-00-

The Last Train

EPILOGUE

BTS Fanfiction

Characters belongs to God, BTS belongs to Bighit

Minyoon. Misteri!

-00-

Sebetulnya dari stasiun Busan menuju rumahnya hanya perlu berganti kereta satu kali. Tapi Jimin lebih memilih untuk menaiki bus atau taksi hanya karena ia ingin menikmati suasana kampung halaman yang sudah sangat lama ditinggalkannya. Udara Busan yang bercampur asin laut membuatnya teringat akan masa kecil, di mana ia sering pergi ke dermaga bersama Taehyung tanpa memberitahu orangtua mereka. Sampai laki-laki itu pindah ke Seoul bersama orangtuanya, Jimin masih tetap sering kabur ke dermaga untuk melihat gulungan ombak.

Kering di tenggorokannya menuntun Jimin memasuki sebuah minimarket. Ia berpikir untuk membeli sebotol air lemon. Entahlah, mungkin karena rokok, ia jadi lebih sering sakit tenggorokan.

"Selamat datang!" seru seorang kasir yang menyambutnya. Jimin hanya mengulas senyum tipis dan berlalu. Ia hanya perlu membeli sebotol minuman, membayarnya, dan keluar dari minimarket itu.

Ia berdiri tak lama di depan refrigerator, hanya memilih dengan singkat. Lantas ia membawa minuman itu ke kasir untuk dibayar.

"Ini saja, tuan?"

Yang membuatnya tak langsung menjawab pertanyaan itu adalah suara jatuh yang cukup keras, bersamaan dengan terbukanya pintu minimarket. Ia dan si kasir sama-sama menoleh pada ambang pintu di mana ada seorang laki-laki yang sedang mencoba bangkit dari jatuhnya.

Jimin menaruh botol itu di meja kasir dan langsung saja menghampiri laki-laki malang itu untuk membantunya berdiri.

Oh, dia ringan. Dan kulit lengannya yang tak sengaja Jimin sentuh begitu lembut.

"Terimakasih…" ucap laki-laki itu, bergetar, entah malu atau karena sakit. Ia masih menundukkan kepalanya bahkan setelah ia benar-benar berdiri. Jimin melepaskan rangkulannya di lengan laki-laki itu dan sedikit membungkukkan badan di hadapannya, hanya untuk mengintip apa wajahnya terluka, pasalnya tadi jatuhnya tepat membentur lantai.

"Kau baik-baik saja?"

"Hum." angguknya lambat. Laki-laki itu menyentuh dahinya sendiri, menutupi rambut depannya yang berantakan. Wajahnya juga tak jelas terlihat karena ia menutupinya.

Jimin menunduk dan menemukan bahwa sebelah sepatu laki-laki itu talinya tak terikat. Ah, ternyata ini sebabnya ia terjatuh begitu keras. Tersandung tali sepatu sendiri. Konyol memang, tapi adakalanya kejadian seperti ini terjadi secara tak terduga.

"Ikatannya lepas." ucap Jimin. Ia berjongkok untuk mengikat tali berwarna putih yang kontras dengan converse merah yang membungkus kaki itu.

"Ah-eh, tidak perlu mengikat tali sepatu saya!" pekik laki-laki itu panik. Geraknya kikuk.

"Tidak apa. Kalau tidak diikat dengan benar kau bisa jatuh lagi." Jimin bangkit berdiri, sembari membenarkan topi cap putihnya. Kemudian ia bertatapan langsung dengan orang di hadapannya.

Jimin terdiam mendapati seraut wajah itu. Matanya menangkap sosok seorang lelaki bertubuh mungil, berkulit pucat, dengan mata kelamnya yang sayu, dan rambut hijau toscanya yang eksentrik.

"A-anu… terimakasih…"

Jimin merasa aneh ketika mendengar nada gugupnya, dan rona tersipu yang nampak dari wajahnya. Laki-laki itu memalingkan wajah entah melihat apa di lantai. Jimin masih memandangnya lamat, karena ia merasa situasi ini begitu janggal.

Ada sesuatu yang salah di sini—

"Anu, permisi…"

Laki-laki itu terburu-buru, melesat melewatinya dengan kepala tertunduk malu. Jimin kemudian sadar bahwa ia masih harus membayar minuman yang ia beli. Lantas ia beralih pada kasir yang menunggunya, mengeluarkan sejumlah uang dari dompetnya, tapi tak juga lepas pandangnya dari laki-laki yang tengah sibuk mengambil beberapa kaleng soda dari refrigerator itu. Sesekali ia melirik ke sana hanya untuk memastikan sesuatu. Ada yang mengganjal dan membuat rasa penasarannya bangkit.

Sama terburu-burunya seperti tadi, laki-laki itu sedikit berjalan cepat menuju kasir dan menghempaskan keranjang berisi belasan kaleng soda itu di meja. Jimin mundur sedikit untuk memberikannya ruang. Saat struk belanjanya keluar dan diterimanya, ia benar-benar mundur dan berdiri di belakang laki-laki berambut tosca itu.

"Tolong ya noona." pinta laki-laki itu pada si kasir.

Sementara Jimin yang memandang punggung dan bahu sempit itu merasa harus menunggu. Sampai laki-laki itu menoleh. Dan mereka bertemu pandang walau hanya sekejap. Ia kembali menyembunyikan wajahnya dari Jimin.

"Ini kembaliannya." ucap kasir itu.

Satu kantung plastik putih kemudian diserahkan, laki-laki itu menjinjingnya agak kepayahan. Lengannya terlalu kurus untuk membawa beban berat.

"Aku saja yang bawa."

Entah mengapa, Jimin merasa tak perlu basa-basi untuk menawarkan bantuannya. Ini terjadi secara alamiah, seolah mereka telah saling mengenal lama. Tapi memang benar, Jimin merasa kalau laki-laki itu—

"Tidak perlu! Biar saya saja!"

—sangat mirip dengan seseorang. Bahkan sentuhan tangan yang mencegahnya itu pun terasa sama.

"Tidak apa. Kemana kau akan membawa kaleng-kaleng soda ini?"

"Ah itu… aah… ke restoran tempat kerja saya." dia menunjuk ragu. "Di seberang sana."

Jimin menelengkan kepalanya dan memandang jauh pada jalanan dan deretan pertokoan itu. Telunjuk laki-laki itu mengarah tepat pada sebuah restoran bergaya Jepang. Jimin mengangguk.

"Ya sudah, ayo."

"Ah tapi, itu—biar saya!"

"Tak apa, mungkin aku juga bisa sekalian makan siang di sana."

"Eung…" gumamnya menggantung. Kikuk. Bingung. Sementara Jimin berdiri di tepian jalan menunggu timing yang tepat untuk menyeberang. Ah, sayang memang di jalanan itu tidak ada lampu merah atau tanda menyeberang jalan.

Saat Jimin menoleh, laki-laki itu telah menyusulnya dan berdiri tepat di sampingnya. Berdehem tanpa mau memandangnya langsung. Hanya Jimin yang lurus memandang wajah itu. Ia tak tahu harus berekspresi seperti apa. Tapi ia juga tak peduli kalau mungkin laki-laki itu tak nyaman karena dipandangi melulu.

"Ah, sudah sepi, ayo menyeberang!" serunya.

Ia melangkah lebar membiarkan rambutnya tersibak angin. Tapi Jimin melihat sebuah truk yang muncul dan berbelok tajam, melaju tak jelas dengan kecepatan tinggi.

Ia terlambat untuk mencegah.

Hanya sekian detik setelah laki-laki itu hampir sampai di tengah-tengah jalan.

"AWAS!"

Jimin menjatuhkan kantung plastik itu tanpa berpikir apa-apa lagi, ia berlari, ia tarik lelaki berambut tosca itu ke dalam pelukannya, tapi—

.

"Hyung, bagaimana kalau nanti aku dapat nilai A?"

"Hush!" Jimin menaruk telunjuknya di depan bibir. Ia tak bicara apapun dan hanya menyeruput kopinya. Jungkook menekuk wajah, takut Taehyung mendengar. Mungkin maksud Jimin memang begitu, supaya Taehyung tidak tahu kalau mereka bersekongkol untuk berbuat curang. Tapi ini hanya sekadar satu tugas puisi 'kan?

"Bagaimana kalau aku dapat nilai A? Atau A+? Guruku nanti kaget karena aku tiba-tiba pandai menulis puisi." bisik anak itu kemudian.

"Ya sudah tidak apa-apa." jawabnya singkat, dengan gumaman.

"Oh sepertinya kalian sedang membicarakan aku, ya?" Taehyung yang muncul dengan dua piring pancake itu mencebik curiga. Jungkook dan Jimin saling berpandangan.

Mereka berdua terbahak.

"Tidak…" jawab keduanya kompak. Taehyung cemberut. Ia kemudian menaruh dua piring itu di hadapan Jimin dan Jungkook. Aroma sirup mapple dan butter yang meleleh menguar. Pancake yang masih hangat itu nampak cantik tersaji di atas piring putih kecil yang pas ukurannya. Jungkook dengan lahap memakan sepotongan besar pancakenya.

"Chim, apa perlu kubuatkan bekal untukmu?"

"Tidak perlu, aku risih."

"Risih?" Taehyung yang hendak duduk sampai terhenti geraknya karena mendengar perkataan Jimin.

"Jangan membuatkanku bekal, kita bukan sepasang suami-istri." itu mengundang ekspresi jijik dari Taehyung. Laki-laki itu duduk dengan enggan.

"Sekali lagi kau mengatakan hal seperti itu akan ku usir kau dari rumah ini."

"Lho? Sebelum kau usir aku 'kan memang akan pergi." Jimin tertawa. Mungkin Taehyung lupa kalau ia hanya akan menginap semalam saja. Ia hanya mampir, sebelum pulang ke Busan.

"Kalau kau sudah sampai Busan, kabari aku."

"Harusnya kau katakan itu kalau aku sudah pamit, di depan pintu." cibirnya.

.

Truk itu menghantam tubuh mereka hingga jatuh, berguling, terseret beberapa meter di aspal jalan.

Isian kantung plastik itu telah menghambur, menggelinding. Beberapa terlindas kendaraan lain yang mengerem mendadak. Air soda yang tumpah itu bercampur debu dan darah. Kendaraan yang menghantam mereka berhenti setelah banting stir dan menabrak tiang lampu di trotoar. Asap dari mesinnya mengepul. Orang-orang berteriak panik.

Jimin hanya bisa merasakan basah di sebagian wajahnya. Mata kanannya terasa perih hingga tak bisa ia buka. Ia pun tak mampu menggerakkan anggota tubuhnya kecuali sebelah mata yang arah pandangnya ia tujukan pada seraut wajah yang juga sama tengah balas memandangnya itu. Sepasang mata sehitam arang yang berkabut. Yang rambut toscanya kusut dan basah oleh warna merah yang bercucuran. Mata itu mengedip lambat, seperti tengah mengantuk. Jimin memerhatikan bulu matanya yang bergerak naik turun, membuka-menutup dengan gerakan yang anggun.

Ia merasa telinganya berdengung, membuat suara-suara bising di sekitarnya seperti suara lebah yang mengerubuti. Ia tak mampu bangun. Ia hanya mampu melempar pertanyaan lirih pada laki-laki yang tergolek di sampingnya.

"Apa itu kau—Min Yoongi…?"

Kemudian bibir itu menjawab lambat,

"…nama saya Suga."

Entah mengapa Jimin merasa ini lucu. Ia hanya tak mengerti apakah ia sedang dipermainkan atau bagaimana, entah. Ia lelah. Ia tak ingin bertanya mengapa.

Laki-laki itu memejamkan matanya setelah mengucap sebuah nama. Benar-benar tak membukanya lagi selama beberapa detik Jimin menunggu. Hingga beberapa orang menghampiri mereka, membalik tubuh yang seolah tulangnya lolos itu, sementara Jimin tak bisa merasakan apa-apa lagi ketika mereka dipisahkan.

Mendung dan menggelap.

Telinganya berdengung lagi terakhir kali.

"Kita kehilangan dia."

Ah, ia tak sempat mengabari Taehyung.

-00-

END

Ff ini ff Minyoon pertama yang saya bikin multi-chap dan saya tamatkan setelah berusaha melewati kutukan chapter 8 (kenapa selalu di chapter 8 ada ini-itu yang bikin mandet *geram*). Saya cuma mau bilang makasih banyak buat semuanya, yang udah setia ngikutin ff ini :") terutama buat kalian yang nggak cuma tulis 'next juseyo' di kotak review ahahahaha (ngga sih gitu juga udah makasih). Saya senang aja baca review kalian yang panjang-panjang, yang nulis responnya setelah baca cerita ini, makasih loh *bow* maafin saya nggak bisa mention satu-satu, tapi yang jelas saya bener-bener berterimakasih *bow lagi* Oh ya! Saya inget banget buat mention satu nama ini, yang selalu setia nagihin chapter baru dan yang reviewnya paling panjang dari yang pernah saya baca! SENDAL SUWALOW-sshi! AKU CINTA KAMU 3

Semoga selanjutnya saya masih bisa nulis ff Minyoon lainnya dengan lebih baik lagi.

Kalau ada yang punya saran tentang genre atau tema cerita yang antimainstream boleh dong bisik-bisik ke saya (gibah itu indah *eh*)

See you!