Hola... Masih ada yang nungguin fic ini nggak? Masih yaaa? Ya? Ya?
Hehehe maksa yak...
Ini chapter terakhir ya untuk Dog Boy and Cat Girl
Doozo.
.
Disclaimer : I only own the story and Akio
.
.
.
DOG BOY AND CAT GIRL
.
.
.
CHAPTER 13
.
Hari ini langkah kaki tegak seorang perwira pertama kepolisian Konoha tampak berbeda. Jika biasanya langkah kaki itu begitu berwibawa tetapi tidak dengan hari ini. Dia berjalan dengan gontai menuju ke ruang kerjanya. Rambutnya berantakan, di tepi matanya ada lingkaran hitam, wajahnya sedikit pucat.
Pria gagah itu berjalan tanpa mempedulikan tubuhnya yang menabrak dan belak belok ke sana kemari. Mengabaikan pandangan aneh dari teman-teman sejawatnya. Sesekali dia menguap lebar. Setelah sampai di ruangan kerjanya, dengan cepat dia merebahkan diri di sofa. Hanya butuh beberapa detik untuk pria itu terlelap, terbuai alam mimpi.
Sudah genap seminggu ini pria itu bolak balik dari Konoha ke Taki. Bukan hanya saat libur tetapi bahkan setiap selesai bekerja. Kesibukannya sebagai anggota divisi investigasi kepolisian sama sekali tidak meruntuhkan tekadnya demi bertemu dengan wanita yang sangat dia cintai. Wanita yang selama tujuh tahun ini selalu menjadi bayang-bayang di setiap waktunya. Wanita yang baru saja dia temukan kembali setelah sekian lama tidak terdengar kabarnya. Wanita yang selama tujuh tahun ini berhasil membuat hatinya tertutup.
Inuzuka Kiba memang tidak setampan Uchiha Sasuke atau Sai. Tetapi dengan kharisma dan segala yang dia miliki, tidak sedikit wanita yang mengaguminya. Beberapa dari mereka bahkan dengan terang-terangan mengirim kode kepadanya. Namun, semua itu hanya ditanggapi dengan pura-pura bodoh oleh Kiba.
Saat itu Kiba hanya ingin bertemu dengan Tamaki. Hanya ingin tahu tentang kehidupan wanita itu. Hanya ingin memastikan apakah Tamaki bisa hidup bahagia saat hidupnya sudah hancur di tangan Kiba. Jika memang wanita itu sudah bahagia dengan hidupnya, Kiba akan merelakannya.
Hanya saja yang dilihatnya saat di Taki bukanlah kebahagiaan yang dimiliki wanita itu. Memang Tamaki sudah berhasil dengan usaha kafenya, Tamaki memiliki teman-teman yang bisa diandalkan, Tamaki bahkan memiliki Akio. Wanita itu tampak bahagia jika dipandang dari luar. Tapi saat Kiba menatap matanya, hanya kehampaan yang terpancar di bola mata sang wanita. Entah memang dari awalnya seperti itu atau justru karena kehadiran Kiba lagi, Kiba tidak peduli.
Saat itulah Kiba mengambil keputusan yang akan menentukan masa depannya. Dengan kerennya dia bersumpah di depan teman-teman untuk mendapatkan kembali hati Tamaki dan menikahinya. Tekad tersebut semakin kuat saat hubungannya dengan Akio semakin dekat. Kiba bukan orang bodoh yang tidak mengenali anaknya sendiri. Bahkan hanya dengan melihat cara tertawanya saja Kiba yakin bahwa Akio adalah darah dagingnya.
Selain itu, ada alasan lain yang membuat pria itu semakin bersemangat. Adalah kesimpulan yang baru saja dia ambil setelah menyelidiki tingkah Tamaki saat berada dekat dengannya. Kiba berani dengan pedenya mengklaim bahwa Tamaki masih mencintainya. Terbukti dari segala kegugupan dan rona merah saat wanita itu salah tingkah dengan tingkah Kiba.
TOK... TOK...
Suara ketukan di pintu ruangan tidak berhasil membangunkannya. Bahkan dengkuran yang melantun dari mulutnya terdengar semakin keras.
Cklek
Sepertinya si pengetuk pintu tidak cukup sabar menunggu pintu dibuka sehingga dia memutuskan untuk masuk sendiri.
"Kiba!"
Wanita berrambut pirang pucat itu menguncang-guncangkan tubuh Kiba.
"Kiba, bangun!"
Dan belum berhasil juga membuat pria itu terbangun.
"Woy... dogboy! Bangun! Anakmu masuk rumah sakit."
Dan secepat kilat pria bertato segitiga merah di pipi itu terlonjak. Posisinya menjadi terduduk. Wajahnya masih menampakkan kebingungan.
"Anakku masuk rumah sakit?"
Sepertinya jaringan-jaringan di dalam otaknya mulai bekerja dan saling menyambung, menghantarkan respon ke saraf-saraf di seluruh tubuh.
"AKIO? Ya Tuhan! Apa yang terjadi?"
Sebelah tangannya menyambar jaket yang tergeletak di meja, sebelah yang lain menarik wanita di sebelahnya untuk ikut bersama.
"Ho-Hoi... Kau mau membawaku kemana?"
"Antarkan aku ke rumah sakit itu, Ino!"
"Ho-hoi... Aku harus mengurus toko, Inuzuka!"
Tanpa mempedulikan teriakan protes Ino, Kiba terus menarik tangan wanita itu dan membawanya ke motor.
"Naik!"
"Ta-tapi..."
Dan sepeda motor sport itupun melaju dengan kencangnya.
Sementara di parkiran mobil kantor kepolisian tersebut, seorang pria berrambut hitam legam dan berkulit putih pucat sedang berdiri bersandar pada badan mobil Vi*s hitam, tersenyum dengan polosnya. Menunggu sang istri keluar dari gedung megah tersebut.
(*)
Tubuhnya terasa sangat lelah akibat pekerjaan yang cukup membuatnya sibuk beberapa hari terakhir. Namun, ia menolak untuk beristirahat. Ia menolak untuk bersantai-santai di rumah sementara separuh nyawanya tengah terbaring di sini.
Matanya memandang sendu sosok kecil yang tergeletak tak berdaya. Jarum infus menempel di pergelangan tangan mungil sosok tersebut. Kakinya terbalut perban dari pertengahan tulang kering hingga ujung jari.
Tamaki meneteskan air matanya. Tangannya tak berhenti mengelus rambut sang anak yang selalu mengingatkan wanita itu pada pria di luar sana yang telah menghancurkan dirinya.
Tapi setegar apapun kemauannya, tubuhnya kini mengkhianati. Tamaki tertidur di samping ranjang sang anak. Cekungan gelap menghiasi bagian bawah matanya.
Cklek
Sampai-sampai suara pintu ruang perawatan yang dibuka pun tidak mampu menyadarkannya.
"Tamaki..."
Kiba berlari mendekati wanita itu. Nafasnya masih tersengal-sengal akibat berlari dari parkiran motor ke ruang rawat yang berada di lantai dua ini.
Disentuhnya dahi sang wanita dengan punggung tangannya. Panas. Dengan panik pria itu mengangkat Tamaki dan membawanya dengan berlari keluar kamar. Bibirnya berteriak-teriak memanggil perawat dan dokter.
"Dokter... Suster... Tolong..."
Beberapa paramedis yang kebetulan lewat di dekatnya pun segera menghampirinya. Memandunya menuju ruang pemeriksaan di lantai satu.
"Kiba?"
Ino yang baru saja menaiki tangga untuk ke lantai dua mengernyit heran. Rasanya dia melihat rambut coklat temannya berada di tengah kerumunan tenaga medis. Mengendikkan bahunya cuek, wanita itu melanjutkan langkahnya. Mencari ruangan tempat Akio berada.
Sebenarnya dia sangat kesal karena sikap Kiba tadi. Dia dipaksa untuk ikut membonceng motor laki-laki itu dan dibawa pergi ke Taki. Bayangkan saja, perjalanan Konoha-Taki yang berjarak hampir 100 km itu biasa ditempuh dalam waktu sekitar 4 jam dengan mobil. Tapi kali ini dengan kecepatan super motor Kiba yang diberi nama Akamaru itu hanya ditempuh dalam waktu 2 jam. Bisa kau bayangkan sendiri bagaimana laju motor itu.
Sepanjang perjalanan tadi Ino terpaksa memeluk erat tubuh pria anjing itu. Mulutnya tak henti-henti merapalkan doa agar diberikan keselamatan. Sesekali mengumpat dan berteriak kasar saat motor yang ditumpanginya nyaris terpeleset atau bahkan berpapasan dengan kendaraan lain.
Belum cukup sampai di situ. Saat motornya sudah mendarat di parkiran rumah sakit ini, Kiba langsung berlari meninggalkannya yang bahkan belum sempat mengatur nafas sedikitpun. Bukankah itu mengesalkan?
Tapi mau bagaimana juga Ino memaklumi keadaan temannya yang sedang kalut itu. Senyuman bertengger di wajah cantiknya saat menemukan ruang rawat Akio. Wanita berrambut pirang pucat itu masuk dan mendapati keadaan yang mampu membuat hatinya tercubit. Ino melangkah mendekati ranjang. Kepalanya menoleh ke sana kemari mencari-cari sosok Tamaki atau Kiba. Tapi tak seorangpun yang ditemuinya. Dia bahkan mengecek kamar mandi, berpikiran jangan-jangan Kiba malah berbuat mesum lagi dengan Tamaki. How silly.
Wanita itu akhirnya memilih duduk di kursi di samping ranjang. Tangannya mengeluarkan ponsel pintar dari tas mungilnya dan mulai menyentuh tombol-tombolnya.
To : Husbando
Sayang, Kiba menculikku dan membawaku ke Taki. Tolong selamatkan aku!
Bibir wanita cantik itu kini menyeringai.
(*)
Entah sudah berapa jam dia tertidur saat menjaga Akio.
Akio?
SNAP!
Kelopak mata itu membuka lebar. Tapi justru bukan tubuh anaknya yang dia temukan, melainkan tubuhnya sendiri yang tengah terbaring di atas ranjang. Matanya menatap langit-langit. Berpikir apakah saat ini dirinya masih bermimpi.
Tamaki mencubit lengannya pelan dan meringis kesakitan. Ternyata memang bukan mimpi. Wanita itu kemudian duduk, kedua tangannya mencengkeram sisi kepalanya yang terasa sakit. Ya Tuhan, ini benar-benar menyiksa. Tapi bukan saatnya memikirkan itu. Dia harus menjaga Akio, belahan jiwanya yang tengah terbaring karena tertabrak mobil saat mengejar bola yang menggelinding ke jalan raya.
"Kau sudah bangun?"
Matanya membelalak lebar saat mendengar suara berat pria yang beberapa hari ini mengganggu pikirannya. Err- lebih tepatnya sudah sejak dulu.
Kepalanya mendongak menatap Kiba yang tengah tersenyum lembut padanya. Tamaki melirik nampan yang sedang dipegang pria itu. Asap mengepul dari mangkok yang berada di atasnya. Aroma kaldu dan sayur masak pun menyambangi indera penciumannya.
Tiba-tiba saja perutnya berbunyi cukup keras.
Kruuuyuuukkkk
Keadaan hening sejenak. Lalu dipecahkan oleh tawa geli pria bertato segitiga merah di depannya. Tamaki memalingkan mukanya yang telah memerah padam. Dia merutuki kebodohannya yang telah mempermalukan diri di depan orang lain. Tapi mau bagaimana lagi, perutnya memang belum terisi apapun semenjak Akio masuk rumah sakit.
"Makanlah."
Tamaki mengabaikan ucapan Kiba dan malah menyibak selimut yang membungkus separuh badannya.
"Aku harus menemani Akio."
"Makanlah dulu, Tamaki. Tadi dokter bilang kau kelelahan dan kurang asupan."
Tamaki mendelik tak suka. Dengan sekali hentak kedua kakinya telah menyentuh lantai.
"Apa pedulimu?"
Wanita itu sudah beranjak pergi, namun kalah cepat. Wanita itu mendengus kasar saat melihat Kiba yang berlari cepat ke arah pintu dan menguncinya. Memasukkan kunci ke dalam saku celananya.
"Kau boleh keluar setelah menghabiskan makananmu."
Tamaki melipat kedua tangan dan meletakkannya di depan dada.
"Aku harus menemani anakku, Kiba! Dia sedang sakit dan tidak ada yang mengurusnya."
Tatapan Kiba melembut. Dia kenal Tamaki yang ini, Tamaki yang dulu selalu melayangkan pandangan permusuhan kepadanya.
"Ada Ino bersamanya. Sekarang kau makanlah dulu. Kalau kau sakit si-"
"Memangnya kau peduli, Inuzuka? Setelah menghancurkan hidupku, sekarang kau datang lagi untuk menambah penderitaanku?"
Wanita itu tidak kuat lagi menahan emosinya. Air mata mengalir begitu saja membasahi pipinya. Bahunya bergetar dan kepalanya menunduk. Sementara Kiba hanya terdiam, tidak mampu mengucap apapun. Hatinya ngilu saat mendengar ucapan Tamaki selanjutnya.
"Kumohon, Kiba... Kumohon... Pergilah dan jangan ganggu kami lagi. Aku sudah memaafkanmu. Aku juga sudah bahagia. Kau tidak perlu merasa bersalah. Aku punya Akio... Dia selalu menemaniku, kau tenang saja. Dia anakku-"
"Dia juga anakku." Jawab Kiba tegas.
Tamaki mendongak.
"A-apa? Dia anakku bukan a-"
Ucapannya terhenti saat dia merasakan wajahnya bertabrakan dengan dada bidang Kiba.
"Aku mohon Tamaki. Berikan aku kesempatan lagi. Aku berjanji akan membahagiakanmu dan Akio, istri dan anakku. "
Tamaki sudah akan melancarkan protes tapi Kiba justru semakin mengeratkan pelukannya.
"Sshh! Biarkan aku selesai bicara dulu. Aku memang bodoh Tamaki. Banyak yang mengatakan itu, Hinata, Sakura, Ino, Sasuke, Sai. Bahkan Naruto yang bodoh pun berani mengataiku bodoh."
Kiba menghela nafas sejenak.
"Tapi aku tidak sebodoh itu hingga tidak bisa mengenali anakku sendiri." Lanjut Kiba lirih.
Tamaki semakin gelisah, meronta-ronta dalam pelukan Kiba. Namun, akhirnya menghentikan ulahnya saat wanita itu justru merasakan tubuh Kiba yang bergetar. Nafas Tamaki tercekat.
Mungkinkah Kiba menangis? Untuk apa dia menangis?
"Kumohon Tamaki. Berikan aku kesempatan lagi. Aku tidak bisa berjanji akan selalu membuatmu dan Akio hidup bahagia, tapi aku berjanji akan selalu berusaha melakukan yang terbaik untuk membuat kalian bahagia."
Tamaki terdiam. Dapat dia rasakan tubuh kekar pria itu yang kian melemah, pelukannya yang kian mengendur. Tamaki mendongak.
Hatinya mencelos saat mendapati wajah tampan kekasih hatinya yang sudah tidak beraturan lagi. Kiba menangis. Hal serupa yang dilihatnya saat kematian Akamaru.
Entah disadari atau tidak, kedua tangan Tamaki terangkat. Meraih kedua pipi Kiba membuat pria itu terkejut. Mereka saling memandang untuk beberapa saat.
Tamaki menatap tajam mata Kiba. Berusaha mencari sesuatu yang bisa mematahkan keyakinannya saat ini. Tetapi nihil. Sama sekali tidak ada kebohongan terpancar di mata pria itu. Kiba benar-benar tulus menginginkannya kembali.
Tamaki tersenyum tipis, nyaris tak terlihat. Namun sama sekali tidak luput dari pandangan Kiba hingga membuat hati laki-laki itu menghangat.
"Aku tidak tahu."
Kiba mengernyit. Hatinya yang baru saja menghangat kini kembali terasa nyeri.
"Aku mencintaimu, Tamaki. Kumohon beri aku kesempatan lagi. Aku mencintaimu..."
Tamaki menundukkan kepalanya. Kepalanya memutar kembali ingatan seminggu yang lalu.
.
"Kiba benar-benar mencintaimu, Tamaki."
Naruto yang berbicara saat mereka berkunjung ke kafe yang dikelolanya. Hanya berdua, Naruto dan Hinata.
"Aku tidak bohong. Setelah sekian tahun berjalan, perasaannya tidak pernah sedikitpun berubah."
"Apa Kiba yang mengatakan itu padamu, Naruto?" ucap Tamaki sinis.
Naruto menggeleng sementara Hinata hanya diam. Di satu sisi dia ingin Tamaki menemukan kebahagiaannya yang sudah jelas-jelas itu adalah Kiba, tapi di sisi lain dia juga bisa memaklumi sifat Tamaki yang keras kepala. Bukan hanya Tamaki, mungkin dirinyapun akan berbuat hal serupa jika berada di posisi wanita itu.
"Kiba selalu mencarimu setiap waktu senggangnya. Mengelilingi kota di seluruh negeri hanya demi bertemu denganmu dan meminta maaf. Dia selalu menolak kehadiran wanita lain, Tamaki. Padahal kau tahu sendiri kan bagaimana playboy dan mesumnya dia?"
.
"Kau berjanji?" Tamaki berujar lirih tanpa mendongakkan kepalanya.
"Apa?" OK mungkin Kiba sedikit budeg di sini.
Tamaki mendongak, menatap tajam pada Kiba.
"Kau berjanji tidak akan menyakitiku lagi?"
Kiba menggeleng membuat wanita itu mengernyit heran.
"Aku tidak bisa berjanji seperti itu Tamaki."
Dan amarah kini merayapi hati wanita itu. Tangannya terkepal.
"Tidak sepenuhnya. Aku berjanji tidak akan dengan sengaja menyakitimu. Tapi aku hanya manusia biasa. Mungkin setelah menikah nanti, suatu saat tindakanku akan menyakitimu tanpa kusadari. Karena itulah aku mohon padamu. Untuk menyadarkan aku saat aku melakukan hal itu. Untuk mengingatkanku akan kesalahanku. Katakanlah dengan jujur dan lembut tentang keburukanku. Karena kau adalah istriku."
Ucapan tulus Kiba tidak terdengar sebagai gombalan di telinga Tamaki. Membuat wajah wanita itu merona merah. Entah mengapa hatinya saat ini merasa bahagia. Sejenak dia berpikir, apakah keputusannya ini sudah tepat? Bagaimana jika suatu saat nanti Kiba justru menyakitinya.
Tapi, hey, Kiba tadi sudah menjawab pertanyaan itu bukan? Dan bukankah ini kebahagiaan yang dia inginkan? Hidup bersama cinta sejatinya dan bahagia bersama keluarganya.
"Ba-baiklah." Cicitnya.
"Apa?" tanya Kiba.
"Baiklah."
"Baiklah apanya, Tamaki?"
"Baiklah aku akan memberimu kesempatan."
"Kesempatan? Untuk apa?"
OK kini Tamaki sadar bahwa pria itu sedang mempermainkannya. Lalu mendengus kasar dan menatap marah.
Kiba terkekeh melihat ulah wanitanya. Direngkuhnya kembali tubuh wanita itu dan dipeluknya erat. Sejenak kemudian diciumnya puncak kepala Tamaki.
"Terimakasih, Tamaki. Aku benar-benar bahagia, kau tahu? Aku mencintaimu."
Keduanya berpelukan erat entah untuk berapa lama.
.
.
.
END
.
.
.
Omake
"INUZUKA KIBAAA!"
Teriakan membahana memecah keheningan rumah sakit. Si pemilik suara sama sekali tidak mempedulikan pandangan aneh dan curiga yang mengarah padanya. Tujuannya hanya satu, mencari pria yang telah dengan lancangnya menculik istri tercintanya.
Sai memang bukan pria temperamen. Tetapi jika itu sudah menyangkut wanita pemilik hatinya, dia bisa berubah menjadi beringas.
"Halo, Sai... Kau kenapa? Seperti kesetanan begitu."
Dan bodohnya Kiba, dia sama sekali tidak menyadari kesalahannya. Malah menyambut Sai dengan wajah penuh kebahagiaan.
Jadi, pria itu jelas kaget saat Sai malah menarik kerah bajunya dengan kasar dan menatapnya marah.
"Ho-hoi, ada apa ini? Ino, apa yang terjadi pada suamimu?"
Dan wanita yang dipanggilnya justru mengendikkan bahu cuek dan melanjutkan canda tawa bersama Tamaki dan Akio.
OK Kiba, berdoa saja lukamu tidak parah ya. Ah author lupa, kau kan pemegang ban hitam karate dan seorang polisi. Pasti bisalah ya menghadapi Sai.
Yosh! Good Luck!
.
.
.
Horee... Syukurlah sudah bisa menamatkan fic ini. Mohon maaf untuk updatean yang lama. Nai sedang sibuk di dunia nyata.
Terimakasih untuk Idha Afifi dan readers lain yang dengan setia menunggu fic ini tamat. Arigato gozaimasu.
Nai pengen buat KibaTama lagi nih. Setuju nggak? Hehehehe.
