Bagian 1 "Aerial Negeri Cahaya, Negeri Kegelapan"

~ Chapter 12 ~

Cast :

VIXX N (GS) & Leo

Go Sohyun

B.A.P Youngguk

Beast Doojoon

VIXX Ravi

DBSK U-Know

BTOB Minhyuk

Super Junior Heechul (GS)

Got7 Jackson

Nu'est JR

B1A4 Jinyoung (GS)

EXO Chanyeol (GS)

BigBang TOP

Wu Yifan/Kris

Nu'est Aron

~ AERIAL ~

Dalam senja, Leo tidak pernah menemukan Aerial lebih indah dari saat ini. Ia sudah berdiri di situ sejak tengah hari, datang seorang diri untuk mempelajari segala hal yang tersaji di surge tersembunyi ini. Ia berharap dapat menemukan petunjuk yang dapat membawanya pada bagian lain dari kehidupan yang ia yakini sempat hilang. Masa lalunya yang masih saja samar dalam ingatan.

Untuk bisa sampai Aerial, Leo sendiri setengah mati mengusahakannya. Mulai dari Sohyun yang tidak lelah mengajaknya kencan, Yongguk yang mengajaknya berlatih fisik, Doojoon yang selalu menghilang di saat ia membutuhkannya, serta Ravi yang ingin ikut pergi dengannya karena ia sedang malas mengikuti latihan fisik.

Untunglah kini Leo tetap bisa sampai ke Aerial seorang diri.

Di depan banyak orang, Leo mungkin terlihat garang dan tidak sensitive—ia berhasil mengenakan topeng seperti itu sedemikian lama. Tapi pada hatinya sendiri, ia begitu polos, tidak dapat menyembunyikan apa-apa, bahwa alasan utama dirinya ke Aerial bukanlah untuk mempelajari masa lalunya, melainkan untuk bertemu si Putri Matahari.

Leo sangat menjunjung tinggi janji. Walau saat di gua ia terkesan bercanda, sesungguhnya ia lebih dari sekedar serius ketika mengatakan ingin bertemu Yeonie lagi di Aerial. Tapi kali ini intuisinya berkata lain.

Dan benar saja, tatkala Leo mendengar suara kresek-kresek, suara yang dikiranya hanya semak belukar dan dahan-dahan pohon bersinggungan, ia langsung mencabut kembali kata-kata itu.

Ia bukan satu-satunya orang di Aerial.

Secepat kedipan mata, Leo menghilang di antara baying-bayang dinding hutan yang memayunginya.

~ AERIAL ~

Yeonie merasa sebesas kupu-kupu!

Dilepasnya gaun putih yang bagian bawahnya sudah sobek-sobek akibat berlari kencang menembus hutan sehingga kini memakai kostum harian yang sudah dikenakannya sebelum Pesta Putih. Baju harian itu yang memudahkannya bergerak di luar gerbang istana tanpa kawalan pasukan Jenderal U-Know.

Betapa leganya ia sudah berhasil keluar dari arean pesta yang terasa mencekiknya.

Di alam bebas begini Yeonie kembali menjadi Yeonie, bukan putri raja dengan seabrek formalitas dan tanggung jawab yang kini hamper semua bertolak belakang dengan nuraninya.

Menikah emi memperkuat pertahanan perang? Bah! Kalau begitu pernikahannya akan menjadi momen paling terkutuk di jagat raya.

Symbol pertumpahan darah.

Ketika tiba di Aerial, Yeonie berdiri diam untuk waktu cukup lama, sekadar menikmati suasana damai yang selalu membuatknya kembali dan kembali ke "pulau mengambang di atas langit" ini.

Setelah puas, dihirupnya udara segar dalam-dalam, merasa siap menjelang kebahagiaan berikutnya: bertemu Pangeran Kegelapan.

"Leo?"

Yeonie celingukan, merasa yakin tadi ada orang di sini. Ditelusurinya perlahan jalan setapak di sekitar danau. Seekor urla yang tengah meniup serbuk-serbuk bunga dandelion dengan penasaran mengikutinya.

"Leo, ini aku—" Leo, kau ke mana? Yeonie mencoba bertelepati.

Ia menunggu beberapa detik.

Tidak ada jawaban.

Sepertinya ia dapat bertelepati dengan Leo hanya pada hari itu saja.

Sesaat mereka seperti sepasang belahan jiwa dengan hubungan yang dalam satu sama lain hingga mampu saling menyapa tanpa berkata-kata.

Hari semakin gelap. Lolongan serigala serta beberapa makhluk nocturnal lain yang tidak ia kenali suaranya mulai terdengar. Bahkan dalam selimut malam, Aerial tetap menyajikan panorama yang menakjubkan.

"Sudah kuduga, Leo…," bisik Yeonie, kesal dan sedih. Lengkap sudah hari ini; setengah mati ia mengusahakan untuk kabur dari salah satu acara terpenting di negeri Cahaya untuk bertemu Leo, namun ternyata lelaki itu tidak muncul, dengan tega meninggalkannya di hutan liar yang masih perawan seperti ini.

Yeonie menahan air matanya. Berjalan kea rah pulang, ia genggam erat tongkatnya di tangan, waspada penuh akan apa pun yang kemungkinan besar bisa ia jumpai di perjalanan tatkala malam kian pekat.

~ AERIAL ~

Lima hari yang sibuk berlalu sejak kedatangannya ke Aerial. Jamuan makan malam dan acara penting kerajaan yang melibatkan dirinya membuat Yeonie melupakan kekesalannya selama lima hari itu. Tapi Aerial kembali memanggil hatinya—atau setidaknya itulah alasan pembenarannya karena ia selalu ingin kembali ke sana.

Mengeyahkan segala pemikiran melankolis yang dirasa membuatnya jadi cengeng, Yeonie pun mengangkat sedikit gaunnya dan melangkah ke luar ruangan parlemen, sangat bersyukur rapat akhirnya selesai.

Sebuah tangan memegang—mencengkram lengannya dari belakang.

"Aerial adalah tempat terlarang, Putri."

Yeonie berbalik badan dan menemukan Minhyuk di situ, menatapnya intens, seperti ingin meraba pikirannya.

Yeonie langsung sadar apa yang dimaksud; Minhyuk tahu ia telah pergi ke Aerial malam itu!

Ditepiskannya lengan itu. Tidak suka ada laki-laki bersikap terlalu kasar kepadanya tanpa seizinnya. "Aku bisa menuntutmu untuk perbuatan tidak menyenangkan terhadap putri raja, Minyuk. Tidak pernahkan kau menghargai yang namanya PRI-VA-SI?!"

"Oh? Menuntutku karena ingin melindungi putri dari tempat yang berbahaya? Hmm, aku yakin aku justru akan mendapatkan medali untuk itu, Yeonie." Minhyuk tertawa melecehkan. "Aku kira saat itu kau ingin bertemu dengan seseorang… dengan sengaja meninggalkan Pesta Putih seperti itu. Tapi rupanya kau tidak ada bedanya dengan Chanyeol—kalian memang gadis-gadis cantik yang aneh."

Bukannya meresapi setiap perkataan Minhyuk, Yeonie malah merasa lega, sadar bahwa ketidakhadiran Leo justru menyelamatkan mereka.

"Raja pastinya tidak suka kalau tahu putrinya yang badung berkeliaran di Aerial."

"Adukan saja ke Ayah!" bentak Yeonie, mulai tidak sabar. Inikah laki-laki yang dipilihkan ayah-ibunya? Apakah penilaian mereka sudah teracuni oleh obsesi untuk memenangkan perang sehingga menempuh jalan apa saja? Seandainya Nenek Heechul masih ada, beliau pasti kan berdiri dengan berani membela Yeonie.

Dan yang paling Yeonie inginkan… ia pasti dapat berbagi dengan beliau rasa suka, bingung, dan penasaran di dalam hatinya tentang Leo. Perasaannya yang tidak terdeskripsikan, mengganggu sekaligus dibutuhkannya, mengenai si Pangeran Kegelapan.

"Aku punya banyak waktu untuk itu, Putri. Dan tahukah kau, bukan hanya ayahku akan sepenuhnya mendukung Raja dengan adanya pernikahan ini, tapi kita akan menjadi sepasang raja dan ratu yang hebat di masa mendatang."

Yeonie terenyak. Mendadak ia jadi berkeringat dingin tatkala memvisualisasikan ide itu.

"Semua sejak mawar hitam, bukan? Sejak Jackson menceritakan kepadamu?" Yeonie bertanya curiga. Nadanya sangat menuding, mengatakan seolah-olah ia tahu semua plot yang telah digariskan.

"Bukan, Putri. Semua sudah digariskan sejak dulu. Sejak JR yang lemah tidak sanggup enghancurkan klan Kegelapan karena pertimbangan unsur kemanusiaan."

JR? Yeonie tahu siapa sosok yang disebut. Nenek Heechul menceritakan sebaliknya tentang pemuka klan Cahaya di masa lalu ini, bahwa JR bukannya lemah, melainkan ia sebenarnya tidak ingin membunuh walau itu klan Kegelapan sekalipun.

"Tapi aku bukan JR. dan mereka bukan manusia…"

Kedua mata Yeonie membelalak. Penekanan suara itu hanya membuat pernyataan Minhyuk terdengar semakin sadis.

"Mereka juga bukannya sedang bersantai-santai. Diserang atau menyerang, itu pilihannya. Untuk keamnn bersama, aku sudah menggandakan penjagaan terhadap Tuan Putri—"

"Aku tidak butuh bantuanmu—"

"Dan apabila ada orang yang mencurigakan, perintahnya adalah bunuh di tempat."

"Minhyuk, itu keterlaluan sekali—!" Sejak kapan anak laki-laki kemarin sore ini bisa bertindak seenaknya? Apakah ayahandanya sudah gila memperbolehkan Minhyuk mengatur hidupnya seperti ini?

"Jenderal U-Know tidak mungkin semudah itu mengikuti peraturan tidak masuk akalmu," Yeonie mendengus, kedua tangan dilipat di dada dengan gaya angkuh.

"Cepat atau lambat, U-Know harus tunduk. Dengan mudah Raja—atau bahkan ayahku!—dapat mencopot jabatannya kapan saja." Minhyuk membungkuk santun sebelum berlalu pergi. Seulas senyum kecil nan licik terpatri di wajahnya. "Tentunya kau pun diharapkan dapat bekerja sama, Putri. Selamat siang."

Yeonie menarik napas panjang. Emosinya terbakar. Belum pernah ia merasa terinjak-injak seperti ini. Semua seperti telah dicuci otaknya oleh Minhyuk sehingga ia tidak memiliki dukungan sama sekali.

Sebelum Yeonie melangkah lagi, dipalingkannya kepala sedikit ke kanan, lali dari sudut ekor mata sebelah kiri, ia melirik seperti yang dikatakan Minhyuk; di balik pilar Castrum Niveus, di dekat taman, bahkan ada yang melebur dengan sekumpulan koki yang akan mempersiapkan makan siang, terdapat penjaga yang diutus Minhyuk untuk mengawasinya.

Dan karena peraturan baru ini didukung Raja, maka tidak ada yang bisa dilakukan Yeonie untuk mencegah perlakuan Minhyuk. Berarti sekarang aku harus lebih berhati-hati, piker Yeonie.

~ AERIAL ~

Yeonie tiba di Aerial setelah berhasil mengelabui para penjaga bahwa ia akan berbincang dengan Madam Jinyoung di kamarnya. Pintu kamarnya dikunci dengan kombinasi kode geometris yang berlapis (hasil inovasi terbaru Chanyeol!). bahkan Madam Jinyoung bisa diajak kompakan untuk tinggal di kamar Yeonie selama beberapa saat, menggubah lagu-lagu indah dengan piano Yeonie di situ. Akibatnya, para penjaga yang berjaga di sekitar kamar Yeonie mengira putri mereka sedang bermain piano dengan Madam Jinyoung di dalamnya.

Berdiri seorang diri di tengah dinding hutan yang menjulang tinggi membuat Yeonie merasa kecil dan tidak berdaya. Ia tidak habis piker, ciptaan Maha Agung yang sangat indah seperti ini, emgapa dikucilkan—mengapa dianggap terkutuk?

"Biasanya sesuatu yang terlalu indah di luar menyimpan banyak misteri di dalamnya, maka itu kita tidak boleh mudah terkesima."

Yeonie terkejut tapi tidak menengok ke belakang. Pada permukaan air danau di depannya ia dapat melihat sosok tegap Leo—tampan dan keras seperti yang terakhir diingatnya—sedang berdiri rileks di belakng dirinya yang tengah bersimpuh.

Entah kapan laki-laki ini tiba di Aerial dengan gesture kasual, sama sekali tidak terlihat memendam rasa bersalah telah ingkar janji pada Yeonie.

Semua ini hanya membuat Yeonie semakin kesal—menyesal kenapa sekarang ia "menyepi" di Aerial dan bertemu si pangeran serampangan.

"Ayahku yang mengajarkan demikian. Itu kata-kata terakhir yang kudengar darinya sebelum aku menjadi anak angkat Raja TOP," Leo meneruskan.

Yeonie tidak mengerti kata-kata itu sepenuhnya. Jadi selama ini Leo—

"Ya, Yeonie. Aku bukan putra kandung Raja TOP. Kris adalah kakak tiriku. Tapi selama ini kami tidak pernah mempertanyakannya dan itu sudah cukup."

Yeonie masih enggan menengok ke belakang. Satu sisi dirnya masih kesal, masih ingin memelihara ngambeknya, maka itu ia bersikeras untuk tetap membelakangi Leo.

Leo.

Yeah?

Tapi tidak dengan hatinya. Leo dapat melihat dengan jelas apa yang berkecamuk di situ—telepati di antara mereka kembali berfungsi seperti saat Yeonie terjatuh di jembatan.

Lantas… kau tahu siapa dia? Ayah kandungmu itu?

Refleksi Leo pada permukaan danau tampak sedang menggeleng.

Suaranya pun hanya samar teringat. Aneh sekali." Leo mengernyitkan kening merasa ada sesuatu yang tidak pas. "Rasanya ia memiliki warna kulit sepertimu, Yeonie. Tapi kurasa akunya saja yang sedang berimajinasi. Lagi pula itu tidak mungkin, kan?"

Yeonie hanya mengangguk sekali, tidak yakin harus berkomentar apa. Tentu saja itu tidak mungkin. Bahkan sedekat apa pun mereka kini berdiri, jurang pemisah itu kaan tetap ada—bahwa ia dari Cahaya dan Leo adalah si Kegelapan.

"Balik badanmu, Putri." Leo memutar bola matanya. Ia baru menyadari mengapa sejak tadi ia hanya dapat memandang punggung Yeonie.

"Jangan memerintahku," balas Yeonie sama kerasnya.

"Bukankah tidak sopan berbicara dengan membelakangi lawan bicaramu—?"

"Bukankah tidak sopan apabila telah berjanji lali megingkarinya?" Yeonie memotongnya berapi-api, tanpa sadar ia malah membalikkan badan. "Kau lupa, ya? Gara-gara itu aku pulang seorang diri malam-malam—tanpa persiapan memadai! Kita seharusnya bertemu di Aerial dan…"

Yeonie berhenti berkata, memilih mengigit bibir untuk meredam gemas dan malunya. Semakin diteruskan malah semakin membuatnya panas, apalagi reaksi Leo terkesan santai-santai saja.

"Kau pulang selamat." Leo terlihat sangat yakin.

Walau memang benar begitu, Yeonie tetap tidak menurunkan suaranya—atau mengakui fakta itu. "Bagaimana kau bisa yakin begitu?"

"Karena aku mengikutimu sampai kau berdiri di gerbang istana, Putri."

Yeonie tertegun. Tanpa bisa dikendalikannya, pipinya bersemu kemerahan. Walau begitu, ia tetap tidak mengerti…

"Kau ada di sana? Tapi kenapa kita tidak bertemu—?"

"Karena kau tidak sendirian saat itu. Pemuda itu membuntutimu sepanjang perjalanan."

"Pemuda…?" Barulah kini Yeonie mengerti. "Minhyuk? Aku tidak menyangka ia akan securiga itu."

"Ada bau dia pada darahmu." Leo membuang muka, terlihat cemberut.

"Kau bilang apa?

"Nggak." Leo menyuruh dirinya sendiri diam sebelum ia malah memperkeruh suasana.

Yeonie memahami kemampuan special kaun Leo, yang dapat mengenali sesuatu lewat darah—apa pun yang tercampur pada darah. Perlahan ia sentuh lengan yang tadi dicengkram Minhyuk. Benar dugaanya, ternyata ada baretan dengan sedikit darah mongering di situ.

"Dia berbuat kasar kepadamu?" Leo bertanya kalem namun auranya posesif.

Yeonie menggeleng. Ada senyum kecil tersungging di wajahnya, menikmati gesture cemburu Leo.

"Cih!" Leo berjalan menjauh kea rah mulut danau. Walau begitu dari belakang Yeonie tetap dapat melihat ekspresi keras pemuda ini, yang terlihat merasa lega. "Kamu bisa berenang?" ia bertanya.

"Tidak terkalahkan di negeri Cahaya," Yeonie menjawab sambil nyengir.

Leo tersenyum balik, senang dengan fakta gadis ini ternyata bukan tipikal bangsawan manja. "Kita bisa mengeksplorasi dunia bawah air di dalam danau ini. Pasti ada petunjuk yang dapat digali untuk mengetahui sejarah kenapa dulu kedua negeri ini terlibat operang bodoh, daripada sekedar mendengarkan kabar turun-temurun dari kalangan tua yang terlalu banyak bumbunya!"

Yeonie mengulum senyum, gelai melihat kesewotan itu. "Apakah aman?"

"Aman. Aku pernah memeriksanya ke bawah bersama Ravi." Leo menjatuhkan diri ke dalam air layaknya penyelam pro.

Yeonie menyusul. Ia sempat berpikir apakah di Dataran Kegelapan terdapat banyak sungai dan danau sehingga rakyatnya tampak terbiasa berenang? Ataukah di sana mereka memiliki pantai dan laut juga?

Deg!

Tiba-tiba Yeonie menyadari sesuatu yang menyeruak di dada. Bukan karena belum-belum ia sudah kehabisan napas dan akan muncul ke permukaan danau lagi. Dilihatnya Leo berenang semakin dalam di depannya; betapa igin ia menggapainya—betapa ingin dirinya melihat wilayah Kegelapan, tempat Leo hidup dan dibesarkan.

Betapa menyesatkan semua angan nonsense itu menarik Yeonie semkain jauh dalam khayalannya. Padalah di luar ia masih ragu; mungkinkah mereka berdamai? Mungkinkah mereka bersatu—?

Jangan berpikir yang aneh-aneh. Lihat ke depanmu.

Di tengah gelembung-gelembung udara yang dingin, Yeonie dapatmerasakan wajahnya menghangat. Ia malu ketahuan ole Leo seperti ini, lupa kalau pada saat-saat tertentu Leo dapat bertelepati, membaca isi hatinya.

Yeonie mengangkat wajah, memfokuskan penglihatannya pada apa yang tersaji di bawah danau Aerial.

Wah, indahnya!

Fokus Yeonie pun dengan cepat tergantikan oleh pemandangan menajkjubkan di bawah air: sebuah sisa reruntuhan istana yang lebih indah dari Castrum Niveus berdiri anggun di situ! Istana ini juga memiliki banyak jendela seperti Istana Putih. Tapi tidak seperti jendela Istana Putih yang serba terbuka, jendela-jendela itu memiliki pintu yang penuh ukiran yang tidak ia kenal coraknya. Beberapa pintu masih terbuka lebar, membiaskan cahaya matahari yang masuk sampai ke dasar danau. Beberapa lagi tampak tertutup rapat dan sudah usang di makan zaman. Beberapa hewan laut seperti ubur-ubur ikut melintas di situ, berkilauan tertimpa sinar mentari.

Oh ya, sinar mentari. Begitu banyak sorotan disana-sini membelah air danau, membuat Leo jadi rikuh, tidak dapat berenang dengan bebas. Ada rasa iba di hati Yeonie menyadari kenyataan ini. Betapa sulitnya Leo harus menyelam tanpa mengenai biasan cahaya yang dapat melukai tubuhnya walau dia tetap saja segesit ikan.

Apa itu?

Yeonie melihat lengkungan warna-warni transparan yang ditunjuk Leo. Ia sempat heran Leo tidak tahu apa itu.

Itu pelangi. Pastinya terbentuk karena cahaya matahari menembus sampai dasar danau, jawab Yeonie. Ia sendiri belum pernah melihat fenomena seperti ini. Ternyata pelangi di dalam air jauh lebih indah daripada yang ia lihat di langit.

Pelangi? Leo masih bingung. Kau bilang ada di langit? Mengapa di tempatku tidak ada?

Yeonie berpikir sejenak. Di negerinya pelangi adalah hal yang biasa muncul, terutama saat musim penghujan. Matahari yang bersinar ke atas titik-titik air hujan yang jatuh, dipantulkan menjadi spectrum cahaya tujuh warna yang kemudia menghiasi langit. Bedanya kini adalah langit di bawah air.

Mengapa Leo tidak pernah tahu pelangi, nah ini fakta pahit lain bagi pemuda ini, juga kaln Kegelapan lainnya. Tentu saja pelangi tidak akan pernah muncul di negeri mereka karena wilayah itu tidak pernah bersimbah cahaya mentari.

Jadi begitu, Leo menggumam di dalam hati, tampak lebih diam karenanya.

Yeonie jadi merasa tidak enak hati. Ia segera mengganti topic. Hei, lihat itu! Ia menunjuk kea rah batuan besar pada salah satu sisi jendela, memiliki ukiran seperti pintu jendela dan tampak tertutupi tumbuhan menyerupai alga. Sebuah prasasti, Leo!

Prasasti?

Yeonie terbatuk beberapa kali. Paru-parunya terasa menggembung, mau meledak. Ia menyadari dirinya sudah tidak senggup menahan napas lebih lama. Dengan sigap Leo pun langsung menarik tangannya meluncur ke atas permukaan lagi untuk mengambil napas.

"Pelan-pelan," Leo menasehati. Ia menepuk-nepuk punggung putri ini lalu mengisyaratkan mereka untuk menyelam lagi. "Aksaranya aneh. Tidak bisa dibaca."

"Aku bisa." Yeonie teringat Nenek Heechul pernah mengajarkan jenis huruf unik seperti ini. Huuruf ini adalah bahasa pengantar yang umum digunakan ketika… bangsa Atlantis dan Viking masih… bersatu? "Leo… ayo kita ke bawah lagi!" gentian kini sang putri yang menarik tangannya, melompat bersamaan.

Mereka kembali ke prasasti yang sebagian hurufnya sudah tidak terlihat, dan dengan penglihatan terbatas di dalam air, Yeonie berusaha keras membacanya.

Dahulu… jauh sebelum kepemimpinan JR dan…, ia menoleh ke Leo, bertanya dalam hati, siapa Aron, Leo?

Pemimpinki di masa lalu. Ia terkenal akan kepemerintahannya yang tirani dan tidak mengenal ampun.

Yeonie meneruskan, …JR dan Aron, bangsa Viking dan Atlantis adalah dua bangsa yang hidup berdampingan. Namun pada tiap fase kehidupan, ujian pasti tiba. Kali ini alam mengetes seberapa jauh manusia dapat hidup berdampingan dengan kondisi geografis mereka yang ebrbeda drastic satu sama lain. Akibatnya, hanya wilayah Cahaya—terkenal sebagai tempat hidup bangsa Atlantis yang mendapat limpahan cahaya matahari. Di sisi lain, bangsa Viking yang merupakan petarung sejati, diberi kondisi alam baru yang lebih sulit; mereka sama sekali tidak mendapatkan sinar mentari, mengakibatkan kulit dan sistem organ tubuh mereka lebih peka, namun sebagai gantinya mereka dianugerahi kekuatan ratusan raksasa.

Sambil membacanya, Yeonie memandu Leo untuk memahami rangkaian huruf-huruf asing itu. Awalnya pangeran muda ini kesal dan gemas, tapi lama-lama ia ikut mengeja dengan sabar. Apa yang akan mereka lakukan? Sebagai makhluk dengan akal paling sempurna, tentunya mereka tidak akan memilih perang sebagai jalan keluarnya.

Leo tidak perlu meneruskan tulisan pada prasasti itu. Dengan enggan dan cenderung marah, ia berenang menjauh, kembali ke permukaan danau.

"Dasar orang-orang bodoh," makinya. "Sudah jelas-jelas tertulis di situ bahwa penyelesaiannya bukan dengan perang!" Ia mengibaskan tangan dengan kasar, membuat burung-burung hutan terbang dan bersembunyi.

Yeonie berpikiran sama, tapi keraguan yang sama pula sejak dulu masih menyusupi benaknya. Masih mengambang di permukaan air yang kini tidak lagi terkena cahaya mentari karena sore sudah semakin tinggi, ia membelakangi Leo.

"Jadi ini yang dimaksud? Mengapa selama ini aku begitu susah keluar dari wilayahku? Mengapa pengamanan dan penjagaan diperketat? Mengapa Ayah begitu bersemangat mempersiapkan armada yang kuat bersama Siwon." Suara Leo menjadi lirih, menjadi bisikan, "Jadi karena ingin berperang lagi…?"

Yeonie terenyak mendengar pernyataan tersebut. Tubuhnya gemetaran, merasa negri sekaligus bersikukuh bahwa ia akan menjadi salah satu dari sebagian kecil orang yang menentang ini terjadi.

"Negeriku juga mulai bersiaga." Yeonie berhenti sejenak, sesaat merasa tidak sanggup meneruskannya. "Perintahnya langsung dari Ayah dan Ibu. Bahkan Minhyuk ikut-ikutan…" Dipandanginya cahaya yang menerangi dinding hutan semakin redup. Hari telah berganti malam.

"Mungkin kita memang hanya bisa bersatu… dalam mimpi saja—"

"Hentikan, Yeonie! Tenang saja," Leo setengah membentak, tidak mempercayai pemikiran yang dianggapnya bodoh itu. Perlahan ia sentuh bahu gadis ini dan membalikkan tubuhnya sampai mereka saling berhadapan. "Kita akan buat mereka mengerti bahwa perang sama sekali bukan jalan keluar."

"Kau yakin sekali, Leo." Yeonie tersenyum kecil. Sebersit kesedihan ikut mewarnai wajahnya.

"Kau yang tiba-tiba jadi tidak yakin. Mana semangatmu yang biasanya?" Leo mencoba bercanda. Dan candaan itu tidak berlangsung lama ketika ia mendaratkan kecupan manis di bibir gadis yang telah mencuri hatinya sejak pertama mereka bertemu.

Leo—! Yeonie mencoba bertelepati.

Diam.

Dan untuk kali ini, Leo tidak memberinya kesempatan.

~To Be Continued~