

Jae menyerahkan kartu identitasnya pada wanita manis itu sebelum namanya disebut saat telepon tersambung ke tujuannya, lalu beberapa menit kemudian ia menutup teleponnya

"Maaf hari ini tuan sedang ada rapat penting, ia tidak bisa menemuimu"

"Tolong sebentar saja"

"Maaf kami tidak bisa mengganggu beliau, sekarang beliau sedang sibuk mengurus perpindahannya ke cabang di jepang"

"Apa dia akan pindah lagi ke jepang?"

"Iya, maaf mungkin lain kali kau bisa datang lagi kesini sebelum akhir bulan ini, itu batas waktu beliau ada di korea"

"Oh baiklah, terima kasih"

Jae keluar dengan perasaan kecewa, ia hanya ingin meminta maaf atas apa yang yunho lakukan padanya, kejadian malam itu pasti telah membuat perasaannya kecewa, siwon pasti sudah tahu hubungannya dengan yunho dan merasa dikhianati apalagi ia akan segera pindah dari sini, ia sudah tidak punya waktu lagi

Jae lalu menuju kedai kopi diseberang jalan, ia berniat menunggu sampai siwon selesai kerja lalu mencegatnya sebelum masuk mobil

Benar saja beberapa jam kemudian ia melihat mobilnya dibawa mendekat pintu masuk dan sosok jangkung ia kenal melangkah mendekati mobil itu, dengan cepat ia mendekati mobilnya dan menyapa sahabatnya itu, ia melihat perban kecil di rahang dan pipi kirinya

"Siwon-shi bisakah meluangkan waktu sebentar untukku?" kata jae memohon

"Aku sedang terburu-buru, lain kali saja" kata siwon sambil membuka pintu tapi jae menghalanginya

"Kumohon, sebentar saja, aku ingin menjelaskan sesuatu kepadamu"

"Tak ada yang perlu dijelaskan padaku"

"Aku hanya ingin meminta maaf karena telah menyebabkan wajahmu terluka"

"Kenapa kau harus meminta maaf padaku? Bukan kau yang menyebabkan wajahku seperti ini"

"Aku juga ingin kau memaafkan pria itu"

"Apa kau takut aku akan menuntutnya?"

"Kumohon maafkan dia"

"Jadi siapa orang itu? Apa dia benar kakakmu?"

"…Dia suamiku, maaf aku tidak berterus terang kepadamu"

"Oooh begitu ya…jangan takut aku tak berniat untuk berurusan dengan pria itu lagi, juga dengan kalian selamat tinggal" kata siwon sambil memasuki mobilnya lalu memacu mobilnnya meninggalkan jaejoong disana

-oOo-

"Bagaimana aplikasi sekolahnya, apakah semua berjalan lancar?" Tanya yunho setelah jae pulang, ia sengaja menyiapkan makan malam yang ia pesan dari sebuah restoran agar ia bisa bercakap cakap dengan istrinya

"Iya"

"Kau masuk universitas dan jurusan mana, boleh aku mengetahuinya?"

Jae memegang leher belakangnya lalu berkata "Universitas Seoul. Jurusan ekonomi"

"Oh kupikir kau akan masuk jurusan design"

Jae tersenyum kecil padanya sebelum meneruskan makan malamnya

Suasana hening kembali mengintimidasi mereka, hanya suara gesekan garpu dan sendok yang memenuhi ruangan sebagai musik pengiring makan malam mereka, keduanya terlihat kikuk dengan suasana itu, jae bangkit untuk mengumpulkan piring kotor bekas mereka untuk dipindahkan ke westafel lalu mencucinya sedangkan yunho masih terdiam di kursi meja makannya sambil memperhatikan gerak-gerik jae di dapur, tidak beberapa lama setelah jae beres dengan cuciannya ia kembali ke ruangan dimana suaminya berada

"Yunho-shi boleh aku memakai kamar disebelah? Aku ingin tidur sendirian dulu untuk sementara ini"

Yunho menghela nafas lalu menjawabnya setelah hening yang cukup panjang "…Kau tidur saja di kamar aku akan tidur disofa, lagipula aku harus membereskan beberapa kerjaan kantor"

"Apa mau kubuatkan kopi?"

"Tidak usah kau tidurlah duluan"

"Baiklah terimakasih, selamat malam" Kata jae lalu melangkah pergi kekamarnya dan menutup pintunya

Pagi harinya ketika jae terbangun ia menemukan masakan yang masih mengepul dimeja makan dengan memo tertempel diatasnya

Jae ini sarapan untukmu dari umma, makanlah, maaf aku tidak membangunkanmu, aku berangkat duluan, aku mencintaimu

Yunho

-oOo-

Suasana dingin yang tak kunjung mencair diantara mereka semakin lama semakin merenggangkan hubungan mereka, sudah satu bulan sejak peristiwa itu dan jae yang masih trauma dengan kejadian tersebut masih belum bisa mempercayai yunho dan terus menjauhi suaminya sedangkan yunho yang tidak mau membuat jaejoong kecewa lagi juga terus menjaga jarak darinya, alhasil mereka seperti berada didunianya masing-masing.

Meja makanpun kini tak pernah dipenuhi suara candaan lagi, mereka melahap makanan mereka dengan tenang tanpa memperdulikan pasangan satu sama lain lalu setelah itu mereka akan pergi ke kamar masing-masing'

Yunho membolak-balikkan tubuhnya berulang kali mencoba menenangkan tubuhnya yang belum juga ingin tidur, Space yang lengang juga dinginnya seprai mengganggu pikirannya membuat dirinya sulit beristirahat, jika sudah begini mau tak mau ia harus menelepon seseorang yang bisa diajaknya bicara

"Apa mereka sudah tidur?" tanya yunho pada gadis diujung telepon sana

"Sudah, ada apa menelponku malam-malam begini?" tanya mantan kekasihnya itu

"Aku tidak bisa tidur"

"Jae apa dia disampingmu?"

"Tidak kami masih pisah ranjang, kelihatannya dia masih trauma denganku"

"Bertahanlah kau pasti bisa melewatinya"

"Iya walaupun aku tidak tahu berapa lama lagi kami bisa bertahan seperti ini"

"Bolehkah aku menjenguknya? Mungkin ia bisa tenang jika aku mengatakan kau sangat mencintainya"

"Entahlah, mungkin ia akan salam paham"

"Hei sejak kapan kau mudah menyerah seperti itu, ia akan kembali seperti semula, percayalah"

"Ia bukan dirimu yang mudah memaafkanku, hatinya polos seperti vas bunga, aku telah membuatnya pecah berkeping-keping dan aku tak bisa membuatnya menjadi utuh kembali, itu semua salahku"

"Apa kau mau kembali padaku jika berpisah dengannya?"

"Apa?"

"Hahaha aku hanya bercanda, baiklah besok aku akan menjenguknya"

"Iya terima kasih banyak masih mau berbicara denganku, aku merasa kesepian selama ini, sepertinya lama-lama aku akan menjadi autis"

"Sampai bertemu besok yunho"

"Iya sampai bertemu besok"

Yunho menutup teleponnya lalu memandangi langit-langit diatasnya, malam ini ia sepertinya tak akan bisa tidur lagi, suasana yang sama juga terjadi di kamar sebelahnya dimana jae juga sedang menatap langit-langit sebelum matanya terpejam, ia sering melamun ingin semuanya kembali seperti sedia kala tetapi hatinya serasa ditutupi sesuatu dan ia belum bisa membukanya, walaupun begitu perasaan pada suaminya belum berkurang sedikitpun

-oOo-

"Jae hari ini kita akan kedatangan seorang tamu"

"Siapa?"

"Yuri, katanya ia ingin menjengukmu" kata yunho berhati-hati, ia tidak ingin membuatnya jadi salah paham

"Menjengukku? Tapi aku tidak sedang sakit"

"Ia hanya ingin mengunjungimu"

"Oh baiklah"

"Aku akan pergi sebentar ke supermarket membeli anggur, kau mengobrollah dengan hangat bersamanya "

"Baiklah"

Beberapa jam kemudian tak lama berselang setelah yunho pergi keluar Yuri datang ke apartemen mereka dengan membawa keranjang buah sebagai hadiah untuk jaejoong

"Bagaimana kabarmu?" tanya yuri berbasa-basi

"Baik. Kau?"

"Aku sudah sembuh seratus persen, boleh aku simpan disini?" tanyanya sembari menurunkan oleh-olehnya

"Silahkan"

Jae mempersilahkkan gadis itu untuk duduk sebelum ia menyiapkan jus dan cemilan keatas meja untuknya, yuri berbasa-basi berbicara tentang apartemen mereka sebelum masuk ke pembicaraan yang lebih serius dengannya

"Aku menyesal soal anak kalian" kata yuri membuat jae teringat kembali pada kenangan disaat bayinya terenggut darinya

"Ah iya"

"Kalian pasti akan mempunyai anak lagi dalam waktu dekat, bersemangatlah"

"Iya terimakasih atas doanya" jae hanya sedikit tersenyum, ia banyak mendengar kata-kata seperti itu dari keluarganya juga dari orangtua yunho, tapi tampaknya mereka hanya berharap, bagaimana mungkin mereka akan punya anak lagi dalam waktu dekat sedangkan dirinya saja masih sangat menjaga jarak dengan suaminya itu

"Yunho, dia sangat mencintaimu"

"Aku tahu"

"Ia sangat menyesal dan merasa bersalah telah menyebabkan kehilangan anak kalian, tidak bisakah kau memaafkannya?"

"Aku sudah memaafkannya"

"Lalu kenapa kau masih bersikap dingin kepadanya? Bukankah keterlaluan jika kau terus menghukumnya tidur sendirian seperti itu"

"Maaf tapi itu bukan urusanmu" jawab jae merasa tersinggung karena wanita itu kelihatan sudah mencampuri permasalahan rumah tangganya

"Walaupun aku merasa ditusuk dari belakang dan disia-siakan begitu saja olehnya tapi melihat dirinya menderita seperti ini aku juga tak tahan, dibalik sikap emosionalnya dia pria yang sangat baik hati, ia telah mengakui perbuatannya juga ingin memperbaiki semuanya, tak bisakah kau sedikit berbaik hati menerimanya kembali?"

"…" jae kembali terdiam, atas dasar apa ia harus mendengarkan wanita yang berbicara tentang rumah tangganya

"Dia sangat mencintaimu jae, bahkan untukmu ia tega melepaskanku, orang yang pernah ia beri janji untuk sehidup semati dengannya, orang yang selalu berada disisinya ketika dia terluka bahkan sampai saat ini, apa kau sama sekali tidak memikirkan tentang itu?"

"…"

Pintu lalu terbuka membuat mereka berdua melirik kearah suara berasal

"Wah kelihatannya aku ketinggalan sesuatu, apa ada hal menarik yang kalian bicarakan?" tanya yunho yang melangkah masuk mendekati mereka

"Kami hanya bicara tentang apartemen ini" jawab yuri

"Oya ini ada spaghetti untuk kalian"

"Sini biar kubereskan belanjaanmu"

Yuri segera mengambil barang bawaan yunho ke dapur, jae masih dikursinya tidak beranjak sama sekali, itu membuat yunho merasa tidak enak, ia memutuskan lebih baik untuk membantu yuri saja didapur

"Apa kau menyinggungnya?" tanya yunho berbisik pada yuri

"Aku tidak, kenapa?"

"Dia kelihatan tidak senang sama sekali"

"Aku hanya bilang jika ia tidak mau dirimu akan aku ambil lagi"

"Hei!" yunho menyenggol lengannya

"Aku hanya bercanda, kau ini serius sekali!"

"Awas ya kalau ia salah paham"

Beberapa menit kemudian mereka keluar dengan makanan ditangan mereka lalu meletakkannya di meja makan

"Jae spagettinya, ayo dicoba dulu, aku juga membeli orange float kesukaanmu" kata yunho pada jae yang masih tak beranjak dari tempatnya

"Kalian makan saja, aku tidak lapar"

Mereka terdiam menanggapi sikap dingin jae, yunho pergi kedapur untuk membawa beberapa gelas ke meja makan lagi lalu menyuruh yuri untuk duduk

"Makanlah kau tamu disini" ujar yunho menyuruh gadis itu untuk menyantap hidangan yang yunho bawa, karena letak meja makan dan ruang tengah tidak begitu jauh, mereka seperti berada disatu ruangan dengan jae yang masih berada di sofanya

"Bagaimana dengan kondisi kantormu?" Tanya yuri mencairkan suasana kaku diantara mereka

Yunho menatap jae sebentar lalu menjawab pertanyaan yuri

"Lumayan, bulan depan kita akan ekspansi membuat beberapa proyek apartemen di guanzo china"

"Wah benarkah, apa kalian bisa memberi diskon untukku? kau bilang akan membelikanku apartemen" canda yuri yang diikuti tawa kecil dari mulut yunho

"Aku harus pergi ke suatu tempat" kata jaejoong tiba-tiba menghentikan percakapan ringan mereka

"Kemana?"

"Aku ada janji dengan adikku, maaf" jae setengah membungkuk kepada yuri lalu dengan tergesa-gesa meninggalkan rumah mereka, yunho mengejarnya yang tengah menunggu lift, jae melihat yunho mendekat dan ia hendak memutuskan untuk lewat tangga saja tapi yunho mencegahnya

"Tunggu! Ada apa dengan dirimu. Apa kau juga harus bersikap dingin kepada tamu kita?"

"Dia tamumu, bukan aku"

"Kenapa kau bersikap seperti ini jae? Kau cemburu padaku? Kau marah padaku?"

Jae menarik tangannya darinya "Maaf aku harus pergi"

"Kalau begitu biar kuantar, akan kuantar kau kemana saja"

"Aku tidak mau, kau temani saja dia"

Ting

Pintu lift terbuka dihadapannya dan jae berusaha melangkah masuk

"Apa kau tak takut jika terjadi sesuatu dengan kami berdua dirumah kita?" seketika jae berhenti melangkah dengan pertanyaan menjebak dari suaminya itu tapi sebentar kemudian ia memutuskan untuk melangkah

"Aku akan pulang telat" katanya sambil melangkah masuk lift dan menutup pintunya

"Jae!"

-oOo-

Yunho melangkah lesu kedalam apartemen dimana yuri masih berada disana

"Maaf aku telah menggangu kalian" kata yuri sambil membereskan piring serta gelas yang tidak disentuh oleh jae ke dapur

"Ini bukan salahmu, dia memang keras kepala"

"Kalau begitu aku akan pulang sekarang, tidak baik jika kita berdua disini"

"Tinggallah disini, aku masih butuh seseorang untuk menemaniku bicara, aku bisa gila kalau terus terusan begini"

Yunho duduk dan menyandarkan kepalanya ke sofa, menutup matanya sambil menghela nafas

"Apa kau membenciku?" Tanya yunho pada yuri dengan posisi kepala bersandar dan mata tertutup

"Apa?"

"Dengan apa yang kulakukan padamu selama ini kau pasti sangat membenciku, iya kan?"

"Awalnya iya, kau melupakanku begitu saja bagaimana aku tidak bisa tidak merasa kecewa dan membencimu…tapi semakin lama perasaan itu kusimpan itu hanya menambah beban luka didadaku dan aku sadar membencimu juga tidak akan membuatmu kembali padaku jadi aku rasa aku tidak punya alasan untuk terus menerus membebani hatiku lagi dengan perasaan itu, aku hanya ingin melupakanmu"

"Aku memang pantas dibenci olehmu, bahkan kini jae pun membenciku, ini semua karma bagiku"

"Lalu kau akan bagaimana? Menyerah?"

"Entahlah aku tak tahu lagi harus bagaimana, aku sudah menunjukkan rasa penyesalan padanya dan ingin memperbaiki semuanya tapi ia selalu bersikap dingin padaku"

"Kalau begitu tunjukkan kau sangat mencintainya"

"Setiap hari…aku memasak untuknya…pulang telat agar ia tidak ketakutan melihatku di malam hari" ia berhenti untuk memegang kepalanya sambil terisak "aku berusaha tidak menyentuhnya…aku menuliskan memo betapa aku sangat mencintainya setiap hari di meja makan tapi ia sama sekali tidak menggubrisnya...ah…lelah sekali"

Ia memindahkan kepalanya ke pangkuan yuri, gadis itu mengusap rambut mantan kekasihnya dengan lembut

"Kau masih belum berubah ya, masih bersikap kekanakan seperti ini jika ada masalah"

"Aku bersalah padanya padamu"

"Kesalahan akan membuatmu semakin bijaksana oppa"

"Maafkan aku yuri, maafkan karena meninggalkanmu, aku pantas mendapatkan semua ini"

"Bertahanlah kau pasti bisa menghadapinya, kau berjanji akan hidup bahagia dengannya, apa kau lupa?"

"Iya aku tidak lupa, aku akan terus hidup begini dengannya sampai ia lelah denganku"

-oOo-

"Sudah sampai" kata supir taxi didepan sebuah apartemen mewah

"Terimakasih, ini ambil saja kembaliannya"

Jae keluar dari taxi lalu menelepon seseorang dari ponselnya

"Halo?" kata suara di belakang sana

"Siwon hyung bisa kau bukakan pintu untukku"

"Kau di depan apartemenku?"

"Iya aku sedang berada di jalan, bolehkah aku masuk?"

"Baiklah tunggu sebentar aku akan membuka kuncinya"

Tak berapa lama lampu panel di samping pintu masuk apartemen berubah warna menjadi hijau dari merah, itu tandanya pintu tidak terkunci dan ia bisa masuk ke dalam gedung, Siwon sudah menunggunya didepan pintu rumahnya ketika jae sampai disana

"Masuklah, ada apa?"

Ia lalu menyeduh teh dan diberikannya pada namja cantik yang sedang meniupkan udara hangat dari mulutnya ke telapak tangannya

"Aku hanya ingin mengucapkan salam perpisahan, bukankah minggu ini adalah minggu terakhirmu?"

"Kau tahu dari mana?"

"Resepsionismu yang bilang"

"Baiklah, lalu?"

"Aku juga ingin minta maaf soal waktu itu"

"Kau sudah mengatakannya waktu itu, lupakanlah tentang masalah itu"

"Aku mengalami keguguran"

"Apa?"

"Mungkin kau akan sulit mempercayainya tapi waktu pria itu menarikku aku sedang mengandung anaknya, kami lalu bertengkar hebat dan keesokan harinya aku kehilangan anakku"

Jae menatap kosong ruangan didepannya, ia selalu sedih jika mengingat hal itu

"Benarkah?"

"Iya"

"Aku turut menyesal, maafkan aku"

"Bukan salahmu, ini semua salahku, aku hanya ingin meluruskan masalah waktu itu bahwa aku tidak bermaksud menyembunyikan identitasnya darimu, aku berbohong karena aku takut kau akan membenci pria yang menikah dengan pria lain sepertiku, aku hanya tak ingin dibenci olehmu"

"Aku sudah melupakannya"

"Kalau begitu terimakasih. Hanya itu saja yang ingin kusampaikan padamu, semoga bisnismu lancar di jepang, selamat tinggal"

Jae segera melangkah pergi tapi tiba-tiba ia dikejutkan oleh sosok tinggi besar yang menghalagi jalannya

"Tunggu, apa kau bahagia selama ini? Dengan pria itu?" tanya siwon

"Aku bahagia"

"Kalau begitu kenapa kau sering menangis dihadapanku?"

"Ah itu…itu bukan apa-apa…maaf aku harus pergi"

Kakinya beranjak pergi, ia tidak ingin dirongrong pertanyaan seperti itu lagi, tapi lagi-lagi tangannya ditahan oleh pria itu

"Apa kau tidak menganggapku sebagai temanmu?...bukankah kau ingin aku memaafkanmu…jadi ceritalah agar aku bisa mengerti tentang masalahmu"

Jae kembali ke kursi, ia menyeruput teh hangat sebelum mulai bercerita

"Aku tidak percaya diri"

"Apa?"

"Aku mencintainya bahkan kini setelah apa yang ia perbuat padaku aku masih sangat mencintainya...tapi aku merasa dia tidak mencintaiku" katanya tertunduk

"Kenapa kau berpikir demikian?"

"Aku merasa telah merenggut kebahagiaan yang seharusnya ia raih bersama dengan orang lain, dan juga sepertinya ia tidak benar-benar merasa bahagia didekatku"

Jaejoong berhenti sebentar untuk menarik nafas lalu berkata kembali

"Ada seseorang yang sangat memahami dirinya dibanding diriku dan aku merasa terganggu juga tersaingi olehnya, yunho—dia juga tidak bisa lepas dari wanita itu begitu saja, walaupun ia bilang sudah tidak ada apa-apa lagi diantara mereka tapi kelihatannya mereka seperti terikat satu sama lain dan aku hanya seperti benang kusut ditengah-tengahnya"

"Lalu kenapa kau masih bertahan dengannya?"

"Aku masih mencintainya, ia orang pertama yang pernah memasuki hidupku" kata jae pelan menahan rasa sedih dihatinya

"Kalau begitu hadapi kenyataan yang seperti itu dan jangan pernah mengeluh, Kalau kau tahan hanya menjadi orang no 2 baginya maka teruslah hidup bersamanya seperti itu tapi jangan pernah menangis lagi"

"Atau berpisah darinya agar kalian bisa sama-sama bahagia" katanya melanjutkan

Jae tercengang dengan pernyataannya, ia tahu bagaimana rumitnya hubungan mereka berdua tapi ia tidak pernah berpikir untuk meninggalkannya, tidak sama sekali

Siwon memegang tangan namja cantik itu sambil menatapnya

"Jae. Aku tak akan pernah membuatmu menangis"

"Hyung apa maksudmu?"

"Kenapa kau terus mempertahankan sesuatu yang selalu membuatmu terluka jika dilain sisi ada seseorang yang siap untuk membahagiakanmu? Orang yang tak akan membuatmu menangis"

"Aku harus pulang, lepaskan aku hyung"

"Pikirkanlah jae, pergilah bersamaku ke jepang" katanya sebelum melepas tangan pemuda cantik itu, jae tidak berkata apa-apa selain melangkah pergi

-oOo-

Sorry baru bisa update, author lagi sibuk berat, bulan depan author akan ada di jepang, jadi mungkin updatenya akan sedikit terlambat lagi...walaupun apdetnya jadi lama mudah-mudahan masih ada yang baca en pada inget ama fic ini XD...jangan lupa sempatin buat reviewnya juga ya...see ya...