Jungkook menggeram rendah, campuran antara khawatir di antara kegiatannya menghubungi seseorang puluhan kali, hanya untuk berakhir pada layanan voice mail.

Jungkook benar-benar butuh penjelasan.

Namjoon menghubunginya beberapa waktu yang lalu, memberitahukan bahwa Taehyung membatalkan pertunangan. Secara sepihak dan tanpa sepengetahuan dirinya.

Ia jelas marah--

Itulah kenapa, tanpa membuang banyak waktu ia mendatangi apartemen tempat tinggal Jimin dan Taehyung.

Dan sesampainya disana, Jungkook sama sekali tak mendapati sosok Taehyung dalam pandangannya, kecuali Jimin lengkap dengan wajah khawatirnya yang kentara. Mengatakan jika Taehyung tidak ada di rumah dan sulit sekali dihubungi.

--Juga khawatir dan takut.

Bagaimana bisa Kim sialan itu berani meninggalkannya setelah berhasil membuatnya jatuh?

"Sialan," Jungkook hampir saja melempar ponselnya suka rela, saat lagi-lagi hanya suara operator yang terdengar ditelinga.

Baru kali ini Jungkook merasa sekacau ini.

Bukan karena pembatalan kerjasama antara perusahaan Kim dan perusahaan miliknya.

Tapi karena Taehyung.

Seseorang yang telah berani mendobrak masuk begitu kurang ajar ke dalam hidupnya.

Jungkook tahu jika ia begitu plin plan terhadap perasaannya sendiri. Tapi ia tak bisa mengelak, jika nyatanya Kim Taehyung telah berhasil menggeser posisi Jimin untuk hatinya.

Tak menyerah, Jungkook kembali menghubungi Taehyung dengan seluruh harapan yang tergambar di wajah--"Angkat, kumohon angkat Tae hyung,"--hingga sanggup mengabaikan eksistensi Jimin yang memandanginya dengan gurat lukanya yang mati-matian ia sembunyikan.

Jimin sekarang benar-benar tahu.

Bahwa hubungan antara dirinya dengan Jungkook benar-benar telah berakhir.

Tak tertolong.

Dan ia tak bisa menyalahkan siapapun. Baik Taehyung, maupun Jungkook.

.

.

.

Derap langkahnya teratur, begitu pelan terdengar di dalam sebuah ruang, lalu berhenti tepat di depan tempat penyimpanan abu yang ia tuju berada.

"Ibu aku datang. Lagi."

Taehyung membawa setangkai bunga lili, lalu menempelkannya di tempat dimana abu ibunya disimpan.

"Bagaimana hari ibu di sana? Kuharap ibu tak bosan melihatku berkunjung kemari terlalu sering."

Taehyung memang sering sekali mengunjungi ibunya. Hanya dengan melakukannya, seluruh beban berat yang mengganjal di hati terangkat.

"Bu, hari ini aku bertemu dengan ayah," Taehyung melebarkan senyumnya, terpoles ceria di wajahnya, "Beliau sehat jadi ibu tak perlu khawatir. Kakak juga."

Dering ponsel digenggaman tangannya terdengar, mengalihkan perhatian Taehyung sekilas. Tertera nama Jungkook diantara nyala layar.

Taehyung hanya melihatnya, sama sekali tak berniat menggeser tanda hijau sampai panggilan itu terputus dengan sendirinya.

"Jungkook kembali menghubungiku, bu. Aku ingin sekali menjawabnya. Mendengar suaranya," Taehyung menunduk, sebentar. Lalu kembali mengangkat wajahnya yang masih terulas senyum terpaksa, "Tapi aku tahu, aku tak bisa melakukannya kan bu? Meski aku merindukannya teramat sangat."

"Bu, apakah cinta memang harus sesulit ini?"

Taehyung telah selesai mengunjungi ibunya, dan hal pertama yang ia lihat dalam pandangannya adalah sosok dari Yoongi, berdiri dengan pinggang bersandar pada bagian depan kap mobil.

'Bu aku mengenal seseorang yang begitu baik,'

Taehyung mengembangkan senyumnya saat mendapati Yoongi menoleh dan memaku pandang ke arahnya dengan tegakan badanya.

'Namanya Min Yoongi. Yoongi hyung,'

Taehyung kembali melangkah lebih cepat, mendekat ke arah Yoongi yang masih menunggunya dengan sabar.

'Dia sudah seperti kakak bagiku, bu.'

"Sudah selesai?"

Taehyung mengangguk cepat dengan dengungan samarnya.

"Kalau begitu masuklah. Aku akan mengantarmu pulang," tutur Yoongi disela bukaan pintu samping kemudi.

'Jika dilihat sekilas wajahnya memang datar dan dingin. Tapi meski begitu, Yoongi hyung begitu sempurna, tampan, hangat dan penuh perhatian dengan caranya sendiri.'

Yoongi berjalan melewati depan mobil untuk sampai pada pintu kemudi, Taehyung memperhatikannya.

'Luar biasa sekali kan, bu?'

Dan saat Yoongi telah berhasil duduk di sampingnya, Taehyung baru merasa bahwa hawa disekitar jadi terasa begitu canggung.

Taehyung bahkan harus dibuat berjengit kaget saat mendapati Yoongi yang begitu tiba-tiba mendekat ke arahnya.

Taehyung membeku di tempat duduknya.

Dengan wajah yang saling berhadapan, dan hembusan nafas yang terasa bertabrakan satu sama lain.

Mereka terlibat adu pandang beberapa detik sebelum Yoongi memutusnya secara sepihak. Membawa tubuhnya lebih dekat, lalu melebarkan jarak setelah bunyi klik dari seatbelt berhasil terpasang.

Taehyung berkedip beberapa kali dengan hembusan nafas lega.

'Begitu mengherankan, kenapa bukan Yoongi hyung yang kusukai?'

Tanpa sadar, ulasan senyum samar nampak di wajah Taehyung. Heran dengan pemikirannya sendiri.

.

[Perasaan manusia dan jatuh cinta itu benar-benar aneh.]

.