Discalaimer:

HxH is belong to Togashi-sensei, this fic is belong to me

Title:

Me and You family ?

Pair:

Is allways KuroPika ^^

Warning:

OOCness yang makin jadi, typos yang bertbaran

Author's corner:

Gimana? Kalian suka fan service di chappy sebelum'y? Skrg qiesa updte lgi ni... hope u like it ^^

Chapter 13 Janken X Reason X Story

Kurapika kini tengah duduk di dalam mobil Kuroro. Ia memilih duduk di belakang bersama dengan Al dan Ares, walaupun di sana jadi lebih sempit karena car sit di kanan dan kirinya.

"hey... kau yakin tak mau duduk di depan? Aku bukan supirmu" Kuroro melihat gadis itu dari spion mobil. Karena tak dapat jawaban dari gadis itu, ia kembali diam dan membawa mobil.

"papa... Al mau duduk di depan"

"nanti saja ya Al pindahnya... kalau kita sudah sampai"

"kita mau kemana? Belanja?"

"bukan... kita mau ke studio foto"

"studio? Apa?"

"studio... itu tempat kita berfoto..."

"foto?"

"kaya papa dan mama tadi"

"Al juga ganti baju? kaya papa tadi?"

"eh? Mau kaya papa?"

"um! Kata mama, Al pakai bajunya kaya papa"

"hmmm... kita lihat nanti ya... anak-anak mau di foto dengan konsep apa, Kurapika?" gadis itu masih diam seribu bahasa, pandangannya jauh keluar. Kuroro menghela nafas panjang, dan kembali fokus membawa mobil.

"mama... mama cantik" Al melihat gadis pirang itu. mendengar perkataan polos Al, mampu membuat Kurapika kembali menengok.

"eh? Al belajar kata-kata itu darimana?"

"mama cantik... semua bilang gitu... mama cantik" senyum tulus terpancar dari wajah putihnya. Senyuman itu mampu membuat Kurapika melupakan kekesalannya.

"arigatou sayang" ia mengecup lembut kening Al. Al membalas ciuman lembut itu dengan pelukan hangat untuk Kurapika. Kuroro melihat mereka dari spion, santai. Mereka hampir sampai. Ia melihat mobil hitam yang di bawa Leorio memasuki pelataran parkir sebuah gedung tiga lantai di sebrang jalan, ia mengikuti mobil Leorio, santai. Kini mereka telah sampai di depan gedung studio yang cukup besar. Di depan gedung telah terpasang beberapa banner yang sengaja di pasangi foto-foto bayi dan anak yang telah berhasil di foto di studio ini. Studio foto ini menjadi salah satu yang paling terkenal di York Shin City. Kuroro turun mobil dan membuka pintu belakang, ia segera menurunkan Al kemudian menggandengnya, di ikuti oleh Kurapika yang menggendong Ares yang masih saja terus mengoceh dengan bahasanya yang lucu. Kuroro dan Kurapika mendekati Leorio dan yang lain yang sudah menunggu mereka di depan pintu.

"siapa pun yang memilih tempat ini, dia memiliki selera yang sangat bagus" ucap Kuroro saat mereka kembali berkumpul.

"aku mendapat rekomendasi tempat ini dari Neon dan setelah melakukan beberapa pencarian lain aku benar-benar yakin tempat ini yang terbaik" jawab Leorio. Terdengar jelas adanya nada kebanggaan dari jawabannya itu.

"kalau begitu ayo kita masuk" perintah Kuroro lagi. Ia melangkah lebih dulu, ia melihat sekitar. Di dinding sepanjang lorong banyak terpasang foto-foto bayi, anak dan keluarga dalam berbagai konsep. Pria onyx itu tampak berpikir, kemudian ia melihat ke arah Kurapika yang berjalan jauh di belakangnya. Ia dapat melihat dengan jelas tatapan tak senang dari Kurapika.

"hey... bisakah kalian gejatan senjata untuk sementara? Setidaknya selama kita berada di ruang publik kalian harus terlihat sedikit lebih akur" Leorio melihat mereka, sebenarnya dari mulai mereka meninggalkan tempat foto pra-wedding tadi ia sudah ingin mengusulkan genjatan senjata ini, tapi melihat Kurapika yang masih di penuhi amarah ia mengurungkan niatnya. Tapi sekarang ia tak bisa lagi menahan niatnya untuk mengatakan ini, walaupun Kurapika terlihat lebih santai sekarang, tapi atmosfer yang berat dan berbeda dari mereka tak bisa di tutupi dengan mudah. Semua dapat merasakan dengan jelas ada hal aneh di antara 'pasangan muda' ini.

"aku menolak" jawab Kurapika, ketus.

"aku tahu kau kesal... kejadian tadi memang bukan kejadian yang menyenangkan, tapi ku mohon demi anak-anak, lupakan masalah ini dulu... kau bisa melanjutkan kekesalanmu itu nanti, sekarang kau masih perlu berpura-pura... di apartemen juga... kami juga masih memerlukan pikiran tenangmu untuk melanjutkan penyusunan rencana kita nanti"

"benar kata Leorio-kun... ku mohon tenanglah sebentar, simpan semua kekesalanmu sementara waktu, Kurapika-chan" kini Melody ikut membujuk. Mendengar bujukan dari Melody, Kurapika mengehela nafas panjang, berusaha untuk tenang. Setelah ia kembali mendapatkan ketenangannya, ia kembali membuka matanya dan berjalan lebih cepat, mengimbangi langkah panjang Kuroro.

.

.

.

Matahari telah tergelincir ke barat, langit biru nan cerah pun telah berganti menjadi lembayung, menandakan sore telah datang. Mobil sedan hitam yang dari siang tadi telah berkeliling hampir ke seluruh kota masih saja meluncuri jalanan kota. Kurapika dan keluarga kecilnya berada di dalam mobil sedan hitam itu. Mereka kembali pulang setelah menyelesaikan sesi pemotretan foto keluarga dan pergi belanja, kali ini mereka membeli bebarapa bahan makanan dan susu untuk anak-anak, kini Kurapika duduk di kursi depan, sebelah Kuroro. Kurapika melihat ke arah bangku belakang. Al dan Ares telah tertidur pulas di car sitnya. Al masih menggenggam mainan yang tadi mereka beli di super market, sedangkan Ares tertidur pulas dengan dot baru yang menempel di mulutnya, beberapa kali mulut mungilnya itu bergerak-gerak seperti tengah menghisap dotnya.

"Mereka pasti sangat lelah hari ini, seharian ini mereka terus bermain dan mengoceh" ucap Kuroro tenang.

"yah... akhirnya mereka bisa tertidur juga, aku sempat berpikir kalau mereka itu tak punya batas lelah, apalagi Al, dia terus saja berlarian kesana kemari... rasa ingin tahunya juga sangat besar... aku benar-benar kewalahan kalau harus menjawab semua pertanyaanya" Kurapika duduk di posisinya semula. Ia menyenderkan punggungnya.

"yah... gerakan dan mulutnya tak pernah bisa diam... dia sama lincahnya dengan anak tupai... atau mungkin rubah?"

"kejam sekali kau menyamakan anakmu dengan hewan seperti itu"

"tapi kalau di pikir-pikir dia lebih mirip rubah kecil... tak bisa diam"

"kalau begitu kau rubah besar"

"dan kau adalah ibu rubah" balasnya santai. Kini mobil sudah memasuki parkiran gedung apartemen mereka. Kuroro melihat sekitar mencari tempat yang kosong, setelah selesai memarkirkan mobilnya, ia kembali turun dan membuka pintu belakang. Tak selisih beberapa lama dari mereka, mobil Leorio juga ikut parkir.

"biar aku bantu" Leorio segera menawarkan bantuannya pada Kuroro, saat ia melihat pria itu membuka bagasi belakang mobil tempat dimana Kuroro menyimpan semua belanjaannya.

"yah... arigatou" Kuroro melihat dokter muda itu santai dan kembali menurunkan belanjaannya.

"kalian benar-benar belanja banyak ya kali ini" Leorio membantu.

"yah... ku rasa ini cukup untuk sebulan ke depan"

"ini bahkan cukup untuk persediaan kalian selama 2-3 bulan ke depan"

"sekarang ada 3 perut yang harus di isi"

"Kurapika tak makan terlalu banyak, bahkan kadang ia suka melupakan makan"

"sudah ku duga"

"kelihatannya kau juga bukan tipe orang yang banyak makan"

"memang bukan... tapi aku lebih memperhatikan asupan makananku"

"hhmm... papa..." percakapan mereka terinterupsi oleh rengekan manja dari Al yang terbangun di gendongan bibi Mito.

"eh? Ya... kenapa?"

Alih-alih menjawab, anak itu hanya membuka satu tangannya meminta untuk di gendong sedangkan tangannya yang lain masih saja menggosok-gosok matanya.

"kau mau di gendong?"

"um... papa" matanya kini setengah terbuka dan melihat ke arah Kuroro.

"biar aku yang bawa belanjaanmu, Kuroro-san" tawar Gon, santai.

"eh? Ya... baiklah... biar ini aku yang bawa" Kuroro memberikan kantung belanjaan kepada Gon dengan hanya menyisakan sebuah kantung kecil berwarna hijau di genggaman.

"ayo... papa..." rengekan itu mulai menjadi, saat Al makin tak sabar, ia mulai terisak pelan.

"ya... ssstt... jangan nangis" Kuroro segera menggendong Al. Anak itu segera menyenderkan tubuh mungilnya di bahu bidang Kuroro dan kembali tertidur. Kuroro bisa merasakan nafas yang semakin teratur, menandakan sulungnya itu telah kembali di jemput ke dunia mimpi. Ia berjalan di sebelah Kurapika kini. Mereka memberikan salam sopan kepada beberapa pegawai dan penghuni apartemen yang kebetulan mereka temui di lobby apartemen. Mereka tengah menunggu lift sekarang.

"konbanwa... kalian baru pulang?" sapa Zaburo, ramah. Ia menaikan sedikit topinya saat menyapa mereka.

"konbanwa zaburo-san... yah... kami baru saja pulang" sapa Kurapika ramah. Kuroro hanya menunduk sekilas.

"waah... sepertinya kalian baru selesai belanja ya"

"hanya membeli beberapa perlengkapan anak-anak untuk sebulan ini" kali ini Kuroro yang menjawab.

"sou... eh? Nyonya Lucifer... aku baru menyadari mata anda..." kata-kata pria paruh baya itu mengambang di udara. Namun karena reaksi sama seperti ini sudah sering ia alami sepanjang hari ini, ia sudah bisa menebak apa yang tengah di bicarakan zaburo.

"merah? memang mata ku merah... aku mewarisinya dari leluhurku... di keluargaku hanya aku yang menuruni gen ini dan hanya salah satu mataku saja yang merah... makanya adik ku, killua memiliki mata yang normal" jelas Kurapika sambil merangkul killua. Penjelasan yang sama yang selalu ia lontarkan sepanjang hari ini. Killua pun hanya tersenyum, sama seperti Kurapika, ia sudah hafal betul dengan semua reaksi orang saat melihat mata 'kakaknya'.

"sou... begitu ya..." pria itu mengangguk-angguk hambar batas antara mengerti atau tidak.

"Ah! Lift kami sudah ada... kami permisi ya" Kuroro menginterupsi mereka.

"eh? Ya... selamat malam dan selamat beristirahat untuk anda sekalian" zaburo kembali memberi hormat tanda sopan.

"arigatou" jawab Kurapika dan Gon bersamaan. Jawaban yang terdengar jauh lebih ceria karena intonasi riang Gon.

"kalian langsung jadi tenar ya di apartemen ini" killua melihat mereka.

"aku hanya bersikap senormal dan seramah mungkin"

"Kurapika tak aneh bila melakukan itu... tapi di luar dugaan Kuroro bisa sangat luwes saat berakting ramah"

"mungkin kau bisa bilang ini karena tuntutan pekerjaan, killu-chan"

"jangan pernah panggil aku dengan panggilan menjijikan itu"

"mulai sekarang kau juga harus berakting menjadi 'adik ipar' yang manis, killu-chan"

"aku menolak... aku hanya peran pembanu dalam drama keluarga ini jadi aku tak sepenuhnya hrus bergabung kan?"

"kau perlu dan harus... semua orang yang tahu tentang masalah ini wajib terlibat dari awal sampai akhir"

"cih!"

"kuanggap itu sebagai persetujuan... mulai sekarang, mohon bantuannya, killu-chan" ucap Kuroro seraya keluar lift.

"terserah"

.

.

.

"sekarang tinggal menyusun cerita tentang kisah cinta kalian berdua, termasuk alasan kenapa Kurapika menikah di usia muda"

"alasan pernikahan kami adalah 'kenakalan remaja'" jawab Kuroro santai.

"jangan memutuskan seenaknya Kuroro! Aku tak setuju dan tak akan pernah setuju dengan alasan bodoh itu!" pekik Kurapika.

"terlambat... aku sudah bilang itu kepada tetangga kita tadi pagi... lagipula terkadang alasan bodoh lebih mudah di terima oleh logika manusia... dan jangan teriak-teriak... anak-anak masih tidur"

"kau..." geram Kurapika.

"sudah... sudah... jangan mulai bertengkar lagi... kita harus pikirkan rencana ini dengan kepala dingin" Melody menengahi mereka.

"yah... dan ku rasa memakai alasan Kuroro tadi adalah yang paling tepat di situasi kalian... kalau di hitung dari umur Al sekarang, berarti kau menikah di umurmu yang ke-16, apalagi alasan paling tepat untuk seorang gadis belia seperti mu menikah selain 'kenakalan remaja'? dan normalnya kau masih duduk di bangku sekolah saat itu" Leorio menerangkan. Kurapika hanya diam, mendengarkan penjelasan Leorio dan mencoba memasukan setiap alasan ke dalam logikanya walau itu masih berat.

"aku tahu kau akan lebih memilih mati daripada harus menikahi ku... walau kau tahu kau sedang mengandung anak ku... sekalipun kau tak melakukan itu, kau akan memilih pergi jauh dari sini dan memutuskan untuk membesarkan anak itu sendiri... tapi aku tak akan pernah membiarkan hal itu begitu saja... itu anak ku juga, darahku mengalir di tubuhnya suka atau tidak aku ikut 'berpartisipasi' dalam kehadirannya... itu logika dari ku, apa kau bisa menerimanya dengan baik?" tanya Kuroro, santai.

Ia sudah dapat membaca dengan jelas apa yang di pikirkan gadis itu, jadi sebelum sempat gadis itu protes ia memilih memperjelas ini dulu. Kurapika kembali diam dan berpikir.

"hey... killua... mendengar penjelasan Kuroro tadi, membuatku berpikir kalau Kurapika benar-benar hamil sekarang" bisik Leorio pelan.

"membaca pikiran dan perasaan orang kemudian memanipulasi sesuka hatinya memang benar-benar keahliannya... aku bersyukur ia di pihak kita sekarang"

"yah... Kurapika menemukan lawan sepadan sekarang"

"kurasa dari awal Kuroro yang mengendalikan permainan"

"hey... kalian berdua... jangan sibuk sendiri, ayo bantu berpikir" bibi Mito melihat mereka.

"ah ya... gomen..."

"nee... nee... bagaimana kalau kita tentukan cerita lewat janken?" usul Gon.

"janken?"

"um! Yang menang yang tentukan ceritanya" terang Gon penuh semangat.

"tapi cara itu terlalu lama... kita butuh cara yang lebih cepat untuk tentukan pemenangnya"

"jaa... bagaimana kalau dengan bantuan botol? Kita duduk memutar dan memutar botol di tengah. Siapapun yang di tunjuk oleh ujung botol itu harus menentukan ceritanya" kini killua angkat bicara.

"itu sepertinya lebih cepat" yang lain tampak setuju.

"yah... dan kalau botol itu berhenti di antara dua orang maka keduanya harus janken... kita hanya akan memutar botol ini sekali, bagaimana?"

"baiklah"

"dan untuk botolnya... aku hanya bisa menemukan botol susu ini di sini"

"tak apa... pakai itu saja... baiklah ayo kita duduk memutar" perintah Leorio.

Yang lain ikut memutar. Mereka menaruh botol susu tepat di tengah dan memutarnya dengan cepat. Botol susu berputar dengan cepat dan tak tentu arah, lalu bergerak mulai pelan dan berhenti perlahan juga. Sebagian dari mereka terlihat menahan nafas. Dan kini botol sudah benar-benar berhenti.

"ah!... Melody... kau yang harus buat ceritanya" Gon dan bibi Mito melirik ke arah Melody.

"eh? Aku? Hmm..." gadis itu melihat ke arah Kurapika dan Kuroro. Mencoba berpikir dan membayangkan cerita yang paling tepat untuk menggambarkan 'kisah' mereka.

"hmm... bagaimana kalau begini, kalian bertemu di toko buku antik di pinggir kota... dan sering meminjam buku di sana... cinta pada pandangan pertama mungkin tak cocok untuk menggambarkan hubungan kalian... tapi perlahan namun pasti perasaan kalian tumbuh sedikit demi sedikit karena seringnya kalian bertemu, mengobrol atau mungkin kadang sedikit berdebat... kalian semakin akrab di setiap pertemuannya... kalian juga mulai berani bertanya dan menceritakan tentang kehidupan pribadi di tengah obrolan tentang buku yang kalian suka, karena obrolan itu kalian saling kenal satu sama lain dan merasa semakin cocok satu sama lain... seiring dengan berjalannya waktu kalian mulai berani untuk mengatur pertemuan di luar toko buku... pergi membeli buku bersama, melihat pameran buku atau mungkin keluar hanya untuk mengobrol dan membahas buku yang tengah kalian baca masing-masing... akhirnya pun kalian memutuskan untuk berpacaran" Melody tampak ragu, kemudian kembali melirik ke arah Kurapika dan Kuroro.

"cerita itu cukup masuk akal denganku... tak terlalu memaksa" Kurapika angkat bicara.

"yah... mengingat hobby kalian adalah sama-sama baca buku itu cerita yang paling masuk akal" Leorio juga tampak setuju.

"pertanyaan dari ku, sejak kapan kami bertemu?" Kuroro melihat ke arah Melody.

"hm... saat umur Kurapika 14?" Melody mencoba menebak.

"hmm... rasanya aku sangat berdosa berpacaran dengan gadis 14 tahun di umurku yang sudah 21 tahun... dan berarti Kurapika masih duduk di bangku SMP saat itu?"

"yah... kira-kira begitu... apa kau tak setuju?"

"tidak juga... kau yang di takdirkan untuk membuat cerita cinta kami, jadi ku terima saja"

"lalu bagian mana yang menjadi inti cerita? Dimana 'kenakalan remaja' yang di bilang Kuroro?"

"eh? Etoo... untuk soal itu aku benar-benar tak punya ide... sudah ku coba pikirkan dari awal tapi masih saja tak bisa menemukannya... apalagi mengingat sifat Kurapika-chan yang seperti ini, membuat ku benar-benar kehilangan ide"

Yang lain tampak berpikir.

Memang benar, melihat dan mengingat sikap Kurapika selama ini, rasanya mustahil untuk memasukan bagian 'kenakalan' itu ke dalam kisah cinta mereka yang terdengar biasa saja itu. mereka juga tak bisa sembarangan memasukan bagian 'itu' ke dalam kisah mereka. Tapi walau sulit, mereka harus tetap menemukan jalannya, mereka sudah mempersiapkan semuanya dari awal, jadi bagian ini pun tak boleh di tinggalkan.

"bagaimana kalau kita putar botol lagi untuk mencari siapa yang harus buat bagian itu?" usul Leorio.

"hmm... baiklah... tapi ini yang terakhir ya... apapun cerita yang di buat orang itu, sekalipun itu tak masuk akal harus di terima... termasuk olehmu Kurapika" killua melirik Kurapika.

Gadis pirang itu hanya diam, dan mengangguk pelan.

"yosh! Ayo kita putar" killua memutar botol dengan sangat cepat.

Botol kembali berputar tak tentu arah, kali ini lebih kencang, botolnya pun sedikit terlempar karena terlalu kencangnya berputar. Putaran kali ini lebih lama berhenti, yang lain harap-harap cemas melihat putaran botol itu, tak lama kemudian botol mulai pelan berputar dan berhenti.

"ah..."

Botol berhenti tepat di antara Paku dan bibi Mito.

"wah... kita tentukan dengan janken" Leorio melihat mereka.

"janken... pon!" ucap dua wanita itu bersamaan.

"sepertinya aku yang menang" Paku angkat bicara saat melihat tangannya yang mengeluarkan 'gunting' sedangkan bibi Mito 'kertas'.

"yah... kalau begitu kau yang tentukan... apapun ceritanya kami akan terima" killua melihat Paku.

Wanita bermata sayu itu diam sebentar, tampak berpikir, kemudian melihat ke arah 'danchou'nya.

"tak ada alasan dan cerita khusus untuk bagian itu" jawabnya tenang.

"eh? Apa maksudmu?" Kurapika melirik wanita yang kebetulan duduk di depannya itu.

"tak perlu alasan untuk melakukan 'itu'... kalian sedang berpacaran saat itu, kalian sudah sama-sama besar juga, jadi perlu alasan apa lagi? Juga mengingat sifat ingin tahu dan tak mau kalah darimu yang besar, rasanya hal 'itu' semakin terdengar biasa" jelas wanita itu, tenang.

Mendengar penjelasan itu, Kuroro hanya tersenyum santai. Sebaliknya dengan Kurapika.

"aku tak sebodoh itu sampai harus seperti itu" geram gadis pirang itu.

"karena kau tahu kalau itu adalah kebodohan terbesar dalam hidupmu, kau memutuskan untuk menghilang dari danchou, tapi danchou tak membiarkannya lalu menikahimu di usia yang sangat belia"

"aku setuju dengan cerita itu... memang tak pernah ada alasan untuk 'itu'... apalagi kita memang berpacaran di cerita itu... dan itulah yang di sebut dengan 'kenakalan remaja' yang sebenarnya" Kuroro akhirnya angkat bicara.

"aku tak setuju! Sepenuhnya tak setuju!" tolak si pirang.

"kita sudah melakukan perjanjian sebelumnya, cerita apapun akan kita terima... ayolah... jangan buat ini semakin lama... malam semakin larut"

"cih!" gadis itu masih saja geram, ia menggigit bawah bibirnya, tanda kesal.

"... mama..." terdengar suara mengantuk dari Al.

Kurapika yang mendengar itu segera melihat ke arah kamar anak-anak. Di sana sudah berdiri Al, masih dengan wajah mengantuknya ia berdiri di pintu sambil memeluk boneka rubahnya. Tangan kirinya mengucek-ngucek matanya, mencoba untuk kembali bangun.

"hey... sayang... ko kamu bangun? Ini masih malam sayang" Kurapika segera mendekati Al dan berjongkok di depannya.

"Al mau bobo sama mama" pintanya. Masih dengan suara paraunya.

"kalau kita masuk kamar lagi"

Al menggeleng pelan. Badan mungilnya ia senderkan di pintu, ia masih terlalu mengantuk untuk berdiri dengan benar.

"katanya Al mau tidur sama mama... kita masuk kamar lagi ya" bujuk Kurapika. ia menggendong tubuh mungil Al.

"al mau bobo kaya kemarin... di sana... ga mau di sini" Al menunjuk kamar utama.

"mau bobo di sana lagi?"

"um!... Sama papa juga"

"eh?" Kurapika diam kembali, tampak berpikir.

Membayangkan ia harus kembali sekamar dengan Kuroro bukanlah bayangan yang baik, mengingat apa yang telah di lakukan pria menyebalkan itu tadi siang, membuatnya semakin kesal. Walau kemarin mereka bisa tidur bersama, tapi ceritanya kali ini berbeda. Tapi kalau ia menolak keinginan Al kali ini, anak itu akan langsung rewel dan semakin susah di tenangkan.

"baiklah... tapi Al bobo ya" putus gadis itu kemudian.

"um..." Al menjawab dengan lemas. Ia masih mengantuk.

"kurasa kami juga harus pulang... kalian istirahatlah... masih ada hari panjang lainnya lagi esok... tugas kalian masih panjang, jadi kumpulkanlah tenaga sebanyak kalian bisa" Leorio bangkit dari sofa.

"yah... kami juga harus simpan untuk misi kita lain" killua ikut bangkit.

"eh? Ya... kyou wa iro iro arigatou" Kurapika melihat mereka.

"osu... istirahat ya, 'nee-chan'" pamit killua santai.

"um... oyasumi, killu-chan"

"oyasumi Kurapika-chan"

"oyasumi Melody"

"matta ashitta na, Kuroro-san Kurapika"

"um... matta ne, Gon"

"oyasumi Kuroro-kun Kurapika-chan"

"um... arigatou, bibi Mito"

Kuroro hanya menunduk sopan.

"kalau begitu aku juga pulang, danchou" Paku menunduk sopan.

"yah... oyasumi"

Paku hanya membalasnya dengan tundukan sopan. Lalu ia keluar kamar.

"kau baringkan Al di kamar dulu... biar aku yang ambil Ares dari kamarnya" Kuroro melirik Kurapika kemudian bangkit dari sofa.

Kurapika mengangguk pelan. Ia menggendong Al ke kamar, kemudian membaringkannya di tempat tidur.

"al bobo ya... mama mau ganti baju dulu"

"um... jangan lama-lama"

"hu um" gadis itu mengelus rambut Al sekilas kemudian berjalan ke arah kamar mandi.

Gadis itu masuk kamar mandi dan berdiri di depan wastafel. Ia mencuci tangannya kemudian melepaskan soft lensenya. Lalu mencuci mukanya, melihat refleksi wajahnya di kaca, memperhatikan setiap inchinya. Ia menelusuri setiap inchi wajahnya dengan jemarinya perlahan, di mulai dengan kedua matanya yang berbentuk seperti mata kucing, mata itu kembali berwarna saphirre sekarang, kemudian jemarinya turun dan mulai menelusuri pipi mulusnya. Saat jemarinya menyentuh bibirnya, ingatan tentang ciuman paksa tadi siang kembali menyeruak, membuat gadis itu kembali geram, dalam sekejap saja, manik saphirenya telah berubah menjadi merah semarah darah.

"ku bunuh kau Kuroro" geramnya kesal, tangannya terkepal kesal.

"mama... ayo..." terdengar rengekan manja Al dari dalam kamar.

Mendengar itu Kurapika segera menutup matanya dan mencoba untuk kembali mendapatkan ketenangannya.

"ya... mama keluar" jawabnya kemuadian.

Ia segera berganti baju dan kembali ke kamar. Di sana ia sudah melihat Kuroro yang tengah berbaring dengan santainya di atas tempat tidur, tepat di sebelah Ares yang tertidur pulas. Kurapika memutuskan untuk mengacuhkan pria itu dan segera tidur untuk mengakhiri hari panjang ini. Ia naik tempat tidur kemudian berbaring di sebelah Al. Al segera memeluk Kurapika.

"oyasumi sayang... yume no kirei" bisik Kurapika lembut, tak lupa sebuah kecupan hangat di pucuk kepala sulungnya, tanda selamat malam.

"oyasumi... mama... papa..." jawabnya di ujung kesadarannya. Terlihat jelas anak itu tersenyum senang.

"oyasumi" Kuroro melihat anak itu kemudian mengelus rambutnya.

"kau juga tidurlah... benar kata teman-teman mu, kita masih akan menghadapi hari panjang esok" Kuroro melihat Kurapika.

"yah" gadis itu menjawab seadanya, ia segera menutup mata. Tangannya masih memeluk Al.

"oyasumi" pria onyx itu mematikan lampu kamar dan hanya meninggalkan lampu kamar.

Contenyuu~~

Author's corner #2: jaa... sgini dlu updte x ni... agak rbet jga mo edit fic ni d , enth knpa ktak bwt edt'y jd kcl bgt, jd ssh klhatn... jdi maaf klo bnyak typos, fic ni d edit lg sprlunya d word.

maaf di chappy ini ga di masukin fan service lgi... mungkin bru akn di msukn di chappy brikutnya... n qiesa mo ksih bcoran ni... akan ada chappy khusus yg bhas ttg mmpi kurapika ato mungkn bhas ttg kurapika yg ada di dunia mmpi... akn ad bbrapa fan srvce lgi d chappy khsus it, tpi qiesa bru akn buat crta itu stlah lhat rview klian bwt chappy brikutnya... smoga klian ska sm chappy ni n chappy brikut'y... ah ya... qiesa mo izn dlu, qiesa bru bsa publish chappy brikut'y mngkin di akhir minggu depan, krna mlai agk ssah cri wktu bwt ktik, jdi mhon sbar ya...

Ok... sekaraang waktunya balas review!

Review kali ini lebih sedikit, tpi gpp ^^

Moku-chan: yah... stelah skian lama updte jga... thx ud nggu fic ni... ya dong... ni sbagai blasan krna klian msih mo nggu fic ni... fan servce... yup... pika g bkutik krna hot kiss dr kuroro... ni ud updte... enjoy ^^

Cha: tenangkan hati mu cha ^^... msih bnyak adgan ky gtu nnti ^^... thx ud rview ^^

VenVir : kau tahu kan apa kegiatan selanjut'y, Ven? ^^... tpi adgan it blum d msukin dsni... sbar dlu ya... penasaran ya? Nnti jga ktwan ko... klo d ksh bcran skrg g ask dong ^^... ya... seandainya bnr ad hsil fto'y psti ask dh... tpi nnt fto it d bhas ko d fic ni, d chappy brikut2'y... Eh? #binun kna pluk... hai... hai... douita... ni ud updte ko... enjoy ^^

Author corner #3: ok... it's time to off... RnR please #Gon's sparkling eyes