14. Taring Semua
Thanks to NeverLanderGirl for beta!
Sebenarnya hari itu tidak ada yang istimewa. Shuu sedang membaca di bawah rimbunan pohon, duduk di pinggir kotak pasir. Yuuma sedang membuat kue lumpur dari pasir, membuat sedikit lumpur dengan air dari ember kecil yang ia bawa di dalam kotak pasir dan menumpuk 'kue-kue' itu di pinggir.
Anak-anak lainnya yang bermain di taman itu tampaknya lebih ingin duduk-duduk karena akhir bulan Juli itu begitu terik.
"Njam!" tiba-tiba seorang anak yang lebih besar dari taman kanak-kanak, menarik ember air Yuuma dan membuang isinya ke kotak pasir.
"Aaah! Angan!" seru Yuuma, matanya berkaca-kaca, dan dia buru-buru balas menarik embernya. Namun anak berkaca mata itu, Teppei Araki, balas menarik lebih kasar. Shuu melihat ini, menutup bukunya dan buru-buru membantu Yuuma.
"Don't!" seru Shuu tegas, lalu berhasil menyambar ember Yuuma, dan mengembalikannya pada temannya. Ia dengan wajah mungil itu bisa-bisanya menunjukkan ekspresi penuh otoritas dan menunjuk Teppei dengan ujung jari yang menuduh. "Baaa...ka!"
Teppei memerah marah, lalu mendorong Yuuma sampai jatuh ke kotak pasir. Si kecil berpucuk itu tersentak kaget, menghancurkan tatakan kue-kue lumpurnya dan lututnya tergores pinggir kotak pasir hingga berdarah.
"U...Uuu...!?"
"Baka!" seru Shuu lagi, lebih marah, lalu balas mendorong Teppei dan berusaha menyambar ember Yuuma. "No! No! No!"
"Aku pinjaaam!" rengek Teppei, lalu mendorong Shuu juga sampai jatuh. Shuu mengepalkan tangan kecilnya geram karena tidak bisa membantu Yuuma.
"Akaaai!" tiba-tiba ketiga anak itu menoleh melihat Karma yang berdiri di belakang Teppei. "Nyakai!" tuduhnya pada Teppei, mengatai anak itu nakal. Teppei merengut dan dengan kasar mendorong Karma.
Tapi Karma balas mendorong. Teppei mendorong anak itu lagi sampai jatuh, lalu lari.
Dan mata tembaga pucat Karma berkilat, cengiran iblis kecil melebar di wajahnya. Ia merangkak cepat, lalu berdiri, menghambur dan menjatuhkan Teppei dari belakang. Sebelum Teppei sempat menendang, Karma sekuat tenaga menggigit betis anak itu.
Bocah berkacamata itu terkesiap.
"AAAAAHHHH! AKIIIIT!" tangisnya heboh, karena benar saja, ia tidak melebih-lebihkan—gigi-gigi Karma menancap ke dalam betisnya sampai darah mengucur dari bekas gigitan kecil-kecil.
~.X.~
Nenek dan Nagisa saling tukar pandang bingung. Karma duduk di seberang meja, tampak tidak peduli, bermain dengan balok-balok puzzle. Araki-san marah sekali saat beliau tahu bahwa Karma menggigit kaki anaknya sampai berdarah. Lebih dari 'bagaimana sih cara kalian mendidik anak', Nagisa tidak paham dengan pertumbuhan gigi adiknya itu.
"Apa dia vampir?"
"Hnn, sebenarnya seingat nenek, ayahnya Karma juga giginya taring semua. Sebenarnya bukannya taring semua, cuma tajam-tajam entah kenapa."
"Karma," Nagisa memanggil, lalu duduk berlutut di sebelah kursi Karma. Si rambut merah langsung cerah wajahnya, puzzle-nya terlupakan.
"Anikiii!"
"Coba sini, lihat dulu," Nagisa merengkuh wajah kecil Karma, lalu ibu jarinya dengan lembut menggeser bibir atasnya agar bisa melihat bagian dalam mulut Karma. Baru ada empat gigi. Dua di atas, satu seri, satu taring, dua di bawah, satu seri satu geraham. "Aaa', coba?"
"Ngaaa..." Karma dengan lucunya membuka mulut. Nagisa dengan hati-hati menggunakan telunjuknya untuk menyentuh gigi-gigi adiknya.
Tajam. Ini sih tajam. Seri-nya kayak silet. Gerahamnya kayak palu daging. Duh taringnya sebiji kayak paku. Gimana si Teppei nggak nangis, pikirnya merinding.
Tiba-tiba Karma mengatupkan mulutnya dan menggigit telunjuk Nagisa.
"AAH! OW...!" Nagisa tersentak kaget merasakan taring Karma menembus permukaan kulit telunjuknya. "Karma!"
Karma mengerjap polos, lalu merasakan sesuatu yang terasa aneh. Ia melepas jari Nagisa, dan saat melihat jari itu berlumur darah, mata tembaga pucatnya melebar. Bibir kecilnya sedikit bernoda darah, tapi ia tidak sadar soal ini, karena bingung.
"Obeyi?" tanya Karma menunjuk Nagisa yang sekarang menghisap telunjuknya dengan wajah lelah.
"Bukaan, ini darahku," jawab Nagisa.
"Jangan-jangan...Ini mainan gigitnya bocor gara-gara digigit Karma..." nenek akhirnya angkat bicara lagi, menunjukan mainan gigit untuk bayi yang terbuat dari karet tebal berisi air.
Sejak saat itu, Karma punya mainan gigit yang berbeda dari anak-anak lainnya. Batang kayu. Karena tumbuh gigi sangat gatal rasanya, anak-anak cenderung melampiaskan rasa ini dengan menggigit mainan gigit. Masalahnya, gigi Karma sangat tajam, sehingga hampir semua mainan gigitnya rusak. Bahkan batang kayu yang dipahat Nagisa harus diganti tiap beberapa minggu, karena bisa-bisa sudah terlalu lapuk atau malah hilang. Batang-batang kayu itu sendiri juga sudah berbekas-bekas gigitan mengerikan.
~.X.~
Setelah melihat apa yang terjadi dengan Teppei, anak-anak lainnya jadi makin takut dengan Karma, jadi jika Karma mendekat atau menginginkan sesuatu, mereka kabur atau menurut saja. Karma kecil sih cuek saja, dan hanya tiga orang yang tidak takut padanya di kelompok bermain; Yuuma, Shuu, dan Akari.
Nagisa sudah masuk sekolah lagi, memulai semester duanya. Ia agak gugup karena terpilih menjadi pemain piano untuk orkestra nanti saat pembukaan festival kebudayaan, dan mau meminta nenek menjadi pelatihnya.
Saat ia kembali ke rumah dan membuka pintu, belum sempat mengucapkan salam, ia sudah ditabrak dua setan kecil, dengan dua setan kecil lainnya menyambutnya di koridor.
"OKAEWI NYAGIII!" seru Karma, Akari, Shuu, dan Yuuma. Karma dan Akari berebut memeluk si biru langit yang berusaha melewati koridor dengan wajah seakan kutukan telah datang.
"Nenek...kenapa semua iblis ini ada di rumah kita...?"
"Huus, Nagisa~! Jangan bilang begitu...Asano-san dan Isogai-san pergi memancing di laut, dan Yukimura-chan kan masih di sekolahmu mengurus jadwal sekolah? Eh, Nagisa, coba ke sini dan iris-iris daging kas dalamnya,"
"Iya...aku taruh tas dulu..." jawab Nagisa, lalu naik ke lantai dua, masih dirusuhi Karma dan Akari. Shuu dan Yuuma dengan penasaran mengekor di belakang. Setelah berganti pakaian dan meletakkan tas, Nagisa menggendong Shuu karena usil ingin membuat Karma dan Akari merengek (dia tahu dua bocah itu menyukainya, dan menurutnya lucu menjahili keduanya). Yuuma tampaknya bersikap seperti penjaga, berjalan di depan Nagisa sambil mengawasi Shuu yang wajahnya tampak malu sekali, karena itu pertama kalinya dia digendong orang selain ayahnya.
Sementara Nagisa sibuk membantu nenek menyiapkan makan siang, keempat bocah cilik itu duduk di meja makan dan mulai berdiskusi seru;
"Umah!" seru Akari memutuskan permainan.
"Naa!" Karma dengan segera membantah, karena dia akan membantah apapun yang diusulkan Akari.
"Hum! Mau umah!" seru Akari keras kepala, lalu menunjuk Yuuma. "Mama," lalu Shuu, "Papa," lalu Karma, "Guguk!" lalu dirinya, "Hime!"
"Haguuu naa guguk!?" Karma melengking, menelengkan kepalanya. "Naa! Habufiii!"
"Gigi tajam," kata Shuu tiba-tiba, menunjuk Karma. "Pus-pus," dia mengangguk-angguk.
"Guguk?" tanya Akari, menelengkan kepala, merasa Karma lebih cocok jadi anjing.
"Pus-pus! Pus-pus, mah!" seru Yuuma, menyetujui jika peran Karma jadi kucing. Karma menggembungkan pipi, lalu mulai menggeram-geram seperti kucing marah.
"Ck, ck, Konyan," panggil Shuu menirukan Koro-sensei memanggil kucingnya, si Koronyan. Karma menoleh dengan wajah datar, lalu menirukan Koronyan yang memang cuek, dia turun dari kursi, merangkak ke tempat lain dan berguling-guling di bawah meja makan.
"Nya, nya, nya," kata Karma sambil berguling-guling menirukan Koronyan yang kalau tidak sedang lapar tidak mau dipanggil-panggil.
"Ck, ck, Karma," panggil Nagisa sambil meniup sesumpit daging dari kuah kari kental. Karma langsung berguling keluar meja dan merangkak menuju kakaknya. Nagisa membungkuk dan menyuapi Karma daging itu. Dengan lucu, dan kelewat semangat, si kecil berambut merah melahap potongan daging itu.
"Meoong! Mam," kata Karma, mengangguk-angguk memberi tahu Nagisa bahwa karinya sudah enak.
Nenek dan bayi-bayinya menonton ini dengan senyap.
Nagisa, memangnya Karma kucingmu...batin nenek, antara miris dan trenyuh.
Makan siang menjadi lebih merepotkan dengan empat bocah cilik itu. Karma sepertinya tidak ikhlas melihat ada bayi-bayi lain memakan masakan kakaknya, terutama Akari, jadi ia menyambar daging di piring Akari, membuatnya menjerit marah dan menghambur ke meja makan. Ini membuat gelas-gelas terguling, salah satunya menyiram wajah Yuuma, yang langsung menangis keras. Shuu yang secara cepat bereaksi dengan tangisan Yuuma langsung meneriaki Akari 'baka'.
Setelah itu Nagisa memberi Karma Kupon Duduk Diam dan si kecil berambut merah itu makan dengan diam dengan merengut dan mata berkaca-kaca.
~.X.~
Sementara bayi-bayi itu ribut di halaman, nenek membantu Nagisa berlatih piano. Orkestra-nya akan membawakan The Entertainer oleh Scott Joplin, dan aransemen itu bukannya mudah. Meski begitu, Nagisa sudah bisa membawakan separuh partitur dengan lancar. Nenek menyadari bahwa anak-anak di halaman sudah tidak terlalu ribut, dan ternyata keempatnya sedang membuat lingkaran dengan Shuu membacakan mantra-mantra aneh.
Sepertinya sudah saatnya tidur siang...pikir nenek, tertawa gugup sembari memanggil anak-anak itu untuk masuk. Masing-masing dapat botol susu, dan mereka mulai tiduran di atas tikar yang Nagisa gelar di ruang piano, sementara nenek mencari-cari sesuatu di rak buku.
"Nagisa, masih ingat ini?" tanya nenek, menyodorkan sebuah buku tulis tua dengan sampul sedikit kusam. Nagisa tidak bisa mengingat buku itu sampai ia melihat isinya. Musik-musik yang dicatat dan diajarkan kakek padanya. Di halaman terakhir, ada sebuah lagu berjudul "Fairy Tale Story" yang belum selesai.
Nagisa mulai memainkan musik tradisional cina, Moo Li Hua atau Jasmine. Nenek duduk di tikar, menimang Akari, sementara Shuu dan Yuuma tidur di kedua pangkuan beliau. Karma yang tampaknya masih mengantuk, menolak undangan nenek, tapi berjalan ke arah Nagisa dengan botol susu menggantung dari dot yang ia gigit. Ia memanjat ke bangku piano dan menyandarkan kepalanya ke pangkuan Nagisa. Suara nenek hangat sekali menyanyikan lagu itu dalam bahasa Cina.
"Kakekmu sering memainkan lagu itu di panti asuhan," cerita nenek setelah menggendong dan menurunkan Karma yang sudah pulas tertidur, ke karpet bersama teman-temannya. "Jadi lagu itu sudah ia catat sejak ayah ibunya Karma masih kecil," beliau tertawa hangat.
"Hmm..." Nagisa tersenyum lembut memandangi tulisan tangan kakeknya. Nenek pun menceritakan tiap lagu yang dicatat kakek. Mencapai halaman tengah, nenek sepertinya agak enggan bercerita.
"Ini masih ingat," gumam Nagisa, tahu kenapa nenek enggan bicara. "Ayah yang mengajariku ini. Terus yang ini...ibu menyuruhku latihan ini berkali-kali karena dia suka sekali yang ini,"
Nagisa melihat wajah sedih neneknya, lalu nyengir. "Nenek, aku sudah besar kok, nggak apa-apa," ujarnya, lalu kembali memandangi buku tulis itu. "Kalau soal ayah sama ibu sih...Mau bagaimana lagi."
Nenek memandangi cucu semata wayangnya dengan sedih. Bukan kasihan. Beliau hanya merasa sedih karena tidak bisa apa-apa. Beliau sehat, tentu saja. Namun usianya bukan usia bugar; beliau cemas tidak bisa menemani Nagisa sampai dewasa. Yang lebih membuatnya cemas adalah jika Nagisa akan tumbuh dengan pikiran bahwa dia tidak disayangi karena selalu saja ditinggal.
Karma juga pasti tidak bisa bersamanya terus, batin nenek, mengalihkan tatapannya dengan bermain-main sedikit Beyer di kunci-kunci piano terdekat.
~.X.~
Nagisa tidak mengerti apa yang salah. Ia tidak ingat apa yang terjadi. Tiba-tiba saja di rumahnya tidak ada yang tersenyum. Ibu mudah marah. Ayah jadi pendiam. Semuanya makan tanpa bicara, lalu enyah dari meja makan. Jika Nagisa mendapat nilai bagus atau lumayan, ibunya akan mengatakan bahwa ia bisa mendapat yang lebih bagus. Ayahnya akan mengatakan sebaiknya ia pertahankan. Sepertinya nilai dia tidak pernah cukup bagus. Mungkin karena itu mereka jadi pendiam? Mereka kecewa padanya?
Jadi Nagisa belajar keras sekali sampai mendapat akselerasi dan naik kelas lebih cepat. Tetap saja orang tuanya bertengkar. Dan saat mereka bercerai, Nagisa pikir itu semua salahnya.
Aku pasti kurang pintar. Kurang bisa membantu di rumah. Pasti salahku mereka bercerai, kan? Kalau mereka sayang padaku, mereka tidak akan bercerai, kan?
"Nagisa..." ujar ayahnya dengan wajah serius, "Kamu mau ikut ayah atau ibu? Atau nenek saja?"
"Bukannya aku tidak mau," kata ibunya tegas, "Tapi aku juga sibuk, jadi lebih baik dia ikut ibumu saja. Atau, Nagisa, kamu ikut ibu, tapi ibu akan jarang di tempat,"
"Aku juga sama saja," gumam ayah dingin, tampak menahan diri dari melontarkan perkataan tajam yang meletuskan perang.
Mereka hanya terus menghindari satu sama lain. Nagisa makin yakin mereka tidak menyayanginya. Pada akhirnya mereka tidak ingin Nagisa mengganggu. Jadi Nagisa memutuskan untuk tinggal dengan nenek.
Tapi ya sudahlah.
Kadang ia tidak tahu apa salahnya. Apa yang kurang? Apa dia terlalu banyak menutut? Nagisa tidak pernah minta-minta ini-itu. Ia hanya berharap orang tuanya datang ke kunjungan orang tua di sekolah. Atau menemaninya saat Shichi-Go-San, atau merayakan liburan bersama. Mungkin itu terlalu banyak tuntutan? Padahal dia juga mengerjakan pekerjaan rumah, menjaga kamarnya rapi, mengerjakan PR.
Kenapa orang tuanya tidak menyayanginya?
"Itu tidak benar, lho," kata nenek lembut, mengusap-usap kepala Nagisa. Beliau mengantarkan Nagisa untuk mendaftar di SMP. "Mereka sayang padamu."
Nagisa tidak percaya. "Kalau iya, kenapa mereka bercerai? Kalau iya, kan, mereka pasti tetap sama-sama..."
Nenek terdiam, lalu menyunggingkan senyum sedih. "Mungkin anak-anak—"
"Anak-anak tidak akan mengerti, tutup mulut saja...Begitu kata ayah," gumam Nagisa murung.
"Bukan...mungkin anak-anak sepertimu merasa bingung. Tapi bukan begitu penyebabnya," Nagisa melirik nenek dengan penasaran. Ayah dan ibunya cenderung menyuruhnya tutup mulut. Nenek yang mau menjelaskan. "Kadang kalau sudah tidak cocok ya tidak tahan juga harus bersama-sama. Maunya cepat menyingkir saja."
Nagisa tidak mengerti, dan ia terus saja merasa dirinya yang membuat orang tuanya bercerai.
Saat itu mereka berbelanja di supermarket. Tiba-tiba nenek memegangi dadanya, dan jatuh tersungkur. Nagisa panik ketakutan; pegawai supermarket menolong nenek, lalu memanggilkan ambulans. Nenek tidak sadarkan diri. Dokter yang merawat nenek tampaknya mencemaskan keadaan Nagisa, lalu menyuruhnya menelepon orang tuanya.
Jadi Nagisa menelepon ayahnya.
"Ayah!? Ayah...itu—"
"Aku sedang sibuk, tidak ada—"
"Nenek masuk rumah sakit!" Nagisa buru-buru memotong. Ia gemetar, takut sekali ayahnya menutup telepon. "Nenek sakit! Bagaimana ini, Yah?"
Ayahnya menarik napas dengan gentar. "Aku...Aku masih ada pekerjaan. Coba telepon ibumu."
Mata Nagisa melebar. Perkataan ayahnya seperti bergema, menolaknya. Alisnya bertaut. Ia menarik napas tajam dan meledak.
"Sama saja! Apa bedanya menelepon ibu!? Ayah ini kenapa!? Nenek di rumah sakit!"
"Sudah kubilang, pekerjaan—"
"Aku tidak peduli sama pekerjaan ayah! Kenapa tidak bisa ke sini, sih!? Ayah tidak mau bertemu denganku, kan!? Bilang saja begitu! Ayah benci padaku!"
"Nagisa...!?"
"Aku tidak pernah minta terlalu banyak, kan, yah...!?" Nagisa tidak peduli orang-orang di taman rumah sakit itu memandanginya menangis dan berteriak-teriak. "Aku bukan anak yang egois, kan!? Sekali ini saja apa tidak boleh aku egois...!? Sedikit saja!? Apa tidak boleh?"
Nagisa terisak dan memutuskan panggilan, mematikan ponsel milik dokter. Ia pikir saking benci pada dirinya, ayah tidak mau menjenguk nenek. Ia tidak mau menelepon ibunya, karena ia punya firasat yang kuat ibunya akan bersikap sama saja. Malah, ia tidak tahu ibunya akan bersikap bagaimana jika mendengar mertua-nya kolaps.
Tapi setelah itu ayah datang. Beliau menjenguk nenek sebelum mengunjungi rumah. Memberikan Nagisa ponsel baru; bahwa ayah dan ibu akan mengirimkan uang bulanan, tapi selain itu tidak mengatakan apa-apa lagi. Nagisa tidak pernah melihat ayahnya lagi.
~.x.~
Nagisa memimpikan masa lalunya dan mengusik Karma saat mereka tidur. Bayi berambut merah itu dengan pelan membuka mata, melihat kakaknya mencengkeram erat bantal di bawah kepala mereka.
"Aniki, jajabu," Karma merapat pada Nagisa, tangan kecilnya meraih pipi kakaknya dan mengelus-elus Nagisa sayang. Alis Nagisa yang berkerut karena gelisah perlahan meregang sementara Karma kembali tertidur pulas mendengarkan detak jantung kakaknya yang teratur.
Nenek datang menyalakan lampu, menggendong Akari yang baru saja bangun meminta susu. Shuu dan Yuuma pulas berpunggungan satu-sama lain, dan melihat Karma yang bergelung rapat pada Nagisa, nenek tersenyum lembut. Akari mengusap matanya dan menguap sebelum menyedot susunya lagi.
Nenek menurunkan Akari di sebelah Nagisa, dan gadis cilik itu sudah keberatan dengan kelopak matanya, meskipun mulutnya masih semangat mengedot. Sebelum wanita tua itu beranjak, beliau membelai-belai rambut biru langit Nagisa.
Nenek mematikan lampu dan menutup pintu sepelan mungkin. Sejak saat itu, tiap malam saat semuanya sudah terlelap, nenek akan menelepon orang tua Nagisa, menanyakan kapan mereka bisa bertemu dengan anak laki-laki mereka. Karena nenek tahu, Nagisa sebenarnya disayangi, namun orang tuanya hanya tidak tahu bagaimana harus menghadapi anak itu tanpa membuatnya kecewa.
Extra: Favorit
Di satu hari, saat nenek menjemput Karma dari kelompok bermain, beliau melihat Koro-sensei mengalami pendarahan cukup mengerikan; lengan bawahnya tersayat dan berdarah.
"Sensei! Kenapa itu? Pisau?"
"Ah ini? Ufufu, ini gigitan Karma," tawa Koro-sensei, sementara Karma berlari meneriaki nenek.
"Neeek~!" seru bocah cilik itu riang, tapi berhenti untuk menatap Koro-sensei sengit. Nenek semakin cemas melihat Karma langsung menggigit lengan Koro-sensei.
"Karma! Kamu kok nakal!? Aduh, maafkan dia ya, sensei...padahal Nagisa sudah membawakan batang kayu! Karma, mana batang kayumu, nak?"
"Naah!" Karma melempar batang kayu gigitnya yang sudah lapuk ke kepala Koro-sensei.
"Karmaa!"
"Ufufu, tidak apa-apa, Shiota-san," Koro-sensei tertawa, menepuk-nepu kepala merah Karma (lalu tangannya digigit si piranha cilik itu) wajah beliau tetap riang. "Sepertinya saya mainan gigit favorit Karuchi setelah batang kayu."
"Tapi kan pasti sakit sekali..."
"Ya paling tidak saya favorit orang dalam sesuatu, ufufufufufu..."
Nenek menahan diri untuk menepuk dahi.
Sensei, mengapa anda maso?
Karma di canon kan giginya tajam-tajam XD Nggak tahu kenapa, sepertinya anak cowok sering kayak gini atau cuma Karma dan adekku yang cowok ya orz orz
Kindly review if you have the time.
