Sehun sudah kehilangan akal sehatnya saat sang ibu bilang bahwa Jongin belum juga pulang dari tadi pagi. Ponsel Jongin tak aktif, sementara Kyungsoo dan Chanyeol juga tidak mengetahui keberadaan Jongin.
Mereka bertigapun memutuskan untuk mencari Jongin keseluruh tempat dan daerah yang mereka lewati. Chanyeol sudah menghubungi seluruh rumah sakit jika saja Jongin mengalami kecelakaan atau apapun itu, namun hasilnya tetap nihil. Kyungsoo juga sudah melapor ke kantor polisi dan belum ada kabar apapun.
Sehun sempat melacak posisi terakhir Jongin sebelum ponselnya mati. Namun ia tak menemukan apapun disana. Sehun pun memutuskan untuk memasuki gedung rumah sakit tersebut untuk bertanya apakah Jongin sebelumnya kesini atau tidak.
"Benar tuan, tadi siang ada seorang pria dan seorang wanita yang menemui dokter kandungan di rumah sakit ini. Namun setelahnya mereka langsung pergi."
Perasaan Sehun mendadak tak enak, pria itu mengeluarkan ponsel hitamnya dan menunjukkan sebuah foto.
"Apakah wanita ini yang bersama pria itu?" Sang perawat pun mengangguk pelan dan Sehun hampir saja membanting ponselnya jika saja nomer Jongdae tidak tampak di layar panggilannya.
"Halo?"
'Jongin disini, cepat kemari.'
"Seseorang menemukannya di daerah sungai han. Dan karena Jongin tak menjawab apapun saat ditanyai, orang tersebut memutuskan untuk mengaktifkan ponsel Jongin dan langsung menelpon ayah ku. Aku tak tahu apa yang ia alami sebelumnya hingga ia jadi semurung ini."
Sehun tak dapat melepaskan pandangannya pada Jongin yang masih meringkuk di kasur miliknya.
"Jongin sudah tahu."
"Apa?"
"Dia mengunjungi rumah sakit tadi siang, dan dia akhirnya dia tahu jika dia hamil." Jongdae mencengkram kerah kemeja Sehun. "Bagaimana mungkin dia tahu?"
"Maafkan aku." Sehun bisa saja mengungkapkan kejadian yang sebenarnya, namun dia masih ingin melindungi Soojung dari amukan keluarga Jongin. Lagipula Jongin pasti akan mengetahuinya cepat atau lambat.
"Brengsek! Kau ingin adikku mati hah?"
"Aku tak mengerti, sebenarnya mengapa kita harus merahasiakan kabar bahagia ini darinya?" Jongdae melepaskan cengkramannya untuk menghindari pertanyaan Sehun.
"Malam ini biarkan Jongin menginap disini. Jika kau ingin pulang, maka pulang lah." Tanpa menunggu respon dari Sehun, Jongdae pun pergi meninggalkan pria itu dengan adiknya.
Setelah kepergian Jongdae, Sehun menghampiri Jongin yang berbaring si ranjang. Pria itu duduk dipinggir ranjang dan mengusap kepala Jongin.
"Kenapa kau malah sedih saat tahu kau hamil?" Meskipun matanya terbuka lebar, Jongin tak berniat untuk menjawab pertanyaan Sehun itu. Sehun pun membungkuk untuk meraih kening Jongin.
Chup
Setelah keningnya di kecup Sehun, air mata Jongin pun perlahan turun.
Sebelum tubuh Sehun kembali tegak, Jongin segera memeluk pria itu. "Aku ingin pulang ke rumah mu."
"Baiklah, kita pulang sekarang."
Esok paginya Sehun terbangun seperti biasanya. Namun hari ini ia memutuskan untuk tidak berangkat kerja dulu karena ia ingin menjaga Jongin. Setelah berdebat dengan orang tua Jongin semalam, akhirnya Sehun dapat membawa Jongin untuk pulang ke rumahnya.
Sejujurnya Sehun tak tahu menahu dengan permasalahan yang tengah terjadi pada Jongin saat ini. Mungkin sudah terlambat untuk tahu semua hal tentang Jongin sekarang, namun Sehun juga berhak untuk tahu tentang masalah yang terjadi pada Jongin saat ini.
"Mengapa semua orang tidak memberitahu ku? Apa karena aku begitu membencimu dulu?"
"Apakah aku tak berhak tahu?"
"Tapi- aku suamimu..." Sehun kembali menatap pria itu. Pria yang sekarang tengah mengandung anaknya, darah dagingnya.
"Jika kau siap, kau bisa bercerita padaku kapanpun kau mau,oke?" Sehun tentu tidak akan mendapatkan respon apapun dari Jongin karena pria itu masih tertidur di sampingnya.
Tokk tokk
"Ada apa bu?" Ucap Sehun setelah berhasil membuka pintu kamarnya.
"Kau tidak ingin sarapan? Ibu sudah menyiapkan makanan untuk kalian, kalau bisa bangunkan Jongin juga. Sepertinya dia tidak makan malam kemarin."
"Baiklah. Aku akan membangunkan Jongin."
"Ibu tunggu dibawah,oke?"
"Ya..."
Sehun berjalan pelan dan berjongkok dihadapan Jongin yang baru saja mengubah posisi tidurnya.
"Jongin...bangun lah, ayo kita sarapan." Jongin terbangun saat merasakan telapak tangan Sehun yang mengusap bahunya.
"Aku tidak lapar."
"Kau belum makan dari semalam. Lagipula apa kau tak kasihan pada ibu yang sudah susah payah memasak untuk kita?" Jongin mendengus pelan ketika mendengar bujukan Sehun, namun ikut berdiri dan keluar kamar bersama Sehun.
"Habiskan makananmi Jong."
"Tapi aku sudah kenyang,Hun..." rengek Jongin sambil mendorong piring nasi gorengnya.
"Kau baru makan 3 sendok. Makan lagi!" Sehun kembali mendorong piring Jongin kearah pemuda tersebut.
"Sehun benar Jong. Kau kan sedang hamil, jadi kau harus banyak makan sekarang."
Ah, benar. Jongin baru ingat jika dirinya hamil. Jadi semua orang memang sudah tau kalau dirinya hamil?
"Makanlah Jong. Atau kau ingin ku suapi?" Jongin menggeleng saat melihat Sehun menyendokkan nasi goreng dan berniat untuk menyuapinya.
"Makan!" Nada datar Sehun membuat Jongin jadi terkisap dan akhirnya menerima suapan tersebut.
"Bagus. Ayo buka mulutmu lagi..."
"Aku belum selesai mengunyah." Ujar Jongin sambil menunjuk mulutnya yang masih sibuk mengunyah makanan.
"Kau sengaja makan dengan lamban kan agar aku berhenti menyuapimu?!" Sehun tau jika Jongin sengaja mengunyah perlahan agar Sehun berhenti menyuapkan makanan padanya.
"Tapi aku sudah kenyang Hun."
"Makan lagi Jongin."
"Aku tidak bisa." Jongin menggenggam tangan Sehun yang kini kembali menyendokkan nasi goreng untuknya.
"Makan Jong..."
"Ya sudah..." dengan terpaksa Jongin kembali memakan nasi goreng tersebut, namun baru beberapa kali mengunyah perutnya sudah bergejolak tak nyaman, seakan-akan semua isi perutnya ingin keluar.
"Hoek... hmpph..." Jongin berlari sambil menutup mulutnya. Sungguh dia benar-benar ingin muntah sekarang, dan itu bukan karena mengidam atau apapun.
"Hoek-- hoek..."
Pria itu memukul leher belakangnya agar bisa memuntahkan semua isi perutnya. Sehun yang baru saja sampai pun segera menjauhkan tangan Jongin dan menggantikan nya dengan milik nya lalu pijatnya pelan leher pemuda itu.
Dia terkejut saat melihat Jongin yang berlari ke kamar mandi dan memuntahkan semua sarapannya pagi ini. Setahu Sehun, dia lah yang mengidam selama ini. Tapi mengapa sekarang Jongin jadi ikut muntah-muntah?
"Sudah baikan? Perlu ku panggilkan dokter?"
"Tidak, aku ingin istirahat dikamar saja."
"Tapi kau--"
"Aku mohon Hun..." akhirnya Sehun pun mengalah dan memapah Jongin ke kamar mereka.
Tbc
Note: maaf Chapnya pendek banget. Insyaallah chap 13 aku update lusa sebagai tanda permintaan maaf karena baru bisa update sekarang...
