Summary : kau adalah udara bagiku yang akan kuhirup hingga nafas terakhirku, namun kini dia ada didekatku menjadi tumpuhanku saat udara tentangmu mulai menipis, dan kau tahu ada dia yang menjadi hatiku kini yang memberiku kehidupan walau tampa udara dan tumpuan itu.

Disclaimer : FF ini punya saya loh *gak nanya* sungmin punya appa eomma adiknya dan fansnya , kalau kyuhyun baru suami sahnya author *diintai sparkyu* , author disini hanya minjam nama dari member super junior, selebihnya maaf kalau ada salah salah ya, happy reading chingudeul ^^

Warning! : Ganderswith, typo bertebaran, tidak sesuai dengan EYD, beberapa ada bahasa korea yang mian banget kalo salah arti , author newbie ^^

Cast : Lee sungmin, Cho kyuhyun, Lee donghae, Kibum, Kangin, Heechul

.

.

.

[ Nae maeumi jejariro ojil anhayo

Ojil anhayo
Michin deusi gyesok nunmulman najyo

Naneun andwaena bwayo

Andwaena bwayo
Geudael itneundaneun geon

Itneundaneun geon
Geunyang jukgo sipeodo
Geudaeui sarang noheul su eobseo
Na salgo itjyo

Hatiku tidak terlihat dapat menggapaimu

Tampaknya tidak dapat menggapaimu
Air mata terus bercucuran seperti orang gila
Aku pikir, aku tidak dapat melakukannya

Tidak dapat melakukannya
Aku tidak bisa melupakanmu

tidak bisa melupakanmu
bahkan jika aku merasa sekarat
Aku tidak bisa melepaskan cintamu

aku hidup dengan cara ini ] Miss You _SM The Ballad

.

.

.

*Sungmin Pov*

Butiran putih itu masih saja tetap berjatuhan dari langit, sejak langit masih terang hingga sekarang menghitam. Aku pun masih disini duduk di sisi jendela kamarku menatap butiran-butiran putih itu sejak tadi, bahkan aku terus menghiraukan Donghae yang sedari tadi mengetuk pintu kamarku yang terkunci. Untuk saat ini sungguh aku hanya ingin sendiri.

Aku masih terdiam, mengingat semua perkataan Kibum oppa kepada Kyuhyun tadi. Tunggu kenapa aku berlari dan menangis? Apakah aku marah? Tapi, pada siapa aku marah? Apakah pada Kibum oppa yang ternyata membohongiku? Atau pada Kyuhyun? Karena dialah penyebab Kibum oppa meninggalkanku? Atau aku marah pada diriku sendiri yang tidak bisa menerima kenyataan bahwa dua namja itu kakak beradik? Entahlah aku pun tidak tau, yang pasti sekarang aku tidak ingin siapapun ada di dekatku. Aku hanya ingin sendiri, ya sendiri mencoba menerima semua permainan takdir yang sedang berjalan.

*Sungmin Pov End*

.

.

.

*Kyuhyun Pov*

"Memang, kau tidak perlu mengalah. Aku lah yang harus selalu mengalah, bahkan sudah hampir seumur hidupku aku selalu mengalah padamu, pada adikku sendiri!"

Kata-kata itu terus berputar di otakku, aku sulit untuk mencernanya secara cepat. Aku masih tidak mengerti permainan macam apa yang sedang takdir berikan untukku. Apakah pemuda itu gila? Dia menyebutku adiknya? Apakah dia pikir aku akan percaya begitu saja.

Bodoh, kau memang sangat bodoh Cho Kyuhyun. Bahkan di hampir seumur hidupmu kau tidak tau dirimu siapa? Lalu apa maksudnya terus berkorban untukku hampir seumur hidupnya, bahkan aku baru mengenalnya beberapa bulan terakhir ini.

Tuhan kenapa ini semua terjadi padaku, siapa diriku?

"argghhhhhhhh" aku memukul stir mobilku kencang, bahkan tempat ini pun tidak bisa memberikan ketenangan untukku sekarang.

Ya inilah aku yang meratapi takdir diriku di bawah naungan langit malam di tepian sungai han ditemani bulir Kristal putih itu yang terus jatuh dari langit.

Ya, aku Cho Kyuhyun si evil yang kini sepertinya telah menyerah dalam permainan takdir.

*Kyuhyun Pov End*

.

.

.

*Kibum Pov*

Aku masih terus berdiri disini, walau sebenarnya aku ingin menghampirimu kesana memelukmu yang aku yakin kau kini pasti sedang menangis. Bukankah kelinciku mudah sekali menangis. Aku tersenyum mengingat kembali saat-saat aku bersamanya.

Maafkan aku Minnie-ah melakukan ini semua kepadamu, sesuka hatiku meninggalkanmu dan kembali lagi. Kini sepertinya aku kembali melakukan kesalahan lagi, namun sepertinya ini lebih fatal. Andai kau tau alasan aku memberi tau Kyuhyun tentang kenyataan ini. Aku hanya ingin tetap bersamamu, menjalani hari-hariku dengan melihat senyummu, berlarian di tepian pantai dan menikmati saat-saat matahari terbenam bersamamu. Aku hanya ingin terus berada disisimu menjaga dirimu Minnie-ah. Lagi pula bukankah Kyuhyun cepat atau lambat harus tau siapa dirinya yang sebenarnya, jujur aku lelah terus mengorbankan perasaanku untuk Kyuhyun, aku muak! Aku ingin menyudahi semua scenario yang dirancang appaku. Aku benci selalu menjadi namja baik yang terus mengiyakan keinginan orang lain walaupun aku tau hatiku dan perasaanku sebagai bayarannya, dan tentunya kaupun terkena dampaknya Minnie-ah. Mianaeyo jeongmal.

Aku menatap kearah jendela kamarmu, lampu dikamarmu masih menyala. Apakah kau belum tidur kelinci? Ini sudah malam, aku tak mau kondisimu memburuk. Tidurlah aku akan menjagamu dari sini walaupun kau tak mengetahuinya, aku akan tetap berdiri disini hingga kau melihatku walaupun tubuku harus tertutup butiran salju ini. Aku akan tetap disini menunggumu, Saranghaeyo Lee Sungmin.

*Kibum Pov End*

.

.

.

Donghae masih saja tetap terduduk di depan pintu kamar Sungmin dia tidak memperdulikan walau telah menunggu Sungmin di depan kamarnya sejak malam hingga pagi, baru kali ini Sungmin mengunci diri di kamar dan tidak membiarkannya masuk, padahal biasanya walaupun Sungmin sedang semarah apapun dan walaupun tidak ada orang yang dia izinkan untuk masuk kamarnya Donghae tetap saja Sungmin izinkan masuk, tapi kali ini tidak.

"Donghae-ah?" Kangin menepuk pundak Donghae pelan, Donghae yang sedang tertidur sambil terduduk sedikit terkaget, lalu spontan bangun dan membungkuk kearah Kangin.

"Ahjussi,"

"Kenapa kau tidur disini, ada masalah lagi dengan Sungmin?"

"Emh, sebenarnya sejak kemarin sore Sungmin tidak mengizinkan siapapun masuk ke kamarnya dan terus mengurung diri ahjussi. Aku sudah mencoba membujuk Sungmin tapi tetap saja tidak ada hasilnya."

Kangin menatap Donghae Sebentar lalu mendekat ke pintu Kamar Sungmin dan mengetuknya.

"Minnie-ah, ini appa. Buka pintunya!" Suara Kangin terdengar sedikit meninggi, Kangin menunggu lagi tapi tidak terdengar jawaban dari dalam kamar Sungmin.

"Minnie, Kau mendengar appa? Appa bilang buka pintunya!" Kangin pun merasa mulai khawatir dengan keadaan Sungmin di dalam.

"Donghae panggilkan pelayan untuk membawa kunci kamar Sungmin," Ucap kangin tanpa melirik Donghae.

"Ahjussi, Sungmin menggunakan kunci ganda jadi kunci kamar Sungmin pun tidak berguna untuk membuka pintu ini."

"Anak ini, ada apa lagi sebenarnya,"

Kangin menjauhkan tubuhnya dari depan pintu kamar Sungmin, "Baiklah Donghae, lakukan" ucap Kangin. Donghae yang mengerti dengan perkataan Kangin pun mengambil ancang-ancang untuk mendobrak pintu kamar Sungmin, dalam hitungan detik tubuh Donghae berhasil membuka pintu kamar Sungmin, Donghae pun segera berlari menghampiri Sungmin yang tengah terduduk di samping kaca jendela kamarnya.

"Minnie-ah…" Donghae berjalan pelan menghampiri Sungmin, Donghae dapat melihat lingkaran hitam di mata Sungmin dan juga matanya terlihat sembab. Ternyata suara sesenggukan orang menangis semalam bukanlah mimpi melainkan Sungmin.

"Minnie-ah, gwencana?" Donghae menyentuh pundak Sungmin pelan

"Sudah kubilang, aku baik-baik saja mengapa kau masuk kemari Donghae-ah" ucap Sungmin tanpa menoleh kearah Donghae sedikitpun, suara Sungmin terdengar sangat pelan dan lemah.

"Mi..mianae Minnie-ah… appamu yang meminta…" Belum sempat Donghae menyelesaikan perkataannya, Kangin tiba-tiba menghampiri Sungmin dan menarik tangan Sungmin, Sungmin mau tak mau pun harus berdiri karena tarikan tangan appanya yang bisa dibilang agak kuat, Donghae hanya bisa tercengan melihat hal itu.

"Sampai kapan kau akan terus begini, menyakiti dirimu sendiri?" Kangin menatap Sungmin dalam, ada sedikit nada tinggi di perkataannya.

"Appa…" Sungmin menatap appanya, Sungmin sangat kaget dengan sikap appanya yang tiba-tiba emosi seperti ini.

"Kau bilang kau menyayangi appa, namun kau terus seperti ini! Tidak memperdulikan kondisi tubuhnya hanya memntingkan perasaanmu Minnie-ah… appa lelah melihatmu seperti ini. Hentikan sekarang juga."

"Wae appa? Appa tidak mengerti perasaanku sekarang, jika appa memang lelah mengurusiku aku akan pergi. Setidaknya disaat aku pergi masih ada Heechul ahnjumma yang akan merawatmu bukan? Dan cepat atau lambat dia akan segera menggantikan posisi eomma di rumah ini!"

Plakk, tangan dingin Kangin mendarat kasar di pipi Sungmin. Donghae yang sedari tadi hanya menyaksikan pun sangat terkejut dengan peristiwa yang baru saja terjadi di hadapannya. Seingatnya selama dia tinggal disini dia belum pernah melihat Kangin kasar kepada Sungmin, tapi kali ini sungguh sangat tidak terduga.

"Chagi.. mian… mianae appa tak bermaksud…" Kangin berusaha mendekati Sungmin untuk memeluknya namun Sungmin menjauh, sambil menahan air matanya yang sudah tidak sabar lagi untuk terjun bebas kepipinya.

"Appa bahkan demi wanita itu kau menamparku, kau benar-benar menghianatiku dan eomma" Sungmin pun lalu berlari keluar kamarnya sambil masih memegangi pipinya, Donghae pun spontan mengejar Sungmin yang sudah berlari keluar rumah itu.

"Ya Tuhan apa yang aku lakukan, Teukie-ah mianhae aku menyakiti Sungmin, mianae jeongmal" Kangin mengusap wajahnya frustasi, dia lalu mendudukan dirinya diatas ranjang Sungmin.

.

.

.

*Kibum Pov*

Matahari sudah terbit sejak tadi, tapi aku masih tetap tidak pergi dari tempat ini. Ya aku masih menunggu di depan rumah Sungmin, belum ada keberanian untukku untuk menemuinya.

Pandanganku kini tertuju pada seseorang yang baru keluar dari pagar rumah sungmin, yeoja itu bukankah dia Sungmin? Tapi kenapa dia keluar tidak menggunakan mantel udara pagi ini sangat dingin terlebih dia keluar sambil memegangi pipinya dan sepertinya dia menangis, ada apa ini?

Aku baru saja ingin membuka pintu mobilku dan mengejar Sungmin yang baru saja melewatiku, namun niatku urung ketika melihat Donghae yang mengejar Sungmin, ya aku lagi-lagi terlambat. Kelinci Ku harap kau baik-baik saja.

*Kibum Pov End*

*Sungmin Pov*

Aku terus berjalan, aku tidak peduli dengan rasa sakit dan dingin yang menusuk-nusuk tubuhku. Aku terlalu sedih dengan semua ini, dengan perasaanku kepada Kibum oppa dan Kyuyun belum lagi sekarang di tambah dengan appa. Sebenarnya kenapa appa seperti itu, appa tidak pernah memukulku sebelumnya tapi kenapa hanya karena membela wanita itu appa tega menamparku? Eomma, appa sudah tidak menyayangiku lagi eomma, aku ingin bersamamu, aku merindukanmu eomma.. peluk aku ku mohon.

Kakiku Sungguh sudah sangat lemas, aku berjalan pelan menuju dinding sebuah toko yang entah apa namanya, aku menyandarkan tubuhku di dinding itu. Aku mencoba menggengam kedua lenganku untuk menetralisir rasa dingin yang terasa di seluruh tubuhku, kecuali di bagian pipiku karena pipiku tetap hangat sedari tadi karena bulir air mata itu tetap mengalir dari mataku.

"kenapa di saat seperti ini tidak ada satu orang pun yang ada di dekatku eomma, Donghae, Kibum oppa. Mereka semua tidak ada disisiku eomma, aku sendiri. Aku takut eoma" ucapku lirih, pandangaku kini mulai memburam entah mungkin ini karena aku sudah tidak sanggup menahan sakit di tubuhku dan dingin yang terus menusuk tubuhku, tunggu ada seseorang yang datang mendekat di hadapanku.

"Kibum oppa?" dua kata itu yang keluar dari mulutku sebelum akhirnya aku tak sadarkan diri.

.

.

.

Rungan itu terlihat gelap tidak ada satupun lampu yang menyala di ruanggan yang di dominan dengan warna putih dan biru itu, seorang namja yang sedang terduduk di bawah sofa dengan sebotol soju di geggaman tangannya terlihat sangat kacau, lingkaran hitam yang sangat kentara dan wajah yang terlihat lusuh. Ya seperti itulah keadaan Kyuhyun sekarang.

Dia tidak memperdulikan handphonenya yang sedari tadi berdering, entah sudah berapa kali Shindong menghubunginya karena hari ini Kyuhyun memiliki jadwal untuk fanmet tapi Kyuhyun tetap tidak memperdulikannya.

Kyuhyun meraih handphonenya, bukan untuk mengangkat telfon Shindong melainkan untuk menghubungi seseorang untuk memastikan sesuatu, ya sesuatu yang harus di tegaskan kebenarannya. Kyuhyun pun mengirin sebuah pesan keseseorang itu, dia lalu melemparkan handphonenya lagi dengan kasar kesisinya.

"Aku benci hidupku" Ucapnya Lirih namun terdengar tajam.

.

.

.

Donghae terus duduk di samping temapt tidur Sungmin sambil mengenggam kedua tangan Sungmin, sudah beberapa jam yang lalu Sungmin tak kunjung sadarkan diri juga.

"Minnie-ah, ayo buka matamu ku mohon." Donghae mencium punggung tangan Sungmin pelan, Senyum Donghae terlukis dibibirnya ketika dia melihat Sungmin mngerjapkan matanya perlahan.

"Minnie-ah?" Panggil Donghae sambil tersenyum.

"Hae? Aku kira kau?.. emh sudahlah"

"Minnie kau merasa lebih baik sekarang?"

Sungmin hanya diam, dia tidak menjawab perkataan Donghae, sebenarnya dia sedikit kecewa ketika melihat Donghae yang ada di hadapannya sekarang bukan Kibum.

Ketika Donghae dan Sungmin masih terdiam tiba-tiba terdengar suara pintu kamar sungmin terbuka, dan ternyata Heechul yang masuk kedalam kamar itu. Donghae pun lalu bangkit dari duduknya dan membungkukan badannya kearah Heechul.

"Sungmin bagaimana keadaanmu?" Ucap heechul lembut, namun Sungmin sepertinya menampakkan wajah tidak sukanya atas kehadiran Heechul.

"Aku baik, mianhae ahnjumma aku ingin istirahat apakah kau bisa pergi?" jawab Sungmin dengan nada ketus.

"Hanya beberapa saat, aku ingin mengatakan sesuatu padamu" Heechul pun melirik kearah Donghae mengisyaratkan agar dia keluar dari kamar sungmin, Donghae yang pahampun lalu mengangguk dan keluar dari kamar Sungmin, kini tinggal mereka berdua di dalam ruangan itu.

Heechul memposisikan dirinya duduk di kursi disamping ranjang Sungmin.

"Aku tau Minnie mungkin kau marah padaku kan?" Heechul memulai pembicaraannya dengan nada yang sangat lembut, Sungmin sama sekali tak berniat melirik heechul sedikitpun.

"Kau tau alasan appamu melakukan itu? Dia hanya terlalu takut jika kehilanganmu Minnie, bayangkan saja kau selalu menyakiti dirimu sendiri. Aku tau ini berat bagimu ketika kau mengetahui bahwa Kibum dan Kyuhyun ternyata adalah kakak beradik. Dan aku pun tau apa yang membuatmu begitu marah. Kau marah pada Kyuhyun bukan? Percayalah Minnie ini bukan kesalahan Kyuhyun melainkan kesalahanku," Heechul menarik nafasnya pelan, Sungmin kini sedikit menatap Heecul.

"Dulu, tepat dimalan ketika eommamu meninggal. Aku juga berada di rumah sakit yang sama, aku juga sedang bertarung dengan kematian kau tau? Untunglah ternyata tuhan masih mengizinkan aku untuk terus hidup, mungkin tuhan tidak ingin Kyuhyun benar-benar tidak tau siapa dirinya sebenarnya, kau tau mengapa Kyuhyun menganggap appamu adalah appanya? Karena memang sejak dulu, bahkan saat dia lahir, aku telah meminta kangin untuk mengaku sebagai appanya, karena aku tidak ingin Kyuhyun tau bahwa appanya seorang laki-laki yang tidak bertanggung jawab, untunglah eommamu adalah wanita yang baik hati dia mengizinkannya hingga kyuhyun tumbuh dewasa dia tetap menyangka bahwa appamu adalah appanya."

Sungmin kini sempurna menatap Heechul yang masih terus bercerita.

"Malam itu , aku dan appa Kyuhyun yang tak lain appa Kibum juga. Kami bertengkar hebat, masalahnya hanya karena dia benar-benar tidak bisa mengakui Kyuhyun sebagai anaknya. Dan kau tau nenek Kyuhyun meminta agar appa Kyuhyun pergi dari korea agar aku benar-benar tidak bisa berhubungan dengannya lagi dan kyuhyun benar-benar tidak akan pernah mengenal appanya, naasnya malam itu ketika aku dan appa kyuhyun telah selesai bertengkar, aku mengemudikan mobil. Mungkin karena aku terlalu sakit dan aku mengemudikan mobil dalam kondisi menangis, aku mengalami kecelakaan. Aku mengalami luka yang cukup parah. Khusunya di bagian mataku. Dan malam itu untuk pertama kalinya Kyuhyun menangis dan datang padaku, sebelumnya dia selalu enggan bertemu denganku Minnie,"

"Minnie-ah Mungkin kau bingung kenapa aku seperti menceritakan semua kisah hidupku yang tidak penting ini kepadamu, tapi ada satu rahasia yang perlu kau tau. Malam itu ketika aku benar-benar telah berhasil lolos dari maut tapi ada satu luka yang tidak bisa di sembuhkan, yaitu di bagian mataku dan aku terancam tidak bisa melihat, kau tau malam itu sebelum eommamu meninggal, eommamu tersadar dari komanya itu sungguh keajaiban, hanya sebentar namun berarti banyak untukku. Dia rela menyumbangkan kornea matanya untukku, dia berharap walaupun dia sudah tidak ada di dunia lagi kau masih bisa tetap menatap matanya yang ada pada diriku Minnie,"

"Eomma…" Sungmin mulai meneteskan air matanya lagi.

"Minnie-ah, ku mohon padamu jangan terlalu menyalahkan Kyuhyun dan Kibum. Karena kau taukan ini semua adalah salahku bukan mereka" Heechul tersenyum hangat kearah Sungmin.

"Ahnjumma… bolehkah aku memelukmu?" Ucapnya sam bil terisak, Heechul hanya mengagguk pelan sambil tersenyum kearah Sungmin.

"Eomma, aku sangat merindukan eomma…"

"Mianhae Minnie, aku baru memberitahu mu sekarang,"

"Aniya, Mianhae aku telah berburuk sangka padamu ahnjumma. Gomawo"

Heechul memeluk Sungmin erat, tanpa mereka sadari Kangin memeperhatikan mereka berdua yang kini masih berpelukan sambil menangis.

.

.

.

"Siapa aku sebenarnya?" kyuhyun menatap Kangin tajam,

"Aku tidak mengerti maksudmu Kyuhyun-ah?"

"Jangan bohongi aku lagi, kumohon padamu."

"Aku sungguh tidak mengerti,"

"Kau tau Kibum berkata padaku bahwa aku adiknya, apakah Kibum juga putramu bagaimana mungkin ini semua terjadi, ini begitu rumit?"

"Mianhae Kyu, aku tidak bisa memberitahumu… bertanyalah pada eommamu aku yakin dia akan menjelaskan semuanya kepadamu"

Kyuhyun mendekat kearah Kangin, dia lalu berlutut di hadapan Kangin, kangin pun sangat terkejut dengan sikap Kyuhyun ini.

"kau tau? Aku sangat bingung dengan semua ini. Aku benci dengan kehidupanku, aku merasa kehidupanku penuh dengan kepalsuan. Mengapa tuhan tidak mengizinkan aku mengetahui diriku yang sebenarnya." Suara Kyuhyun terdengar serak, dia menahan tangisnya namun tetap saja sulit. Kangin pun menyamakan posisinya dengan Kyuhyun, dia memeluk kyuhyun.

"Percayalah, ketika waktunya datang kau akan tau tentang semuanya Kyu"

"Mianhae , aku selalu bersikap dingin padamu. Sungguh sebenarnya aku sangat metindukan dirimu… appa" Ucap Kyuhyun sambil terisak.

Kangin sungguh terkejut mendengar Kyuhyun menyebutnya appa, ini pertama kalinya dia mendengar langsung dari mulut Kyuhyun,

'Mianhae Kyu, aku harus membohongimu' Batin Kangin.

"Aku… aku menyangimu dan eomma … aku merindukan kalian, sungguh."

"Aku juga Kyuhyun-ah, maafkan aku ku mohon"

"Tidak, ini salahku appa"

"Kyuhyun-ah" Suara Kangin melemah, 'Mianhae Kyuhyun-ah, kumohon jika kau tau semuanya nanti berjanjilah untuk tidak membenci diriku, eommamu dan tentu saja namja itu.. ya appamu' batin Kangin

Kyuhyun tidak berbicara lagi, hanya sesenggukan yang terdengar di apartemen Kyuhyun itu. Ya setidaknya malam ini Kyuhyun bisa menumpahkan semua perasaan yang dia pendam sendiri, kepada Kangin yang masih dia Kira sebagai appanya.

.

.

.

Sungmin Kini terdiam di balkon kamarnya dia menatap sekitar, ya semuanya putih karena salju masih terus turun dari langit. Lihatlah sekarang Sungmin merasa waktu berjalan sangat lambat, mungkin takdir sedang berbaik hati kepadanya atau malah sebaliknya, mungkin saja sang takdir menginginkan waktu berjalan lama agar Sungmin lebih lama merasakan sakit yang dia rasakan? Entahlah itu semua misteri yang tidak ada seorang pun yang mengetahuinya.

Mata Sungmin kini tertuju ke satu arah, tepatnya keluar pagar rumahnya. Dilihatnya seorang namja yang sepertinya tidak asing sedang bersandar di sebuah mobil bewarna hitam yang sangat dia kenali.

"Oppa?" Sungmin seketika itu langsung berlari menuju keluar pagar rumahnya.

Ketika dia sampai diluar pagar itu dia melihat Kibum sedang meniup kedua tangannya untuk menyalurkan udara hangat dari mulutnya, Sungmin dapat melihat hidung kibum yang memerah karena kedinginan,

"Oppa?" Panggil Sungmin lirih sambil melangkah mendekati Kibum, Kibum yang mendengar suara sungmin pun terkejut.

"Minnie-ah"

"Oppa? Kibum oppa…" Sungmin berhenti sebentar untuk menatap Kibum, tanpa terasa air mata Sungmin menetes. Dia lalu memeluk Kibum erat.

"Oppa, kau jahat,,,hiks"

"Ne, Minnie aku jahat. Maafkan aku"

Sungmin tak menjawab dia masih menangis pelan, dia memeluk erat Kibum dan menyembunyikan wajahnya di dada Kibum. Kibum pun membalas pelukan Sungmin tak kalah erat.

"Oppa, aku tak ingin kau berjanji lagi… tapi aku ingin kau buktikan kalau kau akan selalu ada disisiku arra?" sungmin mendongakkan kepalanya menatap Kibum

"Aku akan buktikan Minnie-ah, saranghaeyo kelinciku" Kibum tersenyum lalu mengecup kening Sungmin

"Nado oppa, jeongmal" Sungmin membalas Senyum Kibum lalu kembali memeluk Kibum erat.

Diwaktu yang sama ada dua hati yang terluka, dua pasang mata yang menyaksikan kejadian yang berlangsung beberapa menit itu namun pasti menyisakan sakit yang lama, Kyuhyun dan Donghae hanya bisa tersenyum miris melihat kearah Kibum dan Sungmin yang kini masih berpelukan. Sangat sulit sepertinya memisahkan mereka berdua, keduanya saling mencintai tidak seperti Donghae dan Kyuhyun yang hanya memiliki cinta bertepuk sebelah tangan, tapi siapa yang akan tau dengar rahasia takdir. Mungkin saja semuanya bisa berubah.

*Kyuhyun Pov*

"Aku akan buktikan Minnie-ah, saranghaeyo kelinciku"

"Nado oppa, jeongmal"

Kata-kata itu manis, namun terdengar sangat menyakitkan di telingaku. Apakah benar aku memang tidak pernah bisa bersamamu Ming? Apakah benar kalau tidak karena Kibum hyung mengalah aku tidak pernah bisa dekat denganmu walau hanya sebentar?

Aku mencintaimu ming, kau bisa merasakannya? Hatiku selalu bergetar tiap didekatmu kau bisa mengerti? Ahh sudahlah mungkin takdirku memang seperti ini, selalu tidak berarti apa-apa untuk siapa saja, ya itu takdir seorang Cho Kyuhyun. Aku pun berjalan menuju mobil lagi menuju suatu tempat .

*Kyuhyun Pov End*

*Donghae Pov*

"Aku akan buktikan Minnie-ah, saranghaeyo kelinciku"

"Nado oppa, jeongmal"

Kata-kata itu, dulu aku pernah mengucapkannya padamu bukan? Tapi sayangnya aku tidak seberuntung dia yang bisa mendengarmu mengatakan hal yang sama. Kenapa Minnie-ah? Apakah aku memang sama sekali tidak berarti apa-apa dimatamu. Bukankah aku selalu ada di dekatmu? Apakah kau hanya menggapku sebagai bayangan semu saja? Tak bisakah kau melihat ketulusan cintaku? Apakah aku memang tidak pernah di takdirkan untuk mengisi hatimu? Entahlah namun yang aku tau aku tetap disini akan selalu mencintaimu dan menjagamu untuk memastikan semua akan baik-baik saja. Saranghaeyo Lee Sungmin.

*Donghae Pov End*

*Author Pov*

Sungmin masih berada di dalam pelukan Kibum ketika dia merasakan cairan kental bewarna merah itu mengalir lagi dari mulutnya, Sungmin berusaha menutupi hal itu. Dia menenggelamkan wajahya di dada Kibum, tapi sakit itu entah kenapa datang begitu saja. Sakit yang teramat sangat dan mual yang memenuhi hampir seluruh ruang perut Sungmin.

'Tuhan kenapa ini, disaat dia ada di dekatku aku harus merasakan sait ini lagi. Tuhan apakah aku benar-benar tidak pernah diizinkan untuk bahagia walau sebentar saja? Apakah aku benar-benar tidak bisa bersama dengan namja yang aku cintai? Tuhan komohon beri aku sedikit saja waktu untuk bersama dengannya, kumohon' batin Sungmin.

Perlahan Sungmin mulai kehilangan kesadarannya, Kibum bisa merasakan saat tubuh Sungmin seperti terjatuh kearahnya,

"Minnie-ah?" Ucap Kibum sambil mengangkata wajah Sungmin yang masih menempel di dadanya, betapa kagetnya dia saat dia melihat darah yang menutupi seluruh bagian bibir Sungmin, dan sebagian darah yang kini menempel di pakaiannya.

"Minnie, Minnie! Gwencana? Ming bangunlah… Sungmin…" Kibum terus menepuk pelan kedua pipi Sungmin, namun sayang tidak ada respon sedikit pun. Kibum dapat merasakan tangan dan pipi Sungmin yang dingin.

Donghae yang tadinya hendak masuk kedalam rumah ketika mendengar Kibum berteriak dia segera berlari kearah Kibum dan Sungmin berada.

"Ada apa dengan Sungmin?" Ucap donghae dengan nada Khawatir

"Entahlah, dia tiba-tiba tidak sadarkan diri." Jawab Kibum sanbil memeluk Sungmin erat dalam gendongannya.

"Kita bawa dia kerumah sakit,"

Kibum hanya mengangguk, Donghae pun membuka pintu mobil Kibum dan memasukkan tubuh Sungmin kedalam mobil dan mendudukan Sungmin di jok belakang. Tanpa berlama-lama mobil itu pun melesat kearah rumah sakit.

Mungkin takdir memang sedang tidak berpihak kepada Kyuhyun, hanya berselang beberapa saat dia masuk kedalam mobilnya, Sungmin jatuh pingsan. Andai saja Kyuhyun untuk sedetik membalikkan badannya mungkin dia bisa berada di sisi Sungmin walau sebentar.

.

.

Kyuhyun Kini berdiri menatap Heechul, yang juga sedang berdiri di hadapannya. Runga tamu rumah Kyuhyun itu sangat sunyi bahkan suara detak jarum jam pun terdengar jelas, seakan waktu bergulir sangat cepat.

Kyuhyun melangkahkan kakinya mendekat kearah Heechul, Hingga tepat di hadapan Heechul dia menjatuhkan tubuhnya lalu berlutut.

"aku lelah, Sungguh lelah." Ucap Kyuhyun yang terdengar parau.

"Kyu… Kau… Kyu bangunlah, kau kenapa?" Jawab Heechul sambil mensejajarkan diri dengan posisi Kyuhyun sekarang, Kyuhyun tidak berani sedikit pun menatap kearah Heechul dia hanya menunduk.

"Aku mohon, katakana padaku… siapa diriku yang sebenarnya? Apakah aku sangat tidak pantas untuk mengetahui siapa diriku yang sebenarnya eomma?" Kyuhyun kini memberanikan diri menatap eommanya, wanita yang Kyuhyun tatap kini hanya bisa terdiam. Terlihat jelas garis kesedihan di wajahnya, dan mata yang berkaca-kaca seperti menahan tangisnya.

Lengan Heechul kini meraih Kyuhyun, membawanya kedalam pelukan hangat. Pelukan yang ingin sekali dia bagi kepada anak lelaki satu-satunya, anak laki-laki yang bahkan jarang memanggilnya eomma dan kini anak laki-laki itu berlutut dihadapannya dan memanggilnya eomma, satu kata yang terdengar manis di telinga Heechul dan juga menyakitkan.

Heechul Sungguh dapat merasakan apa yang Kyuhyun rasakan sekarang, rasa sedih dan rasa seperti orang bodoh yang tidak mengetahui apa-apa tentang kehidupan yang kini dia jalani. Sungguh ini semua bukan keinginan Heechul, jika saja dia dulu bisa memilih laki-laki yang tepat mungin ini semua tidak akan terjadi pada putranya namun bukankah cinta tidak bisa di tentukan dimana dia akan bermuara.

"Kyu, Mi…mianhae ini semua kesalahan eomma, mianhae" Heechul memeluk Kyuhyun erat, pipi Kyuhyun maupun Heechul kini sudah sempurna tertutupi air mata yang sedari tadi terus mengalir bebas dari kedua pelupuk mata mereka berdua.

"Aku hanya ingin tau, siapa aku… bagaimana garis keluargaku… kumohon ceritakan semuanya kepadaku,"

"Mianhae Kyu, aku belum bisa menceritakannya sekarang… kumohon tunggu sebentar lagi Kyuhyun-ah"

Kyuhyun melepaskan pelukan Heechul dengan kasar, tampak raut kekecewaan tergambar jelas di wajah Kyuhyun.

"Mengapa aku harus terus menunggu, sampai kapan? Mengapa ini semua terjadi padaku. Untuk apa aku hidup selama ini jika aku tidak diizinkan mengenal silsilah keluargaku sendiri, kau bisa langsung bilang kalau memang aku ternyata hanya anak haram yang tidak diakui, atau aku ini adalah anak yang kau temukan atau kau ambil dari tempat tidak baik , sehingga kau enggan memberitau asal usulku hah?"

Plakk, Pipi Kyuhyun memerah ketika tangan Heechul mendarat kasar dipipinya.

"Benar bukan aku hanya anak dari seorang yang memalukan?"

"Kyuhyun hentikan ucapanmu, mengapa kau seperti ini? Eomma sungguh belum bisa mem beritaumu Kyu, kumohon bersabarlah ketika waktunya tiba aku akan memberitau semuanya padamu"

"Aku muak dengan semua janjimu, biarlah mungkin takdirku memang tidak harus mengetahui siapa diriku Hingga aku mati nanti" Kyuhyun menyunggingkan senyum evilnya, dia berjalan menuju pintu dan menutupnya dengan keras, keluar dari rumahnya menuju sutu tempat favoritnya ketika seperti ini dan meninggalkan eommanya yang terdiam sendiri.

.

.

.

Berbagai macam peralatan medis itu kini menancap di seluruh tubuh Sungmin, entah apa sebenarnya yang sedang di rencanakan oleh langit. Selalu saja ketika kebahagian sepertinya sudah sangat dekat di hadapan Sungmin, suatu masalah pasti muncul. Kali ini kondisi Sungmin benar-benar sangat drop, hingga kini malam hari Sungmin belum juga sadarkan diri. Donghae dan Kibum kini terduduk di sofa di sudut ruangan itu sambil memperhatikan tubuh Sungmin yang tergeletak di ranjang tak berdaya.

"Aku lebih senang melihat Sungmin marah dibandingkan melihatnya diam seperti itu" ucap Donghae memecahkan keheningan ruangan itu sambil menatap kearah Sungmin.

"AKu hanya takut tidak akan pernah bisa lagi melihatnya mempoutkan bibirnya, aku sangat takut ketika saat itu akan datang. Kau tau kan?" Sambung Donghae, kini tatapannya beralih menatap Kibum yang hanya terdiam sambil memandang kosong kearah tempat Sungmin berbaring.

"Mengapa waktu begitu cepat berlalu saat kita menginginkannya berjalan lambat atau setidaknya sedikit pelan, ini Nampak sangat tidak adil bukan. Kau tau kan impian Sungmin?"

Kibum kini melirik Donghae, dia penasaran dengan kelanjutan perkataan Donghae.

"Dia hanya ingin melihat saju terakhir mencair," Donghae tersenyum pahit.

"Gadis bodoh bukan, mengapa mempunyai impian seaneh itu. Seolah-olah itu sesuatu yang sangat sulit untuk di raih, apakah kau pikir itu sulit Kibum-ah… tidak bukan?" Suara donghae kini terdengar melemah.

Kibum masih terdiam, kini dia bangkit dari duduknya dan berjalan menuju pintu untuk keluar rungan itu, belum sempat dia membuka pintu dia terdiam lagi mendengar ucapan Donghae.

"Setidaknya jika memang impian Sungmin itu sangat sulit untuk terwujud aku mohon kepadamu untuk menemaninya hingga dia akan tertidur pulas, kau tau supaya dia bisa tersenyum nanti." Donghae tersenyum kearah Kibum yang tetap membelakanginya, dan kini mulai melangkah keluar meninggalkan ruangan itu.

.

.

.

Pandangan namja berambut caramel itu kini benar-benar telah membuyar, dia berjalan tertatih menuju mobil hitamnya yang terparkir di baseman sebuah klab yang cukup besar itu. Dia membuka pintu mobilnya lalu masuk kedalam dan duduk di kursi pengemudi, bukankah itu gila? Dalam keadaan mabuk berat namja bernama Cho Kyuhyun itu akan mengendarai mobil, entahlah yang ada di pikiran Kyuhyun kali ini hanya ingin melupakan siapa dirinya sebenarnya. Berhasil bukan dia kini tengah mabuk seharusnya dia merasa lebih senang, tapi salah rasa sakit di hatinya kini makin tergambar jelas hingga ke pikirannya.

Kyuhyun mulai mengedarai mobilnya keluar area parkir baseman klab itu, tanpa dia sadari dia benar-benar mengendarai kecepatan mobilnya diatas rata-rata.

Sebulir air hangat pun turun darimatanya, ada apa dengannya sekarang mengapa dia lebih mudah menangis, dimana Cho Kyuhyun yang dulu, si evil brengsek yang selalu tidak peduli dengan apapun. Bahkan dengan kehidupannya sendiri pun dia tidak peduli. Tapi sekarang lihatlah, dia begitu mudah menitihkan air matanya karena ini, hal yang paling dia tidak perdulikan di dalam hidupnya, mengapa dia begitu rapuh sekarang.

Kyuhyun terus menithkan airmatanya, dia menambah lagi kecepatan mobilnya dan berusaha menyalip mobil yang ada di depannya, namun naas Kyuhyun tidak menyadari bahwa ada sebuah truk berkecepatan tak kalah cepat dengan mobilnya dari arah berlawanan, dalam hitungan detik mobil Kyuhyun dan truk itu pun saling bertabrakan. Mobil Kyuhyun terbalik dan menggelinding beberapa kali. Darah pun mencur dari kepala Kyuhyun dan pecahan kaca mobil Kyuhyun berserakan dimana-mana, beberapa detik sebelum dia benar-benar kehilangan kesadarannya 2 kalimat terucap lirih dari mulutnya, 2 kalimat yang jika orang bisa mendengarnya terdengar sangat tulus.

"Eomma Mianhae, Lee Sungmin Saranghae" Mata Kyuhyun tertutup detik itu juga, bukan kah selalu seperti itu, takdir memang selalu tidak bisa di tebak dan akan selalu ada kejutan di tiap episodenya.

.

.

.

TBC

Uwaa…. Update update… *keliling monas bawa banner* mianhaeyo reader author updatenya lama *sangat lama* hhhee sebulanan mungkin yah, atau baru hamper hhheee… gpp lah ya lebih baik telat dari pada gak sama sekali.

Oke ini udah masuk chat terakhir lah, 1 chap lagi FF ini tamat…. Horeeeee hhheee, gamau banyak cuap-cuap deh, author mau balesin review aja ya di chap ini, cuap-cuapnya di last chapter aja :D… mulaii ^^

yolyol : hhheee misterius gimana sih gak ngerti deh :p

DANHOBAKMING : Ming bertahan kok pasti bertahan, semoga endingnya ming mau ya di cangkok hatinya

: Hhhheee makasih ya, ttep baca ya lanjutannya ^^

chocho : ending sad ending fix,.. hhee

Margareth Pumpkin : Mudah-mudahamn ming bisa ya nerima cinta Kyu ^^

Hyeri : ini udah kebongkar kok hubungan org tua kyumin ^^

coffewi Kyumin : waduh jadi geregetan ya, sebenernya kangin ama heechul gak mau kasih tau soalnya pengen nnti yang jelasin ke kyu itu ya hangkyung gitu hhee

felia : oke chap ini hubungan kyuminbum jelas ya kayaknya, jangan penasaran :p

Han-Rj : masuk kok kak, tenang aja ^^… wah iya nih jarang mampir ya di ffn , padahal reviewnya kk itu aku tunggu loh hhheee :p,hheee pesannya udah di sampaikan ke kibum katanya makasih loh hhee, panggil saja saya tanpa nama :D…

wolfy : author mau di poor :p

DANHOBAKMING1 : Kibumnya labil emang nih, ming gak maeninggal kok tenang aja author pastiin :D

Felia : iya sad ending nih say , iya kyu kibum satu appa … akhirnya liat aja ya :D

chocho : pasti sadending :D

nhiapetals : endingnya sama author hheee

tika :sippp hwaiting ^^

margareth pumpkin : kibum bener2 lagi labil, akhirnya lihat aja ya nanti :D

coffew Kyumin : kibumnya labil hheee, sip lanjut

Han-Rj :jadi intinya kibum ni org labil yang harus dikasihani? Hhee, emhh authornya yang gak kepiiran buat kangin donorin hatinya :p… iya bener gol dar harus sama… duh kyumin gimana akhirnya di ikutin ajadeh ya… sebenenya rada takut bikin reader kecewa TT..

Okeee sip reviewnya udah di bales… makasih yay g sudah review :*… sampai ketemu di chap depan… paypay… saranghaeyo reader…

.

.

.

.

REVIEW PLEASE ^^