Original Story belong to Skylar Otsu
Re-write and edit by Christal Alice
Pair:
Wu Yi Fan (Kris) x Huang Zi Tao (Tao)
Fandom:
Ex/EXO, BAP, Beast and other
Genre:
Drama, Romance, Hurt Comfort, Mpreg
Disclaimer:
Judulnya diambil dari tema lukisan Van Gogh yang berjudul sama.
.
©KrisTao©
.
DOR!
Suara letusan senjata api tersebut membuat Kris menoleh dengan cepat ke belakang punggungnya, saat menyadari jika pistol yang di arahkan pria asing itu tak mengeluarkan asap akibat tembakan yang baru saja di lepaskan.
Ekspresi datar yang cenderung tidak peduli tampak tergurat di wajah tampan Yong Jun saat pemuda manis di depannya itu membeku akibat timah panas yang menembus masuk melewati kulitnya dan bersarang tepat di ginjal kirinya.
"Brengsek!"
Dengan gemetar Tao memegangi sisi perutnya yang berlubang akibat peluru yang di tembakan Yong Jun yang berdiri di belakangnya. Ia tidak dapat menahan berat tubuhnya saat pandangan matanya mulai buram dan tanah yang di pijaknya serasa berputar cepat. Bahkan saat tubuhnya ambruk dalam dekapan Kris.
"Tao!" panggil pria tampan itu seraya mengguncang pundak Tao pelan.
"Apa yang kau lakukan brengsek!" teriak Kris dengan suaranya yang mendadak serak.
"Aku hanya menjalankan tugas, jadi jangan salahkan aku." ucap Yong Jun tenang.
"Kau akan membayar semua ini…" kata Kris tajam. Yong Jun mengangkat bahu cuek, lantas ia merogoh saku dalam jasnya dan mengeluarkan sesuatu. Sebuah kertas berwarna cokelat yang di lipat rapi, ia membuka kertas itu dan menunjukkannya ke depan wajah Kris.
"Aku yakin kau tidak tahu soal kehidupan Ayah mu sejak terakhir kali kau melihatnya sekarat waktu itu." kata Yong Jun.
"Apa maksud mu?"
"Ku rasa hal ini tidak penting sekarang, kau lebih memilih mendengarkan aku mendongeng atau membawa peliharaanmu itu ke Rumah Sakit?"
Kris masih mendekap tubuh Tao erat namun tidak membuat pemuda manis itu terkekang. Tanpa suara ia mengangkat tubuh ringkih Tao, meski tak sedikit pun suara yang di keluarkannya, Kris tahu jika pemuda yang di gendongnya itu masih sadar. Napasnya yang berat dan dingin menyapu kulit lehernya.
"Kau akan membayar semua ini….." ucap Kris sambil berlalu.
Yong Jun masih memandang dengan tenang dan nyaris tanpa ekspresi. Ia meremas kertas surat di tangannya itu dan melempar pistol yang di genggamnya ke arah semak-semak di taman itu. Sesaat sebelum ia beranjak dari sana, sekilas ia melihat sosok Kris yang hendak masuk ke dalam mobil menatapnya tajam.
Ia tahu jika pria itu sangat sangat sangat marah saat ini. Namun ia kenal siapa pria itu, Kris bukan tipe orang yang menghunuskan pedang di depan tanpa berpikir lebih dulu.
Setelah ini, entah apa yang akan di alaminya. Karena Kris juga tidak akan diam saja.
"…merepotkan saja, seharusnya dia juga ku tembak." gumam Yong Jun sembari menghela napas.
.
©KrisTao©
.
Suasana sunyi dan hening Rumah Sakit malam ini membuat hatinya semakin gelisah. Lampu berwarna merah yang menyala di atas pintu Ruang Operasi yang menandakan sedang berlangsungnya operasi di dalam sana membuat suasana menjadi tegang.
Apa akan berhasil? Apa dia baik-baik saja? Apa lukanya dalam? Apa dia kesakitan?
Pertanyaan-pertanyaan itu berputar di dalam kepala Kris yang mondar-mandir dengan raut khawatir semenjak Tao di larikan ke dalam ruang operasi. Hanya ia sendiri di sana, bergelut dengan rasa khawatir dan ketakutannya. Tak tahu apa yang harus di lakukan dan tidak banyak hal yang bisa di perbuatnya.
Lagi pula kalau di pikir-pikir kenapa Yong Jun menembak Tao? kenapa tidak dia? Memang apa yang di lakukan pemuda itu selama ini padanya? Apa yang sebenarnya terjadi?
Kris hampir berteriak jika saja ia tidak ingat sedang berada di Rumah Sakit. Kepalanya serasa akan pecah karena otaknya sudah overload. Dan ia bukanlah orang yang pintar mengekspresikan apa yang di rasakannya. Kekhawatirannya menguap saat telinganya mendengar suara pintu ruang operasi yang di buka.
"Dia selamat?" tanya Kris cepat, bahkan sebelum sang Dokter menutup pintu Ruang Operasi kembali.
Pria berjubah putih itu menatap Kris sejenak sebelum berkata, menjawab pertanyaan pria berambut pirang di depannya itu.
"Pasien kritis." jawab Dokter itu singkat.
"Kritis?" ulang Kris. Meski ia cukup paham dengan artinya. Dokter itu mengangguk pelan,
"Ya, ginjal kirinya yang tertembak telah rusak."
"Lalu?"
"Ginjal yang rusak harus di gantikan oleh ginjal yang baru, jika tidak akan berakibat fatal pada kesehatannya. Terlebih pasien memiliki riwayat kesehatan yang perlu di pertimbangkan."
"Lakukan apa pun untuknya."
"Saya mengerti, tapi donor ginjal saat ini sedang sulit."
"Apa maksud anda?" Kris menyipitkan mata.
"Tidak hanya Tao saja yang membutuhkan donor ginjal di Rumah Sakit ini. Banyak pasien yang juga membutuhkannya, bahkan sampai saat ini mereka belum mendapatkannya."
"Aku tidak peduli tentang hal itu. Berapa pun harganya."
"Dengar… ini bukan masalah harga Tuan Wu. Tapi—"
"Lalu maksud anda, Tao akan di biarkan sekarat seperti ini?" Kris mulai tak sabar.
"Bukan itu, kami hanya tidak bisa menjamin mendapatkan ginjal untuknya."
Kris mendesis kesal, dengan gerakan kesal ia mengacak rambut pirangnya. Ia tidak tahu harus berpikir apa.
"Tapi…. Jika anda mau, anda bisa mendonorkan salah satu ginjal anda." ujar Dokter itu kemudian. Kris kembali menatapnya.
"Maksud anda?" dari nadanya sepertinya ia tertarik.
"Siapa saja bisa mendonorkan ginjal, termasuk anda. Hanya jika anda bersedia mendonorkan ginjal anda."
"Prosesnya rumit?"
"Tidak, hanya pemeriksaan di lab, jika kondisi kesehatan mendukung dan ginjal anda cocok, operasi bisa segera di lakukan."
"Kemungkinan cocoknya?"
"50:50."
Kris terdiam.
"Bagaimana? Anda mau mencoba?"
"Jika tidak ada pilihan lain….."
"Baiklah, kalau begitu sekarang juga bisa kita mulai tesnya. Mari…."
.
©KrisTao©
.
Suara derap langkah kaki yang tergesah terdengar menggema di sepanjang lorong Rumah Sakit. Jam menunjukkan pukul tiga pagi saat sosok tinggi Zhoumi berhenti di depan sebuah kamar rawat dengan napas terengah. Ia membungkukkan badannya sedikit untuk mengatur napasnya yang naik-turun tak karuan. Di belakangnya tampak Bibi Mei yang juga terlihat kelelahan karena mengejar langkah Zhoumi.
Terlalu pagi untuk membuat keributan dengan berlari di sepanjang lorong Rumah Sakit, tapi mereka beruntung tidak ada petugas Rumah Sakit yang menghardik atau menegur mereka. Mungkin karena terlalu petang hingga tidak ada satu orang pun yang menghalangi mereka.
Hebatnya, Zhoumi tepat berhenti di kamar rawat bernomor 34 dengan papan nama bertuliskan Huang Zi Tao. Tanpa mengetuk pintu ia membuka pintu kamar rawat tersebut, dan ia dapat melihat sosok ringkih Tao terbaring tenang di atas ranjang di dalam. Wajahnya yang manis tampak pucat, pemuda itu bernapas pelan dengan teratur.
Sebuah helaan napas panjang keluar dari mulut Zhoumi begitu ia menghempaskan pantatnya ke kursi yang ada di sebelah ranjang Tao. Sejenak ia memandangi wajah manis di sana, lalu meraih tangan Tao yang terasa dingin di kulitnya.
"Sebenarnya apa yang terjadi padamu, Tao…" desis Zhoumi.
"Saya rasa Tuan Tao baik-baik saja." ucap Bibi Mei yang terlihat khawatir juga.
"Baik-baik saja bagaimana Bi? Bibi tidak lihat wajahnya pucat begitu?"
"Ya saya tahu, tapi setidaknya saat ini Tuan Tao baik-baik saja."
"Aku tidak habis pikir, kemana orang itu di saat seperti ini?"
"Maksud anda, Tuan Wu?"
"Memangnya siapa lagi?" sahut Zhoumi kesal.
"Tidak seharusnya kau menyalahkan Kris seperti itu." ujar Baekhyun yang baru saja tiba.
Zhoumi dan bibi Mei sontak menoleh serempak ke belakang mereka. Pintu kamar rawat Tao terbuka sedikit, sementara Baekhyun berdiri tidak jauh dari pintu. Pemuda mungil itu tampak 'berantakan' dengan pakaian yang agak lusuh dan rambut yang sedikit berantakan, seperti habis tertiup angin yang cukup kencang.
Baekhyun menutup pintu di belakangnya dan menghampiri ranjang. Tak peduli dengan tatapan sinis Zhoumi yang di tujukan padanya, toh ia tak melakukan apa pun pada pemuda itu hingga ia harus takut dengan tatapannya yang sama sekali tidak bersahabat.
"Aku juga baru dihubungi oleh pihak Rumah Sakit ini, karena itu aku kemari." ucap Baekhyun tanpa di tanya. Ia menyentuh kening Tao yang tertutup poni, lalu menarik kembali tangannya.
"Apa anda baru bangun tidur Baekhyun-ssi?" tanya Mei ragu-ragu. Baekhyun mengangkat wajahnya sedikit.
"Ya, aku datang terburu-buru jadi tidak sempat ganti baju."
"Lalu untuk apa kau juga datang ke sini?" tanya Zhoumi datar.
"Kris juga di rawat di Rumah Sakit ini." jawabnya tenang. Bibi Mei tampak terkejut mendengarnya.
"Tuan Wu?"
Baekhyun mengangguk kecil, lalu menyilangkan kedua tangannya di dada.
"Aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi saat aku datang kemari aku bertemu dengan Dokter yang merawatnya—"
"Aku tidak peduli dengan hal itu." sela Zhoumi.
"…..Kris baru menjalani operasi ginjal untuk Tao…" lanjut Baekhyun, tak peduli Zhoumi mendengarnya atau tidak.
Pemuda tampan itu menatap Baekhyun seketika, raut wajahnya tampak tak percaya dengan apa yang telah di dengarnya.
"L-lalu bagaimana keadaan Tuan Wu?" tanya Mei tampak cemas.
"Aku mau kesana, Bibi ikut?"
"Ya"
"Baiklah, ayo" ajak Baekhyun.
Zhoumi masih terdiam di tempatnya.
Orang itu mendonorkan ginjalnya untuk Tao?
.
©KrisTao©
.
Getaran ponsel yang berada di atas meja kayu tersebut membuat sang pemiliknya harus mengalihkan kesibukannya sejenak di depan laptop. Dengan enggan ia meraih benda metalik itu dan membuka sebuah e-mail yang baru saja masuk.
1 new e-mail.
Sosok itu terdiam cukup lama saat membaca isi dari e-mail tersebut, lalu menghela napas pelan. Kemudian ia meletakkan kembali ponselnya, lalu kembali berkutat pada laptop yang menyala di depannya. Jemari tangannya bergerak lincah di atas keyboard, dan rupanya ia sedang mengetik sebuah e-mail untuk seseorang.
Dalam hitungan detik saja ia telah menyelesaikannya, dan dengan satu helaan napas kecil ia menyandarkan punggungnya. Tak lama muncul sebuah e-mail baru, rupanya balasan e-mail yang baru saja di kirimnya tadi.
Pria rupawan itu hanya menyeringai samar, lalu menggelengkan wajahnya pelan.
"Dasar pebisnis…" gumamnya.
.
©KrisTao©
.
3 day's letter….
"Tao…"
Siapa itu?
"Tukang tidur, kapan kau akan bangun ha?"
Kris-ge? Apa itu anda?
"Cepatlah bangun, kau sudah tidur berapa hari. Jangan malas, aku benci orang malas."
Tidak! Jangan membenci aku!
"Kalau begitu bangunlah."
Anda tidak marah?
"Tidak, tidak akan."
Sungguh?
"Ya."
Kedua kelopak mata yang tertutup rapat itu terbuka perlahan dengan lemah. Perlahan namun pasti, beberapa detik yang mendebarkan akhirnya sosok manis itu membuka matanya. Sorot mata yang tampak kosong dan tak fokus. Ia mengerjap sesekali, seperti seseorang yang baru sembuh dari kebutaannya.
"Tao." panggilan lembut itu memmbuatnya bereaksi.
Dengan lemah ia menoleh perlahan. Ia mengerjap lagi saat kedua matanya melihat wajah-wajah orang yang sangat di kenalnya. Dan ia yakin jika Zhoumi yang berdiri paling dekat dengan ranjangnya lah yang memanggilnya tadi.
"….ge." hanya kalimat lirih yang keluar dari mulutnya.
"Apa? Kau baik-baik saja?" tanya Zhoumi perhatian.
"…Kris…ge…"
"Dia mencari Kris." ujar Baekhyun. Tao beralih menatap pemuda cantik itu.
"..di…man..a?"
Baekhyun menghela napas kecil, lalu mendekat dan menggenggam tangan Tao yang bebas dari jarum infuse.
"Kau baru sadar, jangan memikirkan apa-apa" ucapnya bijak.
"…ku…deng…su…aranya…" meski lirih Baekhyun dapat mengerti apa yang di katakan Tao.
"Hanya perasaanmu saja, Kris tidak ada disini."
"…lu…man….a?"
Sebelum Baekhyun sempat membuka mulut untuk menjawab pertanyaan itu, pintu kamar rawat Tao di buka dengan kasar.
"Tuan Wu!" bibi Mei tampak pucat.
"Ada apa Bi?" tanya Baekhyun heran. Tao beralih menatap wanita paruh baya itu.
"I-itu, Tuan Besar…"
"Kenapa? Terjadi sesuatu?" tanya Baekhyun tak sabar.
"Ada… apa?"
"Ada yang melepas peralatan medis beliau dan sekarang beliau sekarat." ujar bibi Mei cepat.
Mata Baekhyun membola seketika, Tao sendiri tampak kaget mendengarnya meski tak terlihat jelas di wajahnya yang pucat.
"Zhoumi jaga Tao!" teriak Baekhyun.
"A-aku… ikut…" pinta pemuda itu sambil mengulurkan tangannya pada Baekhyun.
"Tidak, kau baru sadar, Tao. Tetap disini."
Tao memandang nanar ke arah punggung Baekhyun yang semakin menjauh dan akhirnya menghilang. Kedua matanya terasa panas saat membayangkan hal buruk menimpa Kris. Ia masih dengan jelas mengingat kejadian buruk yang menimpanya, namun setelah itu ia tidak mengingat apa pun. Dan ia tidak tahu apa yang menyebabkan pria itu juga di rawat di Rumah Sakit.
Apa setelah menembaknya, Yong Jun juga menembak Kris ? Apa lukanya parah? Apa Kris baik-baik saja? Apa yang terjadi?
Lelehan air mata yang membasahi pipinya semakin deras. Ia benci dalam situasi seperti ini. Ia benci tidak dapat melakukan apa pun. Dan ia benci jika harus berdiam diri saja sementara orang yang berharga untuknya berada dalam kondisi tak sadarkan diri. Ia benci dirinya sendiri.
Di saat Kris selalu dapat melakukan sesuatu untuknya, namun sebaliknya ia tidak dapat melakukan sesuatu untuk pria itu.
Tuhan… tolong selamatkan Kris-ge… ku mohon…
.
©KrisTao©
.
Silau. Sinar matahari yang hangat seolah terasa begitu dekat dengannya. Sinarnya yang sangat terang membuatnya tidak bisa melihat dengan jelas ke depan. Hal ini tidak wajar, dan ia tidak tahu mengapa sinar matahari terasa sedekat ini dengannya. Ada yang salah.
Kris melindungi kedua matanya dari sinar terang matahari itu, namun meski begitu ia masih menyadari perubahan wara sinar dari kekuningan menjadi putih bercahaya, dan lama kelamaan sinar putih itu meredup dan akhirnya hilang. Ia mengerjap pelan dan menurunkan tangannya.
Apa yang dilihat kedua matanya tampak begitu asing untuknya.
Sebuah padang rumput yang bergoyang-goyang tertiup angin, tampak seperti sapuan ombak di pinggir pantai yang indah. Kris memperhatikan sekelilingnya yang sunyi, hanya suara desiran angin yang menggema di sekelilingnya. Dan tidak jauh dari sana, terdapat sebuah pohon cherry besar yang sangat lebat. Buahnya yang bergelantungan berwarna merah terang membuatnya tergelitik untuk mendekat.
Kris mengulurkan tangannya, bermaksud untuk memetik sebuah cherry yang berjarak lebih dekat dengannya. Tapi entah kenapa gerakan tangannya terhenti saat itu juga, tak jelas apa yang menyebabkannya tiba-tiba menoleh ke belakang.
"Kenapa kau bisa berada di sini Wu Yi Fan?" tanya sosok serba putih yang bercahaya. Hingga Kris tidak dapat melihat sosoknya dengan jelas.
"Kau sendiri?" tanyanya balik, urung memetik buah cherry itu dan berbalik.
"Kau benar-benar manusia yang tidak tahu sopan santun."
Kris menaikkan sebelah alisnya, ia memandang berkeliling lagi.
"Kau tahu ini dimana?"
"Tempat ini adalah perbatasan antara dunia mu dan dunia ku."
"Maksud mu?"
"Kau sekarat"
"Aku?"
"Kau mendonorkan ginjal mu untuk seseorang, hal itu adalah perbuatan baik. Tapi terlalu cepat untukmu mati, karena banyak dosa yang harus kau tebus terlebih dahulu."
"Jangan bilang kalau kau malaikat?"
"Menurutmu?"
"Aku akan mati?"
"Baru kali ini aku bertemu dengan manusia yang tetap tenang meski melihat ajalnya sendiri di depan matanya."
"Jadi benar aku akan mati?" tanya Kris lagi, terkesan acuh.
"Tergantung padamu."
"Memangnya aku kenapa?"
"Kau tidak berdo'a?"
"Untuk?"
"Memohon pada Tuhan agar kau tetap hidup… mungkin?"
"Tidak perlu. Tuhan tahu apa yang di lakukannya."
"Kau orang yang pasrah rupanya."
"Tidak…. Meski aku memohon supaya agar tetap hidup, tapi jika Ia mematikan aku. Apa gunanya? Sia-sia."
Hening sesaat.
"Aku ingin bertanya sesuatu."
"Apa itu?"
"Huang Zi Tao, apa dia akan tetap hidup?"
"Untuk apa kau bertanya tentang orang lain?"
"Karena dia memakai ginjalku saat ini, kalau dia mati, berarti pengorbanan ku sia-sia."
"Kalau kau ingin dia tetap hidup, maka berdo'a lah untuknya jangan bertanya padaku."
"Kau malaikat."
"Tapi aku bukan Tuhan yang tahu segalanya."
"Tuhan mendengar pembicaraan kita. Ku rasa Ia sudah tahu apa yang kita bicarakan Tuan Malaikat."
"Enggan ku akui kalau kau orang yang pintar meski sangat menyebalkan Akira."
"Jangan berbasa-basi lagi, apa Tao tetap hidup?"
"Kau ingin aku menjawab apa?" tanya malaikat itu balik.
"Apa pun."
"Kalau begitu tukarkan nyawamu untuk membuatnya tetap hidup."
"Aku tidak mengerti."
"Dengan kata lain, serahkan nyawamu dan dia akan tetap hidup. Bagaimana?"
Kris terdiam, raut wajahnya masih tetap tenang.
"Kalau memang hal itu bisa menyelamatkannya…. Akan ku berikan."
"Kau bicara tanpa keraguan sedikit pun. Wu. Kau tidak takut mati?"
"Semua yang hidup akan mati, untuk apa takut mati?"
"Kenapa kau mau mengorbankan dirimu?"
"Karena aku ingin."
"Lalu kenapa kau tidak menginginkan untuk hidup saja?"
"Percuma jika aku hidup tapi tidak ada alasan yang bisa membuatku tetap hidup."
"Kau pintar sekali berbicara. Aku lelah bicara denganmu, sebaiknya kau kembali."
"Apa?" Kris mengernyit.
"Aku tidak mengijinkanmu untuk melanjutkan perjalananmu, jadi sebaiknya kau kembali."
"Tapi bukankah tadi kau berkata—"
"Aku cukup puas mendengar jawaban mu. Kau benar, yang hidup akan mati, kalau begitu kita akan bertemu lagi."
"Hei, hei! Tung—"
Sinar terang itu datang lagi dan membutakan kedua mata Kris dalam sekejap.
.
©KrisTao©
"Detak jantungnya kembali muncul!"
"Bagus! Usahakan agar tetap stabil!"
Baekhyun hanya mampu menutup mulutnya dengan satu tangan, dan di sampingnya bibi Mei tak kalah tegangnya dengan Baekhyun. Menyaksikan perjuangan Dokter di dalam ruang rawat Kris melewati kaca kamar yang terbuka yang berusaha mengembalikan detak jantung pria itu.
Ada seseorang yang berusaha membunuh pria itu. Tapi siapa?
Di sisi lain, Baekhyun dan bibi Mei tak menyadari jika ada seseorang yang juga tengah memperhatikan hal itu dari jarak yang cukup aman untuk bersembunyi. Setidaknya Baekhyun dan bibi Mei tidak dapat melihatmya. Raut wajahnya yang datar tampak dingin, dan tanpa suara ia melangkahkan kaki dari lekukan tembok di sana.
Dengan langkah lebar-lebar ia menyusuri lorong Rumah Sakit menuju tempat parkir. Usahanya sia-sia, padahal ia berharap dapat menyingkirkan pria yang tengah sekarat itu, tapi sepertinya keberuntungan tidak berpihak padanya saat ini.
Brak!
Ia setengah membanting pintu mobil.
"Yang benar saja… apa aku harus meledakkan kepalanya dulu baru dia mati?" desisnya kesal.
Saat ia hendak menginjak pedal gas, ponselnya berbunyi di atas dasbor. Tertera nama Baekhyun di layarnya.
"Halo?"
"Kau dimana, Hyung?"
"Di jalan, ada apa?"
"Ada apa katamu? Bukankah aku sudah memberitahu mu?"
"Soal?"
"Kris dan Tao masuk Rumah Sakit!"
"Ah ya, aku ingat."
"Kau lupa!?" nada tak percaya.
"Maaf…" ia mulai menjalankan mobilnya.
"Kau ini kenapa sih? Beberapa hari ini kau aneh!"
"Hanya perasaanmu, ku tutup dulu. Bye."
"Hyung! Tungg—"
Yong Jun setengah melemparkan ponselnya ke atas dasbor, dan ia menambah kecepatannya. Lalu lintas sedang bersahabat dengannya, hingga ia dengan leluasa menjalankan mobil di atas batas maksimum kecepatan. Namun ia mendesis kesal saat beberapa meter melihat lampu merah menyala. Ketika ia mencoba untuk menginjak pedal rem, laju mobilnya sama sekali tidak berkurang. Keningnya mengkerut, sekali lagi ia menginjak pedal rem, namun hasilnya sama saja. Mobilnya tetap melaju dengan kecepatan penuh.
"Shit!" umpatnya panik.
Persimpangan sudah berada di depan mata dan mobilnya tidak melambat sedikit pun. Kepanikan terlihat jelas di wajah tampannya. Sia-sia tetaplah sia-sia, Yong Jun membanting setir dengan kasar ketika mobilnya menerobos lampu merah dan dari arah samping kanannya melaju bis sekolah yang mengarah padanya.
Pasrah ia menutup mata rapat hingga akhirnya terdengar suara tabrakan yang tak terhindarkan lagi.
tbc
Gangnam China yaa, di China juga ada Gangnam.
Sankyu.
Otsu & Christal
