CHAPTER 14
Disclaimer : Semua karakter milik Tuhan YME
Cast : Jung Yunho, Kim Jaejoong, Kim Junsu, Park Yoochun, Im Yoona, and others
Genre : Romance, angst (mungkin sedikit)
Rate : T
Warning : YAOI, OOT, OOC, typos, cerita ga jelas & pasaran. FF ini terbuka bagi siapa aja. tp tolong bwt readers yg mgkn berkenan memberi komentar, tolong beri kritik yg membangun spy author baru ini bs cepat sadar & mengkoreksi ksalahannya :). saya br bbrp bln merambah dunia K Pop (?) jd saya msh kelas teri dlm berbahasa Korea, mian kl ada bbrp kata yg ga pada tempatnya, hehe... jd mohon TIDAK MENERIMA BASH ~bow~.
Annyeong, saya dtg lg chingudeul. smga msh ada yg nungguin ff aneh bin gaje ini, hehe... saya terharu ada chingudeul yg suka sm ff saya yg cm 1 ini, hikz... jeongmal kamsahamnida bwt readers yg brkenan ngasih sepatah dua patah katanya, itu smua adalah penghargaan yg besar bwt saya :D. bwt yg msh penasaran sm alur crita & karakter2nya, dsni & chap depan smua saya jelasin lbh detil. mgkn berikutnya part junsu tp cm sekilas aja krn dsni fokus saya cm yunjae :D.
Bwt chingu yg lg berburu DVD jackal, mgkn krn msh baru jd blm smp indo ya. tp dngr2 di utube udh ada yg uplod :D.
###
Yunho menghela nafas, menebak-nebak apa yang akan dikatakan Yoochun. Sepanjang yang dia tahu, tidak pernah ada urusan apapun diantara mereka.
"Aku heran ada masalah apa denganmu. Hari-hari ini kulihat kau terus saja mengekor Jaejoong. Bukankah dia sudah bilang sudah tidak berminat lagi padamu? Sebenarnya kau tidak mengerti atau apa?"
Yunho sebenarnya sudah menduga bahwa Yoochun akan membicarakan hal ini. Dia tahu Yoochun adalah salah satu pemuja Jaejoong. Dia bisa melihat hubungan Jaejoong dan Yoochun yang sangat dekat. "Aku mendekati Jaejoong karena ada masalah diantara kami yang belum selesai. Aku tidak bermaksud terus-menerus mengikutinya."
"Dia sudah tidak mau bicara lagi denganmu. Tapi dia bilang padaku kalau kau terus mengganggunya."
"Aku hanya ingin berteman dengannya…"
"Tapi dia tidak mau berteman denganmu. Apa kata-katanya kurang jelas bagimu?" potong Yoochun.
"Apa kau mencintainya?"
Yoochun terkejut dengan pertanyaan Yunho yang tiba-tiba. "Ne. Aku mencintainya dan aku tidak akan pernah membiarkan seorangpun mempunyai hubungan khusus dengannya." ujarnya sambil menatap Yunho tajam.
Yunho tertegun juga mendengar pengakuan Yoochun yang menurutnya sangat terus terang itu. "Kalau kau mencintainya, kenapa kaubiarkan dia menggoda orang lain? Apa kau tidak sakit hati melihat pemandangan yang terjadi setiap hari di sekolah?"
"Kau tidak tahu apa-apa, Jung Yunho. Dia tidak pernah serius berhubungan dengan orang-orang itu. Begitu dia bosan, dia akan meninggalkan mereka dan kembali padaku."
"Seberapa jauh kau mengenalnya? Apa kau sudah pernah ke rumahnya?"
Yoochun membelalakkan matanya. "Yunho, apa kau sadar dengan pertanyaanmu? Aku bersamanya sudah begitu lama. Jauh sebelum kau masuk ke sekolah ini. Aku yakin suatu hari nanti dia akan mengajakku ke rumahnya. Hubungan kami begitu dekat. Hubungan yang tidak akan pernah bisa kaubayangkan. Aku sudah tahu luar dalam dari dirinya."
Yunho terdiam tanpa sepatah katapun. Dia bertanya-tanya dalam hati apakah Jaejoong sudah pernah menceritakan tentang orangtuanya pada Yoochun.
"Jadi kuperingatkan kau. Jauhi dia mulai sekarang. Dia tidak membutuhkanmu sebagai temannya. Hanya aku yang dia butuhkan. Jangan pernah mengganggu apa yang menjadi milikku. Aku tidak mau kau menyesal nantinya." Yoochun meninju tembok yang ada di belakang Yunho lalu meninggalkannya.
###
Kira-kira dua minggu sudah sejak kejadian itu. Jaejoong jarang datang di kelas. Yunho hanya melihat Jaejoong sekali dua kali, tapi sebelum pelajaran selesai dia sudah keluar. Dia masih ingin menyelesaikan semua masalah diantara mereka. Walaupun dia teringat ancaman Yoochun, tapi dia tetap tidak bisa berhenti. Bahkan dia nekad mendatangi rumah Jaejoong beberapa kali, tapi namja itu selalu dikatakan sedang keluar. Apa yang bisa dia perbuat, dia sama sekali tidak mempunyai kesempatan mendekati Jaejoong.
Waktu istirahat sekolah tiba. Yunho yang sedang banyak pikiran tidak mempunyai tenaga untuk berjalan ke kafetaria. Sebenarnya bukan itu. Dia tidak ada nafsu makan walaupun perutnya terasa lapar karena dia belum sempat sarapan tadi pagi. Dia keluar kelas untuk menghirup udara segar. Dia menaiki tangga menuju atap sekolah. Dia ingin berdiam di sana sejenak untuk menjernihkan pikirannya.
Dia membuka pintu di puncak tangga yang menuju keluar. Seketika dia terkejut melihat sosok familiar yang berdiri membelakanginya. Sosok yang dicarinya akhir-akhir ini. Sosok yang tanpa dia sadari selalu memenuhi pikirannya. Dengan dada berdebar dia mendekati namja cantik itu.
"Ternyata kau di sini."
Jaejoong terkejut mendengar suara yang dikenalnya itu. Dia menoleh ke belakang dan mendapati Yunho berdiri di sana. Dia tidak mengira akan bertemu Yunho di tempat itu. Beberapa saat sesudah kesadarannya kembali, dia melangkah pergi tanpa menghiraukan Yunho.
"Jae…" Yunho memegang lengannya.
"Lepaskan aku." sahut Jaejoong dingin.
"Kenapa kau menghindariku, Jae?"
Jaejoong tertawa mendengar kata-kata Yunho. "Kenapa aku harus menghindarimu?"
"Hari-hari ini aku hampir tidak pernah melihatmu di kelas. Padahal sebelumnya kau selalu mengikuti pelajaran. Kau menghindariku, kan?"
Jaejoong memutar bola matanya. "Kupikir aku tidak punya alasan kenapa harus menghindarimu."
"Lalu kenapa sekarang kau pergi begitu melihatku?"
Jaejoong terdiam sejenak, memikirkan alasan yang masuk akal untuk Yunho.
"Kalau kau memang tidak menghindariku, berarti tidak ada masalah kan aku ada di sini? Kau tidak perlu pergi karena aku."
Jaejoong mendengus dan melepaskan tangannya. Dia tidak mau membuat Yunho berpikir bahwa dia menghindari Yunho. Dia duduk membelakangi Yunho, memandangi puncak-puncak bangunan besar di depannya. Yunho menghela nafas lalu duduk beberapa meter dari Jaejoong. Dalam hati dia tidak mengira dia akan punya kesempatan berdua lagi dengan Jaejoong seperti ini. Beberapa lama kesunyian meliputi mereka. Sangat banyak yang ingin dia tanyakan pada namja cantik itu. Begitu banyak sampai-sampai dia tidak tahu bagaimana harus memulainya.
"Umm… apa lukamu sudah sembuh?" tanya Yunho mengawali pembicaraan.
Tidak ada satu katapun keluar dari mulut Jaejoong. Yunho kembali menghela nafasnya. Seharusnya dia bisa memperkirakan kalau reaksinya akan seperti itu.
"Umm… mianhae. Bukannya aku mau ikut campur dalam masalahmu. Appa dan umma mu… Apa mereka sering melakukan itu?"
Jaejoong masih saja diam. Tapi Yunho sudah tahu jawabannya dari perubahan ekspresi Jaejoong. Dia masih belum percaya dengan perlakuan mereka terhadap Jaejoong, mengingat dia tidak pernah melihat sedikitpun bekas luka di tubuh Jaejoong yang putih dan halus.
"Apa karena itu kau tidak pernah mengizinkan teman-teman datang ke rumahmu? Kau tidak mau kami melihat itu semua?"
Dengan cepat Jaejoong berdiri dari tempatnya. Tapi sebelum dia sempat menggerakkan kakinya, Yunho bertanya lagi. "Kenapa kaubiarkan mereka melakukan semua itu? Apa kau tidak pernah sekalipun bercerita ke temanmu atau melapor ke polisi? Kau berhak mendapatkan perlindungan, Jae-ah. Tidak ada seorangpun yang berhak menyakitimu seperti itu."
"Kau tidak tahu apa-apa. Jadi jangan ikut campur urusanku." sahutnya dingin lalu berjalan meninggalkan Yunho.
Yunho berdiri. Dia tidak ingin kehilangan kesempatan mengutarakan semua yang ada di pikirannya. "Pergilah dari rumah itu, Jae-ah."
Jaejoong membelalakkan matanya. "Mwo? Apa aku tidak salah dengar? Kenapa aku harus pergi dari rumahku sendiri?"
"Aku tahu mereka orangtuamu. Tapi kupikir sebaiknya kau menjauh dari mereka, Jae-ah. Aku tidak bisa melihatmu disakiti terus."
"Sudahlah, Yunho. Kau tidak usah bersikap seolah-olah peduli padaku. Aku tidak butuh pendapat atau saran apapun darimu."
"Jae, aku hanya ingin membantumu…"
"Sudah kubilang berkali-kali, kau bukan siapa-siapa bagiku. Bahkan sebagai temanpun tidak. Dulu aku berteman denganmu hanya karena ingin menjebakmu. Sampai kapan kau mau menyadari itu? Sampai kapan kau mau menyadari bahwa tidak ada hubungan apapun diantara kita, baik dulu maupun sekarang bahkan…"
"Saranghae…"
Yunho terkejut dengan kata-katanya sendiri. Tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa, ucapan itu sudah meluncur dari mulutnya.
Jaejoong tertegun mendengar pengakuan Yunho. Entah berapa lama dia berdiri terpaku. Tiba-tiba saja dia tertawa keras. "Haha… Siasat apa lagi ini, Yunho?"
Yunho memandang Jaejoong dengan kebingungan. "Apa maksudmu?"
"Selama ini kaularang aku untuk tidur dengan orang-orang. Tapi karena aku sama sekali tidak menuruti kata-katamu, sekarang kau bilang kalau kau mencintaiku. Yunho-ah, sebenarnya kau memang ingin tidur denganku, kan?"
Yunho menatap Jaejoong penuh kemarahan. "Bisa-bisanya kau bicara seperti itu, Jae!"
Jaejoong tertawa sinis. "Sekarang kau berusaha menarik perhatianku dengan mengatakan itu, karena kau ingin menyentuhku. Kau kesal karena aku hanya menciummu, tidak melakukan hal yang lebih denganmu. Kau sangat bernafsu memiliki tubuhku sama seperti mereka. Tapi kau jangan bermimpi terlalu tinggi Yunho-ah, karena itu tidak mungkin terjadi. Karena apa? Aku sudah tidak tertarik lagi padamu."
"Ani! Aku tidak seperti itu…"
"Kau tahu? Aku sudah mendengar kata-kata cinta semacam itu ratusan kali setiap aku tidur dengan mereka. Jadi aku sudah tidak kaget lagi mendengarmu mengatakan itu. Jelas-jelas kau sudah masuk perangkapku. Haha… Padahal dulu aku sempat merasa sulit sekali menaklukkanmu, Yunho."
"Ani! Aku berbeda dengan mereka!"
"Oh, ya? Katakan padaku apa yang membedakanmu dengan mereka?"
Yunho menghirup nafas dalam-dalam untuk menenangkan dirinya. "Aku mencintaimu apa adanya, Jae. Dan aku ingin kau berubah. Aku ingin kauhentikan perbuatan terlarangmu dengan orang-orang itu. Ayolah, Jae. Kau tidak mungkin mencintai mereka semua, kan."
"Haha… Yunho-ah, bukankah aku sudah pernah bilang kalau aku mencintai sentuhan dan ciuman mereka?"
"Jae, perasaan cinta itu tidak harus ditunjukkan dengan seberapa seringnya mereka menyentuh dan menciummu. Cinta itu tumbuh dari hati yang tulus, dari perhatian, pengertian, dan pengorbanan. Kalau kau mengartikan cinta seperti itu, berarti pengetahuanmu tentang cinta dangkal sekali, Jae."
Jaejoong tertawa keras. "Haha… Kenapa sok tahumu tidak bisa hilang, Yunho? Aku tidak peduli dengan semua yang kaukatakan. Yang penting aku menikmati semua ini. Lagipula aku heran denganmu, Yunho. Aku ingat kau pernah bilang kalau kau mencintai Yoona. Kenapa sekarang kau bisa bilang kalau kau mencintaiku?"
Yunho tertegun mendengarnya. Untuk sesaat dia tidak bisa berkata apapun. Jaejoong benar. Di sisinya ada Yoona. Tapi dia bahkan tidak tahu kapan terakhir kali dia mengingat yeojya itu.
"Lihat, kau sendiri saja tidak yakin dengan perasaanmu. Bisa-bisanya kau menceramahiku tentang cinta." Jaejoong tertawa sinis sebelum meninggalkan tempat itu.
###
Yunho POV
Entah sudah berapa lama aku tenggelam dalam pikiranku sendiri. Sampai sekarang aku masih tidak percaya aku menyatakan cinta padanya. Saat itu aku hanya ingin mengungkapkan semua yang ada di pikiranku. Ada apa denganku? Di saat aku memiliki Yoona, aku malah mengatakan cinta pada orang lain. Aku membayangkan bagaimana hancurnya perasaan Yoona seandainya dia sampai tahu hal ini.
Kata-kata Jaejoong benar-benar membuatku bingung. Bingung dengan perasaanku sendiri terhadap mereka berdua. Selama ini aku mengagumi dan menyayangi Yoona. Dia sangat lembut dan perhatian padaku. Sosoknya yang terlihat lemah membuatku ingin selalu melindunginya. Sedangkan Jaejoong, selama ini kulihat dia dengan temperamennya yang labil. Kadang lembut, kadang dingin dan tidak bisa diatur. Orang yang tidak mau menggantungkan nasibnya terhadap siapapun. Tapi sekarang aku tahu bahwa semua sikap itu hanya untuk menutupi hatinya yang terluka. Berarti bukankah perasaanku padanya hanyalah sebatas rasa kasihan? Kasihan atas nasibnya yang buruk?
Tapi kalau hanya rasa kasihan yang ada, kenapa aku harus marah melihatnya bermesraan dengan orang lain? Selama ini kupikir aku kesal karena dia mengingkari janji kami. Tapi apakah benar hanya karena itu? Setiap melihat mereka aku begitu marah. Aku bisa merasakan emosi yang naik ke kepalaku. Aku merasakan darahku yang mendidih sampai aku harus mati-matian menahan keinginanku untuk memukul setiap orang yang dekat dengannya.
Aku teringat waktu Yoona masih bersama Siwon dulu. Sepertinya aku tidak pernah merasa semarah itu setiap aku melihat mereka bersama. Ya, aku akui aku memang membenci Siwon karena dia menyakiti Yoona. Sekarang aku baru sadar, ternyata bukan cemburu yang kurasakan.
Saat aku berciuman dengan Yoona, aku merasa malu dan salah tingkah. Tapi hanya itu saja. Saat aku mencium Jaejoong, aku bisa melupakan apapun yang ada di sekelilingku. Seolah dunia berhenti, hanya ada kami berdua. Aku merasa hatiku hangat dan aku tidak mau melepaskannya. Perasaan yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Jadi apa waktu itu aku terlalu cepat mengambil kesimpulan tentang perasaanku terhadap Yoona?
Perasaanku yang rumit terhadap Jaejoong selama ini, benarkah itu perasaan cinta? Aku menjalin hubungan dengan Yoona, apa hanya untuk melarikan diri dari kenyataan bahwa aku sebenarnya mencintai seorang namja? Untuk membuktikan bahwa aku namja yang normal? Lalu apa yang harus kukatakan pada Yoona sekarang? Bagaimana aku harus menjelaskannya supaya hatinya tidak terluka? Pabo Yunho! Sudah jelas hati Yoona akan hancur mendengar ini semua. Kau orang yang tidak punya hati! Kau sudah memperalat Yoona! Kau orang yang paling kejam di dunia ini!
Lalu haruskah aku terus bersama Yoona? Berada di dekatnya saat hatiku ada di tempat lain, bukankah itu lebih menyakitkan? Itu benar-benar tidak adil untuknya. Haruskah aku bertahan dengan kebohongan yang bisa membuatnya bahagia, daripada aku harus mengungkapkan kejujuran yang akan melukai perasaannya?
End of POV
###
Malam itu Yunho menunggu Jaejoong di Mirotic Club. Dia berpikir Jaejoong sering datang ke tempat itu. Dan benar juga, beberapa saat kemudian dia melihat Jaejoong datang bersama Yoochun dan beberapa namja yang lain. Dia menghirup nafas dalam-dalam sebelum melangkahkan kakinya mendekati mereka.
"Jaejoong-ah."
Para namja itu mengalihkan pandangan mereka ke arah Yunho.
"Yunho, sudah berapa kali kubilang aku tidak mau melihat wajahmu lagi? Kau murid teladan, tidak seharusnya kau ada di tempat seperti ini. Itu hanya akan merusak citramu." sahut Jaejoong dengan wajah bosan.
"Aku ada perlu denganmu." ujar Yunho tanpa menghiraukan kata-kata Jaejoong.
Dengan cepat Yoochun mencekal lengan Yunho. "Yah! Apa kau tuli? Kau sama sekali tidak mendengarkan peringatanku tempo hari, huh?"
Yunho menatap Yoochun dengan tajam. "Aku tidak punya masalah denganmu. Aku ada urusan dengannya." sahutnya sambil mengarahkan dagunya menunjuk Jaejoong.
Yoochun terkejut. Dia tidak menyangka Yunho berani menantangnya. "Urusan dia itu berarti urusanku juga. Kau sudah berani mengganggunya. Kau memang sudah bosan hidup rupanya."
Secepat kilat sebuah tinju yang keras melayang ke wajah Yunho. Yunho terjatuh karena pukulan yang tiba-tiba itu dan mengejutkan semua orang di sekitarnya. Dalam sekejap kegaduhan memenuhi pub itu. Yunho bangkit dan balas memukul Yoochun hingga terdorong ke belakang. Segera para namja yang bersama Yoochun membantunya memukuli Yunho.
Dua orang satpam datang berusaha menghentikan perkelahian itu. Mereka menggiring paksa Yunho dan lain-lain keluar dari pub.
"Jangan pernah datang lagi kalau hanya mau membuat keributan di sini." ujar salah satu satpam lalu meninggalkan mereka.
Yoochun tidak mau menyia-nyiakan waktu. Dengan cepat dia mendekati Yunho dan kembali melayangkan pukulannya.
"Sudah cukup!" Yoochun mengabaikan teriakan Jaejoong. Dia masih saja mengarahkan tinjunya ke wajah Yunho.
Jaejoong mendekati Yoochun dan menarik tangannya. "Aku bilang sudah cukup, Yoochun-ah!" bentaknya.
Mata Yoochun membelalak. "Jae-ah…" serunya, tidak mengira kalau Jaejoong akan membela Yunho.
"Lihat semua yang sudah kaulakukan! Kalian masih akan membuat keributan seperti apa lagi, huh?!"
Yoochun diam saja. Dia mengepalkan kedua tangannya penuh emosi. Ini pertama kalinya Jaejoong membentaknya, dan ini semua hanya karena Yunho? Dia benar-benar tidak bisa mempercayainya.
"Pergi kalian semua!" sahut Jaejoong dingin.
"Tapi, Jae…"
"Kau tidak dengar? Pergi kalian semua dari sini!"
Yoochun tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Dilihatnya Jaejoong benar-benar marah sekarang. Dia memberikan tatapan tajam pada Yunho sebelum dia pergi bersama teman-temannya.
Susah payah Yunho berusaha untuk berdiri dengan tubuhnya yang penuh luka lecet. Tanpa menghiraukan Yunho, Jaejoong berjalan meninggalkan tempat itu.
"Jae-ah." panggil Yunho, tapi namja cantik itu terus berjalan tanpa menoleh sedikitpun. Yunho berlari mengikuti Jaejoong sampai dia berhenti di sebuah lorong yang sepi.
"Aku tidak tahu lagi apa yang harus kukatakan supaya kau berhenti mengejarku. Apa lagi yang kau mau?" sahut Jaejoong dingin.
"Gomawo, Jae-ah. Kau sudah menyelamatkanku lagi." ujar Yunho dengan lembut.
Jaejoong memutar bola matanya dengan bosan. "Itu saja kan yang mau kaukatakan? Aku mau pergi." ujarnya lalu berjalan menjauh.
"Tunggu." Yunho memegang lengan Jaejoong. Jaejoong membuang wajahnya tidak mau melihat Yunho.
Yunho menarik nafas dalam-dalam berusaha mengumpulkan keberaniannya. "Ti-tinggallah bersamaku, Jae-ah." ujarnya terbata-bata.
"M-mwo?" Jaejoong terbelalak menatap Yunho. Apa otak Yunho sudah rusak? Berani-beraninya dia berkata seperti itu?
"Kumohon tinggallah bersamaku Jae, di apartemenku. Jangan sia-siakan hidupmu yang berharga dengan terus berada di rumah itu, yang hanya akan membuatmu semakin menderita. Kau pantas mendapatkan kebahagiaan, Jae-ah. Aku berjanji aku akan menjagamu."
Jaejoong terpaku mendengar ucapan Yunho. Beberapa saat lamanya dia tidak bisa mengeluarkan sepatah katapun. Tiba-tiba tawanya meledak. "Haha… Apa aku tidak salah dengar? Kau mau Yoona salah paham terhadapku, Yunho?"
Yunho mengerutkan alisnya. "Apa hubungannya dengan Yoona, Jae?"
"Dia pacarmu, kan. Kalau dia melihat namja yang tidak ada hubungan apa-apa tinggal berdua denganmu, apa yang akan dipikirkannya?"
"Jae, aku mencintaimu…"
"Tapi dulu kaukatakan kau mencintainya. Kau sendiri yang bilang kalau cinta hanya ditujukan untuk seseorang. Tsk, mulutmu memang tidak bisa dipercaya, Yunho."
Yunho menatap Jaejoong dengan pandangan menyesal. "Mianhae. Aku… Aku baru sadar sekarang kalau… kalau bukan Yoona yang kucintai."
Jaejoong tertawa sinis. "Lalu? Kau berharap aku menjawab apa?"
"J-Jae…"
"Yunho-ah, mianhae, dengan menyesal harus kukatakan kalau… aku tidak mencintaimu."
Mata Yunho terbelalak menatap Jaejoong. "J-Jae…"
"Mianhae. Aku tidak bermaksud mengecewakanmu. Selama ini aku sudah membuatmu bingung dengan perasaanmu. Mianhae ne?" sahut Jaejoong sambil menyeringai lalu berjalan pergi.
Yunho kembali menarik lengannya. "Jae, kumohon beri aku kesempatan."
"Yunho, kalau kaubilang kau mencintaiku hanya karena kau melihat dua orang Kim yang memperlakukanku seperti itu, simpan saja tenagamu untuk membujukku. Aku tidak butuh belas kasihan dan pertolongan darimu atau siapapun. Aku bisa mengatasinya sendiri. Lebih baik kau urusi saja pacarmu itu. Kelihatannya dia lebih menyedihkan daripada aku."
Yunho terkejut juga mendengar Jaejoong menyebut orangtuanya seperti itu. "Jaejoong-ah, aku mencintaimu. Sekarang aku sadar bahwa perasaanku ini tulus, bukan sekedar rasa kasihan padamu. Jeongmal saranghae, Jae-ah."
"Lalu? Apa yang bisa kauberikan kalau aku tinggal denganmu?"
Yunho memandang Jaejoong kebingungan. "Aku…"
"Kau tahu kalau aku butuh banyak uang. Apa kau bisa menjamin aku tidak akan kekurangan jika bersamamu nanti?"
"Begitu pentingkah uang bagimu, Jae? Lebih dari apapun di dunia ini?" tanya Yunho pahit.
Jaejoong tertawa keras. "Ne. Tentu aku sangat memerlukan uang untuk membeli pakaian dan perhiasan, merawat tubuhku, melakukan apapun yang kusukai. Apa kau punya semua yang kubutuhkan, Yunho-ah?"
Yunho mengepalkan tangannya ketika merasakan harga dirinya diinjak-injak. "Ani! Aku tidak punya apapun. Tapi aku berjanji aku akan berusaha keras untuk…"
"Apa kau punya cukup uang untuk membeliku, seperti dulu dua orang Kim itu membeliku dari orangtua kandungku?"
###
Yak, sekian bwt chap ini. mian kl kata2nya byk yg nggombal & alay, haha... maklum saya br pgn bljr bikin lirik lagu ~info ga penting, abaikan~ XD. apa msh ada review bwt saya? gomawo sbelumnya :D.
