Luhan membawa Minseok ke pintu, dan kami saling mengucapkan selamat tinggal. Ini adalah Minggu malam yang hebat, kami menghabiskan hampir 3 jam untuk membicarakan hal-hal konyol bersama.

Chanyeol dan aku menuju mobil, ia membuka pintu penumpang untukku. Dia adalah pria sejati, dan aku mengakuinya.

Saat baru setengah jalan menuju rumah, aku tidak bisa tahan lagi. Aku melepaskan sabuk pengaman dan pindah dari kursiku, mengejutkannya.

"Apa yang kau lakukan?"

"Bisakah kau menggeser kursimu ke belakang sedikit tapi tetap

menyetir dengan nyaman?" Tanyaku.

Dia menekan tombol di sisi kursi lalu bergerak mundur beberapa inci. Aku membuka celana jinsnya yang sedikit longgar, menarik miliknya keluar dari celana boxernya, lalu menurunkan wajahku ke arahnya, menghisap miliknya ke mulutku dengan kuat dan mengerang saat dia mengeras seketika.

"Baek!" Dia berseru dan menenggelamkan satu tangan di rambutku. Aku tidak memberinya kesempatan untuk membiasakan diri dengan mulutku, aku menyerangnya dengan cara sebaik mungkin, mengisap dan menjalankan gigiku dengan lembut di sepanjang kulitnya, menjilati dan mencengkeram miliknya dengan bibirku, mengangkat miliknya dengan tanganku. "Baekhyun, Ya Tuhan, apa yang kau lakukan, sayang?"

Aku mengangkat lututku hingga berada di kursi, dan menyeringai di sekitar miliknya ketika aku merasa dia mengusap rambutku.

Aku mengisap lebih keras, dan merasakan ketegangan mencengkeram pahanya saat dia datang dengan keras, menyemprotkan ke bagian belakang mulutku. Aku menelannya dengan cepat dan meneruskan membelai lembut kejantanannya dengan bibirku sampai dia kembali rileks di kursi.

Aku duduk normal kembali. Dia mencengkeram daguku menggunakan ibu jari dan telunjuknya untuk mengangkat wajahku ke arahnya, dia menciumku dengan kuat dan cepat lalu tersenyum dengan gairah di mata cokelatnya. "Kenapa kau melakukan itu?"

"Aku menyukaimu." Aku mengangkat bahu dan duduk dengan nyaman di kursiku. "Entahlah. Tiba-tiba Aku hanya ingin melakukannya saja."

Dia tertawa. "Tapi kau beruntung aku tidak menyetir keluar dari jalur."

"Kau pengemudi yang baik." Aku menepiskan tanganku kearahnya dan tertawa. "Karena itu Aku tidak khawatir."

Dia menautkan jemarinya dengan jemariku dan menggosokkan ibu jarinya di

atas buku-buku jariku. "Apa warna celana dalammu?" tanyanya tiba-tiba dan membuatku sedikit malu beberapa saat, tetapi aku kembali bersikap nakal.

"Hitam." Jawabku cuek.

"Warna favoritmu?" Dia bertanya dengan santai.

"Ya, aku menyukainya."

"Jika boleh kusarankan lepaskan celana dalammu sekarang, sebelum tanganku dapat meraihmu saat kita sampai di rumahmu. Kecuali jika kau menginginkan lagi celanamu kurobek, Sunshine, karena aku akan menyetubuhimu di pintu depan."

"Well, aku tidak bisa menolaknya.

.

.

.

Chanyeol tidak main-main dengan perkataannya. Dia menutup pintu apartemenku, menangkap tanganku sebelum aku bisa berjalan lebih jauh ke dalam ruangan, memutar dan mendorongku hingga menempel dipintu, mulutnya ada di mulutku, tangannya merenggut dan menarik pakaianku.

"Ku kira kau hanya bercanda."

"Tentu tidak." Gumamnya dan melepas bajuku melalui atas kepalaku, melepas bra, dan menangkup payudaraku dengan tangannya. "Sempurna."

"Begitukah? Milikku tidak terlalu besar." Aku mengerutkan hidungku padanya dan melepas kaosnya melalui atas kepalanya.

"Ini sempurna untuk tubuhmu yang kecil, Sayang." Punggungku melengkung saat bibirnya menguasai payudara kananku, dan dia menarik celana jeansku turun melalui kakiku.

"Jangan merobeknya." Gumamku ketika tangannya berada di sekitar celana dalamku. Dia menggeram tapi melepas juga celana dalamku turun dari kakiku dan tidak merobeknya seperti yang kubilang, tangannya menangkup pantatku dan mengangkatku, kakiku membungkus di pinggangnya, badannya ia condongkan kearahku hingga menahan diriku dibalik pintu.

"Kau membuatku gila." Gumamnya di bibirku. "Kau begitu seksi." Miliknya

meluncur masuk ke dalam diriku, hingga ke pangkalnya, dan menahanku di

sana, di antara tubuhnya yang kekar dan daun pintu keras yang menghantam punggungku. "Jujur saja. Aku ingin sekali menepikan mobilku dan bercinta denganmu di pinggir jalan."

"Lain kali kita akan melakukannya." Aku menyeringai padanya dan menggigit bibir bawahnya, menarik tindikannya, dan terkesiap saat ia mendorong miliknya dengan keras, dalam hentakan yang panjang dan lembut. Dia begitu kuat, tangannya menegang menahanku dengan kuat.

Dia menguburkan wajahnya di leherku dan menggigitku dengan lembut, kemudian meremangkan kulitku dengan sentuhan bibirnya. "Kau luar biasa. Ya Tuhan, aku suka berada di dalam dirimu tanpa penghalang."

"Mmm." Aku setuju dan menguburkan tanganku ke dalam rambutnya yang lembut, menarik kepalanya ke belakang dan menciumnya dengan keras, lidah kami bersentuhan satu sama lain, hidung kami saling menyeruduk, sampai aku merasa kakiku mulai bergetar. "Oh, Tuhan, Chanyeol."

"Ya, Sayang." Bisiknya dan meningkatkan kecepatannya. "Datanglah padaku."

"Channnn." Aku merengek dan tiba-tiba, orgasme datang, menegangkan setiap otot di tubuhku. Aku memegang erat dirinya dan mencoba bertahan, saat aku mulai tenang, dia membawaku melintasi ruangan, menyusuri lorong menuju kamar tidurku.

Tanpa menarik miliknya keluar dariku, dia meletakkanku ke tempat tidur, menahan tangannya di samping bahuku, dan bergerak lebih cepat untuk mengejar klimaksnya sendiri.

Aku mengulurkan tanganku kebawah dan menggosok klitorisku dengan jariku, aliran listrik memacu otot vaginaku untuk mengencangkan dengan lebih kuat di sekelilingnya. Matanya menatap ke jari-jariku, yang sedang berada diantara tubuh kami.

"Begitu." Bisiknya. "Teruskan menyentuh dirimu sendiri."

"Kau suka memerintah." Gumamku sambil menyeringai. Mata Cokelatnya yang lebih besar dari orang korea kebanyakan menatapku, dia menyeringai padaku, garang dan posesif.

Dia membungkuk dengan kedua sikunya, memerangkap tanganku di antara kami, mengubur jemarinya di rambutku dan menyeringai dibibirku. "Apa kau mengeluhkannya sekarang?"

"Tidak." Aku menggigit bibirnya.

"Syukurlah" Bisiknya dan menggosok bibirku, bolak-balik, mengecup bawah rahangku lalu ke telingaku dan menggigit daun telingaku. "Kau Luar biasa." Bisiknya.

Dengan tekanan dari jariku terhadap klitorisku, pinggul Chanyeol bergerak dengan cepat dan miliknya yang keras bergerak berirama ke dalam diriku, aku hampir mati. Tubuhku menegang dan aku tidak bisa menahan teriakanku saat orgasmeku datang.

Tubuh Chanyeol menegang dan dia berteriak saat dia klimaks, pinggulnya menyentak, tangannya mencengkeram kulit kepalaku. Dia bergetar dan napasnya terengah-engah, lalu mencium pipi dan bibirku dengan lembut dan mendesah dengan dalam saat pandangannya menangkap tatapanku.

"Lihat apa yang sudah kau mulai?" Dia bertanya.

"Terima kasih kembali." Aku menanggapi dengan tertawa.

Dia tersenyum lebar. "Ayo, mandi."

"Kau pasti akan membuatku kotor lagi." Aku merengut, menggodanya.

"Aku akan membersihkan dirimu. Ayo, Sunshine, mari kita mandi."

.

.

.

"Kau yakin akan melakukannya?" Chanyeol bertanya padaku dengan mengerutkan kening dari tempat tidur. Setelah bercinta sekali lagi di kamar mandi, akhirnya kami benar-benar bisa bersih, dari air dingin yang mengalir.

Setelah kami mengambil beberapa pakaian dan aku yang sibuk mengepak tasku untuk perjalanan ke Jeju, Chanyeol masih menatapku dengan seksama tanpa komentar sementara tangannya memegang ponsel.

"Aku hanya pergi untuk satu malam." Aku mengingatkannya.

"Tidak, kita akan pergi bersama. Aku akan menemanimu." Dia melirik ke bawah ke iPad-nya, mengesampingkan wajahku yang cemberut saat ini.

"Kau tidak perlu melakukannya." Aku berkacak pinggang dan menatap dirinya.

"Aku akan ikut denganmu." Dia masih keras kepala. Dan masih tidak mengalihkan pandangannya dari iPad bodohnya.

"Kenapa?"

Dia mengangkat bahu. "Rumahku ada di sana. Kita akan tinggal di sana, dan aku sudah menjadwalkan pertemuan yang harus kulakukan di sana."

"Kapan tepatnya kau sudah membicarakan rencana itu denganku?" Aku tidak tahu mengapa aku sangat kesal, tetapi inilah aku.

"Sekarang."

"Chanyeol.." Aku memulai tapi dia melemparkan iPadnya ke tempat tidur, tubuh rampingnya turun dari tempat tidur dan menangkup wajahku di tangannya.

"Aku tidak ingin berada jauh darimu meskipun hanya sehari. Aku ingin melihat dirimu berada di rumahku. Aku tidak mengatakan hal ini sebelumnya karena aku tahu bagaimana keras kepalanya dirimu dan aku tahu kau akan mengatakan tidak."

"Tapi Ini hanya semalam, Chanyeol." Aku mengerutkan kening padanya, sebagian dari

pikiranku benar-benar dibuat pusing olehnya, tetapi pikiran was-was bahwa baik dia maupun aku memang tidak bisa pisah adalah hal yang juga menggangguku.

Dia menutup matanya untuk beberapa saat, menggelengkan kepala dan mengepalkan rahangnya saat ia menatapku lagi. Oh tidak. Kurasa, aku telah menyakiti perasaannya.

"Baekhyun, aku tidak tahu apa yang membuatmu marah hanya karena aku ingin bersamamu. Tapi aku ingin mengingatkanmu satu hal, bahwa aku akan menjaga apa yang menjadi milikku, kau ingat?" Perkataannya menyiratkan kesedihan.

Aku tidak tega menyakitinya lebih jauh hanya karena perasaan egoisku. Dan Akupun berubah pikiran dengan cepat tanpa bisa kuduga. "Kau tinggal didekat pantai?"

Tubuhnya mulai rileks dan wajahnya menjadi tenang. Oh Tuhan, Syukurlah.

"Ya."

"Apa kau pernah melakukan hubungan seks di pantai?" Aku bertanya padanya. Dia menyeringai dan ibu jarinya menggosok pipiku dengan lembut.

"Tidak."

Aku mengangkat bahu dan menyeringai ketika ia menyipitkan matanya padaku. "Kita akan membutuhkan alas karena aku tidak ingin pasir menempel di punggungku."

"Jadi, kau mengasumsikan bahwa kita akan melakukannya di pantai?"

"Aku sangat yakin." Aku menciumnya dengan cepat dan menarik diri dari pelukannya, kembali untuk mengemas. "Kurasa, aku butuh lebih banyak pakaian."

Saat dia sedang tertawa, aku pergi keluar dari kamar ke ruangan khusus pakaian-pakaianku untuk memilih pakaian mana yang akan kubawa ke Jeju.

.

.

.

Ketika aku kembali, dia sudah duduk di tempat tidur lagi, masih memeriksa iPad-nya.

"Apa yang kau lakukan?" Tanyaku.

"Menulis email untuk para staf agar mengatur jadwalku untuk besok."

"Jangan menyuruh para stafmu untuk bekerja saat malam hari." Aku mengingatkannya.

"Tidak, mereka akan mengerjakannya besok."

"Jadi, selama ini kau selalu menyuruh mereka seolah-olah harus menyesuaikan kepentingan bisnis dengan urusanmu yang mendadak?" Tanyaku dengan alis terangkat, melipat beberapa celana Capri warna khaki dan meletakannya ke dalam koperku.

"Kira-kira begitu." Dia mengangkat bahu.

"Mereka Harus bekerja keras." Gumamku sinis.

"Aku membayar gaji mereka." Dia mengingatkanku. "Maka Mereka harus bisa mengatur waktuku."

Dia benar. Aku mengangguk dan selesai mengepak tasku lalu sebuah pemikiran terlintas dalam pikiranku. "Astaga, apa kau akan berada di dalam pesawat bersamaku besok?"

Dia mencibir dan kemudian berubah menjadi tertawa terbahak-bahak, "Tidak, Sayang. Kita akan naik jet.

"Apa?"

"Salah satu jet milik Klienku." Dia mengernyit. "Jika aku berada di pesawat bersamamu, kita akan mendapat masalah. Dan aku tidak ingin menyulitkanmu."

Aku mengangguk pelan. "Penggemar?"

"Ya."

Aku menarik napas dalam-dalam dan tatapan kami bertemu. "Aku benci bagian itu." Dia cemberut, dan aku merasa perlu untuk menjelaskan krisis yang kualami.

"Chanyeol. Aku bangga padamu, dan aku tidak pernah mempermasalahkan Fansmu." Aku naik ke tempat tidur, duduk mengangkangi pinggulnya dan melingkarkan lenganku di lehernya. "Aku menyukai musikmu, dan aku bangga bahwa sampai saat ini kau melakukan apa yang kau sukai." Dia mendekapku, tangannya yang besar meluncur naik dan turun di punggungku. "Tapi kepopularitasan membuatku gugup. Ini krisis yang sama yang kualami saat para wartawan menguntitku karena Kris dan Luhan. " Aku mengerutkan kening, mencoba untuk memusatkan pikiranku. "Bahkan ini jauh lebih membuatku gugup."

"Baekhyun, dengar, aku juga tidak ingin kau menjadi incaran mereka. Demi apapun, aku tahu kau tidak ingin mereka menyulitkanmu karena dunia selebritiku. Jika kau menginginkan hubungan kita menjadi rahasia, boleh saja, tapi aku tidak akan berbohong jika mereka bertanya. Karena kau adalah milikku, dan aku hanya ingin mereka tahu." Dia menciumku dan mejalankan jari-jarinya di pipiku.

"Kita tidak perlu melakukan konferensi pers tentang hubungan kita, dan mengeluarkannya menjadi berita yang di muat di majalah."

"Oke." Aku setuju.

"Tapi kita akan difoto di beberapa acara. Pers tentu akan menangkap hal itu. Tunggu beberapa saat, dan itu akan menjadi berita lama. Bagaimana?"

Aku mengangguk, dia benar. Itu adalah bagian yang menyebalkan dari dunia keartisannya. Jika aku tidak mau berurusan dengan status selebritinya, maka aku harus memilih untuk meninggalkannya.

Dan aku pun tidak menginginkannya.

.

.

.

TBC

A/N : BANYAK YANG NANYA KENAPA MASALAHNYA NGGAK MUNCUL-MUNCUL. ALESANNYA, FOKUSNYA EMANG NGGAK TERLALU KE MASALAH YANG BERAT-BERAT, SINONIMNYA FF INI BANYAK SENENG-SENENGNYA KETIMBANG NANGIS-NANGISNYA. INTRIKNYA, YA PASTI ADALAH.. SATU DUA TIGA GITU, TAPI NGGAK MENGURAS EMOSI BANGET. JADI BUAT KEMARIN YANG NUNGGU-NUNGGU DAN MATI BOSEN KARENA SETIAP CHAPTER RATED R MULU, GUE HARAP SIH INI NGGAK NGECEWAIN BANGET. THANKS.