.

.

.

BEAUTIFUL AVANGER

The Character is belong to Masashi Kimoto-san

Story by

7 Gold

Rated T+ and M

Warning: M disini bukan untuk scane Lemon yang belum tahu akan Gold adakan atau tidak. Rate M disini adalah untuk scane pembunuhan ataupun hal-hal lain yang tidak seharusnya ada di Rate T

Genre: Tragedy, Humor, Fantacy, Romance, Hurt/Comfort, Family, Friendship

Warning: AU, AT, Typo (s), OOC, Alur gaje, Cerita se-mau-gue!

Happy Reading!

.

.

.

DLDR

.

.

.

Chapter 14

Setelah mendengar informasi dari Tenten. Hinata dan Naruto segera mengambil keputusan untuk mengejar Kisame. Namun baru saja Naruto akan menyalakan mesin mobil. Suara Hinata sudah terlebih dahulu mengintrupsi.

"Menunduk! Naruto!" ucap gadis itu

Dan sesuai perintah Hinata, dengan refleksnya yang bagus Naruto segera menundukkan kepalanya. Tak lama setelahnya terdengar suara deru motor yang berhenti tepat 10 meter dari tempat mobil mereka terparkir.

Kedua remaja itu berusaha untuk mengintip. Dan disana menjulang dengan angkuh seorang pria yang sangat mereka kenali. Kisame. Langkahnya terdengar tegap dan pasti. Dia melangkah kesalah satu bangunan yang ada didekat sana. Tak lama setelahnya pria mengerikan itu masuk kedalam dan hilang.

Melihat keadaan terasa aman. Hinata dan Naruto segera turun dari mobil dan berjalan menuju bangunan yang beberapa saat lalu dimasuki oleh Kisame. Keadaan sekitar bangunan itu benar-benar terlihat hening dan menyeramkan. Keduanya mengawasi dari teras sebuah bangunan yang berada persis disamping bangunan tempat Kisame menghilang beberapa saat lalu.

Dan dilihat dari kondisinya sepertinya ini adalah bangunan yang sudah tidak dipakai.

Kedua remaja ini masih bertanya-tanya, sebenarnya bangunan apa ini. Dan kenapa bajingan gila itu masuk kedalam sana. Karna awalnya mereka memilih daerah ini sebagai tempat persembunyian adalah agar jika terjadi sesuatu di arena pembunuhan mereka bisa langsung membantu rekan mereka. Melihat daerah ini yang dekat dengan arena pembunuhan itu. Tapi mereka tidak menyangka kalau Kisame akan datang dan masuk kedalam salah satu bangunan ini.

"Bagaimana Naruto-kun? Haruskah kita masuk?" tanya Hinata, matanya masih saja meneliti keadaan sekitar bangunan itu

"Kalau kau ingin mengambil Chip dan data itu kembali maka kita harus masuk, Hinata-chan" sahut Naruto, suaranya terdengar yakin

"Tunggu! Sebelum masuk lebih baik kita memeriksa bagaimana keadaan didalam sana" Naruto mengernyitkan alisnya bingung mendengar jawaban Hinata

"Tapi bagaimana caranya memeriksa keadaan didalam sana jika kita tidak masuk?" akhirnya pemuda itu mengutarakan pertanyaan yang berkeliaran dikepalanya

"Dengan honeybee" sahut gadis itu dengan seringai yang entah sejak kapan sudah tampil diwajah cantiknya

"Honeybee?" Naruto membeo ucapan Hinata dan mengikuti gadis itu kembali kedalam mobil

Hinata mengambil sebuah kotak dari dalam tas punggung yang dibawanya. Dan dengan cepat dia membuka kotak itu, kemudian mulai mengoprasikan robot pengintai miliknya. Sebuah seringai tampil diwajah tampan pemuda Uzumaki itu ketika melihat robot lebah itu terbang dan mulai masuk kedalam bangunan tempat Kisame menghilang beberapa saat lalu.

Jari lentik Hinata dengan terampil mulai mengetikkan beberapa tombol pada layar tablet miliknya. Dan beberapa saat kemudian layar tablet itu menampilkan apa saja yang ditangkap oleh kamera Honeybee. Keadaan disana cukup gelap dan remang-remang, namun hal itu tidak menghentikan Hinata untuk mencari tahu keadaan didalam bangunan sana. Beruntung kamera itu dilengkapi oleh infrared.

"Lihat itu Kisame!" ucap Naruto sembari menunjuk sebuah sosok yang sedang berjalan menuruni anak tangga

"Kira-kira apa yang akan dia lakukan?" lanjut pemuda itu dengan nada bingung

"Entahlah. Tapi mengingat keadaan kita tidak menguntungkan disini, lebih baik kita segera mencari Chip dan data itu" sahut Hinata dengan tenang

"Apakah kau pernah mengendalikan sebuah Drone?" Naruto mengalihkan pandangannya, Blue Ocean itu menatap Hinata yang sedang terfokus pada layar tablet didepannya

"Yaa, aku pernah. Kenapa?" tanya Naruto

"Baguslah! Kalau begitu kau kendalikan Honeybee. Aku akan mencari dimana Chip dan data itu" Hinata segera memberikan remote control Honeybee padanya

"Bagaimana kau menemukan Chip dan data itu?" tanya Naruto, matanya mulai terfokus pada layar tablet. Memperhatikan gerak gerik Kisame.

"Chip itu memancarkan sebuah sensor dan signal. Dan aku punya alat khusus yang bisa menemukan kedua benda itu" Hinata masih sibuk merogoh tas punggungnnya, sampai akhirnya gadis itu mendapatkan apa yang dicarinya.

"Sebuah Iphone?" gumam Naruto ketika melihat sebuah benda yang baru saja diambil oleh Hinata

"Kau bisa menyebutnya begitu. Tapi ini hanyalah sebuah alat untuk menemukan keberadaan Chip dan data itu" Hinata mulai sibuk mengoprasikan benda ditangannya

Beberapa saat berlalu sampai akhirnya gadis Hyuuga itu menemukan dimana letak benda yang menjadi targetnya. Dan kedua remaja ini sepakat untuk menyusup kedalam –setelah sebelumnya memeriksa apakah disana ada sistem cctv yang harus dilumpuhkan atau tidak.

Gelap. Keadaan disana benar-benar gelap. Tapi keduanya sudah terbiasa dengan keadaan seperti itu. Mereka terlihat seperti seekor kucing dalam kegelapan. Tepat ketika keduanya sampai didepan tangga menuju lantai dua. Hinata membungkukkan badan untuk memasang sesuatu pada anak tangga paling bawah. Sebuah benda kecil yang cukup menarik perhatian pemuda Uzumaki yang berdiri dibelakangnya.

"Apa itu?" Bisik Naruto

"Kau akan mengetahuinya nanti" sahut Hinata yang kembali melanjutkan langkahnya menuju lantai dua, Tanpa ambil pusing akhirnya Naruto kembali mengikuti gadis Hyuuga itu dari belakang. Dengan langkah cepat kedua remaja itu menuju lantai dua. Menuju sebuah ruangan tempat Chip dan data itu berada.

Entah apa yang terjadi namun mereka tidak menemukan satupun jebakan didalam ruangan itu. Dan menemukan Chip itu adalah salah satu hal mudah lain yang mereka temukan disini. Karna kemudahan seperti itulah kewaspadaan mereka meningkat dengan tajam.

Naruto masih sibuk mengawasi Kisame yang sedang mengerjakan sesuatu disebuah ruangan bawah tanah ketika Hinata sedang mengobrak abrik laci meja kerja dilantai dua untuk menemukan Chip dan data itu.

"Hinata-chan" bisik Naruto pada Hinata yang masih sibuk pada pekerjaannya "Apakah menurutmu ini terlalu mudah? Bagaimana mungkin dia tidak memasang jebakan apapun disini. Terlebih lagi bangunan ini tidak memiliki sistem cctv"

"Itulah yang sedang aku fikirkan saat ini" sahut Hinata, matanya masih dengan jeli mencari-cari benda itu

"Sepertinya kau harus bergerak cepat, Nona" ucapan Naruto membuat Hinata menoleh kearahnya "Bajingan itu mulai beranjak dari ruang bawah tanah"

"Ck! Sial" geram Hinata dan tak lama setelahnya gadis itu berhasil menemukan dua benda yang dicarinya. Sebuah Chip dan sebuah flashdisk! Yang didalamnya terdapat data yang sangat berharga sekaligus berbahaya.

"Ayo kita keluar!" perintah Hinata pada Naruto yang langsung menganggukkan kepalanya

Kedua remaja itu bergerak dengan gesit. Mereka sangat terlatih untuk tidak menimbulkan suara apapun dalam situasi seperti ini. Bahkan ketika menuruni tangga kedua remaja itu tidak menimbulkan suara berisik apapun.

DEG

'OH SHIT!' umpat batin Naruto

Karna ketika keduanya sampai dianak tangga paling bawah. Kisame muncul dari pintu yang menuju langsung tangga ruang bawah tanah. Dengan cepat mereka segera mencari tempat persembunyian. Beruntung bangunan ini memiliki penerangan yang temaram. Sehingga Kisame tidak menyadari keberadaan mereka yang sedang bersembunyi tempat dibawah tangga.

Bajingan gila itu dengan santai mulai berjalan menaiki tangga menuju ruang yang beberapa saat lalu dimasuki oleh Hinata dan Naruto. Setelah yakin keadaan aman, keduanya segera keluar dari tempat persembunyian dan menuju pintu utama untuk keluar.

Jika semua rekan mereka tidak sedang dalam masalah, maka Hinata dan Naruto akan dengan senang hati menangkap atau bahkan menghabisi nyawa bajingan gila yang berani mencuri Chip dan data milik Dark Moon.

Namun langkah kaki mereka terhenti tepat didepan tangga ketika sebuah alarm berbunyi dengan nyaring! Membuat keduanya terlonjak dengan kaget dan segera waspada pada keadaan sekitar. Suara derap langkah kaki yang berasal dari lantai dua mengintrupsi perhatian mereka. Keduanya saling berpandangan sebelum akhirnya memutuskan untuk segera kabur dari sana.

Daaannn terlambat!

Kedua remaja itu sudah terkepung sekarang. Tak lama setelahnya lampu utama ruangan itu menyala. Membuat keadaan sekitanya menjadi jelas. Ada puluhan orang berbaju hitam yang sedang menodongkan senjatanya pada mereka.

Keduanya saling menggertakkan gigi. Apalagi ketika Kisame turun dengan sebuah seringai yang terpasang diwajah mengerikannya.

"Jadi, apakah kalian tikus-tikus brengsek yang sudah mencuri Chip dan data itu?" tanya Kisame dengan santai

Baik Hinata ataupun Naruto, keduanya menatap tajam Kisame yang masih dengan santai menuruni anak tangga.

"Mencuri?" sahut Hinata, raut wajahnya sudah berubah menjadi lebih rileks sekarang. Walaupun kewaspadaannya tidak menurun sedikitpun "Apa yang kau maksud dengan mencuri?" lanjutnya dengan datar

"Aku yakin kau tahu apa maksudku. Jika kalian masih ingin hidup, lebih baik cepat kembalikan kedua benda itu padaku" sebelah tangan pria itu terjulur

Jarak mereka hanya terpaut 2 anak tangga.

"Apakah maksudmu ini?" tanya Hinata sembari menunjukkan Chip dan sebuah flashdisk pada Kisame

"Tapi bagaimana kalau aku menolaknya?" sebuah senyuman meremehkan tercetak jelas diwajah Hinata, namun bukannya kesal. Kisame malah menampilkan sebuah seringai yang membuat Naruto bergidik.

"Kalau begitu kau hanya akan mengantarkan nyawamu dengan sia-sia, Nona" Kisame memberikan kode pada semua orang berbaju hitam itu.

Tak lama setelahnya mereka segera maju dan berusaha untuk menghajar keduanya. Namun berkat latihan yang mereka jalani. Hal seperti ini bukanlah masalah sulit. Tidak butuh waktu lama sampai mereka menghajar hampir setengah orang yang ada diruangan itu.

Seringai iblis terpasang diwajah Kisame ketika mengetahui seberapa kuatnya kedua remaja itu.

Hinata menghentikan kegiatannya ketika suara itu tertangkap indra pendengarannya.

'DOOOR'

'BRUUKKK'

"ARRRGGGHHH!"

"NARUTOOOO!" Amethyst gadis itu terbelalak lebar ketika melihat Naruto jatuh dengan darah yang mengucur deras dari betis kanannya. Sebuah peluru bersarang tepat disana. Wajah Naruto seketika itu pula memucat.

Dengan cepat gadis itu segera menghampiri Naruto yang jatuh terduduk.

"Bertahanlah! Kumohon!" ucap Hinata dengan panik, sementara Naruto yang melihat hal itu hanya tersenyum sembari menganggukkan kepalanya

"Sudah aku bilangkan padamu. Pemberontakan hanya akan mengantarkan kalian pada kematian yang sia-sia" Kisame berjalan dengan santai kearah Hinata yang sedang menopang tubuh Naruto

"Jika kalian masih ingin hidup, serahkan Chip dan data itu" sebelah tangan Kisame kembali terjulur

"Apakah kau bisa berlari, Naruto-kun?" bisik Hinata sembari menundukkan wajahnya, membuat poninya menutupi mata gadis itu

Sementara Naruto yang ditanya hanya bisa menganggukkan kepalanya, wajahnya benar-benar pucat!

Sebuah seringai terpatri diwajahnya ketika melihat Hinata merogoh saku jaketnya. Dan sedetik kemudian gadis itu mendongak. Menatap tajam Kisame yang menjulang tinggi dihadapannya. Jaraknya dengan bajingan sialan itu hanya dua meter dari tempatnya berada.

"Aku tidak pernah merasa mencuri apapun darimu. Aku hanya mengambil apa yang seharusnya menjadi milikku!" ucap gadis itu dengan tajam dan setelahnya dia segera memencet sebuah tombol pada remote control yang baru saja dikeluarkannya dari saku jaket

'DUAAARRR'

Ledakan terdengar dari tangga paling bawah. Ledakan yang berasal dari benda kecil yang dipasang gadis Hyuuga itu tadi. Tidak ada korban jiwa dalam hal ini, tapi setidaknya hal ini cukup mengalihkan perhatian semua orang.

Tidak menyia-nyiakan hal itu, Hinata segera memapah Naruto dan mulai berlari keluar. Walaupun agak kesulitan namun pemuda itu masih berusaha untuk berlari dengan benar agar tidak terlalu membebani Hinata yang sedang memapahnya.

Dan sebelum benar-benar meninggalkan ruangan itu, Hinata melemparkan sebuah bom asap dan sebuah gas air mata.

"Dimana kunci mobilnya?" tanya Hinata ketika mereka hampir sampai ditempat mereka memarkirkan mobilnya

"Ada disaku jaketku!" sahut Naruto disela usahanya untuk berlari dan mempertahankan kesadaran

Pemuda itu cukup terkejut ketika Hinata menaruhnya dikursi penumpang.

"Kenapa aku–"

"Aku yang akan menyetir! Kau diam saja dan tetap fokus untuk sadar!" potong gadis itu sembari menyalakan mesin mobil

Hinata tampak menarik nafas panjang sebelum akhirnya memutar kunci kemudi. Naruto menyadarinya. Gadis itu terlihat gugup dan gusar.

"Hi-Hinata-chan, apakah kau yakin?" tanya pemuda itu ragu. Jelas sekali.

Namun hening. Gadis itu tidak menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Naruto. Dan melihat hal itu Naruto hanya bisa menatap gelisah Hinata sebelum akhirnya memutuskan untuk menarik selt belt nya.

"Kita berangkat sekarang!" ucap gadis itu sembari menginjak rem dan memindahkan tuas persneling mobilnya. Namun hening. Gadis itu tetap diam. Kakinya tidak bergeser sedikitpun untuk melepaskan rem dan menginjak gas.

"Ada apa? Kenapa kau diam?" tanya Naruto, perasaannya benar-benar tidak enak melihat tingkah laku Hinata yang sangat mencurigakan dimata Naruto

"Ti-Tidak apa-apa" Sahut gadis itu mulai memutar stir mobilnya

"A-Apakah kau yakin bisa menyetir?" Namun belum sempat menjawab, suara yang berasal dari dalam gedung itu sudah berhasil mengintrupsi mereka.

Wajah keduanya terangkat dan mata mereka menatap dengan luar biasa panik segerombolan orang-orang berbaju hitam yang keluar dari sana.

"Demi Tuhan, Hinata! JALANKAN MOBILNYA!" And That's it! Akhirnya Naruto meneriakkan kalimat itu

Entah karna panik atau karna gugup. Gadis itu benar-benar menjalankan mobilnya dengan luar biasa mainstream. Setelah melepaskan rem dan menginjak gas, mobil itu berputar kearah kiri dan menabrak sebuah tembok. Terus seperti itu sampai akhirnya mobil yang sedang berada dibawah kendali Hinata seperti sedang berputar-putar dan kehilangan kendali.

"HINATAAAA! AWAAASSS POHOONNN!" teriak Naruto dengan panik.

Dia bahkan melupakan keadaan dimana betisnya sedang terluka. Melupakan rasa sakitnya. Lebih daripada itu cara mengemudi Hinata lebih menyita perhatiannya.

Mobil itu masih saja kehilangan kendali. Dan tanpa berfikir panjang Naruto segera menarik stir mobil dalam genggaman Hinata sedikit kearah Kanan. Membuat mobil itu pada akhirnya bisa berjalan lurus. Walaupun masih tidak bisa stabil karna Hinata menginjak gasnya terlalu berlebihan!

"Jangan terlalu dalam menginjak gasnyaa! A-AWAAAASSS! BELOK! BELOKKAN STIRNYA KE KIRIII –AAAAAAAA!"

'BRUKKK' lagi. Mobil itu kembali menabrak tembok tepat dipersimpangan jalan.

"Uuuhhh" Naruto meringis merasakan lukanya

"Pindah tempat! Biarkan aku yang–"

'DORR' Sebuah tembakan sukses membuat keduanya menoleh kebelakang

"GA-GAASSS! I-INJAK GASNYAAA! INJAAAKKK! CEPAAATTT! JALANKAN MOBILNYAAAA!" Naruto berteriak dengan panik ketika melihat ada puluhan orang berbaju hitam yang sedang mengendarakan motor dengan pistol teracung pada mobil mereka

'BRUM... BRUMM.. BRUMMM...'

'CKIIITTTT'

Akhirnya! Setelah beberapa kali menabrak tembok. Mobil yang saat ini berada dalam kendali Hinata mulai stabil –walaupun terkadang masih menabrak sesuatu didepan mereka. Gadis Hyuuga itu terus saja menginjak gasnya ketika para pengejar mulai berada dalam jarak tembak yang cukup bagus.

Amethyst itu terlihat gusar. Perhatiannya terbagi antara jalan, pengendalian mobil, pengejar dan Naruto! Yaa! Naruto! Pemuda itu masih saja berteriak histeris karna cara mengemudi Hinata yang bisa dikategorikan 'Luar biasa'.

"Daripada kau berteriak histeris seperti itu lebih baik kau memberitahukan padaku kemana kita harus kabur, Bodoh!" Hinata berteriak dengan keras agar suaranya bisa menyaingi suara teriakan Naruto

Dan berhasil! Pemuda itu terdiam. Matanya memandang Hinata yang sedang terfokus pada jalanan. Tak lama setelahnya kedua manik Blue Ocean itu teralih pada layar GPS.

Naruto mulai mengintruksikan kemana Hinata harus mengemudikan mobil itu –walaupun cara mengemudi gadis itu masih seperti tadi, tapi setidaknya sekarang sudah lebih baik. Dan ditengah keadaan seperti itu Hinata mendengar suara Sakura menyapa indra pendengarannya melalui Transmisi.

"Cherry to Blue! Cherry to Blue! Over!"

"Blue to Cherry! Coming! Ada apa, Cherry?" sahut gadis Indigo itu, matanya masih berusaha menatap jalanan didepan sana

"Dimana kau?!" Nada frustasi terdengar jelas dari sebrang sana

"Aku sedang berada dijalan menuju pusat kota! Aku terkejar, Cherry! Ada puluhan orang yang mengikutiku!" Hinata terlihat panik

"Apa? kau terkejar?" suara Ino tampak mengintrupsi pembicaraan mereka

'DOOORRR'

'DOORRR'

'DORRR'

"Banting stir ke Kiri! Hinata-chan! Ti-Tidaakk! Tidak sebanyak itu! Yaa! Benar seperti itu. Tidak! AWAAASS!" teriakan pemuda berambut kuning yang duduk disamping Hinata sukses membuat Sakura terkejut

"Tunggu! Jangan bilang kalau kau yang menyetir mobilnya?!" lagi. Sakura kembali bersuara dengan nada panik

"Aku tidak memiliki pilihan, Cherry!" sahut Hinata

'DOORRR'

'DORRR'

'DORR'

'DORR'

'DOORRR'

"Cih! Siaal!" geram Hinata sembari menatap sengit beberapa motor yang berada tepat dibelakangnya, semua orang yang duduk dibelakang sang pengemudi sudah mengacungkan senjatanya, menembak mobil Hinata berulang kali.

"Apa maksudmu?! Dimana Naruto?!" Kali ini suara seorang pemuda yang sedang berbicara melalui Transmisi. Sasuke.

"Dia tertembak! Tembakan yang langsung mengenai betis kanannya! Aku tidak punya pilihan lain" Hinata kembali berucap

"Apaa?! Sial! Kau tidak bisa menyetir, Blue! Dimana posisimu?!" Sakura mengerang frustasi

"Aku bisa! Percaya padaku!" Hinata terdengar yakin namun panik

"Kau bercanda?! Terakhir kali kau menyetir adalah 5 tahun yang lalu! Dan saat itu kau membuat Ino mengalami patah tulang karna menabrak pohon dipinggir jalan!" Sakura berteriak dengan panik

"Aku bisa Sakura! Aku sudah latihan, percayalah! Aku akan–"

"Hinata belok! Belok Hinataaa! Belokkan setirmu!" jeritan histeris Naruto kembali terdengar

"Aku tahu! Jangan berteriak seperti itu! Kau membuat konsentrasiku buyar, Baka!" bentak Hinata

"Aku tidak akan berteriak jika kau bisa menyetir dengan be– AWAS ADA GEROBAAKKK!"

'BRUKKK' hancur. Gerobak itu hancur setelah dihantam dengan sangat tidak berperasaan oleh Hinata. Sepertinya ada yang harus libur berjualan besok. Malangnya.

'BRUM... BRUMMMM.. BRUMMM...'

"Blue to Cherry! Aku sedang sangat sibuk disini. Akan aku hubungi jika sudah berhasil lepas dari para bajingan ini. Blue`s out!"

PIIP

"BLUE! BLUEE! HINATA!" Sakura berulang kali meneriakkan nama partnernya, namun nihil. Tidak ada jawaban berarti dari sebrang sana membuat Sakura terlihat geram

ketiga orang remaja yang sedang berada dihadapannya memandang gusar Sakura yang sedang sangat sangat emosi. Setelah berhasil memisahkan Gaara, Sai, Yahiko dan Kiba mereka memutuskan untuk berkumpul disuatu tempat.

Salah satu hal lain yang membuat Sakura emosi bukan hanya Hinata dan Naruto yang sedang terkejar dan dalam bahaya. Melainkan posisi Tenten dan Neji yang bahkan belum memberikan informasi apapun sejak mereka berkata kalau mereka dihadang oleh seseorang.

"Aku pasti akan membunuhmu, Kisame! Brengsek!" desis gadis Haruno itu

Dengan cepat dia segera menyalakan mesin motornya, namun sebelum gadis itu sempat melajukan motornya suara Ino sudah terlebih dahulu mengintrupsi

"Mau kemana kau?" tanya gadis itu gusar

"Kemana? Menyalamatkan Hinata dan membunuh bajingan itu!" emosi terlihat jelas dikedua manik emerladnya

"Ino! Lebih baik kau cari Tenten dan Neji, aku khawatir pada keadaan mereka. Lalu Shikamaru! Bantu Ino menemukan keduanya. Aku mengandalkan kalian! Dan kau Sasuke! Ikut aku! Kita bantu Naruto dan Hinata!" Dan tepat setelahnya Sakura segera menarik gas motornya. Tujuannya adalah satu. Menemukan mobil Hinata dan menghabisi mereka yang berani menyakiti saudarinya.

Sementara Ino, Shikamaru dan Sasuke yang melihat hal itu langsung menaiki motor melaksanakan rencana Sakura.

.

.

.

'Hosh.. Hosh... Hoshh..' suara deru nafas yang terputus-putus mengisi keheningan malam itu.

Seorang pemuda dan seorang gadis berdiri berhadapan dengan darah dan luka memar disekujur tubuh mereka. Tenten dan Lee. Keduanya saling menatap sengit satu sama lain. Berbeda dengan Tenten yang memiliki beberapa luka gores ditubuhnya, Lee hanya mendapatkan beberapa luka memar yang bahkan tidak memiliki pengaruh apapun padanya.

Sementara Neji? Dia sudah tidak sadarkan diri karna dihantam sangat keras oleh Lee. Tendangan pemuda itu adalah senjata pamungkas yang bahkan sangat sanggup menghancurkan sebuah meteor sampai menjadi debu.

Luka gores melintang dengan panjang dipaha kanan pemuda Hyuuga itu. Pendarahannya memang sudah berhenti. Karna Tenten memberikan sebuah serum yang dia dapat dari Sakura untuk situasi seperti ini. Jadi untuk sekarang gadis bercepol dua itu tidak perlu khawatir Neji akan kehabisan banyak darah.

"Kenapa kau lakukan ini, Lee?! Kenapa kau mengkhianatiku?! Apa yang ada difikiranmu, BODOH!" Tenten berteriak dengan frustasi. Matanya menatap tajam Lee yang masih berdiri dengan angkuh.

"Siapa yang bodoh? Aku atau kau?! Dan haruskah aku menjawab pertanyaan yang kau sendiri sudah tahu jawabannya, Tenten" Lee menatap dingin kearah Tenten

Gadis itu terguncang dengan rasa frustasi.

'Dia bukan Lee. Rock lee yang aku kenal bukan seorang iblis seperti itu! Dia bukan Lee! Lee yang aku kenal tidak akan menyakiti seorang wanita! Dia tidak akan bertindak sejahat itu!' mengerang dan menjerit. Tenten terus saja bergelut dengan batinnya.

Gadis ini tidak mau mengakuinya. Dia tidak mau menerima kenyataan ini.

"Tapi aku memang tidak mengetahuinya, Lee. Apa yang membuatmu menjadi seperti ini? Bagaimana bisa kau masih hidup? Kau tahu? Aku sangat senang melihatmu masih hidup, Lee. Aku sangat senang! Dan aku kemari untuk membalaskan dendamku atas kematianmu pada–"

"Aku tidak memerlukan hal itu, Tenten! Jangan repot-repot melakukan hal yang tidak perlu! Dan hentikan senyuman itu! Kau membuatku muak!" Tenten terguncang, ucapan Lee sukses menohok hatinya

"Kau tahu? 3 tahun lalu aku memang nyaris mati. Ditebing itu! Kalau bukan karna Yahiko yang menyelamatkanku saat itu aku pasti sudah mati sekarang! Hal yang sangat mengejutkan bukan? Ternyata musuh yang kita kejar 3 tahun lalu adalah seseorang yang menyelamatkanku!" Lee menatap dingin Tenten, seringai iblis masih tercetak diwajahnya

Tenten jatuh terduduk dengan air mata yang sudah mengalir deras dikedua pipinya. Rasa sesak menyusup masuk kedalam rongga dada gadis itu.

"Apakah kau ingin tahu hal mengejutkan lainnya, Nona?" Tenten mengangkat wajahnya untuk menatap mata dingin Lee yang menjulang tinggi didepannya

Gadis itu diam. Dia tidak mengangguk atau menggeleng. Tidak pula menjawab. Tenten hanya diam dan menangis. Menatap Lee dengan berjuta rasa menyakitkan yang menusuk hatinya seperti jarum!

"Yang membuatku menjadi seperti ini adalah kau!"

DEG

"A-Apa maksudmu?" tanya gadis itu

"KAU MASIH BERTANYA?!" Lee berteriak, membuat Tenten terlonjak kaget. Emosi terpancar jelas dikedua manik hitamnya. Pemuda itu benar-benar terlihat seperti seorang iblis yang sedang murka sekarang

"AKU MEMPERTARUHKAN SEGALANYA UNTUKMU, TENTEN! HIDUPKU! NYAWAKU! SEMUANYA UNTUKMU! TAPI APA YANG AKU DAPAT?! KAU MENGKHIANATIKU! AKU TAHU, TENTEN! KAU HANYA MEMANFAATKANKU UNTUK KEPENTINGANMU! KAU TIDAK BENAR-BENAR MENCINTAIKU! BAHKAN KETIKA AKU BERJUANG UNTUK TETAP HIDUP DAN TETAP SELAMAT DARI KEMATIAN DITEBING ITU, KAU TIDAK MENOLONGKU! KAU TIDAK DATANG DAN MENJEMPUTKU! DAN SETELAH KEJADIAN ITU KAU BAHKAN TIDAK BERUSAHA UNTUK MENCARIKU! KAU DAN SEMUA REKANMU BERSIKAP SEOLAH-OLAH TIDAK TERJADI APA-APA!" Kedua manik Tenten membulat.

"Kau salah, Lee. Aku–"

"Aku tidak ingin mendengar penjelasanmu! Sudah terlalu jelas! Sekarang nikmatilah rasa penyesalanmu! Dan tunggulah saatnya aku akan membalaskan semua itu padamu, Sayang" Lee beranjak dari sana, menaiki motornya dan meninggalkan Tenten yang sedang terisak semakin keras setelah kepergian Lee

.

.

.

'CKIIITTTT'

'BRAAKKK'

'BRUKKKK'

"FOKUSS HINATAA! FOKUSKAN DIRIMU PADA JALANAN! JANGAN MENGURUSI MEREKA YANG ADA DIBELA –GYAAAAAAAA!" Naruto masih saja berteriak ketika Hinata lagi-lagi menabrak pembatas jalan dan membuat mobil mereka kehilangan arah

'SREEETTT!' Naruto kembali menarik stir yang berada dibawah kuasa Hinata agar mobil yang berada dalam kecepatan tinggi itu bisa berjalan lurus dan stabil. Walaupun ini masih dikategorikan jauh dari kata stabil.

"Injak gasnya! Jangan berhenti! Kami akan menghabisi mereka!" Suara pemuda yang menyapa indra pendengaran keduanya berhasil membuat mereka saling berpandangan

"Sasuke?" panggil Naruto melalui alat Transmisi

Tak lama setelahnya, mereka melihat dengan jelas. Dua orang remaja yang sedang berdiri tepat ditengah jalan. Kedua tangan mereka teracung. Sebuah senjata tergenggam erat dikedua tangan mereka.

Membidik! Itulah yang sedang mereka lakukan saat ini.

'BRUMMM.. BRUMMM. BRUMMM. BRUMMM..'

WUSSSS

Mobil itu melaju melewati kedua remaja yang masih menodongkan senjatanya. Dan tepat setelah mobil itu lewat. Tembakan beruntun terdengar dari kedua remaja itu. Tembakan yang tepat mengenai sasaran. Itulah keahlian lain dari keduanya. Penembak jarak jauh dengan keakuratan tembakan yang sangat tinggi.

'DOR'

'DORR'

'CKIIITT'

'BRUKKK'

'CIIITTT'

'BRUKKK'

'BRUKKK'

'BRAKKK'

'DORRR'

'DOOORR'

'DOOORRRR'

'DUAARRR'

Dan tembakan terakhir dari keduanya berhasil menghabisi semua pengejar itu. Sebuah ledakan yang berasal dari salah satu motor yang menabrak pembatas jalan menjadi akhir dari tembak menembak kedua remaja yang saat ini sedang berjalan menuju mobil Hinata yang sudah berhenti.

"Hn. Aku baru tahu ternyata cara mengemudi gadis Hyuuga itu benar-benar buruk. Berbeda sekali dengan Saudaranya, Hyuuga Neji" sahut Sasuke sarkastik ketika mereka berdua sampai tepat dihadapan Naruto dan Hinata

"Maafkan aku karna cara mengemudiku yang 'benar-benar buruk' ini Uchiha-sama! Tapi asal kau tahu saja! Cara mengemudiku berhasil membuat kami hidup sampai detik ini!" ucap Hinata tidak kalah sarkastik

"Dan itulah yang membuatku malu memiliki rekan sepertimu, Dobe! Kau benar-benar membuat harga diri Special Agent jatuh dan tak bersisa!" tatapan dingin dan datar diberikan Sasuke pada Naruto yang sedang merengut

"Aku harus bagaimana? Kau lihatkan kakiku tertembak!" pekik Naruto tidak terima dengan cemoohan rekannya

"Sakura, aku–"

'PLAAAKKKKK' kedua pemuda itu terkejut ketika melihat Sakura menampar –dengan sangat keras– pipi mulus Hinata

Sementara Hinata yang ditampar hanya bisa memegang pipinya yang terasa panas dan perih. Wajah gadis itu tertunduk.

"Maaf" ucapnya dengan rasa penyesalan yang amat sangat dalam

'BRUKKK'

Hinata tertegun ketika merasakan seseorang memeluknya. Dengan cepat dia mengangkat wajahnya dan melihat helaian merah muda yang terlihat berantakan. Sakura memeluknya dengan sangat erat. Dia juga merasakan ketakutan yang sedang melanda gadis itu. Tidak ada yang tahu, tapi tubuh Sakura bergetar luar biasa. Gadis itu terlalu takut saat ini.

"Dasar bodoh! Hiks... Apa yang kau lakukan?!" ucap gadis itu disela isak tangisnya sembari memeluk Hinata

"Sakura-chan" lirih Hinata yang kemudian ikut mendekap gadis Haruno itu

"Gomen! Sakura-chan" bisiknya sembari mempererat pelukannya

~OoOoO~

Jam menunjukkan pukul 02.00 dini hari ketika Hinata, Sakura, Sasuke dan Naruto sampai dimension. Dengan keadaan mobil sport yang sangat kacau, ada banyak baretan dan penyok disana sini. Belum lagi kaca jendelanya yang pecah semua –kecuali kaca bagian depan.

Keadaan Sasuke dan Naruto juga bisa dikatakan jauh dari kata sehat. Walaupun Sasuke hanya menderita beberapa memar dan goresan tapi pemuda itu terlihat luar biasa lelah. Sementara Naruto yang sempat melupakan rasa sakit akibat tembakan itu kini mulai ditangani oleh Sakura.

Ino, Shikamaru, Tenten dan Neji datang tepat ketika Sakura selesai menjahit luka Naruto. Keempat remaja itu segera membawa Neji yang sudah sangat lemah menuju UKS –ketika Ino dan Shikamaru menemukan mereka berdua, Neji sudah sadar walaupun tubuhnya terlihat sangat lemah karna tendangan super kencang dari Lee dan luka yang melintang lebar dipaha kanan pemuda itu.

Dengan cekatan Sakura memberikan sebuah serum dan mengobati luka yang terbentuk ditubuh pemuda Hyuuga itu. Gadis itu sempurna diam! Sejak sampai di mension, Sakura hanya diam. Hanya tangannya yang sejak tadi aktif mengobati Naruto, Sasuke, Neji, dan Shikamaru.

Sementara luka Tenten sedang ditangani oleh Ino.

Setelah semuanya selesai. Sakura berjalan mendekat kearah Tenten yang sedang terduduk disofa UKS. Semua mata terbelalak lebar ketika melihat Sakura mendaratkan sebuah Tinju pada pipi gadis itu.

'BUAAGHH'

"SAKURAAA! APA YANG KAU LAKUKAN BODOH?!" teriak Ino yang langsung menarik Sakura menjauh dari Tenten

"Kenapa kau tidak mengatakannya, Tenten?!" desis Sakura, emeraldnya menatap tajam Tenten yang menatap nanar dirinya

"KENAPA KAU TIDAK MENGATAKAN APAPUN MENGENAI KEJADIAN 3 TAHUN LALU?! KEJADIAN YANG MELIBATKAN KISAME! KEJADIAN YANG MEMBUAT ROCK LEE HILANG DITEBING ITU! KENAPA KAU TIDAK PERNAH MENGATAKAN KALAU PELAKUNYA ADALAH KISAME?! APAKAH SEBESAR ITU DENDAMMU PADA KISAME?! SAMPAI-SAMPAI KAU BERHARAP MENJADI SATU-SATUNYA ORANG YANG MENGHABISI NYAWANYA?! KATAKAN TENTEN! KENAPA KAU MELAKUKANNYAA?!" Sakura berteriak penuh emosi

Sementara semua orang yang mendengar itu hanya tercengang. Ino dan Hinata menatap nanar juga tidak percaya kearah Tenten yang sedang menundukkan kepalanya.

"Kau pernah melakukannya Sakura. Aku yakin kau tahu alasan kenapa aku melakukan ini" sahut Tenten, kepalanya masih tertunduk

"Tapi keadaan ini sangat berbeda dengan keadaanku saat itu, Brengsek! Kau tahu kalau aku tidak memiliki pilihan apapun! Tapi kau! Kau memiliki pilihan Tenten! Kau bisa memberitahukan pada kami!" Sakura murka. Gadis itu luar biasa murka.

Bagaimana tidak? Karna kecerobohan dan keegoisan Tenten hampir membuat semua nyawa rekannya terancam. Bahkan kejadian itu berhasil memaksa Hinata mengemudikan sebuah mobil! Sesuatu yang bisa membahayakan nyawanya karna gadis itu tidak bisa menyetir!

"Sakura tenanglah. Lebih baik kita dengarkan penjelasan dari Ten–"

"SUDAH CUKUP!" teriak Sakura menyela ucapan Ino "AKU MUAK DENGAN SEMUA INI! AKU BERHENTI!" semuanya terkejut mendengar ucapan Sakura

Dan semakin terkejut ketika melihat gadis itu mulai berjalan keluar dari ruangan. Hinata, Ino dan Tenten terlihat panik ketika mendengar suara mesin motor yang dinyalakan. Sakura pergi dari mension.

.

.

.

TBC

.

.

.


A/N:

Finally! Gold comeback minnaaa! Yeay! Pada kangen ga nih sama Gold? Kalian engga kelamaan kan nunggu fict ini UP? Hoho, Gomen kalo kelamaan. Karna Gold baru pulang dari liburan~

Hmm, Sedikit 'Curahan Hati' dari Gold tentang chapter ini~

Jujur, pas Gold bikin Chapter ini Gold rada ngakak ngebayangin scane Hinata dan Naruto. Apalagi pas Naruto panik karna Hinata gabener ngendaliin mobilnya. Hahahaha, untuk siapapun yang mengidolakan Queen Hinata~ Maafkan Gold karna membuat gadis manis itu terlihat sangat payah dalam menyetir XD

Dan untuk balasan review *Semoga ini ga jadi kebiasaan ya*. Gold benar-benar minta maaf karna gabisa bales review kalian sekarang. Tapi semua review itu udah Gold baca ko. Dan makasih buat yang udah Support Gold sampai sejauh ini :* Makasih yang udah mau baca sampai sejauh ini juga XD Makasih juga buat kalian yang udah nge-PM Gold dan mengingatkan untuk UP fict ini *Gold emang lupaan orangnya, jadi maap keun ya minna XD*

Dan masih seperti biasa, Gold masih menunggu kalian yang menjadi Silent Rider untuk menunjukkan diri kalian di kolom review XD

Sebelum menutup note ini, mari kita melakukan tebak-tebakan seperti biasa~

"Wow! Sakura pergi dari mension! Dan apa yang dia bilang? BERHENTI?! Jika Sakura benar-benar berhenti lalu bagaimana nasib DarkMoon selanjutnya? Bagaimana nasib pembalasan dendam mereka? Dan yang terpenting bagaimana dengan ikatan yang sudah dibentuk lebih dari 10 tahun itu? Hmm, Sepertinya DarkMoon benar-benar berada dalam kondisi kritis sekarang ini. Bagaimana menurut kalian minna? Apa yang akan terjadi selanjutnya? Apakah Sakura benar-benar berhenti dan meninggalkan semua itu?"

Okey, Minna-San! Selamat berkhayal dan menebak-nebak kelanjutan kisahnya yaa ;))

And the last for this note...

See You Next Chapter, Guys!