Shinaciku duduk sendirian ditaman sekolah, tempat biasanya dia menyendiri. Shinacikupun mengeluarkan boneka pemberian ayahnya. Katanya ayahnya akan selalu ada untuknya, katanya ayahnya akan sering mengunjunginya, katanya ayahnya akan sering mengajak Shinaciku bermain. Tapi mana buktinya? Ayahnya tak datang sama sekali! Kesal Shinaciku kesal, marah Shinaciku marah dan amat membenci omong kosong yang dikatakan ayahnya. Shinaciku melemparkan Kurama ke tanah kemudian menginjak-injaknya kesal dan penuh emosi.
"bohong! Semuanya bohong!"
Shinaciku mengepalkan tanganya menangis terisak kemudian berlari meninggalkan kuramanya ditaman. Shinaciku menangis sendiri, anak itu kesal.
Kenapa... kenapa orang tuanya membohonginya? Apa salah Shinaciku? Shinacikku hanya ingin merasakan kasih sayang orang tuanya, meskipun ia tau kasih sayang orangtuanya seakan sulit didapatkan.
"Kurama.."
Shinaciku berlari ketaman dan menghampiri boneka rubahnya kemudian menepuk-nepuk bonekanya yang kotor akibat ulahnya tadi. Shinaciku kembali mendekap kurama sambil menangis
"ayah Shina rindu"
.
.
.
Naruto tersenyum lega, Masalah di Suna akhirnya telah ia bereskan. Naruto segera mengemasi barang-barangnya dan menghubungi skertarisnya untuk memesan tiket kepulanganya. Naruto cek out direservasi hotel kemudian dia bergegas pergi. Naruto menyempatkan dirinya untuk membeli oleh-oleh disanah. Dia mengunjungi pasar dan mall, Naruto membeli banyak mainan, putranya pasti akan senang. Naruto juga membeli souvenir dan beberapa barang untuk Sakura. Meskipun dia ragu, apakah Sakura akan menerimanya atau tidak. Naruto sangat bersemangat, ini pertama kalinya dia membelikan oleh-oleh. Semoga suatu saat nanti Sakura bisa memaafkanya. Ah bahkan kata "maaf"pun terdengar terlalu mewah untuknya. Baginya Sakura bisa mengizinkanya untuk bertemu dengan putra mereka saja sudah kebahagiaan tersendiri untuknya.
.
.
.
"Shinaciku tidak ada?"
Wajah Sakura terlihat bingung
"anak-anak sudah pulang dari tadi miss. Aku fikir miss sudah menjemputnya"
"terima kasih sensei"
Sakura meninggalkan Matsuri yang hanya terdiam melihat kepergian Sakura. Ini kedua kalinya Shinaciku menghilang, apakah Shinaciku bersama Naruto? Sakura ragu menanyakanya. Dia juga tak menyimpan nomer ponsel naruto. Bagaimana ini? Sakura memutuskan untuk pulang ke rumah. Berharap tidak terjadi sesuatu dengan putranya.
.
.
Mobil yang ditumpangi Naruto sudah melesat tajam membelah jalanan. Setelah beberapa jam di pesawat turun di bandara Naruto tanpa fikir panjang langsung ingin menemui putranya. Baginya bertemu dengan Shinacikubisa langsung sekejap melupakan rasa lelahnya usai perjalanan jauh. Dan Sakura... ah entahlah, Naruto hanya bisa tersenyum miris. Sambil memegangi dadanya bahwa dia merindukan sosok wanita bersurai merah muda itu.
.
.
Sakura menunggu cemas, sudah pukul 7 malam tapi Shinaciku belum juga pulang. Kemana anak itu? Sakura menggigit bibir bawahnya sudah nampak mulai cemas. Apa yang harus Sakura lakukan sekarang? Apa dia harus ke rumah Naruto? Jangan-jangan Shinaciku menginap dirumah Naruto, atau jangan-jangan Naruto akan mengambil Shinaciku dari sisinya. Tidak, ini semua tidak boleh terjadi, Sakuralah yang merawat dan membesarkan Shinaciku selama ini. Naruto tidak berjhak mengambil Shinaciku dari sisinya. Sakura menga,bil tas kemudian bergegas menuju tampat yang dulu pernah dia tinggali bersama mantan suaminya.
"Naruto apa yang kau laku-"
Baru saja Sakura menuju pintu depan Naruto sudah muncul
"Sakura dimana Shinaciku?"
"apa? Bukankah Shina bersamamu? Jangan becanda! Aku hendak mengambilnya dari rumahmu!"
"Sakura apa yang kau bicarakan? Aku baru saja sampai di Konoha, ada masalah di Suna. Dimana anak kita?"
Keteganganpun muncul diantara Naruto dan Sakura
.
.
Mobil sport Naruto melesat menyusuri jalan bersama Sakura
"tenanglah Sakura-chan, kita pasti akan menemukan anak kita"
"tapi ini sudah malam Naruto. Bagaimana kalau terjadi sesuatu dengan dia?"
Naruto menatap fokus kearah jalan dengan cepat mengendarai mobilnya. Menengok ke kiri dan ke kana berharap menemukan putra semata wayangnya. Dimana Shinaciku? Ini semua gila! Baru saja Naruto pulang dan berharap menemui anaknya melepas rindu tapi Shinaciku tidak ada!
"Naruto-kun"
"ya Sakura-chan"
.
.
Taman sekolah, rumah teman-teman Shinaciku, tempat bermain atau tempat dimanapun yang dirasa Sakura pernah Shinaciku kunjungi telah dia telusuri dan hasilnya nihil sama sekali.
"Shina-kun"
Hiks, Sakura menagis sambil menutupi wajahnya dengan kedua tanganya. Naruto mendekat dan mendekap sakkura secara perlahan dan membiarkan Sakura tenggelam dalam dada bidangnya, kemudian melepaskan kedua tangan Sakura yang menutupi wajahnya, mengusap lembut punggung Sakura. Sakura tidak menolaknya sama sekali, saat ini dia membutuhkan sandaran. Dan Naruto memberikan sandaran itu. Perasaan ini, perasaan yang dulu dia lupakan seolah tertumpah ruah. Perasaan hangat, damai dan penuh kasih sayang, debaran jantung yang bergemuruh hebat. Rasa takut, rasa rindu beradu menjadi satu. Seakan tak ada kata-kata lagi untuk mengungkapkan itu semua. Pelukan Naruto begitu hangat, begitu nyaman. Sungguh Sakura merindukan pelukan dari sosok laki-laki yang dulu bahkan sekarangpun masih begitu dicintainya. Laki-laki yang untuk pertama kalinya menyentuh relung hati Sakura yang paling dalam, laki-laki yang telah memberikanya seorang malaikat kecil berambut pirang persis seperti dirinya. Sakura menangis dalam dekapan Naruto. Dan Naruto mulai menunduk membisikan sesuatu kepada Sakura
"tenang dan percayalah anak kita pasti akan baik-baik saja"
Ucapnya lirih. Naruto mengecup puncak kepala sakura, sungguh Narutopun saat ini begitu merindukan Sakura. Menikmati momen yang dulu pernah dia rasakan bersama Sakura saat mereka masih bertunangan dulu. Namun keegoisan dan dendamlah yang menutupi kenyataan bahwa akhirnya mereka saling mencintai satu sama lain.
.
.
Pukul 11 malam sudah Naruto dan Sakura berkeliling menyusuri tempat-tempat yang mungkin akan Shinaciku kunjungi. Bahkan Naruto mengerahkan anak buahnya untuk mencari keberadaan putranya.
"Shina-kun kau dimana"
Naruto sudah mulai kesal, fikiranya kalut memikirkan dimana putranya. Tubuhnya sudah begitu letih, tapi dia harus segera menemukan Shinaciku sebelum sesuatu yang buruk terjadi. Naruto ingat tempat yang dulu pernah dia kunjungi bersama dengan Shinaciku
"aku pernah pergi bersamanya ke suatu tempat.."
.
.
Taman hiburan Konoha itu masih tetap ramai meskipun jam sudah menunjukan tengah malam. Tampak pengunjung berlalu lalang melewati Naruto dan Sakura
"kau yakin Shina ada disini?"
"aku pernah mengajaknya kemari, ayo"
Sakura dan Narutopun bergegas menelusuri setiap wahana yang ada disanah, perasaan mereka sungguh begitu cemas.
"Shina kau dimana?!"
Naruto dan Sakura bergegas dan tanpa sadar mereka bergandengan tangan agar tidak terpisah. Sakura terpekur melihat sesuatu yang dikenalinya
"itu.."
Naruto segera mengambil sesuatu yang dimaksud Sakura.
"tak salah lagi Shina ada disni"
Naruto mengambil boneka rubah dan terus menelusuri taman bermain itu. Nafas mereka tersenggal, tapi mereka tidak boleh menyerah. Sampai seluruh wahana mereka cari, pos penjaga, dan pusat informasi mecari Shinaciku. Bahkan Naruto memerintahkan anak buahnya untuk bergegas mencari keberadaan puteranya di Konoha Land. Tidak salah lagi Shinaciku pasti ada disini, mereka telah mendapatkan petunjuknya, tapi masalahnya Shinaciku sampai saat ini belum ditemukan juga.
"Shina kau dimana?!"
Sakura dan Naruto melewati taman menuju perbukitan yang terdapat jurang
"Shina!"
Sakura terus memanggil-manggil puteranya berharap bisa menemukanya.
"Naruto"
Sakura memanggilnya dan mata mereka tertuju pada seorang anak kecil berambut pirang yang tengah menangis sendiri
"Shina-kun!"
Sakura segera berlari ingin mendekap puteranya
"jangan mendekat!"
Shinaciku seolah mengancam ibunya
"jangan mendekat atau aku akan lompat!"
Shinaciku mengancam, dia berada dipinggir jurang
"Shina apa yang akan kau lakukan nak?"
"bohong"
Shina mulai terisak
"ayah dan ibu membohongiku! Semuanya bohong!"
"Shina ayah tak bermaksud membohongimu"
"lalu apa? Kenapa kalian tak pernah akur? Kenapa kalian tidak bersama? Kenapa kalian bersama hanya saat Shina sakit kenapa?! Apakah Shina harus sakit lagi biar kalian bisa memperhatikan Shina?!"
Perkataan puteranya seolah menampar Naruto dan Sakura
"Shina.. Shina hanya ingin seperti anak-anak lain ayah! Shina hanya ingin seperti teman-teman Shina! Apa Shina salah?"
"Shina kemari nak, jangan buat ayah dan ibumu khawatir"
"tidak mau!"
Kali ini ulah anaknya membuat Naruto kebingungan.
"apa Shina harus loncat agar Shina bisa merasakan kasih sayang kalian dan tidak diejek lagi?"
Naruto dengan gerakan cepat melesat menarik tangan putranya yang nekat berdiri dipinggir jurang dan langsung memeluknya mengamankan putranya
"lepaskan aku!"
"Shina maafkan ayah"
"tidak! Ayah pembohong! Ayah dan ibu jahat!"
Sakura ikut mendekap puteranya
"Shina ibu mohon hentikan nak, jangan buat ibu khawatir lagi"
Sakura menangis merasa sakit
.
.
Shinaciku tengah tertidur pulas dikamarnya, dia kelelahan. Sakura merasa lega tidak terjadi sesuatu yang buruk pada puteranya
"Sakura.."
Naruto berkata lirih, kemudian Sakura menutup knop pintu kamar memeluk dirinya, masih merasakan kecemasan yang sama.
"Sakura.."
Naruto kembali memanggilnya, kemudian mengeluarkan sesuatu dari kantong jasnya. Kotak beludru kecil berwarna biru dan mengeluarkan sesuatu didalamnya. Sebuah cincin bertahtakan berlian dengan ukiran yang sangat indah. Sakura masih terdiam
"aku mohon padamu menikahlah denganku, demi anak kita"
Naruto mulai mengutarakan maksud hatinya
"aku minta maaf Sakura telah memperlakukanmu dingin saat kita menikah dulu aku minta maaf padamu"
".."
"memang tujuan awalku menikahimu adalah untuk balas dendam, kalau kau bilang aku bajingan. Ya aku memang pantas disebut bajingan. Tapi Sakura saat kau mengandung Shinaciku dan aku mengetahui wasiat terakhir ibuku aku.."
Naruto memegang dadanya menekan segala rasa yang ada
"Sakura berikan aku kesempatan, setidaknya untuk Shina. Biarkan dia merasakan kasih sayang dari kita, cukup aku saja Sakura yang menderita dengan masa kecilku cukup aku... hatiku sungguh sakit saat mendengar anak kita di bully anak haram hatiku sungguh terluka saat Shina menangis iri dengan teman-temanya yang bersama orangtua yang lengkap. Aku mohon Sakura.."
Mata Sakura mulai panas mendengar pernyataan dari Naruto
"biarkan anak kita merasakan kasih sayang lengkap dari orang tuanya. Aku memang sudah begitu jahat padamu Sakura, tapi satu hal yang kini aku sadari bahwa aku sungguh mencintaimu. Kau dan Shina adalah obat, obat hatiku yang selama ini berada dalam kegelapan. Kau adalah cahaya, semangatku untuk hidup. Aku mohon Sakura, hukumanmu padaku sudah cukup aku rasakan. Selama 5tahun aku tak bisa bertemu denganmu dan putera kita, kali ini.. berikan aku menjadi kesempatan menjadi ayah yang baik, menjadi suami yang baik untukmu dan Shinaciku aku minta padamu Sakura"
".."
"aku sungguh menyesal dan sudah cukup menderita, tak bisakah kau kembali padaku? Setidaknya demi anak kita Sakura. Aku mohon biarkan anak kita merasakan kasih sayang kita"
Sakura menangis mendegar pengakuan Naruto
"demi anak kita"
Sakura menghapus air matanya
"A-aku mau Naruto"
Naruto seolah tak percaya dengan jawaban Sakura
"ya Sakura?"
"ya aku mau dan bersedia menjadi istrimu"
Awalnya Naruto tersenyum tipis kemudian senyumanya berubah menjadi lebar seolah kebahagiaan menjalar di syaraf-syaraf tubuhnya yang selama ini merasakan kesakitan yang sudah begitu lama ditanggungnya. Naruto menyematkan cincin dijari manis Sakura dan menghapus air mata Sakura. Lalu perlahan mendekatkan wajahnya kepada Sakura, Sakura menegakan kepalanya dan dahi mereka bertemu. Shafire menatap lembut emerald, kemudian bibir mereka bertemu dalam ciuman kasih sayang. Melepaskan segala kesakitan yang ada, melupakan dendam dan keegoisan yang selama ini membelenggu hati mereka untuk bersatu. Dan akhirnya menyatu karena ada seorang malaikat kecil yang membutuhkan mereka, ada seorang anak kecil yang menginginkan kasih sayang mereka. Sakura dan Shinaciku adalah obat bagi hati Naruto yang selama ini berada dalam kegelapan. Sakurapun sadar bahwa keegoisan, rasa sakit dan dendamnya tak selamanya benar. Karena ada satu hal yang tanpa mereka sadari bahwa masa lalu tak akan pernah menang, karena ia selalu dibelakang. Sakura dan Naruto mengikrarkan janji dalam ikatan suci pernikahan yang dulu pernah mereka ingkari. Dan akhirnya kebahagiaan itu datang menjemput Naruto, Sakura serta anak mereka Shinaciku
.
.
.
TBC
.
.
next chapter epilog antara Naruto,Sakura dan juga Shinaciku :).. terima kasih banyak buat yang udah setia mengikuti fic gaje ini. see you next chap
