LOVER ETERNAL

.

CHAPTER 14

.

.

.

KAIHUN AGAIN ( ini GS soalnya mau diubah jadi Yaoi ntar ceritanya jadi aneh, kurang sreg. Bisa aja sich diganti Yaoi tapi emm bakalan gak ngepass dehh ceritanya)

RATED M

.

JUJU JONGODULT

.

REMAKE FROM NOVEL J. R. WARD

.

CERITA SEBELUMNYA

.

Lesser yang bernama O melirik tas jinjing wanita yang telah diberikan anak buahnya. Ia meraih benda itu dan mengaduk aduk isinya. Botol obat, tisu, tampon, ponsel.

Ahhh, dompet.

Ia mengeluarkan SIM, dan memperhatikan foto seorang wanita berambut hitam panjang dan bermata cokelat. Alamatnya jauh dipinggir kota, Route 22.

Salah satu anak buahnya bertarung satu lawan satu dengan seorang pejuang. Pejuang itu tengah bersama seorang wanita. Anak buahnya berhasil melarikan diri dan mengambil tas ini.

O berdiri lalu memungut tas wanita itu dan berjalan keluar.

.

HAPPY READING

.

Suho terus memandangi Chanyeol, dan itu harus dihentikan. Hanya saja ia tak dapat menahan diri. Chanyeol merupakan satu satunya yang bisa dilihatnya.

Meski pria itu tidak bisa dibilang terlibat dalam pesta, well, kecuali saat kejadian dengan Kai tadi, Chanyeol menjauh dari mereka semua. Dia tidak berbicara dengan siapapun. Tidak minum apapun. Tidak makan apapun. Dia seperti patung di dekat salah satu jendela panjang, dan sikap diam pria itu sungguh mencengangkan. Dia bahkan tidak kelihatan bernapas. Hanya matanya yang bergerak.

Dan mata pria itu selalu menghindari menatap matanya.

Suho memberi waktu bagi mereka berdua dengan berjalan untuk mengambil anggur lagi. Ruang billiard itu merupakan ruangan gelap dan mewah, dindingnya dilapisi pelapis dinding sutra berwarna hijau hutan dan dihiasi tirai tirai satin hitam dan emas. Ia melihat disalah satu sudut tempat bar, suasananya lebih gelap dan ia bisa mengawasi Chanyeol dari sana tanpa ketahuan.

Beberapa hari belakangan ini ia sering bertanya dan mendengar kisah tentang Chanyeol. Kisahnya benar benar mengerikan. Orang orang berkata Chanyeol membunuh wanita demi kesenangan belaka, tapi sulit rasanya untuk tidak bertanya tanya seberapa banyak kebenaran yang terkandung dalam kisah itu. Dengan pria berpenampilan seperti Chanyeol, orang orang pasti akan senang bergosip.

Mustahil semua omongan itu benar. Bayangkan saja, orang orang berkata Chanyeol hidup dengan meminum darah pelacur. Secara fisiologi pun hal itu tidak mungkin benar, kecuali pria itu minum setiap dua malam sekali, karena darah yang diminum para pejuang biasanya berbeda. Jadi bagaimana mungkin Chanyeol bisa sekuat ini kalau ia hanya meminum darah pelacur biasa yang mempunyai nutrisi rendah?

Suho berbalik dari bar dan melihat kesekeliling lagi. Chanyeol sudah tidak ada. Ia melirik ke selasar, dan tidak melihat pria itu disana. Apa Chanyeol pergi dari pesta?

" Mencariku? "

Suho terlonjak dan memutar kepala. Chanyeol berada tepat dibelakangnya, menggosok gosokkan apel ke kemejanya. Sambil menggigit apel itu, mata Chanyeol mengarah dan memperhatikan leher Suho.

" Chanyeol... "

" Kau tahu, sebagai wanita bangsawan, kau sangat tidak sopan. " Chanyeol memamerkan taringnya dan menggigit apel segar itu dengan bunyi krek keras. " Apakah ibumu tidak pernah memberitahumu tidaklah sopan untuk memandangi orang? "

Suho memperhatikan Chanyeol mengunyah, rahangnya bergerak memutar. Ya ampun, melihat bibir pria itu saja sudah membuat Suho sulit bernapas. " Aku tidak bermaksud untuk menyinggungmu. " Lirih Suho.

" Yah, aku tahu. Tapi kurasa kau sudah membuat saudara kandungku sedih. "

" Apa? " Tanya Suho bingung.

Mata Chanyeol berlama lama di wajah Suho, lalu beralih ke rambut wanita itu. Ia menggigit apelnya lagi. " Tao menyukaimu. Kurasa dia bahkan terpikat padamu di saat kalian pertama kali bertemu. Dia tidak biasa teralihkan oleh wanita, setidaknya sejak aku mengenalnya. "

Lucu, Suho sama sekali tidak merasakan getaran yang sama kepada Tao. Ia terfokus pada Chanyeol. " Kurasa Tao tidak _ "

" Dia terus menerus memperhatikanmu. Saat kau melihat ke arahku, dia memandangimu. Dan itu bukan karena dia mencemaskanmu. Matanya memandangi tubuhmu. " Chanyeol memiringkan kepalanya ke satu sisi. " Kau tahu, mungkin aku salah, tapi mungkin saja kau lah yang akan menyembuhkannya dari kehidupan selibatnya. Tapi... Ahhh.. Sial, kau sangat cantik. "

Suho merona. " Chanyeol, kau harus tahu bahwa aku, eh, aku mendapati dirimu _ "

" Memuakkan, bukan? " Chanyeol menggigit apel lagi. " Aku tidak mengerti kenapa kau terus memandangiku, tapi kau perlu mengalihkan mata cantikmu itu ke tempat lain. Mulai sekarang, pandangi saja Tao, mengerti? "

" Aku ingin memandangmu. Aku suka memandangmu. "

Mata Chanyeol menyipit. " Tidak, kau tidak suka itu. "

" Ya, aku suka. " Tegas Suho

" Tak ada yang suka memandangiku. Aku sendiri saja tidak menyukai diriku sendiri. "

" Kau tidak buruk rupa, Chanyeol. " Ucap Suho lembut.

Chanyeol tertawa, dengan sengaja menyusurkan ujung jarinya menuruni luka di wajahnya. " Nah, itu baru namanya memuji dibalik kebohongan. "

" Aku mendapatimu memukau. Aku tidak bisa menyingkirkanmu dari pikiranku. Aku ingin bersamamu. " Ucap Suho.

Chanyeol mengerutkan dahi, tubuhnya membeku. " Bersamaku? Bagaimana persisnya? "

" Kau tahu. Bersamamu. " Suho merah padam, tapi berpikir tidak ada ruginya sekarang ia berkata blak blakan. " Aku ingin... Bercinta denganmu. "

Chanyeol mundur begitu cepat hingga menabrak bar. Dan ketika botol botol minuman itu bergetar, Suho yakin semua cerita mengerikan tentang Chanyeol tidak ada yang benar. Ini bukan reaksi seorang pembunuh wanita. Pria ini sepertinya malah ketakutan setengah mati membayangkan Suho tertarik fisik padanya.

Suho membuka mulut, tapi Chanyeol langsung memotongnya.

" Menjauhlah dariku, wanita, " Ucap Chanyeol kasar, ia melempar apel yang baru separo dimakannya ke tempat sampah. " kalau tidak, tak ada yang tahu apa yang mungkin kulakukan untuk membela diri. "

" Apa? Aku bukan ancaman untukmu. "

" Bukan, tapi aku jelas tidak bisa menjamin aku tidak berbahaya. Ada alasan mengapa orang orang menjauhiku. " Setelah mengucapkan hal itu, Chanyeol berjalan keluar.

Suho memperhatikan semua orang disekeliling meja billiard. Semuanya memusatkan perhatian pada permainan. Sempurna. Ia tidak ingin ada yang berusaha membujuknya untuk mengurungkan apa yang hendak dilakukannya sekarang.

Ia menaruh gelas anggurnya dan menyelinap keluar dari ruang billiard. Saat ia tiba di lobi, Chanyeol tengah menaiki tangga. Setelah memberi pria itu beberapa menit didepannya, ia bergegas menaiki tangga, tanpa suara naik ke lantai dua. Setelah sampai di puncak tangga, ia melihat sepatu Chanyeol menghilan di salah satu sudut. Ia berlari dengan cepat di atas karpet, menjaga jarak saat pria itu berjalan menyusuri koridor yang menjauh dari balkon dan selasar di bawah.

Chanyeol terdiam. Suho bersembunyi di balik pahatan marmer.

Ketika ia keluar, pria itu sudah menghilang. Suho berjalan ke tempat dimana ia perkirakan Chanyeol berada, ia mendapati salah satu pintu kamar yang terbuka. Ia melongokkan kepala ke dalam. Kamar itu gelap gulita, cahaya dari lorong hanya menerangi sedikit jalan. Dan hawa dikamar itu sangat dingin, seolah panas bukan hanya hilang malam ini, tapi tak pernah datang.

Mata Suho mulai beradaptasi. Ada tempat tidur yang lebar dan luas, dihiasi tirai tirai beledu warna merah tua. Perabot lain sama mewahnya, walaupun ada yang aneh di sudut lantai. Tumpukan selimut yang bisa di fungsikan sebagai tempat tidur. Dan tengkorak.

Lengan Suho ditarik masuk.

Pintu dibanting menutup dan kamar itu langsung diliputi kegelapan pekat. Secepat senatakan napasnya, tubuh Suho diputar dan didorong dengan muka lebih dulu ke dinding. Lilin lilin tiba tiba menyala.

" Apa yang kau lakukan disini? "

Suho berusaha bernapas, tapi dengan lengan atas Chanyeol menekan tengah punggungnya, ia tak bisa menghirup cukup oksigen untuk mengisi paru parunya.

" Aku, eh, aku... Kupikir kita bisa bicara. "

" Benarkah? Itukah yang ingin kau lakukan di tempat ini? Bicara? " Tanya Chanyeol.

" Ya, kupikir _ "

Tangan Chanyeol merangkum tengkuk Suho. " Aku tidak berbicara dengan wanita yang cukup tolol untuk mengejarku. Tapi akan kutunjukkan apa yang bersedia kulakukan pada wanita seperti itu. "

Chanyeol melingkarkan lengannya yang kekar di sekeliling perut Suho, menarik pinggul Suho dari dinding, lalu menekan kepala wanita itu ke bawah. Kehilangan keseimbangan, Suho bertahan dengan memegang kayu perabot.

Bukti hasrat pria itu menyentuhnya. Napas Suho meledak dari paru parunya.

Saat rasa panas mulai melingkupinya, dada Chanyeol menggesek punggungnya. Pria itu menarik blus Suho dari balik roknya dan menyelipkan tangan ke perut Suho, jemari panjang dan telapak tangan yang lebar itu terentang disana.

" Wanita sepertimu seharusnya bersama bangsawan lain. Ataukah parut luka dan reputasi buruk merupakan bagian daya tarikku? " Ketika Suho tidak menjawab, karena tidak mampu bernapas, Chanyeol kembali bergumam. " Ya, tentu saja begitu. Kau tertarik pada parut luka dan reputasu burukku. "

Dalam satu gerakan cepat ia menyingkap bra Suho dan menangkup payudaranya. Terperangkap dalam hasrat yang begitu liar, Suho mendesis dan tubuhnya tersentak. Chanyeol terkekeh.

Chanyeol meraih puncak payudara Suho dengan kasar, menggabungkan kenikmatan dan rasa sakit. Membuat Suho menjerit.

" Terlalu kasar untukmu? Aku akan berusaha untuk lebih mengendalikan diri, tapi, kau tahu, aku liar. Dan itulah alasan kau menginginkan ini, bukan? " Bisik Chanyeol.

Tapi itu tidak terlalu kasar. Suho menyukainya. Ia ingin melakukannya dengan kasar, dan ia ingin melakukannya dengan Chanyeol. Ia ingin melanggar aturan, menginginkan bahaya dan getarannya, panas yang liar dan kekuatan pria itu. Dan ia begitu siap, apalagi ketika Chanyeol menarik roknya melewati pinggang. Satu satunya yang perlu dilakukan pria itu hanyalah menyingkirkan pakaian dalamnya dan dia bisa berada didalam Suho.

Hanya saja Suho ingin menatap Chanyeol saat pria itu menyatukan tubuh mereka. Dan ia juga ingin menyentuh tubuh pria itu. Ia berusaha untuk berdiri, tapi Chanyeol menahannya, mencondongkan tubuh dilehernya, menahannya ditempat.

" Maaf, aku cuma bisa melakukannya dengan cara ini. "

Suho bergulat, sangat ingin mencium pria itu. " Chanyeol _ "

" Agak terlambat untuk berubah pikiran. " Suara Chanyeol terdengar bagai geraman sensual di telinga Suho.

" Entah kenapa, aku ingin bercinta denganmu. Sangat ingin melakukannya, jadi demi kita berdua, bayangkanlah orang lain. Aku takkan lama. " Lirih Chanyeol.

Tangan Chanyeol meninggalkan payudara Suho, menyusuri perut dan akhirnya menemukan vagina basah Suho.

Chanyeol membeku.

Ia melompat mundur. " Keluar dari sini. "

Bingung, sangat terangsang, Suho limbung saat berdiri. " Apa? "

Chanyeol pergi ke pintu, membukanya lebar lebar, dan menekuri lantai. Ketika Suho tidak bergerak, ia meraung. " Keluar! "

" Kenapa _ "

" Astaga, cepatlah keluar. Kau membuatku mual. "

Suho merasakan darah meninggalkan wajahnya. Ia menurunkan roknya dan berkutat dengan blus dan bra nya. Lalu berlari keluar kamar.

.

.

.

Chanyeol membanting pintu dan lari ke kamar mandi. Menaikkan dudukan toilet, ia membungkuk dan memuntahkan apel yang dimakannya tadi.

Setelah menekan tombol untuk menyiram, ia merosot di lantai, gemetaran dan mual. Ia mencoba menarik napas dalam dalam beberapa kali, tapi satu satunya yang bisa diciumnya hanyalah aroma Suho. Merasakan pusat hasrat Suho ditangannya. Ia melepas kausnya dan melilit benda itu ketangannya, ia perlu menenggelamkan aroma itu.

Astaga, kelembutan sempurna itu. Aroma semerbak hasrat Suho.

Tak ada wanita yang pernah berhasrat padanya sejak ratusan tahun. Tidak semenjak ia menjadi budak darah. Dan dulu ... Ia tidak menginginkannya, belajar untuk takut pada hasrat itu.

Ia berusaha mengembalikan pikirannya ke masakini, berusaha untuk tetap berada dikamar mandi ini, tapi masa lalu menyedotnya...

Ia kembali berada di sebuah sel, terbelenggu, tubuhnya seperti bukan miliknya. Ia bisa merasakan tangan Mistressnya, mencium lotion yang dibalurkan Mistress padanya. Lalu Mistressnya akan menggunakan tubuhnya untuk kesenangan sampai puas. Setelah itu, Mistress akan menggigitnya dan darah akan tersedot dari pembuluh darahnya.

Semuanya kembali menghantamnya. Pemerkosaan itu. Penghinaan itu. Penyiksaan yang berlangsung puluhan tahun sampai Chanyeol kehilangan konsep tentang waktu, semuanya mati kecuali detak jantungnya yang tak pernah berhenti.

Chanyeol mengerang saat mengingat Suho. Ia mengelap kening dengan otot bisepnya. Suho. Betapa wanita itu membuatnya sangat malu pada parut dan keburukannya, penampilannya yang rusak dan sifatnya yang muram dan bermusuhan.

Ia tidak percaya ketika Suho berkata ingin bercinta dengannya. Chanyeol bergidik saat mengingat ia menyentuh payudara Suho. Ia memutar ulang seperti apa rasanya berada didalam kehangatan tubuh Suho. Wanita itu begitu... Lembut. Begitu hangat dan menyambut. Wanita pertama yang disentuhnya yang berhasrat padanya. Ia tidak tahu apa yang harus dilakukannya.

Perutnya bergolak lagi dan ia meluncur ke toilet.

" Kukira kau hanya bersikap kejam, " Ucap Suho dari belakang Chanyeol. " Aku tidak tahu aku benar benar membuatmu mual. "

Brengsek, aku lupa mengunci pintu. Batin Chanyeol. Tidak pernah terpikir olehnya Suho akan kembali menemuinya.

.

.

.

Suho memeluk diri. Dari semua hal yang pernah dibayangkannya, yang ini seperti cerita fiksi. Chanyeol terkapar setengah telanjang didepan toilet, kemeja pria itu meliliti tangannya, muntahan keringnya membuat pria itu berkedut.

Suho melirik punggung Chanyeol dan terkesiap. Ya Tuhan, punggungnya. Punggung lebar itu dipenuhi parut, bukti cambukan masa lalu yang tidak bisa sembuh dengan sempurna.

" Kenapa kau ada dikamarku lagi? " Tanya Chanyeol, suaranya menggema disekeliling ruangan.

" Aku, eh, aku ingin memakimu. "

" Keberatan kalau aku menyelesaikan muntahku dulu? " Air mengalir deras dan bergolak saat Chanyeol menyiram toilet lagi.

" Apakah kau baik baik saja? "

" Ya. "

Suho masuk ke kamar mandi dan sekilas pandang menyadari tempat itu sangat bersih, sangat putih.

Dalam sekejap, Chanyeol berdiri dan menghadap Suho.

Suho menelan sentakan napas kagetnya. Ia mengalihkan pandangannya ke dada bidang Chanyeol, kedua putingnya ditindik, anting anting perak kecil dan bola bola kecil yang memantulkan sinar saat pria itu menarik dan mengeluarkan napas. Pandangannya naik keatas, lalu mengernyit saat melihat lingkaran hitam besar yang bertato disekeliling leher dan pergelangan tangan Chanyeol.

" Kenapa kau memiliki tanda tanda budak darah? " Bisik Suho.

" Pikir saja sendiri. "

" Tapi itu... "

" Seharusnya tidak terjadi pada pejuang sepertiku? " potong Chanyeol.

" Ya, kau pejuang dan seorang bangsawan. "

" Takdir memang sangat kejam. "

Hati Suho terbuka untuk Chanyeol, dan segala yang dipikirkannya tentang pria itu berubah. Suho ingin menghibur, memeluk Chanyeol. Mengikuti dorongan hati, ia maju selangkah mendekati Chanyeol.

Mata hitam Chanyeol menyipit. " Seharusnya sekarang kau jijik padaku. "

Suho tidak mendengarkan ucapan Chanyeol, ia terus maju mempersempit jarak diantara mereka, Chanyeol mundur sampai dia terpojok diantara pintu kaca shower dan dinding.

" Apa apaan kau? " Teriak Chanyeol.

Suho tidak menjawab, karena ia sendiri tidak yakin.

" Mundur! " Bentak Chanyeol. Ia membuka mulut, taringnya memanjang seperti taring macan.

Itu membuat langkah Suho terhenti. " Tapi mungkin aku bisa _ "

" Menyelamatkanku atau omong kosongmu macam itu. " Sela Chanyeol. " Oh, benar. Dalam fantasimu, inilah saat aku mestinya terkesima oleh pesona matamu. Menyerahkan sisi monsterku ketangan sang perawan. "

" Aku bukan perawan. "

" Yeah, itu bagus buatmu. " Ucap Chanyeol.

Suho mengulurkan tangan, ingin menyentuh dada Chanyeol. Tepat dijantungnya.

Chanyeol menjauh dari jangkauan Suho, merapatkan diri kedinding marmer. Keringat membasahi sekujur tubuhnya, dia menjulurkan leher menjauh dan wajahnya meringis. Dadanya naik turun, anting anting putingnya menyorotkan sinar perak.

Suara Chanyeol begitu lirih hingga nyaris tidak terdengar. " Jangan sentuh aku. Aku tidak... Aku tidak tahan disentuh, oke. Rasanya sakit. "

Suho berhenti bergerak.

" Kenapa? " Tanyanya pelan. Kenapa bisa sa _ "

" Keluarlah dari sini, Kumohon. " Chanyeol hampir tak mampu mengucapkan kata kata itu. " Aku diambang menghancurkan sesuatu, dan aku tidak mau sesuatu itu dirimu. "

" Kau takkan menyakitiku. " Ucap Suho yakin.

Chanyeol memejamkan mata. " Sialan. Ada apa dengan tipe wanita bangsawan sepertimu? Apakah kau dididik untuk pergi menyiksa orang? "

" Astaga, tentu saja tidak. Aku hanya ingin menolongmu. "

" Pembohong, " Sergah Chanyeol, matanya membelalak terbuka. " Kau benar benar pembohong besar. Kau tidak ingin menolongku, kau ingin menyakitiku bukan? Seperti dia. "

" itu tidak benar. Aku tidak ingin menyakitimu. "

Tatapan Chanyeol berubah menjadi dingin, tak berjiwa, dan suaranya sama sekali datar. " Kau menginginkanku? Baik. Kau boleh mendapatkanku, sialan. "

Chanyeol menerjang Suho. Ia membanting Suho ke lantai, menggulingkan tubuh wanita itu hingga menelungkup, dan merenggut tangan Suho ke balik punggung. Lantai marmer itu terasa dingin diwajah Suho saat lutut Chanyeol merentangkan kakinya. Terdengar bunyi robek. Pakaian dalamnya.

Suho langsung mati rasa. Pikirannya tidak mampu mengimbangi kesigapan tindakan Chanyeol, begitu pula emosinya. Namun tubuhnya tahu apa yang diinginkannya. Marah atau tidak, ia akan menyambut pria itu.

Suho merasa kosong saat Chanyeol meninggalkannya sejenak, lalu Suho mendengar suara ritsleting. Setelah itu Chanyeol menindihnya, tapi Chanyeol tidak melakukan apa apa. Pria itu hanya tersengal saat membeku ditempat, napasnya terdengar keras ditelinganya, begitu keras... Apakah Chanyeol sedang menangis?

Kepala Chanyeol turun ke tengkuk Suho. Lalu ia berguling, menurunkan kembali rok Suho seraya menjauh. Sambil berbaring telentang, dia meletakkan lengannya menutupi wajah.

" Oh Tuhan, " Erang Chanyeol. " Suho... "

Suho ingin mearih Chanyeol, tapi Chanyeol begitu tegang hingga ia tidak berani. Sambil bergerak canggung, ia berdiri dan menunduk memandangi Chanyeol. Celana Chanyeol berada disekitar paha pria itu.

Suho lalu memusatkan perhatiannya pada lingkaran hitam yang ditatokan dipergelangan tangan dan leher pria itu, dan parut parut itu.

Hancur. Bukan rusak.

Walaupun Suho malu untuk mengakuinya sekarang, sisi gelap Chanyeol memang bagian terbesar dalam daya tariknya. Itu membuat pria itu berbahaya, mendebarkan, seksi. Tapi itu hanya fantasi. Ini kenyataan.

Chanyeol menderita, dan tak ada yang seksi ataupun mendebarkan dari hal itu.

Suho memungut handuk dan berjalan mendekati Chanyeol, dengan lembut menutupi tubuh pria itu. Chanyeol terlonjak lalu mencengkeram handuk itu. Saat Chanyeol menengadah dan menatap Suho, bagian putih matanya tampak semerah darah, tapi pria itu tidak menangis.

" Tolong... Tinggalkan aku, " Pinta Chanyeol.

" Seandainya _ "

" Pergi. Pergi sekarang juga. Jangan berandai andai, jangan berharap. Jangan apapun. Pergi. Dan jangan pernah mendekatiku lagi. Bersumpahlah. Bersumpahlah! "

" Aku... Aku janji. "

Suho menghambur keluar. Ketika ia sudah turun dan berada cukup jauh dilorong, ia berhenti dan menyisir rambutnya dengan jemari, berusaha merapikannya. Ia dapat merasakan pakaian dalamnya menyangkut dipinggang tapi membiarkannya. Tak ada tempat untuk membuang benda itu kalau ia melepaskannya sekarang.

Dibawah pesta masih berlangsung riuh rendah, dan ia merasa tidak cocok berada disana, ia lelah. Ia lalu pergi menghampiri Sehun, berpamitan, dan mencari pelayan untuk mengantarnya pulang.

Tiba tiba Chanyeol menyeruak masuk ke ruang pesta. Ia sudah berganti pakaian dengan baju olahraga nilon putih dan menenteng tas hitam. Tanpa melirik sedikitpun pada Suho, Chanyeol berjalan menuju Tao yang berada tidak terlalu jauh darisana.

Saat Tao berbalik dan melihat tas yang dibawa Chanyeol, ia tersentak. " Tidak, Chanyeol. Aku tidak mau. "

" Lakukan, Tao. Atau aku akan mencari orang lain yang bersedia melakukannya. " Setelah mengucapkan hal itu, Chanyeol mengulurkan tas itu kearah Tao.

Tao memandangi tas itu. Ketika ia meraihnya, tangannya gemetaran.

Mereka berdua pun melangkah pergi.

.

.

.

Sehun meletakkan piring kosong disebelah bak cuci piring dan mengangsurkan nampan pada Kai supaya mereka bisa mengumpulkan piring kosong bersama sama. Sekarang setelah pesta berakhir, semua orang bahu membahu membersihkan kekacauan yang tersisa.

Setelah selesai, Kai dan Sehun berjalan berdampingan diselasar sambil berpegangan tangan. Saat mereka melewati tangga besar, pintu tersembunyi dibawahnya mendadak terbuka.

Chanyeol keluar. Wajahnya lebam lebam, kaus olahraganya penuh robekan. Tubuhnya berdarah.

" Oh, sial. " gumam Kai.

Chanyeol melewati mereka, matanya yang hitam mengilap tidak melihat mereka. Senyum puas yang sedikit tersungging dibibirnya sama sekali tidak pas dengan situasinya, seolah pria itu baru saja makan enak dan bukannya dihajar habis habisan seperti itu. Chanyeol berjalan perlahan ke atas, sebelah kakinya tidak bisa ditekuk dengan tepat.

" Sebaiknya aku pergi membersihkan Tao. " Kai memberikan nampan pada Sehun dan mengecup bibir Sehun dengan ringan. " Aku mungkin akan lama, jadi kau tidak perlu menungguku. Kau duluan saja beristirahat. "

" Kenapa Tao... Oh... Tuhan. " Ucap Sehun tersentak saat melihat tubuh Tao hampir sama seperti Chanyeol penuh dengan darah.

" Dia terpaksa, Sehun. "

" Yah, aku mengerti. Ambil waktu sebanyak yang kau perlukan. "

Tao keluar mengenakan baju olahraga yang penuh dengan bercak darah. Ia tidak terluka hanya saja terlihat lelah. Hanya buku jarinya yang memar dan retak.

" Hei, Tao. " Sapa Kai.

Tao menoleh kiri kanan dan tampak kaget mendapati dirinya berada disana.

Kai melangkah dihadapan Tao. " Brother? "

Mata shock Tao akhirnya terfokus. " Hai. "

" Kau ingin naik? Mengobrol sebentar? " Tawar Kai.

" Oh, ya, tidak. Aku baik baik saja. " Mata Tao melirik Sehun lalu mengalihkan pandangan. " Aku, eh, aku baik baik saja. Sungguh. Pestanya sudah berakhir ya? "

Kai mengambil tas yang ada ditangan Tao. " Ayo mari kita naik bersama sama. "

" Seharusnya kau tinggal bersama pasanganmu, Kai. "

" Dia mengerti. Ayo kita mengobrol sebentar. " Bujuk Kai.

Bahu Tao merosot. " Ya, oke. Ya. Aku tidak... Aku lebih suka tidak sendirian saat ini. "

.

.

.

Kai kembali ke kamar, ia tahu Sehun pasti sudah terlelap, jadi ia menutup pintu dengan perlahan.

Lilin dinakas menyala, dan dibawah cahayanya ia melihat tempat tidurnya berantakan. Sehun telah mendorong selimut dan bantal bertebaran. Sehun berbaring telentang, gaun tidur cantik berwarna krem itu kusut disekitar pinggang, menyingkap pahanya.

Kai belum pernah melihat Sehun memakai gaun secantik itu, ia tahu Sehun mengenakan gaun itu karena ingin malam ini menjadi malam istimewa. Melihat Sehun membuatnya terangsang, dan walaupun getaran itu membuatnya terbakar, ia berlutut disamping Sehun tidur. Ia butuh berada dekat dengan Sehun.

" Kau wangi, " Gumam Sehun, bergelung menyamping dan menatap Kai. " Seperti Starbucks. "

" Ini bau ganja. Tao membakar ganja yang kuat, tapi aku tidak bisa menyalahkannya. " Kai meraih tangan Sehun dan mengerutkan dahi. " Kau demam lagi. "

" Baru saja turun. Sekarang aku sudah merasa lebih baik. " Sehun mengecup pergelangan tangan Kai. " Bagaimana keadaan Tao? "

" Kacau. "

" Apakah Chanyeol sering memaksanya melakukan itu? "

" Tidak. Aku tidak tahu apa yang memicu Chanyeol malam ini. "

" Aku kasihan pada mereka berdua. " Lirih Sehun.

Kai tersenyum, ia mencintai Sehun karena perhatiannya.

Sehun perlahan duduk, menggerakkan kakinya hingga menggantung di ujung tempat tidur. Gaun tidurnya bermotif renda, dan transparan. Kai bisa melihat dengan jelas payudara Sehun dibalik gaun. Hasrat Kai bangkit dan ia memejamkan mata.

Hal ini benar benar menyiksanya. Ia ingin bersama Sehun, ingin bercinta dengan Sehun tapi ia takut kalau ia akan menyakiti kekasihnya itu.

Tangan Sehun naik ke wajah Kai. Bibir Kai spontan membuka, saat merasakan ibu jari Sehun mengusap mulutnya. Sehun lalu menunduk dan mencium Kai, lidahnya menyelinap, mengambil apa yang ia tahu seharusnya tidak ditawarkan.

" Hmmm... Kau enak. " Gumam Sehun, sambil terus menciumi bibir Kai.

Kai ikut menghisap ganja bersama Tao, agar ia bisa mengendalikan dirinya saat bersama dengan Sehun.

" Aku menginginkanmu, Kai. " Kaki Sehun memeluk tubuh Kai, menariknya mendekat.

Pusaran energi bergerak di sepanjang tulang belakang Kai dan meledak keluar, mendesak ke tangan dan kakinya, membuat kukunya terasa nyeri dan rambutnya tergelitik.

Kai mencondongkan tubuh ke belakang. " Dengar, Sehun... "

Sehun tersenyum dan melepaskan gaun tidurnya lewat kepala, melempar gaun itu hingga jatuh ke lantai. Tubuh telanjang Sehun dalam cahaya lilin membaut Kai terpaku. Ia tak sanggup bergerak.

" Cintai aku, Kai. " Sehun meraih tangan Kai dan meletakkannya dipayudaranya. Bahkan saat Kai memerintahkan diri untuk tidak menyentuh Sehun, tangannya menangkup payudara Sehun, ibu jarinya mengusap usap puncaknya. Sehun melengkungkan punggungnya. " Oh ya, seperti itu. "

Kai menyentuh leher Sehun, menjilat pembuluh darah Sehun. Ia sangat ingin meminum darah Sehun terutama ketika wanita itu menahan kepalanya seolah itu jugalah hal yang diinginkan Sehun. Kai tidak butuh minum. Hanya saja ia menginginkan darah Sehun berada ditubuhnya. Ia ingin bertahan karena Sehun. Kai berharap Sehun dapat melakukan hal yang sama dengannya.

Sehun mengalungkan tangan dibahu Kai dan bergerak mundur, berusaha menarik Kai ketempat tidur bersamanya. Dan Kai membiarkannya. Sehun berada dibawahnya sekarang, menguarkan aroma terangsang yang dimiliki wanita itu terhadapnya.

Kai memejamkan mata. Ia tidak dapat menolak Sehun. Ia tidak bisa menghentikan gelombang getaran yang melanda tubuhnya. Terjebak diantara keduanya, ia mencium Sehun dan berdoa.

.

.

.

Ada yang tidak beres, pikir Sehun.

Kai menghindari sentuhannya. Ketika ia hendak melepaskan kemeja Kai, pria itu mencegahnya. Ketika ia hendak menyentuh kejantanan Kai, pria itu lagi lagi menghindar. Bahkan saat pria itu mengisap payudaranya dan menyapukan tangan ke vaginanya, rasanya seakan Kai tengah bercinta dengannya dari kejauhan.

" Kai... " Suara Sehun pecah saat merasakan bibir Kai dipusarnya. " Kai, ada apa? "

Tangan Kai menyentuh paha Sehun, disusul bibir pria itu. Kai mencubitinya dengan taringnya, tidak pernah melukainya.

" Kai, berhentilah sebentar... " Bibir Kai tiba di inti hasratnya, menarik, mengisap, bergerak maju mundur, berlama lama disana. Kepala Sehun terangkat dari tempat tidur, melihat bahu lebar Kai dibawah sana, kakinya sendiri tampak begitu pucat dan kurus dibandingkan punggung lebar Kai yang melatarbelakanginya. Ia akan tenggelam dalam gairah dalam hitungan detik.

Sehun menjambak sejumput rambut Kai, menyingkirkan pria itu darinya.

Mata biru kehijauan Kai bersinar sinar dengan kekuatan sensual saat bernapas melalui bibirnya yang terbuka dan basah. Ia menggigit bibir bawahnya dan mengisap. Lalu lidahnya menjilati bibir atasnya.

Sehun memejamkan mata, tubuhnya terasa membengkak, meleleh. " Ada masalah apa? " Ucapnya parau.

" Aku tidak sadar ada masalah. " Kai mengusap vagina Sehun yang sensitif dengan buku jarinya. " Kau tidak suka ini? "

" Tentu saja aku suka. "

Ibu jari Kai mengusap dengan gerakan memutar. " Kalau begitu biar kulanjutkan apa yang kulakukan tadi. "

Sebelum Kai sempat menunduk dan lidah pria itu menyentuhnya lagi, Sehun menghindar.

" Kenapa aku tidak boleh menyentuhmu? " Tanya Sehun.

" Kita sedang bersentuhan. " Kai menggerakkan jemarinya.

" Tidak. " Sehun berusaha menarik diri dari Kai dan duduk, tapi tangan Kai terulur kedadanya, mendorongnya untuk berbaring kembali.

" Aku belum selesai, " Ucap Kai dalam geraman dalam.

" Aku ingin menyentuh tubuhmu. " Lirih Sehun.

Mata Kai menyala nyala terang. Namun secepat itu pula sinar itu menghilang dan sesuatu berkelebat diwajah Kai. Rasa takut? Sehun tidak bisa melihatnya karena Kai kembali menundukkan kepala. Pria itu mengecup paha Sehun, mendorongnya dengan pipi, rahang, dan mulutnya.

" Tak ada yang bisa menandingi hasratmu, rasamu, kelembutanmu. Biarkan aku memuaskanmu, Sehun. "

Kata kata itu membuat Sehun bergidik. Ia pernah mendengarnya. Dulu saat awal awal mereka menjadi kekasih.

Bibir Kai bergerak, hampir mencapai sasarannya.

" Tidak. Berhenti, Kai. " Teriak Sehun, membuat Kai berhenti. " Percintaan sepihak buatku sangat tidak seksi. Aku tidak ingin kau melayaniku. Aku ingin bercinta denganmu. "

Mulut Kai terkatup, dan dia turun dari tempat tidur dengan sentakan tajam.

Apakah Kai akan pergi meninggalkanku? Batin Sehun.

Tapi ternyata Kai hanya berlutut dilantai, tangannya menahan ditempat tidur, kepala menunduk. Menenangkan diri.

Sehun menjulurkan kaki, menyentuh lengan Kai. " Jangan bilang kau akan menolakku. " Gumamnya.

Kai menengadah pada Sehun. Dari posisi kepala Kai yang rendah, mata pria itu hanya merupakan garis di wajahnya, memancarkan sinar biru terang benderang.

Sambil melengkungkan tubuh, Sehun menggerakkan kaki, sekilas memamerkan apa yang ia tahu sangat diinginkan Kai.

Kai menahan napas.

Dalam satu gerakan luwes dan kuat, kai melompat dari lantai ke atasnya. Pria itu mulai menanggalkan pakaian dan _

_ Sehun langsung menyambut Kai, dalam setiap gelombang hasrat yang menyertainya. Ketika gelombang itu mereda, Sehun merasakan tubuh Kai bergetar diatas dan didalam dirinya. Ia sudah hampir memberitahu Kai untuk melepaskan kendali diri pria itu ketika ia menyadari pengendalian diri bukanlah masalahnya, Kai tengah mengalami kejang kejang, setiap otot tubuhnya menyentak.

" Kai? " Sehun memandang wajah Kai.

Mata pria itu berkilauan putih.

Berusaha menenangkan Kai, Sehun menyapukan tangan dipunggung Kai, tapi malah merasakan sesuatu dikulit pria itu. Pola yang menyembul. Garis garisnya.

" Kai, ada sesuatu di _ "

Kai langsung melompat dari tubuh Sehun dan melesat menuju pintu.

" Kai? " Sehun memungut gaun tidurnya dan mengenakannya seraya mengejar pria itu.

Dilorong diluar, Kai berhenti untuk mengenakan celananya, Sehun berlari mengejar Kai. Ia melihat tato itu seperti hidup, makhluk dalam tato itu terangkat dari punggung Kai, polanya membentuk bayangan, melihat hal itu membuat Sehun nyaris menjerit.

Dan makhluk itu bergerak meskipun Kai bergeming. Naga luar biasa itu mendesis saat menatap Sehun, kepala dan matanya tertuju pada Sehun saat tubuhnya menggeliat geliat.

Seperti berusaha mencari jalan keluar.

" Kai !"

Kai melesat seperti peluru, turun ke selasar dan menghilang ke balik pintu tersembunyi dibawah tangga. Ia tidak berhenti berlari sampai ia berada ditempat pelatihan. Ketika tiba diruang loker, ia meninju pintu hingga terbuka dan pergi menuju tempat mandi bersama. Ia menyalakan salah satu shower, merosot kelantai dan duduk dibawah siraman air dingin.

Ini semua terlalu nyata. Getarannya. Dengungannya. Selalu disekitar Sehun, terutama saat wanita itu terangsang.

Astaga, ia tidak tahu kenapa ia tidak menyadari hal itu sebelumnya. Mungkin ia hanya ingin menghindari yang sebenarnya.

Berada bersama Sehun berbeda karena... Ia bukan satu satunya yang ingin bercinta dengan Sehun.

Monster itu juga menginginkan Sehun.

Monster itu ingin keluar supaya bisa mendapatkan Sehun.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

TBC / END?

Maaf updatenya lama kekekee janji habis lebaran tapi yahhhhh

Maklum mudik bis tu ambil cuti buat liburan jadi baru bisa sekarang update.

Kali ini lebih fokus ke Chanho, Kaihun di chapter depan yeee...

Masih da yang berminat? Review lebih dua puluh lanjut...