[namjin 2] Not around any longer

[!] dimohon membaca notes di akhir yaa karena aku butuh kalian(?)

.

.

.

.

.

.

.

Remember that day,

(Ingatkah hari itu,)

I flirted with all the guys unintentionally,

(Aku tak sengaja bermain-main dengan para lelaki,)

and you really did get jealous?

(dan kau benar-benar cemburu?)

I thought you'd leave me

(Kupikir kau akan meninggalkanku)

.

.

.

"Ya, Jin, aku tak menyangka akan bertemu denganmu di sini!"

Wajah manis itu tersenyum.

"Yeah, sudah berapa lama kita tak bertemu, eh? Kupikir satu..dua..tiga..tiga tahun, man!"

Senyum kembali terulas di wajahnya.

Kim Seokjin, seorang dengan senyuman manis di wajahnya yang hampir terlihat sempurna jika saja tidak dihinggapi dengan noda yang membuatnya terkadang harus mendecak sehari penuh karenanya.

Jemarinya mengaduk-aduk lychee pesanannya yang baru diteguk seperempat, menyebabkan suara benturan balok es dengan dinding gelas. Matanya bergerak menatap keempat teman sejawatnya dari kiri ke kanan.

Ada Park Chanyeol, teman sebangkunya sewaktu sekolah menengah, Jin Hyosang, sahabat sejatinya sejak taman kanak-kanak hingga sekarang, Byun Baekhyun, sahabat diva-nya yang sempat terpisah setelah sekolah menengah, dan Shin Yoonjo, satu-satunya wanita yang tercatat sebagai bagian dari trio Jin-Hyosang-Yoonjo. Mereka semua adalah kelompok sekolah menengah yang memutuskan untuk mengadakan reuni siang ini.

"Yoonjo, aku tak bohong, tangan Jin terasa lebih halus dibanding tanganmu!" celotehan Baekhyun kembali terdengar, pemuda itu terlihat tengah membanding-bandingkan jemari Jin dengan Yoonjo yang nampak tidak terlalu senang.

"Yah! Aku memang tak pernah diperlakukan sebagai seorang wanita oleh kalian," ucap Yoonjo sembari melipat kedua tangannya dan mengerutkan bibirnya pura-pura yang hanya disambut dengan tawa dari ketiga pemuda sahabatnya.

"Seharusnya kau ikut bersama Baekhyun merawat jemarinya, ya 'kan?" kali ini giliran Chanyeol, si pemilik suara berat seberat kapal Titanic yang membuka suara.

"Aku terlahir seperti ini, idiot," sela Baekhyun dengan cepat selagi memberi pemuda itu tatapan mematikannya.

Jin hanya terkekeh kecil menatap kelakuan sahabat-sahabatnya yang sama sekali tidak berubah sejak awal pertemuan mereka. Ia beradu pandang dengan Hyosang beberapa saat sebelum pemuda itu berkata,

"Jinnie, bagaimana kabar Namjoon?"

Mendengar nama Namjoon membuat Jin mengerjapkan matanya sebentar dan perlahan-lahan pipinya memanas. Selalu, ia selalu merasakan seperti ini setiap kali nama Namjoon menggelitik telinganya.

Perasaan lain berkecamuk dalam dirinya. Mengetahui bahwa seorang Hyosang yang bertanya tentang Namjoon membuatnya sedikit tidak nyaman.

Sebab dulu Hyosang pernah menyukai Namjoon. Dan sebagai sahabat yang baik Jin tidak ingin membicarakan tentang Namjoon pada Hyosang. Ia tak ingin salah berbicara dan dianggap memamerkan hubungannya dengan Namjoon.

"I–tu…."

Maniknya menangkap ekspresi penuh pengharapan dari wajah Hyosang. Semakin membuatnya merasa bersalah, antara menjawab pertanyaan Hyosang atau tidak sama sekali. Keduanya hanya akan membuat Hyosang merasa sakit.

"Hoy, bukankah itu sepupu Namjoon? Bocah yang mirip denganmu, Baek!" Chanyeol menyelamatkan Jin dengan memotong ucapannya tiba-tiba, ia melirik dan mendapati sosok-yang mirip dengan Baekhyun-tengah berjalan mendekati kafe terbuka tempat mereka berada dan mengambil kursi tepat di seberang mereka lalu duduk di atasnya dengan pandangan datar.

"A-h, Taehyung?" Jin segera menoleh dan melambai pada sosok yang dibicarakan. Sementara Taehyung hanya menaikkan alisnya dan kembali fokus pada benda persegi panjang di genggamannya, tak mempedulikan ocehan-ocehan Chanyeol seperti 'hoy, kembaran Baekhyun!' atau 'kloning Baekhyun!' atau omelan-omelan Baekhyun yang membisingkan.

"Psst, kau bilang bocah Taehyung itu seperti alien, tapi mengapa dia diam saja?" Chanyeol yang terlanjur bersemangat berbisik pada Jin. Jin tertawa kecil mendengarnya, ia kembali menatap Taehyung yang nampak mendenguskan hidung dengan kesal.

"Kemungkinan terbesarnya hanyalah ini," dengan bergaya misterius Jin membiarkan keempat sahabatnya merasa penasaran.

"Taehyungie!"

Kembali, ucapan Jin harus terpotong dengan kedatangan seorang pemuda baby-face dan bermata sipit yang langsung mengambil duduk di meja Taehyung.

"Jimin?"

"Taehyungie! Yoongi-hyung dan Hobi-hyung bersekongkol tidak merespon panggilanku dan pesan-pesanku! Apakah mungkin mereka berdua sudah tidak menyayangiku lagi?" Jimin terlihat meneteskan air mata dan memendam wajahnya ke atas tangannya. Membuat Taehyung di hadapannya menggelengkan kepala.

"Begitulah jika kau mempunyai dua kekasih sekaligus…" "Mwo?!" pekik Jimin menyela komentar Taehyung. Ia nampak berkaca-kaca dan membuat Taehyung kebingungan, "Apa aku salah menyayangi mereka berdua? Aku tak bisa meninggalkan Yoongi-hyung maupun Hobi-hyung! Apa aku tak boleh memiliki rasa sayang?" lanjut Jimin yang terdengar sedikit memilukan.

"H-hei, aku tidak bilang begitu.." Taehyung mencoba menenangkan Jimin yang kembali memendam wajahnya ke atas meja. Ia mengusap tengkuk dan mencoba mencari kata-kata untuk menenangkan pemuda itu.

"Complex," sedangkan di seberang kelima sahabat yang menyaksikannya hanya mampu berkomentar, "Bocah Jimin itu sedikit complex," lanjut Baekhyun dengan ekspresi serius miliknya.

"Ah, tapi dia lucu. Rasanya aku ingin membawanya pulang," komentar Yoonjo sembari mengatupkan kedua tangannya dengan ekspresi berbinar-binar layaknya dalam shoujo-manga.

"Jadi ini Jimin yang pernah kau ceritakan?" pertanyaan Hyosang membuat Jin tersadar dari lamunannya dan segera mengangguk.

"Yah, begitulah. Orang-orang di sekitar Namjoon memang unik, aku pun terkejut pada awal–o-oh…" Jin segera menutup mulutnya dengan refleks. Ia menyebut nama Namjoon secara tidak sengaja pada Hyosang.

Jin menenggak salivanya, menunduk dan tak berani menatap langsung ke dua manik Hyosang. Merutuki dirinya yang telah membuat nama itu keluar dari bibirnya.

Kemudian ia merasakan sebuah tangan mengambil jemarinya dan menjauhkannya dari mulutnya. Ia mendongak dan melihat Hyosang tengah tersenyum padanya.

Bukankah itu senyum yang biasanya diperlihatkan pada Namjoon?

Hyosang melirik sekeliling, melihat ketiga sahabatnya tengah menghampiri Jimin dan Taehyung; Yoonjo bergerak terlebih dahulu karena keinginannya untuk menghibur Jimin disusul dengan Chanyeol yang langsung memeluk Taehyung dan Baekhyun di belakangnya yang nampak mengomel.

Pemuda itu menggenggam erat jemari Jin dan memberinya sentuhan-sentuhan penenang.

"Nampaknya kau sudah salah paham tiga tahun ini,"

Jin melebarkan kedua matanya. Semilir angin yang bertiup menyibakkan poninya dan menampilkan kening indah miliknya.

Hyosang memaku pandangannya pada kedua manik indah milik Jin dan seakan mendapat saluran perasaaan darinya, Jin merasa tenggelam dalam kedua bola mata Hyosang.

"Kau sering melihat tatapanku yang seperti ini, bagaimana aku akan merona, mataku akan terlihat bercahaya dan aku akan tersenyum manis,"

Hyosang mengeratkan genggamannya.

"Pada Namjoon,"

Hiruk pikuk yang disebabkan komplotan sahabatnya menjadi semakin riuh oleh kedatangan dua orang pemuda. Satu adalah pemuda bersurai hitam dan berpipi gembil serta memiliki gigi kelinci yang lucu. Dan yang satu lagi adalah pemuda dengan lesung pipi yang indah.

"Itu yang kau pikir, kan?"

Pemuda kelinci itu terlihat tengah tenggelam dalam dekapan Taehyung yang dirasa tak ingin melepaskan pelukannya. Ditemani dengan koor dari berbagai hyung-hyung mereka, satu pemuda lagi bergerak mendekati tempat di mana Jin berada.

"Namun kau salah. Yang kusukai bukan Namjoon, tapi kau, Jin."

Pemuda berlesung pipi itu menghentikan pergerakannya, tepat di atas pundak Jin. Ia mengurungkan niatnya untuk mengejutkan pemuda itu.

Hyosang terlihat terkejut menatap sosok tinggi di belakang Jin. Dengan cepat ia melepaskan genggamannya pada Jin dan bergerak menjauh.

"Namjoon?"

Jin mendapatkan kesadarannya dan dengan cepat menoleh ke belakang.

Dan Namjoon sudah berdiri di belakangnya.

Segala perasaan berkecamuk di dalam dirinya. Dan-shit, Namjoon mendengar semuanya.

Jin hendak berkata sesuatu sebelum Namjoon memotongnya, "Ah, maaf mengejutkanmu, tapi Jungkook bilang ia harus segera bertemu dengan Tae di kafe ini dan suatu kebetulan kau juga berada di sini, babe,"

Raut wajah Namjoon tidak berubah gelap. Tidak menunjukkan tanda-tanda kemarahan, kekesalan, ataupun kecemburuan. Ekspresinya tetap, seperti Namjoon biasanya. Dan yang membuat Jin sangat ingin menangis saat ini adalah Namjoon tetap memanggilnya babe.

"Kalau ternyata aku tahu reuni-mu di kafe ini aku sudah datang sejak ta–" Namjoon terhenti saat Jin mencengkram jemarinya tiba-tiba. Pemuda itu menunduk dan tanpa aba-aba beranjak pergi sembari menyeret Namjoon ikut serta.

Meninggalkan beberapa pasang mata menatapnya bingung.

.

.

Dua orang pemuda berlari keluar kafe dan tak menghiraukan tatapan yang dilemparkan orang-orang pada mereka. Pemuda yang menyeret pemuda di belakangnya terus berlari tanpa arah. Terkadang menabrak beberapa orang namun pemuda itu benar-benar tidak menyadari atau sengaja tidak menyadarinya. Biasanya ia yang sangat berhati-hati kali ini mengesampingkan segala sifat baiknya.

Namjoon berusaha menahan Jin agar pemuda itu berhenti, ia tak tahu Jin bisa sekuat ini. Berkali-kali ia memanggil nama pemuda itu dan berkali-kali pula ia tak mendapat jawaban selain–

ah, apa itu bulir air mata?

Kedua manik Namjoon terbelalak saat mendapati bening-bening air yang merosot turun perlahan dari pipi putih Jin. Namjoon kembali menahan pergelangan tangan Jin dengan kepalannya yang bebas dan akhirnya berhasil menghentikan pemuda itu tepat di bawah pohon besar yang terdapat ayunan gantung menghiasinya. Matahari bersinar dengan terik pada siang itu, membuat orang-orang bergegas pergi dan tak ada satupun yang berniat menyinggahi taman sehingga hanya mereka berdua yang berada di taman tersebut.

Jin masih menunduk sembari berusaha menghapus air matanya, sementara Namjoon menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.

"Jinnie? Apa yang terjad–"

Mendadak Jin mendongakkan kepalanya, raut wajahnya terlihat merah dan ia mengatupkan bibir yang terlihat bergetar. Namjoon kembali mengerjap-ngerjapkan matanya.

"…Jin?"

"Kau tidak cemburu?"

"Eh?"

Jin yang merasa sangat pening dengan reaksi Namjoon memutuskan untuk menyeruak ke dalam dekapan pemuda itu. Ia biarkan air matanya jatuh menghiasi kaus baju pemuda yang dicintainya.

"Apa Hyosang harus menciumku dulu agar kau cemburu?!" pekiknya di dalam pelukan Namjoon. Hal itu membuat tubuh pemuda berlesung pipi itu membatu.

"Aku sendiri tidak tahu hal itu akan terjadi, aku tidak tahu kau ada di belakangku dan harus mendengar semua itu, dan lebih-lebih kau bereaksi seakan tidak terjadi apa-apa! I-itu membuatku–mmph," Namjoon segera meraih dagu Jin dan mempertemukan bibir mereka, tak membiarkan si pemuda manis menyelesaikan ucapannya.

Jin mengeratkan cengkramannya pada Namjoon dan membiarkan pemuda itu menyalurkan seluruh perasaannya di dalam lesapan dan isapan terhadap bibirnya. Perlahan bulir air mata jatuh membasahi dan meninggalkan rasa asin namun keduanya tidak peduli. Menyamakan ritme, keduanya saling menyeimbangi skill sentuhan mereka. Sesekali jemari Namjoon yang menangkup kedua pipi Jin mengusap bulir air mata pergi dari pipi putihnya.

Setelah menyadari rasa sesak di dada, Namjoon melepaskan tautan mereka dan meninggalkan benang halus membentangi kedua bibir mereka. Ia berikan kecupan penuh rasa hangat pada kedua manik indah milik Jin yang tertutup dan lembab. Setelahnya ia mengusap-usap pipi Jin dengan ibu jarinya dan tersenyum, mengekspos lesung pipi kebanggaannya.

"Apa maksudmu Hyosang menciummu seperti tadi?" ujar Namjoon.

Dengan cepat Jin menggelengkan kepala, ia menggenggam tangan Namjoon yang berada di pipinya sembari memberikan sentuhan-sentuhan kecil, "Ti-tidak, maksudku- a-aku- kau- kupikir kau akan meninggalkanku–sebab Taehyung bilang jika kau bersikap pura-pura tidak tahu itu berarti kau sedang marah dan–"

"…Ya, aku memang marah,"

Manik Jin membesar. Jantungnya berdegub kencang dan mendadak ia merasakan panas dingin.

"N-Nam–" "Dan kau bilang apa tadi? Aku tidak cemburu?" ibu jari Namjoon bergerak menyentil hidung kemerahan milik Jin. Pemuda itu menyadari sikap kekasihnya yang terkesan tidak nyaman dan ketakutan.

"Apa kau tahu bahwa aku sangat ingin meninju Hyosang tadi?" lanjutnya yang membuat Jin bergidik.

"A-a–pa," "Kau tidak perlu tahu,"

Namjoon mengambil jemari Jin dan mengecupnya dengan lembut. Seakan memberi tahu bahwa Jin adalah seseorang yang amat berharga dalam hidupnya. Tindakan ini mengundang semburat merah di kedua pipi Jin.

"Dan aku tak perlu tahu yang lain, yang kutahu hanyalah bahwa aku mencintaimu,"

Jika manusia dapat meleleh maka Jin sangat yakin ia sudah melebur layaknya eskrim yang dibiarkan di tengah terik matahari. Namjoon benar-benar mengerti cara membuat Jin berdebar-debar dan merona hebat.

Di luar dugaannya, Namjoon tidak bersiap-siap tatkala Jin melesak kembali ke dalam pelukannya dan membuat kedua pemuda itu terjatuh ke tanah berumput hijau dengan Jin berada di atas Namjoon.

"Aku mencintaimu, Namjoon!" Jin tak mempedulikan erangan Namjoon dan menindih tubuh pemuda itu sembari menyamankan posisinya tepat di atas dada bidang Namjoon.

Namjoon menghela nafas dan menggunakan siku tangannya untuk menopang tubuh mereka berdua. Dengan kekehan pelan ia menggoda pemuda di atasnya, "Kau berat, babe,"

"Biar saja, ini hukuman untukmu,"

"Oh, ya? Hukuman apa?"

Jin mendongakkan kepala dan bertemu dengan manik Namjoon yang hanya memancarkan dirinya, "Hukuman karena menyembunyikan kecemburuanmu dariku dan karena telah menakutiku, kupikir kau akan meninggalkanku," ucapnya lancar sembari mengerutkan bibirnya. Sikap yang hanya dilakukan Jin bila dirinya sedang merengek pada pemuda itu.

Mendadak sebuah ide melintas di kepala Namjoon.

"Apa kau tahu mengapa aku tidak benar-benar meninju Hyosang tadi?" tanya Namjoon sembari menikmati pemandangan wajah indah milik Jin. Mendapat ekspresi bingung Jin, Namjoon melanjutkan,

"Karena dia manis,"

Jin semakin mengerutkan bibirnya.

"Sungguh disayangkan wajah manis itu harus ternodai," "Pabo, I'm cuter,"

Namjoon kembali terkekeh melihat Jin yang menggerutu pelan dan memalingkan wajahnya. Ia hanya ingin melihat ekspresi menggemaskan dari kekasih yang dua tahun lebih tua darinya itu. Kembali Namjoon harus mempertanyakan tentang benarkah Jin itu dua tahun lebih tua darinya.

Mendadak ponsel milik Jin berbunyi. Jin segera bangkit dari tindihannya dan menatap ke layar ponsel. Ia tanpa ragu menjawab panggilan yang berasal dari Baekhyun.

"Yeo–"

"Kau belum membayar minumanmu, Jin!"

.

.

but you didn't

(Tapi kau tidak melakukannya)

.

.

.

.

.

.

Tbc

[!] notes

Setelah 1234750820 tahun(?) akhirnya saya kembali dengan namjin horeeehoreee(?) \('0')/

Sekalian deh belated bday buat alien alien ngono oknum bernama Kim Taehyung (plisdeh baru ge ultah 19 tahun malah ngaku2 21 tahun lagi sekarang hhh) plis gausah sok2 seumuran /dor/ ya maklumin sih yaa tahun udah berganti padahal tuh anak baru aja ultah ke-19 (iya taehyung iya ane tau di keroya ultah ke-20) eeeh udah ngaku2 21 :") mama merasa sedih nak anak mama udah tua aja /dor/

Daaaan HAPPY NEW YEAR! Biarlah terlambat asal selamat(?) semoga tahun ini lebih baik dari tahun2 sebelumnya (Aamiin)

Oh ya aku mau bilang buat hong kong yoonjin-taekook itu aku (dengan begonya) salah nulis tbc di akhir chapter kemaren mestinya 'end' duhhh maafkan aku yaa :") (tapi kalo kalian manis-manisku mau sequel atau apapun itu hmmmmmm bisa rekomen ke aku mau kaya gimana biar kalian senang akupun senang yeay/?)

Ah iya, sebenernya aku sedang mengalami kesulitan melanjutkan A Simply Touch…dikarenakan sesuatu yang membuatku mikir 'aduh mestinya kaya gini' dan aku sempet menimbang2 apa aku hapus aja ceritanya atau aku tulis ulang atau…aku biarin aja kaya gitu atau aku discontinued…...pls help me(?)

Udah, cukup sekian cuap-cuap saya kali ini hwhw hugs&kisses for you all~!

[twt: sugarnim]

Thanks for reading~!

Kindly do me the three big favors, favs/follows/reviews~!

Seeyou~!