KaiHun Area
Special KaiHun Days, 94Days, Chocomilkcouple!
Hukuman, Jonginie!
Presented by Jongie
Kim Jongin
Oh Sehun
Disclaimer:
Para cast milik Tuhan dirinya sendiri dan orang-orang yang mencintai mereka. Cerita milik yang buat. Bairpun gaje, tanpa plot, typo berserakan, dan segala macam kekurangan dari cerita ini, tetep milik yang buat, hoho. #bangga
.
.
.
.
Akhir-akhir ini, keduanya jarang bersama. Maksudnya bersama dalam artian sebagai sepasang kekasih. Sejak mereka dinobatkan sebagai perwakilan sekolah mereka, baik Jongin maupun Sehun disibukkan dengan beragam macam materi, buku-buku, berita-berita yang bagi sebagian besar pelajar tentu bukan jenis bacaan yang diinginkan. Jadi setiap harinya, bukan hal-hal yang biasa sepasang kekasih lakukan pada umumnya, melainkan hanya membaca beberapa isu yang pernah beredar pada masanya, saling melemparkan pertanyaan, berdebat.
Dan Sehun mulai jenuh dengan keadaan mereka.
Jongin seakan menjadi orang lain dan Sehun tidak suka. Kemana Jonginnya yang selama ini?
Selama ini Sehun menunggu. Mungkin Jongin memang sedang dalam mode serius, makanya tidak begitu memperdulikan dirinya. Mungkin juga Jongin kelewat bersemangat dengan kompetisi kali ini. Mungkin juga ini berhubungan dengan beasiswa juga prestasi Jongin dimata guru-guru.
Iya, mungkin begitu.
Tapi, lama-lama Sehun kesal juga.
Sampai hari dimana Sehun teramat sangat menantikannya, Jongin belum juga mengalihkan perhatian padanya. Maka dari itu, Sehun menghitung dalam hati. Jika sampai bel pulang sekolah nanti Jongin masih belum menyadarinya, maka Sehun tidak akan menunggu lagi.
"Sehun, hari ini kita keperpustakaan daerah ada buku yang tidak kutemukan di perpustakaan sekolah."
Oke. Sehun tidak bisa mentolelir lagi.
"Kenapa tidak pergi sendiri? Kamu yang butuh buku itu 'kan?" kening Jongin berkerut, merasa ada yang aneh dengan nada juga kalimat Sehun.
Dimata teman-temannya tentu saja itu hal yang wajar. Biasanya juga Sehun seperti itu sama Jongi, 'kan? Jadi, nggak ada hal yang benar-benar aneh. Terkecuali Jongin. Dia tahu, ada yang salah dengan kekasihnya.
"Tapi kita ini tim, Oh Sehun," dalih Kim Jongin. Tatapannya memicing, menuntut juga mempertanyakan pemberontakan Sehun.
Maksud Jongin 'kan, biar mereka bisa berdua saja. Tanpa harus dibayangi puluhan pasang mata yang mengawasi mereka. Biar dia juga Sehun bisa bebas berduaan. Kalau di luar sekolah kan, keakraban mereka tidak akan ada yang mempertanyakan. Nah, kalau di sekolah, Jongin senyum dikit buat Sehun aja bisa jadi bahan pembicaraan yang tidak-tidak.
"Pokoknya aku tidak mau ikut. Aku pulang." Belum sempat Jongin menghentikan Sehun, menjegal lengannya atau sekedar meneriakan namanya, Sehun keburu menghilang dari pandangan Jongin. Dalam hati Jongin merutuk meski wajahnya sedatar papan seluncur.
Dia butuh penjelasan dari Sehunnya dirumah nanti.
oOo
Jongin benar-benar pergi ke perpustakaan daerah. Mencari buku yang pemuda itu inginkan untuk dipinjam selama beberapa hari ke depan. Bukan sekedar alasan untuk bisa berduaan. Buku itu memang penting bagi Jongin dan menemukan buku itu sudah seperti mencari jarum dalam tumpukan jerami.
Jongin sampai ke rumah pukul delapan malam. Dia belum sempat makan malam, omong-omong. Dan Jongin cukup tercekat menemukan apartemennya dalam keadaan gelap gulita. Kemana gerangan Sehunienya.
"Sehunie! Sehunie, kamu di kamar sayang?" panggil Jongin sambil tanganya meraba-raba dinding mencari saklar.
"Sayang!" Dingin merungkup menyusup ke hati saat yang dinanti tak juga menyahuti. Jongin mulai panik karena keadaan rumah masih seperti saat dia meninggalkannya pagi tadi.
Apa Sehunnya tidak pulang ke rumah? Atau mungkin di kamarnya.
Dengan kening masih berkerut, Kim Jongin menghentikan langkahnya di depan kamar sang kekasih tercinta. Meski ragu, toh Jongin tetap mengetuk juga.
Tok! Tok! Tok!
"Sehun! Oh Sehun!"
Tetap tidak ada jawaban.
Jongin sudah akan menjerit frustasi. Untungnya Jongin bukan tipe orang yang akan mudah marah. Pemuda itu memutar knop pintu kamar Sehun lalu mendorong pintu tersebut yang ternyata tidak terkunci. Keadaan kamar Sehun tidak jauh berbeda dengan keadaan apartemen tadi. Gelap gulita. Jongin sampai tidak bisa melihat apapun kecuali seonggok tubuh di atas tempat tidur yang berbaring membelakanginya.
"Sehunie," lirih Jongin melangkah lunglai mendekati kekasihnya.
Merasakan pergerakan tempat tidurnya, Sehun tahun Kim Jongin berada tepat di belakangnya. Meski demikian, pemuda manis itu enggan membalikkan badan. Sambil memeluk guling erat-erat, Sehun menggigit bibitnya.
"Kamu kenapa, sayang? Ada masalah, hm?" bisik Jongin sembari memainkan helaian rambut Sehun. Dia sengaja tidak menyalakan lampu kamar Sehun. Mungkin lebih baik seperti ini.
"Jonginie jahat!" maki Sehun terdengar serak.
Kerutan di dahi Jongin kian bertambah. Sehunnya sedang menangis, terlihat dari gerakan naik turun bahu pemuda itu juga suara lirih samar khas orang menangis.
Jongin membaringkan tubuhnya di samping Sehun, memeluk pemuda albino itu dari belakang. Menghirup aroma sampo Sehun yang menguar dari rambut pemuda itu. "Kalau Jonginie menyakiti Sehunie, Jonginie minta maaf, ne?" bisiknya kemudian.
Tidak tahan dengan kebodohan juga ketidakpekaan kekasihnya, Sehun berbalik dengan wajah penuh air mata.
"Jonginie jahat! Jonginie tidak ingat hari ini! Sehunie benci Jonginie!"
Wah, kekasihnya ini benar-benar ngamuk yah? Batin Kim Jongin yang malah melongo saat Sehun memukul-mukul dadanya.
Memangnya ini hari apa yah? Masih belum sadar juga, Kim Jongin. Untung yang terlintas di kepalanya tidak pemuda itu utarakan, jika ia, Sehun akan sangat murka.
Pukulan di dadanya mulai mereda. Mungkin Sehun sudah lelah. Pemuda itu malah menangis kian kencang.
"Ssst, jangan menangis lagi. Maaf Jonginie, ne?"
"Memangnya Jonginie tahu apa kesalahan Jonginie?" tuduh Sehun setelah menepis lengan Jongin yang ingin kembali merengkuhnya.
Kim Jongin diam. Mati kutu. Sungguh dia tidak tahu apa yang membuat kesayangannya ini mengamuk begitu hebatnya.
"Sudah Sehunie duga, Jonginie tidak mengingatnya sama sekali."
Kim Jongin menghela napas lelah. Tidak maukah kekasihnya ini mengatakannya langsung? Agar dia tidak bingung, salahnya dimana? "Sayang, kamu tahu aku ini bodoh, jadi mau 'kan kamu kasih tahu aku ada apa ini sebenarnya?"
"Bodoh! Bodoh! Bodoh! Ini hari jadi kita, Bodoh! Kim Jongin, bodoh!" salah Jongin memang, tapi kalau sampai diamuk Sehun lagi, lama-lama dia bisa perkedel. Iya, mendengar pertanyaan Jongin, Sehun bersemangat sekali memukuli pemuda itu. Dari wajah, dada juga bahu. Saking cepatnya pukulan Sehun, Jongin sampai kewalahan menghentikan lengan pemuda kesayangannya.
"Oke, Jonginie minta maaf, ne? Aku benar-benar lupa soal hari jadi kita. Aku sungguh-sungguh minta maaf." Jongin berhasil menahan lengan Sehun, napasnya sampai tersengal-sengal. Ditatapnya wajah bengkak kekasihnya yang sepertinya sudah seharian ini menangis di dalam kamar.
"Maafkan Jonginie, ne?" dikecupnya kedua lengan Sehun yang digenggamnya, dihapusnya air mata Sehun dari pipinya.
Jongin tidak tahu kalau kekasih manisnya ini begitu menantikan hari jadi mereka ini. Sehun sudah agak tenang sekarang dan Jongin bersyukur marahnya Sehun tidak sampai berlarut-larut.
"Pokoknya Jonginie harus dihukum," gumam Sehun. Jongin mengangguk saja. Daripada albino kesayangannya mengamuk lagi.
"Apapun untukmu Sehunie."
Sehun menunduk, seakan tidak yakin ingin mengutarakan keinginannya. Sehun takut, tapi penasaran juga. Sehun menginginkannya tapi takut Jongin akan menganggapnya yang tidak-tidak. Sehun sudah yakin kalau seandainya Jongin memintanya pada saat hari jadi mereka. Sehun mempercayai Jongin. Maka Sehun akan mempercayakan semuanya pada Jongin.
"Miliki Sehunie seutuhnya," cicit Sehun.
"Hah?" dan Jongin melongo tidak mengerti.
"Sentuh Sehunie sekarang juga. Sehunie juga mau seperti pasangan-pasangan lain, Sehunie mau memberikan hadiah di hari jadi kita. Jadi, Sehunie pikir, Sehunie cukup memberikan diri Sehunie. Sehunie mau, Jonginie menyentuh Sehunie. Ini sebagai hukuman karena Jonginie melupakan hari ini."
Sehun sudah tidak menunduk. Sehun malah menatap tajam ke arah Jongin. Dengan kedua alis hampir bertaut juga bibirnya yang mengerucut membuat Jongin sedikit banyak salah fokus. Antara ingin menertawakan kekasih imutnya ini juga terkejut mengenai pernyataan pemuda ini.
"Sehunie, dari siapa Sehunie tahu hal-hal seperti itu, hm?" Jongin tersenyum menggoda Sehunnya. Menaikkan dagu kesayangannya itu agar bisa ia tatap dengan saksama wajah manis kekasihnya.
"Kalau Jonginie tidak mau, ya tidak apa-apa."
Sehun malu. Sumpah!
Sehun berbalik memunggui Jongin. Menyembunyikan wajahnya yang memerah sekalian acting marah juga ceritanya. Sehun sudah memutuskan urat malunya dengan mengatakan hal seperti itu, Jongin malah menganggapnya tidak serius. Kekasihnya ini sungguh keterlaluan. Dia tidak tahu apa kekasih manisnya ini sudah membuang semuanya demi mengatakan hal ini!
"Sayang, katakan padaku, siapa yang mengajarimu hal-hal seperti ini?"
"Memangnya kenapa? Sehunie tahu dari teman-teman Sehunie. Mereka merayakan hari jadi mereka dengan melakukan itu?"
"Memangnya Sehunie mau melakukannya dengan Jonginie?"
"Ka-kalau Jonginie mau, Sehunie juga mau?"
"Memangnya Sehunie tidak takut?"
"I-itu … Se … Sehunie percaya Jonginie." Meski lirih Jongin dapat mendengar dengan jelas apa yang Sehunnya katakan.
Perasaan Kim Jongin campur aduk. Senang juga sedih dalam bersamaan. Dia tidak tahu kalau Sehun begitu mempercayainya.
"Sehunie," bisik Kim Jongin tepat ditelinga Sehun. Entah bagaimana caranya, jarak keduanya bisa demikian dekat.
Selama ini, Jongin juga Sehun memang hidup satu atap. Tapi selama itu juga Jongin juga Sehun tidak pernah melakukan hal-hal di luar batas. Hanya ciuman juga tidur bersama. Tidur bersama dalam artian sesungguhnya. Soalnya kalau sudah bermimpi buruk, Sehun akan bisa tidur nyaman kembali kalau Jongin menemaninya tidur.
Dada Sehun berdebar. Dia yakin, setelah ini mereka pasti akan melakukan itu. Cara Jongin memanggilnya, cara Jongin berbisik di telinganya. Sehun berbalik. Sudah siap dengan semua kemungkinan yang akan terjadi. Sehun pasrah kalau memang Jongin memintanya melakukan itu.
Benar saja, Jongin segera menyatukan bibirnya dengan bibir Sehun begitu Sehun berbalik. Ciuman Jongin yang awalnya lembut berubah begitu intens juga menuntut, membuat Sehun kewalahan untuk mengimbangi. Sehun mengalah saja saat Jongin mendesak lidahnya untuk memasuki mulut Sehun. Pagutan keduanya kian memanas. Kedua lengan Jongin bergerak aktif sementara lidahnya menginvasi mulut Sehun. Sebelah lengannya menyusup kebalik seragam Sehun yang belum pemuda itu tanggalkan. Sebelahnya lagi menekan tengkuk pemuda itu untuk memperdalam ciuman mereka.
Sehun meremas kemeja Jongin, meminta pemuda itu untuk berhenti. Jongin menurut. Pemuda tan itu menempelkan keningnya di kening Sehun.
"Jonginie," bisik Sehun dengan napas terengah.
.
.
.
.
.
END
.
.
.
.
Saya nggak sanggup kalo harus bikin NC siang bolong begini XD
maybe next chap.. wkwk XD
Serius. Ini aja buatnya nggak nyampe dua jam XD
Nggak pake editing. Kelar ketik langsung post..hehe. jadi maafkeun seandainya ada typo meraja lela yang merusak mata~ :3 *deepbow*
Cuma mau ikut meramaikan event KaiHundays! ^^
HAPPY KAIHUNDAYS, CHOCOMILKCOUPLES! Nggak tahu kenapa, liat event ini bertebaran di ig jadi pengen ikutan XD
Semoga Kai ame Sehun makin banyak tebar momen. Diri ini haus momen mereka~ T^T
Udahan ah, udah kepanjangan jugaan XD
Pai~ pai~ ^^
Anggep aja ini awal kebangkitan, menuju penyelesaian ff ini.. wkwk XD
Lebay beud dah~ XD wkwk
