FANFICTION

MY LOVE, MY STEPMOTHER

CAST : KIM JAEJOONG, JUNG YUNHO, SHIM CHANGMIN, VICTORIA SONG

RATE M/TYPOS/GS

DLDR!

.

.

.

.

.

CHAP 14

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam, tetapi belum ada tanda – tanda bahwa jaejoong akan pulang. Dan anak buah yunho pun belum memberikan kabar tentang keberadaan jaejoong. Yunho duduk dimeja makan ditemani oleh changmin. Dalam hati, changmin juga merasa gusar dan tidak tenang, tetapi dia harus dapat beracting tenang dihadapan ayahnya.

"Kira – kira kemana perginya jaejoong dan chaerin?" yunho bertanya pada changmin.

"Mollayo appa, apa jaejoong pergi bersama namja yang waktu itu kita lihat kemarin datang berkunjung ke rumah?" changmin memberikan alibinya.

"Itu yang orang appa laporkan. Sepertinya jaejoong pergi bersama namja itu. Tapi siapa namja itu dan apa hubungannya dengan jaejoong?"

"Apa yang akan aboji lakukan jika eomma tidak pulang?" victoria yang tiba – tiba datang bergabung dan duduk disamping changmin.

"Aboji akan mencarinya kemana pun sampai ketemu. Bagaimana pun caranya."

"Jika eomma besok pulang, apa yang akan aboji lakukan?"

"Aboji akan minta maaf dan pastinya akan memperbaiki hubungan kami. Demi Tuhan aboji tidak berniat untuk menceraikan jaejoong. Sampai kapan pun." Yunho menegaskan diakhir kalimatnya.

"Tapi jika eomma yang ingin bercerai, apakah appa kan mengabulkannya?" changmin bertanya dengan ragu

"Aniyo. Tidak mungkin jaejoong ingin bercerai. Chaerin butuh sosok ayah. Dan jaejoong juga butuh bekerja. Perusahaan mana yang mau menerima seorang janda dari seorang Jung? Mereka pasti menolak jaejoong untuk bekerja."

"Bisa saja setelah kalian bercerai, jaejoong akan menikah lagi. Dengan namja itu mungkin…." Changmin sedikit ragu dengan kata – katanya sendiri.

"Kau jangan mengada – ngada Jung Changmin. Sudah sana kalian beristirahat saja."

"Baiklah. Besok aku harus pergi ke Busan untuk melihat kantor cabang kita yang disana appa. Katanya ada sedikit masalah." Changmin sudah berdiri dari duduknya.

"Baiklah, hati – hati nak."

"Ne appa, selamat malam." Changmin berlalu menuju kamarnya

"Aboji juga harus jaga kesehatan. Jangan tidur terlalu malam aboji." Victoria pamit mengikuti changmin.

'Bagaimanapun caranya, aku harus membawa mu dan chaerin pulang ke rumah ini lagi Jae.' Ucap yunho dalam hati.

.

.

.

.

.

.

Malam ini jaejoong lewati dengan sebuah selang infus yang terpasang dipunggung tangan kirinya. Kenapa bisa? Karena saat joong ki pulang bersama dengan ji hyo, jaejoong sudah tergeletak pingsan didapur. Untung saja, saat kejadian itu chaerin ada didalam kamar tertidur dengan pulasnya.

"Kalian tidur satu kamar?" ji hyo bertanya pada joong ki karena, tidak ada tanda – tanda bahwa joongki akan beranjak dari duduknya diatas ranjang tempat jaejoong terbaring lemah.

"Aniyo, aku hanya ingin menemaninya saja disini. Kau bisa beristirahat dikamar dulu. Kita gantian menjaga jaejoong." Joongki malah menyuruh ji hyo beristirahat.

"Arraseo, aku kan beristirahat, jika jaejoong bangun, minumkan obat penurun demamnya lagi." Ji hyo keluar dari kamar jaejoong dan menutupnya dengan pelan.

.

.

.

.

"Apa yang kau pikirkan chagi? Apa mereka menyakiti mu?" joongki mengusap pipi jaejoong lembut.

Sejak mereka bertemu, jaejoong belum bercerita apa – apa dan joong ki pun tidak berniat untuk bertanya.

.

.

.

.

.

.

Pagi ini yunho memutuskan untuk tidak bekerja. Dia merasakan tubuhnya sangat lelah. Lelah hati dan lelah pikiran. Semalam pun dia tidur tidak tenang.

Yunho mengambil ponselnya dan mengecek apakah ada kabar dari orang – orang suruhannya.

Saat yunho membuka ponselnya dan terdapat satu pesan singkat dan empat email dari orang – orang suruhannya. Pesan singkatnnya berisikan bahwa mereka sudah berhasil mengetahui nama namja yang kemarin berkunjung ke rumahnya dan menemui jaejoong. Dan keempat email tersebut berisikan data pribadi dari namja yang diduga pergi bersama jaejoong.

Dengan sabar yunho membuka email yang dikirimkan satu per satu. Dari foto wajah namja yang diketahui bernama song joong ki sampai pendidikan dan pekerjaan, semuanya lengkap. Tetapi data bahwa joong ki merupakan saudara dari jaejoong ataupun alamat nya tidak tertera dalam email tersebut.

Yunho semakin penasaran dengan namja yang diduga pergi bersama istri dan anaknya ini. Darimana jaejoong bisa kenal dan kenapa jaejoong bisa pergi dengan namja yang cukup misterius ini.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Eungh~" jaejoong mulai membuka matanya.

"Kau sudah sadar sayang?" joong ki mengusap pipi jaejoong dengan sayang.

"Waeyo oppa? Kenapa tangan ku bisa diinfus? Chaerin mana?"

"Hey tanya nya satu per satu. Kenapa kamu bisa diinfus karena kamu pingsan di dapur. Dan chaerin ada di kamar oppa bersama dengan ji hyo. Kamu tenang saja hmm?"

"Ji hyo eonnie ada disini?"

"Ne, dia juga yang memasangkan selang infus mu. Oppa sudah membuatkan bubur. Makan sedikit ne? akan oppa ambilkan."

"Ne oppa. Gomawo."

"Sebentar ne." joong ki beranjak dari duduknya dan berjalan keluar dari kamar jaejoong.

.

.

.

.

.

.

.

Pesawat changmin akhirnya mendarat di Gimhae International Airport Busan. Changmin keluar dengan hanya membawa sebuah koper kecil dan sebuah ransel berisi laptop. Dilihat dari cara nya berpakaian, sangat tidak mencerminkan seorang eksekutif muda yang sedang melakukan perjalanan dinas, dia malah terlihat seperti mahasiswa yang sedang berlibur.

Changmin berjalan keluar bandara dan mencari taxi untuk menuju hotel terdekat dengan Kantor Cabang perusahaan ayahnya. Changmin memang sudah beberapa kali ke Busan, sehingga dia tidak perlu untuk dijemput oleh karyawan kantornya.

Ketika changmin baru akan masuk ke dalam taxi, ponselnya berdering. Dengan cekatan changmin mengangkat teleponnya.

"Bagaimana perkembangannya?" ternyata orang suruhan changmin yang menelepon

"Dari CCTV lalu lintas yang berhasil kami retas, Mobil tersebut terlihat meninggalkan seoul menuju busan sekitar pukul sepuluh pagi."

"Busan?" changmin melihat ke sekelilingnya.

"Ne tuan muda. Kami akan segera ke Busan untuk mencari tahu lagi."

"Apakah orang suruhan appa juga mengetahuinya?" tanya changmin waspada

"Sepertinya suruhan tuan besar juga sudah mengetahuinya."

"Baiklah, bergerak tanpa mencurigakan." changmin mematikan teleponnya dan masuk ke dalam taxi.

Di Busan ya? Kita memang berjodoh Kim Jaejoong.' ucap changmin dalam hati

"Tolong ke Lotte Hotel Ahjussi."

"Baik Tuan." taxi pun mulai melaju dan membawa changmin menuju hotel.

'Aku yang akan menemukan mu lebih dahulu jae. Dan tak akan ku biarkan kau lepas lagi, walaupun harus melawan appa ku sendiri.' ucap changmin dalam hati.

.

.

.

.

Terhitung sudah hampir tiga hari changmin berada di Busan, tapi dia belum mendapatkan tanda – tanda akan bertemu dengan jaejoong. Orang changmin pun belum mendapatkan berita apa – apa tentang jaejoong maupun namja yang diduga pergi membawa kabur jaejoongnya.

ddrtttt... drrtt... ponsel changmin yang berada diatas meja rapat bergetar cukup keras, sehingga mau tidak mau, changmin harus mengangkat panggilan teleponnya terlebih dahulu.

"Silahkan teruskan dulu rapatnya. Saya harus terima telepon terlebih dahulu." Diambilnya ponsel tersebut sambil Changmin mengunlock ponselnya dan berjalan keluar ruang rapat.

"Yeobseo appa?"

[Changmin ah, jaejoong mengirimkan dua orang pengacara ke kantor appa dan membawa surat cerai yang sudah dia tanda tangani. Bagaimana ini?] suara yunho terdengar begitu kalut di telepon.

"Pengacara? Surat cerai? Mungkin saja jaejoong menunggu dimobil." Changmin cukup terkejut atas perkataan appa nya ini. Bagaimana bisa?

[Aniyo, orang suruhan appa sudah mengikuti pengacara itu, namun mereka malah pergi kembali ke kantor mereka. Sama sekali tidak ada tanda – tanda jaejoong.] yunho berusaha menjelaskan.

"Appa harus tenang, appa hubungi saja pengacara Jang untuk memeriksa surat itu asli atau palsu. Bisa saja kan mereka memalsukan surat cerai. Jaejoong pasti sangat tahu apa resiko nya jika harus bercerai dari appa." Changmin menenangkan appanya. Otak Changmin yang encer pun tiba – tiba membeku tidak dapat berpikir.

[Ne arraseo. Kapan kau pulang nak?]

"mungkin besok atau lusa. Karena disini cukup kacau dan aku juga harus mencari lokasi untuk membuka cabang restaurant ku appa."

[Geure. Jangan terlalu lelah nak.]

"harusnya aku yang bilang seperti itu ke appa. Sebaiknya appa pulang dan beristirahat dulu hum... aku kan minta victoria untuk pulang dan menemani appa."

[aniyo, gwaenchana changmin ah. Tidak perlu menelepon victoria. Appa pulang saja sekarang. Annyeong.]

"Ne appa. Hati – hati." Changmin mematikan teleponnya.

Ketika changmin akan kembali ke dalam ruangan rapat, ponselnya kembali bergetar. Dan setelah dilihat siapa yang menelpon, changmin buru – buru menjawab teleponnya.

"Apa ada kabar? Dimana dia?" tanya changmin tergesa gesa

[Dia sedang makan di sebuah Toko Kue. Lokasinya tidak jauh dari Perusahaan Jung.] sambil menerima panggilan, changmin berjalan cepat kembali ke ruangannya dan mengambil kunci mobil serta dompetnya.

"Apa nama toko kuenya? Apa dia sendirian atau dengan orang lain?" tanya changmin tidak sabaran sambil berjalan ke arah lift.

[Peek Boo Bakery. Dia sendirian tuan.]

"Baiklah, kerja bagus. Pastikan dia masih berada disitu sampai aku datang." Changmin mematikan ponselnya dan memasuki lift. Ditekannya tombol ke basement dengan tidak sabaran.

'Kau tertangkap kali ini jae.' Ucap changmin sambil menyeringai.

.

.

.

.

.

.

Sekitar sepuluh menit changmin sudah sampai di depan toko kue dimana jaejoong berada. Dia memarkirkan mobilnya dengan asal. Dengan tergesa – gesa changmin memasuki toko tersebut. Dan matanya tidak berhenti mencari dimana jaejoongnya duduk. Dan... got it!

Changmin menghampiri jaejoong yang sedang meminum milkshake berwarna merah muda.

"Sudah puas berlibur selama tiga hari di Busan, Nyonya Jung Jaejoong?!" changmin berusaha untuk meredam semua emosinya. Terdengar dari suaranya yang begitu dalam namun menggoda.

Jaejoong yang kaget, langsung berdiri dan menoleh ke arah changmin. Demi Tuhan, jaejoong yang sedang menikmati sorenya dengan makan sepotong black forest dan strawberry milkshake harus dikagetkan dengan kedatangan anak tirinya.

Buru – buru jaejoong mengambil dompetnya dan langsung bergegas meninggalkan changmin. Namun sayang, respon changmin cukup cepat. Dengan cepat, changmin menahan lengan jaejoong dan langsung menggiring tubuh jaejoong keluar toko.

"Jangan berteriak atau meminta tolong. Kalau tidak mau ku cium didepan orang." Changmin berbisik di telinga jaejoong.

Jaejoong yang masih terkejut dan blank, otomatis menganggukkan kepalanya. Suara changmin seperti menghipnotis dirinya.

"Good girl..." changmin kemudian membukakan pintu penumpang dan menyuruh jaejoong untuk masuk. Setelah memastikan jaejoong masuk dan duduk tenang, changmin sedikit berlari memasuki kursi pengemudi. Sesudah masuk ke dalam mobil, changmin langsung mengunci mobilnya dan menjalankan mobilnya.

"Kita akan kemana?" jaejoong memberanikan dirinya untuk bertanya.

"Ke penjara." Jawab changmin dingin.

"Pen... jara?" jaejoong melihat ke sekitarnya. Dia harus tahu dia ada dimana. Dia akan menelepon joong ki nanti ketika changmin lengah.

.

.

.

.

.

.

"Apa jaejoong sudah pulang ji hyo ah?"

[Aniyo, waeyo? Aku hanya bersama chaerin dari tadi. Dia pun tidak membawa ponselnya.]

"Arraseo, gwaenchana. Tolong jaga chaerin, sepertinya malam ini jaejoong tidak akan pulang."

[Tidak pulang? Lalu dia kemana? Apa dia diculik? Apa dia...]

"Jangan khawatir. Jaga saja chaerin dengan baik. Aku yang akan menjaga jaejoong disini. Ku tutup teleponnya. Annyeong." Joongki langsung memutuskan sambungan teleponnya.

Joong ki tetap mengikuti kemana mobil changmin membawa jaejoong pergi. Dengan jarak yang pastinya tidak akan changmin sadari jika dia sedang diikuti.

'Oppa akan menjaga mu dari jarak jauh jae. Oppa tau dia tidak akan menyakiti mu.' Joong ki menghentikan mobilnya di depan sebuah Apartment yang cukup sederhana untuk ukuran seorang Jung. Joong ki kemudian menelpon orangnya untuk menyelidiki kenapa changmin membawa jaejoong ke apartment ini.

.

.

.

.

Sesampainya di dalam apartment, changmin langsung menyeret tubuh jaejoong menuju sebuah kamar yang tidak terlalu besar namun cukup nyaman.

Bruk... dilemparnya tubuh jaejoong ke atas ranjang dan dengan brutal changmin menelanjangi jaejoong. Jaejoong meronta, karena changmin sudah kasar. Baju yang jaejoong kenakan di robek begitu saja seperti merobek selembar kertas. Celana panjang dan celana dalam jaejoong pun sudah terlepas dari tubuhnya. Tubuh jaejoong hanya menyisakan bra berwarna pinknya saja.

Changmin mencium bibir jaejoong dengan kasar. Bibir yang selalu dia cium dengan lembut kini diciumnya dengan penuh emosi yang membara. Bra jaejoong pun sudah terlepas dan entah terlempar kemana.

Dengan cekatan tangan changmin membuka baju nya sendiri dan tidak lupa, changmin mengikat tangan jaejoong keatas dengan menggunakan dasi hitamnya.

"menjauhlah min!" entah harus bagaimana lagi jaejoong meronta agar changmin tersadar.

"Diamlah! Ini kan yang kau inginkan? Diperlakukan seperti pelacur! Katakan dimana saja namja itu telah menyentuh tubuhmu?" changmin membentak jaejoong

"Yang jelas namja itu tidak memperlakukan ku seperti jalang walau aku seorang jalang mu dan ayah mu!" jaejoong tidak kalah untuk berteriak.

"Ku bilang diam jae!" changmin terus membentak jaejoong

Tanpa aba – aba changmin langsung memasukkan penis nya ke dalam lubang hangat jaejoong.

"Akhhhh..." jaejoong mengerang kesakitan

"Jangan berpura – pura kesakitan seperti perawan yang baru pertama kali bercinta! Kau adalah jalang ku Jung Jaejoong!" changmin menggerakkan penisnya maju mundur dengan cepat. Nafsu dan emosinya telah menguasi hati dan pikiran changmin saat ini. Changmin yang terkenal kalem dan ramah bisa menjadi monster bila habis kesabarannya. Apalagi menyangkut dengan jaejoong.

Changmin menghisap nipple jaejoong dengan kasar, terkadang juga menggigitnya dengan keras.

"Ahhh... hiks... hikss... appo..." jaejoong hanya bisa merintih kesakitan. Bukan seperti ini yang dia mau.

Dengan kasar, changmin membalik tubuh jaejoong sehingga dalam posisi menungging. Mau tidak mau, penis yang di dalam vagina jaejoong pun rasanya seperti diperas sehingga changmin mendesah kenikmatan.

Plak... plak... changmin menampar kedua pantat jaejoong.

"Kau jalang tidak tahu di untung jae! Kenapa kau kabur dengan namja lain hah? Apa kurangnya aku? Setelah appa dan aku, apakah vagina mu masih gatal ingin menikmati penis lain hah?!" kata – kata changmin cukup kasar sehingga membuat jaejoong semakin terisak. Bukan sakit karena fisik lagi namun karena hinaan yang changmin teriakkan kepadanya.

"Aku bukan jalang. Kau salah min... hikss... jeball..." tubuh jaejoong melemas karena kelelahan. Dia baru saja sembuh dari sakit, ditambah dengan keputusannya untuk bercerai dari yunho. Dan sekarang ditambah, dia harus diperkosa oleh changmin dengan brutal seperti ini. Rasanya ingin mati saja. Apalagi ketika changmin meneriakinya jalang.

Plakk... plakkk... in... out... in... out... tanpa ampun changmin terus menusuk vagina jaejoong dengan penis besarnya.

"Ahhhh..." sepertinya jaejoong sudah mencapai puncaknya. Tetapi kali ini dia sangat amat tidak menikmati puncaknya.

"Ohh sudah keluar rupanya? Dasar jalang! Vagina mu nakal sekali eoh?"

Gerakan changmin semakin cepat dan akhirnya...

Crott...crott... crottt... changmin menumpahkan semua spermanya ke dalam vagina jaejoong. Diremas dengan kuatnya pantat jaejoong, sehingga pantatnya yang sudah merah karena tamparan, semakin memerah.

"ughhh..." jaejoong mengeluh sebelum akhirnya dia pingsan.

"Kau benar – benar jalang yang hebat jae! Tidak salah appa dan aku jatuh cinta pada mu."

"..."

Changmin merasa, tubuh jaejoong tidak bergerak. Buru – buru dia melepaskan penisnya dari vagina jaejoong dan membalik tubuh jaejoong.

"Jae..." changmin menepuk pipi jaejoong

"..."

"Jung Jaejoong..." changmin sedikit panik. Tapi changmin masih dapat merasakan nafas jaejoong.

Changmin melepaskan ikatan tangan jaejoong dan berbaring disamping tubuh jaejoong sambil mendekap tubuh telanjang jaejoong.

"Mianhe sayang... mian..." changmin membisikkan kata maaf ditelinga jaejoong.

Dengan satu tangan yang bebas, changmin mengambil ponselnya dan menelepon pengacaranya.

"Buatkan surat perceraian ku dengan victoria." Tanpa mendengar jawaban dari pengacaranya. Changmin langsung memutuskan sambungan teleponnya.

"Tidurlah dengan nyenyak malaikat ku, agar besok kau dapat memarahi dan memaki ku karena telah lancang memperkosa mu layaknya pelacur. Chu~~ " changmin mencium kening jaejoong

"Maafkan aku karena mengatai mu jalang... kau bukan lah jalang sayang... Chu~ Chu~ " changmin mencium kedua mata jaejoong.

"dan maaf karena sudah membuat mu menangis... Chuu~~ " changmin mencium bibir jaejoong yang telah membengkak dengan penuh cinta dan kelembutan.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Eungg~~~ jaejoong mengeluh pelan, karena sinar matahari yang masuk ke dalam kamar.

"Selamat Pagi sayang. Kau ingin makan disini atau ke meja makan?" sapa changmin sambil membuka gorden jendela kamarnya.

"Chang... min?" tanya jaejoong ragu

"Ne aku changmin mu sayang." Changmin menghampiri jaejoong dan menggenggam tangan hangat jaejoong.

Sretttt... jaejoong menarik kembali tangannya yang di genggam oleh changmin. Changmin hanya terpaku melihat jaejoong menolaknya.

"Antarkan saja aku kembali ke toko kue kemarin." Jaejoong berusaha duduk sambil menahan sakit dan ngilu diseluruh tubuhnya.

"Sayang..."

"Berhentilah memanggilku sayang!" jaejoong berteriak di depan wajah changmin. Wajah jaejoong begitu dingin.

"Jae... mian... aku... "

"Geumanhae!" jaejoong menuruni kasur dengan tubuh telanjangnya. Dengan tertatih dia mengambil bra dan celana dalamnya yang berserakan di lantai. Sambil meneteskan air mata jaejoong memakai satu persatu underware nya. Changmin bersyukur bahwa tadi pagi, dia sudah membersihkan tubuh jaejoong.

Saat jaejoong akan memakai kaosnya, dia hanya memandang miris pada kaos yang telah changmin robek.

Jaejoong melihat ke sekitar kaAPR, tidak mungkin dia memakai kaos yang sudah robek tidak berbentuk. Dan ketika jaejoong melihat sebuah jaket tersampir di sofa, dia langsung mengambil kemudian memakainya.

"Anda tidak akan kekurangan pakaian jika saya memakai jaket anda kan?" tanya jaejoong begitu dingin

"Semua yang ada pada ku milik mu juga jae."

"Tapi tidak hati anda, Tuan."

"Saya permisi. Anda tidak perlu membayar saya hanya karena saya seorang pelacur rendahan. Dengan memberikan jaket ini, anggaplah anda telah membayar saya." jaejoong berjalan keluar kamar.

"Sayang….." changmin menahan tangan jaejoong, namun jaejoong kembali menepisnya.

Plakkkkk… jaejoong malah menampar pipi changmin. Tidak keras, namun tetap saja terasa perih. Dan tidak lupa jaejoong pun menendang selangkangan changmin.

"Ughh jae…." changmin jatuh berlutut menahan sakit

Dengan menahan sakit pada vagina nya, jaejoong berusaha untuk berlari menuju pintu apartment. Jaejoong harus mencari telepon umum untuk menelepon oppanya. Untuk saat ini jaejoong tidak ingin bertemu dengan Jung mana pun. Apalagi setelah keputusannya untuk bercerai dari Jung Yunho.

Jaejoong berjalan cepat menuju lift, ditekannya terus tombol lift sampai akhirnya pintu lift terbuka. Buru - buru jaejoong masuk dan langsung menekan tombol G untuk membawanya sampai ke lobby. Sesampainya di lobby, jaejoong langsung berlari keluar apartment dan mencari taxi. namun tidak ada taxi yang lewat. dan yang lewat hanya sebuah mobil yang jaejoong kenal, yaitu mobil oppanya.

"Masuklah jae…" secara otomatis pintu mobil terbuka.

"Oppa….."

"Cepat masuk lah sayang…."

Tanpa pikir dua kali, jaejoong langsung naik ke kursi penumpang dan menutup pintu dengan cepat. Jaejoong takut jika changmin tiba - tiba datang dan membawa nya pergi lagi. Seketika jaejoong masuk ke mobil, joong ki langsung mengunci pintu mobil dan langsung menjalankan mobilnya.

"Kau kabur jae?"

Tidak menjawab, jaejoong hanya menganggukkan kepalanya

"Tidurlah…."

Lagi - lagi jaejoong hanya menganggukkan kepalanya.

"Apa kita perlu memeriksa keadaan mu ke Rumah Sakit?"

"Aniyo oppa, kita pulang saja." jawab jaejoong

"Arraseo.. Tidurlah…" joong ki mengusap rambut jaejoong

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Sesampainya di Rumah, joong ki yang tidak tega membangunkan jaejoong, akhirnya, dia memutuskan untuk menggendong jaejoong sampai ke kamarnya tanpa membangunkan. Dengan perlahan digendongnya jaejoong. Karena kunci rumahnya berada di kantong celana nya, sehingga ia memutuskan untuk memencet bel rumah. walaupun sedikit kesulitan namun joong ki berhasil memencet bel tanpa harus membangunkan jaejoong.

"Ommona, apa yang terjadi dengan jaejoong?"

"Bisakah kau jangan berisik dulu ji hyo ah….." buru - buru joong ki membawa jaejoong menuju kamarnya. Untung saja badan jaejoong seringan kapas, sehingga tidak ada kesulitan untuk membawanya. Ji hyo diam sambil mengikuti langkah joong ki, raut khawatir pun tidak luput dari wajah cantiknya.

sesampainya dikamar, joong ki langsung menurunkan tubuh jaejoong diranjang dengan perlahan.

"Jadi kenapa dengan jaejoong?"

"Sebaiknya kita bicara didepan saja." joongki merangkul bahu ji hyo dan membawa ji hyo keluar kamar.

"Aku mengikuti jaejoong dari kemarin. Dan dia dibawa secara paksa oleh salah namja Jung. Aku pun belum tahu, itu Jung Yunho atau Jung Changmin. Tapi menurut feeling ku, dia itu Jung Changmin."

"Kenapa kau yakin kalau itu Jung Changmin?" tanya ji hyo penasaran

"Karena jaejoong terlihat begitu menyedihkan. Pasti bukan yunho yang membuat dia begitu. Saat kemarin malam dia menanda tangani surat cerai, wajahnya tidak sesedih saat aku melihatnya tadi pagi."

"Lalu? Apa jaejoong sudah bercerita?"

"Aniyo. Dia belum bercerita apa - apa. Sepertinya semalam, jaejoong habis di 'hajar' habis - habisan oleh changmin. Bisakah kau periksa dulu kondisi tubuhnya?"

"Ne, akan aku periksa keadaan jaejoong. Oh ya, aku sudah menyiapkan makanan. Kau bisa sarapan dulu." ji hyo kembali masuk ke kamar jaejoong

Joong ki hanya tersenyum melihat ji hyo.

'Harus kah aku menikahinya secepat mungkin?' ucap joong ki dalam hati.

"Shit! Kemana perginya dia? Kenapa cepat sekali berlari?"

Changmin sudah berlari sekuat yang dia bisa untuk mengejar jaejoong sambil menahan ngilu diselangkangannya, tetapi tetap saja tidak terkejar.

"Arghhh! Sial!"

Changmin merogoh kantong celananya untuk mengambil ponsel, namun sial beribu sial, ponselnya pun tertinggal di meja nakas kamar.

"Damn it!" changmin menendang tong sampah yang ada di dekatnya.

Mau tidak mau, changmin harus kembali lagi ke apartmentnya dan mengambil barang - barangnya. Dia harus kembali ke kantor dan tidak lupa menghubungi orang - orang nya untuk kembali melacak keberadaan jaejoong.

.

.

.

.

.

Sesampainya di kantor, changmin harus langsung masuk ke ruang rapat. Ini akan menjadi hari yang berat, belum lagi changmin harus memikirkan jaejoong. Changmin sangat amat menyesal telah memaksa jaejoong dan berbuat kasar. Changmin ingin memeluk jaejoong.

Rapat yang berlangsung hampir empat itu akhirnya selesai juga. Changmin langsung mengecek ponselnya yang sudah beberapa kali bergetar.

Setelah melihat notifikasi yang masuk, changmin lagi - lagi harus berlari untuk mengambil kunci mobil di ruangannya.

Anak buah changmin melihat namja yang diduga membawa kabur jaejoongnya berada di café yang sama dan sambil menggendong chaerin. Anak buah changmin dengan jelas memotret wajah namja itu dan chaerin.

Bagi changmin, ini seperti De Javu. Baru kemarin dia mengalami kejadian seperti ini, sekarang dia harus mengalami nya lagi. Hanya saja, orang yang akan ditemuinya berbeda. Namun changmin tetap berharap, jaejoong berada disana juga, agar dia bisa membawa jaejoong dan chaerin pulang sekalian.

.

.

.

.

.

Ketika changmin sedang memarkir mobilnya, joong ki pun keluar dari café tersebut. Dengan menggendong chaerin, joongki juga membawa sekotak besar yang berisikan kue tart kesukaan jaejoong.

"Kita perlu bicara Tuan." changmin menghampiri joong ki dan menahan tangannya.

"Nuguseyo?"

"Dimana jaejoong? Kenapa chaerin bisa dengan anda?"

"Anda siapa?"

"Tidak penting saya siapa, cepat katakan dimana jaejoong?!" changmin sedikit menaikkan nada suaranya. Changmin tidak ingin dipermainkan

"Maaf, saya tidak mengenal anda, jadi kenapa saya harus memberitahu dimana jaejoong berada?"

"Chaerin ah, ini oppa sayang. Sama oppa ne?" changmin berusaha untuk menggendong chaerin. Namun joong ki menghindar.

'Dia Jung Changmin.' batin joong ki

"Jaejoong ada di rumah ku. Jika kau mau, kau bisa mengikuti mobil ku."

"Baik. Ayo kita pergi sekarang."

'Dasar tidak sabar.'

Joong ki kemudian memasukkan chaerin ke kursi penumpang di belakang. Didudukkannya chaerin di baby seat pink miliknya. Setelah joong ki memastikan, chaerin cukup aman, joong ki kemudian masuk ke kursi kemudi.

Changmin pun bergegas memasuki kembali mobilnya.

.

.

.

.

.

Sesampainya di rumah, joong ki mempersilahkan changmin untuk masuk.

"Hyung, kau sudah pulang? Jae noona sudah sadar dan dia menanyakan mu dan chaerin." ucap seorang namja yang datang dari arah dapur.

"Oh, changwook ah, kau kesini? Ji hyo kemana?"

"Ah, ji hyo noona ada panggilan dari rumah sakit. Jadi aku di telepon untuk menemani jae noona."

"Ah geure… ini bawakan chaerin ke kamar jaejoong." joong ki menyerahkan chaerin ke dalam pelukan changwoook.

"Ne hyung.." dengan senang hati changwook menggendong chaerin.

"kau harus mendekati anaknya dulu, agar bisa mendekati ibunya. Kapan kau akan menyatakan cinta mu eoh?"

"Ya hyung! Tenang saja. Anaknya saja sudah mau ku gendong, apalagi ibu nya… hahaha…." changwook berlari menaiki tangga sambil menggendong chaerin erat agar tidak terjatuh.

"Dasar anak nakal. Ah, silahkan duduk tuan." joong ki mempersilahkan changmin untuk duduk

'Wajah namja itu kenapa mirip dengam ku dan appa? Apa aku mempunyai kembaran' pikir changmin

.

.

.

.

.

.

.

.

"Oppa, changwook mengganggu tidur ku. Kenapa dia ada disini? Mana ji hyo noona?" jaejoong turun ke dapur menghampiri joong ki sambil marah - marah. Dan jangan lupa changwook yang mengikuti jaejoong dari belakang. Jaejoong pun tidak merasa risih ketika changwook memeluknya.

"aniyo hyung, aku hanya menciumnya. Dia saja yang sensitif." Changwook memeluk jaejoong dari belakang ketika jaejoong sudah sampai dihadapan joong ki.

"Aigoo, kalian berdua ini begitu manisnya." Joong ki mencubit pipi jaejoong.

"Aniyo, dia begitu kekanakan." Jaejoong mempoutkan bibirnya.

"Wae? Setidaknya aku tidak pernah berbuat kasar kepada mu atau membuat mu menangis."

"Pernah! Kau pernah membuat ku menangis ketika kau pergi ke Rusia untuk sekolah. Dan ketika kau terluka parah ketika di medan perang. Seakan nyawa ku juga ikut tertarik dari tubuh ku, chang..." jaejoong memang sangat menyayangi changwook seperti adiknya sendiri, namun untuk jatuh cinta, sepertinya itu tidak mungkin.

"Ekhmmmm... chogiyo..." changmin sudah ada di dalam area dapur. Badan jaejoong membeku dan changwook tahu akan hal itu.

"Kami disini. Gwaenchana..." changwook membisikkan kata – kata penenang untuk jaejoong. Dan jaejoong hanya membalasnya dengan anggukkan.

"Jadi, apa saya bisa bertemu dengan jaejoong daripada melihat lovely dovey kalian?" suara changmin berbeda.

"Oppa, aku akan kembali ke kamar untuk menyusui chaerin." Jaejoong melepaskan pelukan changwook dan buru – buru untuk naik tangga.

"Kajima..." changmin menahan tangan jaejoong.

"Sayang, pergilah ke ruang kerja oppa."

"Oppa..." jaejoong menatap joong ki dengan tatapan memohon.

"Hadapi dan selesaikan..." ucap joong ki tegas

Jaejoong menghempaskan tangan changmin dengan kasar, kemudian jaejoong berjalan menuju ruangan di bawah anak tangga.

.

.

.

.

"Waktu mu hanya sepuluh menit changmin ssi..." jaejoong berkata dengan sangat dingin.

"Aku minta maaf untuk semalam. Neo gwaenchana?" changmin memandang jaejoong dengan khawatir. Wajah nya masih sedikit pucat. Dan lihat beberapa lebam diwajah dan dilengan jaejoong yang dia perbuat semalam.

"Aku tidak baik – baik saja." Jawab jaejoong ketus.

"Geure... dan ku mohon pulang lah. Appa, membutuhkan mu."

"Tuan Jung atau anda yang membutuhkan ku Tuan Muda?" jaejoong memandang changmin sinis.

"Jae... aku..." changmin berjalan mendekati jaejoong.

"Jangan mendekat." Jaejoong berjalan mundur.

"Apa karena namja – namja itu kau menceraikan appa?"

"Ya, karena mereka dan karena keinginan ku juga. Sekarang pergilah. Jangan pernah menemui aku ataupun chaerin lagi."

"Joongie ah... jeball..."

"Pergilah ku bilang..." jaejoong membuka pintu ruang kerja.

"Saat ini aku akan pergi, besok aku akan menjemput mu. Bagaimana pun caranya." Changmin keluar dengan rasa kecewa.

Jaejoong membuang wajahnya dan dia meneteskan air matanya.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Hyung?"

"Bawa jaejoong dan chaerin ke jalur rahasia. Bawa mereka ke apartment mu di seoul."

"Ne, arraseo hyung..."

"Oppa ada disini jae..." joong ki memandang jaejoong yang masih di ruangan dengan sedih.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

TBC

.

.

.

.

.

.

Hufttttt... Akhirnya update lagi setelah sekian lama, maaf kalau masih typo dan malah makin aneh... didoakan semoga akan selesai beberapa chapter lagi... jangan lelah untuk menunggu ne... gomawo...

Jangan lupa review

-XOXO-

SARANGHAE