Terima kasih untuk kalian yang sudah bersedia mereview pada chapter sebelumnya ^^
Rose: Nasib Byakuya bakalan segera diketahui kok. Tunggu aja ya ;)
Yukinaia: WCMTP setelah saya update SBB ya. Semoga ga begitu lama =) Saya liat aja nanti mana yang bisa update lebih cepat.
Zanpaku nee: Iyah... Tanggal ultah Shiro agak aneh emang. Saya juga selama ini ngiranya dia ultahnya sama kayak Ichigo, makanya kaget banget pas dikasih tau .3."
Pichachan: Wkwkwkwk... Baguslah kalo dirimu sampai jantungan, sayang~ ;) *plak* Tapi tenang, ga bakalan berakhir sedih kok ini cerita =))
Winter Aoi Sakura: I-Ini update-nya... Gomen ne lama... ;;w;; Chapter susah ini... *ORZ*
ndoek: Ohohoho... Mengenai keadaan Ichigo, monggo temukan sendiri di sini 8) Semoga kamu ga benci saya setelahnya T^T *eh*
Terima kasih juga untuk yang sudah login dulu sebelum mereview: Chibi Dan / Aoi LawLight / Arya Angevin / / astia aoi / Kai Shadowchrive Noisseggra
XOXOXO
CHAPTER 14
Disclaimer: I don't own Bleach. It's Kubo Tite. I used it just for fun...
Beware of OOC-ness and cheesiness...
Enjoy~
XOXOXO
Kota Karakura, Rumah Sakit Karakura
Januari 2011
Ketika ia pertama kali membuka kembali matanya dalam kesadaran yang terisi perlahan, segala yang ia lihat adalah warna putih. Berkabut. Semuanya begitu berbayang, dan pandangannya kesulitan untuk bisa fokus. Ia mengerjapkan matanya perlahan. Sekali. Dua kali. Tiga kali. Lalu warna biru mulai memenuhi pandangannya.
"... I-Ichi?"
Suara yang rasanya begitu ia kenal, memanggil nama yang ia yakini sebagai namanya. Suara berat seorang pria yang serak, dan kental oleh pertanda dari kurangnya istirahat yang diambil.
"Ggh..."
Yeah.
Tidak akan pernah ia lupakan. Hanya pria itu yang tidak akan pernah ia lupakan. Pria yang memiliki nilai penting dalam hidupnya, si pemilik sepasang iris biru dalam bagaikan lautan yang memendam banyak emosi. Ia tahu namanya... yeah. "... Gr-... Guh..." Tapi, kenapa tidak bisa ia ucapkan? Di saat dirinya begitu merindukan nama itu meluncur keluar dari mulutnya, di saat ia ingin terus mengucapkan nama itu sampai suaranya benar-benar habis... atau saat ini sudah habis duluan sebelum ia sempat memanggil namanya kembali?
Pandangannya yang beberapa saat lalu masih buram, kini perlahan mulai menjernih memperjelas wajah yang saat ini tengah memandang lurus ke arahnya. Surai biru yang berantakan dan dibiarkan terjatuh di depan kening, kedua alis yang berkerut, serta sepasang iris biru yang menatapnya sambil menahan air mata yang keras kepala ia tahan. Juga kantung mata yang nampak menghitam, "Ichigo... Kau... Kau sudah sadar..." Kekehan yang bergetar terdengar dari sela-sela bibir yang nampak pucat, dan Ichigo menarik nafas dalam.
Banyak sekali yang ingin ia katakan pada pria di hadapannya ini. Sangat banyak. Tidak terhitung. Tetapi, bahkan namanya saja tidak bisa ia ucapkan, bagaimana bisa ia mengatakan semua yang ada di pikirannya? Ia membuka mulutnya, memaksakan pita suaranya bergetar, beberapa kali ia menelan ludah kering sampai tenggorokannya sakit. Tapi tetap, tidak bisa ia keluarkan nama itu dari mulutnya.
Kenapa?
Apa ia sudah kehilangan kemampuannya untuk berbicara?
"Sshh... Shhh... Ichi..." Belaian lembut yang ia terima di pipinya, akhirnya membuat air matanya jatuh. Kekesalan karena tidak bisa melakukan hal sesuai keinginannya mulai membuatnya frustasi. "Tidak apa, Ichi. Jangan paksakan pita suaramu. Empat bulan kau mengalami koma, tidak mengherankan jika tubuhmu tidak bisa melakukan sesuai perintah otakmu."
Berisik...
Sialan kau, Grimmjow.
Kau tidak tahu bagaimana rasanya tidak bisa mengeluarkan suaramu seberapa pun besarnya kau ingin...!
Kalau saja saat ini ia bisa mengeluarkan suaranya, bisa dipastikan ia tengah mengerang kesal. Karena bisa saja suaranya memang hilang. Tapi, rasa khawatirnya perlahan menghilang ketika merasakan kecupan ringan di dahinya. Ia buka kembali matanya yang sempat ia paksakan untuk terpejam, berpandangan lurus dengan sepasang iris biru yang menatap penuh kelembutan ke arahnya, "Tunggulah. Akan kupanggilkan dokter." Dengan dua tepukan ringan di pipinya, Grimmjow pun melangkah keluar ruangan.
Dan ia mengerjapkan matanya berkali-kali.
Barusan Grimmjow mengecup keningnya? Kenapa?
XOXOXO
Kota Karakura, Rumah Sakit Karakura
Februari 2011
"A... i... u... e... o..."
Satu anggukan kecil, dan pria berkacamata yang merupakan dokter yang bertanggung jawab atas perawatannya itu menulis sesuatu di notes yang dibawanya semenjak tadi. Dari ayahnya, Ichigo tahu kalau nama pria itu adalah Ishida Ryuuken, rekan kerja sang Ayah yang juga seorang dokter. "Baiklah. Dari hasil tesmu, kelihatannya kau sudah mulai bisa berbicara dengan lancar walau masih belum bisa berteriak. Tanganmu pun sudah bisa menggenggam dan mengangkat sesuatu walau terbatas... mulai besok kau sudah diizinkan untuk memulai terapimu, Kurosaki-kun." jelas sang Dokter.
Ichigo hanya mengangguk, dan kemudian menghela nafas lega ketika Ryuuken akhirnya keluar dari ruangan. Entah kenapa, tapi dokter itu membuatnya sangat tegang. Mungkin karena orang itu sama sekali tidak tersenyum dan jelas-jelas menunjukkan rasa dinginnya kepada pasien. Kalau bisa, ingin sih sebenarnya ia meminta Ayahnya itu untuk mengganti dokter yang menjadi penanggung-jawabnya.
Tapi itu tidak mungkin.
"Yo, Ichi. Bagaimana keadaanmu hari ini?"
Mengalihkan kembali perhatiannya ke arah pintu masuk, senyuman lebar merekah di wajah Ichigo ketika melihat Renji serta Shiro berjalan ke arahnya, "Renji! Shiro! Maan... Ryuuken bilang aku bisa memulai terapiku besok." Untuk beberapa saat, Ichigo bertemu pandang dengan seorang pemuda bertubuh mungil dan berwajah seperti perempuan yang berada di sebelah Shiro. Ia menganggukkan kepalanya pelan dan tersenyum ke arah sang pemuda.
Saat itu ia merasa melihat sesuatu berkilat di kedua iris sang pemuda. Sesuatu yang tidak bisa ia ketahui apa.
Mengambil tempat duduk di sisi ranjang Ichigo, Shiro mendengus, "Kau benar-benar tidak berubah, memanggil nama orang lain seenaknya seperti itu." Ia mengeplak ringan kepala Ichigo yang ia ketahui sudah tidak apa-apa jika dibandingkan dengan sesaat setelah benturan keras itu terjadi beberapa bulan lalu.
Menanggapinya, Ichigo hanya mengerutkan dahi dan menjulurkan lidah kekanakan ke arah kembaran Albinonya itu.
Walau tidak mengatakannya pada siapa pun, Shiro merasa kalau kembarannya itu sifatnya agak berubah. Tidak. Bukan berubah, tapi nampak kembali seperti dulu. Seenaknya seolah tidak tahu sopan santun, kekanakkan dengan emosi yang mudah dipancing, dan seingatnya ketika pertama kembali bertemu dengan Ichigo beberapa bulan yang lalu, kerutan dahi yang biasa selalu ada di wajah sang pria bersurai oranye sudah mulai berkurang. Tapi, sekarang skalanya kembali seperti ketika SMA dulu.
Dahi selalu berkerut, kapan pun, dan di mana pun, dalam keadaan apa pun.
Ia hanya bisa berharap kalau hal itu hanya dikarenakan Ichigo baru sadar kembali dari komanya seminggu yang lalu dan masih dalam keadaan linglung.
"I~CHI~GOOO~CHAA~N!"
Sebelum sempat Isshin menghantamkan tubuhnya pada Ichigo yang nampak tidak siap akan serangan mendadak, Shiro dengan mudahnya menyarangkan tepalak kakinya yang bersepatu ke wajah pria dewasa yang ia sebut sebagai ayah itu. "DAD! APA YANG ADA DI PIKIRANMU ITU? ! ICHI BARU SADAR SEMINGGU YANG LALU, TAPI KAU SUDAH MEMULAI KEMBALI 'SURPRISE ATTACK'MU ITU? ! !"
Grimmjow yang semenjak tadi berada di belakang Isshin hanya bisa tercengang menatap apa yang baru saja terjadi. Ini pertama kalinya ia melihat sifat Isshin yang sebenarnya semenjak bertemu sang pria beberapa bulan lalu ketika ia pertama kali membawa Ichigo ke rumah sakit ini. Sebelum-sebelumnya Ichigo memang selalu menolak ketika ia mengatakan ingin mengunjungi keluarganya, sekarang rasanya ia tahu apa yang menjadi alasan kekasihnya itu selalu menolak.
Di saat ketika pengunjung lainnya sedang ribut satu sama lain, Grimmjow mendekati Ichigo yang mengernyitkan dahi ke arah Isshin. Kelihatannya kesal karena tidak bisa membalas tingkah ayahnya itu. "Hei, Ichi. Bagaimana keadaanmu hari ini?" Seperti yang biasanya ia lakukan juga, Grimmjow mengecup bibir Ichigo, dan agak mengerutkan dahi ketika merasa tubuh Ichigo menegang selama beberapa saat sebelum kemudian kembali rileks dan tersenyum ke arahnya.
"Jauh lebih baik. Aku bisa mengangkat gelasku sendiri sekarang." Sebagai buktinya, Ichigo pun kemudian mengangkat gelas yang terletak di meja kecil di sebelah ranjangnya dan menyengir lebar ke arah Grimmjow.
Grimmjow yang melihat tingkah kekanakan Ichigo pun terkekeh dan menunjukkan seringai khasnya pada sang kekasih, "Bagus. Semakin cepat kau sembuh, semakin cepat pula kuberikan kejutan padamu."
"... Kejutan?"
Ekspresi wajah Ichigo yang langsung berubah begitu sumringah ketika mendengar kata 'kejutan', hampir membuat Grimmjow tertawa terbahak-bahak, "Yep. Tidak akan kuberikan clue-nya sebelum kau bisa berjalan sejauh 10 langkah."
"Lama banget." Memasang wajah cemberut, Ichigo kemudian celingukan mencari sesuatu sebelum kemudian menatap ke arah Isshin, "Dad? Ke mana Karin dan Yuzu? Kupikir mereka akan datang hari ini?"
"Mereka sedang ada kerja kelompok yang tidak bisa ditinggalkan." jawab Isshin sembari berusaha melepaskan diri dari kuncian kedua tangan Shiro di lehernya.
"Lalu Mom? Aku tidak pernah melihatnya semenjak aku sadar."
Seluruh orang yang ada di dalam ruangan membeku tanpa terkecuali. Wajah mereka memucat ketika berhadapan dengan wajah Ichigo yang nampak polos, tidak menyadari kesalahan dari apa yang ia ucapkan, "Ichigo... Apa yang... Apa yang kau katakan?" Dalam ketegangannya, Shiro melepaskan cengkeramannya dari Isshin. Jantungnya berdebar kencang merasa apa yang selama ini ia khawatirkan nampaknya menjadi kenyataan. Dan melihat dari ekspresi wajah yang lainnya, kelihatannya mereka pun berpikiran sama.
Ichigo mengerutkan dahi, "Apa maksudmu?"
"Mom... Meninggal 15 tahun yang lalu."
Kali ini giliran Ichigo yang memucat dengan kedua mata yang membelalak, "... Eh?"
XOXOXO
Kota Karakura, Rumah Sakit Karakura
Februari 2011
"Aku hanya bisa mengatakan kalau ingatannya hilang secara random." Ryuuken berbalik di kursinya dan kembali menatap Isshin yang berdiri di seberang meja. Ia menunjukkan gambar invert pada rekannya itu dan menunjuk pada salah satu titik, "Dari hasil CT-Scan sesaat setelah kecelakaan, menunjukkan kalau beberapa bagian otaknya nampak rusak. Tapi, kuyakinkan padamu, para dokter yang mengoperasinya telah berhasil memperbaiki semuanya, walau tidak 100 persen, tapi sudah lebih dari cukup." Menghela nafas, dokter bersurai perak itu membenarkan posisi kacamatanya dan kembali menyandarkan punggungnya pada punggung kursinya, "Jadi, aku tidak begitu kaget mendengar anakmu itu melupakan beberapa kejadian dalam hidupnya. Kau masih harus bersyukur, Isshin, karena ia tidak melupakan semuanya."
Isshin yang berharap tidak ada bukti kecelakaan yang akan 'berbekas' pada Ichigo, hanya bisa menghela nafas. "Yah, kau benar. Yang perlu kita lakukan hanya menceritakan kembali yang ia lupa, dan berharap setelahnya ia akan ingat dengan sendirinya. Begitu bukan?"
Setelah terdiam selama beberapa saat, Ryuuken akhirnya menjawab, "Lakukanlah apa yang menurutmu benar, sebagai seorang Ayah, dan sebagai seorang dokter." Dengan langkah yang nampak lebih berat daripada sebelumnya, Isshin berjalan keluar ruangan Ryuuken. Di luar, ia beradu pandang dengan Luppi yang nampaknya tidak seperti yang lainnya, yang menunggu dengan tenang di ruangan Ichigo. Pemuda itu kemudian kembali menunduk pada posisinya, dan Isshin berjalan mendekatinya.
Isshin yang terkadang 'mengganggu' hubungan via skype antara Ichigo dan Shiro, sudah mengetahui dengan betul siapa Luppi.
"Dia melupakanku kan?"
Sang kepala keluarga Kurosaki itu merasa hatinya miris mendengar suara lirih yang dikeluarkan oleh sang pemuda. Wajahnya yang menunduk, tidak bisa Isshin lihat dengan baik, tapi sudah bisa ia tebak seperti apa ekspresi yang ditunjukkan di sana. Dibandingkan dengan yang lainnya, Ichigo melupakan Luppi secara keseluruhan. Yang bisa Isshin berikan kepada sang pemuda saat ini hanya dekapan hangat yang mungkin akan meringankan rasa sakit di hati sang Antenor.
Dibalik pundaknya yang gemetar, tidak terdengar isakan terlebih tangisan dari Luppi. Ia sudah pasrah, walau terasa menyakitkan. Karena dialah yang menyebabkan Ichigo celaka malam itu, jadi ia seharusnya sudah siap untuk menerima karmanya. "Aku akan pulang ke Amerika." ujarnya setelah beberapa saat membenamkan wajahnya di dada bidang sang Kurosaki tua. Luppi menjauhkan tubuhnya dan menatap lurus ke arah Isshin, "Kau tidak perlu khawatir, Isshin. Aku sudah menemukan seorang terapis yang sangat bagus untuk Ichigo. Akan kusuruh orang itu segera menemuimu."
Tatapan mata yang Luppi lemparkan padanya saat itu tidak terbesit sedikit pun rasa penyesalan di sana, dan hal itu membuat Isshin tersenyum hangat, "Terima kasih, Luppi."
XOXOXO
Kota Karakura
Februari 2011
Kau tahu bagaimana rasanya dilupakan oleh orang yang kau kasihi? Walau tidak seluruhnya, tetapi orang itu pada kenyataannya hanya mengingat saat-saat kalian bertemu pertama kali, bukan saat di mana kalian mulai memadu kasih, memberikan dan mendapatkan perhatian yang lebih daripada sebelum-sebelumnya. Tidak ingat ketika kalian saling mengatakan cinta satu sama lain.
Kata sakit saja tidaklah cukup.
"Aishiteru."
Sampai kapan ia tidak akan mendengar kata itu lagi? Ia rindu, sangat rindu, akan bagaimana wajah itu saat mengatakan kalimat yang membuat hatinya berdebar-debar. Bagaimana senyum itu menghangatkan harinya yang melelahkan. Bagaimana ketika jemari-jemari itu bermain dengan rambutnya, membelai, dan memberikan pijatan yang membuat seluruh tubuhnya gemetar.
"Aishiteru ze, Grimmjow."
Bagaimana suara baritone nan lembut itu memanjakan pendengarannya, memesrakan hati yang semakin lama terasa semakin haus, tidak akan pernah terpuaskan jika tidak mendengar kalimat itu barang sehari saja.
Pernahkah kau merasakan, bagaimana kuatnya perasaanmu terhadap seseorang justru ketika orang itu berada begitu jauh?
Ia merasakannya. Grimmjow merasakannya dengan sangat jelas, hingga rasanya hatinya bisa segera hancur berkeping-keping setiap kali ia membayangkan senyum yang terarah padanya tidak akan lagi sama. Rasanya seperti berjalan mundur, tidak akan pernah bisa meraih kembali ke depan. Hal yang ia inginkan, yang harus ia dapatkan, berada tepat dihadapannya, tetapi mengulurkan tangan saja tidak akan pernah cukup. Ia harus menghancurkan hatinya, dan kemudian memasangnya lagi perlahan... bersama-sama dengan orang yang ia inginkan.
Ia menginginkannya.
Grimmjow menginginkan Ichigo.
Dan Grimmjow sebagai seorang pria yang impulsif, selalu bergerak berdasarkan insting, menyerahkan semuanya terhadap kata hatinya yang akan selalu ia dahulukan, yang akan selalu ia anggap benar. Ia akan memulai semuanya kembali dari awal. Membangun perasaan keduanya secara perlahan namun pasti. Karena selupa apa pun, setidak-ingat apa pun, Ichigo tetaplah Ichigo. Hatinya tetaplah sama, dan akan selalu tersedia ruang untuknya.
Karena ia pun akan selalu menyediakan ruang untuk sang terkasih.
Kali ini biarlah dirinya yang melakukan pengejaran. Akan ia buktikan kalau mereka diciptakan memang untuk bersama.
XOXOXO
Kota Karakura, Rumah Sakit Karakura
Maret 2011
Dengan keringat yang bercucuran dan kedua pandangan terfokus pada pria yang nampak jauh di hadapannya sana, Ichigo yang nafasnya sudah terasa berat mencoba kembali mengangkat kaki kirinya. Rasa sakit yang langsung menjalar, mau tidak mau jadi membuat Ichigo berpegangan pada pegangan besi di sisi kanan tubuhnya. Ia menggertakkan gigi, dan ketika dirasanya kakinya menyerah untuk menopang berat tubuhnya, ia biarkan tubuhnya itu tersungkur ke lantai dengan bunyi berdebam yang terasa tidak mengenakan di telinga.
Suara derap langkah kaki yang mendekatinya, membuatnya membuka kembali kedua matanya dan alisnya berkerut melihat sosok bersurai pink di atasnya, "Kau baik-baik saja, Kurosaki-san?" Szayel Aporro. Ahli terapi yang katanya dianjurkan oleh Luppi itu merupakan pria dengan warna rambut teraneh yang pernah Ichigo lihat. Bahkan menurutnya jauh lebih aneh daripada rambut biru Grimmjow. Pria itu sudah bersama dengannya semenjak kurang lebih 3 minggu yang lalu, dan caranya mengobati dengan tidak jarang memanas-manasi dirinya, mulai mencapai lapisan terakhir urat kesabaran Ichigo.
Tapi, harus dirinya sendiri akui, cara yang Szayel gunakan untuk memompa semangatnya untuk bisa berjalan normal lagi, merupakan cara yang paling efektif. Alasannya tidak lain dan tidak bukan, karena ia memang tidak suka diremehkan, apalagi dianggap tidak mampu.
"Berikan aku waktu istirahat 10 menit, setelah itu kita lanjutkan lagi." jawab Ichigo enteng sambil mengibaskan tangannya.
"Tidak bisa." Szayel mendengus, dan kemudian membantu Ichigo untuk duduk, "Kau sudah melakukan ini semenjak pagi, kurasa sudah cukup untuk hari ini. Kita lanjutkan lagi saja besok." Ia yang bermaksud berdiri untuk mengambilkan kursi roda, terhenti ketika merasakan genggaman erat di lengannya. Ia menghela nafas ketika melihat Ichigo menggunakan ekspresi kekeras-kepalaannya kembali.
"Tiga minggu..." Merasa emosinya mendadak naik, dengan susah payah Ichigo menahannya sehingga bicaranya jadi sambil menggertakkan gigi, "Sudah tiga minggu berlalu tetapi berjalan tujuh langkah saja aku mati-matian. Dengan proses selambat ini, aku tidak mau kalau harus dibuat menunggu lagi!" Tidak mengingat kalau saat ini dirinya berada di tengah-tengah pasien terapi lainnya, Ichigo akhirnya berteriak yang kemudian membuat pasien serta perawat lainnya melihat ke arahnya.
Melemparkan pandangan yang tidak kalah tajamnya kepada sang pria bersurai oranye, Szayel berkata dengan nada suara berat dan penuh keseriusan, "Lalu menjadi benar-benar invalid dan membutuhkan orang lain untuk menopang hidupmu?" Sang terapis sempat merasakan menyesal diharuskan menggunakan kata yang membuat Ichigo tersentak, tapi ia terpaksa mengatakannya atau sang pria akan terus memaksakan diri. Tidak lama, ia rasakan genggaman di tangannya melonggar. "... Akan kuambilkan kursi roda untukmu. Tunggulah di sini." Lalu ia pun berjalan menjauh, meninggalkan Ichigo yang mulai tenggelam dalam pikirannya sendiri.
Lagi.
... Invalid.
Satu kata yang belakangan ini sanggup membuatnya terdiam seribu bahasa. Yang sanggup membuatnya merasakan ketakutan yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya, mendinginkan tulang belulangnya, dan membuatnya membeku di tempat. Kata yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya akan membayangi kehidupannya jika ia tidak hati-hati.
"... Sialan..."
Sudah ingatannya hilang secara random dan ia kesulitan untuk mendapatkannya kembali, lalu sekarang kedua kakinya tidak bisa ia gerakkan seperti dahulu, tapi ia tidak diizinkan untuk kesal barang sekali saja? Mereka yang tidak merasakan apa yang dirinya rasakan tidak akan pernah mengerti perasaannya dengan baik. Ia tahu menyesal saja tidak akan pernah membuat kakinya bisa bergerak dengan sendirinya. Ia juga tahu kalau dirinya harus mencobanya pelan-pelan dan tidak terlalu dipaksakan. Tetapi, ia yang biasanya mendorong seorang pasien yang duduk di kursi roda, terkadang masih saja merasakan kaget kalau sekarang dirinya berada di posisi sang pasien.
Ia yang biasanya menolong, kini menjadi seseorang yang ditolong.
Kalau bicara harga diri, saat ini harga dirinya sudah terluka. Bagaimana pun juga, Kurosaki Ichigo tidak pernah tahan untuk menjadi orang yang tidak berdaya. Ia harus segera memperbaiki kerusakan pada tubuhnya, dan kembali menjalani kehidupannya seperti dulu.
Kembali menjadi seorang dokter.
Kembali ke sisi Grimmjow.
... Grimmjow...
Bagaimana bisa ia melupakan kenangannya bersama pria itu? Kenangan yang seharusnya tidak pernah ia lupakan. Yang seharusnya tidak ingin pernah ia lupakan. Sekarang tandas. Entah bisa kembali atau tidak.
"Ichi?"
Ichigo menengadahkan kepalanya, membiarkan sepasang iris coklat cinnamonnya beradu pandang dengan dua azure yang menatapnya dengan penuh kasih sayang. Berbeda dengan ketika berhadapan dengan orang lain, kedua iris azure itu berubah menjadi semakin gelap ketika bersama dengan dirinya. Menampilkan lebih banyak emosi yang biasanya disembunyikan terhadap orang lain. Memberikan sebuah nilai spesial pada kehadirannya. Membuatnya seolah menjadi seseorang yang berharga, dan dirinya sangat bangga menyadari itu.
Melepaskan genggamannya pada kedua pegangan kursi roda, Grimmjow menjongkokkan dirinya di sebelah Ichigo. Kedua tangan besar dan kasarnya permukaan kulit seorang lelaki, menyentuh lembut kedua pipi Ichigo, dan dengan segera ia merasa tubuhnya menghangat. Ia pejamkan kedua matanya, membiarkan indera perasanya lebih tajam merasakan kehangatan yang diberikan oleh sang pemilik tangan. "Kau terlalu banyak berpikir." Grimmjow menyatakan pendapatnya apa adanya.
Nada bicara yang begitu lembut, serta pengertian penuh yang diberikan padanya, semakin membuat Ichigo merasa bersalah. "Maafkan aku, Grimm..." Suaranya yang nampak tercekat karena menahan emosinya, membuat kedua tangan di pipinya menyentuh dengan semakin erat.
"Ichi..."
"Padahal aku pernah mengatakan hanya kamulah orang yang tidak akan pernah kulupakan, di mana saat-saat kita bersama adalah hal yang paling sulit kulupakan... Tapi, pada kenyataannya aku lupa. Aku... Aku tidak tahu apa yang harus kulakan untuk menebusnya... Aku sudah mengingkari kata-kataku sendiri... Aku... Kami-sama... Grimm... Maafkan aku..." Tidak bisa menahannya lagi, ketika kedua matanya terbuka, pada saat yang bersamaan pula air mata menetes dari tepian mata Ichigo, membasahi tangan yang tengah menggenggam wajahnya.
Penyesalan akan terus ada di hatinya, apa pun yang Grimmjow katakan. Apa pun yang Grimmjow lakukan. Karena perbuatannya ini, pria bersurai biru itu jadi menderita, menyakiti perasaannya sendiri.
Rengutan yang nampak di wajah Grimmjow membuat Ichigo mengalihkan perhatiannya, "Ichi... Lihat aku, Ichigo." Grimmjow menggerakkan kedua tangannya yang menggenggam wajah Ichigo agar bisa bertatapan langsung dengan kedua mata sang kekasih yang tengah basah. Puas ketika akhirnya Ichigo melihat ke arahnya, ia melanjutkan, "Aku mungkin tidak pernah mengatakan secara langsung, tapi hanya kaulah orang yang bisa menyakitiku, dan hanya kaulah orang yang bisa memberikan kebahagiaan yang sebenarnya padaku. Karena itu, Ichi, kumohon jangan menyerah. Aku tidak pernah ingin melepaskanmu, begitu pula aku ingin kau pun merasakan hal yang sama. Karena itu, kita bisa memulai semuanya kembali dari awal bersama-sama, yeah? Berikan dirimu sendiri kesempatan yang kedua, dan kesempatan bagiku untuk mencintaimu kembali, ok?"
Ketulusan serta keyakinan akan perasaannya sendiri yang terpancar dari kedua iris sebiru dan sebening azure milik Grimmjow, membuat Ichigo tidak sanggup untuk mengatakan 'tidak'. Grimmjow bersedia berganti peran dengan dirinya, menjadi seseorang yang 'menunggu'. Apakah itu juga merupakan arti bahwa apa yang terjadi pada dirinya sekarang ini merupakan penyeimbang antara dirinya dan Grimmjow? Agar tidak ada sedikit pun ganjalan di antara keduanya, dan membuat mereka semakin mantap menunjukkan perasaan mereka?
"... Iya, Grimm... Iya..." Ichigo menelengkan kepalanya ke samping, memberikan kecupan ringan di telapak tangan Grimmjow.
Lalu kemudian ia kembalikan lagi arah pandangnya kepada wajah sang kekasih yang kini menyengir lebar. Kepuasan yang tertera di sana pun pada akhirnya membuat Ichigo membalas cengiran itu. Aroma pasir pantai serta hint dari mint yang menyerang penciumannya, tanpa disadari Ichigo pun memajukan kepalanya, perlahan kembali menutup kedua kelopak matanya saat merasakan nafas Grimmjow mengenai sebagian wajahnya. Lidah sang pria yang mengintip di antara bibir yang terbuka, sudah siap ia sambut sampai...
"Uhuk."
Secara refleks mereka langsung menjauhkan diri satu sama lain, seolah baru menyadari di mana mereka sebenarnya berada saat ini. Dengan wajah yang merah ranum, Ichigo menoleh ke arah orang yang menginterupsi, dan terbelalak ketika melihat seorang pria bersurai hitam panjang dengan wajah serius berdiri tidak jauh darinya.
"By-Byakuya..."
Terkadang Ichigo merasa aneh. Di antara beberapa ingatannya yang terlupakan, hanya mengenai pewaris Kuchiki yang pernah menjadi kekasihnya inilah iangatannya sangat lengkap. Tidak ada sedikit pun yang ia lupakan mengenai Byakuya. Padahal segala hal yang berhubungan dengan pria inilah yang ingin ia lupakan.
Ironis bukan?
Geraman yang berasal dari Grimmjow membawa kembali Ichigo dari pikirannya sendiri. "Grimm—"
"Grimm-honey~!"
Suara melengking seorang wanita langsung mengalihkan perhatian semua orang yang ada pada satu sudut. Tapi, sebelum sempat ada seorang pun yang bergerak, sekelebat warna kuning lewat di hadapan Ichigo. Dan di detik berikutnya, yang ia dengar adalah suara berdebam yang disertai dengan "Oomph!", lalu kembali sorakan suara tunggal seorang wanita, "Grimm-honey, I miss you!" Ichigo hanya bisa terbelalak menatap seorang wanita yang mendadak menerjang Grimmjow dan saat ini menjatuhkan kekasihnya itu hingga tersungkur ke lantai. Dan kelihatannya yang bersangkutan pun nampak sangat kaget, hingga tidak berkutik dan hanya melotot ke arah langit-langit ruangan.
"Corinna, sebaiknya kau segera bangun atau kau akan menghancurkan paru-parunya." suara seorang pria yang terdengar sangat berat terdengar berikutnya, dan Ichigo merasa mulutnya tidak akan pernah menutup ketika melihat dengan jelas sosok dari pria yang berbicara barusan.
Di sana, berdiri kurang lebih 3 langkah darinya, dan juga mendekat ke arahnya, adalah Grimmjow kedua. Hanya saja Grimmjow yang ini memiliki sedikit kerutan di wajahnya sebagai tanda penuaan, rambut birunya disisir dengan sangat rapi ke belakang tanpa meninggalkan sehelai pun rambut yang jatuh di depan kening, dan memiliki warna iris keabuan. Tangan yang sama besarnya dengan tangan Grimmjow, terulur ke arahnya, "Kau pasti Ichigo. Ayo, kubantu kau duduk di kursimu." Suara yang begitu ramah dan senyum yang begitu lembut membuat sekujur tubuh Ichigo terasa begitu tidak bertenaga.
"MOM? DAD? WHAT THE FUCK ARE YOU DOING IN HERE? ! !"
Teriakan Grimmjow barusan kali ini sanggup membuat Ichigo mati lemas.
Ayah dan... Ibu katanya...? Haha. Bercanda...
.
TBC
.
Bagi kalian yang mungkin bingung dengan apa saja hal yang dilupakan oleh Ichigo, saya perjelas lagi di sini. Berikut ini merupakan daftar hal yang dilupakan oleh Ichigo:
1. Kematian sang Ibu, jadi Ichigo menganggap Ibunya itu masih hidup. Tapi, sekarang ia sudah diberi tahu lagi.
2. Luppi. Secara keseluruhan. Ketika pertama kali bertemu, dan mengenai pribadi Luppi. Ichigo cuma ingat Luppi sering kali ada bersama Shiro dan juga dia, cuma nggak bisa ingat siapa itu.
3. Masa-masa pacaran Ichigo dengan Grimmjow.
4. Semester akhir kuliah dan saat ketika lulus. Tapi, Ichigo ingat beberapa hal ketika dia udah jadi dokter.
5. Kedatangan Shiro kembali ke Jepang.
6. Kepindahan Renji bekerja di kebun binatang, dan pacar Renji, Ulquiorra.
7. Karin dan Yuzu ketika masih anak-anak. Ichigo cuma ingat mengenai keduanya sebagai adik yang dia sayang, dan sudah SMA sekarang.
8. Kepergian Rukia ke luar negeri. Ichigo ingatnya Rukia selalu di Jepang dan sekarang mereka sudah baikan lagi.
9. Peristiwa pengguguran kandungan Cirucci.
Semua hal yang Ichigo lupakan itu sudah diingatkan kembali pada Ichigo dalam rentang waktu 3 minggu in story, walau ngga secara lengkap dan hanya garis besar yang orang lain ketahui saja.
Akhir kata, review?
