Dangerous Romance

Chapter 14


"Apa dia hamil?"

"Kami akan meminta Dokter kandungan untuk memeriksa lebih lanjut keadaan istri Anda Tuan. Mohon lebih bersabar menunggu." Dokter yang bernama Im itu memberikan penjelasan dan meminta Chanyeol untuk bersabar dan tenang.

"Bisakah lebih cepat?!" Chanyeol memberikan penekanan dan jelas wajahnya menunjukkan ketidaksabarannya.

"Sebentar, anda dengan Tuan?"

"Chanyeol, Park Chanyeol!" Chanyeol menyahuti Dokter yang baru saja datang mengganggu perdebatannya dengan Dokter Im barusan.

"Baik Tuan Park Chanyeol, saya akan membawa istri Anda kedalam ruang pemeriksaan, karena terlihat ada noda darah yang mengalir pada paha dan itu bersumber dari alat kelamin pasien?" Dokter yang mengenakkan name tag Choi itu menjelaskan dan Chanyeol hanya bisa menganggukkan kepala. Ia membiarkan beberapa petugas membawa Baekhyun untuk masuk dalam ruangan pemeriksaan lainnya sementara ia hanya diperbolehkan menunggu di luar ruangan dengan perasaan kalut, bingung dan juga bersalah.

Tangannya merogoh saku celanannya, mencari sebuah nama yang ia bisa panggil di jam empat pagi ini.

Oh Sehun.

Nama yang ia pandangi dalam beberapa menit sebelum pada akhirnya ia menekan tombol panggilan dan mendekatkan handphonenya pada telinganya. Chanyeol mendudukkan dirinya pada kursi ruang tunggu yang berbaris rapi disana yang menghadap langsung dengan pintu ruangan pemeriksaan.

"Kau menganggu tidur nyenyakku!" TeriakaN Sehun terdengar menjawab panggilannya.

"Aku tidak tahu harus menelepon dirimu atau Kris, dan hanya kau yang bisa aku telepon saat ini." Chanyeol menjawab gusar.

"Kenapa?"

"Aku di rumah sakit."

"YAAAAAAA! KENAPA?! KAU SAKIT ATAU APA? APA YANG TERJADI?" Sehun berteriak disana dan Chanyeol malah membalasnya dengan sedikit suara tawa kecil.

"YAAA! AKU SERIUS!"

"Baekhyun." Ia menyebutkan nama Baekhyun dan Sehun juga kembali panik dan meminta berbagai penjelasan lebih lengkap sebelum ia akhirnya menyusul dimana Chanyeol berada. Chanyeol mendesah pelan, mencoba menenangkan pikirannya sebelum memberikan penjelasan pada Sehun. Hingga beberapa menit kemudian suaranya dengan lantang dan tenang menceritakan segala kronologis yang terjadi bermula dari dimana Yoora memberikan minuman perangsang hingga kondisi mereka saat ini yang berada di rumah sakit.

"Jadi dokter kandungan sedang memeriksanya? Kau yakin ia hamil?" Sehun bertanya lagi.

"Aku tidak tahu.."

"Apa selama ini ada tanda – tanda darinya yang menunjukkan kehamilan? Mual atau pusing? Atau mungkin hal lainnya—

"Aku tidak tahu Sehun."

"YAAAAKKK! Kau ini calon suami yang kejam dan tidak baik kau tahu! Bagaimana bisa kau berada bersamanya terus dan tidak tahu tanda – tanda kehamilan! Yang kau ingat hanya bercinta dengannya kan?!"

"BUKAN! MAKSUDKU—

"Tuan Park?" Dokter Choi sudah berada dihadapan Chanyeol. "Bisa minta waktumu sebentar?"

"A-ah iya."

"SEMOGA BAEKHYUN HAMIL!" Sehun masih berteriak disana sebelum Chanyeol memustuskan sambungan teleponnya dan menghadap kearah Dokter Choi.


Dangerous Romance


Chanyeol dibawa oleh Dokter Choi—salah satu Dokter Kandungan yang bekerja di Rumah Sakit saat ini dimana mereka berada—mereka berdua duduk berhadapan pada ruangan kerja milik dokter Choi.

"Nama pasien yang baru saja saya tangani bernama Byun Baekhyun, benar?" Dokter Choi bersuara dan memeriksa data pasien yang berada ditangannya.

"Benar. Bisa tolong jelaskan apa yang terjadi pada istri saya?" Chanyeol bersuara dan mendekatkan badannya untuk menuntut sebuah penjelasan pada Dokter Choi dihadapannya.

"Tuan Park." suara lembut Dokter Choi menyahut." Istri anda baik – baik saja, ia hanya kelelahan dilihat dari kondisi badannya dan juga keadaan alat kelaminnya kalian berdua terlalu sering melakukan hubungan suami istri dalam kurun waktu yang sangat dekat. Dan itu menyebabkan kontraksi pada rahimnya—

"Apa dia hamil?"

Chanyeol memandang wajah Dokter Choi yang tengah membenarkan kacamata yang bertengger pada batang hidungnya dan juga beberapa poni rambutnya yang menghalangi dihadapan matanya.

"Haaa.. itulah yang aku katakan dan tanyakkan padamu Tuan Park." kedua tangan Dokter itu melipat didepan dada sedangkan punggungnya bersandar pada bantalan kursi kerjanya. Chanyeol? Percayalah bahwa detak jantung pria itu semakin tak beraturan dan tangannya yang saling meremas satu sama lain juga bergerak tak beraturan.

"Istri Anda…"

Chanyeol memejamkan matanya.

"Belum dinyatakan hamil."

Dokter Choi memandang Chanyeol dengan penuh kesedihan. "Dia juga tidak mengalami keguguran seperti yang mungkin Anda pikirkan, hanya saja saat ini kondisi rahimnya sedikit mengalami infeksi karena luka yang diakibatkan oleh kegiatan bercinta yang sering kalian berdua lakukan."

Chanyeol ingin bernafas lega dan juga melompat senang mendengar berita yang menyatakan bahwa Baekhyun belum dinyatakan hamil, tapi mendengar penjelasan mengenai luka pada rahimnya membuat dirinya terduduk lesu.

"Ke-kenapa?" ucapan Chanyeol mendapat balasan tatapan bingung dari Dokter Choi.

"Tuan Park." Dokter Choin mendekatkan dirinya dihadapan Chanyeol. "Kondisi Istri Anda sangat lemah, begitu juga rahimnya. Melihat hasil pemeriksaan yang didapat, ia sering meminum pil pencegah kehamilan yang tentu.." Dokter Choi mengeluarkan hasil pemeriksaan dan papan kecil yang berada dimejanya untuk dihadapkan kearah Chanyeol. "Menganggu kerja hormone kewanitaan dalam dirinya." Seharusnya Istri Anda tengah mengalami fase menstruasinya saat ini. Namun karena pengaruh obat – obatan dan juga kegiatan percintaan kalian yang sangat teratur—Dokter Choi jelas menjurus mengejek kearah Chanyeol—ada bagian dari ujung rahimnya yang mengalami luka karena pergesekkan antara alat kelamin anda yang begerak terlalu cepat dan terlalu kuat."

Chanyeol menatap Dokter Choi tanpa ekspresi karena ia merasa dipojokkan dan seakan – akan dokter wanita yang berada dihadapannya mengetahui segala proses percintaan yang mereka lakukan selama ini.

"Jangan memandangku bingung Tuan Park, aku hanya menjelaskan analisa dari hasil pemeriksaan." Dokter Choin membalas dengan sebuah senyuman sementara Chanyeol masih memasang wajah datar.

"Istri Anda sungguh baik – baik saja." Dokter Choi meyakinkan lagi. "Kami sudah memberikan obat untuk merangsang hormone – hormone dalam dirinya untuk kembali normal dan juga menyembuhkan luka pada bagian mulut rahimnya."

"A—aku masih tidak mengerti." Chanyeol menggelengkan kepala.

"Intinya.." Dokter Choi menutup lembaran hasil pemeriksaan dan menatap Chanyeol lagi dengan sebuah senyuman yang masih berada diwajahnya. "Anda harus menahan diri dalam kurun satu minggu hingga sepuluh hari kedepan agar kondisi istri Anda kembali normal setelah proses menstruasinya selesai dan juga luka pada mulut dinding rahimnya sembuh."

Dan Chanyeol merasa sebagian ucapan yang dikatakan Dokter Choi itu adalah mengartikan dirinya dan Baekhyun tidak akan bercinta hingga sepuluh hari kedepan.

Selamat Chanyeol!

Chanyeol melangkah menuju ruangan kamar dimana Baekhyun sudah dipindahkan oleh petugas rumah sakit. Langkahnya melangkah cepat bersamaan dengan gerak tangannya yang bergerak diatas layar memberikan kabar kepada Sehun mengenai kondisi Baekhyun.

To : Sehun, Oh

Dia tidak hamil!

Kalimat itu cukup ia ketikkan dan kirimkan langsung kepada Sehun. Chanyeol memasuki kamar inap dimana Baekhyun berbaring lemah disana entah karena wanita itu memang tertidur pulas atau dalam kondisi tidak sadarkan diri sedari tadi sejak ia membawanya ke rumah sakit.

"Pasien tengah tertidur." Salah satu perawat memberikan informasi dan Chanyeol beranggapan bahwa perawat itu bisa membaca pikiran Chanyeol saat ini. Chanyeol berjalan mendekat di samping ranjang Baekhyun dan duduk pada kursi kosong yang berada disana. Tangannya mengusap punggung tangan Baekhyun dan rambut wanita itu yang tergulai lembut.

"Maafkan aku." sebuah kecupan ia hadiahkan pada kening Baekhyun.

Chanyeol menarik selimut yang ada dan menutupi badan Baekhyun sebelum akhirnya ia ikut memejamkan mata dengan tangan Baekhyun sebagai tumpuan bantal kepalanya.


Dangerous Romance


Baekhyun menggeliat merasakan kaku pada tangannya yang berada dibawah kepala Chanyeol, matanya menatap sekeliling ruangan dengan penuh pertanyaan mengapa dirinya bisa berada di dalam ruangan rumah sakit. Bunyi getaran ponsel milik Chanyeol membuatnya kembali memandangi pria yang berada disampingnya yang tengah terlelap.

"Chan.." Baekhyun mengusap surai rambut Chanyeol dengan begitu lembut. "Chanyeol.." kini tangannya bergerak menggoyangan tangan Chanyeol namun nyatanya pria itu belum juga bisa dibangunkan dari tidur lelapnya.

"Terima kasih suster!" suara seseorang terdengar dari balik pintu ruangan kamarnya—"Chanyeol!"

Yoora masuk dengan penampilannya masih menggunakkan pakaian tidur yang hanya ditutupi dengan mantel tebalnya. "Oh! Baekhyun! bagaimana keadaaanmu? Apa yang terjadi? Kenapa kalian bisa masuk rumah sakit? Sehun mengatakan Chanyeol membawamu kemari dini hari tadi—apa yang terjadi?" Yoora melemparkan berbagai pertanyaan sementara Baekhyun juga tidak mengerti kenapa ia bisa berada disini. Ia hanya ingat bahwa dirinya kelelahan setelah ia bercinta dengan Chanyeol yang begitu kasar dan juga—

"Kenapa wajahmu merona seperti itu?" Yoora bertanya lagi. "YAAA! PARK CHANYEEEEOOOLLL!" Kakak perempuan Chanyeol itu memukul kepala adiknya hingga Chanyeol terbangun dari posisi tidurnya dan sadar bahwa Yoora dan Baekhyun berada didekatnya.

"Yaaaa! kenapa Baekhyun bisa berada dirumah sakit?!" Yoora memukul badan Chanyeol lagi sedangkan adiknya itu beranjak bangun dari posisi tidurnya dan membuka selimut yang menutupi badan Baekhyun. Berbagi tempat tidur dengan Baekhyun dan juga memeluk pinggang kecil itu sebagai pengganti guling tidurnya. Chanyeol menyurukkan kepalanya berbaring tepat disamping dada Baekhyun—mengabaikan Yoora yang berteriak – teriak dan memukul badannya—sementara Baekhyun juga membiarkan Chanyeol memposisikan dirinya untuk tidur disamping badannya.

"Aku akan menanyakkan pada dokter! Mana dokternya?! Perawat? Perawat?!" Yoora berlari keluar kamar dan suara teriakannya masih bisa terdengar dari dalam ruangan inap Baekhyun.

"Maafkan aku." Chanyeol bersuara meskipun Baekhyun melihat kearah pria itu masih memejamkan matanya dan menyembunyikan wajahnya pura – pura tertidur. "Maaf aku melakukannya dengan sangat kasar.. dan juga tidak bisa menahan segala hormone sialan ini untuk menahan diri supaya tidak bercinta denganmu." Chanyeol memperat pelukannya.

"Apa yang terjadi?" Baekhyun bersuara bertanya, tangannya mengusap tangan Chanyeol dan kepalanya bersandar diatas kepala Chanyeol.

"Kau kelelahan—ah tepatnya kau tidak sadarkan diri semalam. Dan aku panik karena melihat bercak darah dari pahamu dan juga diatas ranjang. Aku membawamu ke rumah sakit dan dikter kandungan memeriksa kondisi rahim—

"Aku hamil?" Baekhyun memotong dan menjauh dari badan Chanyeol.

Chanyeol beranjak dari posisi tidurnya dan memposisikan dirinya untuk berhadapan dengan Baekhyun. Wajah mereka saling memandang dalam diam, Baekhyun masih menunggu sebuah jawaban sementara Chanyeol menatapi wajah Baekhyun yang terlihat begitu damai dan juga cantik.

"Aku terlalu kasar terhadapmu, semalam. Dan itu mengakibatkan bagian rahimmu terluka dan karena berbagai obat yang kau minum untuk pencegahan kehamilan, siklus periode menstruasimu sedikit berantakkan dan juga sebagian hormone-mu tidak berfungsi dengan baik."

Baekhyun menahan suara tawanya mendengar penjelasan dari Chanyeol—seakan – akan ia mendengar penjelasan lengkap dari seorang Dokter yang bekerja disini.

"Jangan menertawaiku, salah satu perawat mengatakan seperti itu karena percayalah aku tidak mengerti apa yang dikatakan oleh Dokter Choi semalam—

"Tuan Park, Nyonya Park."

Chanyeol menegang kaku mendengar suara Dokter Choi dibelakangnya, kepalanya menunduk kembali dan bersembunyi diperut Baekhyun.

"Selamat Siang Nyonya Park, aku Dokter Choi yang menangani dirimu semalam." Dokter Choi memperkenalkan diri dan berjabat tangan dengan Baekhyun yang tengah bingung kenapa dirinya dipanggil Nyonya Park.

"YA! PARK CHANYEOL! Turun dari atas sana!" Suara Yoora terdengar lagi. Dan Chanyeol pada akhirnya beranjak bangun dan turun dari atas tempat tidur, duduk pada sofa yang lain memandangi Dokter Choi dan Baekhyun yang tengah berbincang membicarakan hasil dari pemeriksaan Baekhyun, serta obat – obat apa saja yang akan diberikan nantinya.

"Anda tidak perlu terlalu lama menginap di rumah sakit, hanya perlu meminum beberapa obat yang akan kami berikan dan juga pastikan pada saat menstruasi anda keluar nantinya, minumlah obat pengurang rasa sakit ini." Dokter Choi memberikan resep dan bungkusan obat – obatan pada Baekhyun.

"Apa pagi ini masih ada bercak darah pada celana Anda?"

Baekhyun menggeleng. "Aku belum memeriksanya.

"Oh, baiklah. Mungkin Anda bisa memeriksanya nanti saat berada didalam kamar mandi. Saya pamit undur diri, semoga sehat selalu Nyonya Park, Tuan Park." Dokter Choi membungkukkan kepala dan berlalu keluar kamar.

"Jadi.. kenapa sebenarnya?" Yoora bertanya lagi menghampiri Baekhyun dan melihat berbagai jenis nama obat yang tertulis pada secarik kertas resepnya.

"Itu karena obat perangsangmu semalam!" Chanyeol sudah beranjak dari posisi duduknya dan mengambil kertas di tangan Yoora dengan paksa.

"Wae? Kenapa dengan obatnya? Itu kan salahmu tidak mau menuntaskannya sendiri dan malah melampiaskannya pada Baekhyun, ya kan Baek?" Yoora menjawab santai dan melihat kearah Baekhyun yang memperhatikan kedua kakak beradik itu tengah beradu pendapat.

Chanyeol mendengus kesal dan bergumam sendiri sambil melangkah keluar ruangan kamar inap Baekhyun.

"Ya! Kau mau kemana!" Yoora berteriak dari dalam kamar dan Chanyeol tidak menjawab pertanyaannya.

"Adik yang kurang ajar." Yoora mengumpat lagi. "Jadi.. jelaskan padaku apa yang terjadi semalam?" kini ia beralih untuk bertanya pada Baekhyun yang masih terdiam bingung pada posisinya yang masih bersandar tidur diatas ranjang rumah sakit.

"Ah.. itu.. aku dan Chanyeol.." kedua pipinya kembali merona mengingat apa yang mereka lakukan dan bagaiamana kasarnya Chanyeol saat tengah bercinta dengannya, tapi Baekhyun sama sekali tidak merasa takut akan hal itu terulang lagi, melainkan ia ingin merasakannya lagi dan dalam keadaan mereka berdua sama – sama terbebas dari pengaruh obat – obatan perangsang sialan itu.

"Apa Chanyeol bermain sangat kasar?" Yoora bertanya lagi karena ia hanya mendapatkan Baekhyun tengah melamun dalam pikirannya dan wajahnya merona padam.

"Aaaahh.. kau sungguh menikmatinya ya.."

"Eonniieee!" Baekhyun berteriak.

"Ya—ya—ya. Aku bisa membayangkan kalian semalam. Tak perlu dijelaskan, aku sudah paham." Yoora tertawa keras sebelum akhirnya berlalu keluar kamar karena mendapatkan panggilan pada ponselnya.


Dangerous Romance


"Bagaimana keadaanmu hari ini?" Kyungsoo menanyakkan langsung keadaannya setelah panggilan teleponnya diangkat oleh Baekhyun.

Ini sudah hari ketiga Baekhyun tidak masuk ke kantor dan juga hari ketiga semenjak ia keluar dari rumah sakit. Chanyeol memintanya untuk beristrahat di rumah dan sama sekali tidak melakukan pekerjaan apapun, Chanyeol menyiapkan sarapan dan juga akan kembali pada jam makan siang dan membawakan makanan untuk Baekhyun. Merekan akan menyantap makan siang bersama dan setelahnya Chanyeol akan kembali ke kantor dan kembali pada sore hari dan memasakan makan malam untuk mereka berdua, dan itu sudah menjadi rutinitas mereka selama tiga hari ini.

"Aku baik – baik saja.. hanya merasa bosan. Bagaimana di kantor?"

"Sebenarnya kau sakit apa sih? Di kantor? kau menanyakkan Chanyeol apa pekerjaanmu?" Kyungsoo terkikik tertawa begitu juga dengan Minseok yang berada diseberang meja kerjanya. Ia sengaja mengaktifkan mode speaker agar Minseok bisa ikut masuk dalam percakapan mereka.

"Kalau aku mau menanyakkan Chanyeol tidak perlu bertanya padamu Kyungie!" Baekhyun mengamuk disana dan Kyungsoo membalasnya dengan suara tertawa keras.

"Hahahah! Tenanglah sedikit, tidak usah kesal begitu. Kantor baik – baik saja tanpa adanya dirimu, dan keadaan Chanyeol, kekasihmu itu yang terlihat gusar setiap saat bila sedang meeting, karena sepertinya dia merindukan dirimu dalam satu ruangan dengannya."

"Benarkah?"

"Nah, kau terdengar malu disana! Oh astagaaa Baekhyun!" Kyungsoo tertawa lagi.

"Kau menyebalkan!" Baekhyun memutuskan panggilannya sementara Kyungsoo dan Minseok masih tertawa keras hingga mereka berdua menyadari bahwa Chanyeol sudah berada didekat mereka.

"Ma-maafkan kami." Minseok mengucapkan kata maaf dengan posisi berdiri dan membungkukkan sedikit badannya begitu juga dengan Kyungsoo.

"Tidak apa. Dia butuh hiburan dari kalian berdua." Chanyeol tersenyum dan berlalu melangkah menuju ruangannya.

"Menurut kalian—

Chanyeol menghentikkan langkahnya sebelum membuka knop pintu ruangannya. "Apa yang wanita suka bila ia tengah dalam periode bulanannya?"

Kyungsoo dan Minseok saling memandang dan juga berpikir mengenai pertanyaan Chanyeol.

"Hmm.. biasanya kami akan sangat sensitive dan juga akan merasa sakit pada perut—

"Aku tahu itu. Hanya saja, apa yang kalian inginkan bagi kami kaum pria sebagai kekasihmu ketika kalian sedang merasakkan sakit dan sangat sensitive itu." Chanyeol menjelaskan lagi.

"Mungkin sebuah pelukan." Minseok dan Kyungsoo terdiam saling pandang karena suara itu bukan berasal dari mulut mereka—melainkan dari Seulgi yang berada diseberang Chanyeol dengan Sehun dibelakangnya.

"Pelukan dan juga makanan yang manis – manis. Aku pernah melihat sebuah film yang mempelihatkan adegan dimana seorang pria memeluk kekasihnya dan juga membelikan cupcake manis."

"Aku tidak tahu kau adalah type wanita yang mau menonton film drama picisan seperti itu." Sehun yang membalas dengan kedua alisnya yang mengernyit bingung sama halnya yang dilakukan oleh Chanyeol.

"Oh! Ayolah! Aku juga bisa menonton film seperti itu!" Seulgi memprotest tatapan kedua pria itu yang tidak percaya dengan apa yang dikatakan. "Buktikan saja! coba kau praktekkan pada Baekhyun dan lihat apakah dia menyukainya atau tidak!"

Chanyeol menganggukkan kepala begitu juga dengan Sehun. Mereka bertiga masuk bersama dalam ruangan Chanyeol sementara kedua sekretaris ini –Minseok dan Kyungsoo terdiam dalam posisinya.

"Jadi…

"Itu untuk Baekhyun?"

"Kekasih Kyung! Untuk kekasih Chanyeol."

"Baekhyun-kan?"

Mereka berdua bertukar pandang dan sebuah senyuman lebar dari wajah masing – masing.


Dangerous Romance


"Aku tidak bisa meeting terlalu lama, jadi apa yang kalian lakukan berdua datang ke kantorku?" Chanyeol duduk dihadapan Sehun dan Seulgi yang lebih dulu menyamankan posisi duduknya.

"Aku hanya ingin menyerahkan ini." Sehun mengeluarkan dokumennya yang terbungkus rapi. "Kau sudah tahu itu dokumen apa dan aku tidak perlu menjelaskan lagi." Chanyeol menerimanya dan tersenyum, ia memasukkan dokumen itu pada brankas lacinya dan kembali memandangi Seulgi yang memperhatikan sedari tadi.

"Dan kau, kenapa kau kemari? Untung saja Baekhyun tidak ada—

"Ya, aku tahu! Sehun sudah memberi tahu makanya aku datang. Kau tidak mengangkat telepon dan membalas pesanku Tuan Park. Sebagai client kau membuat vendormu ini bingung setengah mati apa yang harus dikerjakan selanjutnya!" Seulgi mengeluarkan dokumennya dari dalam tas dan meletakkan pada meja Chanyeol. "Kami akan memulai mengisi segala ruangan didalamnya! Kau harus membuat list apa saja yang harus dibeli dan diman letak – letak posisinya."

"Ah! Sudah selesai?" Chanyeol kembali terlihat tersenyum senang.

"Tentu saja sudah."

"Oh.. kapan aku harus menyerahkan daftar ini?"

"Secepatnya."

Chanyeol menganggukkan kepala. "Baiklah, aku akan melihat – lihat dulu dan membayangkan bagaimana hasilnya.

"Baiklah, kabari aku secepatnya!" Seulgi merapikan tasnya dan beranjak bangun dari posisi duduknya. "Jangan lupa untuk hadiri acara Casino itu!" Seulgi mengingatkan. "Kau juga Tuan Oh!" kini ia menunjuk kearah Sehun.

"Aku tentu saja datang, Chanyeol? Aku tidak yakin. Wanitanya sedang dalam keadaan tidak baik dan pastinya ia tidak akan datang."

"Ah, sayang sekali." Suara wanita itu disengaja untuk terdengar sedih.

"Aku akan datang." Chanyeol menjawab.

"Kau yakin?"

"Hm, aku yakin. Kenapa memangnya?"

"Bukannya Baekhyun melarangmu untuk datang?" Seulgi yang bertanya. "Bahkan ia tidak mau menerima undanganku."

"Aku akan datang, dan mungkin dirinya juga akan datang." Chanyeol menunduk merapikan dokumennya tapi Sehun dan Seulgi bisa melihat sebuah senyuman terbentuk pada wajah Chanyeol.

"Baiklah, aku tunggu kedatangan kalian semua."

Seulgi beranjak dan bersiap untuk pergi sama halnya dengan Sehun.

"Kami pergi." Sehun berpamitan pada pemilik dan petinggi di Perusahaan itu.

"Ya, ya pergilah!" Chanyeol menggerakkan tangannya mengusir dua tamu itu.

"Sampaikan salamku untuk Nona Byun!" Sehun berteriak dari luar begitu juga dengan Seulgi, Chanyeol menggelengkan kepala mendengar Seulgi meitipkan salam. Mengingat perseturuan antara kedua wanita itu ada baiknya Chanyeol hanya akan menyampaikan salam dari Sehun dibandingkan ia menyampaiakn salam dari Seulgi dan berakhir mendapatkan tendangan hapkido dari Baekhyun—membayangkannya saja sudah cukup seram—batin Chanyeol.

Chanyeol merapikan segala berkas yang masih menumpuk di meja kerjanya dalam waktu singlet dan kemudian melangkah keluar, ia sempat berpamitan pada kedua sekretarisnya yang menebar senyum hangat dan itu membuatnya curiga tapi ia enggan untuk menanyakkan karena fokusnya hanya ingat untuk kembali pulang ke rumah menemui wanita mungilnya yang sudah pasti sedang mati kebosanan.


Dangerous Romance


Bunyi suara games yang dari layar monitor menggema dari bawah ruangan apartemennya dan Chanyeol sudah yakin semua itu ada ulah Baekhyun yang membiarkan suara volume dari monitor pc nya mencapai level maksimum dengan alasan membiarkan suasana apartemennya ramai. Baekhyun masih belum diperbolehkan untuk berkaktifitas terlalu berat hingga tiga hari kedepan—atau yang Chanyeol katakan hingga lima hari kedepan—dan Baekhyun terrpaksa mengiyakan karena pria itu selalu memasang wajah memelas dan penuh rasa bersalah mengingat semua yang terjadi pada Baekhyun adalah kesalahannya.

"Chanyeeeeeeooolllllll~ kapan kau tibaaaaa! Aku bosaaaaannnn!" suara Baekhyun berteriak dari ruangan di lantai dua disana.

Chanyeol mendengarnya namun enggan untuk membalas teriak dari tempatnya saat ini. Ia mengeluarkan beberapa kue strawberry dari kemasan toko tempat ia membelinya dan kemudian meletakkan pada piring kecil sebelum akhirnya ia bawa turut serta melangkah naik keruangan dimana Baekhyun berada.

"Apa Chanyeol tampan?"

"Ya."

Chanyeol mengernyitkan alisnya mendengar ada suara aneh yang membalas suara Baekhyun.

"Apa.. Chanyeol mencintai seseorang?"

"Ya."

Langkah Chanyeol semakin pelan dan berusaha perlahan – lahan untuk tidak terdengar sedikitpun.

"Apa Chanyeol mencintai Baekhyun?"

"Ya." Chanyeol menggesturkan mulutnya menjawab iya.

"Ya."

Seketika terdengar hentakkan kaki yang bergerak tak beraturan beradu dengan bantalan sofa disana dan juga raungan Baekhyun yang bahagia.

"Terimakasih simi!" Baekhyun berucap lagi.

Chanyeol menggeleng kepala karean tingkah Baekhyun yang sudah pasti bolak balik pada posisi tidurnya dan tertawa lebar dari balik bantal sofa dimana ia duduk.

"Baekhyun?!" Chanyeol memanggil berusaha terdengar sejauh mungkin.

"Ya-yaaa! Chanyeol aku disini!" Baekhyun membalas dengan cepat.

"Oh! Aku akan kesana!" Chanyeol membalas lagi meskipun pada akhirnya ia susah untuk menahan tawanya karena bertingkah bodoh dengan pura – pura baru saja datang. Pada akhirnya dia masih berjalan begitu pelan menuju tempat dimana Baekhyun berada dan mempercepat langkahnya ketika Baekhyun mulai memanggil lagi dan meyakinkan bahwa Chanyeol memanglah sudah tiba di apartemen mereka.

"Lama sekali. Aku kira tadi bukan dirimu yang memangggil." Baekhyun langsung mengambil piring kecil yang terdapat kue strawberry diatasnya dan dengan lahap langsung memakannya.

"Hmmmmm! Ini enak!" Baekhyun mengomentari dan masih menikmatinya seorang diri.

"Aku dikalahkan oleh kue strawberry? Ouch!" Chanyeol menggerutu disamping Baekhyun, matanya berputar cepat dan mengadahkan kepalanya bersandar pada bagian atas sofa sementara Baekhyun tertahan pada suapan kuenya dengan sendok kecilnya masih didalam mulutnya.

"Ma—maaf." Baekhyun menelan potongan kue itu dengan susah payah dan menatap Chanyeol dengan sedikit menunduk.

Chanyeol susah payah menahan tawanya dan beralih untuk memeluk Baekhyun dan berpura – pura meluapkan kelelahannya.

"Aku merindukanmu." Suara Chanyeol bersuara dari balik punggung Baekhyun. "Aku merindukan suaramu di ruang meeting dan suaramu yang selalu memarahi Jongin." Baekhyun tertawa mendengarnya dan memukul lengan Chanyeol. "Aku sangat merindukanmu." Kini berakhir dengan sebuah kecupan singkat pada bahu Baekhyun.

Baekhyun memandangi Chanyeol yang kini dalam posisi memandanginya. "A-a-aku juga merindukanmu." Baekhyun membalas dengan sedikit ragu. Berharap Chanyeol akan membalasnya atau mengatakan hal yang lainnya tapi pria itu mendekatkan wajahnya untuk semakin mempersempit jarak diantara mereka, Baekhyun mulai gelisah dan salah tingkah merasakan deru nafas Chanyeol yang terdengar dari kedua belah bibir yang terbuka dan berada didekat kedua bibirnya, apalagi kedua bibir itu kini sedikit bergesekkan dengan bibirnya dan dalam hitungan detik saling bertemu dan melumat pelan.

Perlahan demi perlahan bibir mereka saling bergerak sama – sama mengecup bagian satu sama lain. Chanyeol memposisikan badan Baekhyun untuk berhadapan dengannya dan semakin memperdalam ciuman mereka dengan begitu lembut. Tangannya mengusap pipi wajah Baekhyun dan setelahnya berpindah melingkar pada pinggang Baekhyun , sedangkan Baekhyun kini melingkarkan kedua tangannya pada leher Chanyeol dan mereka bergerak pelan dan lembut menikmati bagian bibir dan lidah yang saling bermain, melumat, menyesap dan mengigit—tanpa bisa melanjutkan kegiatan lebih selain ciuman panas dan bergairah.


Dangerous Romance


Baekhyun duduk tenang dalam ruang tunggu Rumah Sakit yang selalu ia datangi sejak hampir 12 hari yang lalu, pandangannya mengamati lalu lalang yang terjadi hadapannya sedangkan telinganya menangkap setiap pembicaraan yang terjadi disekitarnya meskipun pada akhirnya ia tidak peduli dengan apa yang dibicarakan oleh beberapa orang disana.

Hari ini adalah jadwal pemeriksaan untuk luka dalam pada rahimnya, ia datang sendiri tanpa ada Chanyeol yang mendampingi karena prianya itu memiliki jadwal meeting yang sangat penting—dan tidak mungkin lagi diabaikan seperti beberapa hari belakangan—ditambah persiapan undangan acara pembukaan Casino and Resort of The Galaxy milik keluarga Kang yang dimana Baekhyun tidak tertarik untuk hadir, tapi akan Chanyeol hadiri.

Baekhyun mendengus kesal melihat tayangan berita yang ditayangkan pada televisi di ruang tunggu itu menayangkan persiapan acara dan juga ada interview yang dilakukan repoter itu dengan Kang Seulgi—bintang utama acara peresmian Casino dan Resort tersebut. Ia tidak mungkin bisa mengganti salurannya karena banyak pasang mata yang juga menyaksikan acara itu dan tentu terkagum dengan melihat beberapa bagian dalam resort itu yang sangat mewah tapi tidak dengan apa yang Baekhyun pikirkan.

Baekhyun mengeluh kesal dalam hatinya, Ia mengambil alih perangkat ipod dan juga kabel earphonenya dengan tergesa – gesa dan memasangkan playlist lagu yang dibuat Chanyeol untuk dirinya dalam masa periode bulanan.

"Aku membuatkanmu sebuah playlist." Chanyeol menyusul Baekhyun yang tengah merebahkan badannya pada ranjang besar milik Chanyeol, Baekhyun hanya bisa memperhatikan Chanyeol yang tengah mencari ipodnya dan juga menyalakan speaker Bluetooth yang berada dikamar miliknya.

"Menurut referensi film yang pernah aku tonton." Chanyeol mencari lagu dari ipodnya. "Wanita akan suka mendengar lagu mengenai ini.."

Intro lagu dari lagu yang Chanyeol putar mulai terdengar, suara merdu milik penyanyi wanita yang menyanyikkan beberapa penggalan lirik di awal lagu mulai terdengar sangat apik. Baekhyun mendengarkan beberapa kalimat yang diutarakan pada lagu itu mencoba untuk menerka apa yang Chanyoel siratkan dari sebuah playlist yang ia buat.

Losing him was blue like I never known

Missing him was dark grey all alone

Forgetting him was like trying know somebody you never met

But loving him was red..

Red

Red

Loving him was red..

Red

"Kau membuat playlist patah hati atau—

"Dengarkan dulu." Chanyeol memotong.

Baekhyun menurut , menganggukkan kepala dan memindahkan badannya untuk mendekat kearah Chanyeol yang sudah bersandar di ranjang yang sama dengannya. Salah satu tangan Chanyeol melingkar pada bahu Baekhyun dan mengarahkan kepala wanita itu untuk menjadikan dadanya sebagai bantal sandaran.

"Ini lagu yang pertama."

"Red?"

"Iya itu judul lagunya." Chanyeol menjelaskan lagi, memperlihatkan nama penyanyi dan juga judul lagunya.

"Liriknya.. sedikit.." Baekhyun berkata pelan dengan fokus pendengarannya yang masih mendengarkan setiap lirik yang dinyanyikan.

Touching him was like realizing all you ever wanted was right there in front of you

Memorizing him was easy as knowing all the words to your old favorite song

Fighting him was like trying to solve a crossword and realizing there's no right answer

Regretting him was like wishing you never found out that love could be that strong.

"Jangan mengingat mantan – mantanmu!" Chanyeol memukul pelan pipi Baekhyun dan wanita itu mengaduh serta membalasnya dengan memukul perut Chanyeol.

"Aku tidak punya mantan! Bukannya dirimu yang mempunyai begitu banyak mantan wanita!" Baekhyun menengadah dan kini wajahnya menghadap kearah Chanyeol yang mana pandangan pria itu masih terfokus pada layar ipodnya.

"Mereka tidak pernah menjadi kekasihku." Chanyeol menyahut dan Baekhyun terdiam mendengar jawaban itu.

Seharusnya Baekhyun sudah tahu jawaban yang akan Chanyeol berikan karena dia sendiri pun tahu Chanyeol tidak pernah memiliki kekasih. Tidak ada satu pun wanita yang pernah Chanyeol kenalkan sebagai wanitanya, ia selalu mengatakan bahwa mereka hanya untuk kepuasan semata, istilah 'one night stand only' selalu Chanyeol tekankan jika Baekhyun menanyakkan kejelasan lebih lanjut dan Chanyeol juga tidak pernah menjelaskan apa yang mereka lakukan.

"Seharusnya kau sudah paham. Aku tidak perlu memberikan penjelasan lebih kepadamu 'kan?" salah satu kalimat yang selalu Chanyeol katakan juga bila Baekhyun memberikan pertanyaan interogasi. Jujur saja ia sangat penasaran dengan apa yang Chanyeol lakukan dengan para wanita – wanitanya itu mengingat esok harinya dirinya akan menjadi bahan teriakkan dan juga korban amukkan dari para wanita – wanita yang sudah menghabiskan malamnya bersama Chanyeol.

Salah satunya Anna—salah satu wanita yang pernah menghabiskan malam bersama Chanyeol dan juga salah satu mahasiswa di Standford. Wanita ini sangat brutal melampiaskan amukannya dan bahkan mengatakan Baekhyun sangatlah bodoh dan harusnya bisa memberikan Chanyeol sepenuhnya pada dirinya—aneh! Itu yang selalu Baekhyun batinkan dalam hatinya.

"Apa yang kau lakukan sebenarnya pada mereka?" Kesadarannya kembali memandangi Chanyeol yang menutup matanya tertidur disebelahnya. Tangannya mengusap lembut pipi wajah Chanyeol dan juga mengeratkan pejaman mata Chanyeol yang belum sepenuhnya sempurna tertutup.

"Aku tidak melakukan apapun pada mereka." Tangan Baekhyun yang bergerak tertangkap genggaman tangan Chanyeol, punggung tangannya ia berikan sebuah kecupan sedangkan Baekhyun membiarkan jari – jari lentiknya bermain membelai belah bibir Chanyeol. Harapannya terpenuhi karena Chanyeol menarik salah satu jari Baekhyun untuk berada didalam mulutnya dan ia basahi dengan lidah panasnya, Baekhyun masih membiarkan dan dengan bodohnya mendesah pelan.

"Aku tidak melakukan ini pada mereka." Chanyeol berucap dan beralih menjilati dan mengulum jari – jarinya yang lain.

"Hm.." Baekhyun mendesah lagi. "Haa… apa yang kau lakukan pada mereka?" Kesadarannya berusaha ia pertahankan, tangannya ditarik keluar dari mulut Chanyeol dan kini menahan wajah pria itu yang masih akan mencium bibir tipis miliknya.

But something happened, for the very first time with you
My heart melts into the ground, found something true
And everyone's looking round, thinking I'm going crazy

"Kau akan terkejut mendengar apa yang aku lakukan pada mereka." Kedipan nakal dari Chanyeol entah kenapa mendapatkan balasan cubitan jari – jari Baekhyun.

"Aku tidak melakukan ini." Chanyeol mengecup bibir Baekhyun dan bertahan cukup lama meskipun bibirnya tidak bergerak untuk melumat dan membasahi bibir itu seperti biasanya.

But I don't care what they say
I'm in love with you

"Apa lagi?"

They try to pull me away, but they don't know the truth
My heart's crippled by the vein, that I keep on closing
You cut me open and I

"Dan, Aku tidak melakukan ini." Chanyeol menciumi setiap inchi bagian wajah Baekhyun hingga beralih ke bagian leher dan juga dada Baekhyun dan tentunya menggelitik bagian pinggang Baekhyun yang membuat wanita itu memberontak dan tertawa keras merasakan geli pada badannya.

Keep bleeding, keep, keep bleeding love
I keep bleeding, I keep, keep bleeding love
Keep bleeding, keep, keep bleeding love
You cut me open

"Ahh! Hahahahah! Aku sedang bleeding! Yaaa! Yaaaa!" Baekhyun berguling menghindari Chanyeol namun pria itu masih menciuminya dan menggelitik pinggangnya. Suara tawa menahan rasa geli hingga Baekhyun hampir saja menangis memohon Chanyeol untuk berhenti terus—

"Baekhyun-ssi?!" sentuhan tangan Dokter Kang mengembalikan lamunan Baekhyun, menyadari bahwa dirinya tengah tersenyum sendiri dengan ipod playernya yang berbunyi cukup kencang sedangkan kesadarannya sedari tadi melayang mengingat kejadian beberapa hari lalu.

"Maaf aku membawamu kembali sadar di ruang tunggu rumah sakit—

"Ah! Maafkan aku." Baekhyun memotong, kepalanya menunduk malu mendengar suara Dokter Kang yang menertawakan dirinya.

"Tidak apa, itu bagus. Senang mengetahui dirimu tengah mengingat – ingat hal yang bahagia." Dokter Kang memimpin masuk kedalam ruangannya dan Baekhyun mengikuti dibelakangnya. "Setidaknya, kalian berdua masih bisa menikmati suasana romantis meskipun tanpa kegiatan bercinta 'kan? Apa Tuan Park melanggar puasanya dan memaksakanmu untuk memenuhi kebutuhannya?"

"Eh?" Baekhyun terdiam bingung.

"Hahaha, tidak aku hanya bercanda." Dokter Kang menyudahi kalimat basa – basi dalam percakapan mereka dan meminta pasiennya yang saat ini tengah terdiam dengan pipi merona mendengar rentetan kalimatnya, untuk bersiap berbaring agar ia bisa memeriksa keadaan rahim didalam sana.

e)(o