Disclaimer: Naruto dan HS DxD bukan kepunyaanku.
Genre: adventure & hurt/comfrot.
Rate: M
Warning!: Update gak teratur, alur berubah-ubah, tema pasaran, OOC, dll.
.
.
.
"Naruto."
Siapa? Suara siapa itu?
"Naruto."
Aku membuka mataku dan yang kulihat hanyalah tempat yang dipenuhi oleh nuansa putih. Ck, sudah berapa lama aku disini. Padahal proses penggabungan sudah selesai, kenapa juga aku masih belum bisa kembali ke dunia nyata.
"Bangun juga kau dobe."
Eh!? Itu kan...
"Sasuke!"
"Ck, jangan terkejut seperti itu. Wajahmu terlihat seperti orang bodoh."
Tunggu dulu! Bagaimana ia bisa ada disini? Inikan alam bawah sadarku. Apa jangan jangan aku sudah mati? Tapi, aku yakin ini masih di alam bawah sadarku. Lalu... kenapa ia bisa ada disini!?
"Sa-sasuke, aku belum mati kan?"
"Dobe tetaplah dobe." Ia menatapku datar. "Ini hanyalah sisa chakra dari diriku."
Jadi begitu, ini seperti saat aku lepas kendali saat melawan Pain dan ayah muncul untuk menghentikan aku melepas segel Kurama.
"Jadi, kenapa kau baru muncul sekarang?" Aku menatap langsung ke matanya.
Ia menatapku datar. "Kurasa kau terlihat lebih hidup dari beberapa bulan yang lalu."
"Yah... seperti itulah." Aku mendongak menatap langit putih yang tak berujung itu. Yang membuatku lebih hidup adalah...
Aku dapat melihat bayangan Moka diatas sana tak hanya Moka namun juga ada Kunou dan...
Ravel?
Aku tak menyangka dia masuk dalam kategori orang yang berharga buatku. Yah... alasanku untuk hidup adalah ada orang berharga yang harus kulindungi lagi. Kali ini aku tak mengulangi apa yang telah terjadi di dunia Shinobi, apa pun caranya aku akan melindungi mereka.
"Aku senang akhirnya kau menerima kehidupanmu disini."
"Hahaha... terdengar tidak seperti Sasuke yang kukenal." Yah, ia sangat berbeda dengan Sasuke yang biasanya tak peduli dengan sekitarnya.
Ia mendengus geli. "Jangan membuatku tertawa dobe, kau juga sangat berbeda dengan dobe yang ku kenal."
Yah... aku memang sudah banyak berubah. Bahkan aku sendiri hampir tak mengenali diriku, seakan...
Naruto yang dulu telah mati.
"Lupakan itu, jadi alasan apa sampai kau muncul? Tidak mungkinkan cuma ingin menyapaku." Tanyaku padanya.
Sasuke menatapku serius. "Ini tentang Madara."
Deg.
Tubuhku seolah membeku saat mendengar nama tersebut. Kenapa ia mengungkit-ungkit nama bedebah itu.
"Naruto. Mau sampai kapan kau mengabaikan hal tersebut."
Aku tau itu, tapi aku masih belum mau menemuinya.
"Dia sudah merenungkan semua perbuatannya dan dia sudah mengaku salah." Ia menghembuskan napas sejenak. "Mau sampai kapan kau mengurungnya?"
"Aku masih belum bisa memaafkannya. Dia merenggut semua orang yang berharga bagiku. Aku tak bisa memaafkannya!" Tidak, sampai kapanpun aku tidak akan melepaskan Madara.
"Naruto yang ku kenal akan mau memaafkan kesalahan orang lain, walaupun orang tersebut telah melakukan dosa besar."
"Sayangnya Naruto yang kau kenal telah mati. Lagi pula aku tak mau mendengar nasihat dari seorang yang larut dalam balas dendam." Ada apa sih dengan Sasuke yang 'ini'? Kenapa jadi sok sokan jadi tukang ceramah begini.
Sasuke kembali menghela napas, ini sudah kelewat OOC dari karakternya. "Yah... mungkin kau benar." Ia tersenyum tipis. "Hanya saja dia akan senang membantumu. Jika kau meminta tolong padanya dia pasti dengan senang hati menolongmu. Cobalah untuk bicara dengannya."
Bicara dengan Madara?
"Mungkin... suatu saat nanti." Jawabku agak ragu.
"Baguslah." Ia kembali tersenyum tipis. "Waktu ku sudah habis." Tubuhnya menjadi transparan dan mulai menghilang dari kakinya terlebih dahulu, chakra yang ditinggalkan Sasuke sudah habis. "Bukankah sudah saatnya kau kembali."
Aku menatap telapak tangan kananku yang juga ikut menjadi transparan. "Yeah." Aku menatap Sasuke yang tubuhnya tinggal separuh. "Ini pertemuan terakhir kita." Aku tersenyum, mengepalkan tangan kananku. Aku menjulurkannya kearah Sasuke.
"Yeah, semoga kau bahagia dengan dunia barumu ini." Ia juga melakukan hal yang sama denganku.
Tos.
Setelah kami melakukan brofist, tubuh Sasuke menghilang sepenuhnya. Dan setelah itu cahaya putih menutupi semua pandanganku.
.
.
.
Naruto mengerjap-ngerjapkan matanya menyesuaikan cahaya yang menerpa matanya. Setelah terbiasa dengan cahaya yang masuk kematanya ia membuka matanya lebar dan hal pertama yang ia lihat adalah atap bercat kuning. Ia mencoba menggerakan tubuhnya, namun semua tubuhnya terasa kaku. Memaksa tubuhnya yang masih terasa kaku Naruto merubah posisinya menjadi duduk. Menatap sekitarnya Naruto ingat jika ini adalah kamarnya saat berada di Kyoto. Tatapannya lalu terhenti pada segelas air yang berada dimeja kecil dekat kasurnya. Dengan tangan yang bergetar Naruto mengambil gelas tersebut, namun baru mengangkatnya sedikit pegangannya pada gelas terlepas membuat gelas tersebut jatuh kelantai.
"Berapa lama aku tertidur?" Naruto bertanya pada dirinya sendiri sambil menatap tangannya yang bergetar. "Tubuhku terasa kaku semua."
Menghembuskan napasnya sejenak Naruto menutup matanya dan berkonsentrasi memfokuskan mengalirkan chakra keseluruh tubuhnya. Setelah beberapa menit Naruto membuka matanya dan mencoba mengerak-gerakan tangannya yang sudah lebih baik dari sebelumnya. Dirasa semua tubuhnya telah pulih Naruto turun dari kasurnya, ia beberapa kali melakukan gerakan peregangan.
"Kemana dia?" Gumamnya pelan, ia berjalan menghampiri lemari kecil yang berada dipojok ruangan dan mengambil kaos berwarna orange polos dan celana pendek berwarna biru. Setelah mengenakan pakaian tersebut Naruto berjalan keluar kamar.
Kastil terlihat lebih sepi dari biasanya hanya ada beberapa penjaga yang berseliweran di dalam kastil. Naruto mengacuhkan hal tersebut dan terus melangkah menuju tempat yang biasanya buat makan dan mengingat ini masih pagi mungkin saja mereka sedang menikmati sarapan.
"Oi Shineju! Jangan mengambil tempuraku!"
"Ara ara... ku kira itu punyaku."
"Kau..."
Naruto tersenyum tipis saat mendengar suara Moka yang sepertinya tengah bertengkar. Dengan pelan ia membuka pintu ruangan makan tersebut, namun saat baru terbuka sedikit ia kembali menutupnya. Ia menunduk hingga surai pirang menutupi wajahnya dan berjalan menjauhi tempat tersebut.
Pagi berganti siang, matahari bersinar gagah tanpa ada awan yang menemani. Di Kastil terjadi kegaduhan dan semua ini karena Moka yang mondar mandir tak jelas dan teriak-teriak memanggil Naruto. Ini sudah terjadi beberapa jam lalu semenjak acara sarapan selesai. Saat selesai sarapan Moka langsung menuju kamar Naruto seperti biasanya, namun betapa kagetnya saat sampai dikamar ia tidak menemukan Naruto.
"Naruto-kun!"
Kunou yang melihat Moka yang membuka setiap pintu yang berada dikastil akhirnya mulai jengah. Sejujurnya ia juga khawatir dengan Naruto, hanya saja ia yakin jika Naruto baik-baik saja dan pasti akan kembali.
"Moka-nee, mungkin Naruto sedang jalan-jalan."
Moka menghentikan pencariannya sejenak dan menatap Kunou. "Ah, benar juga!" Serunya agak keras. "Kalo begitu aku akan cari di kota!" Ucapnya yang langsung pergi.
Kunou menggeleng pelan melihat tingkah Moka.
"Kau tak ikut mencari?" Tanya Shineju yang muncul disamping Kunou. "Kau juga khawatir kan?"
"Ha'i, tentu saja aku khawatir. Tapi aku tahu Naruto itu kuat."
"Dia memang kuat." Shineju menepuk pelan kepala Kunou. "Yang ku maksud adalah, bagaimana jika Naruto meninggalkan kalian dan pergi jauh." Ia tersenyum saat melihat Kunou yang terdiam. Ah... cucunya sedang delima saat ini. Shineju tahu jika sebenarnya Kunou punya perasaan spesial pada Naruto. Walau Kunou tak menunjukannya dengan jelas seperti yang dilakukan Moka dan dirinya. Ah.. jika boleh jujur Shineju juga tertarik dengan Naruto. "Nah, aku juga akan mencarinya diluar." Ia kembali menepuk pelan kepala Kunou dan berjalan menyusul Moka.
"Pergi jauh?" Ia menyentuh dada kirinya yang terasa seperti dicubit. "Baka, apa peduliku jika dia pergi jauh." Gumamnya pelan.
.
.
.
Siang telah berlalu digantikan dengan malam yang menyelimuti langit. Tak seperti siang tadi, awan mendung tebal menutupi tugas sang bulan untuk menyinari malam ini. Angin bertiup cukup kencang membuat beberapa penghuni kota Youkai memilih untuk menghabiskan malam ini didalam rumah bersama keluarga ataupun mengobrol bersama teman didalam kedai. Namun berbeda dengan seorang gadis manis berambut pink yang hanya duduk diam dipinggir tempat air mancur. Ia menghela napas lalu terdiam seperti melamun, mengela napas lagi lalu terdiam hal itu terus ia lakukan hingga beberapa kali.
"Arghh! Kemana perginya dia!" Ia berteriak sambil mengacak rambut pinknya membuat beberapa Youkai yang kebetulan lewat disana menatap aneh gadis tersebut. Ia menatap sendu tanah yang berada dibawahnya.
Tes
Tes
Tes
"Hujan." Moka mendongak menatap langit yang mulai menjatuhkan rintik rintik air. "Apa aku kembali ke kastil saja? Tapi..."
Jrash...
Hujan turun semakin deras namun Moka masih saja diam terduduk ditempatnya. "Apa dia benar-benar pergi meninggalkanku?" Ia meremas lengannya sendiri. "Kenapa... kenapa orang-orang selalu meninggalkanku? Kenapa..."
Tap.
Moka yang sedang larut dalam pikirannya tak menyadari jika didepannya berdiri Naruto sambil membawa payung.
"Kenapa kau hujan-hujanan disini?"
Moka segera mengankat wajahnya saat mendengar suara yang sangat familiar di telinganya. Matanya memanas saat melihat Naruto yang tersenyum tipis.
"Otakmu akan beku jika terus kehujanan dan membuatmu makin bodoh." Naruto tersenyum geli saat melihat Moka yang mulai menangis. "Sudah bodoh cengeng pula. Aku tak mau punya pasangan yang seperti itu."
"Huwaa!" Tak perduli dengan tubuhnya yang basah ia menerjang tubuh Naruto. Ia menangis tersedu sedu di pelukan Naruto.
"Oi, oi. Tubuhku jadi ikut basah."
"Ku-kupikir kamu benar-benar pergi meninggalkanmu." Moka menenggelamkan wajahnya kedalam dada bidang Naruto, menghirup aroma citrus yang sangat ia sukai dari pemuda ini.
Naruto menepuk pelan kepala Moka. "Mana mungkin aku meninggalkan gadis cengeng, bodoh dan ceroboh sepertimu sendirian."
Mereka terdiam cukup lama dengan posisi itu. Hujan terus mengguyur semakin deras disertai angin yang cukup kencang.
"Ayo kita kembali." Ucap Naruto setelah terdiam cukup lama. Ia juga merasa tak nyaman karena bajunya basah. Moka hanya mengangguk dalam pelukan Naruto, dia tak mau melepaskan pelukannya.
"Hiraishin."
Slash!
Naruto muncul didalam kamarnya dengan Moka yang masih dalam pelukannya. Ia menutup payung yang ia pakai tadi. "Mau sampai kapan kau memeluk ku hmm?"
"Selamanya."
Naruto memukul pelan kepala Moka dengan payung yang ia pegang, membuat Moka melepaskan pelukannya dan mengelus kepalanya. "Jangan bercanda."
"Aku tidak bercanda!" Teriak Moka kesal. Sepertinya emosinya cepat berubah.
"Sudah, aku mau mandi." Naruto berjalan menuju kamar mandi yang berada dikamarnya itu. "Lebih baik kau segera kembali ke kamarmu dan mandi."
Moka menatap pintu kamar mandi yang baru saja ditutup oleh Naruto, ia mulai melepaskan satu persatu pakaian yang ia kenakan hingga telanjang bulat. Ia berjalan menuju kamar mandi, rasa ragu sempat hinggap di hatinya saat mau membuka pintu kamar mandi tersebut. Beberapa menit ia habiskan hanya berdiri didepan pintu sebelum akhirnya membuka pintu tersebut.
Cklek.
"Apa lagi?" Tanya Naruto yang kini berendam air hangat dalam bathup, matanya tertutup menikmati rasa hangat yang menyelimuti tubuhnya. Setelah tertidur selama dua minggu, ini sangat menyegarkan tubuhnya.
Moka masih berdiri diambang pintu. "Boleh-"
"Lakukan apa yang kau suka." Sela Naruto sebelum Moka menyelesaikan ucapannya.
Moka tersenyum lebar saat mendapat persetujuan Naruto. Ia mulai melangkah mendekati shower dan menghidupkannya. Air kembali mengguyur tubuh mulus Moka, ia kembali mematikan shower tersebut dan mengambil sabun.
Grep!
Moka terkejut saat tangan dipegang Naruto dari belakang. Naruto mengambil sabun yang berada ditangan Moka. "Kau tau, jangan selalu menggodaku."
Mata Moka terpejam saat Naruto mulai menyabuni lengan Moka lalu punggung lalu beralih ke lengan yang lainnya. Naruto menghentikan hal tersebut lalu mulai menyabuni kebagian perut Moka.
"Na-naruh..." Moka memegang tangan Naruto yang mulai merayap keatas. Napasnya mulai memburu saat merasakan panas tubuhnya mulai memanas.
"Kenapa hmm..." Naruto menempelkan dagunya kepundak Moka, ia menyesap aroma wangi Moka dari lehernya membuat Moka mendesah pelan.
Moka menyampingkan wajahnya dan menatap wajah Naruto. Wajahnya sudah memerah sempurna. Seakan terhipnotis dengan onyx kelam Naruto, Moka semakin mendekatkan wajahnya.
Cup.
Bibir itu bertemu dan menyatu, saling menyesap dan bertukar salvia tanpa ada rasa jijik. Tangan Naruto semakin naik dan mulai menyabun bagian dada Moka, tangan kiri yang sedari tadi menganggur kini juga mulai ikut meratakan busa sabun ke seluruh tubuh Moka.
"Uhhmm.. ahh~" Moka mendesah saat tangan Naruto membelai pelan kedua payudaranya. Ia melepaskan ciumannya dan menatap sayu Naruto. "Naru..." Ia mengalungkan kedua tangannya saat Naruto membalik tubuhnya dan mengangkatnya. Kedua kakinya juga melilit pinggang Naruto menahan tubuhnya supaya tidak jatuh. Ia kembali mendesah saat tangan Naruto kembali menyabuni kakinya. Setiap sentuhan yang diberikan seakan menghantarkan sengatan listrik kecil keseluruh tubuhnya. Ia tersentak saat tangan Naruto akan menyentuh bagian paling intim, ia segera menghentikan tangan tersebut sebelum bergerak lebih jauh. Ia mengalihkan pandangannya saat Naruto menatapnya.
"Kenapa?" Tanya Naruto, namun tak ada jawaban dari Naruto. "Tatap aku."
Moka masih memalingkan wajahnya, ia terlalu malu dan takut? Untuk menatap wajah Naruto. Ia merasa malu dan terlalu hina dengan keadaan seperti ini, merasa seperti pelacur yang dengan sengaja menyerahkan tubuhnya dengan suka rela. Ia juga merasa takut, takut jika Naruto membencinya dan meninggalkannya. Awalnya ia yakin dengan keputusannya ini, namun saat menyadari jika Naruto tak pernah membalas perasaannya rasa ragu itu datang lagi.
"Kau takut padaku?" Tanya Naruto seolah mengerti dengan apa yang dipikirkan oleh Moka. Ia memegang dagu Moka dan memaksa wajahnya berhadapan dengannya. "Jawab aku."
Moka masih tak berani menatap wajah Naruto. "Aku..." Ia ingin mengucapkan semua kegelisahannya namun terasa begitu susah dan saat ingin mencoba kembali setiap kata yang ia rangkai seperti hilang ditenggorokannya dan hanya kata 'aku' yang terus keluar bagai kaset rusak.
Naruto menatap wajah Moka yang menunduk menghindari kontak mata dengannya. "Aku mencintaimu." Dan dua kata tersebut sukses membuat Moka mengangkat wajahnya dan menatap Naruto terkejut. "Aku mencintaimu Moka."
Cup.
Naruto mencium bibir Moka. Moka sendiri masih terkejut dengan apa yang diucapkan Naruto tadi. Naruto mencintainya? Apa ini mimpi? Padahal selama ini Naruto selalu tak peduli padanya, padahal Naruto dulu sering mengusirnya. Padahal, padahal...
Naruto melepaskan ciumannya dan menatap wajah Moka yang masih terkejut. "Apa kamu meragukan kata-kataku?"
Moka menatap mata Onyx dan dapat ia lihat disana terdapat kesungguhan tanpa keraguan. Ia tersenyum dan menggeleng pelan. "Tidak. Aku percaya padamu."
Cup.
Moka mencium bibir Naruto yang tentu saja dibalas dengan senang hati oleh Naruto. Kali ini mereka berdua menyerah pada perasaan masing-masing. Biarlah malam ini menjadi malam panjang untuk saling berbagi kasih.
.
.
TBC
.
.
Pendek? Iya kok saya sadar jika ini pendek. Mumpung ide lagi encer jadi saya langsung menyelesaikan chap ini. Disini saya membuat hubungan Naruto dan Moka semakin jelas.
Madara? Di chap satu udah jelas kan jika saya mengakhiri pertarungan Madara dan Naruto dengan penyegelan. Jadi selama ini saya buat Madara tersegel ditubuh Naruto, lebih tepatnya tersegel di alam bawah sadarnya yang terdalam? Karangan sendiri.
Udah itu aja yang mau saya sampaikan. Semoga ini cukup memuaskan.
Sampai jumpa lagi...
