Sehun berada di antara. Dia melihat cahaya di depannya dan kegelapan di belakangnya. Seseorang berbisik padanya menyuruhnya untuk berjalan maju ke depan. Namun, seseorang yang lainnya berteriak kalau ia harus kembali ke dalam kegelapan.

Sehun menoleh ke belakangnya lalu menoleh ke depannya. Ia tidak tahu harus memilih yang mana.

Dokter menempelkan sepasang alat berbentuk seperti setrika di dada Sehun. Dokter itu menganggukkan kepalanya memberikan suatu isyarat kepada suster yang berjaga di samping pengatur volume alat bernama defibrilator tersebut. "Naikkan volumenya."

Jongin yang berdiri bersandar pada tembok kamar tersebut hanya bisa memejamkan matanya mendoakan yang terbaik untuk Sehun. I am never giving up on you. Wake up, Sehun.

Setelah berpikir beberapa saat, Sehun sudah memutuskan pilihannya. Ia berjalan ke depan mengikuti cahaya itu.

Aliran listrik yang menjalar ke tubuh Sehun membuat tubuh pria itu terangkat ke atas lalu membanting ke ranjang rumah sakit. "Dok, detak jantungnya semakin melemah." Ujar salah seorang suster membuat dokter itu melirik ke arah monitor yang menampilkan detak jantung Sehun yang kian menurun.

"Kita akan mencobanya sekali lagi. Naikkan volumenya. Kali ini, dua kali lipat."

Jongin yang semakin tidak berani membuka matanya mulai menangis. Ia tidak mau kehilangan Sehun. Ia ingin Sehun kembali padanya. Sehun, bangunlah. Aku memohon padamu.

Langkah Sehun terhenti. Ia seperti mendengar suara teriakan Jongin di belakang sana. Sehun menoleh ke belakang dan suara itu semakin membesar. Tanpa berpikir panjang, ia berlari mengikuti suara itu masuk ke dalam kegelapan.

"Dok, detak jantung pasien mulai stabil." Ujar seorang suster setelah tubuh Sehun kembali membanting permukaan ranjang.

Mendengar perkataan suster tersebut, Jongin langsung membuka matanya. Matanya langsung tertuju kepada monitor jantung Sehun yang mulai menunjukkan angka detak jantung yang stabil. Dengan mata bengkak dan nafas tidak teratur, Jongin memberanikan diri untuk mendekati ranjang Sehun.

Sehun terus berlari mengejar suara Jongin. Suara Jongin semakin membesar. Sehun yakin Jongin tidak jauh darinya sekarang. Namun, perlahan-lahan suara itu berubah menjadi semakin mengecil. Hingga akhirnya, menghilang. Sehun berhenti berlari dan tersadar kalau ia berada di dalam kegelapan sekarang. "What the-" belum sempat ia menyelesaikan kata-katanya, Sehun merasa dirinya begitu lemas hingga terjatuh ke bawah.

"Dok, bagaimana keadaannya?" Tanya Jongin. Matanya tidak berhenti menatap Sehun yang masih tertidur pulas.

"Keadaan pasien masih belum-"

Jongin memotong ucapan dokter itu karena ia bersumpah ia melihat mata Sehun yang berkedut. Ia berjalan persis ke samping ranjang Sehun untuk memastikan kalau ia tidak hanya sekedar berhalusinasi. Seluruh suster dan doker di sana hanya terdiam memperhatikan Jongin.

"Sehun."

Jongin menunggu respon Sehun yang tidak kunjung datang. Pria itu masih tertidur dan Jongin mulai berpikir kalau dirinya mulai menggila. Ia bahkan berhalusinasi kalau Sehun mungkin saja akan bangun. Namun, tanpa dirinya sadari salah satu jari dari tangan Sehun yang berada di sisi lain ranjang bergerak-gerak.

.

.

Chapter 13 : Oh Sehun & His Proposal

.

.

Keesokan harinya, Jongin singgah sebentar di Starbucks untuk menenangkan dirinya sejenak. Seperti biasanya ia memesan green tea latte favoritnya. Ia duduk di pinggiran kaca kafe memperhatikan lalu lintas di luar sana. Pikirannya tidak fokus karena apa yang terjadi semalam. Jongin tidak bisa membayangkan jika suatu hari nanti hal itu akan terjadi lagi. Tidak, Jongin sama sekali tidak menginginkan perasaan seperti itu untuk kedua kalinya.

Beberapa saat kemudian, sepasang kekasih datang menghampirinya dan duduk di dua bangku yang berada di hadapannya. Mereka berdua terlihat mesra dan bahagia. Jongin yang kala itu masih terkejut melihat kedekatan mereka berdua hanya bisa terdiam dengan sorot mata meminta penjelasan. Irene yang sedang memeluk lengan Yifan dan menyandarkan kepalanya pada bahu pria itu langsung menarik senyum sambil sekilas melirik Yifan.

"Ada apa sebenarnya? Aku yakin ada sesuatu yang ingin kalian beritahukan padaku." Ujar Jongin berusaha menekan senyum dibibirnya. Sesungguhnya, ia sadar akan kedekatan Yifan dan Irene selama beberapa bulan ini. Yifan-lah yang selama ini menjaga Irene dan memberikannya dukungan setiap gadis itu merasa down karena kondisi Sehun yang tidak menunjukkan perkembangan sedikit pun.

"Umm, lebihbaik kau yang memberitahu Jongin saja." Ujar Yifan. Pria itu menatap Irene dengan senyuman hangat membuat Jongin semakin gemas melihat kedekatan mereka berdua. Oke, Jongin mulai merasa sedikit ngenes ketika melihat sepasang kekasih baru ini.

"Jongin, umm, jadi begini.. aku dan Yifan sekarang berpacaran. Aku tahu waktunya tidak tepat karena keadaan Sehun yang-"

"Ini tidak ada hubungannya dengan Sehun." Potong Jongin membuat Irene terdiam tidak tahu harus membalas apa. Sepasang kekasih itu langsung memasang wajah takut kalau Jongin akan marah pada mereka. Jongin tidak bisa menahan senyumnya lagi. "Karena aku yakin Sehun juga akan merasa senang jika melihat adiknya berada ditangan pria yang tepat." Lanjut Jongin membuat sepasang kekasih itu dapat bernafas lega.

"Jadi, kau tidak marah?" Tanya Yifan membuat Jongin tertawa untuk pertama kalinya dalam beberapa bulan ini.

"Tentu saja, tidak. Aku turut senang mendengar kabar bahagia ini! Jadi, kapan undangan pernikahannya dapat kuterima?" Canda Jongin sambil menaik-turunkan kedua alisnya. Sepasang kekasih itu langsung bersemu merah. Keduanya saling pandang malu-malu.

"Cieee, cieee, ehemm, aku masih di sini ya!" Lagi-lagi, Jongin tertawa layaknya orang kerasukan.

Kali ini, sepasang kekasih itu kembali saling pandang. Namun, ada senyum lebar dibibir mereka. Senyum yang merupakan suatu tanda bahwa mereka senang melihat sahabat mereka dapat tersenyum dan tertawa lagi.

"Ngomong-ngomong, Jongin ada pertanyaan yang dari kemarin menggelitikku dan aku berpikir aku harus menanyakan ini langsung padamu." Ujar Irene tiba-tiba. Jongin langsung meredam tawanya dan berusaha untuk serius. Namun, yang ada pria itu malah menunjukkan satu ekspresi serius yang sangat terpaksa membuat Yifan tidak bisa menahan cengiran khasnya.

"Tanya saja, Adik iparku." Canda Jongin lagi. Irene langsung memasang wajah geli.

"Oke, jadi, misalnya.. Sehun tidak akan bangun dari koma sampai lima tahun atau lebih. Kau masih mau menunggunya? Maksudku, jika kau ingin mencari orang lain. Kami semua, keluargaku maupun keluargamu, akan selalu mendukungmu asal kau bahagia."

Pertanyaan Irene itu berhasil melunturkan senyum dibibir Jongin dan membawa kerutan dikeningnya. Melihat ekspresi Jongin yang berubah, Irene maupun Yifan langsung merasa menyesal, terutama Irene. "Jujur saja, aku tidak pernah memikirkan hal itu sebelumnya. Dan sekarang, akhirnya aku sadar kalau aku harus memikirkan kemungkinan itu." Jawab Jongin lalu menghela nafas.

"Aku tidak tahu apa yang terjadinya ke depannya. Aku tahu kalau aku bukan manusia paling suci atau baik di dunia, sehingga mungkin nanti aku akan jatuh cinta kepada orang lain selain Sehun. Namun, apa itu akan membuatku menjauh darinya? Jawabannya.. tidak. Aku memilih untuk tetap bersama Sehun sampai dia bangun nanti. Itu sudah menjadi keputusan akhirku."

Jongin menjawab pertanyaan tersebut dengan senyuman yang perlahan merekah dibibirnya. Sebelum Irene sempat membuka mulutnya, suara ponsel Jongin menyelangnya. Jongin segera merogoh saku celananya dan menerima panggilan telpon tersebut. "Apa, Jongdae?" Kim Jongdae adalah editor novelnya. Dia adalah salah seorang yang memperjuangkan novelnya di depan penerbit hingga sampai novel Jongin mendapat gelar sebagai best-seller. "Ada event fanmeet di Seoul? Kapan? Oh, dua hari lagi. Oke, atur saja semuanya dengan Tiffany." Tiffany, entah sejak kapan, menjadi manager Jongin. Gadis itu mengatur semua jadwalnya membuat kehidupan karier Jongin terasa lebih mudah.

Ngomong-ngomong soal Tiffany, gadis itu sedang kasmaran dengan kekasih miliyunernya dari Thailand bernama Nickhun Hor-bla bla – sampai sekarang Jongin masih kesulitan menyebutkan nama pria itu dengan benar.

Setelah Jongin mengakhiri panggilan tersebut, ia menatap sepasang kekasih itu dengan tatapan tidak enak. "Sepertinya, aku harus kembali ke rumah sakit sekarang." Jongin bangkit berdiri meninggalkan gelas latte-nya.

Sepasang kekasih itu tidak bisa berkata apa-apa selain menganggukkan kepala dan tersenyum kepada Jongin. Jongin membalas senyum mereka untuk terakhir kalinya, kemudian berjalan menuju pintu keluar. Ketika ia berada di luar kafe, Jongin menghela nafasnya sambil menatap langit Seoul yang cerah.

Ia harap apa yang dikatakannya tadi bukan suatu omong kosong belaka.

.

.

"Hei, Aku tahu kau tidak mungkin mendengarku. Tapi, asal kau tahu saja.. aku sangat mencintaimu. Jadi, sebaiknya cepatlah bangun idiot. Aku tidak sabar meninju wajah tampanmu dengan kepalan tanganku."

Jongin duduk di samping ranjang Sehun, menatap pria itu dengan senyum konyol dibibirnya. Entah sudah berapa kali, ia mengatakan hal semacam itu kepada Sehun. Entah sudah berapa kali Jongin membuat dirinya terlihat seperti orang bodoh, karena percaya kalau mungkin saja Sehun mendengarnya. Entahlah sudah berapa kali, dan Jongin berharap kalau dirinya tidak akan pernah lelah mengingatkan Sehun kalau ia sangat mencintai pria itu.

Jongin takut suatu saat nanti ia tidak bisa menahan dirinya dan mulai melupakan Sehun karena Jongin bertemu dengan orang baru. Jongin tidak mau hal itu terjadi. Namun, ia tidak bisa berjanji juga kalau ia dapat menahan dirinya. Bagaimanapun juga, Jongin hanya manusia biasa yang tidak dapat mengendalikan perasaannya. Cinta itu terkadang datang tanpa kita sadari. Dan Jongin takut kalau saat ia menyadarinya, ia tersadar kalau cintanya sudah berpaling kepada orang lain selain Sehun.

"Aku tidak mau menyukai orang lain selain Oh Sehun. Aku tidak mau mencintai orang lain selain Oh Sehun. Aku hanya ingin menjadi milik Oh Sehun. Jadi, kuharap cepatlah bangun! Aku merindukanmu, Idiot!"

Jongin menaruh kepalanya di samping tangan Sehun. Ia merasa kantuk mulai menyerangnya. "Aku mencintaimu, Idiot." Bisik Jongin. "Sangat mencintaimu." Lalu, dia mulai menggumamkan hal yang sama tentang betapa ia sangat mencintai Sehun hingga ia mulai terlelap.

Selang beberapa menit, suara tawa kecilnya terdengar. "Dasar bodoh." Ujar suara itu lalu membelai rambut Jongin dengan tangannya yang masih terasa lemas.

Sehun merasa dirinya seperti bermimpi saat mendengar ucapan Jongin barusan. Ia tidak tahu mengapa Jongin ada di sini. Namun, seingatnya ia mengalami kecelakaan dan mungkin itulah alasan mengapa ia ada di sini sekarang.

Sehun baru saja bangun dari komanya sekitar tiga puluh menit yang lalu sebelum Jongin datang. Ia sengaja tidak memanggil suster dan menunggu seseorang datang dahulu. Dan saat menyadari kalau Jongin-lah yang datang menjenguknya dan menceritakan beberapa kejadian yang terjadi pada pria itu hari ini. Sehun merasa dirinya seperti bermimpi. Ia yakin kalau ini bukan pertama kalinya Jongin menjenguknya – jika dilihat dari cerita Jongin padanya.

Banyak pertanyaan yang membuncah di dalam diri Sehun. Namun, Sehun menahannya karena ia tidak ingin terburu-buru memberitahu dunia kalau dirinya sudah bangun dari koma.

"Terakhir kali aku melihatmu, kau pergi berbalik meninggalkanku. Dan sekarang, aku bersumpah kalau aku tidak akan pernah membiarkanmu pergi lagi dariku. Aku bersumpah." Bisik Sehun. Tangan pria itu masih mengelus lembut rambut Jongin. Hingga, akhirnya ia berhenti dan menaruh tangannya diposisi semula.

Dalam hatinya, ia kembali berjanji kepada dirinya sendiri.

.

.

Sudah dua hari Sehun berpura-pura koma. Ini adalah hari keduanya, sekaligus hari dimana Jongin akan mengadakan fanmeet pertamanya disalah satu pusat perbelanjaan terbesar di Seoul.

"Aku benar-benar tidak sabar, Sehun. Ini adalah fanmeet pertamaku dan aku akan bertemu dengan orang-orang yang mau saja membeli buku anehku. Haha." Sehun menahan dirinya sekeras mungkin untuk tidak tersenyum. "Aku harap kau bisa datang, Sehun-ah. Aku sangat berharap. Namun, aku sadar kalau rasa berharap ini hanya akan menyakitiku."

Sehun dapat mendengar jelas kekecewaan di dalam suara Jongin. Beberapa detik, hanya ada keheningan yang berada di sekitar mereka berdua. Hingga akhirnya, Jongin mengecup keningnya untuk terakhir kalinya lalu melangkah pergi. Sehun dapat mendengar suara pintu yang ditutup.

Setelah menunggu beberapa menit, Sehun langsung membuka mata dan mencopot infus yang berada di punggung tangannya. Ia juga melepas segala macam alat yang menempel pada dirinya termasuk monitor jantungnya. Sehun beranjak turun dari ranjangnya dan membuka lemari untuk mencari baju yang dapat dipakainya. Untungnya, ada baju Yifan yang tertinggal di sana – hanya kaos hitam dan celana panjang. Lalu, ada jaket hitam bertudung yang pas dengan ukuran Sehun.

Sehun mengganti setelah rumah sakitnya dengan kaos dan celana tersebut. Ia juga memakai jaket tersebut dan menutupi wajahnya dengan tudung jaket tersebut. Sehun mencari sandal jepit yang mungkin saja ada di dalam kamar. Dan untungnya, ada satu sandal jepit yang entah milik siapa berada di bawah ranjang Sehun. Dengan seringai, Sehun melengkapi penampilannya dengan memakai sandal tersebut.

Oke, kalau begini.. ia sudah cocok jadi model sandal shawol (merek disensor). Sambil bergaya di depan cermin, Sehun menyisir rambutnya dengan jarinya. Hm, perfect. Ia tidak terlihat seperti orang yang baru bangun dari kubur.. ehh, koma, maksudnya.

Dengan menganggap dirinya sebagai agen rahasia, Sehun menyelinap keluar dari kamarnya. Ia berjalan menyusuri lorong rumah sakit dengan langkah hati-hati. Saat, ia hendak melewati ruangan khusus para suster dan dokter jaga. Sehun langsung menundukkan kepalanya dan berjalan layaknya model yang sedang jalan di catwalk. Beberapa pasang mata memperhatikannya, mengira dia adalah salah seorang model yang baru saja mengunjungi temannya yang sedang sakit.

Setelah berhasil keluar dari area tersebut, Sehun langsung masuk ke dalam lift yang kosong. Di dalam lift, pria itu langsung menarik seringai lebar merasa puas karena telah berhasil keluar dari area tersebut. Lift turun hingga ke lobi rumah sakit. Sehun langsung bergegas keluar dari lift saat pintu lift terbuka lebar. Ia berjalan cepat menuju gerbang keluar rumah sakit dan di sana ada beberapa taksi yang mengantre menunggu penumpang.

Sehun langsung masuk ke dalam antrean taksi paling depan. "Kemana, Tuan?" Tanya supir taksi tersebut.

"Ke Myeongdong." Jawab Sehun lalu duduk bersandar pada jok mobil.

Supir taksi langsung mengendarai mobil menuju tempat tujuan. Lalu lintas Kota Seoul kala itu tidak begitu padat. Sehingga tidak sampai tiga puluh menit, Sehun sudah sampai di kawasan Myeongdong. "Turun di sini saja." Pintanya dan supir taksi itu menepi ke pinggir jalan. Belum sempat supir taksi itu menyebutkan tarif taksi yang mesti Sehun bayar, pria itu langsung keluar dari taksi belari menuju toko buku paling besar di kawasan tersebut.

Well, ini memang salah satu dari rencana busuk Sehun. Kekekekk~

Dari belakang, Sehun dapat mendengar makian supir taksi yang ternyata mengejarnya. Sehun mempercepat larinya hingga berhenti sebentar di depan antrean panjang satu toko buku yang diyakininya sebagai tempat fanmeeting Jongin diadakan. Tanpa perduli dengan antrean panjang di depannya, Sehun langsung menyelang antrean tersebut menerobos masuk ke dalam toko buku.

Beberapa orang yang sudah berjam-jam mengantre langsung mengutuki Sehun. Seorang gadis melaporkan Sehun kepada satpam di daerah situ. Sehun kembali berlari mencari Jongin di dalam toko buku. Setelah menemukannya, yang sedang sibuk menandatangani dan berjabat tangan dengan seorang fans perempuannya, Sehun langsung kembali menyelang antrean. "Hei! Antre dong!" teriak seseorang di belakang, belakang, dan belakangnya lagi. Mungkin, semua orang di belakangnya sudah meneriakinya saat ini.

"Aku tidak sempat membawa bukumu. Tapi, aku ingin kau menandatangi sesuatu."

Jongin mendongakkan kepalanya dan bertemu tatap dengan seseorang yang tidak pernah diduganya akan datang ke tempat ini. Orang itu berdiri di hadapannya dengan seringai menyebalkan khasnya. Jongin merasa dirinya seperti bermimpi. Pria itu mencubit pipinya sendiri dan.. "Aww! Ini nyata?!" Ia menjerit membuat seluruh perhatian tertuju ke arahnya.

Tanpa bicara banyak, Sehun merendahkan dirinya dan mencondongkan dirinya di depan Jongin. Wajah pria itu begitu dekat dengan Jongin. Mungkin, hidungnya mereka nyaris bersentuhan. Jongin hanya terdiam menatap Sehun dengan mata membulat masih tidak percaya. "Ini aku." Bisik Sehun dengan suara rendah.

Sebelum Jongin sempat menanggapinya, Sehun langsung menutup jarak di antara mereka. Sehun mencium bibir Jongin membuat seluruh pengunjung toko buku berhenti dari segala aktivitas mereka untuk memperhatikan kedua pria itu. Oke, pemandangan seperti ini memang sangat tidak lazim dan termasuk tabu. Namun, bagi beberapa orang yang sudah membaca novel Jongin.. mereka langsung mengeluarkan ponsel mereka untuk mengambil foto sepasang kekasih itu.

Saat Sehun melepaskan ciumannya, mereka terdiam sejenak saling menatap satu sama lain. Jongin masih merasa dirinya seperti bermimpi. Jongin mengangkat tangannya dan menaruhnya pada pipi Sehun. "Aku harap ini bukan sekedar mimpi." Gumam Jongin membuat seringai Sehun melebar.

"Aku ini nyata. Aku kembali padamu, Jongin." Ujar Sehun lalu mengecup kening pria yang dicintainya.

"HEI, ITU PRIA YANG TIDAK MEMBAYAR TAKSIKU!"

Sehun langsung menoleh ke belakang, begitupun juga dengan Jongin. Supir taksi itu menunjuk ke arah Sehun dengan mata berapi-api. Jongin yang kebingungannya hanya terdiam menatap supir taksi itu lalu beralih menatap Sehun yang nyengir kepadanya. "Sebelum mereka menangkapku, aku ingin menanyakan sesuatu.. Kim Jongin, maukah kau menikah denganku?"

Pertanyaan Sehun itu membuat seluruh pengunjung toko buku tertegun kaget. Beberapa pengunjung wanita (yang kebanyakan single seperti author) langsung gigit jari mengharapkan kisah cinta seromantis milik Jongin. Sementara, beberapa pengunjung pria tidak berhenti mengutuki Sehun karena berhasil membuat kekasih mereka berdecak kagum serta terpesona.

Jongin yang sejujurnya bingung harus menjawab apa serta masih berada dalam euforia bahagia karena Sehun nyata dan dia berada di hadapannya sekarang, hanya bisa menganggukkan kepalanya dengan mulut menganga. Senyum lebar langsung mengembang di bibir Sehun. Pria itu berniat mengangkat Jongin yang duduk di belakang meja yang membatasi mereka berdua. Namun, karena tenaganya belum begitu pulih. Sehun mengurungkan niatnya.

"Kim Jongin, aku berjanji tidak akan pernah melepaskanmu lagi. Kau milikku seutuhnya sekarang." Sehun mencakup kedua pipi Jongin dengan tangannya yang nyaris menutupi wajah pria itu. Ia kembali menempelkan ciumannya pada bibir Jongin dan Jongin menerima ciumannya. Suara tepuk tangan terdengar riuh serta berbagai macam suara aneh lainnya mulai terdengar menyoraki kebahagian mereka.

Sehun memperdalam ciumannya, tidak bisa menahan dirinya untuk tidak memasukkan lidahnya ke dalam mulut Jongin. Namun, suara menyebalkan yang dirinya duga milik supir taksi itu menghancurkan mood-nya.

"Jadi, Tuan, kapan Anda membayar taksi saya?!

.

.

END

.

.

Rin's note :

OMFGG, ACCIDENTLY MARRIED TAMAT!

TBH AKU NGGAK TAHU MAU BIKIN SEPERTI APA ENDINGNYA. DAN INI BUKAN ENDING SUPER ROMANTIS YANG AKU BAYANGIN HAHA

ANYWAYS, AKU BERTERIMA KASIH BANGET BUAT READERS YANG UDAH NGIKUTIN FIC INI DARI CHAPTER 1 – 13! THANK YOU SO MUCH FOR ALL YOUR SUPPORTS GUYS!

THANKS UNTUK 724 REVIEWS, 160 FAVS, 143 FOLLOWS.. POKOKNYA THANKS BANGET DEH MUAHHHH

AKU NGGAK NYANGKA KALAU AKU BAKAL TAMATIN FANFIC INI KARENA YOU KNOW LAH.. AKU TUH GIMANA HEHE

P.S SIAPA YANG MAU EPILOG SPESIAL WEDDING SEKAI?! (dan kalau author sempet, bikin first night-nya juga)