Disclaimer : Bleach © Tite Kubo

Warning : OOC, Typo, perusakan karakter, tulisan berantakan *seperti biasa, author ga pernah meriksa ulang*, etc.

.

Desire

.

"Dia seperti hilang ditelan bumi, seperti ada yang sengaja menghilangkan jejaknya."

Ichigo menarik nafasnya kuat-kuat, memijat batang hidung dengan jari telunjuk dan jempol. Wajahnya sedikit meringis pelan, nyaris seperti eskpesi orang kesakitan daripada putus asa. 24 jam terakhir jelas seperti di neraka baginya. Benar-benar sesak tanpa kepastian. Terus mondar madir pada topik yang sama tanpa sedikitpun perkembangan. Kurosaki Ichigo tidak suka dengan hal yang tak pasti, rasanya seperti memacing ikan di air yang belum tentu ada ikannya.

"Bagaimana dengan orang-orang terdekatnya?" tanya Ichigo nyaris menahan nafas.

Orang yang berdiri didepan Ichigo diam sesaat, saling memandang antar sesama rekan, baru kembali memandang takut pada Ichigo. "Hasilnya tetap sama, tidak ada yang tahu diamana Urahara Rukia berada."

Suasana semakin terasa dingin. Tidak ada ekspresi apapun yang ditunjukan oleh sang presiden direktur. Meski itu bukan pertanda baik sekalipun, orang-orang yang sudah menjadi suruhan Ichigo selama 24 jam belakangan tetap sabar menunggu perintah selanjutnya. Apapun yang terjadi, ini adalah profesionalisme kerja. Mereka tidak mungkin menjadi orang suruhan kalau sudah ciut melihat ekspresi dingin sang Kurosaki.

"Kalian boleh keluar," ucap Ichigo kaku lengkap dengan kebekuan. "Tetap lanjutkan pencarian."

Orang-orang suruahan Ichigo membungkukkan badan. Tidak perlu banyak komando dari Ichigo, mereka sudah tahu apa yang harus dilakukan. Seperti robot yang telah di install pengaturan perintah, tanpa sepatah kata mereka berjalan meninggalkan ruangan.

"Masih belum ada hasil. Benar-benar membosankan," ucap Ishida bosan, setia berdiri dibelakang Ichigo. Menemani—lebih tepatnya mengawasi sang atasan agar jangan lepas kendali didepan bawahan. Merpotkan dan—membosankan. Betul-betul paket lengkap yang paling Ishida benci dari Ichigo.

"Kau juga keluarlah, Ishida. Aku ingin sendirian."

Ishida memandang jijik pada Ichigo. "Terima kasih sudah mengkhawatirkanku," sinis Ishida membetulkan posisi kaca mata. " Tenang saja, aku punya asuransi gold kalau tiba-tiba aku terkena tembakan nyasar karenamu,"

Ichigo mengusap wajahnya, lmenggeleng pelan alu tertawa muram. Dan—tanpa diduga-duga laki-laki berambut orange itu entah mendapat tenaga dari mana sudah membalikan meja, mulai membanting semua barang yang bisa dijangkau, benar-benar seperti orang gila lepas kendali.

"Besok aku akan menarik uang dari rekeningmu untuk memperbaiki semua itu," pikir Ishida mengabaikan Ichigo yang terus mengamuk.

Jaraknya memang tidak begitu jauh dari Ichigo, tapi Ishida tidak sedikitpun merasa takut. Ichigo memang sedang frustasi seperti banteng gila, namun lebih dari siapapun Ishida lebih tahu Ichigo tidak akan membahayakan orang lain karena kemarahan yang dibuat oleh diri sendir.i Paling beberapa menit lagi akan berhenti kalau terus didiamkan.

"Sial!" umpat Ichigo pelan. Nafasnya sudah terengah-engah, beberapa tets keringat mengalilr dari pelipis. Mengamuk ternyata bisa terasa habis meraton ribuan mil, namun cukup membantu mengurangi 1% dari 100% kemarahan. Oh… sungguh perbuatan sia-sia.

Kalau saja dengan mengamuk bisa memberi jalan keluar, Ichigo sungguh bersedia mengamuk lebih lama lagi. Tapi selain lelah dan tidak memberikan hasil, mengamuk bnar-benar terdengar sia-sia. Ia berbuat seperti ini tidak akan bisa membuat Rukia menampakan diri. Ia perlu menemukan gadis itu. Bahkan seandainya telah menjadi mayat dan terkubur tiga meter didalam tanah, ia tetap akan menggali tanah itu untuk memastikan itu adalah Rukia. Yang jadi masalah, diamana ia bisa menemukan Rukia? Satu-satu petunjuk selain informasi dari Orihime adalah dari—

"Ishida…"

Ishida kembali melirik bosan. Bosnya sudah berhenti mengamuk toh? Lebih cepat dari perkiraan. "Apa?"

"Ashido Kano."

.

.

.

mmmmm

.

.

.

Ashido menggeram pelan dari dalam selimut. Bunyi gedoran pintu terus bergema kesepenjuru ruangan. Begitu memekakkan telinga ditengah malam sepi begini. Susah payah dari dalam selimut ia menggapai ponsel di meja sebelah tempat tidurnya sambil bersinggut bangun. Wajahnya meringis merasakan sakit kepala berdenyut di pelipis. Sialan, sepertinya ia sudah kebanyakan minum malam ini. Matanya sedikit memicing melihat jam di ponsel. Waktu telah lewat jam dua belas malam, orang gila mana yang sudah seperti seorang petinju profesional memukuli pintu apartemen miliknya.

Meskipun suara ribut terus berdatangan dari pintu apartemen, Ashido tetap berusaha tidak membangunkan gadis yang terlelap disebelahnya, menjaga jangan membuat suara sekecil apapun. Sepelan mungkin turun dari tempat tidur, memakai celana jins yang tergeletak bebas dilantai.

Langkahnya tersandung pelan menuju pintu depan, celananya masih tergantung rendah dipinggul. Dalam situasi kantuk bercampur pusing—karena telah mabuk beberapa jam lalu membuatnya tidak begitu peduli dengan penampilan. Masa bodoh dengan orang yang menunggu didepan pintu akan menilai penampilannya seperti anak berandalan yang habis berpesta seks—umm, pernyataan itu tidak sepenuhnya salah juga sih. Kurang dari empat jam yang lalu ia baru saja mabuk, biasanya dalam keadaan begitu ia bisa membawa dua sampai empat perempuan untuk ditiduri di apartemennya.

Diam-diam Ashido tersenyum bangga, begitu senang dengan fakta bahwa dalam keadaan tidak sadar saja ia bisa membawa sampai empat orang perempuan. Bagaimana kalau seandainya ia tidak mabuk. Pasti—

Bunyi gedoran di pintu semakin terdengar kuat.

"Ughhh… Aku akan mematahkan tulang mereka satu per satu kalau seandainya kedatangan mereka tidak ada artinya," guamam Ashido memutar kunci pintu tiga kali.

"Sia—oh, kau," ucap Ashido malas begitu melihat sosok Kurosaki Ichigo berdiri didepan pintu apartemen bersama beberapa orang pengawal.

"Boleh aku masuk?"

"No," jawab Ashido semakin bosan.

Jawaban Ashido langsung direspon oleh dua orang pengawal Ichigo yang menerobos masuk seolah memberi jalan untuk Ichigo.

"Yang tuan rumah itu sebenarnya siapa sih," gerutu Ashido sedikit tersandung mundur karena dorongan pengawal Ichigo.

Ichigo masuk lebih dari tiga langkah kedalam apartemen, ia tidak melangkah lebih jauh karena langsung berbalik menghapi Ashido yang masih berdiri didekat pintu.

"Ada masalah penting yang ingin kutanyakan padamu, tapi aku belum bisa mengatakannya karena kau terlalu memiliki banyak tamu."

Tamu?

Ashido melirik sekilas sofa yang berada dibelakang Ichigo. A… sepertinya ia sudah tahu yang dimaksud tamu oleh Ichigo.

"Ladies, party it's over. Sekarang aku perlu berkencan dengan makhluk jeruk ini," ucap Ashido santai tanpa merasa siudah mencela seseorang yang jelas-jelas berambut seperti jeruk didalam apartemen.

Suara rengekan pelan terdengar satu per satu.

Jangan tanya apa yang sudah terjadi. Inilah cara Ashido Kano berkencan. Tidak punya batasan, selalu melibatkan banyak gadis. Anehnya, ia tidak pernah ingat karena melakukannya saat mabuk. Tapi tidak jadi masalah baginya, selagi berjalan menyenangkan, why not?

.

.

.

mmmmm

.

.

.

Rukia menggeser pintu kamar tertutup rapat, tidak berusaha menguncinya, namun cukup jelas menunjukan bahwa dia tidak ingin diganggu. Langkahnya melambat ketika mencapai tepi tempat tidur, helaan nafas berat terdenger beberapa saat sebelum dia duduk. Belum lagi memulai istirahat, pintu kamarnya sudah diketuk lagi.

"Masuk," ucapnya pelan, berusaha terdengar anggun. Yah, anggun, berwibawa, dan bla bla bla—semua omong kosong.

"Kau menikmati upacara minum tehnya hari ini?" ucap seorang pria yang baru masuk. Siapa lagi, laki-laki yang beberapa bulan lalu bertabrakan dengannya di lift Seireitei Inc., lalu beberapa hari kemudian begitu giat menelepon mengajak bertemu. Dan sekarang, sudah tinggal bersama.

"Ya,"

"Bagus," ia menganggukkan kepala. "Untuk malam ini akan kubiarkan kau istirahat," ucapnya sebelum keluar.

"Teimakasih."

Dialah Kuchiki Byakuya, pria berdarah bangsawan sekaligus pemimpin dari Kuchiki Corp.—saingan sejati Seireitei Inc. Sejak awal tanpa sengaja Rukia berdiri diantara dua perusahaan yang begitu ketat bersaing, tepatnya berdiri antara Kurosaki Ichigo dan Kuchiki Byakuya. Tidak ada yang mengira kan seorang gadis pelacur menjadi bagian dari keluarga bangsawan?

Rukia mengusap muka lelah yang mulai berminyak, melepas kimono satu per satu dan membuang sembarangan di lantai, masuk kedalam selimut membaringkan tubuhnya yang begitu lelah. Kalau pelayanya melihat penampilan yang begitu tak pantas ini, mungkin mereka akan mulai mengomel. Tapi apa peduli Rukia, tubuhnya begitu lelah dari menghadiri upacara serta pesta-pesta untuk memperkenalkannya pada seluruh klan Kuchiki. Bergerak membersihkan riasan atau segera memakai baju saja lelahnya minta ampun.

Udara malam mulai berhembus dari jendela, membuat Rukia menarik selimut lebih erat, memejamkan mata sambil meresapi aroma bunga lili yang terpajang di vas bunga samping kepala tempat tidur. Bunga dari Ashido, kemarin pemuda itu mengunjunginya sambil membawa lebih dari dua rangkaian bunga lili. Kejutan yang menyenangkan. Diantara semua orang yang mengenalnya, hanya usaha Ashido yang membuahkan hasil untuk menemukannya. Sampai sekarang keluarga angkatnya saja hanya menerima kiriman uang darinya tanpa ada kabar yang jelas. Teman-teman di sekolah, sepupunya… semua sudah hilang kontak sejak wisuda kelulusan. Keluarga Kuchiki tampaknya betul-betul serius ingin memberinya identitas baru sebagai Kuchiki Rukia, bukan Urahara Rukia.

"Hari ini aku bertemu Kurosaki Ichigo di mal."

Perkataan Ashido saat berkunjung kemarin kembali terngiang di kepala Rukia. Membuat gadis itu sedikit berkerut dalam proses tidur.

"Dia sedang berbelanjan bersama seorang gadis. Tubuhnya sama mungil denganmu, tapi sepertinya lebih tua dari kita."

Bukankah itu berita bagus? Ichigo sudah melupakannya, berarti…

Diam-diam Rukia terisak dalam tidur. Sadar tidak sadar, hatinya benar-benar merindukan Kurosaki Ichigo. Pada laki-laki pertama yang dicintainya, dan laki-laki yang sudah membuangnya. Tidak apa, semua baik-baik saja. Lagi pula hubungan mereka tidak mungkin dilanjutkan bila seandainya Kuchiki Rukia ada. Karena Kuchiki dan Kurosaki adalah saingan bisnis. Begitu kata Kuchiki Byakuya. Seperti minyak dan air, persaingan antara kedua keluarga tersebut sudah ada sejak dulu. Menjadi seorang Kuchiki merupakan langkah yang tepat untuk melupakan Kurosaki Ichigo. Sayang tak bisa menghapus fakta ada luka yang tertoreh dari seorang Kurosaki Ichigo, luka itu hingga kini masih tetap abadi.

Rukia meremas mata seketat mungkin, semakin dalam meringkuk kedalam selimut, membiarkan air mata jatuh perlahan membasahi bantal. Untuk kali ini, biar waktu berhenti. Sedikit berimajinasi membayangkan Ichigo masih berada di sisinya, memeluk erat dan begitu menyayangi.

"Temuilah dulu dia, lalu pertimbangkan… dia serius sedang mencarimu…"

"Ichigo…" isak Rukia pelan.

Kalau tahu akan berakhir seperti ini. Seharusnya dulu dia lebih sering menghabiskan waktu bersama mahkluk berkepala orang itu. Dengan begitu, tidak perlu ada perasaan rindu yang begitu membengkak begini.

.

.

.

mmmmm

.

.

.

Ichigo berjalan keluar dari lift. Garis wajahnya masih terlihat kaku, kerutan didahinya tidak pula berkurang. Nafasnya mendengus sebal meningat apa saja yang sudah dibicarakan dengan Ashido Kano. Tidak ada hasil, tidak ada petunjuk, semua asli mentah.

"Kenapa tidak kau gali saja sendiri kuburannya," ucap Ashido sinis menegak minuman besoda ditangan.

Ichigo semakin berkerut marah, mata emasnya terus mengitai Ashido yang begitu santai duduk diatas meja dihadapannya. Meskipun si rambut merah itu adalah tuan rumah, setidaknya ia harus memiliki sopan santun dihadapan tamu.

"Aku pasti akan melakukan hal itu kalau memang tahu diamana makamnya."

"Cih, bullshit. Try to lying, Kurosaki?"

Satu kalimat untuk Ashido Kado dari Ichigo, brengsek. Bocah ini mencoba mempermainakan sikologinya. Ingin sedikit bermain rupanya. Tapi Ichigo sudah cukup dewasa untuk tidak terpancing. Walau cukup emosi, harus ditahan. Satu-satu peluang menemukan Rukia adalah dari bocah sialan ini.

"Dimana aku bisa menemukan Rukia?"

"Kudengar gadis-gadis di club malam milik Matusmoto Rangiku cantik-cantik," Ashido bergumam santai, membuka kaleng kedua minuman.

"Apakah Rukia ada disana?"

Ashido mencibir kecil. "Tidak."

Dahi Ichigo semakin berkerut. Masih… harus bersabar. Ashido semakin ingin bermain. Menghajar si rambut merah ini bisa diurus nanti, setelah menemukan Rukia terlebih dahulu.

Ashido terkekeh pelan. Jelas-jelas wajah Ichigo sudah begitu merah seperti banteng nyaris mengamuk, tapi ia sungguh masih memiliki dendam karena sebuah fakta bagaimana berakhirnya hubungan Rukia dengan si rambut jingga.

"Kalau kau ingin mencari pelacur baru, pergi saja kesana."

"Cukup bermain, Kano," dengus Ichigo, menyilangkan tangan didepan dada, mencoba membuat ekspresi wajah kembali santai.

"Kalau begitu, silahkan pulang."

Ichigo melempar silau kematian, Ashido membalasnya dengan seringai kecil. "Adakah alasan khusus aku memberitahumu dimana Rukia?"

"Aku mencarinya."

"Yeah, aku juga mencarinya, keluarga Urahara juga. Banyak orang yang mencarinya. Kalau kau datang dengan membawa alasan seperti itu, benar-benar terlalu dangkal. Lebih baik—"

"Aku mencintainya," potong Ichigo.

Ashido terdiam, meremas kaleng minuman pelan. Matanya langsung menatap dalam-dalam pada Ichigo. Ada keseriusan disana.

Cinta?

Semudah itukah cinta datang pada manusia berhati dingin seperti Kurosaki Ichigo? Ashido ingin tidak mempercayai, tapi mata itu begitu serius menatapnya. Apakah ini namanya tatapan tipuan seorang pebisnis sukses, atau…

Ashido memalingkan kepala ke jendela. "Pulanglah."

"Kau pikir aku akan pergi sebelum mendapat informasi dimana Rukia?"

"I see, kau itu keras kepala. Mirip seperti Rukia. Kau tahu, Kurosaki?" Ashido menoleh sejenak pada Ichigo, lalu kembali ke jendela. "Aku juga merindukan Rukia."

"Lalu, dimana dia?"

"Untuk saat ini—aku hanya bisa menyuruhmu untuk pulang."

"Hentikan omong kosong ini!" geram Ichigo mengertakkan giginya. "Cepat beritahu—"

"Kalau kau serius mencintainya, seharusnya kau mengikuti kata-kataku," potong Ashido berdiri, meregangkan otot-otonya yang masih begitu kaku dari pesta kecilnya beberapa jam lalu.

"Hanya bersabar, Kurosaki. Tunggulah beberapa waktu dulu. Apakah Rukia masih hidup, atau sudah mati, cepat lambat kau pasti akan tahu."

Ichigo menggeram rendah, mempercepat langkah menuju pintu apartemen. Ashido berjanji secepatnya ia akan tahu kabar mengenai Rukia. Namun nyatanya samapai sekarang ia belum mendapat berita apapun. Ini bahkan sudah lewat seminggu. Ashido Kano sialan!

Langkah Ichigo tersandung saat keluar dari lift. Ada sesuatu. Sesorang sedang berdiri di depan pintu apartemennya. Lebih tepatnya seorang gadis bertubuh mungil yang berdiri disana. Mungkin gadis itu tidak sadar dengan kehadiran Ichigo, karena punggungnya membelakangi Ichigo.

Dengan langkah yang berdebar-depar, Ichigo mendekati gadis tersebut. Perasaan gugup langsung menyelimuti. Dalam seumur hidupnya, baru pertama kali ia merasa begitu gugup begini. Mungkin karena ada campuran panik dan terkejut yang membuatnya begitu pelan melangkah.

Apakah mungkin ini mimipi?

Tangan Ichigo gemetar menyentuh pundak gadis itu. membuat si mungil tersentak pelan karena gerakan kejutan dari tangan.

Bagi Ichigo, waktu terasa berhenti. Semuanya berhenti, nafas, indra, sampai aliran darah sekalipun. Hanya jnatungnya yang memukul-mukul dari dalam seolah akan keluar.

Dengan suara parau, Ichigo membuka mulutnya "Ru…kia?"

.

.

To be continued…

Yah… Mey kembali….

Rasanya dah terlalu lama menunda pempublishan fic ini. Yah… jujur, Mey ga da niat buat nahan kok. Banyak sms masuk dan juga pesan di twitter plus FB dah membuat Mey pengen banget publish ni fic. Meskipun seandainya bulan puasa kemarin dalam otak ada lemon, Mey pasti publish kalau memang idenya ada dan—matang. Tapi beginilah nasib author satu ni, tiap bikin fic pasti—selain berantakan—selalu matang di awal dan mentah di akhir. Jadinya abal-abal dan sangat gaje sehingga jadi mudah ditebak jalan ceritanya

U_U

Sempat di kacaukan ma drama Korea di TV. Masalahnya setiap kali Mey mencari ide dg menonton DvD drama Korea—setelah nonton ampe tamat—ehh… tau-tau tu drama langsung ada di TV. For ex. My Princess, Oh! My Lady, etc…

Ughhhhh… poor me….

Pengen teriak…. Aku ga da ideeeeee! Huweee~ Yesung…. Peluk aku dung…. *ga da hubungannya deh…

Jadi, Mey benar-benar minta maap karena dah jadi author yang mengecewakan para readersnya…

Pokoknya beribu-ribu minta map yah…

Untuk chapter mendatang, sepertinya akan di update lama, selasa nanti Mey kembali sibuk… maklum, cuma waktu libur aja Mey bisa ngetik fic…

Hhh… sapertinya Mey dah kepanjangan curhat… yah…. Sekali lagi maapkan Mey yang sudah jadi author yang buruk… u_u'

Oiya… for all cloud… Let's says happy birth day for Yeppa (Yesung oppa), he's have birth day at 24th August… Saranghaeyo oppa…

Tolong tinggalkan review agar Mey bisa tahu isi kepala readers tentang chap ini..

n_n

Oke, kalimat copas chap kemarin :

Yang berbaik hati membaca dan memberi review, Mey ucapakan terimakasih…

Selalu, pereview adalah yang terbaik…

n_n

Mind to R & R?