Terinspirasi dari Voyeur by Nelliel-Ni dan Liberated by Shante Diamond.
(Both were KibaIno stories XD)
.
Disclaimer : I only own the story
.
Love and Hatred
.
Warning! : Mainstream Idea
.
.
.
Chapter 13
Osaka
Rabenda Boutique
Kaki jenjangnya yang dilapis material kulit sepatu, melangkah anggun. Menapaki tiap kotak ubin yang menjadi alas bagi ruangan ini. Segaris senyuman semu menghiasi bibir mungilnya yang bercat merah menyala. Membagikan suatu ungkapan terimakasih secara tersirat, kepada para pelanggan yang telah datang sepagi ini. Beberapa dari mereka bahkan rela untuk sekedar menyela waktu demi bisa menjabat tangan sang pemilik butik. Bukan rahasia lagi, meskipun Hyuuga Hinata sudah hengkang dari dunia mode internasional, namanya masih melekat sebagai seorang seniman dengan maha karya yang luar biasa apik.
"Hinata-san."
Wanita itu tersenyum kaku. Bukannya enggan menampakkan ketulusan, tetapi entah mengapa otot bibirnya selalu mendadak keras saat dituntut untuk mengulas senyum. Jadi hanya sebuah anggukan pelan yang dia berikan untuk menutupi kekakuannya.
Tepakan pelan sepatu kulit mulai terdengar menapaki tangga. Lajur demi lajur dilalui dengan perlahan. Sejenak terhenti di depan pintu ruangan untuk merapikan pakaiannya. Kemeja putih lengan panjang dengan rumbai kain yang terbentuk dari leher hingga dada. Berpadu padan dengan rok span hitam. Lembaran material yang menempel begitu pas hingga membentuk lekuk tubuhnya.
Hinata tersenyum.
Sekali. Dua kali. Tiga kali.
Tapi tak satupun gerak tarikan bibir itu menaja sebuah senyuman tulus.
"Huft..."
Desahan nafasnya kembali terdengar. Namun Hinata tak acuh. Tangannya terulur meraih handle pintu. Memutarnya dan mendorong pintu itu dengan perlahan.
Netra pucatnya membulat kala mendapati ada sesuatu yang berbeda dengan ruang kerjanya.
.
"Hufft..."
Pagi ini entah sudah keberapa kalinya wanita itu mendesah tertahan. Kesal yang beradu dengan penat menyatu begitu saja dalam dirinya. Seandainya saat ini dia sedang berada di kamar, sudah bisa dipastikan wanita itu akan mengacak-acak helaian indigonya sebagai efek frustrasi luar biasa. Tapi tentu saja dia tidak mungkin melakukan hal tersebut. Bukan hanya sebab dia sedang berada di ruang kerjanya, tetapi ada hal lain yang menjadi alasan. Yaitu sesosok makhluk yang tengah terbuai elok di alam mimpi, yang tanpa malu atau meragu mendengkur keras di atas sofa ruang kerjanya. Berteman liur yang mengering hingga mengotori sofa tersebut.
Sungguh pria itu tidak memiliki sopan santun. Beruntung dia bukan anggota klan Hyuuga, karena jika tidak mungkin pria itu sudah diusir keluar dari mansion atau bahkan dicoret dari kartu keanggotaan.
Hinata sedikit menyesal, bagaimana mungkin dia bisa ceroboh meninggalkan ruang kerja dalam keadaan tidak terkunci. Dan penyesalan itu semakin menjadi tatkala wanita beriris amethyst itu megetahui sebuah fakta. Bahwa sang asisten lah yang dengan seenaknya mempersilahkan pria itu untuk memasuki wilayah pribadinya. Memijit pelan pelipisnya yang terasa sakit, Hinata perlahan memejamkan mata. Mengurung penuh netra tanpa pupil itu dalam kelam tanpa cahaya.
"Ah... Hinata..."
Set!
Dengan cepat kelopak matanya terangkat, memperlihatkan mata pucatnya yang membelalak lebar. Jauh lebih merentang dari saat awal dirinya menemukan keberadaan pria ini. Berkilat penuh rasa penasaran, tubuh mungil itu berdiri. Langkahnya tergopoh saat mendekati pria pirang itu. Tidak ada intensi apapun, hanya sebaris pertanyaan yang berkelebat begitu saja di dalam kepalanya. Apa gerangan yang tengah terjadi padanya dalam mimpi pria pirang itu?
Oksigen terpompa dengan tekanan luar biasa tinggi. Mengalir dan terpenetrasi di setiap organ tubuh. Tapi satu impak nyata adalah dentuman kencang yang repetitif di rongga dadanya. Wajah seputih porselen itu merona merah. Sebagian terliput amarah dan sisanya berlapis malu. Terlebih saat jeda semakin menipis, ruang udara semakin terkikis. Wanita itu berjongkok menghadapkan wajahnya ke arah sang pria.
Wajah kecokelatan pria itu merepresentasikan suatu keadaan yang biasa disebut bahagia. Hanya saja ada pendar kemerahan di belahan pipi tirus serta peluh menetes dari puncak dahinya. Perkara yang mengundang sejuta tanya di pikiran Hinata.
"Hinata... Mmhh..."
Oh, rasanya Hinata ingin mati saja. Gemetar yang menjalar di seluruh permukaan tubuh mencipta lunglai hingga menyebabkan kelumpuhan mendadak pada kedua tungkainya. Terdiam dengan kaku.
Sel-sel tubuhnya dipaksa bekerja, menciptakan energi kalor yang terus menggelora. Lihatlah pipinya yang semakin memerah padam, saat manik pucatnya menangkap sebuah pemandangan yang membuat bulu kuduknya meremang. Bibir tipis sang pria yang manyun membentuk huruf O tak beraturan.
Selanjutnya hanya gelebak tubuh mungil Hinata yang memerikan suara. Plus erangan tertahan setelahnya. Karena sang pemilik kini tengah menahan rasa sakit luar biasa yang mendera tulang ekornya.
"Auch..."
Kepiawaian dalam mengendalikan diri sangat diperlukan dalam hal ini. Sungguh suatu keberuntungan Hinata dilahirkan dan dibesarkan oleh Hyuuga. Karena kemampuan tersebut cukup dia kuasai dengan baik.
Namun sayang, reflek yang tidak terlalu kentara itu cukup menggelitik telinga si pria yang sensitif. Mata pria itu terbuka. Sedikit mengerjap pada awalnya bertujuan untuk menyesuaikan akomodasi mata dengan pencahayaan yang mendadak diterima. Jeda berikutnya kesadaran penuh menguasai pria pirang itu, membuatnya terduduk tegak.
Hening.
Aroma kecanggungan menebar ke seantero ruangan.
Pria itu terdiam membisu, memetakan raut muka bingung dan tatapan heran. Iris safirnya mengarah tepat kepada iris amethyst sang wanita. Yang kini tenggelam dalam lengang yang sama. Duduk dengan kedua lutut dilipat di depan, dan kedua tangan menyangga berat tubuhnya di belakang. Semburat merah muda perlahan terpenetrasi di wajah ayunya. Menyiratkan sebuah embaran tentang ras malu yang mendera.
"Hinata?"
Cukup tiga suku kata yang mampu menyadarkan keduanya dari euforia sesaat. Hinata tergagap, melompat dengan cepat. Rupanya takdir seolah mempermainkannya, sisi telapak kakinya rapuh membuat tulang mata kaki menggantikan tugasnya untuk menapak. Hinata keseleo, tubuhnya yang tidak sigap memberikan tanggapan, oleng ke kanan. Nyaris membentur lantai jika saja tidak ada tangan kekar yang menangkapnya.
"Berhati-hatilah."
Kembali senyap kecanggungan menunjukkan dominansinya. Ibarat dorama yang menyajikan cerita cinta sepasang remaja, posisi keduanya yang terdiam benar-benar ambigu. Antara keengganan untuk mengurai atau efek sebuah keterkejutan yang menciptakan stagnansi.
"Ehem..."
Entah merupakan sebuah keberuntungan atau justru kemalangan. Deheman pelan di ambang pintu memberikan efek sentakan yang berhasil memisahkan keduanya.
Hinata menatap penuh tanya pada seorang wanita yang baru saja memasuki ruang pribadinya. Hinata mengangguk seakan mafhum. Jika ditilik dari material pakaiannya yang tampak begitu nyaman, terjahit begitu rapi dan elegan, Hinata langsung bisa menebak. Wanita ini berasal dari kelas atas, meski tidak sepenuhnya mengenal lebih jauh.
"Tsk!"
Decakan pelan dari bibir Naruto bagaikan tusukan jarum yang menembus ubun-ubun Hinata. Pria ini sungguh tidak sopan, jikapun dia tidak tahu tentang derajat wanita ini, setidaknya hargailah pelanggan yang sudah merelakan waktu untuk mengunjungi butiknya.
"Aaa, jadi kau Hyuuga Hinata?"
Hinata mengangguk. Rasanya sedikit kesal kala mendengar nada mengejek yang mendayu dari bibir wanita itu. Namun, tak pernah sedikitpun Hinata tanggalkan dekrit tak tertulis yang berlaku bagi keturunan Hyuuga.
"Hai. Saya Hyuuga Hinata. Mari silakan duduk."
Wanita itu terkekeh pelan, matanya mengerling jenaka pada pria yang berdiri di sampingnya. Apa-apaan ini? Apa dia semacam istri pejabat yang kekurangan belaian dan bermaksud mencari pengganti sementara? Karena dilihat dari sisi manapun, wanita cantik itu terlihat cukup berumur.
Heck!
Jika memang itu terjadi, pria di sampingnya ini memang paling cocok. Tanpa sadar bibirnya menelurkan dengusan kecil saat pikiran itu melintas dalam otaknya.
"Jangan terlalu formal begitu Hyuuga-san. Ah aku punya maksud tertentu mengapa aku mengunjungimu. Tetapi sebelum aku menyampaikannya, izinkan aku untuk meminta maaf karena telah berlaku tidak sopan dengan masuk ke ruang pribadimu tanpa izin. Terlebih lagi saat aku melihat ternyata kau sedang sibuk."
Hinata merasakan pipinya kembali memanas, sudah bisa dipastikan jika sepuh merah mulai merambati pipi gembilnya. Yang membuatnya semakin heran adalah, mengapa pria yang sedang berdiri di sampingnya ini justru terlihat aneh? Seperti malu dan marah dalam saat yang bersamaan.
"Tidak masalah, Nyonya-"
"Kushina, kau boleh memanggilku begitu."
"Aaa... Tetapi rasanya tidak sopan jika saya langsung memanggil nama kecil Anda."
Bukannya bermaksud menolak, tetapi sejak kecil Hinata memang telah diajarkan sopan santun. Utamanya terhadap orang yang baru saja dikenalnya.
Hinata duduk di sebelah wanita itu. Senyum kaku kembali terpatri di wajahnya. Matanya sedikit mengamati interaksi aneh yang terjadi antara dua orang di hadapannya.
"Tidak masalah, tapi jika kau memaksa, kau bisa memanggilku Namikaze."
"A-apa?"
Hinata terserang shock untuk yang kesekian kalinya. Aktualita yang baru saja tertangkap gendang telinganya membuatnya terpaku dan sedikit tidak nyaman.
Hinata tahu siapa itu Namikaze. Semua orang tahu siapa itu Namikaze. Karena salah satu dari keturunan klan itu menduduki kursi parlemen di pemerintahan Jepang. Tetapi satu hal yang menciptakan gurat gelisah di wajah wanita indigo itu. Fakta bahwa dirinya sedang berhadapan dengan dua orang Namikaze. Hinata mendesah pelan, menyembunyikan rutukan yang nyaris meluncur tanpa sadar. Satu saja Namikaze sudah cukup membuat kepalanya pening, mengapa Kami-sama malah menyuguhkan Namikaze yang lain?
"Apa kau sedang memikirkan sesuatu, Hyuuga-san?"
Tersentak Hinata mengeluarkan refleks berupa gelengan kuat. Bibirnya menorehkan senyum terpaksa.
"Iee... Jadi apa yang bisa saya lakukan untuk Anda, Namikaze-sama?"
Detik demi detik jarum jam melaju. Menghabiskan separuh hari bagi kedua wanita tersebut untuk berbincang ringan. Ya begitulah wanita, sedikit itikad yang bisa berkembang menjadi ratusan bahkan ribuan terma. Keduanya terlalu larut dalam cengkerama dan canda, tidak sedikitpun mengacuhkan sesosok pria dewasa yang mendadak kehilangan kedewasaannya.
"Sudah selesai?"
Naruto bertanya malas, saat melihat dua wanita itu berdiri.
"Sudah, jadi kau masih tetap akan di sini atau mengantar Kaa-san pulang?"
Naruto mendecak sebal. Kalimat yang baru saja diucapkan sang Ibu itu memang terdengar seperti sebuah pertanyaan, lengkap dengan intonasi naik di bagian akhir. Tetapi bagi orang yang sudah mengenal cukup lama, mereka akan tahu bahwa kalimat tersebut adalah kalimat perintah tanpa nada intimidasi.
Naruto berdiri dengan perasaan sebal memenuhi rongga kepalanya. Kemudian berjalan cepat keluar dari ruang kerja Hinata, setelah mengucapkan sesuatu.
"Aku akan datang lagi, Hinata. Jangan kau pikir untuk memanfaatkan kedatangan Ibuku dan mengusirku."
Menuai kerutan di dahi Hinata dan Kushina.
Selepas pria pirang itu pergi, Kushina sedikit memperlambat langkah kakinya. Meragu dan bertanya.
"Jadi benar apa yang dikatakan Karin?"
"Huh?"
"Apa benar Hinata adalah wanita yang berhasil membuat Naruto berubah?"
"Huh?"
Kushina tersenyum, tetapi bahunya sedikit bergetar saat menahan gelombang tawa yang nyaris membobol pertahanannya. Mata kelamnya berbinar penuh kejenakaan, mengarah lurus pada bola amethyst Hinata.
"Sepertinya bocah rubah itu benar-benar tergila-gila padamu."
Detik yang sama dengan saat ucapan Kushina mendarat di telinganya, detik itu pula Hinata mengerti kemana arah pembicaraan Kushina. Sorot mata dingin kembali mendominasi netranya.
"Saya mohon dengan sangat, hubungan kerjasama ini tidak tercampuri oleh tendensi apapun."
Awalnya Kushina merasa bingung, tetapi kemudian mengangguk dan tersenyum. Wanita paruh baya itu cukup mengerti ketegangan yang sedang terjadi antara rekan bisnisnya dengan sang anak.
"Hm. Tentu saja. Aku tipe orang yang selalu profesional saat berbisnis. Kau tenang saja, Hyuuga-san."
.
.
.
"Jadi, apa ada yang lucu?"
Naruto menatap lurus pada jalanan di hadapannya. Namun sedikit tergelitik oleh suara tawa tertahan yang teremisi dari bibir sang Ibu.
"Entahlah. Aku hanya ingin tertawa melihat seorang player kelas eksklusif mendadak malu-malu kucing seperti anak kecil yang meminta permen."
"Tsk!"
"Hahahahahaha..."
"Diamlah Kaa-san!"
"Hahahaha... Baiklah. Tapi setelah kau menjawab pertanyaan Kaa-san."
Naruto mendengus kasar. Rasanya ada energi negatif yang merambati tulang belakangnya. Sesuatu yang acap disebut sebagai firasat buruk.
"Dia wanita yang dimaksudkan Karin?"
Umpatan demi umpatan dia teriakkan di dalam hati. Tertuju khusus kepada sepupunya.
"Aku tidak tahu apa yang Kaa-san bicarakan."
Kushina merotasikan manik matanya. Sedikit merasa menyesal karena telah melahirkan manusia bodoh yang kini tengah duduk di balik kemudi.
"Kau memilih menjawab pertanyaan Kaa-san secara baik-baik atau Kaa-san harus menggunakan cara kasar?"
Glekh
Kepanikan mendadak menderanya. Ancaman apapun yang keluar dari mulut sang Ibu, sudah bisa dipastikan bukan sekedar ancaman biasa. Semua tahu jika Uzumaki tidak pernah bermain-main dengan ucapannya, terlebih Kushina.
"Aaaa... Baiklah. Apapun yang Kaa-san mau."
"Hm... Jadi?"
Naruto mengangguk pelan sebelum mengalihkan pandangan ke jendela samping. Tangan kanannya yang bebas menutup separuh wajahnya yang sudah memerah. Ya Tuhan, ada orang dewasa berperilaku kekanakan.
"Hahahahaha... Kau lucu sekali, bocah. Jadi apa yang akan kau lakukan untuk mendapatkannya? Jelas sekali terlihat bahwa Hinata teramat membencimu."
"Itulah yang sedang kuperjuangkan saat ini, Kaa-san."
Kushina mengangguk paham. Matanya memendarkan binar kebahagiaan saat menerima dua buah fakta yang cukup menyenangkan hatinya. Sang anak yang sudah meninggalkan dunia kelamnya, serta suatu zat kecil yang terdengar lucu, cucu.
Ya wanita itu terlalu lelah menanti kehadiran seorang penerus. Akibat perilaku anak yang kunjung dewasa. Terkadang Kushina merasa kesal, entah sifat genetika dari sisi siapa yang menurun pada bocah rubah itu. Karena setahunya dirinya dan Minato sama sekali tidak memiliki sifat bedebah macam itu. Ataukah mungkin sebab pergaulan yang memang sejak awal selalu luput dari pengawasannya?
"Kudengar tadi Kaa-san membangun relasi bisnis dengannya, bukan? Bagaimana kalau Kaa-san juga membantuku?"
"Tidak. Kau harus berusaha sendiri, big baby. Bukankah selama ini kau selalu memegang teguh prinsip itu? Bahwa apapun urusanmu, jangan pernah dikaitkan dengan urusan orangtuamu. Jadi sekarang Kaa-san hanya akan melihat sekeras apa perjuanganmu untuk mendapatkannya."
Naruto menghempaskan tubuhnya di sandaran kursi kemudi. Matanya sejenak memejam sebelum kembali fokus pada jalan raya. Pikirannya berkecamuk, harus usaha apalagi yang dia lakukan demi bisa menghancurkan ego wanita itu.
"Sepertinya dia terlalu sakit hati denganmu, entah Kaa-san tidak mengerti sebabnya. Jadi jalan yang kau tempuh nanti mungkin sedikit lebih terjal."
Naruto terdiam. Tenggelam dalam riuh pikir yang membebani kepalanya. Namun, dalam hati dirinya mengucapkan kata setuju atas ucapan sang Ibu.
"Dan mungkin akan semakin terjal-"
"Huh?"
Mau tidak mau pria pirang itu menolehkan kepala, menatap penuh tanya kepada sang Ibunda. Menuai desahan yang meluncur pelan di sudut bibir wanita Namikaze itu.
"Karena dia seorang Hyuuga."
.
.
.
TBC
.
.
.
Huwaaa... Maafkan saya! Maafkan saya! Saya baru bisa update lagi, dan sepertinya chapter flashbackbelum bisa dipublish. Nanti setelah up, teman-teman akan mengerti mengapa chapter itu belum bisa diterbitkan hehehe.
Mohon kesabarannya untuk menunggu.
Nai minta pendapat ya, Minna-san. Awalnya Nai mau menambahkan konflik lagi, tetapi yang ditakutkan akan terlalu panjang hingga berchapter-chapter mengingat kemampuan menulis Nai yang tidak bisa mencapai 3000 kata per chapternya. Jadi apakah lebih baik yang sekarang ini saja?
Baru kali ini Nai galau saat bikin ff :v
Um... Mungkin itu saja dulu, silakan tuangkan di kolom review atau PM.
Arigato ^^
