Sementara itu, diujung hutan perbatasan hutan dandaka bagian selatan kelima saudara Narasoma yang masih menyamar terbangun oleh teriakan perang para prajurit Hastina.

" Paman! Bangun paman! Dengar teriakan perang itu.. nampaknya pasukan Hastina mulai bergerak .." Narapati membangunkan pamannya

Setelah semua kelima bersaudara itu terbangun segera mereka bersiap –siap.

" Naramaru kau segera bersembunyi dibawah jembatan! " paman mereka memberi instruksi untuk segera bersiaga.

Kembali ke wilayah Dhurmada, setelah semua pasukan kelompok sabit emas berkumpul Madara mulai memberikan Instruksinya.

" Dengar! Tujuan utama kita adalah pergi mencari wilayah baru untuk kita tempati bersama penduduk wilayah ini nanti! Tapi sebelum itu kita tidak bisa pergi begitu saja, karena Dhuryudhana akan menyiksa mereka jika tidak memberitahukan keberadaan kita. Oleh karena itu kita harus bertarung dahulu dengan mereka dan menghilang tanpa melibatkan penduduk wilayah ini, mengerti!" Madara memulai instruksinya yang langsung dijawab dengan kesigapan oleh pasukannya.

" Langkah kedua, Haruma kau dan setengah dari pasukan kita berangkat kearah hastina melalui jalur barat! Temui Narasoma, orang yang menghianati Hastinapura saat beraliansi dengan wangsa Dhurma! Bersamanya kalian akan pergi ke Kurusetra dan kita akan berjumpa disana setelah kami berhasil meloloskan diri dari para Kurawa nanti!" Lanjut Madara.

"Apa si penghianat ini bisa kita percaya Ketua? Tidakkah cukup beresiko untuk membawanya bersama kita?" Bhismaka bertanya.

"Dia sudah tidak memiliki apa-apa lagi! Kemungkinannya memang ada namun sangat kecil dia akan menghianati kita. Memang kepentingan kita berbeda dengannya, namun saat ini kita dan dia menghadapi musuh yang sama dan mereka merupakan musuh yang teramat kuat, oleh karena itu dibutuhkan Aliansi sebanyak mungkin hingga semua tujuan kita bisa tercapai." Jawab Madara.

" Jika tidak ada lagi yang ditanyakan, maka Haruma akan berangkat memimpin kelompok satu hingga dua belas menuju Kurusetra dua jam dari sekarang! Sementara kelompok tiga belas hingga dua puluh mempersiapkan strategi dan perangkap untuk menghalau serangan dari Hastinapura! Laksanakan!" Madara memberi perintah dan segera saja kedua puluh kelompok dari Sabit emas berpencar melaksanakan tugasnya.

Sementara itu di Kerajaan Chedi, Narasoma yang telah berhasil melewati pos penjagaan kerajaan Chedi kemarin malam kini tengah beristirahat di sebuah penginapan.

Setelah selesai menyantap sarapan paginya ia turun untuk melanjutkan perjalanannya ke wilayah Dhurmada.

Namun belum jauh ia meninggalkan penginapan, ia merasa tengah diikuti oleh beberapa pengawal kerajaan.

" Hmmm… nampaknya mereka sudah mencurigaiku, aku harus bersikap wajar" bisik Narasoma didalam hati.

Namun penyamaran Narasoma tidak dapat mengelabui para pengawal kerajaan Chedi, hanya dalam beberapa saat sekitar sepuluh orang pengawal kerajaan sudah tersebar di sekitar Narasoma tanpa berusaha mengambil tindakan apa-apa. Mereka hanya mengawasi dan mengikuti kemana Narasoma pergi dengan perlahan.

" Berengsek! Jika aku bertindak, akan terjadi pertempuran disini. Namun jika aku tidak melakukan apa-apa dari sekarang tentunya akan semakin banyak pengawal kerajaan yang akan datang mengepungku!" fikirnya

Maka Narasoma segera melakukan tindakan, ia melompat menerobos kelompok pengawal yang paling kecil jumlahnya dengan menggunakan cincin mautnya. Dalam seketika tiga orang pengawal kerajaan tersungkur tak bernyawa tanpa sempat melakukan perlawanan.

" Benar! Itu buronan yang dicari kerajaan Hastina! Ringkus dia!" teriak seorang pengawal yang ada dibelakangnya, dan mereka segera mengejar Narasoma.

Dengan gesit Narasoma berlari diantara padatnya manusia yang berlalu-lalang di pusat perbelanjaan itu, ia bergelantungan melompati bangunan demi bangunan dengan tali logam pencapitnya. Namun penjagaan di kerajaan Chedi tidaklah mudah dibobol begitu saja, hanya kurang dari satu jam pelarian Narasoma di dalam kota, kini ia sudah kembali terkepung oleh sekumpulan pengawal kerajaan.

" Menyerahlah pemberontak! Kami mendapat perintah langsung untuk menangkapmu, hidup ataupun mati!" kata Kepala pengawal yang tengh mengepungnya.

Narasoma tersenyum sinis, dalam benaknya ia yakin sekali dapat melumpuhkan semua pengawal itu kurang dari lima belas menit. Maka tanpa pikir panjang lagi ia segera menyerbu ke tengah kepungan para pengawal itu. Geraknya gesit dan gemulai bagai sedang menari, kedelapan cincin mautnya beraksi berputar-putar di udara menyabet mereka yang mencoba mendekatinya.

Darah berhamburan, orang-orang yang kebetulan lewat disekitar situ berlarian mencari selamat. Kios-kios kecil, kendaraan yang sedang diparkir juga benda-benda yang berada di sekitar medan laga terkena imbas akibat pertempuran sengit itu.

Bahkan sebuah tiang lampu jalan yang berdiri kokoh pun rubuh akibat sabetan senjata maut Narasoma. Tiang itu jatuh menyilang diantara rel kereta api yang menghubungkan kota Chedi dengan kota-kota lainnya.

Namun para pengawal tidak mudah menyerah, mereka semakin banyak berkumpul berusaha mengeroyok Narasoma. Hingga Nampak dari kejauhan meluncur kereta api yang datang dan menabrak tiang lampu jalan yang jatuh akibat pertempuran. Kereta api itu berdecit berusaha menghentikan lajunya namun terlambat, akibat menabrak tiang tersebut kereta terlempar berjalan keluar jalur melaju kencang kearah pemukiman penduduk dibelakang pusat keramaian tersebut.

Narasoma terkejut melihat ini, dengan segera ia melompati para pengawal yang sedang mengepungnya. Dalam tiga kali lompatan ia sudah berada diatas kereta yang melaju keluar dari jalurnya itu. Ia berlari kedepan lokomotif dan melontarkan tali baja pencapit dari kedua lengannya kearah belakang dan menancap pada dua bangunan besar disisi-sisi belakang kereta tersebut. Narasoma menahan laju kereta itu dengan badannya yang tertarik oleh tali logam pencapitnya yang terbentang dari kiri dan kanan belakang arah kereta itu.

Narasoma menahan nyeri, karena kedua lengannya tertarik kedua arah yang berbeda rasanya mungkin serasa hendak putus dan semua tulang-tulang punggungnya nyaris sudah tidak bisa ia rasakan lagi. Namun usahanya tidak sia-sia Tali logam yang mengait pada dua bangunan besar itu memperlambat laju kereta hingga berhenti tepat sebelum menabrak masuk ke wilayah pemukiman.

"Hufff… untunglah mereka selamat! " Narasoma menghela nafas. Ia merundukan badannya melemaskan setiap ototnya yang terasa nyeri. Namun saat ia mengangkat badannya puluhan tombak para pengawal istana telah teracung padanya.

- oOo - oOo - oOo -

Sementara itu di perbatasan hutan Dandaka keempat anggota keluarga Nara yang menyamar sedang berpura-pura menjaga pos perbatasan. Tak lama kemudian mereka dikunjungi oleh serombongan pengawal berkuda petugas patroli benteng Hastina.

" Bagaimana keaadaan disini? Sebentar lagi Panglima besar Aswatama akan segera melewati daerah ini pastikan semuanya baik-baik saja" Ketua patroli itu berkata pada para penyamar.

" Keadaan aman terkendali! Siap Laksanakan!" Sang Paman menjawab perkataan dari ketua patroli tersebut.

" Hey tunggu dulu… kalian bukan penjaga pos perbatasan yang biasa! Kemana mereka?" tanya ketua patroli dengan rasa curiga.

Sang Paman dan keponakan-keponakannya perlahan bersiaga mempersiapkan kartu-kartu segel senjatanya.

"Mereka dipanggil untuk turut dalam pasukan penyerang tuanku!" jawab sang paman dengan muka gugup dan gelisah. Ketua patroli semakin curiga dengan jawaban sang paman yang terdengar gugup.

- oOo - oOo - oOo -

Di perbatasan wilayah Wirata sekitar seratus tigapuluh orang berjubah hitam diatas kuda meminta izin lewat kepada para penjaga perbatasan kerajaan Wirata.

"Kami datang dengan damai, tolong sampaikan pada sang penguasa Wirata kami pasukan sabit emas, mohon izin untuk melewati wilayah Wirata." Haruma berkata kepada ketua pengawal penjaga pos perbatasan.

"Hmmm… lebih dari seratus orang dari kelompok pembunuh hendak melewati kerajaan kami, kemana maksud perjalanan kisanak sekalian?" Tanya ketua penjaga tersebut.

" Wangsa Dhurma, keluarga yang pernah membuat kesepakatan dengan kami telah musnah! Karena itu kini kami hendak melanjutkan perjalanan ke utara mencari kerajaan untuk kami dapat mengabdi. " Haruma menjelaskan.

" Masa lalu tidak dapat dihapus begitu saja! Dalam keadaan perang seperti ini, permohonan izin sekelompok pasukan bersenjata untuk melewati perbatasan dalam jumlah besar akanlah sulit untuk disetujui oleh kerajaan manapun menafikan keberfihakan kami kesalah satu kubu yang berperang!" Lanjut Ketua penjaga tersebut

" Apalagi kalian adalah sekelompok pembunuh yang memiliki reputasi buruk selama puluhan tahun ini! Kemana Madara pimpinan kalian? " Tanyanya

" Kami berangkat dalam kelompok terpisah untuk menghindari prasangka penyerangan." Jawab Haruma dengan tenang

" Tuan penjaga yang terhormat, bisakah anda mempermudah hal yang anda sebut sulit tadi dengan segera menginformasikan permohonan lewat kami kepada Istana?" Lanjut Haruma

Ketua penjaga itu mendengus kesal. Ia memerintahkan salah satu anak buahnya untuk menginformasikan permohonan lewat dari kelompok sabit emas ke Istana Wirata.

" Silahkan menunggu, mungkin ini akan memerlukan waktu yang lama!" Ketua penjaga itu berkata sambil lalu. Haruma segera memerintahkan pasukannya untuk mencari tempat untuk beristirahat sambil menunggu datangnya kembali pembawa berita dari Istana Wirata.

- oOo - oOo - oOo -

Kembali ke wilayah Chedi tempat dimana kini Narasoma telah tertangkap kehabisan tenaga. Ia hanya bisa bersandar di lokomotif kereta yang telah diselamatkannya sementara puluhan pengawal Istana bersiaga mengarahkan tombak-tombaknya ke arah Narasoma.