-happy reading-

.

.

...I tried to give up anything as strong as you, will never be able, if love is even greater...

.

.

Seulgi melangkah menuju salah satu ruangan yang ada di rumah sakit Asklepios Klinik Barmbek yang terletak di kota Hamburg, Jerman. Rumah sakit Asklepios Klinik Barmbek merupakan salah satu rumah sakit terbaik didunia. Seulgi mendapat informasi dari teman saudaranya yang tinggal di Hamburg bahwa Sehun tengah menjalani pengobatan di rumah sakit tersebut.

Di putarnya knop pintu kayu itu perlahan. Di dalam sana, dia dapat melihat Sehun yang tengah mengobrol dengan seorang perawat menggunakan bahasa Jerman yang tidak diketahuinya. Gadis itu menatap Sehun sendu. Teman sekelasnya itu nampak lebih kurus dari sebelumnya.

"Sehun-ssi!" panggilnya pelan begitu dilihatnya perawat itu keluar.

Sehun yang merasa namanya disebut menoleh. Dan betapa terkejutnya ia saat dilihatnya Seulgi berjalan menghampirinya.

"Seulgi-ssi? Apa yang kau lakukan disini? Bagaimana bisa-"

Seulgi langsung memeluk Sehun erat.

"Apa yang membawamu kemari, huh? Bagaimana kau bisa tahu kalau aku disini?" tanya Sehun.

Seulgi melepas pelukannya dan menatap Sehun lurus. "Aku mau minta maaf padamu karena selama ini sudah membencimu. Dan bagaimana aku bisa tahu kau ada disini, ini sudah zaman modern Sehun-ah. Jadi mudah saja bagiku untuk menemukanmu. Kau tahu, aku sangat merindukanmu," jelasnya panjang lebar.

"Terus, apa kau juga memberitahu keberadaanku pada yang lainnya?"

Seulgi menggeleng. "Belum."

"Berarti akan?"

"Entah."

Sehun langsung menggenggam tangan Sehun erat. "Aku mohon, Seulgi-ah. Jangan beritahu siapapun kalau aku disini, ne."

Seulgi menghela napas panjang. "Baiklah. Jika itu permintaanmu, aku tidak akan memberitahukannya pada siapapun."

"Janji?"

Seulgi tersenyum. "Janji."

"Um...Seulgi-ssi, bisakah kau menemaniku jalan-jalan disekitar rumah sakit ini?" pinta Sehun.

Seulgi mengangguk. "Tentu." Dia lalu mengambil kursi roda yang ada di pojok ruangan tersebut dan membantu Sehun duduk di atasnya.

Seulgi membawa Sehun ke taman yang terletak di belakang gedung rumah sakit. Sehun nampak sangat senang. Senyum lebar nampak jelas dari raut wajahnya.

"Huaaaaa akhirnya aku bisa menghirup udara segar!" serunya senang. "Kau tahu, Seulgi-ya. Selama aku berada di rumah sakit ini baru sekarang aku bisa jalan-jalan keluar."

"Benarkah? Wah, itu pasti sangat membosankan."

"Yaps, kau benar. Sangat-sangat membosankan."

"Tsk, aku menyesal karena telah iri padamu, Sehun-ah. Kau benar, justru kau yang seharusnya iri padaku." Seulgi tertawa miris. "Hh, aku sungguh sangat menyesal."

Dia lalu berjongkok di hadapan Sehun. "Sehun-ah..."

"Ne, waeyo?"

"Bisakah aku menjadi temanmu?" pinta Seulgi.

Kening Sehun berkerut. "Bukankah kita selama ini adalah teman?"

Seulgi menggeleng. "Aniya. Aku ingin kau dan aku berteman seperti kau yang berteman dengan Baekhyun dan juga Kyungsoo."

"Sahabat maksudmu?"

"Ne. Sahabat. Eottae?"

Sehun tersenyum. "Tentu saja. Kau bisa kok menjadi sahabatku."

Seulgi lalu memeluk Sehun erat. "Gomawoyo, Sehun-ah. Jeongmal gomawoyo."

Seulgi kemudian melepas pelukannya. "Ngomong-ngomong, kau tidak merindukan Chanyeol Oppa?" tanya Seulgi.

Sehun tersenyum miris. "Tentu saja aku merindukannya."

"Err...bagaimana kalau aku merekam suaramu?"

"Ne?"

"Kalau aku kembali ke Seoul nanti, akan ku berikan pada Chanyeol Oppa."

"T-tapi, bagaimana kalau dia tahu keberadaanku?"

"Tentu saja tidak. Aku akan berikan padanya secara diam-diam."

Sehun tersenyum lebar. "Arasseo. Kalau begitu aku mau."

Seulgi lalu mengeluarkan ponselnya dari dalam tasnya dan mulai merekam suara Sehun.

"Oke." Seulgi tersenyum lebar saat dia sudah selesai merekam suara Sehun. Namun dahinya berkerut saat dilihatnya Sehun yang mulai terisak.

"Kau menangis, Sehun-ah?" tanyanya.

Sehun langsung menghapus air matanya dan menggeleng cepat. "A-aniya."

Seulgi langsung memeluk gadis itu, mencoba menenangkannya. "Menangislah..."

"Hiks..." Sehun kembali terisak di pelukan Seulgi.

"Kau pasti bisa melalui ini semua. Aku yakin itu," ucap Seulgi mencoba menyemangati Sehun. Dia lalu melepas pelukannya dan mengusap air mata yang mengalir di pipi mulus Sehun.

"Jangan menangis lagi, ne. Aku jadi ikutan sedih jika kau menangis."

Sehun mengangguk mengiyakan.

Seulgi tersenyum melihatnya. "Hari sudah mulai gelap. Ayo, kita kembali ke ruanganmu." Dia lalu mendorong kursi roda Sehun menuju ke gedung rumah sakit.

"Sehun-ssi, maafkan aku. Aku harus pulang sekarang," ucap Seulgi begitu dia telah mengantar Sehun ke ruangannya.

"Ne? Kenapa cepat sekali?"

"Aku hanya minta izin selama dua hari saja." Dia lalu memeluk Sehun. "Maafkan aku, ne. Aku janji, suatu saat nanti jika hari libur tiba, aku akan mengunjungimu lagi."

"Baiklah, aku akan menunggumu."

.

.

Seulgi melangkahkan kedua kakinya perlahan menuju ke kelas Chanyeol. Di tangannya terdapat sebuah kotak kado yang tidak terlalu besar. Matanya sedari tadi tak henti-hentinya melirik ke kanan dan ke kiri, merasa was-was takut ada yang melihatnya. Padahal suasana sekolah masih sangat sepi. Ya, karena ini masih jam 06.04 a.m. Masih terlalu pagi bagi seorang siswa berangkat ke sekolah.

Gadis itu lalu menaruh kotak yang dibawanya tadi ke atas meja Chanyeol. Jantungnya sudah dagdigdug sedari tadi. Dia betul-betul takut kalau ada yang melihatnya. Beruntung, CCTV yang ada di sekitar kelas tersebut sedang di perbaiki. Jadi, tidak akan ada yang tahu kalau dia yang menaruh kotak kado tadi ke meja Chanyeol.

Seulgi menghembuskan napas lega begitu dia masuk ke dalam kelasnya. Senyum merekah tampak terlihat dari kedua bibirnya.

"Hh! Akhirnya."

.

Chanyeol nampak sedang memasuki ruang kelasnya. Di sebelahnya juga ada Jongin dan juga Jongdae. Keningnya berkerut saat dilihatnya ada sebuah kotak kado di atas mejanya.

"Woah...kau dapat hadiah, Chan?" ucap Jongin. Dia lalu mengambil kotak kado tersebut. "Sepertinya ini dari penggemarmu."

Diatas kotak kado tersebut terdapat secarik kertas. Di atas kertas tersebut terdapat tulisan :

-Buat Park Chanyeol-

Tulisan tersebut berupa ketikan, bukan tulisan tangan. Seulgi sengaja melakukannya karena jika dia menggunakan tulisan tangan, maka Chanyeol akan dengan mudah mengetahui siapa pengirimnya.

"Buat Park Chanyeol. Boleh aku buka, Chan?" tanya Jongin.

Chanyeol langsung merebut kotak tersebut dari tangan Jongin, dan dibukanya. Keningnya semakin berkerut saat dilihatnya isi kotak tersebut yang ternyata hanyalah sebuah kepingan CD.

"Apa diantara kalian ada yang membawa laptop?" tanya Chanyeol.

Jongin dan Jongdae menggeleng.

Tanpa banyak pikir Chanyeol langsung memasukkan kepingan CD tersebut dan berlari keluar dari kelasnya.

"Woi Chan! Kau mau kemana, huh?" teriak Jongdae. Namun Chanyeol terus berlari tanpa menghiraukan teriakan Jongdae barusan.

.

Ternyata Chanyeol kembali ke rumahnya. Dia langsung mengambil laptop diatas meja belajarnya begitu dia memasuki kamarnya. Di nyalakannya laptop tersebut dan dimasukkannya kepingan CD tadi ke dalam CD-Drive.

Disana terdapat sebuah file yang berformat .amr.

"Sepertinya ini sebuah voice recording ?" gumam Chanyeol. Dia lalu mengklik file tersebut.

"Hai Chanyeol Oppa!"

Deg

"S-sehun-ah..." Chanyeol menatap tak percaya layar laptop dihadapannya. Dia nampak syok begitu mendengar rekaman suara tersebut yang ternyata adalah suara Sehun.

"Bagaimana kabarmu, Oppa?"

"Kabarku baik, Sehunie."

"Kabarku baik-baik saja. Oh, ya. Aku sungguh minta maaf karena kepergianku yang mendadak dan tidak pamit secara langsung sama Oppa."

Chanyeol menatap layar laptop dihadapannya sendu. Air mata sudah mengalir deras di kedua pipinya.

"Satu hal yang aku minta dari Oppa. Oppa jangan mencariku, ne. Aku mohon."

"Aku sangat merindukanmu, Oppa."

"Aku juga sangat merindukanmu, Sehunie."

"Oppa sudah membaca surat dariku, kan? Aku minta maaf jika suratnya sedikit lusuh. Itu karena aku menulisnya sambil menangis."

"Oppa, meskipun saat ini aku jauh darimu, aku akan tetap mencintaimu."

"Aku juga mencintaimu, Sehunie."

"Oppa tidak perlu mengkhawatirkan aku. Aku disini baik-baik saja, kok. Tidak ada yang perlu di khawatirkan."

"Terakhir, aku minta maaf Oppa. Jeongmal mianhae. Aku mencintaimu. Annyeong."

Chanyeol lalu mengusap air matanya kasar begitu rekaman itu berakhir. Ditutupnya laptop dihadapannya itu cepat tanpa mematikannya terlebih dahulu. Dia kemudian bergegas pergi dari kamarnya tersebut.

.

Chanyeol kembali ke sekolahnya. Dia berlari menuju ke kelasnya dan dilihatnya pintu kelasnya yang sudah tertutup. Itu berarti jam pelajaran sudah berlangsung didalam sana.

Dia lalu kembali berlari ke pos satpam. Mencari tahu siapa yang mengiriminya CD tadi.

"Ahjussi! Apa Ahjussi tahu siapa seseorang yang memasuki kelasku pagi-pagi tadi?" tanya Chanyeol begitu tiba dihadapan Pak satpam.

"Kalau itu saya tidak tahu."

Chanyeol lalu mengacak rambutnya kasar."Aish...jinjja?"

"Park Chanyeol-ssi!" panggil Heechul Saem.

Chanyeol langsung menoleh begitu namanya dipanggil. "N-ne, Saem."

"Kau tidak masuk ke dalam kelasmu?" tanya Heechul Saem.

"Aniya, Saem. Aku terlambat."

Heechul Saem geleng-geleng kepala dan berdecak pelan. "Kembangkan," lanjutnya lalu melangkah pergi dari sana.

Chanyeol melangkahkan kedua kakinya menuju ke rooftop sekolah. Di lihatnya pemandangannya dibawah sana penuh tanya.

"Siapa sebenarnya yang mengirim rekaman itu?" gumamnya. "Arrrggghhh... Kenapa CCTV pakai rusak segala, sih?" gerutunya.

.

Chanyeol bergegas menuju ke kelas Baekhyun begitu bel istirahat telah berbunyi. Dihampirinya Baekhyun yang baru saja selesai membereskan alat tulisnya.

"Baekhyun-ssi!" panggil Chanyeol.

"Chanyeol Sunbae? Apa yang Sunbae lakukan kemari? Apa Sunbae mau bertanya keberadaan Sehun lagi padaku? Maaf, kalau tentang itu lagi, sebaiknya Sunbae pergi dari sini."

"Aniya. Aku tidak akan bertanya hal itu lagi padamu."

"Lalu?"

"Tadi ada yang mengirimiku compact disc yang berisi rekaman suara Sehun."

"Mwo?" Baekhyun terlonjak kaget. "B-benarkah? Mana?"

"Ada di rumahku sekarang."

"Kalau begitu, ayo kerumah Sunbae sekarang."

Mereka lalu melangkah keluar dari ruang kelas tersebut.

"Kyungsoo-ya, ayo." Baekhyun langsung menarik pergelangan tangan Kyungsoo begitu dilihatnya gadis bermata bulat itu keluar dari ruang guru.

"Yak kemana?" tanya Kyungsoo.

"Kerumah Chanyeol Sunbae," jawab Baekhyun.

"Mwo? Ngapain?"

"Sudahlah, nanti kau juga akan tahu."

.

"Huaaaaa Sehunie...! Hiks..." Baekhyun langsung menangis sekencang-kencangnya begitu dia mendengar rekaman suara Sehun. Chanyeol yang ada disana sampai menutup kedua lubang telinganya saking kencangnya.

"Yak Byun Baekhyun! Hiks...pelankan suaramu. Malu hiks sama tetangga tahu. Hiks..." tegur Kyungsoo sambil terisak.

"T-tapi ini..."

"Aku tahu. Hiks, kau kira kau saja yang sedih, huh? Aku juga," ujar Kyungsoo melas.

Baekhyun lalu beralih menatap Chanyeol yang hanya diam sambil berdiri menatap lantai kamarnya.

"Sunbae!" panggil Baekhyun.

"N-ne?" sahut Chanyeol sedikit terkejut.

"Darimana Sunbae mendapatkan CD itu?" tanya Baekhyun.

"Ada yang menaruhnya di meja kelasku," jawab Chanyeol.

"Nugu?"

Chanyeol berdecak kesal. "Justru itu aku ingin tahu!" teriaknya sedikit emosi.

Baekhyun yang mendengarnya langsung diam. Tidak berani bertanya pada Chanyeol lagi. Ternyata bukan hanya dia yang agak sensitif jika menyangkut soal Sehun, tetapi Chanyeol juga demikian.

.

.

Dua Tahun Kemudian...

"Arrrggghhh... Kenapa harus salah semua?!" Chanyeol mengacak rambutnya frustasi sambil menatap layar laptop didepannya. Tugas yang diberikan oleh dosennya ternyata salah semua, dan hal itu membuatnya harus mengerjakannya ulang.

"Hh!"

Chanyeol menatap nanar layar laptop didepannya. Akhir-akhir ini dia terus kepikiran akan Sehun. Dan sudah empat kali pula dia mendapatkan compact disc yang berisi rekaman suara Sehun sejak dua tahun yang lalu. CD yang ketiga dan ke empat bukan lagi ditaruh diatas meja kelasnya, karena dia sudah berada dibangku perkuliahan sekarang. Melainkan ditaruh didepan gerbang rumahnya. Sama seperti sebelum-sebelumnya, CD tersebut juga ditaruh ke dalam kotak kado. Menurut Chanyeol, pengirim dari ke empat CD itu adalah orang yang sama. Dilihat dari kotak kado yang dipakainya, warnanya selalu sama, merah maroon. Dan sampai saat ini, Chanyeol masih tidak mengetahui siapa pengirim CD tersebut.

"Chanyeol-ssi, kau kenapa, huh?" tanya Han Seolbin, gadis yang akhir-akhir ini selalu mencoba mengambil hati Chanyeol. Dia juga berada di kelas dan jurusan yang sama dengan Chanyeol, seni musik modern.

"Tidak apa-apa," jawab Chanyeol datar.

Seolbin lalu duduk dihadapan Chanyeol. "Chanyeol-ssi, bisakah kau nanti malam menemaniku jalan-jalan ke Myeongdong?" pinta Seolbin.

"Mwo? Menemanimu?" Chanyeol lalu berdecih. "Yak Seolbin-ssi. Kau tahu, betapa pusingnya aku memikirkan tugas-tugas ini, huh? Dan kau, malah menyuruhku menemanimu jalan-jalan ke Myeongdong? Tsk, maaf, aku tidak bisa," tolak Chanyeol mentah-mentah. Dia kemudian memasukkan laptopnya kedalam tas dan beranjak pergi dari sana. Mengabaikan Seolbin yang terus saja meneriakinya. Dia sudah tahu maksud dari Seolbin yang terus saja mengusiknya. Gadis itu menyukainya. Tapi Chanyeol tetaplah Chanyeol, dia tidak akan bisa menghianati cinta dari Sehun.

.

Chanyeol melangkahkan kedua kaki jenjangnya ke taman yang dia dan Sehun pernah datangi dua tahun yang lalu. Sudah sangat lama dia tidak pernah datang lagi ketempat ini. Terakhir kali dia kesini saat dia pertama kali berkencan bersama Sehun dulu. Tempat ini masih sama, tidak ada yang berubah.

Chanyeol berjalan melewati jalanan yang berabat beton dan berhenti disebuah bangku panjang, dan merupakan bangku yang pernah dia duduki dulu bersama Sehun.

Didudukinya bangku tersebut. Kenangan dua tahun lalu bersama Sehun ditempat ini masih tersimpan rapi di dalam memorinya. Dia tidak akan pernah lupa masa-masa itu.

Chanyeol lalu memegang kalung yang melingkar indah dilehernya. Kalung dengan liontin berbentuk bulan sabit pemberian dari Sehun itu masih tetap dipakainya hingga saat ini. Satu-satunya kenangan dalam bentuk benda dari Sehun.

"Sehun-ah, dua tahun sudah aku menunggumu. Perasaan ini masih sama, tidak akan pernah berubah. Aku tetap mencintaimu, seperti saat dua tahun yang lalu," gumamnya. Dia lalu menghela napas panjang. "Kapan kau akan kembali, Sehun-ah? Aku sudah sangat merindukanmu."

Hari sudah mulai gelap, Chanyeol lalu bangkit dari duduknya dan beranjak pergi dari taman tersebut.

Chanyeol turun dari dalam mobilnya saat matanya tak sengaja melihat suatu benda di depan pintu gerbang rumahnya. Keningnya berkerut begitu mengetahui kalau benda tersebut ternyata sebuah kotak kado yang sama dengan kotak kado yang sering diterimanya.

Tanpa babibu Chanyeol langsung mengambil kotak tersebut dan berlari memasuki rumahnya.

Ternyata isi kotak itu sama seperti sebelumnya, yaitu kepingan CD. Dia lalu mengambil laptop yang ada didalam tasnya dan menghidupkannya.

Keningnya berkerut saat dilihatnya file didalam CD tersebut bukan sebuah voice recording, melainkan sebuah video recording. Tanpa pikir panjang Chanyeol langsung memutar video tersebut.

Deg

Chanyeol nampak syok begitu video itu terputar. Didalam video itu nampak terlihat Sehun yang tengah duduk disebuah kursi panjang. Di belakangnya terlihat banyak tumbuh beberapa jenis bunga yang tampak bermekaran.

"S-sehun-ah..." gumam Chanyeol lirih. Air mata sudah mengalir deras di kedua pipi mulusnya.

"Hai Chanyeol Oppa! Apa kabar? Kau pasti sangat terkejut ya melihatku seperti ini."

Sehun terlihat sangat kurus daripada dua tahun yang lalu saat dia belum berangkat ke Jerman.

"Aku sangat kurus ya, Oppa?"

"Apa kau habis bangun tidur, Sehun-ah?" Pasalnya Sehun terlihat mengenakan piyama. Dan jangan lupakan penutup kepala yang melekat indah di kepalanya.

"Oppa pasti kecewa ya melihatku yang seperti ini...? Aku minta maaf."

Sehun lalu tersenyum sangat manis yang memperlihatkan eye smilenya.

"Ani, Sehun-ah. Kau masih terlihat sangat manis."

"Oppa tahu, aku merasa sangat bahagia sekarang. Karena...aku sudah sembuh yeeeyyy..."

Chanyeol tersenyum lebar. "Benarkah itu, Sehun-ah? Aku turut senang mendengarnya."

"Tapi aku belum bisa pulang sekarang. Aku masih harus menjalani pengobatan lagi untuk pemulihan. Aku ingin pulang dalam keadaan gemuk."

"Oppa, tunggulah aku. Aku akan kembali sebentar lagi. Aku janji."

"Kau selalu mengatakan hal itu, Sehun-ah."

"Oppa, langit disini sudah mulai gelap. Aku harus kembali ke ruanganku. Maaf, aku harus mengakhiri video ini."

"Oppa! Ich liebe dich... Annyeong!"

"Nado, saranghaeyo Sehun-ah."

.

.

"Yak, harusnya Chanyeol Sunbae yang mendatangi kita, bukan kita yang mendatangi dia," gerutu Kyungsoo.

"Diamlah," tegur Baekhyun. Keduanya kini berada didepan kampus tempat Chanyeol menuntut ilmu, Seoul National University.

"Kenapa Chanyeol Sunbae tidak menyuruh kita menunggunya ditempat lain saja, sih? Kau tahu, semua orang yang lewat disini sedari tadi terus memerhatikan kita."

"Wajarlah. Kita kan orang asing disini. Dan kita cukup cantik. Jadi wajar kan, jika kita menjadi pusat perhatian," ujar Baekhyun percaya diri.

"Ya ya ya. Terserahmu sajalah."

"Hh! Kenapa aku dulu tidak bisa lulus di universitas ini, ya?" kata Baekhyun sedih.

Kyungsoo yang mendengarnya berdecih pelan. "Itu karena kau tidak cerdas."

"Kau juga," balas Baekhyun.

"Memang." Kyungsoo lalu memukul pundak Baekhyun sedikit keras yang membuat siempunya terlonjak kaget.

"Wae?!"

"Bukannya itu Seulgi?" tunjuk Kyungsoo kearah seorang gadis yang sedang berjalan menuju ke arah mereka.

"Ne, kau benar. Itu memang Seulgi."

"Woah, dia bisa masuk ke universitas ini?"

"Tentu saja. Dia kan cerdas. Alumni kelas A lagi." Baekhyun lalu memanggil Seulgi begitu gadis itu mulai dekat dengan mereka. "Seulgi-ssi!"

"Baekhyun? Kyungsoo? Apa yang kalian lakukan disini?" tanya Seulgi begitu dia tiba dihadapan keduanya.

"Kami sedang menunggu Chanyeol Sunbae. Apa kau melihatnya?"

"Aniya. Kami beda jurusan. Jadi aku jarang melihatnya."

"Oh, begitu ya. O, ya. Kau dapat salam dari Jongdae Oppa."

"Benarkah?" Seulgi tampak malu-malu mendengarnya.

"Ne."

"Bilangin ke dia, salam balik dari aku, ne."

"Arasseo."

"O, ya. Ngomong-ngomong ada perlu apa kalian menunggu Chanyeol Oppa?"

"Katanya sih ada hal penting yang ingin dibicarakannya. Mungkin ini tentang CD yang dikirimkan kepadanya. Katanya sih dia mendapat CD lagi."

"Ne?" Seulgi langsung tegang mendengarnya.

"Sampai saat ini kami tidak tahu siapa pengirimnya."

"O-oh."

"Waeyo Seulgi-ssi? Kenapa kau tampak tegang?" tanya Kyungsoo begitu melihat gelagat aneh Seulgi.

"A-aniyo. Aku kebelet, nih. Aku duluan teman-teman!" Seulgi lalu pergi meninggalkan tempat itu. Takut mereka mengetahuinya kalau sebenarnya dirinyalah yang mengirim CD-CD itu.

"Dia kenapa?" tanya Baekhyun pada Kyungsoo.

Kyungsoo mengendikkan bahunya tak tahu.

.

Chanyeol terlihat keluar dari gedung fakultas seni. Dia melangkah dengan sedikit buru-buru. Di belakangnya ada Seolbin yang terus mengikutinya.

"Chanyeol-ssi, kau mau kemana? Bukankah masih ada mata kuliah lagi setengah jam lagi?"

"Bukan urusanmu aku mau pergi kemana," sahut Chanyeol dingin sambil terus melangkah.

"Chanyeol-ssi!"

Chanyeol berhenti didepan pintu gerbang universitasnya begitu dilihatnya Baekhyun dan Kyungsoo sudah menunggunya disana. Seolbin tetap mengikutinya tanpa berniat untuk pergi dari sisi Chanyeol.

"Apa kalian sudah menungguku dari tadi?" tanya Chanyeol.

"Ya. Kami sudah menunggu Sunbae dari satu jam yang lalu," jawab Baekhyun sedikit kesal.

"Aku minta maaf. Tadi ada praktek mendadak," sesal Chanyeol.

"Dia siapa?" tanya Kyungsoo saat dilihatnya Seolbin yang berdiri disebelah Chanyeol.

"Dia-"

Seolbin langsung memotong perkataan Chanyeol. "Perkenalkan, aku Han Seolbin, yeojachingunya Chanyeol-ssi," ujarnya sambil mengulurkan tangan kanannya ke hadapan Kyungsoo.

"MWO?/MWO?/MWO?" teriak ketiganya kompak.

"Jangan dengarkan dia. Aku masih sangat mencintai Sehun," kata Chanyeol. "Ayo, kita pergi dari sini." Dia lalu melangkah menuju ke tempat mobilnya terparkir diikuti Baekhyun dan Kyungsoo dibelakangnya.

"Yak, kalian mau kemana, huh?" teriak Seolbin. Dia lalu menyusul ketiganya, namun mereka sudah berada didalam mobil dan malah melaju melewatinya.

"Chanyeol-ssi!"

.

Chanyeol menghentikan mobilnya di tepi sungai Han. Mereka lalu keluar dari dalam mobil.

"Apa yang ingin Sunbae bicarakan?" tanya Baekhyun to the point.

"Aku mendapat CD lagi," jawab Chanyeol sambil menatap air sungai Han yang tenang.

"Terus?"

"Kali ini bukan lagi voice recording, tetapi video recording."

"MWO?/MWO?" teriak keduanya kompak.

"B-benarkah?" tanya Kyungsoo tak percaya.

Chanyeol lalu membuka tas punggungnya dan mengeluarkan sesuatu dari dalam sana.

"Nih," ujarnya sambil menyerahkan sebuah CD kepada Kyungsoo.

Kyungsoo lalu menerima CD tersebut. "S-sunbae serius, ini video recording?"

"Aku selalu serius."

.

Sama seperti sebelum-sebelumnya, Baekhyun dan Kyungsoo selalu heboh jika sudah melihat rekaman-rekaman suara Sehun. Tapi kali ini lebih heboh lagi, karena yang di lihat sekarang adalah video.

"Huaaaaaa Sehunieeee ! Kenapa kau jadi seperti ini ?!" tangis Baekhyun heboh.

"Sehun-ah hiks... Kenapa hanya Chanyeol hiks... Sunbae saja yang kau beri rekaman dirimu? Kenapa hiks... aku tidak? Huaaa eomma...!" isak Kyungsoo.

"Yak, bisakah kalian berhenti berteriak, huh? Gendang telingaku mau pecah mendengarnya," protes Jongdae.

"Aku nggak peduli huaaaaa!"

Jongdae lalu mengacak rambutnya kasar. "Aishh jinjja?" Dia lalu beralih pada Jongin yang sedang asyik bermain PSP di lantai kamar Baekhyun. "Jong, bisakah kau suruh dua curut itu diam,eoh?"

"Kau siapa, huh? Berani nyuruh-nyuruh aku," sahut Jongin.

"Astaga! Apa salah dan dosaku Tuhan, sampai aku bisa punya teman dan sepupu modelnya kayak gini? Akhh..."

Baekhyun langsung melempar bantal yang penuh air mata serta ingusnya tepat ke wajah Jongdae, yang membuat namja itu jatuh tersungkur kebelakang saking kerasnya.

"Hahaha !" tawa Jongin pecah begitu melihat temannya tersebut jatuh dengan tidak elitnya.

"Berani bilang seperti itu lagi, giliran benda itu yang akan melayang selanjutnya," kata Baekhyun tajam sambil menunjuk tongkat baseball yang ada di dekat lemari pakaiannya.

Jongdae yang melihatnya langsung duduk anteng disebelah Jongin. Takut jika Baekhyun melemparinya betul dengan tongkat baseball.

.

.

Tbc...

Haloha...!

Sepertinya tinggal 1-2 chapter lagi ff gaje ini bakalan END.

Ff ini HAPPY ENDING kok.

Seperti biasa, ditunggu reviewnya !