.

.

.


Sialan.

Perkataan Sasuke kemarin malam membuat hatiku menjadi tidak karuan. Bukan, bukan berbunga-bunga. Hanya ada rasa penasaran yang mendalam. Banyak pertanyaan yang ingin kuajukan pada Sasuke namun aku tahan. Semalaman aku tidak bisa tidur. Baru pukul tiga pagi tadi akhirnya otak dan tubuhku menyerah. Sebenarnya aku memang-sedikit-senang namun aku terlalu bingung dengan situasi yang sedang kuhadapi. Sasuke sudah berharap sejak sepuluh tahun yang lalu. Berharap apa? Berharap berteman akrab denganku?

Pukul 8 pagi ini aku sudah bersiap untuk keluar rumah. Dari pertemuan terakhir dengan Ino dan Hinata, aku curiga mereka tau sesuatu dan sengaja menyembunyikannya dariku. Maka dari itu aku akan mengorek sedikit informasi dari mereka dimulai dari Hinata. Aku tidak memberi kabar pada Sasuke kalau aku akan keluar rumah walaupun Sasuke sudah bilang kalau dia akan ke rumah. Biarlah.

Aku mengemudikan mobilku menuju salah satu kawasan perumahan elit di Konoha. Setelah sampai pada tujuan, aku memarkirkan mobilku di depan sebuah rumah yang cukup besar. Aku mengirimkan pesan LINE pada Hinata untuk mengabarkan bahwa aku sudah di depan rumahnya. Setelah sekian menit tanpa balasan, terlihat seorang asisten rumah tangga membukakan pintu pagar dan mempersilahkan aku untuk masuk.

"Sakura, aku pikir kau akan datang sedikit siang. Aku tidak menyangka sepagi ini. Kau mau minum apa?" ujar Hinata ramah menyambut kedatangannku.

"Gak ganggu kan bertamu sepagi ini? Minum apa aja deh," jawabku.

"Kau sudah sarapan?" tanya Hinata.

Aku menganggukan kepalaku sambil tersenyum. Hinata seperti membaca kegelisahanku. Tanganku ditarik dengan lembut dan ketika aku menampakan ekspresi heran, Hinata hanya tersenyum lalu mengajakku ke halaman belakang rumahnya. Kami akhirnya duduk dekat kolam.

"Orang tuamu kemana? Kok sepi?" tanyaku basa-basi sebelum melemparkan pertanyaan yang sudah kutahan-tahan.

"Lagi ngumpul di rumah Kak Neji."

Walaupun umur Hinata sama dengan Neji tapi dia tetap memanggilnya dengan sebutan 'Kak' hanya karena Neji adalah kakak sepupunya. Berbeda sekali dengan aku yang memanggil Sasori tanpa embel-embel.

"Oh. Maaf kalau kau jadi gak bisa ikut ngumpul karena aku datang bertamu," ujarku.

"Gak apa, santai aja. Jadi, apa yang ingin kau tanyakan sampai kau harus langsung menemuiku?"

"Sasuke. Apa yang kau tau tentang Sasuke?"

Hinata sedikit kaget dengan pertanyaanku namun kemudian dia malah tertawa.

"Kenapa malah tertawa? Sudah kuduga kau pasti tau sesuatu," ujarku sedikit kesal.

"Haha, maaf Sakura aku tidak tau hanya karena berkaitan dengan Sasuke kau sampai harus mengunjungiku. Tapi aku senang kau main ke rumah. Jadi, kenapa kau bertanya Sasuke padaku? Bukan kah kau sedang akrab dengannya?"

"Ya aku akrab dengannya sampai aku tidak tau bahwa dia serius dan sudah berharap padaku sepuluh tahun lamanya."

"Astaga, sepuluh tahun? Sasuke langsung bilang itu padamu?"

Aku menceritakan secara lengkap kejadian kemarin, agar memperjelas kenapa aku butuh informasi Sasuke darinya. Aku tau Hinata ingin menggodaku namun dia tahan karena dia lebih ingin mendengar lanjutan ceritaku. Dia cukup terkejut saat kuberi tau kalau Sasuke memelukku, dengan sedikit dipaksa menurutku. Aku lebih terkejut karena aku yang merasakannya dan sebenarnya aku malu cerita bagian ini pada Hinata.

"Nah, kau belum menjawab pertanyaanku. Apa yang kau sembunyikan tentangnya dariku, Hinata?" tanyaku pada Hinata setelah selesai bercerita kejadian kemarin malam.

Hinata menghembuskan nafasnya lalu tersenyum. Aku tau Hinata tidak akan sulit dihadapi, dia tidak akan banyak menggodaku.

"Kau tau Sakura, apa yang ditanyakan Sasuke saat pertemuan pertama kalinya lagi dengan Naruto? Tentunya selain masalah tentang gambar desain hotel."

Aku menggelengkan kepalaku. Mana aku tau, aku bukan Naruto.

"Sasuke bertanya tentangmu. Naruto cerita padaku, saat presentasi gambarnya selesai dan menemuinya sebagai teman lama bukan sebagai rekan kerja, Sasuke bertanya pada Naruto apakah masih suka berkomunikasi denganmu. Lalu dia bertanya tentang kabarmu."

Aku terdiam dan masih fokus pada ucapan Hinata. Hinata kemudian melanjutkan, "Tentu saja pada awalnya Naruto heran, namun Naruto mengerti arah pertanyaan Sasuke dan ta-ra akhirnya grup kita terbuat. Kata Naruto, itu jalan untuk sedikit membantu Sasuke."

"Tapi dia gak langsung japri padaku. Baru japri pas habis gak sengaja ketemu di rumah sakit."

"Untuk yang itu aku tidak tau, sebaiknya kau tanyakan langsung pada Sasuke."

"Sebenarnya aku bingung Hinata. Aku bingung harus bagaimana. Tingkah Sasuke belakangan ini kuanggap sebagai usahanya untuk menjadi teman baik. Aku tidak terlalu berharap banyak."

"Bukannya kau berharap dia menjadi pasangan kondangan Ino nanti?"

"Ya, pada mulanya. Tapi aku tidak bisa menampik bahwa ada harapan-harapan lain setelah keakraban kami dan sejujurnya itu membuatku sedikit takut."

"Kalau begitu ikuti saja kemana mengalirnya. Bicarakan kembali dengan Sasuke, tak perlu malu."

Aku menghela nafasku keras. "Ya, sepertinya memang harus begitu. Em… tapi entahlah ini terasa terburu-buru dan terlalu mengejutkan buatku."

"Sepuluh tahun memang mengejutkan, mungkin itu menjadi alasannya untuk berbuat cepat dan tidak menunda lagi."

"Aku tetap tidak percaya, lagipula Sasuke hanya bilang berharap, gak jelas berharap apa."

"Berharap untuk serius, mungkin?"

Aku terdiam mendengar pernyataan Hinata. Bukankah seharusnya aku lompat kegirangan jika seandainya itu benar? Tapi nyatanya aku aku tidak bisa karena aku tidak tau itu benar atau tidak.

Hinata meninggalkanku sebentar karena Naruto menghubunginya. Aku kemudian meminum es jeruk yang disiapkan asisten rumah tangga keluarga Hyuuga. Ponselku berbunyi menandakan ada panggilan masuk. Ah rupanya Sasuke menelpon, sepertinya dia berkunjung ke rumah. Aku tatap layar ponselku tanpa ada niat untuk menjawab panggilan masuk itu.

Aku jadi teringat kembali dengan pertemuanku dengannya yang secara kebetulan di Rumah Sakit, kemudian dia yang tetiba add LINE, dan ajakan makan malam. Lalu setelahnya kejadian-kejadian yang membuat kami menjadi lebih dekat. Aku menjadi lebih kenal siapa Sasuke sebenarnya. Pada awalnya aku cukup bingung dan terkejut dengan semua hal itu namun aku menikmatinya. Aku senang berteman dengan Sasuke dan berharap bahwa ada saatnya dia mengajakku untuk pergi bersama ke kondangan Ino. Merupakan kepuasan tersendiri jika itu benar-benar terjadi, tapi aku telah memutuskan untuk pergi dengan Sasori saja. Entahlah apakah ini hanya obsesi cinta pertama atau apa aku pun tak begitu mengerti diriku sendiri.

Hinata kembali menghampiriku dan membangunkanku dari lamunan. Kami akhirnya mengobrol hal-hal lain mengenai wanita. Info persiapan pernikahan Ino pun kami bahas. Sampai jam menuju makan siang, aku berpamitan untuk pulang. Aku berterima kasih atas kesediannya mau memberikan informasi dan mendengarkan ceritaku.

.

.

Setelah dari rumah Hinata, aku tidak mengemudikan mobilku menuju arah rumah melainkan menuju apartemen Sasori. Aku tidak tau apakah Sasuke masih di rumah atau tidak. Semoga dia masih di rumah menunggu kepulanganku. Tapi jika dia kembali ke apartemennya, semoga kami tidak bertemu di lift.

Setelah memarkirkan mobilku di basement, aku menaiki lift menuju lantai dimana apartemen Sasori berada. Aku lega karena tidak ada pertemuan secara tidak sengaja lagi. Setelah memasukan nomer kode pintu apartemen, aku melangkahkan kakiku masuk ke apartemen. Aku cukup terkejut yang menyambutku adalah seorang wanita cantik namun wajahnya sedikit tidak ramah, bisa dikatakan judes, ini menatapku.

"Aku tidak tau pacarku berbagi apartemen dengan seorang wanita," ujar wanita cantik itu sambil menatapku seolah-olah siap untuk mencakarku.

"Dei, Kakuzu? Oh Sakura, kukira Kakuzu, temanku yang merupakan pemilik apartemen ini," ujar Sasori yang kemudian menyusul pacarnya untuk menyambut kedatangan tamu yang bisa langsung masuk karena mengetahui kode pintunya.

Wajah wanita yang katanya pacar Sasori ini tiba-tiba berubah menjadi ramah dan menggandeng tanganku begitu saja.

"Oh astaga maaf kalau aku salah sangka, akhirnya Sakura kita bisa bertemu. Sasori cerita banyak tentangmu, aku sampai berpikir dia mengidap sister complex," ujar pacar Sasori yang aku ketahui namanya Dei.

"Kita duduk aja ngobrolnya, yuk!" ajak Sasori yang kemudian aku dan Dei mengikutinya.

Pacar Sasori ini wajahnya tipe-tipe Ino, cantik dan modis, yah bukan berarti aku tidak cantik dan modis loh. Kami duduk di sofa depan TV. Sasori kemudian memperkenalkan pacarnya padaku begitu juga sebaliknya, dia memperkenalkanku pada pacarnya.

"Sakura, kenalin ini Deidara, ya dia pacarku, dan Dei, ini Sakura."

Aku dan Dei saling berjabat tangan tak lupa saling melemparkan senyuman.

"Tumben hari Minggu gini kesini. Gak ada acara? Aku dan Dei mau makan siang bareng di luar, kau mau ikut?" tanya Sasori.

"Tidak, aku tidak akan mengganggu kencan kalian. Dei langsung dari Suna apa memang sudah ada di Konoha?" tanyaku pada Sasori dan juga Dei.

"Sudah ada di Konoha sejak kemarin, aku menginap di rumah temanku-teman Sasori juga," jawab Dei ramah, "tidak masalah kalau kau ikut juga, sekalian kita jadi bisa mengobrol."

"Lain kali saja kalau begitu. Sampai kapan di Konoha?"

"Sampai minggu depan sepertinya."

Kami bertiga mengobrol sebentar tentang hal-hal ringan. Sepertinya aku akan mudah akrab dengan Dei. Ternyata Dei merupakan adik tingkat Sasori yang hanya dibawah dua tahun. Mereka kemudian memastikan kembali apakah aku mau ikut makan siang bersama atau tidak. Tanpa mengurangi rasa sopanku, aku tetap menolaknya dan meminta izin pada Sasori untuk menumpang tidur sebentar. Sasori tidak bertanya banyak dan mengizanku menggunakan kamarnya. Dei pun mengerti dan tidak memaksaku. Aku pun segera melangkahkan kakiku ke kamar Sasori dan menaiki tempat tidur segera. Rasa kantuk mulai terasa tapi aku tidak ingin pulang makanya aku memutuskan kesini saja.

Aku sudah rebahan di kasur saat Sasori masuk kamar dan bertanya padaku, "kau kenapa? Mau cerita dulu?"

"Nanti saja, aku mengantuk."

"Ada hubungannya dengan Sasuke?"

Mataku yang mulanya sudah terpejam kembali sedikit terbuka. Sebelum aku bertanya pada Sasori, Sasori sudah siap berucap.

"Sekitar sejaman yang lalu Sasuke menghubungiku bertanya apa kau ada di apartemen atau tidak. Kujawab tidak karena memang kau sedang tidak ada disini saat itu. Memangnya kau kemana sampai Sasuke mencarimu?"

"Sasuke ke rumah, aku pergi ke rumah Hinata. Ayah dan Ibu taunya aku sudah punya janji duluan dengan teman tapi aku hanya bilang ke cafe dekat rumah."

"Jadi, ada apa sampai kau harus kabur dari Sasuke?"

"Nanti saja aku cerita, ngantuk nih. Udah sana kasian Dei nungguin. Jangan kasih tau Sasuke aku disini."

Aku kembali memejamkan mataku dan kudengar sayup-sayup Sasori dan Dei akhirnya pergi keluar untuk makan siang sampai akhirnya tidak lama kemudian aku tertidur dan kehilangan kesadaranku.

.

.

Aku merasa waktu tidur siangku ini sangat cukup menghilangkan rasa kantukku namun aku cukup malas untuk bangun. Masih dengan posisi tidurku dan mata yang terpejam, aku merasa ada tangan seseorang yang mengusap-usap kepalaku. Sontak saja aku bangun karena tidak mungkin Sasori yang melakukannya. Dan tebak siapa yang ternyata melakukannya. Uchiha Sasuke. Ha. Lah kok?

"Sasori mengizinkanku masuk tepat sebelum dia pergi keluar untuk makan siang bersama pacarnya. Aku janji padanya tidak akan melakukan hal yang aneh atau macam-macam padamu," ujar Sasuke seolah menjawab keterkejutanku.

"Maaf Sakura jika aku lancang. Maaf juga jika kemarin malam aku bersikap kurang ajar padamu sehingga kau sampai mengantuk siang hari begini. Kau mau melanjutkan tidurmu atau mau makan siang? Aku tidak ingin kau sakit karena hanya telat makan. Aku merasa bertanggung jawab pada keadaanmu sekarang. Aku akan memasakan pasta jika kau ingin makan atau kau ingin makan di luar?" ujar Sasuke panjang.

Aku masih membeku pada posisi duduku di atas tempat tidur sambil menatapnya. Bangun-bangun lucu sekali melihat Sasuke dengan wajahnya yang serius dan tiba-tiba berubah sedikit khawatir dan panik.

"Mau makan pasta buatanmu," jawabku tanpa ada rasa gugup. Entahlah aku malah jadi ingin tertawa saja walaupun sebenarnya awalnya aku kaget juga.

Sasuke kemudian tersenyum karena jawabanku. Dia tampak terlihat lebih tenang.

"Ayo temani aku di dapur kalau begitu. Mau bangun lalu jalan sendiri atau mau kugendong ke dapurnya?" tanya Sasuke bercanda.

Pluk.

Aku melemparkan bantal ke mukanya dan kulihat dia malah tertawa. Sialan.

.

.

.


Hai makasih udah baca lanjutannya. Yeah ini berhasil ditulis dengan dicicil sambil curi-curi waktu. Oh ya sebenarnya sy menyiapkan side story dari sudut pandang Sasuke, mgkn setelah ini tamat atau bahkan sebelumnya. Tapi singkat sih kayanya. Lihat nanti. Bagaimana tanggapan atau masukannya silahkan tinggalkan jejak jika sempat ;)

Lots of love

J.