Title: KISAH CINTA

Main Casts: Luhan, Sehun, etc

Pairing: Hunhan

Genre: Kingdom AU

Rated: T

Disclaimer: Fiksi ini merupakan karya dari Sherls Astrella dengan judul yang sama.

Di sini saya hanya ingin berbagi cerita dengan maincast member EXO.

Jadi cerita ini MURNI MILIK Sherls Astrella.

Untuk link-nya bisa dilihat di akhir cerita :)

Warning: it's Genderswitch!

Happy reading!

.

.

.

Chapter 14

.

.

.

Luhan memandang keluar kereta dengan pandangan menerawang.

Walaupun Luhan memutuskan kepergiannya secara mendadak, waktu itu sudah lebih dari cukup bagi Seohyun untuk mempersiapkan semuanya. Kepergian yang rencananya hanya terdiri dari Duke of Vinchard, Duke of Cookelt dan sang Lady Luhan Yvonne Elwood, sekarang menjadi sebuah rombongan kecil.

Luhan duduk di dalam kereta terdepan bersama kedua Duke. Di belakang mereka mengekor kereta berisi pelayan-pelayan yang menyertai kepergian mereka termasuk Seohyun. Dan di urutan paling belakang, kereta barang mereka atau tepatnya barang-barang Luhan.

Luhan tidak mengerti mengapa ia harus membawa berkoper-koper pakaian dan perhiasan ke Trottanilla. Ia pergi ke Trottanilla bukan untuk bersenang-senang. Kepergiannya murni karena tugas sebagai wali Duke of Cookelt. Terima kasih pada Seohyun, sekarang ia lebih terlihat seperti hendak pindah ke Helsnivia.

Entah apa kata orang. Kemarin ia menolak sang Pangeran dan pagi ini ia meninggalkan Helsnivia seperti ini.

Sehun mungkin marah. Sehun mungkin berpikir ia tengah melarikan diri. Namun Luhan tetap berpendapat ia telah membuat keputusan yang tepat. Ia tidak akan pernah menyesali keputusannya ini.

Andai Sehun bersungguh-sungguh. Andai itu adalah cinta sejati… Luhan mendesah.

"Kau baik-baik saja, Luhan?" Duke Leeteuk bertanya cemas.

"Luhan pasti tidak ingin ke Trottanilla," komentar Jongin, "Bukankah Luhan datang ke Helsnivia karena ia melarikan diri dari Trottanilla."

"Benarkah itu, Luhan?" Duke Leeteuk prihatin, "Kau tidak perlu ke Trottanilla. Aku bisa mewakilimu."

"Tidak, Kakek," Luhan menolak, "Aku tahu aku bisa mempercayai Kakek. Namun aku tetap ingin ke Trottanilla. Aku ingin mengunjungi Papa dan Yunho."

"Changmin?" wajah Duke Leeteuk langsung berubah.

Luhan sadar sampai kapan pun nama itu tetaplah merupakan topik yang paling sensitif bagi Duke Leeteuk.

Di luar dugaan Luhan, Duke bertanya, "Apakah aku boleh menemanimu mengunjungi makam mereka, Luhan?"

"Tentu saja, Kakek. Mereka pasti akan senang dapat bertemu dengan Kakek," dan Luhan menambahkan dengan suara lirih, "Terutama Papa."

Duke of Vinchard tersenyum. Telah banyak yang ia lewatkan dalam bertahun-tahun ini dan telah banyak kesalahan yang ia lakukan. Ketika memutuskan menjemput Luhan pulang, Duke Leeteuk juga memutuskan untuk menambal semua kekurangan itu.

Luhan kembali mengalihkan pandangannya ke luar jendela.

Kepergiannya ke Trottanilla ini bukanlah suatu kesalahan. Ia membutuhkan waktu untuk mengusir Sehun dari pikirannya. Ia membutuhkan waktu untuk melupakan Sehun. Ia hanya bisa melakukannya ketika Sehun tidak ada di sisinya.

Mungkin… selama itu pula Sehun akan sadar semua perasaannya hanyalah khayalannya semata. Semua itu hanya perasaan sesaat seperti yang selalu ia rasakan pada wanita mana pun.

Karena itu Luhan tidak pernah membuang waktunya untuk bersenang-senang di Trottanilla.

Kedatangan Duke of Vinchard beserta sang cucu yang baru ditemukannya telah menyebar luas sebelum mereka tiba. Mereka juga telah tahu Duke Leeteuk akan tinggal di Sternberg selama mereka berada di Trottanilla. Berkat berita burung itu, surat undangan sudah menumpuk di Sternberg sebelum mereka tiba.

Saat melihat surat-surat itulah Luhan mengerti mengapa Seohyun bersikeras mempersiapkan gaun-gaun pesta untuknya dan berbagai macam perhiasan.

"Sekarang pandangan semua orang padamu sudah berubah," komentar Duke Leeteuk di suatu pagi.

Benar, pandangan mereka sudah berubah. Pertama, karena ia adalah cucu seorang Duke yang berpengaruh di Helsnivia. Kedua, karena ia adalah wali Duke of Cookelt yang masih muda. Hanya satu hal tidak berubah. Sikap para pria kepadanya sama sekali tidak berubah!

"Sayangnya," ujar Seohyun beberapa saat mereka tiba di Sternberg, "Duchess Jessica tidak ada."

Menurut para pelayan Sternberg, Duchess Jessica sudah menghilang sejak berita kedatangan mereka tersebar.

"Ia pasti malu bertemu Anda," komentar Seohyun pula.

Tentu saja Luhan tidak mempercayainya. Ia tahu Duchess Jessica terbelit hutang besar sedangkan almarhum suaminya memaklumatkan penerusnya tidak boleh memberikan sepeserpun harta keluarga Riddick padanya. Duchess tentu tidak akan membuang harga diri hanya untuk memohon pada putranya dan sang gadis yang dipercayainya sebagai anak haram almarhum Duke Yunho. Satu-satunya yang bisa melepaskannya dari belitan hutang ini adalah menghilang dari muka bumi.

Yoona masih ada di Sternberg ketika mereka tiba. Walaupun Yoona tidak mengakui, sikapnya kepada Luhan telah berubah. Walaupun tidak menyukainya, Yoona tidak membentak ketika Luhan memanggil namanya. Walaupun wajah kesal tidak hilang dari wajah cantiknya, Yoona tidak memprotes ketika Luhan memberikan sarannya.

Perubahan sikap yang paling menyolok adalah para pelayan Sternberg. Mereka yang dulu tidak menyukai Luhan sekarang menghormati Luhan bahkan menyanjungnya.

Sikap mereka membuat Luhan semakin sadar betapa pentingnya kedudukan, garis keturunan, dan kekayaan di mata banyak orang. Tentu saja hal itu tidak berarti bagi Seohyun.

Seperti yang dilakukannya pada Jongin, Seohyun memberikan pelajaran tata krama pada Yoona. Tidak satu kesalahan pun ditolerirnya. Ia juga tidak mengijinkan Yoona bersenang-senang. Tanpa peduli protes Yoona, ia mengatur jadwal harian sang Lady. Sikapnya yang tegas dan tanpa takut itu membuatnya menjadi sang pemimpin pelayan di Sternberg hanya dalam dua hari.

Sikap Seohyun itu tentu saja tidak membuat Yoona senang. Semakin ia memberontak, semakin keras sikap Seohyun. Jika Yoona berani menggunakan kekerasan, Seohyun tidak ragu untuk melawan balik. Ketika Yoona mengeluarkan umpatannya, Seohyun tidak takut untuk menampar gadis itu.

Sayangnya bagi Yoona, ia tidak dapat melakukan apa-apa. Seohyun adalah pelayan Duke of Vinchard dan Seohyun bukan penduduk Trottanilla.

Yoona tidak menyukai Seohyun namun ia tidak akan meninggalkan Sternberg karena hanya inilah satu-satunya tempat ia bermalam. Selain berharga diri tinggi seperti Duchess Jessica, Yoona juga takut hidup susah.

Dari sekian banyak tanggapan atas kedatangan Luhan ini, hanya satu orang yang benar-benar gembira melihatnya.

Jongdae tidak henti-hentinya mengucapkan puji syukurnya. "Saya turut bergembira untuk Anda, Tuan Puteri. Duke Yunho dan Tuan Changmin pasti turut berbahagia untuk Anda. Mereka menginginkan ini sejak lama."

Luhan terkejut. Saat itulah ia baru tahu ternyata Jongdae juga telah mengetahui asal usulnya. Jongdae juga tahu mengapa Duke Yunho bersikeras memulangkannya ke Trottanilla.

Luhan merasakan kehangatan dalam hatinya. Ia tidak sebatang kara. Selalu ada orang yang memperhatikannya, mencintainya dan melindunginya.

Chanyeol adalah orang yang paling terkejut dengan kedatangannya.

Berita tentangnya belum terdengar di Hauppauge sehingga pemuda itu sempat mengira ia menikah dengan Jongin yang saat itu menyertai kepergiannya dan Duke of Vinchard. Tahu ia adalah cucu seorang Duke, sikap pemuda itu langsung berubah. Dari tindak-tanduknya, Luhan sadar pemuda itu kikuk padanya. Chanyeol tidak tahu lagi bagaimana harus bersikap kepadanya. Chanyeol yang telah menjadi kawan baiknya bahkan sempat melamarnya itu tidak tahu bagaimana ia harus memperlakukan seorang gadis miskin yang tiba-tiba menjadi cucu seorang Duke. Juga tidak sedikit penduduk Hauppauge yang menjadi kikuk padanya.

Demi sopan santun, Duke of Vinchard menyempatkan diri memenuhi undangan yang telah tiba di Sternberg sebelum kedatangan mereka. Duke Leeteuk selalu membawa Luhan besertanya. Mereka tahu tujuan undangan itu bukan hanya untuk sang Duke Leeteuk namun juga untuk melihat sang cucu yang pernah menjadi anak haram almarhum Duke Yunho.

Pria-pria berebutan untuk menjadi pasangan Luhan namun gadis itu tidak rela meninggalkan sisi Duke Leeteuk. "Maaf, saya saya tidak dapat meninggalkan sisi kakek," katanya setiap saat.

Sikap Luhan itu membuat Duke Leeteuk berkeluh kesah, "Jangan terus menempel padaku. Pergilah bersama pria-pria itu. Pasti ada seseorang yang menarik perhatianmu." Dan Luhan akan menjawab, "Aku hanya ingin berada di sisi Kakek. Apakah Kakek tidak suka?" Itu adalah sebuah jawaban yang tidak bisa ditolak Duke Leeteuk.

Rencana awal mereka, setelah menyelesaikan segala yang perlu diurus, Jongin akan ditinggalkan di Trottanilla. Namun rencana itu tidak hanya berubah melainkan juga diperpanjang demi beberapa urusan mendadak.

Pertama, atas saran Duke Leeteuk, Luhan atas nama Duke Cookelt membereskan hutang-hutang Duchess Jessica. Kedua, walaupun Luhan tidak menginginkannya, mengeluarkan peraturan yang harus dipatuhi Yoona untuk dapat terus menerima kucuran dana. Ketiga, atas keinginan Jongin, mengumumkan kepada setiap bawahan Duke Cookelt bahwa sang Duke akan tinggal di Helsnivia untuk waktu yang tak terbatas. Akibat keinginan Jongin itu pula, Luhan harus mengatur tugas setiap orang di bawah pimpinan Duke of Cookelt. Selain itu, atas keinginan Luhan, mencari jejak Duchess Jessica.

Pekerjaan terakhir inilah yang paling merepotkan dan juga memakan waktu. Walaupun Jongin menentang keinginannya ini, Luhan tetap bersikeras menemukan Duchess Jessica. Walaupun Duchess tidak pernah berbuat baik kepadanya, Luhan tetap tidak bisa berdiam diri memikirkan Duchess yang selalu hidup mewah itu mungkin sedang hidup sengsara. Selain Jongin, Seohyun juga tidak menyukai keputusannya ini.

"Untuk apa Anda mengkhawatirkan wanita itu!? Dia sudah menghina Anda!" omelnya setiap saat. Namun Luhan tetap bersikeras pada keputusannya ini. Sejak kecil ia tidak pernah melihat ibunya. Ia tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ibu. Ia tidak bisa membiarkan orang lain menyia-nyiakan ibunya. Walaupun Duchess Jessica tidak pernah melakukan tugasnya sebaga sebagai seorang ibu, Duchess Jessica tetaplah ibu Yoona dan Jongin.

Hanya Duke of Vinchard seorang yang mendukung keputusan Luhan. Bahkan Duke Leeteuk bersedia menggunakan kekuasaannya untuk membantu Luhan dengan syarat Luhan atau siapa pun tidak boleh memaksa Duchess kembali ke Sternberg. Apabila Duchess bersedia kembali, maka ia harus menuruti peraturan main untuk tetap bisa tinggal di Sternberg, peraturan sama yang harus dituruti Yoona.

Menurut Duke Leeteuk, hanya ancaman yang bisa mencegah kedua wanita itu menghancurkan keluarga Riddick. Sebagai wali Duke Cookelt, Luhan tidak hanya bertugas membimbing sang Duke namun juga menjaga keutuhan dan kehormatan keluarga Riddick. Sependapat dengan kakeknya, Luhan menerima syarat itu.

Sebulan setelah pencarian dimulai, jejak Duchess Jessica ditemukan di pinggiran Trottanilla.

Seperti dugaan Luhan, Duchess tetap bergaya hidup mewah walaupun ia tidak lagi mempunyai uang. Ia memanfaatkan kecantikannya serta gelar sebagai seorang Duchess untuk mendapatkan yang terbaik. Sikapnya ini membuat Luhan harus menyelesaikan persoalan baru yang ditimbulkannya selama pengembaraannya ini. Yang tidak Luhan duga adalah kesediaan Duchess untuk pulang dengan syarat memenuhi semua peraturan yang telah ditetapkan Luhan atas nasehat Duke Leeteuk! Tanpa komentar maupun bantahan, Duchess Jessica bersedia ditempatkan di peristirahatan keluarga Riddick yang jauh dari keramaian bahkan dapat dibilang cukup terpencil.

Luhan menduga sebulan tanpa kemewahan yang selalu dinikmatinya membuat Duchess pasrah. Mungkin bagi Duchess lebih baik hidup terkekang namun tetap dilayani puluhan pelayan daripada hidup bebas namun tanpa sedikit kemewahan pun.

Dengan ditemukannya Duchess, berakhir pulalah masa tinggal mereka di Sternberg.

Baik Duke Leeteuk maupun pelayan-pelayan Quadville yang menyertai bersemangat menanti hari kepulangan mereka. Mereka tidak pernah meninggalkan Helsnivia untuk waktu selama ini dan mereka sudah sangat merindukan tanah air mereka serta sanak keluarga mereka.

"Akhirnya kita akan pulang," ujar Seohyun sambil melipat gaun-gaun Luhan. "Malam ini Anda harus segera tidur. Besok pagi-pagi kita akan meninggalkan Sternberg," Seohyun memberi peringatan keras kepada Luhan lalu setengah melamun ia berkata, "Rasanya sudah lama sekali saya meninggalkan Quadville. Saya tidak sabar ingin segera memeluk cucu-cucu saya."

Luhan hanya mengangguk.

"Mengapa jawaban Anda hanya itu?" protes Seohyun, "Apakah Anda tidak ingin pulang ke Helsnivia?" tanyanya menuntut jawaban, "Yang Mulia Duke tidak akan setuju meninggalkan Anda di sini."

Luhan pun tidak tahu jawaban pertanyaan itu.

"Apalagi yang Anda khawatirkan? Semua masalah di sini sudah beres. Pembangunan gudang yang Anda rancang sudah selesai. Masalah keuangan Cookelt sudah Anda luruskan. Wanita hina itu juga sudah ditemukan. Anda sudah tidak diperlukan lagi di sini."

Benar. Sekarang ia bisa kembali ke Helsnivia. Hatinya terasa berat untuk kembali ke Helsnivia.

"KAU!" Seohyun tiba-tiba berseru, "Jangan masukkan gaun itu kesana! Berapa kali harus kukatakan kalian harus memisah-misahkan gaun Tuan Puteri. Apa yang akan kalian lakukan kalau Tuan Puteri tiba-tiba harus berganti baju di perjalanan!? Apa kalian mau membuat Tuan Puteri menunggu kalian membongkar muatan!?"

Luhan memalingkan kepala dari para pelayan yang sibuk meringkas barang-barangnya di bawah pimpinan Seohyun. Pikirannya kembali melayang jauh ke atas langit biru.

Pulang ke Helsnivia…. Itu artinya ia akan bertemu dengan Sehun lagi. Sebulan ini ia hampir tidak dapat melupakan Sehun. Beberapa hari lagi ia akan semakin kesulitan menyingkirkan pria itu dari kepalanya.

Luhan mendesah. Ia sudah mengatur waktunya sedemikian rupa sehingga ia tidak mempunyai waktu luang namun tetap saja kepalanya tidak dapat berhenti memikirkan Sehun. Dalam setiap pesta. Setiap menghadiri pesta, Luhan selalu berharap Sehun juga ada di sana sehingga ia tidak perlu bersusah payah menghindari pria yang ingin mendekatinya. Setiap ada pria yang mencoba mendekatinya, Luhan selalu teringat wajah cemburu Sehun.

Sebagian dirinya berseru merindukan Sehun. Sebagian dirinya yang lain tidak ingin kembali ke Helsnivia. Luhan tidak siap. Ia tidak siap kembali ke Helsnivia. Ia tidak siap melihat Sehun bersama wanita lain. Ia tidak sanggup mendengar berita tentang Sehun dan wanita lain.

Sehun adalah seorang pria yang tidak bisa hidup tanpa wanita. Tidak mungkin Sehun tidak menemukan wanita baru dalam waktu sepanjang ini. Sehun tidak mungkin masih mengatakan hal yang sama padanya.

Sebagian dari diri Luhan bergembira. Sebagian lagi bersedih.

Ketika ia kembali ke Helsnivia, wanita Sehun yang dibicarakan tiap penduduk Helsnivia bukan lagi dirinya. Namun betapa pun ia ingin kabur dari Helsnivia, hari itu akhirnya tiba juga.

.

.

.

"Selamat datang, Yang Mulia Duke, Tuan Puteri, dan Tuan Muda Jongin," sambut Yifan bersama pelayan-pelayan Quadville yang lain.

Luhan melihat orang-orang yang berbaris rapi sambil membungkukkan badan ke arah mereka. Ia merasa setiap orang melihatnya dengan simpati. Ia berani bersumpah mereka sedang bersimpati pada Tuan Puteri mereka yang kini bukan lagi wanita Sehun.

Begitu tiba di Quadville, Duke of Vinchard segera memanggil Yesung untuk mengetahui perkembangan yang terjadi selama ia tidak ada. Jongin langsung memanfaatkan waktu untuk bermain-main di sekitar Quadville seperti kesukaannya selama berada di Helsnivia. Para pelayan langsung berbaur dengan pelayan yang lain untuk melepaskan rindu mereka. Dan Luhan…

Luhan bermuram diri. Ia tidak ingin menemui seorang pun. Ia tidak ingin sanggup mereka berbicara tentang Sehun dan wanita barunya. Ia tidak ingin mengikuti perkembangan Helsnivia yang diinginkan Luhan saat ini hanyalah mengurung diri dan mempersiapkan batin untuk mendengar berita petualangan Sehun.

"Apakah kau baik-baik saja, Luhan?" Duke Leeteuk bertanya khawatir saat mereka berkumpul di Ruang Makan, "Apakah kau sakit?" Duke merujuk pada makanan yang hampir tidak disentuh Luhan.

"Aku baik-baik saja, Kakek," Luhan tersenyum, "Aku hanya lelah."

"Kau sudah seperti ini sejak kita memutuskan pulang," komentar Jongin.

Luhan tidak menanggapi.

Duke berdiri dan berpaling pada Luhan, "Ikutlah aku."

Luhan mengikuti Duke tanpa suara. Duke Leeteuk membawa Luhan ke sebuah ruangan di mana hanya ada mereka berdua dan jauh dari pendengaran Jongin yang masih duduk di Ruang Makan. Luhan hanya memperhatikan Duke ketika Duke menutup pintu dengan perlahan.

Duke duduk di depan Luhan dan memandang lembut cucu satu-satunya itu. "Sekarang kau bisa mengatakan semuanya padaku."

Luhan hanya melihat Duke dengan tidak mengerti.

"Apakah aku tidak bisa kaupercayai?" Duke bertanya, lalu Duke mendesah. "Kasihannya aku. Cucuku tidak mau berbagi denganku."

Luhan terperanjat. Tanpa disadarinya ia telah melukai orang yang dicintainya. "Tidak, Kakek. Aku percaya padamu. Aku senang berbagi denganmu."

"Kau memikirkan Pangeran Sehun?" Duke bertanya langsung.

Luhan terperanjat. Lidahnya mengeras dalam mulutnya yang menutup rapat.

"Aku benar, bukan? Kau memikirkan Pangeran Sehun."

"Ti-tidak," Luhan menyangkal panik, "Aku tidak memikirkannya. Aku tidak pernah memikirkannya."

"Kau tentu sangat mencintainya."

Lagi-lagi Luhan terperanjat. Duke Leeteuk telah menebak isi hatinya. "Maafkan aku, Kakek," Luhan tidak berani menatap wajah kakeknya.

Duke Leeteuk mengulurkan tangan memegang dagu Luhan. "Aku tidak menyalahkanmu, Luhan," Duke tersenyum lembut sambil menatap Luhan.

Luhan terperangah.

"Apakah kau tahu mengapa aku tidak suka Jongin mendekatimu? Apakah kau tahu mengapa aku merestui hubunganmu dengan Pangeran?"

Keduanya adalah seorang pria yang selalu mempermainkan wanita. Satu-satunya yang membuat mereka berbeda adalah…

"Aku tidak pernah mempersoalkan masalah usia," sambung Duke.

Maka satu-satunya jawaban adalah, "Karena Pangeran Sehun adalah seorang Pangeran dan Jongin hanya seorang Duke?"

Lagi-lagi Duke Leeteuk tersenyum sambil menatap lembut Luhan. "Tidak, Luhan. Victoria sudah memberiku pelajaran. Aku tidak mempedulikan lagi kedudukan seseorang."

Luhan tertegun.

"Karena aku tahu Jongin bukan pria yang pantas untukmu. Ia hanya tertarik padamu. Chanyeol mencintaimu dengan setulus hati namun aku juga tidak akan menyetujui hubungan kalian," Duke membuat Luhan bertanya-tanya, "Mereka tidak dapat memberimu kebahagiaan." Lalu ia menggenggam erat tangan Luhan. "Aku pernah menentang keras Victoria. Aku yang sekarang menentang keras cucuku membuat kesalahan bodoh. Ketika Victoria meninggalkanku, aku merasa begitu kesepian. Aku masih ingat perkataan terakhirnya sebelum meninggalkanku. Apakah kau tahu apa itu, Luhan?"

Luhan menggeleng.

"Katanya, uang tidak dapat membeli kebahagiaan."

Luhan hanya membisu.

"Ketika melihatmu, aku menyadari kebenaran kata-katanya. Aku memiliki banyak uang, namun aku tidak pernah merasa bahagia. Kebahagiaanku yang sesungguhnya tiba setelah engkau berada di sisiku. Pangeran Sehun mencintaimu. Aku dapat melihat ia tidak bermain-main."

"Itu tidak mungkin. Pangeran pernah berkata ia tidak mungkin jatuh cinta padaku. Aku bukan gadis cantik yang menarik perhatiannya."

"Kapankah ia mengatakan itu?"

"Ketika…" Luhan terdiam. Ia tidak ingin mengungkit detik-detik terakhirnya bersama Duke Yunho.

"Dia mengatakannya karena ia belum mengenalmu," hibur Duke, "Percayalah padaku, Luhan. Aku tidak pernah melihat Pangeran seperti ini. Aku tidak pernah melihat seorang pria yang begitu mencintai seorang wanita."

"Tidak. Itu tidak mungkin," Luhan menggeleng. Sedikit pun ia tidak dapat membiarkan harapan muncul dalam hatinya.

"Ini semua salahku," Duke Leeteuk bergumam sedih. "Andai aku menemukanmu lebih awal, kau tidak akan seperti ini."

Luhan terkejut. "Tidak, Kakek. Kau tidak bersalah."

Namun Duke Leeteuk meneruskan. "Yunho adalah seorang playboy. Jongin juga tidak lebih baik. Jessica juga membuat keadaan lebih buruk. Sehun juga tidak pernah serius mencintai seorang wanita," Duke membeberkan lingkungan Luhan tumbuh dewasa yang ia ketahui lalu membuat kesimpulan, "Karena itulah ketika Sehun serius, kau takut."

Takut… Luhan merenung. Mungkin Duke Leeteuk benar. Ia tidak mau harapan tumbuh dalam hatinya karena ia tahu itu hanya akan menyakitinya.

"Bagaimana kau tahu kau akan terluka kalau kau tidak mencoba?" Duke bertanya lebih lanjut, "Bagaimana kau tahu Sehun hanya bermain-main denganmu kalau kau tidak memberinya kesempatan?"

"Aku bukan wanita yang pantas untuknya," Luhan memberitahukan kenyataan pahit itu, "Ia adalah seorang pria terhormat sedangkan aku hanyalah anak seorang petualang."

"Lalu mengapa?" tanya Duke.

"Jelas itu tidak mungkin. Aku tidak pantas bersanding di sisi Sehun."

"Siapa yang mengatakannya?"

"Semua…" Luhan terdiam. Tidak ada yang mengatakannya secara langsung.

Duke tersenyum lembut. "Tampaknya kau benar-benar kelelahan. Segeralah beristirahat, Luhan. Jangan berpikir terlalu banyak." Duke Leeteuk mencium pipi Luhan.

Luhan terperangah. Tangannya memegang pipi yang baru saja dicium Duke Leeteuk.

"Selamat malam, Luhan."

Luhan mengangguk dan berjalan ke kamarnya. Ciuman kasih sayang Duke telah membiusnya.

.

.

.

"Luhan! Luhan!"

Luhan merasa mendengar seseorang memanggil namanya.

"Bangun Luhan, atau aku menciummu."

"Aku masih ingin tidur, Papa," gumam Luhan sambil membalikkan badan.

Luhan merasa tubuhnya terangkat. Detik selanjutnya sesuatu menyentuh bibirnya. Mata Luhan membelalak lebar.

"Akhirnya kau bangun," Sehun tersenyum gembira. "Bagaimana ciuman selamat pagiku?"

Tanpa sadar Luhan menyentuh bibir yang baru saja bersentuhan dengan bibir Sehun.

"Baiklah," Sehun menyerah. Ia menyingkirkan tangan Luhan dari bibirnya. Sehun menunduk mencium Luhan lalu tersenyum, "Sekarang segeralah bersiap-siap. Aku akan menantimu di bawah."

Luhan hanya menatap kepergian Sehun. Baru saja Sehun menutup pintu ketika Seohyun menerjang masuk.

"Ya ampun, Tuan Puteri. Apa yang sedang Anda lamunkan. Segeralah bersiap-siap." Seohyun tanpa belas kasihan menarik Luhan dari tempat tidur.

Ketika pikiran Luhan kembali berjalan, ia sudah berdiri di hadapan Seohyun yang dengan gembira mengantar kepergiannya.

"Kau lebih cepat dari dugaanku," Sehun tersenyum menatap Luhan dari atas kudanya.

Tiba-tiba Luhan sadar. Saat ini matahari belum terbit. Saat ini adalah waktu Sehun biasa pergi berkuda pagi. Tentu Sehun telah memanfaatkan kekosongan pikirannya sesaat setelah bangun tidur. Namun Luhan tidak mengerti mengapa Seohyun tidak membantunya mengenakan baju berkuda.

"Saya akan segera berganti baju," Luhan membalikkan badan.

"Tidak perlu," Sehun membungkuk. Dalam satu gerakan, ia sudah mengangkat Luhan ke depannya.

Luhan terperangah. Sebelum ia benar-benar menyadari apa yang telah terjadi, ia mendengar Seohyun berkata gembira, "Selamat bersenang-senang, Tuan Puteri." Dan mereka melaju meninggalkan Quadville.

"Ke mana kita akan pergi, Pangeran?" akhirnya Luhan mampu menguasai dirinya.

"Ke tempat rahasia kita," Sehun menjawab singkat.

Tempat rahasia? Apakah mereka mempunyai tempat itu?

"Tidurlah. Aku akan membangunkanmu kalau kita sudah sampai."

Tidur? Bagaimana mungkin ia bisa tidur dalam posisi seperti ini? Ia hanya duduk menyamping di depan Sehun. Satu-satunya hal yang dapat mencegahnya jatuh adalah sepasang tangan yang mengendalikan kuda itu.

Mata Luhan terpaku pada tangan yang mengendalikan kuda dengan mantap itu. Sebuah perasaan rindu merayapi hatinya. Pagi ini Sehun telah membangkitkan kembali kenangan masa kecilnya. Sehun membangunkannya dengan cara khas ayahnya ketika ia malas bangun.

Walaupun mengucapkan kata-kata yang sama, ayahnya tidak mencium bibirnya seperti Sehun melainkan menggelitiknya. Itulah yang selalu dimaksud ayahnya dengan mencium. Lebih dari sepuluh tahun lamanya ia tidak dibangunkan dengan cara itu. Sepuluh tahun lebih lamanya ia tidak berada dalam posisi seperti ini. Sepuluh tahun telah lewat sejak saat terakhir ayahnya memberinya tumpangan.

Luhan bersandar pada orang yang memberinya tumpangan.

Sudah lama ia tidak merasakan perasaan seperti ini. Ia rindu pada kehangatan di punggungnya dan angin semilir yang membelai wajahnya. Luhan memejamkan mata. Ia ingin seluruh inderanya terpusat pada indera sentuhan. Ia ingin merekam kenangan ini di dadanya.

Ketika Luhan membuka matanya kembali, ia berada di antara kaki Sehun yang terbuka. Tangan Sehun yang memeluknya, merapatkan jubah hangat yang menyelimutinya. Kakinya yang terbuka memanjang sepanjang rerumputan hijau. Kepala Sehun bersandar di atas kepalanya yang menunduk. Hembusan nafasnya meniup rambut Luhan.

Luhan memperhatikan langit yang sudah terang. Awan-awan putih menghiasi langit. Matahari yang sudah hampir mencapai tahta tertingginya menyinari bumi yang dingin.

"Kau sudah bangun?" Sehun menatap wajahnya.

Luhan memperhatikan senyuman Sehun.

"Seohyun benar. Kau menjadi lamban sesaat setelah bangun tidur," ia tersenyum geli.

Rupanya hembusan angin membuatnya tertidur. Kemarin malam ia tidak dapat tidur. Semalam ia terus memikirkan kata-kata kakeknya dan Sehun. Walau tidak ingin, ia tidak dapat berhenti memikirkan Sehun.

"Bagaimana? Apakah engkau merasa lebih segar?"

Luhan tidak melepaskan mata dari Sehun.

"Sekarang kau tampak lebih segar," ia tersenyum gembira.

Ringkikan kuda mengagetkan Luhan. Sekarang pikirannya sudah benar-benar bangun. Terakhir ia membuka mata, ia masih berada di atas kuda Sehun. Sekarang ia sudah berada di tempat yang tidak ia ketahui. Luhan melihat sekeliling. Ia merasa ia pernah datang ke tempat ini.

"Apa kau lapar?" Sehun bertanya, "Seohyun sudah membawakan bekal untuk kita."

Baru saat itulah Luhan melihat kantung yang menggantung di punggung kuda. Punggung kuda.

Mata Luhan membelalak lebar. "Pangeran, bagaimana Anda?" Luhan tidak dapat melanjutkan kata-katanya. Ia melihat kuda yang berdiri tegap itu lalu pada Sehun yang masih memeluknya.

Sehun hanya melayangkan senyum misteri. Sehun lebih suka membiarkan Luhan bertanya-tanya. Ia tidak akan memberitahu Luhan bahwa kudanya juga terlatih untuk duduk dengan satu perintah.

"Pangeran!" Luhan menuntut jawaban.

Sehun tidak tahan lagi. Ia merengkuh Luhan ke dalam pelukannya dan memeluknya erat-erat.

"Aku merindukanmu, Luhan. Aku sangat merindukanmu," bisiknya.

Sebulan ini ia benar-benar menderita. Ketika mendengar Luhan meninggalkan Helsnivia, ia panik. Ia pikir Luhan kabur karenanya. Kemudian ketika berita kepergian Duke of Vinchard menyebar, Sehun mulai merasa lega. Luhan masih akan kembali ke Helsnivia. Baru ketika berita kepergian Jongin bersama mereka tiba di telinganya, ia menyadari tujuan kepergian mereka.

Sebulan ini ia benar-benar menderita. Tiada detik yang dilaluinya tanpa memikirkan Luhan. Tiada saat ia tidak merindukan gadis yang dicintainya ini.

Kemarin ia langsung melesat ke Quadville ketika kabar kepulangan mereka tiba di telinganya. Namun Duke of Vinchard melarangnya menemui Luhan. Waktu tidak tepat, alasannya. Mereka baru saja tiba dan Luhan membutuhkan istirahat. Kemudian Seohyun memberinya ide ini. Hanya ketika Luhan baru bangun tidur gadis itu menjadi luar biasa penurut.

"Jangan tinggalkan aku lagi," pinta Sehun, "Aku tidak sanggup hidup tanpamu. Aku benar-benar mencintaimu, Luhan. Aku tidak bercanda."

Luhan terperangah. Sehun masih mengatakan kalimat terakhir yang didengarnya.

"Aku tidak pernah mencintai seorang wanita seperti ini, Luhan. Aku mencintaimu dengan seluruh jiwa ragaku. Aku sangat mencintaimu."

Air mata Luhan menetes. Luhan memeluk Sehun dan membenamkan wajahnya dalam-dalam di kehangatan dada pria itu. Ia tidak dapat lagi membohongi dirinya sendiri. Biarlah ia terluka. Biarlah Sehun membohonginya. Saat ini ia hanya ingin berada di sisi Sehun. Ia ingin berada di pelukan pemuda ini.

Sehun memegang pundak Luhan dan menjauhkan gadis itu dari dadanya. "Menikahlah denganku, Luhan," ia menatap mata gadis itu dengan serius.

Luhan membuka mulut.

"Tidak," Sehun mencegah. "Jangan memberi jawaban apapun. Jangan berkata apapun sebelum aku selesai." Lalu Sehun berdiri.

Hawa dingin langsung menusuk tubuh Luhan. Matanya mengikuti Sehun menuju kuda yang menanti mereka.

Sehun mengeluarkan sesuatu dari dalam kantung di punggung kuda dan kembali ke sisi Luhan. "Terimalah ini," ia mengulurkan segulung kertas.

Luhan menerimanya dengan bingung. Melalui mata Sehun, ia tahu pemuda ini ingin ia membaca isi kertas itu. Luhan melihat gulungan kertas di tangannya lalu kembali pada Sehun.

Sehun duduk di depan Luhan. Luhan membuka tali yang mengikat gulungan kertas itu dengan ragu-ragu. Sehun menanti dengan sabar hingga Luhan membuka gulungan kertas itu.

"Ini…" suara Luhan tercekat. Matanya kembali membasah.

"Sebulan ini aku mengikuti jejak masa lalu," Sehun menjelaskan, "Aku menelusuri jejak ibu dan ayahmu. Aku menemukan surat nikah mereka di sebuah gereja terpencil tempat mereka menikah."

Ketika Luhan menolak lamarannya, Sehun telah bersumpah untuk mendapatkan gadis itu. Sebulan terakhir ini ia tidak membuang waktu untuk menemukan segala macam senjata yang membuat Luhan tunduk. Kekeraskepalaan Duke Leeteuk yang terkenal itu menurun pada Luhan.

Untuk menundukkan kekeraskepalaan itu cara biasa tidak cukup. Sehun tidak kesulitan menemukan segala hal yang menyangkut Victoria Elwood dan Changmin Lloyd. Kali ini ia tahu ia bisa bertanya pada banyak orang. Bahkan Duke of Vinchard pun memberinya saran.

Luhan memperhatikan Sehun melalui matanya yang berkaca-kaca.

"Aku juga telah menelusuri garis keturunan ayahmu. Ayahmu dan almarhum Duke Yunho bukan hanya teman tetapi juga sepupu. Kakek ayahmu adalah adik kakek buyut Jongin."

Garis keturunan Victoria Elwood tidak perlu diragukan namun Changmin Lloyd? Dalam sebulan ini Sehun terus bertanya-tanya mengapa Duke of Sternberg bisa bersahabat dengan seorang pengelana miskin. Menurut Luhan, mereka telah bersahabat sejak kecil. Dari lingkungan tempat ia dibesarkan, Yunho Riddick tidak mempunyai kesempatan untuk berkenal dengan seorang gelandangan.

Luhan terperangah.

"Sekarang kau tidak ragu lagi, bukan?"

Luhan mengangguk. Bagaimana mungkin ia meragukan surat pernikahan asli orang tuanya? Bagaimana mungkin ia meragukan kerja keras sang Putra Mahkota?

"Sekarang kau tidak punya alasan untuk menolakku."

Luhan tertegun.

"Jangan menolakku lagi, Luhan," pinta Sehun, "Kau tahu bagaimana sakitnya penolakan. Jangan biarkan aku merasakannya," Sehun sudah tidak kuat untuk tidak memeluk Luhan, "Aku benar-benar takut akan penolakanmu. Kau tidak punya ide bagaimana tiap hari aku hidup dalam bayang-bayang ketakutan seseorang akan merebutmu. Setiap detik aku berharap berada di sisimu."

"Anda melakukan ini untuk gosip-gosip itu?" tanya Luhan.

"Gadis bodoh," Sehun menatap Luhan penuh cinta, "Aku melakukannya untukmu. Demi menundukkan kekeraskepalaanmu itu, aku rela melakukan apa saja."

"Oh… Sehun…," Luhan terharu, "Aku mencintaimu."

"Akhirnya kau mengatakannya," gumam Sehun.

Luhan mengangkat tangannya merangkul leher Sehun. Sehun menunduk mencium bibir Luhan.

"Aku sudah tidak sabar mengikatmu selamanya di sisiku. Aku tidak mau menanti sampai kau berubah pikiran."

Luhan tertawa. "Saya lebih takut Anda berpaling hati."

"Aku sudah berlabuh, Luhan. Kurasa aku sudah berlabuh semenjak aku bertunangan denganmu di hadapan almarhum Duke of Cookelt." Dan Sehun mencium bibir Luhan lagi. Ia bersumpah ia tidak akan melepaskan lagi gadis dalam pelukannya ini walaupun Luhan sendiri yang menginginkannya.

Luhan menyandarkan badan di dada Sehun. "Pangeran," katanya, "Bisakah hari ini kita tetap seperti ini?"

"Tidak hanya hari ini. Esok, lusa, dan seterusnya kita akan bersama," janji Sehun, "Aku tidak akan memberimu kesempatan untuk meninggalkanku."

"Saya tidak akan meninggalkan Anda," Luhan berjanji pula.

"Aku sudah tidak sabar ingin segera membawamu pulang," Sehun meraih tangan Luhan, "Aku tidak sabar ingin segera memasang cincin perkawinan kita di jarimu," ia memainkan jari manis Luhan. "Duke telah menyetujui perkawinan kita. Aku dan dia telah memutuskan untuk segera melangsungkan pernikahan kita."

Luhan terperanjat.

"Jangan mengatakan padaku kau tidak ingin menikah denganku," Sehun memperingatkan.

Luhan tersenyum. "Bagaimana mungkin?" tanyanya, "Kalau saya terus ingin seperti ini," ia kembali menempelkan tubuhnya di dada Sehun.

"Oh, Luhan," Sehun memeluk Luhan, "Andai kau tahu betapa aku takut kehilanganmu."

"Saya pun takut Anda akan berpaling pada wanita lain."

"Aku rasa tak lama lagi aku akan mematahkan hati mereka. Tapi aku tak peduli. Aku hanya peduli pada dirimu seorang."

Luhan tersenyum. Walaupun pernikahan mereka akan membuat banyak wanita menangis, ia tetap akan melangsungkannya karena ia tahu pernikahan ini juga akan membawa kebahagiaan bagi banyak orang.

.

.

.

Ratu Taeyeon adalah orang yang paling bersuka cita atas pernikahan mereka. Senyum bahagia terus menghiasi wajah cantiknya hingga setelah mereka menikah. "Victoria juga pasti bergembira di alam sana," bisiknya terharu ketika keduanya saling bertukar janji perkawinan.

Raja mengangguk – mengamini pernyataan itu. Ia tidak pernah membayangkan hari ini akan datang tapi hari ini akhirnya terwujud juga.

.

.

.

Sang petualang cinta itu akhirnya melabuhkan diri pada pujaannya.

.

.

.

THE END

Maaf baru update ya, lg sibuk rl ehehehe. Makasi buat yg udah review, fav, follow~

Untuk yang ingin melihat cerita aslinya, bisa berkunjung ke imaginativewonderlanddotblogspotdotcodotid

Dot nya ganti titik ya~