Don't Like, Don't Read
Warning: cerita didominasi oleh konten Boys Love a.k.a Yaoi, OOC demi keperluan cerita, miss typo, no sensor. Cross Over. Alur nge-slow~. Penggunaan bahasa Gue-Elo pada beberapa scene.
Pairing: AkaKuro, MuraHimu, MidoTaka, AoKise. Random pair. Slight! NijiHimu, Bro!TakaHimu, Bro!KaruAka (maybe). Request dipertimbangkan.
Note: Teikou di sini adalah nama SMA. Akashi di cerita ini adalah Ore-shi, switch ke boku-shi disesuaikan jalan cerita. Slight character dari fandom lain (beberapa berperan penting tapi tidak semua). Tokoh utama tetap para karakter KnB dan jalan cerita fokus pada karakter mereka.
Summary: Hanyalah hidup yang kujalani di bawah langit ini. Inilah kisah yang kupilih bersama warna-warninya. Tawa dan tangis. Bukankah tak ada artinya bila sendirian?—/ "Dengar—jangan gigit tanganku aku bukan makanan—Kuroko." Kuroko akhirnya diam—sambil manyun. "Dia akan membawa kembali Himuro-san. Aku jamin."/—/RnR/CrossOver/Gintama/Ass. Classroom/Yaoi/AkaKuro(main pair)
.
"Ku-Ku...roko?"
Kuroko sendiri masih berdiri tegap, dengan tapak tangan terhunus maju dan mengasap pelan tanda gesekan berlebih di sana.
Nijimura tahu posisi itu. Salah satu kemampuan Kuroko untuk mengoper.
Ignite pass (atau dulu yang dinamai tapak dewa bikin diare oleh Ogiwara).
Hanya saja dia tak menyangka bahwa ignite pass yang digunakannya dalam basket bisa sekuat ini untuk menghajar seseorang.
Bukankah harusnya itu hanya pass dengan sedikit kelebihan tenaga?
Tunggu. Tunggu. Pikir. Sekalipun hanya pass... Tidak mungkin bisa terlempar dari ujung ke ujung lapangan kalau tidak punya kekuatan berlebih bukan?
Apa mungkin selama ini dia hanya tidak menyadarinya?
Kalau Kuroko Tetsuya sekuat itu?
.
.
12 Seasons In My Life
(...karena itulah kami di sini. Bersamamu. Bersama kalian semua. Di tempat yang akan menjadi kenangan...)
.
Original Story by Rin
Disclaimer Kuroko no Basket © Fujimaki Tadatoshi
Gintama © Hideaki Sorachi
Ansatsu Kyoushitsu © Yuusei Matsui
Drama, Humor, Romance, Friendship, Family, Hurt/Comfort
Rated T
.
11th. Season: [Spring] Help.
.
Prukpruk—
Nijimura menganga melihat bebatuan yang jatuh dari tembok yang ditabrak oleh orang yang dihantam Kuroko. Dua orang lainnya pun masih terdiam dengan kejadian tak terduga. Bocah kurus kering berhasil menjatuhkan preman berotot itu sangat merobek harga diri.
"BOCAH! KAU—!" BUAKH!
Sebuah tendangan cangkul melayang dari belakang menjatuhkan seorang lagi. Kali ini Nijimura yang langsung bertindak cepat untuk berlari dan menjatuhkan sisanya saat mereka mulai bergerak untuk menghajar Kuroko.
Nijimura menghindari sebuah tinju yang melayang—sambil membawa Kuroko untuk ikut menunduk di lantai. Nijimura menangkap tangan yang mengarah kepadanya—
BUK!—sekali lagi sikutan menghantam dagu.
Bola mata onyx menatap ketiga tubuh yang nampak tak akan sadar dalam waktu dekat. Baguslah, tidak sia-sia dia mengerahkan tenaga lebih.
Ngomong-ngomong soal tenaga...
Nijimura menatap seorang di antara mereka—preman yang berhasil Kuroko jatuhkan. Menelusur lebih cermat dan mendapati retak mengerikan pada tembok di bagian belakangnya. Hancur. Melapuk. Seperti dihantam baja sekaligus.
Menelan ludah. Setengah tidak percaya kalau Kuroko-lah yang melakukan semua ini. Image-nya sebagai mahluk bayangan yang terlupakan seolah sirna di matanya. Pandangan bengis dan kekuatan yang sempat mengalihkan atensinya membuat dia terlihat seperti orang lain.
Benar-benar orang lain.
"Oi, Kuroko kau sebenarnya—EEEH!"
Kalau ada persamaan yang bisa diibaratkan untuk kondisi Kuroko saat ini adalah—kerupuk melempem tersiram air. Megap-megap diterjang tsunami. Menggelepar di lantai dan seolah sangat mudah terbang hanya dengan ditiup.
Menyedihkan.
"KUROKOOO! KENAPA LO?"
"Ka-kapten... Ohok! Ba-baterei... Habis..." Kuroko sekarat. Wajah yang sudah putih kini semakin transparan nyaris tak berhawa. Sendi tubuhnya bergemeretak semut seperti kertas yang diremut-remut. Lecek. Belel. Kegarangan yang sempat membuat Nijimura terbius menghilang tersapu angin. Terhempas ombak dan terbang menuju galaksi di ujung cakrawala.
"Woi! Jangan bilang lo langsung megap-megap gara-gara tadi!"
"...kenyataannya...iya..."
Ini bocah.
BEGO BANGET!
Dia mengerahkan sisa tenaganya cuman buat ngehajar satu orang saja! Yang benar saja! Ini anak kok begonya kebangetan! Kalau dia mati di sini Nijimura yang bakal kena getah sial juga, oi!
Drap—darapdrapdrap
Dari kejauhan terdengar suara-suara langkah kaki yang menderu. Nijimura langsung waspada lagi.
"Ka-kapten... Kayaknya ada yang datang..."
"Ck, pasti gara-gara suara tadi. Kuroko, ayo lari."
"Aku tidak bisa bangun, Kapten."
Nijimura menyusruk dengan indah.
"Aaarrgh! Nyusahin amat sih lu!"
Nijimura tidak punya pilihan lain. Dengan sedikit menyentak langsung menarik Kuroko dan menggendongnya di punggung.
Kelereng hitam membelalak tidak percaya.
'Ini anak makan atau nggak sih?'
Padahal badannya masuk proporsional murid normal. Tapi, Nijimura tak merasa sedikitpun beban berarti menggendongnya. Kayak gendong boneka. Jangan bilang gara-gara yang tadi bocah biru ini ikut kehilangan sebagian berat badannya.
Ekstrim.
"Hei! Kalian yang di sana! Berhenti!"
"Gawat, mereka di sini. Cabut, Kapten!"
"Lari sendiri, elah!"
.
.
Tap
Koridor pagi itu cukup riuh akan siswa yang berdatangan. Meski, begitu tak membuat seorang Akashi Seijuurou kehilangan wibawa untuk menapak dengan elegan.
Gema menembus koridor, kaki membawanya dalam tempo cukup cepat—tak perlu melirik kanan kiri untuk mengusir atau hardik kotor sarat maki, toh mereka cukup paham untuk menyingkir mundur saat seorang Akashi melangkahi jalan mereka. Apalagi orangnya berwajah masam ingin membunuh orang.
Hari ini, ada banyak hal yang membuat kepala merah itu sudah berantakan sejak pagi.
Pertama, ketidakberadaan orang-orang saat latihan pagi ini. Tidak hanya satu, tapi tiga orang sekaligus—dan itu cukup untuk membuat pelatih mungil mereka mencak-mencak dan berimbas ke anggota lain—apalagi, salah satu dari absennya anggota adalah sang Kapten klub mereka.
Tanpa pemberitahuan. Tanpa ada kabar. Wajar saja Riko murka dalam diam berselimut api neraka—sialnya lagi imbasnya ke mereka.
Mungkinkah, dia mangkir dari latihan? Tidak ada yang tahu—walau, Akashi yakin kalau Nijimura bukanlah tipe orang yang akan membolos tanpa ada alasan jelas. Dan satu nama lain yang tidak terlalu asing akan absennya.
Himuro Tatsuya.
Imbas terbesar ketidakberadaan sosoknya itu terlihat jelas dari seorang bungsu (karena manja) bergizi keterlaluan di Klub mereka, Murasakibara—yang saat ini tengah berjalan mengikuti iramanya yang agak menyentak, bukan masalah bagi Murasakibara karena dia punya kaki panjang dan Akashi terlampau pendek baginya (jangan katakan itu di depan Akashi atau neraka menghampiri hari-hari). Bocah raksasa itu merajuk dengan aura suram plusplus selama latihan dan membuat Akashi tarik urat kepala. Pada akhirnya dia mengajak Murasakibara untuk memastikan sesuatu akan ketidakhadiran ketiganya.
—yah, ketiganya. Dan satu orang lagi adalah yang paling sering membuatnya urut dahi.
Kuroko Tetsuya.
Perpaduan yang sangat aneh bagi ketiga orang itu tidak hadir dalam waktu bersamaan.
Nijimura dengan Himuro. Masihlah wajar jika kedua orang itu menghilang di saat bersamaan. Kesinambungan hubungan mereka sungguhnya lebih pelik dari sekedar pertemanan belaka—dan sebagai pihak yang (menduga lalu) tahu, Akashi mewajarkan hal itu (walau, tetap tidak mentoleransi pembolosan).
Tapi, Kuroko? Apa hubungan mereka? Dia seperti nyamuk. Moluska tak dianggap. Kutu rambut pengganggu. Noda membandel yang gak bisa hilang kalau tak dicuci dengan kekuatan sepuluh tangan. Sungguh tak singkron kalau mau disatukan dengan dua nama lainnya.
Ah, bukan. Sungguhnya, Akashi tak perlu pusing. Tak perlu berpikir terlalu jauh. Akashi sebenarnya sudah tahu karena, isi kepala biru itu lebih sederhana seperti warnanya.
'Dia pasti ikut campur lagi.'
Pribadi yang tidak bisa menahan diri untuk selalu peduli. Ditambah kepolosan dan jujur yang kelewatan, seolah anak itu tak diset untuk berpikir bagaimana situasi ke depannya. Bertindak dulu baru dipikir. Heran. Kenapa sampai sekarang dia belum juga kapok padahal sudah ketimpa batu berkali-kali—oh, iya. Akashi lupa kalau struktur kepalanya sama keras dengan batu.
"Nee, Aka-chin. Kita sebenarnya mau kemana?" Murasakibara berujar pelan di belakang.
"Menjemput seseorang—yang mungkin tahu, atau paling tidak bisa memberikan informasi soal keberadaan Kuroko dan Himuro-san." Akashi tidak menyebut Nijimura, dia punya keyakinan kalau menyebut nama itu di depan anak besar ini akan membuat masalah rumit. Rumit secara emosi. Dan secara logika, dia punya asumsi bahwa keberadaan Nijiimura pasti berkaitan dengan Himuro—dan Kuroko sebagai pihak setannya.
Murasakibara mengangguk—walau dalam hati maunya langsung cari sendiri. "Hmm... Baiklah, aku ikut saja."
Grek—pintu sebuah kelas terbuka, sekian bola mata tertarik oleh atensi kharisma yang dipancarkannya. Akashi melirik kanan kiri pada isi kelas mencari ciri yang dia ingin. Melangkah maju untuk menarik sebuah tangan yang menggantung kaku—lalu gagap karena kejut.
"Ikut aku. Ada yang mau kubicarakan."
Sosok yang sangat familiar dalam ingatannya sebagai yang selalu bersanding dengan sang langit. Meski, selalu berbanding terbalik layaknya cermin.
"Eh—eh! Ngapain!?"
Kelas 1-D. Remaja surai ebony yang selalu ceria secerah mentari. Ogiwara Shigehiro.
.
Ogiwara adalah tipikal manusia happy-lucky-go macam Kise dan Takao—saking cerahnya sampai bikin silau, bersyukurlah keberadaan Kuroko menetralisir efeknya hingga tak ada yang buta sampai sekarang. Tapi, ternyata semua itu lenyap tak berbekas saat di hadapannya ada para manusia-manusia bermuka durjana menyidang macam mertua-mertua ganas.
Di tambah dia di bawa ke belakang perpustakaan yang sepi.
'Gawat! Aku mau dibunuh, ya?'
Akashi melirik keji di momen yang tepat. Ogiwara makin merinding. 'Jangan-jangan benar kata Kuroko kalau Akashi itu mind-reader.' maklum, dia sering dicurhati—dalam konteks menghina di belakang orangnya—tentang Akashi. Terutama saat dia tidak boleh minum vanilla shake karena gejala radang oleh Akashi, Ogiwara mendapat tumpukan mail sampah akan kedengkian Kuroko.
Sangat tumben kalau kata Ogiwara—karena biasanya Kuroko akan dengan senang hati menyepak dengan kekuatan bulan orang macam Akashi—masalahnya Akashi masuk kategori orang yang luwesnya najis macam ballerina nyasar. Disodori ignite pass malah mengindar (iyalah), alhasil Kuroko jadinya yang guling-guling hilang keseimbangan.
Itu mail, lho.
Ah—'Jangan-jangan karena tahu soal mail-mail itu aku jadi kecipratan sial!' Ogiwara ketar-ketir. Mampus, e-mailnya belum dia hapus lagi. Coba cari jalan kabur—sialnya ada benteng raksasa bernama Murasakibara Atsushi di belakangnya. Ogiwara tidak punya jalan lari.
"Ada yang ingin kutanyakan padamu Ogiwara."
Di momen mereka berhenti menapak, Akashi langsung menyambar dengan pertanyaan. Wajah Akashi semakin serius saat bicara—mengerikan, persentase aku dibunuh meningkat. Kuroko! Ini semua salahmu!—tangan bersidekap, menyelidik atas bawah Ogiwara seakan dia gelandangan nyasar.
"Kau tahu di mana Kuroko?"
"Hah?" Ogiwara loading. "Hoo, kukira soal e-mail..." helanya sama paska buang air.
Akashi menyerngit, "E-mail apa?"
Ogiwara merutuk bibirnya yang ember, "Ha—hahahaha! Bukan apa-apa, kok! Ee—kalau Kuroko bukannya dia sudah datang pagi-pagi ke klub, ya?"
"Kuro-chin hari ini tidak datang latihan." Murasakibara memakan lolipop tapi, nampaknya tidak terlalu menikmati karena batin menggelap. Lihat saja cara makannya yang menggigit hancur dan bukan mengulum.
"Eeh!" Ogiwara kaget. Jelas. Karena, tadi pagi saat dia bangun tidak mendapati Kuroko di kasur (di atasnya, mereka gak tidur berdua kok), lalu menanyakan pada Kurokono akan keberadaannya.
"Tadi pagi Tasuke-san bilang Kuroko sudah berangkat duluan, kok?" Hei, Kuroko membolos dari basket? Sesuatu yang sangat mustahil terjadi—ayolah, kalau sampai dia tidak mempedulikan basket karena hal sepele animenya pasti sudah ganti nama.
Tasuke-san? Sepupu yang Kuroko bilang, kah? "Dia tidak mengatakan detilnya kemana?"
"Eh—ya, apa kau pikir Kuroko akan pergi ke tempat lain selain untuk latihan basket?"
"Tidak—tapi, nyatanya dia tidak menampakkan batang hidungnya. Karena itu aku bertanya padamu mungkin kau tahu sesuatu." delik. "Karena, kau yang terakhir kali bersamanya."
Ogiwara mematung. Keringat mengalir, lalu tegup ludah. Dia benar-benar murni tidak tahu tentang Kuroko dan keberadaannya, ataupun alasannya untuk hengkang sejenak dari ritual tercintanya (setelah vanilla)—di samping itu dia sendiri merasa cemas, kalau begitu apa Kurokono berbohong agar dia tidak cemas?
"Kuroko tadi sudah berangkat pagi sekali." sambil tersenyum mistis.
Tunggu—...Ogiwara membola sejenak.
Atau jangan-jangan dia tahu hal itu tapi menyembunyikannya?
Kalau dipikir kata-kata Kurokono sama sekali tidak salah—Kuroko memang pergi dari pagi. Tapi, kemana? Jam berapa? Sepagi apa? Dengan siapa?
—untuk apa?
"..."
Melihat diamnya Ogiwara dari tempat tinggi membuat Murasakibara mendecak. Menganggap bahwa sosok itu hanya menghabiskan waktu—padahal sudah diharapkan.
Mendengar Himuro tidak masuk lagi pagi ini—padahal sudah janji—lebih dari cukup untuk membuat Murasakibara merajuk sampai tahap tidak mau makan lagi (itu berarti parah). Lebih-lebih akan berita yang mengatakan bahwa kali ini Nijimura juga tidak masuk.
Iritasi. Sebal. Sebal. Kalau nama mereka berdua disandingkan dalam satu insiden sama.
"Nee, Aka-chin. Lupakan saja dia. Kau benar-benar tidak berguna."
"Hei—jangan seenaknya menghina!"
"Dia jelas-jelas tidak ada hubungannya dengan Muro-chin! Lagipula kenapa Aka-chin berpikir Kuro-chin ikut bolos bareng dengan Muro-chin?"
"Eh, bukan cuman Kuroko jadinya?"
"Tidak ada hubungannya denganmu."
"Cukup. Tutup mulut kalian. Biarkan aku berfikir—dan jangan coba bertindak yang aneh." Akashi mengatup mulut, memainkan dagu dengan kapitan kecilnya. Dia berpikir. Sungguhnya ada hal yang mengganjal di hati.
Bukan hanya keberadaan ketiga orang itu yang membuatnya tak habis pikir sampai akhirnya bergerak mencari—dia bukan orang sekurangkerjaan itu sampai masuk ke kehidupan orang lain. Tentu ada hal lain yang menjadikannya aktif.
"Yah, nampaknya mereka melanggar batas."
Gumaman Imayoshi Shouichi yang tak sengaja sempat dia dengar—atau mungkin sengaja agar dia dengar? Karena, dia seolah sengaja berjalan mendekat ke arahnya lalu berbisik.
Batas apa? Peraturan, kah? Akashi mencoba menerka. Tapi, tak cukup punya bukti kuat untuk menjadikan salah satunya alasan.
—banyak hal ganjil di sekolah ini—orang-orangnya juga.
Akashi bukannya tidak tahu. Hanya saja dia memilih untuk diam dan mengawasi. Tentu saja dia tidak mungkin abai akan satu dua bisik tidak sedap yang mendera klub yang dia jalani—dia bukan mahluk polos (atau idiot) yang terlalu fokus hingga tak sadar gunjingan orang. Tapi, karena tak merugikan secara materiil dan tidak dekstrusif secara moral Akashi tak ambil tindakan.
Lagipula, tak mungkin para seniornya tidak sadar.
Permasalahan utamanya, apa sebenarnya kesinambungan hal itu dengan ketiga nama dan perkataan Imayoshi.
Informasi yang begitu minim membuatnya buntu seketika. Sial.
"Umh... Akashi, kenapa kau mengira aku tahu tentang Keberadaan Kuroko dan Himuro-san?" Ogiwara membuka suara, penasaran juga. Jika, yang mereka cari tidak hanya Kuroko rasanya tidak etis kalau hanya dia yang ditanyai.
"Aku punya probabilitas kuat kenapa aku bertanya padamu."
Ogiwara merinding dipandangi dengan keji bak kambing hitam, ditambah bahasa macam tingkat ensiklopedia berjalan begitu menusuk intelegensia kebanyakan mahluk.
"Kemarin kau yang menelepon Kuroko—memberitahukan tentang apa yang terjadi di Cafe itu. Darimana kau tahu?"
"Aku diberitahu oleh seniorku. Itu pun tiba-tiba saat itu dia menerima telepon dan—..."
Dan?
Dan siapa yang menelepon?
Siapa yang memberitahu Hijikata saat itu? Dan kenapa Hijikata memberitahunya perihal Kuroko padanya seolah dia tahu banyak tentang anak itu—persahabatan Ogiwara dengan Kuroko sudah menjamur beritanya layak kutu kaki, tapi tidak banyak yang tahu perihal hubungan persaudaraan Kuroko dengan Kurokono. Hell, bocah itu saja sudah seperti lelembut hawanya.
—apa mungkin?
"Senior di klubmu, hm?"
Bertambah lagi kunci ganjil. Nampaknya dia harus lebih rinci menyelidiki apa saja yang terjadi di sekolah ini—bukan hanya sekedar karena klub.
Ogiwara memandangi wajah yang menjadi serius dan berpikir lagi. Dan itu membuat Ogiwara terkejut.
"Aku kaget..." gumaman yang mengambil atensi. Pandangan itu dibalas oleh cengir yang biasa dilengkungkan pada sang sahabat, sambil bersenda gurau ringan, dengan kawan akrab, "Aku tidak menyangka kau akan seantusias itu mencari Kuroko, Akashi."
Akashi kembali mendelik, dia ingin mengucap kata penyangkalan kalau dia mengkhawatirkan Kuroko—tapi, entah kenapa tidak keluar. Karena, kalau ditinjau kembali apa yang dilakukannya seolah dia sangat mencemaskan keberadaan bocah biru itu. Karena—tidak mau mengakui—sejak tadi yang dipusingkan hanya Kuroko.
"Aku bertindak bukan hanya sekedar karena Kuroko—tapi, ada banyak hal yang membuat Kuroko berhubungan dengan semua ini." sepenuhnya sih karena dia menerjunkan diri pada masalah. Desis Akashisebal. "Dan, Murasakibara kuharap kau mengerti dari tindakanku ini. Kau tahu sendiri setelah melihat tabiat Kuroko waktu itu di tempat Himuro-san, kan?"
Murasakibara yang memang sejak tadi menggumam hanya mengalihkan wajah sambil manyun ngambek. Akashi tersenyum tipis, tahu bahwa bocah besar itu sudah mengerti hanya tidak ingin mengakui. Tangan putih menepuk pelan punggung besar, berkata dalam diam untuk tidak khawatir dan mempercayakan tampuk padanya. Meyakinkan bahwa dia akan menemukan orang kesayangannya itu.
Murasakibara langsung melunak. Wajahnya sudah lebih enak dilihat sekarang.
"Kalau memang Kuroko menghilang, kurasa Tasuke-san mengetahui sesuatu."
"Sepupu Kuroko, ya." Akashi nampak berpikir, memang kalau dari cerita Ogiwara seolah Kurokono membantu Kuroko di belakang. Hanya saja dia masih belum tahu pasti, lagipula semua ini masih abu-abu.
Dan dia merasa tidak ingin bertemu orang itu.
"Nee, Aka-chin. Kenapa tidak telepon Kuro-chin saja?" Murasakibara sudah memamah biak kudapan—bukti dia sudah tenang dan menyerahkan urusan pikir berpikir pada Akashi sepenuhnya—sambil mengunyah tiga buah pocky sekaligus, Murasakibara lanjut bicara,. "Kita bisa tanya Kuro-chin dimana, kan?"
Warna amber dan ruby memandang dalam diam.
"Genius." Tunjuk Ogiwara sok Inggris. Akashi merasa terhina, seolah semua yang dia pikirkan sambil mengacak-ngacak sel otaknya menjadi sia-sia dengan satu usulan yang begitu simpel.
"Kalau begitu kenapa kau tidak telepon saja dari awal, Akashi?" Ogiwara mulai memencet-mencet ponselnya untuk menghubungi kontak sang sahabat. Bukan menghina, Akashi pasti cukup jenius untuk menghubungi kontak orang yang dicari terlebih dahulu sebelum mencari info, kan?
"Aku tidak punya nomornya."
Oh—pantes.
Ogiwara memandang miris. Apa mungkin efek tiap hari gontok-gontok penuh cinta dan hina dina menusuk kokoro membuat jurang jaim di antara mereka?
"Mau kubagi?" Ogiwara berbaik hati. Kasihan sekali sudah capek mencemaskan tidak dapat berkahnya.
"Tidak usah." Akashi sinis. Apa-apaan nada mengasihani itu? Mau ditusuk, ya?
"Buat jaga-jaga saja. Aku punya firasat kalau kau pasti membutuhkannya."
"Aku akan mendapatkannya dengan caraku sendiri. Terima kasih atas perhatianmu yang tak perlu."
Oww, cekit-cekit. Ogiwara broken kokoro. Tenang Ogiwara, itu masih belum apa-apa dibanding bibir Kuroko yang mungil manis tapi sekalinya ngomong langsung jurus maut. Critical hit 200 combo.
Menunggu Ogiwara mendapat sambungan, Akashi melirik pada raksasa di sampingnya.
"Apa kau sudah menghubungi Himuro-san, Murasakibara?"Tanya Akashi—sekedar konfirmasi belaka. Walau, dia sudah tahu jawabannya.
"Sudah—" terus manyun. "Tapi, tidak diangkat... tadi pagi aku sempat ke rumahnya tapi juga tidak ada jawaban lagi. Lampunya mati, kupikir dia sudah pergi latihan duluan." Rajuk Murasakibara sambil curhat, orangnya sudah duduk menyender sambil membuka bungkusan yang ketiga. Akashi menepuk kepala bocah itu santai. Dalam hati tersenyum tipis. Rasanya mirip seperti kalau dia membujuk Karma kecil untuk tidak merajuk lagi.
Benar juga—waktu itu dia tidak berpisah baik-baik—lagi.
Menghela—merutuk dalam hati pada isi kepala yang terasa penuh.
"Ponselnya tidak diangkat, jangan bilang dia gak bawa ponsel lagi!"
Lamunan Akashi buyar akan gerutuan Ogiwara (yang mencak-mencak karena kebiasaan jelek si biru kalau dihubungi susah nian). Entah, kenapa Akashi tidak terkejut dengan hal itu. Andai Kuroko tidak mengangkat telepon itu—karena hal serupa terjadi pada Himuro juga, dan dia merasa yakin andainya mencoba menghubungi Nijimura tidak akan jauh beda.
Sejenak dia merasa khawatir.
—karena kepalanya kembali terbayang percakapan semalam. Informasi tentang Himuro Tatsuya yang tidak diketahui massa.
'Mungkin ini lebih gawat dari yang kuasumsikan.'
"Ogiwara, apa nomor Kuroko aktif? Coba kau lacak keberadaannya dengan satelit."
Entah kenapa dia punya firasat buruk.
"Sebentar—...eeh... Aku pernah mencoba mensingkronkan ponsel-ku dengan Kuroko. Jadi, bisa saling mencari—habis dia anaknya hilang-hilangan." anggukan mantap dari kedua sisi. Sepaham dengan penderitaan kalau sudah mencari anak itu tiap sesi pulang latih tanding. Ogiwara mengutak-atik ponselnya cukup lama.
"Ah, ada! Tunggu—ini lumayan jauh dari Teikou atau rumahnya!" Ogiwara menyangsikan titik merah yang berpendar di layar. Kuroko bukan orang yang memiliki kebiasaan travelling. Kecuali, wisata vanilla—dan memang sejak kapan Kuroko tahu daerah sana?
"Apa mungkin salah?"
Dan—sialnya firasat itu selalu benar.
"Iee..." Akashi menggumam, "Murasakibara, coba cek keberadaan Himuro-san dengan cara yang sama. Kalau memang benar—mereka pasti berada di tempat yang sama."
Bayang sewarna darah memandang pendar merah berkedip menggoda di balik layar. Fokus pada destinasi dan visual yang ditunjukkan.
Tempat ini... Kalau tidak salah—...
.
.xOx.
.
Kedip-kedip pada bagian belakang celananya seolah tak digubris pemilik. Sosok alat komunikasi itu tak sedikitpun menarik atensi Kuroko—benda itu dalam mode silent. Kuroko anak baik, jangan nyalakan ponsel saat pelajaran. Pakai ponsel untuk penting-penting saja (gara-gara kebiasaannya itu banyak yang kalang kabut nyari bocah yang hobinya astral ini).
Setapak koridor yang dia lalui tadi rasanya sudah pernah dia tapaki—atau mungkin desainnya saja yang sama sampai dia merasa berada di dalam labirin?
Nijimura terengah pelan, mengerem mendadak saat menemukan koridor kecil yang gelap. Berbalik arah dan memilih sembunyi di sana sambil mengutuk siapapun agar tak ada kaki-kaki yang mendekat ke arahnya.
'Sialan, jangan sampai mereka kemari.'
"Kapten... Kau bisa turunkan aku."
"Kau yakin? Aku tidak mau tahu kalau kau tumbang lagi."
"Tidak—... Setidaknya aku sudah bisa jalan."
Nijimura memandang kriptik. Menghela pelan lalu menurunkan tubuh kecil dari gendongannya. Menatap pias saat Kuroko oleng sebentar. Begitu dibilang sudah bisa. Kelereng hitam berputar lelah.
"Kalau begini kita bisa susah mencari Himuro." melirik sedikit pada beberapa preman yang berlalu lalang tak jauh dari mereka. Kuroko menunduk pelan—sadar kalau hal ini merupakan salahnya. Andai dia tidak terpancing untuk membuat ricuh, mungkin mereka masih bergerilya di balik bayang-bayang.
'Tapi, aku tidak suka dengan mereka. Berkhianat seperti itu...'
Kenapa manusia bisa dengan mudah memberi menampik apa yang sudah dipercayakan?
Plok—kepala biru ditepuk pelan. Kepalanya menoleh, memandang si pemilik tangan yang balik menatapnya tanpa geming.
"Jangan terlalu diambil hati. Kita pasti menemukannya." Nijimura berucap tapi, tidak menatap Kuroko. Matanya lurus ke arah jalan yang mereka lalui. Entah mengawasi atau terlalu malu untuk saling bertatap.
"...Kapten."
Tepuk itu berubah jadi tonjok pelan di pucuk kepala.
"Aduh..."
"Asal jangan melakukan hal bodoh lagi. Mulai sekarang turuti Kaptenmu ini, atau kutonjok lagi nanti."
Kuroko cemberut. Tapi, tak ada keinginan untuk membantah. Tidak dengan perasaan tenang yang sempat disalurkan melalui kehangatan tangan itu.
Kuroko merasa Nijimura sangat hebat—bukan dalam konteks kuat tidaknya. Hanya saja dia masih mau memberinya maaf akan kesalahannya yang cukup fatal. Masih mau melindunginya walau itu membuatnya habis waktu untuk mencari. Padahal Kuroko yakin kalau sebenarnya Nijimura sudah gatal untuk mendobrak satu persatu pintu itu. Mendapatkan eksitensi yang diinginkannya ada dalam batas pandangnya.
Kuroko tidak boleh begini terus.
"Kapten, aku akan berpencar mencari Himuro-san." Dan langsung disuarakan. Sesuai dugaan, respon yang didapat adalah muka sangar jelek sebal dari sang Kapten.
"Hei—kau itu... Sudah kubilang jangan sembarangan bertindak!"
Kuroko tak menganggap hardik itu serius, diri itu sudah yakin untuk berpegang teguh pada keputusannya. "Akan lebih mudah kalau aku sendiri, Kapten. Kau tahu aku sulit disadari, kan?"
"Kalau kau kena masalah di tengah-tengah, aku tidak bisa tahu. Hhh...kau sendiri tahu kalau fisikmu itu menyedihkan—oke, tadi kau sempat menghajar preman dengan keren, tapi lihat efeknya!"
Kuroko diam.
"Sudah kubilang kau tanggung jawabku! Cukup jangan jauh-jauh dariku dan bertindak sembarangan aku akan tenang."
Kuroko bergemeretak. Gigi ngilu dia gesekkan. Tangan pun akhirnya bertindak. Mendorong Nijimura ke tembok. Sengaja menekan luka-luka di balik baju yang tersampir.
Nijimura meringis. Menatap Kuroko marah dengan apa yang diperbuatnya. Tapi, lebih dari pada itu dia terhenyak dengan perubahan ekspresi di wajah datar itu. Ekspresi merenggut menahan pilu.
Kuroko tahu, kalau sebenarnya sejak tadi—sejak Nijimura bersikeras menggendongnya. Sejak mereka berlari keluar mencari jalan. Nijimura menahan rasa sakitnya. Tidak perlu Kuroko menanggalkan paksa baju sang Kapten untuk melihat seberapa parah balur biru keunguan itu menyebar di tubuhnya. Cukup dengan sesekali mendengar desis dan hela berat saat bernafas yang memberitahu secara kasat bahwa diri itu menahan sakit yang mendera.
"Kumohon tunggulah di sini sebentar, Kapten."
Luka-luka itu pastinya tidak akan sembuh hanya dalam satu dua jam. Kuroko paham. Hanya saja dia ingin memberikan kesempatan pada Nijimura untuk istirahat sekedarnya—setidaknya sampai dia bisa berjalan tanpa sesekali menimpang ingin jatuh.
"Aku akan memberitahumu kalau aku menemukan Himuro-san. Sampai saat itu Kapten tunggu saja di sini."
Dan dia ingin membuktikan bahwa keberadaannya di sini bukan hanya sekedar sebagai orang yang harus dijaga. Dia juga laki-laki. Hormonal testoteron masih membanjir di sela tubuhnya. Dia masih bisa menjaga dirinya sendiri—setidaknya dengan hawa keberadan yang tipis akan mudah baginya untuk bersembunyi.
Nijimura menutup mata. Menghela nafas panjang. Menggaruk kepala yang tidak gatal lalu, mendesah pasrah.
Dia menyerah.
Dia merasa tidak bisa menang dengan kekalutan yang melanda langit yang begitu jernih, dari keteguhan yang begitu keras bagai batu—lebih-lebih dia jadi merasa bersalah karenanya. Kuroko nampak hampir menangis saking memaksa.
Dan—realitanya dia membutuhkan itu.
"Baiklah... Aku akan duduk di sini sebentar. Menunggu sampai kau mengetahui keberadaan Himuro."
Wajah yang lebih dewasa tersenyum bijak. Masih ada kekhawatiran di sana. Masih ingin dia menarik si biru dan memaksa untuk duduk di sampingnya—batin mengatakan bahwa dia masih harus menjaga, tanggung jawab masih harus dipegang itu. Terlebih itu dia berjanji—pada dirinya—bahwa selain untuk menyelamatkan Himuro, dia tidak akan membiarkan remaja ini sampai terluka lahir batinnya.
Tapi—hhh... dia benar-benar berharap Akashi di sini.
"Pergilah. Hati-hati, Kuroko."
.
.
Kuroko menelusuri dari ruang ke ruang. Kali ini dengan hati-hati dan tidak menimbulkan masalah—Nijimura sampai tiga kali memperingati jangan sampai membuat masalah dan dia tidak mau kena ceramah lagi.
Kaki berjalan agak cepat—untuk memburu waktu. Sampai mendapati sebuah tangga kecil yang diapit dua kamar. Desain yang cukup unik karena berbeda dengan koridor lain yang dia telusuri. Menilik keadaan, mengawasi kanan kiri memastikan tidak ada siapa-siapa di sekitarnya.
Kalau mau diibaratkan tempat itu seperti loteng—hanya saja loteng tidak semewah ini. Lihat saja ukiran kayu-kayu di sekeliling pegangan tangga (sebenarnya Kuroko tidak terlalu mengerti seni desain interior, tapi pokoknya terkesan lebih mewah dari tempat yang lain). Mungkin tempat ini dulunya milik orang-orang khusus dan berkepentingan.
Kuroko melangkah pelan, keretak bebatuan kecil hancur terinjak langkahnya. Sisi tembok nyaris melapuk. Habis dimakan kelembapan dan lumut. Sampai di anak tangga terakhir Kuroko mendapati jeda lantai kosong beberapa meter dengan sisi kanan kiri terdapat jendela berbingkai yang berdebu di dekatnya ada tanaman pot yang salah satunya sudah hancur. Jendela di sisi kiri sudah tak utuh kacanya, dan di depannya terdapat koridor sempit dengan sebuah pintu kayu tertutup sebagai pangkalnya. Lampu yang menjadi sumber cahaya berkedip-kedip tanda harus diganti
Kuroko memandangi pintu itu sejenak. Pintu kayu yang nampak seperti gudang harta berharga. Tersembunyi dalam ruangan sempit yang jarang dijamah. Seperti seorang putri yang terpenjara di puncak menara. Peraduan dalam emosinya mengetuk keyakinan bahwa sosok Himuro terkurung di baliknya.
Dia harus memberitahu Nijimura soal ini.
Tapi, dia harus memastikannya dulu kebenarannya.
Maka dengan sedikit kelebihan semangat tangan itu mengayun untuk menarik gagang pintu.
.
"Kau itu benar-benar suka ikut campur, ya?"
.
Tangan yang mencoba menggapai hanya merengkuh udara. Membeku di perjalanan saat bisik itu menembus tepat di samping gendang telinga. Terhenyak. Membola. Mendapati eksitensi berbisa berada di dekatnya tanpa dia sadari.
Menahan pergelangan tangannya, berbisik di telinganya, menyeringai di samping wajahnya.
"Aku ingin tahu darimana kau punya rasa percaya diri itu."
Menghembus dengan dingin. Sama seperti suhu tubuhnya yang membeku drastis. Efek akan getaran yang didapat darinya.
Takasugi Shinsuke.
Kuroko bergeming pelan. Ada rasa asing menjalar selaput emosinya.
Emosi hitam saat tahu dirinya terperangkap di bawah intimidasi ular.
—takut.
'Sejak kapan... Dia di belakangku?' batin Kuroko berkecamuk hebat. Getir. Ngeri. Takasugi bukanlah orang yang memiliki hawa tipis seperti dirinya, lebih dari pada itu dia adalah sosok berkharisma. Begitu kuat auranya hingga dapat menaklukan hanya dengan intimidasi belaka.
—justru itu yang membuat takut.
Seberbahaya apa orang ini sampai dia tak bisa mengendus baunya sekalipun sudah berada sedekat ini.
"Kau... Himuro-san ada di sini, kan?"
Kuroko sendiri kaget dengan nada datar yang dia utarakan. Seharusnya itu biasa—karena halnya, dari banyak situasi mendesak dirinya selalu bisa mengendalikan emosi (bukan tingkahnya) untuk tetap tak berekspresi. Tapi, untuk pertama kalinya—dia merasa sudah membohongi dirinya sendiri.
Derum di dalam tubuhnya jauh lebih jujur dibanding reaksi di permukaan.
"Aku tidak akan jawab." Tapi, bibir itu mengkedut tertarik.
Kuroko tak melihat, tapi bisa merasakan—bibir itu menyeringai dengan sinis. Mentertawakan dalam hati. Di samping itu mewaspadai agar tak ada tindak merugikan diri.
"Berarti benar di dalam." desis Kuroko pelan. Jantung memburu. Menegup ludah lagi. Tangan sudah di tarik untuk terkunci di belakang.
"Lalu, kau mau apa, hm?" dia mendesis. Penuh bisa dan racun pelumpuh.
"Akan kubawa Himuro-san pulang."
"Sayangnya dia tidak mau."
Ada sedikit nada main-main di sana. Dan Kuroko tidak suka. Dia tidak suka dengan orang yang bisa mempermainkan orang lain semudah itu.
"Pembohong. Tidak mungkin Himuro-san ingin terus bersamamu—kalau kau memperlakukannya seperti ini."
Sesaat setelah kata—jeda hening di antara keduanya. Terisi buru nafas bertalu jantung milik Kuroko. Ada rasa ganjil dengan kediaman Takasugi yang tiba-tiba. Apa dia tidak bisa membalas kata-katanya? Atau, tengah memikirkan kata-katanya?
Di belakang sana, bibir itu mengatup.
—dan onyx membuka dengan geram.
PRAANG!
Kuroko terhenyak akan perih dan nyeri yang menjalar—kala punggungnya ditabrakkan oleh jendela kaca. Gemeretak kecil terdengar karena benturan yang kuat. Syaraf memberi respon ingin melingkar untuk mengaduh, tapi tubuh itu tak dalam kendalinya. Melayang dalam satu cekikan kuat di lehernya.
Tangan menggapai, mencakar, meronta agar remat di lehernya mengendur bahkan lepas.
"Aarkh—kkh!"
Perlahan tubuh mungil didorong mundur. Dengan sebelah tangan yang meremat benci, memaksa tubuh itu melayang untuk terjun bebas dari jendela.
"Kata-kata dan pandanganmu benar-benar memuakkan."
Krrt—"Akh!"
"Aku merasa bersiteru dengan orang itu lagi."
'Orang itu—siapa?' Kuroko ingin berpikir namun, situasi tidak memungkinkan untuk mendaur ulang sel otak agar jernih. Yang dibutuhkan adalah keselamatan diri. Oksigen untuk bernafas bebas. Dan bumi untuk dia tapaki.
Kuroko menggeram. Mencakar lengan itu keras.
Takasugi menyeringai.
Pandangan mata yang penuh kekuatan karena sesuatu yang ingin dia lindungi. Yang terpenuhi hasrat tak lazim dalam pendar yang sama gairahnya.
Orang-orang bodoh. Yang menjadi kuat karena ego bodoh dan emosi hati.
"Sayang sekali. Aku baru berpikir kau anak yang sangat menarik."
Tapi, sudah saatnya mengucapkan kata perpisahan.
"Akan kukabulkan keinginanmu untuk kulepas."
Kau hanya akan membawaku ke dalam emosi itu—lagi.
"Sayonara."
Set—
.
.
.
—tangan itu melepas cengkramnya.
Warna biru terperangah saat tubuhnya begitu lepas dan bebas. Menatap cakrawala biru yang menjauh dengan cepat dalam pandangnya.
Dalam ketinggian itu, Kuroko mencoba menggapai udara yang tak akan pernah tersambut.
.
.xOx.
.
Sreksrek
Semak-semak hijau tersapu kaki-kaki yang melangkah. Setapak kecil yang ada diabaikan, mencoba mencari jalan lain sembari bersembunyi. Menyebalkan bagi Murasakibara karena tubuh bocah itu terlampau besar untuk menjelajah tempat-tempat sempit. Tidak hanya sekali dua kali rambutnya tersangkut atau kulit tersayat ranting. Kalau bukan karena dalam kondisi gerilya dia tidak akan mau terus lagi.
"Murasakibara, kau butuh plester?" kelereng cokelat sewarna jahe memberi atensi akan lecet panjang pada punggung tangan.
"Nggak mau." tudingnya merenggut, terus menjilati lukanya sendiri. Ogiwara yang ditolak mentah-mentah kebaikannya terkekeh saja, sudah mulai terbiasa dengan sikap manja seperti bocah.
"Kalian berdua, cepat jalan. Di depan aman." Akashi sebagai pembuka jalan—karena dia lebih awas dan waspada dan punya mata sakti andalan—menggertak pelan karena dua pengikutnya sibuk sendiri dengan dunia mereka.
"Sori, sori." Ogiwara menyusul Akashi dengan Murasakibara di belakangnya. Sesekali menoleh ke belakang lalu ikut mengawasi keadaan di depan bersama Akashi.
"Kupikir kita akan menemui banyak preman kayak tadi. Fuh, tapi tadi untung tidak ketahuan mereka." Gumam Ogiwara.
"Tapi, ini benar markas preman seperti kata Ogi-chin, ya? Selain yang tadi kok aku gak lihat lagi yang lain?" Murasakibara mengingat saat mereka masih tak jauh dari jalan setapak—ada cukup banyak berandalan yang menjauhi tempat yang mereka tuju. Awalnya, mereka berpikir bahwa keberadaan mereka ketahuan. Tapi, ternyata tidak satupun yang menyadari keberadaan mereka (Akashi langsung menyuruh mereka meninggalkan setapak dan bersembunyi di balik pepohonan sesaat sebelum mereka muncul. Hal ini pulalah yang membuatnya jadi navigator mereka).
Mereka berbondong-bondong mencari tempat, seperti menunggu sesuatu.
"Mungkin mereka ada di gedung-gedung itu. Kok kayaknya kita menantang bahaya banget, ya? Akashi, apa kau yakin tidak akan memanggil polisi?"
"Polisi tidak akan bergerak kalau orang itu belum hilang lebih dari 2 x 24 jam. Selain itu, mereka tidak akan bergerak untuk situasi yang tidak jelas kondisinya tanpa laporan pasti dari berbagai pihak. Lagipula, kau juga tahu situasi kita tidak memungkinkan melakukan itu—terlalu berisiko."
Yah, memang Ogiwara yang mengatakan bahwa situasi mereka sangat tidak memungkinkan untuk bergerak sendiri. Bukan, karena pengecut atau tidak percaya kemampuan diri. masalahnya—
"Andai memang mereka berada di tempat yang mengharuskan mereka harus berkelahi—salah-salah mereka akan ikut ditangkap, dan hal itu justru akan lebih buruk dibanding skandal yang disebar Dewan Siswa." Lanjut Akashi lagi. Mengingat kejadian beberapa jam lalu yang cukup mempengaruhi pandangannya tentang keadaan mereka saat ini. Karena, perkataan seseorang.
Ya, karena kata-kata dari orang itu.
.
.
"Aku tidak peduli! Sekalipun aku harus keluar dari klub aku akan menolong Muro-chin! Aka-chin tidak bisa menahanku!"
Murasakibara setengah menyentak pada tangan yang ditahan Akashi untuk tidak pergi dan ambil tindakan gegabah. Berawal dari informasi Ogiwara yang mengatakan bahwa tempat pendar titik merah itu berada adalah tempat yang lazimnya menjadi markas berandalan. Tempat itu dulu adalah real estate—yang pembangunannya di tentang masyarakat, sampai pada akhirnya ditutup paksa karena hujatan verbal maupun fisik yang cukup parah pada pihak-pihak yang memiliki akses. Kini, tempat itu terbengkelalai tanpa satupun pemilik sehingga dimanfaatkan oleh berandalan sebagai markas mereka.
Jika, memang benar ketiga orang itu di sana. Pastinya, tidak mustahil bagi mereka akan terlibat perkelahian—salah-salah pertempuran berdarah. Tentu saja konsekuensi besar akan menanti dari pihak pendidikan jikalau mereka ketahuan berkelahi.
Akashi merajam Murasakibara dengan pandangan akan amarah. Tapi, di titik ini dia berusaha menetralisir emosi. Jika, dia ikut tersulut semua akan percuma saja, "Kubilang tenang dulu."
"Jangan menghentikanku Aka-chin!" sayangnya Murasakibara masih keras kepala.
Akashi menghentak dengan keras—dengan kata-kata dan bukannya fisik. Dia tidak akan semudah itu melayangkan tinju, karena itu akan membuat masalah semakin rumit, "Kau yang sekarang hanya akan membuat repot. Duduk diam dan atur emosimu, Murasakibara. Situasi ini jauh lebih rumit dari yang kau kira, ini bukan hanya sekedar pertengkaran biasa dengan anggota klub atau berkelahi dengan berandal."
Andai spekulasinya benar, mereka akan melawan seorang pembunuh profesional. Akashi bukan tidak punya cara—hanya saja tidak memungkinkan dengan kondisi di mana sekelilingnya adalah orang-orang yang terlalu panasan dan tidak bisa berpikir dingin. Lagipula, dia masih memikirkan kondisi psikis mereka jika Akashi memang serius untuk menerapkan cara melawan seorang pembunuh—status dan nama yang terlampau tinggi membuatnya selalu dalam situasi bahaya.
"Mungkin, kita harus menghubungi polisi." Hanya ini cara yang terpikir jika mereka—dan bukan hanya dia—memang serius untuk bermain dengan teror dan hukum-hukumnya.
"Sebaiknya itu jangan kalian lakukan."
Akashi membelalakan mata. Menengadah untuk melihat sumber suara yang berada di atas pohon sambil bertopang dagu mengawasi mereka. Warna abu yang kosong seperti ikan mati bersitatap dengan merah yang mengiris tajam lawan bicaranya. Sebuah buku di tangannya membalik sendiri halaman karena tiupan ingin. Akashi waspada—merutuk kelengahannya karena isi kepalanya berantakan hingga tak fokus ada pihak lain yang mengupingi mereka. Dia tak merasakan sampai dia berbicara, hawa yang begitu tipis—seperti Kuroko—tidak bahkan lebih tipis daripada anak itu.
"Kalau kalian berniat berkelahi jangan sampai berurusan dengan polisi."Orang itu bicara lagi. Dengan kekosongan tiap kata-katanya. Seolah tubuh itu tak memiliki emosi sama sekali.
"Punya dasar apa kau bisa bicara seperti itu dengan mudahnya?" Akashi juga tak begitu ingin berurusan dengan polisi. Andai, orang ini tahu situasi yang akan mereka hadapi.
"Akashi yang begitu terkenal ternyata pengecut. Tak kusangka, apa kau begitu takut ketahuan sudah mencemari nama baikmu sampai berlindung di bawah hukum?"
Orang ini. "Turun kau." Merendahkanku. "Jangan bicara dari atasku."
Ngiing—
Warna darah berpendar menjadi senja.
"Kalau kau memang seberani itu turun dan hadapi aku."
Warna abu di balik bayang pepohonan menjenggit dengan perubahan atmosfer yang terjadi.
"Kau..." gumam kecil meluncur dari bibir yang lain. Atensi dari merah beralih pada cokelat yang juga menengadah ke arahnya. Hei, rasanya anak ini tidak asing.
"Kau—kau yang waktu itu dari Cafe, kan?" Ogiwara menuding tidak yakin. Karena, ingatannya mengabur dengan kejadian yang begitu cepat saat bertemu dengan—mungkin—orang ini.
Mayuzumi terbelalak pelan—meski tak begitu ketara. Dia ingat akan Ogiwara sekarang.
'Anak yang waktu itu menabrakku rupanya.'
Mayuzumi tentu tidak mungkin lupa dengan pemuda yang sudah membuat isi tasnya berhamburan di jalan. Masih dia ingat pandangannya yang mendelik dendam pada pelaku yang menjatuhkan 'pacar-pacarnya' sampai kotor dan terinjak kaki-kaki sialan tak tahu adat.
"Cih, rupanya kau." Pandangan datar Mayuzumi berubah menjadi hitam kesal. Ogiwara langsung mundur tiga langkah dipandangi dengan dendam kesumat.
Clep—Mayuzumi menghindar saat ada kilat yang menuju ke arahnya. Saat menoleh dan mendapati gunting menancap di batang pohon yang ia sandari yakinlah dia kalau Akashi Seijuurou itu tak lebih dari orang sinting.
"Kubilang turun. Kuberitahu saja, itu memang sengaja kubuat menghindar."
"Ck." Mendecak kesal—akhirnya dia memilih untuk turun—bukan takut, sayang sekali. Dia bukan orang yang dengan mudah terintimidasi sekalipun ada benda tajam melayang ke arahnya. Dia hanya ingin memandang wajah orang yang kurang ajar tingkahnya.
"Apa maksudmu kami tidak perlu memanggil polisi? Katakan alasan logis yang membuatku percaya padamu." Gunting di tangan, siap menggunting udara—atau bisa dijadikan pengganti congkelan mata. Mahluk kurang ajar ini sudah berani merendahkannya.
"Kau tahu tentang klub kalian yang berselisih dengan Dewan Siswa, kan?"
Akashi menjenggit.
"Kurasa tidak. Yah—menjelaskan pula kau yang tidak pikir panjang sampai mau panggil polisi."
"Katakan tanpa bertele-tele. Apa kau mau kusobek mulutmu?" gunting dihunuskan pada wajah. Mayuzumi memandang dengan kesal, andai tadi dia tak menghindar pipinya akan benar-benar robek.
Dasar alien psikopat.
"Intinya, jika kau memanggil polisi, itu akan menguntungkan Dewan Siswa untuk membuat skandal dan menghancurkan klubmu."
"Hei—hei! masa sampai separah itu?" Ogiwara langsung memotong, sebesar apa masalah yang terjadi sampai ada penghancuran klub seperti itu. Hei, itu sama saja menghapuskan salah satu ciri Teikou yang terkenal dengan anggota basketnya yang kuat, kan?
"Aku sudah bersekolah tiga tahun di sini. Rumor itu sudah jadi rahasia umum guru dan murid kelas atas. Perselisihan lebih pelik dari yang kau duga. Kau bisa tanyakan pada senior di klubmu, mereka pasti tahu." Mayuzumi memandang Ogiwara datar—Ogiwara menegup ludah dengan pandangan yang membekukan itu.
"Itu alasan terkuatmu?"Akashi masih sangsi. Orang ini bahkan bukan anggota klubnya. Punya alasan apa dia sampai begitu menaruh atensi pada klub basket—yang jelas bukan urusannya (lain halnya dengan Ogiwara—yang dia tahu dari Kuroko—juga menyukai basket meski tak bergabung dengan klub).
"Jangan salah paham, aku tidak peduli dengan apa yang terjadi pada si poni dan Kuroko yang kau gembor-gemborkan ataupun pada klub kalian. Tapi, yang aku tahu aku tidak mau membiarkan si monyong itu terlibat dengan situasi tak menguntungkannya."
"Si Monyong?" Apa yang dimaksud adalah Nijimura?
"Otak jeniusmu pasti mengerti apa yang kumaksud." Tangan mengantongi buku ke saku, lalu berjalan pergi dan menjauh.
"Kecuali, kalau kau tidak bisa sedikit berpikir keluar batas dari teritorimu yang terpenjara itu, Akashi Seijuurou."
.
.
Akashi bersyukur saat itu dia langsung mengambil alih atas tubuhnya lagi—atau mungkin pemuda itu sudah tercabik-cabik oleh dirinya yang satu lagi.
Kata-kata itu—seolah menghunus tepat ke bagian terdalam dirinya. Yang terbungkus rapat dan tertutupi semak besi. Terkatup dalam belenggu. Tanpa sedikit pun celah terbentuk.
Manusia itu memanglah membuat Akashi kesal. Dia berkata tanpa sedikitpun memikirkan perasaan atau konsekuensi bagi lawan bicaranya. Tapi, entah kenapa dia merasakan sebuah rasa familiar seperti saat berhadapan dengannya...
Dengan Kuroko.
Apa karena hawa mereka? Apa karena kata-kata satir tanpa filterisasi?
Atau karena kedua orang itu selalu mengatakan hal yang—berbeda dari pandangannya—dan selalu membuatnya kembali berpikir?
"AKH!"
Akashi tersentak, langsung mendelik ke arah Ogiwara yang tak punya kendali rem pada volume suaranya.
"Ogiwara—bisakah kau—...?"
"Akashi! Itu! Di atas!" Ogiwara menunjuk dengan panik pada salah satu gedung. Bola mata yang begitu meranah dengan getir ngeri—sama halnya dengan yang terjadi pada Murasakibara—hingga membuatnya menoleh karena penasaran.
Binar darah terbuka lebar.
—biru sewarna langit, mungil dan rapuh, melayang di cakrawala seolah di tolak oleh langit. Menunggu waktu bersua bumi dalam debam yang menghancurkan—
"KUROKO!"
.
.
.
PSIUU—!
.
.
.
Akashi memfokus sekilas cahaya menuju pada tubuh yang melayang. Menghantam tepat—menembus pakaian sang bayangan, menghantam tembok setelahnya, membuat tubuh itu tergantung dalam ketinggian.
—sesaat.
Akashi menyadari pakaian yang tertembus itu merobek perlahan.
DRAP!
Tanpa perlu perintah verbal—impuls akan refleks membuat kaki itu mengambil langkah cepat. Berlari menuju pada sisi gedung. Mengejar waktu—semata demi nyawa sang biru yang di ambang maut. Jarak itu masihlah tinggi—dan cukup memberi waktu sampai Akashi mendapat posisi menangkap tubuh yang kembali terjun bebas. Menengadahkan tangan.
Tep
—kelinci kecil tertangkap. Rengkuh erat agar tak lepas.
SREEEEK—BRUAK!
Ouch. That's hurt.
"Akashi! Kuroko!"
"Aka-chin!"
"Kuroko—hei, bangun!"
"Dia pingsan Ogiwara." lirik pada warna langit yang menutup mata seolah lelap.
Akashi menengadah, melihat ke arah langit. Awal mula Kuroko jatuh—atau dijatuhkan. Fokus mengarah pada titik lain. Dimana sebilah batang—yang sempat menghentikan laju jatuh Kuroko—masih tertancap di atas sana.
Bentuk itu... itu anak panah. Ukuran itu cukup pendek dari panah biasanya. Panah bowgun, kah?
Pertanyaannya, siapa yang melakukannya?
Akashi menajamkan visual, berusaha mencari sosok tak kasat yang menjadi pahlawan di saat genting. Tapi, tidak ada satupun di sana. Hanya gemerisik dedaunan terhembus angin yang meramaikan.
Akashi merasa geram entah kenapa.
"Ngh..."
"Kuroko!" Ogiwara memanggil lagi nama sang sahabat yang bergelung di pelukan Akashi. Cerulean itu mengerjap pelan sambil meringis.
"Sudah bangun, Kuroko?"
.
Bagi Kuroko, mimpi buruk itu.
Saat dia diterjunkan dari lantai empat gedung setelah ditabrakkan ke kaca jendela sambil dicekik oleh seorang pembunuh.
Tapi, yang paling buruk lagi.
Saat dia membuka mata yang didapati adalah warna merah.
Merah yang jelek karena terlalu ngejreng—saking jeleknya terlihat bling-bling kalau terkena sinar mentari. Dan Kuroko selalu merasa warna itu terlalu menyilaukan—karena dia selalu merasa gemas ingin menjawilnya. Mengingatkannya pada strawbery di atas topping vanilla cake yang pernah dimakannya. Dan itu rasanya enak.
(Kuroko jadi lapar. Oh, iya—kan dia memang belum sarapan.)
Dan warna itu sama seperti tiran porno yang dia kenal. Bahkan, mengulas senyum menyebalkan yang sama. Senyum yang selalu membius para hawa—dan sebagian pria—karena ketegasan yang teduh dibaliknya.
Dan itu pulalah yang membuatnya kadang tak ingin menarik mata dari wajah itu.
Wajah seorang—...
"Aka...shi-kun..."
"Ya?"
Kok, dijawab? Lho, kok rasanya hangat? Eh, kenapa tangan itu mengelus pipiku? Tunggu, ini mimpi bukan, sih? Kok, rasanya dia semenyebalkan Akashi-kun yang di sekolah?
"Kuroko."
"!"—DUAGH!—kepala-kepala batu saling beradu.
Aw.
"Khh... Aku sudah tahu kau punya kepala batu Kuroko. Tak kusangka sekeras ini..." Akashi berkedut-kedut, tangan menahan hidung yang diseruduk kepala biru. Bisa dia pastikan organ itu memerah parah. Ah, sial. Dia mimisan.
Kuroko memegang jidat—terdakwa bersalah atas mimisannya hidung Akashi.
"Akashi-kun kenapa kau di sini?"
"Itu kata-kata pertama yang kau ucap pada orang yang menolongmu, heh? Sayang sekali, kupikir saat kau terbang tadi batu di kepalamu ikut terpencar—ternyata aku berharap terlalu tinggi."
Kuroko melihat dirinya, menyadari bahwa dia tak luka satu apapun—selain bahwa jaketnya yang robek melintang parah, sudah tak layak pakai lagi, harus dibuang ke pembuangan sampah terbakar di hari Kamis. Lalu, dia melihat Akashi. Lalu, posisinya sekarang—yang terduduk dalam pangkuan si merah, dengan sebelah tangan (yang tidak disangka ternyata) cukup kekar merengkuh pinggangnya. Lalu, wajah Akashi—yang cukup menggelikan karena hidungnya merah paska beradu, salahnya sih. Nanti saja minta maafnya.
Dan teringat kejadian beberapa saat lalu yang membuatnya putus asa akan harapan.
"Akashi-kun... Menolongku?"
Akashi memutar bola mata. Bagus sekali. Setelah jatuh sekarang Kuroko tambah lemot.
"Menurutmu?"
Kuroko mengatup. Dan Akashi seolah dibuat spot jantung berkali-kali hari itu—tak menyangka dengan satu tindakan, dalam imajinasipun tidak terbayang.
Saat kepala biru itu tertunduk di salah satu bahunya. Dengan kedua tangan mencengkram bagian depan bajunya dan—bisa dirasakan bahwa tangan itu gemetar pelan. Menyalurkan rasa takut yang tertahan dari tubuh itu.
Haah...—Akashi merasa bodoh karena tidak peka.
Hal semacam itu pasti akan selalu membekas pada hatinya.
"Tenanglah. Sudah tidak apa-apa."
Jemari mengelus surai biru. Mengelus pelan warna yang begitu lembut yang tertunduk. Turun ke punggung dan diam di sana. Membiarkan remaja itu menyalurkan pelan dalam diam buncah emosi yang dia rasa.
Kuroko bergeming. Dia tidak mengisak, tapi tetap belum siap menengadah. Dia malu—tapi sangat bersyukur.
Sesekali menjatuhkan harga diri di depannya pasti tidak apa-apa.
"Terima kasih... Akashi-kun..."
—kau menyelamatkanku. Lagi.
"Ya."
.
.
("Err, kok kita kayaknya jadi nyamuk, ya?", Krauskrauskraus! Murasakibara makan dengan ganas. Lovey dovey di depan orang yang gebetannya diculik adalah tindakan paling tak peka. "Setelah membinasakan Kapten-chin, aku akan menghancurkan mereka.", "...")
.
.xOx.
.
Nijimura berlari.
Oke, lupakan janjinya tadi dengan Kuroko untuk duduk diam sambil menunggu informasi darinya—waktu terlewat cukup lama untuknya, Nijimura tentu punya prasangka jelek tentang kondisi anak itu. Bisa saja dia terjebak di suatu ruangan. Atau, dikejar preman. Atau mungkin tertangkap dan babak belur dipukuli. Yang manapun bisa terjadi mengingat kapasitas tindak-tanduk anak itu tak pernah bisa dinalar otak-otak orang waras.
Selain itu ada hal lain yang membuat dia memutuskan bergerak kembali.
Saat duduk di sudut yang sepi itu dia mendengar suara yang familiar—mengingatkannya akan detik jam—tapi sungguh suara itu tak wajar berada di sana. Hingga dia memutuskan mencari.
Dan menemukan sebuah rakitan jam—dengan kabel, dengan dinamit, dengan waktu yang bergerak mundur dalam hitungan.
Bom.
Dan terpasang hampir di setiap sudut koridor yang dia lewati.
Gila.
'Jadi ini yang mereka maksud bermain bagus, heh? Dasar gila!'
Ya, Nijimura tahu kalau pemasang bom-bom itu adalah anak buah Takasugi—dia sempat memergoki salah satunya. Sialnya mereka sudah kabur sebelum Nijimura sempat menghajar salah satunya. Sialan.
Kalau begini dia harus cepat menemukan Himuro—yakinlah kalau Takasugi sendiri pasti tak mengetahui pengkhianatan yang terjadi, karena tujuan mereka adalah untuk membunuhnya. Mereka berdua pasti masih ada di gedung ini. Pokoknya dia harus cepat menemukan dan keluar dari tempat ini.
Waktunya sudah kurang dari satu jam.
'Sial! Sial! Ke mana Kuroko mencarinya!? Di mana Himuro sebenarnya!'
Tapak langkah banyak kaki berdebam di salah satu sisi persimpangan yang akan dilalui. Nijimura refleks berhenti sesaat sebelum bayangannya melintasi. Tarik nafas. Mungkin, salah satu dari preman-preman itu.
Tapi, kali ini Nijimura tidak akan sembunyi. Tidak dengan situasi di mana waktu sangatlah sempit.
BUAKH!
Pukulan melayang diarahkan pada sudut mati—dan kepal itu tertahan oleh tameng lengan orang yang diserangnya. Nijimura awalnya ingin merutuk dengan serangan tiba-tibanya yang dipatahkan. Tapi, tidak terjadi.
Melihat surai keunguan yang dia familiar spektrumnya.
"Gezz... Sakit—ck, Kapten-chin!"
"Murasakibara! Kenapa kau—?"
Kelereng hitam berpindah pada sosok mungil berwarna biru dan merah dan warna cokelat yang dia asing penampakannya.
"Akashi! Kau juga kenapa di sini—sejak kapan kau bersama Kuroko?"
"Ceritanya panjang Kapten. Aku sudah tahu tempat Himuro-san berada. Tunggu, kenapa kau tidak istirahat Kapten?"
"Kau pikir aku punya waktu—dengar! Kita harus cepat! Ada bom di gedung ini!"
Respon terperangah.
"Itu menjelaskan kenapa tidak ada satupun orang di sini selain kita." gumam Akashi yang memang merasa ganjil dengan kondisi yang ada—sejak mereka menapak kaki masuk sungguh tak menyangka mereka tak mendapat sambutan sesuai bayangan. Tidak berpikir kalau tempat itu tak pernah dijamah manusia, karena nyatanya sisa-sisa dan bukti kriminalitas masih tersisa dengan tak sedikit—salah satunya bercak darah yang belum sepenuhnya mengering di lantai.
"Apa dia bermaksud menghapus bukti bersama sanderanya?"
Hal itu wajar jika dalam keadaan terdesak.
"Tidak."
Sekian mata menoleh pada suara bening yang menjawab. Beberapa mengangkat alis, sisanya tidak mengerti dan ada satu yang berusaha mengkonfirmasi maknanya.
Karena, nada itu tegas tanpa sedikirpun kata ragu terselip di sana.
"Orang itu tidak bermaksud mencelakakan Himuro-san."
Tidak dengan pandangan mata yang menanar saat menyebut namanya.
Nijimura ingin bertanya dengan sikap Kuroko yang tak ubahnya mengetahui, tapi dia tak memusingkan hal ini. Untuk saat ini. "Kau benar, yang memasang adalah anak buahnya—yang penting, Kuroko! Di mana tempat Himuro disekap."
"Lantai empat. Ada anak tangga kecil yang diapit dua ruangan. Di atasnya ada pintu—aku tadi dijatuhkan dari sana."
"Bagus—APA! KAU DIJATUHKAN!?"
"Yang penting aku tidak apa-apa sekarang." monoton.
"Bukan itu masalahnya Kuroko..." Ogiwara pias. Kalau, sampai sahabatnya itu kenapa-kenapa dia yang tidak akan selamat.
"Jangan menyepelekan nyawa Kuroko. Kalau aku tidak menolongmu kau sudah tiada."
"Maaf, Akashi-kun." Kuroko mendadak patuh. Mungkin efek paska terjun-bebas masih tersisa jadinya dia manut saja saat diceramah.
"Kau pasti akan berbuat yang tidak-tidak kalau tak diawasi. Jangan bilang kau bermaksud menjinakkan bom, huh? Intelegensiamu tak sampai pada tahap itu Kuroko. Bukannya menjinakkan, aku yakin menemukanmu jadi serpihan daging cincang."
"Akashi-kun jangan menghina. Aku tidak sebodoh itu—tidak sebodoh Ogiwara-kun, tentu."
"Hei! Kuroko! Kenapa aku yang jadi tumbal!"
Jitak melayang ke tiga kepala.
"Kita kehabisan waktu gara-gara kalian." Nijimura berurat di pelipis. Sudah merah, seram, mau makan orang. (dalam hati Akashi kembali mengingat sumpah untuk membunuh Nijimura. Kapan-kapan).
"Aku akan ke sana sendiri. Kalian bertiga keluar dari gedung ini—jangan hilang-hilangan lagi."
"Kapten—..." Kuroko melebar, dia hendak maju lalu protes.
Sampai tangannya ditarik.
"Pergilah Nijimura-san."
"Akashi-kun!"
Si merah mengapit mulut si biru untuk diam.
"Waktumu kurang dari empat puluh lima menit, Nijimura-san. Pastikan kau akan menemukan Himuro-san dalam waktu tiga puluh menit."
Binar merah bersitatap dengan jelaga hitam.
"Jika, kau tidak menampakkan diri dalam kurun waktu itu aku akan bertindak dengan caraku sendiri."
Keputusan final.
Nijimura tersenyum.
"Aku tidak tahu apa yang akan kau lakukan, Akashi—tapi, aku bisa mempercayakannya padamu." dorong punggung si biru lebih dalam ke merah. Lalu, menepuk pelan kedua pundak merah dan cokelat.
"Jaa."
Sosok itu menghilang dengan cepat.
Kuroko menepis tangan Akashi. "Kenapa kau biarkan Kapten, Akashi-kun!? Dia sedang luka!"
"Kuroko dengar—..." Akashi menarik nafas panjang, siap-siap tarik urat suara. Kuroko masih menepis kasar. Akashi ganti tarik urat kepala.
Plak!
Kedua tangan menepuk pipi putih keras. Mengunyel-unyel supaya diam. Kuroko risih pipinya dipergunakan dengan tidak senonoh.
"Dengar—jangan gigit tanganku aku bukan makanan—Kuroko."
Ada nada ketegasan yang serupa saat mahluk ini memberi pengarahan di lapangan, Kuroko akhirnya diam—sambil manyun.
"Nijimura-san tidak akan apa-apa. Dia lebih kuat darimu—semua juga tahu hal itu kalau kau hanyalah moluska sekarat yang coba-coba jadi atlit."
Andai Akashi tahu apa yang sudah Kuroko perbuat pada sebuah tembok di gedung ini mungkin dia akan malu sendiri.
"Dia akan membawa kembali Himuro-san."
Akashi menekan kedua pipi.
"Aku jamin."
Di titik ini Kuroko terpekur.
Apa emosi yang membuatnya tak ingin lagi menyangkal kata-katanya? Yang membuatnya ingin menaruh rasa percaya padanya?
Apa ini karena Akashi selalu bertanggung jawab akan tindak-tanduknya?
Atau yang lain?
Akashi melepas kedua pipi yang sudah memerah kanan kirinya, tersenyum tipis dengan angguk pelan yang terlancar.
"Kita keluar dulu, Kuroko. Ogiwara, kau juga jangan melamun."
"Eh—oh, ya!" Ogiwara kaget—ternyata dia masih dinotis keberadaannya.
Sambil melangkah, Ogiwara membatin dalam hati mengamati punggung yang berjalan di depannya—yang awalnya mawas untuk mencari, yang berpikir dan yang gelisah walau tak tampak di permukaan.
'Bukannya dia juga sama saja dengan Kuroko?' kunci pada kedua tangan yang saling menggandeng satu sama lain. Melindungi dan dilindungi.
Apa dia tak sadar? Atau pura-pura mengabaikan? Bukankah tindak tanduknya saat ini tak lebih dari sebuah afeksi berlebih pada si biru?
Dia mencari. Dia khawatir. Dia berlari pergi—abai konsekuensi akan nama besar yang disandangnya. Acuh dengan cidera tubuh yang mungkin didapat. Memberi rasa aman pada langit dalam rengkuhannya.
'Jangan-jangan—sebenarnya Akashi—pada Kuroko...' kepala cokelat membuat konklusi. Sebuah fantasi mengerikan kalau-kalau keduanya mendengar apa yang dikatakan hati.
Tanpa sadar, senyum terkulum.
"Eh, ngomong-ngomong mana Murasakibara?"
.
.xOx.
.
Tubuh besar menyusuri koridor.
Murasakibara bukanlah tipe yang mau bersusah payah, seenaknya dan baru patuh kalau diiming-iming kudapan. Lihat saja dengan tabiat yang selalu tertidur di tengah kegiatan (belajar, latihan, bahkan saat pup—sudah diklarifikasikan pada pihak-pihak yang tak bisa dibantah), makan saat berbagai kegiatan (belajar, latihan bahkan saat—tunggu! Kayaknya kalimat ini pernah ditulis), dan baru manut kalau yang bicara sudah pegang snack di tangan—khusus Akashi, gunting di tangan.
Apa yang menjadi minatnya, sulit diketahui. Makanan sudah pasti. Tidur sudah pasti. Basket? Entahlah—dia hanya ikut-ikut Himuro saja—lagian kalau dia ikut bisa dapat kudapan gratis dari Himuro.
Himuro—Muro-chinnya itu orang yang aneh. Terkadang selalu memaksakan kehendak padanya—dan menggunakan berbagai cara untuk mendapatkan apa yang dia mau saat berkaitan dengannya. Memaksanya untuk cuci tangan sebelum makan atau menariknya paksa saat sedang malas latihan.
Muro-chin orang yang menyusahkan.
Tapi, dia selalu di sampingnya. Satu dari sekian juta nyawa yang mau mengerti dirinya dan memahami rengekannya.
Saat itu... Dia terdiam.
Mendapati penampilan Nijimura yang babak belur dan memar sekujur tubuh membuat Murasakibara tidak habis pikir—kenapa bisa? Apa dia melakukan ini demi Himuro?
"Bagus bukan—wajar kalau dia... Menderita."
Bukannya dia yang mengucap dengan satir padanya bahwa dia tidak peduli dengan Himuro? Bahwa dia memandang sebelah mata pemuda itu?
Tapi, kenapa dia masih mau memasang badan untuknya? Bergerak untuk mencari meski tubuhnya kepayahan?
Sebenarnya, apa arti Himuro untuk Nijimura?
Murasakibara tidak mengerti. Menolak untuk mengerti.
Kaki berhenti di sebuah lantai yang dimaksud, memandang julang tangga yang terapit dua ruangan. Kecil seperti deskripsi.
Buru nafas di wajah yang tak lagi kanak-kanak parasnya—sekarang diri itu adalah seorang yang menapaki langkah dewasa. Yang memantapkan diri untuk tak lagi bergantung.
—sekarang giliran dirinya untuk bergerak.
Jika, tidak entah kenapa dia merasa akan kalah.
.
.
.
Kret
Himuro melancarkan pandangan membunuh pada Takasugi saat sosok itu masuk ke dalam ruangannya. Tanpa basa-basi menyerbu dengan pertanyaan yang mengganggunya.
"Suara pecah apa itu? Apa yang sudah kau lakukan!?"
Emosi. Sudah tak ada tempat lagi baginya untuk tenang dan berpikir dingin. Katakanlah, dia mengetahui ada sosok yang sempat bertandang di depan pintu kamarnya—namun, Himuro tetap diam, karena tak menotis itu siapa, karena dia tak yakin ada orang yang memiliki akses ke tempat dia berada selain Takasugi.
Tapi, suara itu membuatnya buyar. Suara pecahan dan jerit tertahan dalam rontaan yang ia familiar dengan kebeningan nadanya.
Itu Kuroko.
"APA YANG SUDAH KAU LAKUKAN PADA KUROKO! MANA DIA!?"
Klangklangklang—besi-besi beradu dengan ganas. Tangan terlingkar sudah memerah, lecet-lecet hingga mengalir darah. Bisa Takasugi lihat betapa keras perjuangan anak ini untuk lepas dan kabur—darinya.
"Jatuh."
Satu kata yang menghantam telinganya—menyodok emosinya, menghujam sadis relung jiwa.
"Mungkin mati—kalaupun hidup dia akan cacat dengan ketinggian seperti itu."
Lalu, terngiang-ngiang dengan kejam.
Jatuh. Jatuh. Jatuh—mati.
Kuroko mati?
Mati...
"AAARGH! LEPAAS! LEPASKAN AKU!" KLANGKLANGKLANGKLANGKLANG!
"Sial! Sial! SIALAAAN! LEPASKAN AKU SHINSUKE!"
Di kepala Himuro saat ini yang terbayang adalah wajah Kuroko. Kuroko. Kuroko, anak biru yang selalu memberinya perhatian dengan caranya sendiri—meski, mengesalkan dan selalu membuatnya tersentuh. Lalu, Kurokono seraya kerabat yang ia tahu—berganti menjadi kekecewaan pedih akan kehilangan orang yang dia sayangi. Karena bagi orang itu Kuroko adalah titipan yang berharga.
Sang Master yang dia tahu sangat peduli padanya, memperhatikan dan menjaga seolah dia bagian dari diri itu—kenapa harus dia pulalah yang merasa pedih karena dirinya?
Apa yang dia lakukan—?
Kenapa karma begitu kejam padanya—apa dia tak bisa sedikitpun diberi maaf? Kenapa aku tidak bisa lepas dari jeratnya? Apa selamanya akan seperti ini? Kenapa? Kenapa?
Kalau begitu apa artinya dia hidup—
"Khh..."
—yang dilakukannya hanyalah memberi kepedihan bagi orang lain.
Tak ada kata yang memberi tanggap jeritan itu. Ataupun isak itu. Ataupun kepedihan itu.
Takasugi hanya diam. Memandang dalam diam. Sosok seekor kupu yang terkulai karena dua sayapnya sudah tercabik sedemikian rupa. Yang tak punya tenaga lagi untuk melangkah. Yang hilang harapan, asa dan tujuannya.
"Jawabannya mudah saja."
Dor—!
Sebuah tembakan—pada belenggu yang merantai kedua tangan itu—yang lemah bahkan sekedar untuk mengangkat tangan. Sisi yang terputus mengasap, panas akan gesekan tak lagi dihiraukan Himuro.
Karena, Takasugi sudah meyakini. Bahwa, tak ada niatan lagi baginya untuk lari.
Karena, dia pasti mengerti untuk lepas dari semua ini—
"Kau hanya perlu pergi dari kehidupan mereka."
Ya. Pergi.
—kembali lari dan meninggalkan semuanya.
.
.
Lari?
Sungguh cara yang mudah bukan? Yah, dia bisa melakukan itu. Bukankah selama ini dia selalu melakukannya.
Berlari.
Dan bersembunyi adalah sisa pilihannya.
Orang ini memaksanya kembali lari.
Setelah dia lari dia akan apa?
Mengulang hal yang sama?
Itu hal yang bodoh, kan?
Padahal, belum sekalipun dia meminta maaf pada mereka—orang-orang yang mempedulikannya sekaligus yang ia sakiti.
.
.
Shuuzou—aku sudah berbuat salah yang tak terhitung padanya.
Mengucap bohong. Menyembunyikan fakta. Bertingkah seolah tidak tahu apa-apa tentangnya.
Tapi, sampai saat ini tak sedikitpun orang itu mengabaikannya.
.
Seolah belum cukup—keberadaan Master yang tak pernah sekalipun abai menambah variasi hari-harinya.
Meskipun, dia sungkan—karena merasa tak pantas—orang itu selalu memaksa agar dirinya mendapat yang terbaik. Menjadi dewasa yang selalu menjaganya.
Memperhatikannya. Mengasuhnya dari balik layar.
.
Atsushi... ah.. anak itu. Entah sudah berapa kali dia melanggar janji padanya.
Harusnya hari ini—Dia akan berlatih kembali di klubnya.
Dia sudah berjanji—...Pada Atsushi.
.
Anak itu... pertemuan mereka terjadi karena ketidaksengajaan—karena, dirinya yang terlalu kalut dan dia yang terlalu peduli. Menolongnya di saat kritis dan menangisi kesayangannya yang tak sengaja dia hancurkan. Sampai pada akhirnya mereka sering bersanding karena satu ajakan darinya yang—sungguhnya, tak sampai hati agar dipahami. Tapi, dengan polosnya dia menerima itu (walau malas-malasan).
Himuro senang.
Himuro... —mengaguminya.
Secara fisik—bentuk tubuh, tinggi yang menjulang, lengan yang panjang, otot yang terbentuk sempurna, surai ungunya, raut malasnya, sklera amethyst yang bersinar hidup saat balas memandangnya—juga psikisnya—yang selalu manja, mengandalkannya, menjadikannya tumpuan dan memandangnya berharga. Kepolosan yang seperti anak-anak. Tabiat yang tak pernah mau kalah. Juga kejujuran... apa yang dia rasa.
Ingin menjadi seperti dia. Ingin dia kembali bermanja. Ingin menjadi polos dan tidak tahu apa-apa.
Dan—ingin sekali dia bisa mengucapkan dengan gamblang... harap yang selalu tersangkut sampai sekarang.
.
"...tolong..."
Ingin sekali memohon harap.
Takasugi bergeming.
Tubuh itu masih meringkuk tak berdaya. Masih berurai air mata. Masih tersengau isaknya dia dengar.
Yang berbeda adalah bibir itu mengucapkan permohonan.
—memohon untuk ada yang peduli padanya. Mencari dirinya.
Permohonan untuk hidup.
.
"Tatsuya—..."
.
BRAK!
"MURO-chin!"
.
.
TBC
.
.
A/N: Maaaf! Telat tiga hari dari jadwal seharusnya. RL saya padet banget sama kerjaan bahkan pegang HP buat ngetik gak bisa. Baru bisa mulai ngetik pas libur kemarin, ternyata gak bisa keburu. (sampai ditanyain kapan apdet sama yayang...huhuhu... Maaf ya... Baru bisa sekarang apdetnya).
Btw, chapter ini sedikit lebih pendek dari sebelumnya. Jujur saya mandek. Bingung mu diterusin apa mau sekalian scene final di chapter selanjutnya.
Pokoknya, thanks banget dah mau baca (dan nunggu) #gak ada yang mau #cedyih
Reply for Anonymous Reviewers:
Dera190100: Mayuzumi sesuai dengan namanya, dia abu-abu (singkatnya gak jelas) #dilempar. Kuroko gak kenapa-napa kok. Dia masih menye seperti sebelumnya #dilemparbabakdua. Saya semangaaat! Thanks for Review.
l4e: Akashi nyelametin kok! Wahahahaha! Iiih, Takasugi berasa pedo banget, deh. Oke, thanks for review.
Gimmemore: genre memang lebih menitik beratkan humor. #supaya gak baper #gagal. Hehe, mungkin kalau menurut kamu begitu, tapi ini saya sudah ambil setting paling ngalir, ljo. AkaKuro moment bertebaran. Thanks for Review.
Aoi: Akashi terbang menyelamatkan Kuroko. #gak eeeh... Aku gitu ya. Suka bikin orang nelangsa #fetish gue ketahuan #eh? Nggak, Kuroko gak wow, kok. Kalo dia jadi wow ntar Akashi kalah seme. haha. Thanks for Review.
ai chan: gak bisa cepeeet! Maaf! Makasih dah baca. Thanks for Review.
himenohanachan: muka tembok itu selalu jleb. Gak pernah nggak (hukum dasar yang tak telanggar). Sudah apdet, ya. Thanks for Review.
Thank's a Lot for You
I Need Reviewww!
Update: 30th December 2015
