Baekhyun mengigiti kukunya yang sudah tidak rata. Duduk di atas meja kamar mandi, kakinya bergoyang ke belakang dan ke depan. Seluruh tubuhnya berdengung dengan energi yang misterius.

Dia menarik napas dengan gelisah, mencoba menenangkan emosinya yang tidak terkontrol, tapi tidak kurang dari satu akuarium margarita saja yang bisa membantunya saat ini. Dia mengalihkan pandangannya dari Irene yang duduk santai di sofa kecil kemudian memandang tiga alat tes kehamilan yang berbeda.

"Ini sudah berapa lama?" tanya Baekhyun.

Irene mengerang. "Sekitar lima detik sejak terakhir kali kau menanyakan itu! Ya Tuhan, Baekhyun, kau bisa membuatku terkena stroke!"

"Maafkan aku. Rasanya sudah begitu lama sejak aku melakukan tes dengan tiga alat sialan itu. Aku tidak bisa berpikir lagi."

Seseorang hendak mencoba masuk ke kamar mandi, dan Irene langsung melompat berdiri, menggunakan tenaganya untuk menahan pintu.

"Maaf, ini tidak bisa digunakan. Coba yang lain yang ada di aula."

Orang itu menggerutu, tapi kemudian pergi menjauh.

Mata Baekhyun melebar. "Aku tidak percaya kau membajak kamar mandi untuk tes kehamilanku!"

"Apa kau ingin wanita asing buang air kecil di sini, di tengah-tengah momen besar milikmu ini?"

Tawa yang penuh kegugupan keluar dari mulut Baekhyun. "Tidak, kurasa tidak. Tapi kita tidak tahu ini akan menjadi momen besar atau tidak."

Irene menyeringai. "Kau sudah terlambat satu minggu kali ini, Baekhyun. Dan jangan lupa kalau Chanyeol memperlakukan spermanya dengan begitu hati-hati. Aku pikir untuk yang kedua kalinya ini, keberuntungan berpihak padamu!"

"Aku juga berharap seperti itu, aku ada perasaan bahwa Chanyeol sedikit kecewa karena tidak ada sesi membuat bayi lagi, terutama ketika dia menyimpan tenaganya saat dia berada di luar negeri."

"Siapa yang bilang itu sudah berakhir?"

Alis mata Baekhyun terangkat karena terkejut. "Karena tujuan sebenarnya sudah tercapai saat aku hamil."

"Ya dan membiarkan dia terus kembali menemuimu akan memberimu sesuatu yang tidak pernah kau bayangkan sebelumnya."

"Dan apakah itu?"

Irene memberinya senyum sok tahu. "Seorang suami."

Ruangan itu terasa berputar, membuat kepala Baekhyun terbentur ke kaca yang ada di belakangnya. Dia menyentuhkan tangannya ke kepala bagian depannya untuk meredakan kepalanya yang masih terasa berputar.

"Jangan mengatakan sesuatu seperti itu kepadaku karena itu akan membuat kepalaku meledak sewaktu-waktu."

Saat Irene tidak membalas kata-katanya, Baekhyun membuka matanya. "Apa itu?"

"Mereka mulai berubah warna!"

Baekhyun menarik napas panjang sebelum bergerak maju menuju ke meja di kamar mandi itu.

"Dan?"

"Sialan, satunya memiliki dua garis dan satunya lagi mengatakan Ya!"

Baekhyun hampir saja terjatuh ke lantai di depan meja kamar mandi itu, dengan sempoyongan dia mencoba meraih Irene dan berpegangan pada bahunya.

Karena bingung, dia bertanya, "Tapi apa maksudnya itu."

Air mata mulai mengalir dari mata Irene. "Itu artinya kau benar-benar hamil!"

"Apa kau yakin? Kau tidak salah membacanya, kan?"

"Tidak, aku positif, dan semua tes juga positif!"

Baekhyun membeku saat tubuhnya dengan perlahan mulai memproses semuanya yang sedang terjadi. Semua emosi saling memantul di dalam dirinya dan membuat tubuhnya terasa gemetar. Dia tidak bisa mengedipkan matanya, dan juga tidak bisa bernapas sama sekali.

Tahun-tahun menyakitkan yang dilewatinya setelah kematian Kris dan Ibunya, dan itu semua dipenuhi pada saat ini. Secara fisik dan emosi ini semua benar-benar membuatnya kewalahan.

Hamil dia benar-benar hamil.

Irene mengguncang dia perlahan-lahan. "Bernapaslah, Baekhyun, kau harus bernapas."

Air mata mengalir di kedua pipi milik Baekhyun. Tangannya secara otomatis memegangi perutnya.

"Aku tidak bisa percaya kalau ini benar-benar terjadi."

"Itu pasti lebih baik kalau berjalan dengan benar," Irene mencoba bercanda, saat dia mencoba menghapus air matanya dengan punggung telapak tangannya.

Perasaan gembira Baekhyun mulai menghilang. "Bagaimana kalau ternyata hasil tes ini salah? Maksudku bagaimana kalau-"

Irene menggoyangkan kepalanya. "Kau bisa mencoba membeli sepuluh alat tes lagi untuk meyakinkan dirimu, tapi kali ini semua benar-benar terjadi."

Baekhyun mengambil tisue dan mengusap air matanya. "Apa kau tidak melihatnya? Hanya ada kekecewaan dan kesedihan di dalam hidupku sehingga rasanya amat sulit bagi diriku untuk memercayai bahwa sesuatu yang aku inginkan benar-benar terjadi."

"Baekhyun"

"Kau tidak akan mengerti rasanya bagiku. Sudah berulang kali aku berharap mendapatkan sebuah kebahagiaan nyata, namun aku tidak pernah bisa mendapatkannya. Kris dan aku berencana untuk segera membentuk keluarga. Dia bercanda bahwa dia akan melamarku, sehingga kami bisa menikah secepat kilat. Aku tidak ingin yang lain kecuali memiliki anak dari dia, dan kemudian dia pergi. Kemudian aku juga kehilangan Ibuku," bibirnya bergetar.

"Aku sangat takut ini semua tidak berjalan sesuai yang direncanakan, Ren."

"Jangan takut." Irene menarik Baekhyun ke dalam pelukannya.

"Aku ada di dini bersamamu, dan semuanya akan baik-baik saja. Ini adalah waktu untuk dirimu berbahagia, Baekhyun. Kau hanya perlu mempercayainya."

Baekhyun menutup matanya dan membiarkan optimisme yang dikatakan oleh Irene mengalir dalam dirinya.

"Aku ingin mempercayai itu. Sangat-sangat menginginkannya."

Irene mendorong tubuh Baekhyun untuk memberinya senyuman yang memberikan keyakinan.

"Kau harus percaya, karena ini adalah fakta. Sekarang tatap cermin itu dan katakan apa yang harus kau katakan."

"Serius Irene?"

"Lakukanlah!"

"Baiklah." Baekhyun menatap wajahnya yang muram dengan maskara yang sudah berantakan di cermin.

"Aku hamil, dan aku akan menjadi seorang ibu."

"Benar sekali! Sekarang, kapan kau akan memberitahu Big Daddy mengenai kabar baik ini?"

"Oh, aku tidak tahu. Meskipun kami sering bicara di telepon atau skype sejak dia pergi, aku tidak ingin melakukannya dengan cara seperti itu." Melihat wajah licik Irene, Baekhyun menyilangkan kedua lengannya di depan dadanya.

"Aku tahu bahwa kau sedang berpikir, dan jawabannya adalah tidak. Kami tidak melakukan telepon seks!"

"Sangat mengecewakan," Irene cemberut.

Sambil memutar matanya, Baekhyun mengatakan, "Sekarang, mari kita kembali ke percakapan kita tadi, aku pikir lebih baik aku menunggu dia pulang ke rumah."

"Dan kapan tepatnya itu?"

"Salah satu hari yang ada di minggu depan."

"Bagus kalau begitu, kau masih punya waktu untuk melihat ke dalam kandunganmu, dan kau akan tahu bahwa pada saat kau melihatnya kau tidak akan ragu lagi untuk mengatakan kabar baik ini kepadanya." Dia memegang gagang pintu kamar mandi.

"Sekarang mari kita keluar dari sini dalam hitungan kelima dan pergi merayakan keberhasilan ini dengan minum minuman tanpa alkohol dan cokelat!"

Baekhyun tersenyum. "Kedengarannya, itu adalah ide yang bagus untukku."

.

.

TBC