CHAPTER 14
"Suho menginginkan Yixing mati karena rasa kekecewaannya, tidak ada kesedihan sama sekali ketika aku mengatakan bahwa Yixing telah benar-benar mati. Aku tahu kau pasti akan membenciku tapi aku tahu kau pasti akan melakukan hal yang sama bila kau berada diposisiku. Aku tahu bagaimana Yixing, bagaimanapaun aku telah lama hidup untuk mengawalnya. Bagaimana kesedihannya, perasaannya, aku percaya padanya. Ia terlalu baik untuk mendapatkan semua kebencinan ini. Suho harus tahu ini."
"Tapi kau tidak seharusnya membunuhnya." Komenar Kai lirih.
"Aku pantas untuk dibenci." Balas Sehun pelan.
'DARRRR!' Dan suara tembakkan itu tiba-tiba langsung menggema di seluruh ruangan Ballroom.
Untuk beberapa saat suasana ballroom mendadak hening. Tak ada yang bersuara ataupun bergerak. Bahkan ketika matanya kini beralih menatap Suho yang jauh berada dibelakang Sehun. Ia merasakan sebuah ketakutan baru yang menyelubungi perasaannya. Ia bisa melihat, tatapan mata yang tajam itu seolah berapi-api, dengan senjata api dalam genggamannya yang baru saja ia gunakan membuatnya terlihat lebih menakutkan dari biasanya. Bukan Suho yang ia kenal—ia seperti penggambaran sempurna mendiang Ayahnya.
Dengan tatapan ragu kini ia menatap Sehun didepannya yang tengah meringis dengan telapak tangan yang berada didadanya. Hingga akhirnya ia bisa melihat setitik noda yang mulai merembes dari pakaian yang Sehun gunakan, Kai sadar, ia dalam keadaan tidak baik.
'BUK'
Kai yang kebetulan berada dihadapan Sehun dengan sigap menangkap tubuh sahabatnya agar tak jatuh terjelembab kebawah. Ia bisa merasakan nafas Sehun yang mulai tersenggal dan noda darah yang mulai merembes kian banyak dari pakaiannya bahkan kini telah mengotori lengannya.
Entah kenapa kakinya kini terasa lemas. Bahkan kini Kai jatuh berlutut menahan tubuh Sehun yang ada dalam dekapannya. Kyungsoo yang melihat kejadian itu masih nampak shock tapi ia masih bisa mengendalikan keadaannya terbukti, kini Kyungsoo telah berada disamping Kai dan mencoba membalikkan tubuh Sehun untuk berada di posisi yang lebih baik.
Dengan cepat Kyungsoo menarik tubuh Sehun untuk berbaring di lantai. Menjauhkan tubuhnya dari pangkuan Kai yang kini masih terdiam dengan tatapan terkejut melihat apa yang telah terjadi. Kyungsooo panik, ia bisa melihat peluru yang tadi ditembakkan kepada Sehun dari punggung menembus dadanya. Dan kemungkinan peluru itu menembus kearah jantungnya. Ia melirik kearah Kai untuk mencari pertolongan namun kemungkinannya sangat kecil ketika ia ingat berada dimana mereka sekarang ditambah tatapan Kai yang kian mengosong dengan mata yang menatap lemah darah yang mengotori tangannya.
"Kai, Sehun.." Bisik Kyungsoo mengingatkan.
Kai melirik dan menatap kosong Kyungsoo yang menatapnya dalam. Lalu kini tatapannya beralih kepada Sehun. Matanya yang terpejam dengan napas yang mulai tercekat. Bahkan ia bisa melihat ringisan kecil yang tergambar jelas di wajah Sehun.
"Maaf.." Desahnya kecil membuat Kai hanya bisa diam dengan tatapan nanar.
"Maaf-kan aku.. A-aku terlalu banyak melakukan kesalahan." Ucapnya masih mencoba berbicara.
Kyungsoo mencoba menahan tangisnya ketika melihat keadaan Sehun. Entah kenapa dorongan hatinya ingin sekali membawa pria itu pergi menuju kerumah sakit terdekat untuk menyelamatkannya tetapi sepertinya semua itu mustahil. Ia ingin sekali berteriak meminta pertolongan tetepi kepada siapa? Bagaimanapun ia adalah seorang perawat, ia ingin sekali melihat siapapun hidup dengan sehat. Tidak seperti ini.
Ia menatap kembali Kai. Kini ia mulai sadar dengan konsdisi yang terjadi pada Sehun saat ini. Ia menggenggam tangan sahabatnya itu erat-erat mencoba memberinya sebuah kekuatan.
"Bodoh, apa yang kau katakan? Kau sahabatku." Ucapnya, dan terdengar sekali suaranya bergetar menahan tangis.
Sehun menyeringai kecil lalu terbatuk pelan ketika ia semakin sulit bernafas. "Sobat.." Desahnya pelan. Ia membuka matanya dan menatap Kai yang kini begitu sangat dekat dengan dirinya. Ia menggapai lebih erat tangan Kai dan mencoba untuk berbicara meski itu sulit. "ja..ga kelu..arga..ku sampai-kan pa..danya bahwa a-ku mencintai me..reka.. Maaf." Bisiknya pelan.
Mendengar ucapan itu Kai langsung mengguncang tubuh Sehun tak terima. "Sehun, bodoh.. aku percaya padamu. Hei.. omong kosong apa yang kau katakan!" teriaknya agar Sehun kembali membuka mata.
Namun terlambat. Mata itu kini telah terpejam dalam sebuah kedamaian. Bahkan Kai masih mencoba mengguncangkan tubuh Sehun untuk membuat matanya terbuka dan menarik semua perkataannya. Namun apa yang dilakukkannya sia-sia.
Kyungsoo yang menatap itu hanya bisa menangis melihat apa yang Kai lakukan saat ini. Ia tahu, Kai pasti tengah terpukul saat ini. Tentu hantaman keras yang menyadari fakta bahwa Sehun adalah korbannya. Dan Suho, ia adalah penjahat sesungguhnya.
"Dia sudah terlalu banyak bicara." Ucap seseorang yang jauh dari posisi Kai dan Kyungsoo saat ini. Dan ketika Kai mendengar apa yang dikatakan Suho, ia langsung melepaskan tubuh Sehun kembali dan terdiam dengan ucapan memuakkan yang dikatakannya.
"Satu lagi, yang harus kusingkirkan dan masalah ini selesai."
Mendengar ancaman itu Kai langsung membuka lebar matanya. Tanpa melihat apa yang dilakukan Suho saat ini, ia tahu apa yang direncakanannya. Dan tatapannya kini beralih kepada Kyungsoo yang berada disampingnya. Dengan cepat ia menarik tangan Kyungsoo kuat dan mendekapnya dalam sebuah pelukan posesif. Hingga mereka berdua jatuh berguling kesisi lain.
'DARR!' PRASSHH!'
Dan Kyungsoo bisa mendengarkan sebuah suara tembakkan yang dilanjutkan dengan pecahan kaca yang bersal dari jendela ballroom. Kyungsoo memejamkan matanya ketakutan. Hampir saja, dan beruntung Kai telah lebih sigap menarik tubuhnya menjauh ketika ia tahu bahwa Kyungsoo lah sasaran selanjutnya yang akan disingkirkan setelah Sehun.
Ia bisa merasakan kepalan kuat tangan Kai dalam dekapannya. Nafasnya tersenggal dan entah perasaanya, ia merakasan cairan basah yang menyentuh puncak kepalanya. Ia membuka matanya perlahan dan ia bisa melihat mata Kai yang terpejam dengan tangisan yang kini mulai jatuh dari matanya.
"Apa yang kau lakukan dengan gadis itu Kai? Jika kau tidak ikut campur sejauh ini semuanya tidak akan seperti ini!" Teriak Suho kembali. "Dan ingat, sahabatmu telah mati."
Kai menggeram pelan. Ia semakin mengepalkan kedua tangannya erat dibalik tubuh Kyungsoo yang tengah dalam dekapannya. Dan dalam satu gerakan Kai langsung melepaskan dekapannya. Dan menarik tubuh Kyungsoo menjauh sebelum akhirnya mengambil kembali senjatanya yang ada disamping tubuh Sehun. Ia berdiri dan kini berbalik menatap Suho marah. Ia melangkah cepat mendekati Suho yang ada dihadapannya. Menghilangkan rasa ketakutannya akan senjata yang tengah mengancam mengarah padanya.
Dan dalam satu tendangan, pistol yang ada ditangan Suho terlepas dan terlempar begitu saja meninggalkan sebuah ringisan nyeri dari Suho. Dan dalam satu pukulan Suho langsung tersungkur jatuh.
Kai masih beridiri dihadapan Suho dengan tatapan tajam. Tak peduli siapa yang dipukulnya saat ini yang ia lihat sekarang adalah seorang pembunuh.
"Tak seharusnya kau memperlakukan Yixing dan Sehun seperti itu!" Geramnya penuh penekanan.
Suho yang mendengar itu hanya tertawa meremehkan dan berdiri tepat dihadapan Kai yang kini menatapnya penuh kemarahan. "Apa yang kau tahu? Seberapa banyak Sehun bercerita?" Tanyanya dengan suara yang terbilang tenang dan seolah menantangnya.
"Yang aku tahu, Yixing mati karenamu." Ia mengepalkan kedua tangannya erat. "Apa seperti itu caramu membalas pengorbanan Yixing?" Tanyanya lagi. "Kini aku tahu kenapa Yixing memintaku untuk pulang dan menyampaikan perasaanya cintanya kepadamu, jelas. Ia hanya ingin hidup bersamamu." Lanjutnya.
"Kau tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi." Geram Suho marah.
"Aku tahu. Aku tahu dengan jelas." Balas Kai bersungguh-sungguh.
Suho terdiam dan menatap Kai lekat. Bahkan Kai terlihat menjadi orang bodoh dihadapannya kali ini.
Kris melangkah tergesa ketika ia masuk kedalam hotel yang sebelumnya Suho masuki. Ia mengikuti mobil Suho dari belakang karena ia penasaran dengan sikap sahabatnya itu saat ia berada dikantor. Bukan hanya aneh tapi mencurigakan. Entahlah perasaan itu datang secara tiba-tiba.
Dan ketika ia masuk, rasa kecurigaannya semakin menguat ketika langkahnya baru memasuki Lobi Hotel. Lihatlah seberapa banyak orang yang jatuh tergeletak dengan darah yang berceceran ini. Sebagian dari mereka meringis dan mengerang kesakitan dan ada pula yang sudah tergeletak tak bergerak sedikitpun.
Merasa janggal, Kris menyusuri setiap lorong yang ada dilantai itu, membuka setiap pintu yang tertutup satu persatu hingga langkahnya terhenti ketika ia melihat sebuah pintu besar yang terbuka lebar. Entah dorongan darimana, kini kakinya melangkah perlahan menuju ruangan itu. Sebagai jaga-jaga, Kris meletakkan tangannya pada senjata yang menggantung di pinggulnya dan dengan hati-hati berjalan masuk.
Langkah pertama ia hanya melihat ruangan besar yang remang, langkah kedua sayup-sayup ia bisa mendengar suara seseorang disana, dan langkah selanjutnya semakin ia mendekat semakin jelas siapa yang ada diruangan itu, Suho. Namun tatapannya tiba-tiba melebar ketika melihat siapa yang ada didepannya saat ini—itu adalah Kai. Ia tidak bisa melihat secara jelas apa yang terjadi selain aura menegangkan yang ada diantara mereka. Ia ingin mendekat untuk tahu lebih jauh lagi apa yang terjadi namun ketika Suho memulai membuka suaranya, ia lebih baik berhenti menunggu.
"Kau lebih mempercayai mereka daripada saudaramu sendiri?" Tanya Suho dingin.
Kai menggeram dan dalam gerakan yang terbilang cepat Kai mengambil senjata yang ada didalam genggamannya dan saat itu juga menodongkan senjatanya tepat didepan kepala Suho. Bahkan hanya berjarak beberapa senti saja dari dahinya.
"Kau bukan saudaraku." Geramnya dengan kedua tangannya yang menggenggam senjata itu erat seolah siap menmembak. Satu jarinya bahkan sudah dalam posisi pada pelatuknya.
Entah kenapa kini Kris merasa terdorong untuk bergerak. Ia berjalan dan memposisikan dirinya disamping Suho dengan senjata yang mengancam balik kepada Kai saat ini.
"Turunkan senjatamu Kai!" Tegas Kris.
Namun Kai masih enggan untuk menurunkan senjatanya. Ia menatap geram Suho tak memperdulikan Kris yang kini tengah mengancamnya balik dengan senjata yang ada ditangannya. Ia tak peduli bahwa Kris akan menembaknya hingga mati saat ini, ia ingin meminta sebuah penjelasan kepada Suho sekarang.
Dan Suho hanya bersikap santai. Ia berdiri dengan tegap dengan kedua tangannya yang kosong tak memegang apapun. Ia hanya berdiri dengan mata yang menatap tajam Kai.
"Kau tidak mengerti."
"Karena kau telah membodohiku! Kenapa hanya aku yang tidak tahu tentang semua ini? Jelaskan!"
"Kau tidak dapat dipercaya."
"Karena aku melarikan diri dari rumah dan menganggapku sebagai seorang pengkhianat? Cih.. kau pikir dengan kekuasaanmu bisa melakukan semua yang kau inginkan termasuk membunuh orang-orang yang aku sayangi hah? Kau telah merebut semua kebahagiaanku! Sejak dulu aku membencimu, kau merebut ayah! Kau membuat ibuku pergi! Kau membuat Yixing mati dan sekarang kau membunuh Sehun! Apa maumu hah?" Histeris Kai yang kini tidak bisa menyembunyikan lagi tangisannya.
"Kai!"
"Jangan panggil namaku! Kau tidak berhak memanggilku sebagai saudaramu. Kau bu-kan sa-u-da-ra-ku!" Ujarnya penuh penekanan.
Suho hanya terdiam dengan tatapan kini mulai menyendu.
"Apa kau tidak cukup dengan semua yang telahku berikan? Bukankah ini yang kau mau sejak awal untuk merebut kekuasaanku hingga kau dibutakan untuk melakukan segala hal yang telah menyakitimu. Apa masalahmu dengan Yixing hingga kau berani-berani membunuhnya tanpa mendengar alasan sedikitpun?"
Kris yang mendengarkan percakapan itu langsung termanggu terdiam. Ditambah dengan apa yang dikatakan Kai yang mengatakan bahwa Suho telah membunuh Yixing dan Sehun? Apa maksudnya? Ia melirik kesisi lain dan bisa menemukan seseorang telah terkapar disana bersimbuh darah dengan seorang gadis yang ada disampingnya.
Kris langsung menurunkan senjatanya saat itu dari hadapan Kai dan memilih berdiam diri untuk mendengarkan semuanya. Memperhatikan kedua saudara yang tengah berhadapan dengan kedua tatapan saling membunuh.
Waktu berjalan dengan sebuah keheningan. Tidak ada yang bicara bahkan bergerak. Mereka masih bertahan diposisinya masing-masing hingga mereka semua dikejutkan oleh kedatangan beberapa orang yang masuk kedalam ruangan itu dan satu orang tersungkur jatuh disisi Suho yang lain. Dia Xiumin. Dengan wajah penuh luka lebam dan darah yang ada dipelipis dan sudut bibirnya.
Suho dan Kris melirik dengan kedatangan XIumin yang tiba-tiba termasuk wajah Kris yang tentu menunjukkan wajah keterkejutannya karena melihat keadaan Xiumin yang babak belur. Belum sempat ia bertanya Zhoumi datang jauh dibelakang mereka.
"Oh, kalian semua berada disini." Ia berjalan santai mendekat yang tengah mengusap kedua telapak tangannya menggunakan sapu tangan.
Suho melirik mengabakan senjata Kai yang masih menodong padanya. Ia menatap geram siapa yang kini bicara padanya. Pria yang Yixing pilih sebagai tunangannya. Cih..
Ia mendekat dengan santai dan menatap Suho dengan senyuman mengejek. "Aku tidak sebodoh itu terjebak dalam permainanmu." Ucapnya dan tatapannya kini berlaih pada Kris. "Ah, kau ada disini juga. Kau pasti terkejut kan dengan apa yang terjadi saat ini? Ku pikir kau harus bertanya kepada anak buahmu ini." Tunjukknya kepada Xiumin yang sudah terlihat memprihatinkan.
Kris menatap tak mengerti dan mengernyit ketika Xiumin mengalihkan perhatiannya dari tatapannya. Dan lagi-lagi suara Zhoumi meggema diseluruh ruangan.
"Kau salah mempercayakan penyilidikan kepadanya Kris. Suho telah membayarnya dengan imbalan posisi kepimpinan yang diduduki olehmu saat ini. Dan ingatlah, Ia tidak bekerja sendiri. Masih banyak anak buahmu yang berada dibawah kendalinya dan tentunya mengkhinatimu." Sinis Zhoumi.
"Apa?" Kris menatap tak percaya dan lagi-lagi menatap Xiumin.
Zhoumi terdiam ketika polisi-polisi ini menggiringnya ke suatu tempat yang ia tak tahu dengan tangannya yang terborgol dibalik tubuhnya. Ia tak mengerti, ia tak melakukan kesalahan apapun tapi ia malah diseret oleh polisi-polisi sialan ini atas tuduhan yang tidak masuk akal. Dan betapa menyebalkannya karena ia harus duduk disebuah mobil dengan dua orang polisi saling mengapitnya. Ini tidak nyaman.
Sebenarnya ia tidak sendiri. Ada orang lain yang secara diam-diam mengikutinya dengan polisi-polisi ini jauh dibelakangnya. Ya, ia tahu. Anak buahnya tidak mungkin membiarkan tuannya untuk diseret oleh polisi dengan cara sesialan ini. Hanya membutuhkan waktu bebera menit lagi, ya benar. Beberapa menit lagi hingga anak buahnya bisa membebaskannya dari kungkungan polisi-polisi ini. Hanya menunggu mereka lengah saja dan ia akan mengambil alih segalanya—ia percaya kepada anak buahnya.
Dan itu benar. Bahkan ia belum semenit memikirkan apa yang akan direncanakan anak buahnya. Sekitar enam buah mobil mengepung mobil-mobil polisi yang tengah ia tumpangi. Dan jangan lupakan tembakkan–tembakkan yang mulai mengepung mereka. Zhoumi bersikap santai meskipun ia berada dimobil yang menjadi target utama sasaran penembakkan itu. Ia lebih memilih memukul satu persatu polisi-polisi yang ada disampingnya—yang tengah sibuk melawan penembak-penambak misterius itu—ketika lengah dan itu berhasil. Kekacauan baru membuat mobil yang ditumpanginya memilih berhenti dari lajunya.
Aksi tembak menembak tidak dapat dihindarkan lagi dan tentunya polisi yang jumlahnya tak sebanyak anak buah Zhoumi yang diturunkan untuk menolongnya membuat sebagian besar dari mereka lumpuh seketika meskipun tembakkan-tembakkan yang dibuat tidak bersifat mematikan. Setidaknya melumpuhkan untuk sementara. Dan sisanya, mereka dikunci oleh masing-masing anak buahnya untuk tidak memberikan perlawanan karena kini mereka yang mengancam polisi-polisi itu.
Seseorang melirik kedalam mobil yang ditumpangi Zhoumi dan ia menemukan asisiten pribadinya mengeluarkan beberapa kunci yang ia tahu adalah kunci yang tengah memborgolnya. Pria itu membukanya dengan hati-hati dan Zhoumi melemparkan borgol itu jauh-jauh ketika lepas dari pergelangan tangannya.
"Kai mengabari kita. Xiumin, dia ada dalam kasus ini. Ia berkomplot dengan Sehun." Ucapnya.
"Apa?" Zhoumi menatap tidak percaya. "Sialan." Desisnya yang langsung turun dari dalam mobil itu dan menemukan beberapa polisi yang sudah tergeletak dan polisi-polisi lain yang telah ditahan oleh anak buahnya termasuk itu adalah Xiumin.
Matanya hanya terkunci padanya dan dengan langkah besar ia berjalan mendekat dan.
'BUGH!'
Ia memberikan sebuah pukulan keras kepada Xiumin.
"Apa tujuanmu?"
"Apa yang kau katakan?"
Dan Zhoumi lagi-lagi memberinya sebuah pukulan keras pada rahangnya berkali-kali. "Masih ingin mengelak? Rencana apa yang kau lakukan dengan Sehun?"
Bukannya menjawab, polisi itu malah membalasnya dengan sebuah seringaian dan itu mampu membuat amarah Zhoumi tak terkendali lagi. Ia langsung menendang keras kaki pria itu dan anak buahnya yang sempat mengunci pergerakannya mulai melepaskannya dan membiarkan ia tersungkur diaspal jalan.
Zhoumi langsung menginjak kaki-kaki Xiumin dengan keras masih berusaha menekannya untuk mengatakan sesuatu.
"Katakan sebelum aku benar-benar membunuhmu."
"Tidak."
Zhoumi tak bisa main-main lagi, ia menodongkan senjatanya tepat didahi Xiumin hingga pria itu kini diam tak bergerak sedikitpun.
"Katakan!" Tekan Zhoumi. "Siapa dalang dari semua ini?"
Untuk beberapa saat Xiumin hanya terdiam, nafasnya tercekat ketika beberapa orang lain yang mengelilinginya ikut menodongkan senjata kearahnya.
"Suho." Bisiknya pelan.
"Siapa?" Zhoumi semakin menekankan kakinya untuk menginjak kaki-kaki Xiumin.
"Suho, Suho ada dibalik semua ini. Ia membayarku dengan sebuah imbalan dimana aku akan menggantikan posisi Kris sebagai kepala polisi." Terbata.
"Dendam huh?" Decih Zhoumi ditengah keterkejutannya. "Hebat sekali, kau membunuh demi merebut kekuasaan orang lain, sialan! Polisi macam apa kau!" Ucapnya lagi yang kini memelantukkan kepala Xiumin dengan ujung senjatanya yang tumpul hingga membuat sebuah luka gores dipelipisnya.
Zhoumi menggeram. Suho, pria itu. Sialan!
"Dimana dia? Tunjukkan jalan untukku, keparat." Desisnya kepada Xiumin sebelum ia menjauhkan kakinya dari tubuh Xiumin dan berbalik menuju mobil lain yang telah disiapkan anak buahnya untuknya.
"Bawa dia, dia akan menggiring kita ke si mafia pembunuh itu!" Perintahnya sebalum akhirnya ia masuk kedalam mobilnya.
"Suho ada dibalik semua kasus ini." Ucap Zhoumi penuh penekanan dengan tatapan yang menusuk tepat pada kedua bola mata Suho.
Dan Suho tak bisa menghilangkan kegeramannya saat ini. Ia bergerak berjalan mendekati Zhoumi lalu menarik kerah kemeja Zhoumi kasar degan satu tangan lainnya mengepal seolah siap memukul.
'DARRR!'
Namun suara tembakkan itu menghentikan aksi pemukulan yang akan dilakukan Suho kepada Zhoumi dan membuatnya berpaling menatap apa yang terjadi. Matanya semakin geram tak percaya ketika melhat Xiumin telah terkapar dengan darah disekitar dadanya akibat tembakan. Ia melihat si pelaku penembakkan yang hanya diam masih menatapnya tajam seperti tadi—Kai.
"Apa yang kau lakukan?" Teriak Suho marah.
"Kau kehilangan semuanya." Desis Kai.
Suho mencoba menahan kemarahannya sejak tadi kepada Kai namun ia tidak bisa mentolerin lagi apa yang telah dilakukan adiknya itu. Kini ia melepaskan cengkramannya tadi pada Zhoumi dan berjalan berbalik padanya namun langkahnya terhenti ketika pistol yang digenggam Kai kini beralih menodong. Bukan kepadanya tapi tepat dipelipis Kris hingga pistol dan kulit itu telah bersentuhan.
"Masih ingin kehilangan orang yang kau sayangi huh? Haruskah aku membunuh sahabatmu juga?" Ancamnya.
Sedangkan Kris yang tengah berada dibawah ancaman senjata Kai hanya bisa terdiam meskipun ia memiliki pistol dalam genggamannya. Entah kenapa ia merasa menjadi orang bodoh saat ini karena tidak mengetahui sedikitpun kenyataan tentang kasus ini yang sebenarnya. Ditambah Xiumin yang telah mengkhianatinya.
Kai masih mengancam Kris, dalam pikirannya kini ia merasa yakin kepada dirinya sendiri bahwa Suho memanglah manusia yang tidak memiliki perasaan. Ia ingin tahu lebih jauh lagi seberapa pekanya perasaanya terhadap orang lain. Apalagi saat ini ia telah mengancam Kris oleh senjatanya. Kris adalah sahabat Suho. Sama seperti Sehun, ia menyesal karena Sehun mati begitu saja ditangan saudaranya sendiri kini bagaimana dengan Suho? Apa ia akan memiliki rasa menyesal yang sama seperti dirinya?
"Demi Tuhan.. aku akan membunuhnya jika kau masih tidak ingin mendengar apa yang ingin kukatan. Kau harus kembali pada kekenyataan Suho!" Teriak Kai membuat Suho menggeram padanya.
"Lepaskan senjatamu." Balasnya santai namun Kai hanya membalasnya dengan senyuman mengejek.
"Kau takut hah?" Ejek Kai. "Bayangkan bila orang yang tengah ada dalam ancamanku saat ini adalah Yixing. Apa kau akan mengatakan hal yang sama?"
Suho seketika terdiam dengan apa yang dikatakan Kai kepadanya.
"Aku sudah tahu semuanya. Yixing tidak bersungguh-sungguh dengan pertunangan ini dan demi Tuhan, ia lebih mencintaimu dari siapapun. Ia telah merencanakan kepergiannya hanya untuk kembali bersamamu. Dia telah mengorbankan segalanya, kekuasannya, apa yang telah ia miliki hingga kepercayaann ayahnya. Ia rela melakukan apapun agar bisa kembali padamu meskipun ia tahu bahwa kau sangat membencinya. Ternyata semua ketakutan dan ancaman yang dikatakan Yixing kepadaku saat itu adalah kau bukan ayahnya ataupun Zhoumi. Sialan, pria macam apa kau membunuh wanita yang sudah jelas-jelas berkorban hanya untuk melindungimu?"
Kai melirik kepada Zhoumi dalam sebelum kembali melirik Suho yang masih menatapnya. "Aku mungkin saja membunuh Zhoumi karena telah menyakiti Yixing juga tapi.." Kai menggeleng pelan. "Ia patut untuk diselamatkan." Desisnya. "Dan dibandingkan kau, aku lebih mempercayainya."
"Dan tahu alasan apa yang Sehun berikan kenapa akhirnya ia membunuh Yixing?" Tanyanya membuat Suho mengerutkan keningnya tipis. "Ia ingin menyadarkanmu bahwa dendam, kebencian dan keegoisanmu telah melupakan tentang cinta yang telah dengan sangat baik Yixing berikan."
"Ia peduli padamu." Lanjutnya dengan bisikan kecil membuat Suho kini menunjukan sebuah tatapan kosong.
"Kau bahkan tak memiliki waktu untuk memperdulikannya tapi Yixing, Sehun, ia memperdulikan tentang keadaanmu yang tolol ini." Lanjutnya.
Setelah Kai mengucapkan semua yang telah dikatakannya, ia kembali menarik pistolnya dari pelipis Kris dan melemparkanya jauh-jauh hingga hancur. Ia melangkah mendekat dengan tertatih dan melihat dengan jelas tatapan kekosongan dari mata Suho.
"Kau menyesal bukan?" bisiknya membuat Suho langsung memalingkan wajahnya. Sebelum Suho dapat bicara, Kai telah lebih dulu menghantamnya dengan sebuah pukulan keras pada rahangnya hingga ia terjatuh.
Bahkan Suho sama sekali tidak memiliki keuatan untuk melawan. Ia terdiam memikirkan semua yang dikatakan Kai kepadanya. Semuanya, termasuk tentang tindakannya yang baru ia sadari telah mengecewakan banyak orang bahkan kepedulian orang-orang yang mencintainya.
"Aku tidak akan membunuhmu, tidak akan pernah. Aku ingin kau merasakan hukuman sebenarnya setelah orang-orang yang peduli padamu mati, termasuk Yixing. Gadis yang sangat mencintaimu. Kau akan sadar dan mengingat hal ini seumur hidupmu. Ini adalah hukuman yang pantas untukmu." Ucapnya sendu namun sarat dengan sebuah peringatan didalamnya.
Kai menatap Zhoumi yang ada dibelakang Suho. Menatapnya dalam karena bagaimanapun ia penyebab kenapa Suho bersikap seperti ini namun ia tidak ingin mempermasalahkan ini lebih lanjut. Zhoumi telah membantunya, kalau bukan karena dia ia tidak akan tahu hingga sejauh ini.
Kai mundur beberapa langkah hingga tatapannya kini beralih pada Kris yang ada disampingnya dengan tatapan yang tidak bisa dibacanya. Kai mengalihkan tatapannya dan memilih untuk menunduk. Sebelum suara kris terdengar melalui indra pendengarannya.
"Terima kasih." Ucapnya parau.
Dan saat itu juga beberapa polisi bersenjata telah masuk kedalam ruangan ballroom dengan senjata yang telah menodong kearah mereka semua termasuk kearah Kai sendiri. Kai bisa mendengar sebuah seuara tercekat dari belakang dan ia tahu itu adalah suara Kyungsoo. Tanpa berbalikpun ia telah tahu apa yang dilakukan polisi itu padanya.
"Aku telah memanggil polisi yang sebenarnya." Jelas Zhoumi ketika ia menemukan tatapan bingung Kris karena kedatangan polisi-polisi ini. "Mereka ada dipihakmu." Balas Zhoumi lagi karena ia tahu pasti Kris masih mencurigai tentang siapa-siapa yang ada dipihaknya setelah ia tahu Xiumin mengkhianatinya.
Kai terdiam untuk beberapa saat ketika mata Kris teralih pada Zhoumi. Perlahan ia melangkahkan kakinya mundur. Berjalan menjauh selangkah demi selangkah hingga dirinya kini berada ditempat dimana Kyungsoo berdiri sekarang. Kai berbalik dan menemukan Kyungsoo yang tangannya telah terkunci dibelakang tubuhnya oleh genggaan tangan seorang polisi dibelakangnya.
Ia terdiam ketika menatap tatapan Kyungsoo yang menyanyu padanya. Ia bisa melihat matanya yang berkaca-kaca, entah karena apa dan itu membuatnya semakin merasa bersalah karna telah melibatkan Kyungsoo sejauh ini.
Kini tatapannya beralih pada Sehun yang telah berbaring tak bernyawa dibawahnya. Sebuah pukulan terberat yang ia terima karena telah membiarkan Sehun mati begitu saja oleh tangan Suho dan ia tak memiliki kesempatan sedikitpun untuk menolong sahabatnya.
Ia terduduk lemah dan menggenggam tangan sehun erat. Ia bersalah, benar-benar sangat bersalah ketika ia tidak bisa menepati janjinya kepada Luhan. Apa yang akan Luhan katakan padanya? Ia pasti akan membencinya begitupun dengan anaknya. Ia mencoba menahan air matanya. Tangannya mengepal erat pergelangan tangan Sehun seolah ingin membuatnya kembali hidup. Namun itu sia-sia saja. Semuanya sudah terlanjur terjadi, kini ia harus menyelamati seseorang yang paling penting dalam hidupnya. Ia tidak akan membiarkan Kyungsoo terlibat lebih jauh lagi. Hanya dia satu-satunya yang dimiliknya saat ini.
Ia langsung bangun dan melangkah mendekat untuk menarik Kyungsoo dalam genggamannya.
Kyungsoo tersentak namun tangannya yang lain masih belum lepas dari cengkraman polisi yang tengah menahannya saat ini.
"Lepaskan dia!" Tegasnya dengan suara yang penuh peringatan.
Kyungsoo bisa melihat tatapan Kai yang benar-benar sangat tajam berbeda dari sebelumnya. Dan entah kenapa kini ia merasakan aura lain yang kini ada dalam tubuh Kai. Mungkin hanya khayalannya saja tapi Kai seperti terlihat lebih marah dari sebelumnya.
Kai kembali menarik lengan Kyungsoo hingga tubuh Kyungsoo terhentak kedepan dan otomatis cengkraman polisi itu pada Kyungsoo terlepas begitu saja. Bahkan sebelum Kyungsoo menatap Kai, ia telah menarik tubuhnya pergi dengan cepat. Kyungsoo bisa merasakan kekuatan genggamann Kai pada pergelangan tangannya begitu sangat kuat.
Kai melangkahkan kakinya untuk pergi dengan tangan yang masih menyeret tubuh Kyungsoo dalam genggammannya. Ia harus membawa Kyungsoo keluar dari sini. Itu satu-satunya yang ada dalam pikirannya. Namun langkah kakinya terhenti ketika seorang polisi berdiri dihadapannnya untuk menghalangi jalannya saat ini.
"Minggir dari hadapanku." Desis Kai kesal.
"Tidak.. kau—"
"Minggir kubilang!" Teriak Kai dengan penuh amarah memotong apa yang dikatakan polisi itu padanya. Kini genggamannya beralih pada telapak tangan Kyungsoo. Menautkannya jari-jemari mereka agar tidak terlepas.
Kris yang mendengar teriakan itu kini menatap Kai yang cukup jauh berada dihadapannya. Ia bisa melihat dengan jelas tatapan kemarahannya dan kini tatapannya beralih pada genggaman tangan itu yang bertautan langsung dengan seorang gadis yang ada dibelakangnya. Ia tidak tahu siapa gadis itu tapi melihat Kai yang begitu sangat menjaga gadis itu membuatnya berpikir dua kali untuk menangkapnya.
"Menghindar." Tegas Kris cukup keras kepada polisi yang tengah menghalangi jalan Kai. Polisi itu berbalik dan menatap bingung atasannya yang malah membiarkan buronan itu untuk pergi. "Biarkan dia pergi." Lanjutnya kembali tanpa memberi alasan lebih lanjut.
Polisi itu hanya mengernyit bingung sebelum akhirnya tubuhnya terhuyung mundur ketika Kai langsung menubruk bahunya untuk berjalan melewatinya.
Kai berjalan semakin cepat sebelum akhirnya ia berhenti dan tatapannya mengunci untuk beberapa saat pada mata Kris yang sendu kepadanya.
"Apa yang ingin kau lakukan pada saudaramu?" Tanya Kris .
"Apapun asal jangan biarkan dia untuk mati." Lirih Kai. Meski suaranya pelan tapi masih terdengar nada kebencinan didalamnya dan Kris mengerti itu. Dan saat itu juga langkah kakinya berjalan cepat melewati Suho yang masih diam tersungkur dibawah. Bahkan ia tak sudi untuk menatapnya kembali. Baginya semuanya telah berakhir. Persaudaraan sudah tidak ada lagi diantara mereka.
Langkah kakinya kini berubah menjadi lebih cepat dan semakin cepat hingga akhirnya Kai dan Kyungsoo berlari dan keluar dari ruangan sialan yang telah menjadi puncak kesedihan dan kebencinan Kai saat ini. Ia tidak ingin kembali.
Kris manatap kepergian Kai yang telah melewati pintu Ballroom. Menatapnya datar dengan tatapan tak terbaca.
"Kenapa melepaskannya?" Tanya seseorang padanya namun Kris tak menjawab pertanyaan anak buahnya dan memilih melangkah berjalan mendekati Suho. Ia kini berlutut dan menatap Suho.
"Sobat," Panggilnya lirih dan Suho kini menatapnya. Lebih datar dari sebelumnya meski kedua matanya terlihat berkeca-kaca.
"Aku berubah?" Desis Suho pelan.
"Ya, kau berubah." Jawab Kris lirih. "Kau telah membodohi semua orang termasuk diriku. Apa yang terjadi padamu?"
Namun Suho hanya mengalihkan tatapannya dan itu semakin membuat Kris mendengus dan menghela nafasnya pelan. "Maafkan aku, kau bukan lagi Suho yang kukenal." Bisiknya sebelum akhirnya ia berdiri meneggakkan kembali tubuhnya. "Selesaikan kekacauan ini dan bawa dia ke kantor." Tegas Kris dan dengan sigap polisi-polisi itu menuruti perintahnya dan menarik Suho untuk berdiri sebelum akhirnya memborgolnya. Tatapan Kris kini tertuju pada Zhoumi. "Siapkan waktumu untuk menjadi saksi." Ucapnya kepada Zhoumi lalu ia berjalan meninggalkan lokasi dengan langkah lemah dan tentunya dengan wajah penuh kekecawaan didalam dirinya.
Ada yang berbeda dari Kai saat ini. Kyungsoo menyadari hal itu. Meskipun ini bukanlah kali pertama mereka melarikan diri dari masalah tapi kali ini berbeda. Masalah tentang kasus Yixing telah selesai tapi kenapa Kai masih melarikan diri meski pada kenyataanya ia memang tak bersalah dan bahkan Kyungsoo tak tahu kemana lagi tujuan Kai saat ini. Lidahnya terlalu kelu untuk bertanya tujuan mereka saat ini. Yang jelas kali ini Kai membawa mobil yang tengah digunakannya dengan tatapan yang sangat berbeda. Sangat kosong.
Kyungsoo ingin sekali mengetahui isi hati Kai saat ini. Kalau biasanya ia bisa menebak pria ini dalam sekali tatapan mata, tapi kali ini berbeda. Ia tidak bisa melihat ataupun membaca pikiran dan isi hati Kai saat ini. Perasaan sakit dan kecewa pasti ada didalam hatinya. Tapi ia tak yakin ia hanya memikirkan hal itu.
Banyak sekali beban yang ditanggungnya. Kematian Yixing, kesalahan Suho dan yang terakhir kematian Sehun. Ia tahu diantara semua itu kematian Sehun lah yang sangat membuatnya terpukul. Bagaimanapun sebesar apapun kesalahan yang telah dibuat Sehun. Ia adalah sahabatnya, ditambah dengan keluarganya. Secara tak langsung Luhan telah memberikan sebuah pertanggung jawaban kepada Kai untuk menjaga Sehun. Tapi Kai tak bisa melakukannya, ia tidak bisa menjaga sahabatnya. Pikiran Kyungsoo kini tertuju kepada Luhan. Bagaimana reaksi Luhan ketika ia tahu apa yang terjadi kepada suaminya.
Laju mobil yang tengah digunakan Kai dan Kyungsoo tiba-tiba mengerem mendadak dan membuatnya terhenti begitu saja. Beruntunglah Kyungsoo menggunakan sabuk pengaman, kalau tidak mungkin ia sudah tersentak dan terpelantuk pada dashboard mobil.
Tapi ia tidak bisa marah saat ini, ditambah kini ia melihat Kai yang kini kembali terisak menangis disampingnya—entah sejak kapan. Perasaanya sakit ketika melihat Kai seperti ini. Dan tanpa berpikir lama Kyungsoo melepaskan sabuk pengamannya dan mendekat untuk meraih tengkuk dan tubuh Kai untuk ia peluk memberikannya sebuah ketenangan.
Tangisannya tak terhenti. Semakin ia memeluknya Kai semakin menangis tersedu diatas bahunya Bahkan Kyungsoo merasakan tetesan air mata Kai dibahunya yang dijadikan sandaran keningnya. Perasaanya semakin sesak melihat Kai seperti ini. Kini ia tahu apa yang dirasakan Kai. Sebuah kesedihan yang mendalam. Ia tidak tahu kesedihan yang mana tapi yang jelas Kai berada dalam posisi yang sangat rapuh kali ini.
Kyungsoo tak berani bertanya bahkan untuk berbicara pun ia tidak bisa. Ia hanya mengusap halus punggung Kai mencoba menenangkannya. Membiarkan pria yang dicintainya ini menangis menghilangkan rasa kesakitan dan kesedihannya. Ia tahu ini berat bagi Kai tapi ia tidak ingin terus melihat Kai seperti ini.
To Be Continued
Kecepetan gak sih? Keburu-buru gak sih? Agak maksa sih yah tapi itu bener. Haha.. gak tau, greget aja di chapter ini pengen segera selesai. Well, belum ngasih sudut pandang Suho, emang sengaja sih. Ntar aja deh nunjukkin perasaan dia setelahdia sadar dengan semua yang terjadi. Dan maaf bikin Sehun—:( Yang pernah baca ff aku yang lain pasti deh tahu kalo aku buat ff pasti yang disedihinnya gak tanggung-tanggung, dan ini salah satunya. Jadi maaf yang kecewa .. Sehun kesayanganku, maaf.. uhuhu~
Uhu~ Well oke ya. Kasus selesai, dan next. Pantengin aja chapter-chapter terakhir ini. Tentang kelanjutan Kaisoo gimana jawabannya ada dichap depan. Dan terima kasih buat semua sarannya dan yang masih mantengin ff ini.
Oke gak cuapcuap banyak yang penting makasih yang udah review, fav, follow dan setia baca ff ini chapter per chapter.
Thanks to:
Sofia Magdalena, ryaauliao, keiLu, Lucky8894, DBSJYJ, nutnutnut, daebaektaeluv, 1004baekie, IndahOliedLee, Rahmah736, kyung1225, arvitakim, Lovesoo, Kim YeHyun, Nadhefuji, satanSEKAI, KimRyeona19, Luminal Kim, jihanowl7, KaisooLovers, Kaisoo32, ruixi1, Kaisoo 32, ia, overdokai, MissPark92, chankaiya, XikaNish, NopwilineKaiSoo, kiway91SL, dichanbaek, overdyosoo, joonwu, Uchiha Annie, hnna, Re0Panda68, kim minki lisaaeri.
Selamat malam. Salam Blossom~
