Elfjoy137 Present

KYUMIN FANFICTION

Bared To You

Cast: Cho Kyuhyun , Lee Sungmin , and other cast

Rate : M

Warning : Genderswitch , Typo(s) , kosa kata yang berantakan, ada beberapa tokoh OOC

DLDR

Please enjoy ^^

Remake Novel karya SYLVIA DAY 'Bared To You'.

Hak cipta terjemahan Indonesia : Gramedia

This is a mature story. Don't Like? Just Don't Read !

P.M : All is Sungmin's POV

Ok. Let's check this out !

.

.

.

~JOYER~

.

.

.


.

BAB 14

.


Keesokan paginya tiba seperti mimpi. Aku tiba di kantor, lalu menjalani hariku sampai waktu makan siang eolah-olah diriku diselimuti kabut dingin.

Kyuhyun sama sekali tidak menghubungiku.

Tidak ada apapun di smartphone atau e-mailku setelah aku mengirimkan SMS kepadanya semalam, yang berbunyi : Tiba di rumah dengan selamat. Semoga kau tidur nyenyak selama sisa hari ini. Tidak ada di inbox e-mailku. Tidak ada memo internal.

Keheningan itu terasa menyiksa. Terutama ketika berita Google hari itu muncul dalam inbox-ku dan aku melihat foto-foto dan video diriku dan Kyuhyun di Seoul Park.

Rasa sakit melilit dalam dadaku. Kyuhyun.

Kalau kami tidak mengatasi masalah ini, apakah aku bisa berhenti memikirkannya dan berharap kami bisa berbaikan?

Jam 11.45, telepon di mejaku berdering. Melihat layar dan menyadari bahwa telepon itu berasal dari meja resepsionis, aku mendesah kecewa dan menjawabnya.

"Hei, Sungmin," kata Megumi riang. "Jung Jessica ingin menemuimu."

"Benarkah?" Aku menatap monitor, bingung dan kesal. Apakah foto-foto di Seoul Park memancing Jessica keluar dari tempat asalanya, di mana pun itu?

Apa pun alasannya, aku tidak ingin bicara dengannya. "Suruh dia menunggu di sana. Aku harus mengurus sesuatu terlebih dahulu."

"Tentu saja. Aku akan memintanya duduk dulu."

Aku menutup telepon, lalu mengeluarkan smartphone ku dan mencari-cari di daftar telepon sampai aku menemukan nomor telepon kantor Kyuhyun. Aku menghubunginya dan merasa lega ketika Yesung yang mengangkatnya.

"Hei, Yesung. Ini Lee Sungmin."

"Hai, Sungmin. Apakah kau ingin berbicara dengan Tuan Cho? Dia sedang rapat saat ini, tapi aku bisa menghubunginya."

"Tidak. Tidak, tidak perlu mengganggunya."

"Itu perintah tetap. Dia tidak keberatan jika kau yang mengganggunya."

Aku langsung merasa tenang mendengarnya. "Sebenarnya aku tidak ingin mengganggumu, tetapi aku ingin meminta bantuanmu."

"Apapun yang kau butuhkan. Itu juga perintah tetap." Nada geli dalam suaranya membuatku lebih tenang lagi.

"Jung Jessica ada di lantai dua puluh. Jujur saja, satu-satunya kesamaan di antara kami adalah Kyuhyun, dan itu bukan sesuatu yang bagus. Kalau ada yang ingin di katakannya, seharusnya ia berbicara kepada atasanmu. Bisakah kau menyuruh seseorang kesini untuk membawanya ke atas?"

"Tentu saja. Akan kuurus sekarang."

"Terima kasih, Yesung. Aku menghargainya."

"Dengan senang hati, Sungmin."

Aku menutup telepon dan duduk bersandar di kursi, merasa lebih baik dan bangga pada diriku sendiri karena tidak membiarkan kecemburuanku menguasaiku.

Megumi kembali meneleponku.

"Oh, Tuhan," katanya sambil tertawa. "Seharusnya kau melihat wajahnya ketika ada orang yang datang menjemputnya."

"Bagus." Aku tersenyum lebar."Kurasa dia tidak bermaksud baik. Pakah dia sudah pergi?"

"Yap."

"Terima kasih."

.

.

Aku turun ke lantai bawah dan mencoba tidak memikirkan sikap diam Kyuhyun. Aku berharap mendengar sesuatu setelah kejadian Jessica. Tidak mendapatkan reaksi apapun membuatku cemas.

Aku berjalan keluar ke jalan raya melalui pintu putar dan hampir tidak memperhatikan namja yang keluar dari kursi belakang mobil yang berhenti di tepi jalan sampai ia memanggil namaku.

Aku berbalik dan mendapati diriku berhadapan dengan Shim Changmin.

"Oh… Hai." Aku menyapanya. "Apa kabar?"

"Lebih baik, setelah aku bertemu denganmu. Kau terlihat luar biasa."

"Terima kasih. Aku bisa mengatakan hal yang sama kepadamu."

Walaupun ia berbeda dengan Kyuhyun, ia memiliki ketampanannya sendiri. "Apakah kau ke sini untuk menemui hyungmu?" tanyaku.

"Ya, dan kau."

"Aku?"

"Kau mau pergi makan siang? Aku akan ikut dan menjelaskannya."

Sekilas aku teringat pada peringatan Kyuhyun untuk menjauh dari Changmin, tetapi saat ini kupikir ia percaya padaku. Terutama bersama adiknya.

"Aku akan pergi ke restoran di ujung jalan," kataku. "Kalau kau mau ikut."

"Tentu saja."

Kami pun mulai berjalan.

"Kenapa kau ingin menemuiku?" tanyaku, terlalu penasaran menunggu.

Changmin merogoh saku celana jeans nya dan mengeluarkan sehelai undangan resmi dalam amplop. "Aku datang ke sini untuk mengundangmu menghadiri pesta kebun yang akan kami adakan di estat orangtuaku hari Minggu. Gabungan bisnis dan kesenangan. Banyak artis yang bergabung dengan Shim Records akan hadir. Kupikir hal itu bisa menjadi sesuatu yang bagus untuk teman serumahmu—dia punya wajah yang cocok untuk video musik."

Wajahku berseri-seri. "Itu pasti luar biasa!"

Changmin tersenyum lebar dan menyodorkan undangan itu kepadaku. "Kalian berdua akan bersenang-senang. Tidak ada orang yang mengadakan pesta seperti eommaku."

Aku melirik amplop di tanganku sekilas. Kenapa Kyuhyun tidak mengungkit acara ini?

"Kalau kau bertanya-tanya kenapa Kyuhyun tidak memberitahumu tentang acara ini," kata Changmin, seolah-olah bisa membaca pikiranku, "itu karena dia tidak akan hadir. Dia tidak pernah hadir. Walaupun ia adalah pemegang saham terbesar dalam perusahaan, kurasa dia merasa industry musik dan para musisi terlalu tak bisa di duga untuknya. Kau sekarang pasti sudah tahu seperti apa dirinya."

Gelap dan tajam. Penuh daya tarik dan sangat seksi. Ya, aku tahu seperti apa dirinya.

Kami pun memasuki restoran untuk makan siang.

.

.

Aku naik ke lantai dua puluh dan menemukan Hangeng masih duduk di belakang meja. Ia tersenyum singkat kepadaku walaupun sedang sibuk berkonsentrasi.

"Kalau kau tidak membutuhkanku," kataku, "kurasa sebaiknya aku tidak ikut dalam presentasi ini."

Walaupun ia mencoba menyembunyikannya, aku melihat seberkas kelegaan di hatinya. Aku tidak tersinggung. Hubunganku yang meragukan dengan Kyuhyun adalah sesuatu yang tidak ingin Hangeng pikirkan sementara ia harus mengurus klien penting.

"Kau memang baik, Sungmin."

.

.

Selama satu jam berikutnya, aku merasa gelisah ingin mendengar apa yang terjadi. Ketika Hangeng muncul kembali sambil tersenyum lebar dan berjalan dengan langkah ringan, aku berdiri di bilikku dan bertepuk tangan untuknya.

Ia membungkuk dengan sopan dan berlebihan. " Terima kasih, Nona Lee."

"Aku sangat gembira untukmu!"

"Cho memintaku menyerahkan ini kepadamu. " Ia menyerahkan amplop coklat tertutup kepadaku. "Datanglah ke kantorku dan aku akan menceritakan semuanya kepadamu."

Amplop itu berat dan berbunyi. Aku tahu hanya dengan menyentuhnya apa yang akan ku temukan di dalam amplop itu bahkan sebbelum aku membukanya, tetapi melihat kunciku meluncur keluar ke telapak tanganku membuat hatiku sakit. Sambil terkesiap karena rasa sakit yang lebih besar daripada rasa sakit lain yang pernah ku alami, aku membaca surat singkat yang menyertainya.

TERIMA KASIH, SUNGMIN, UNTUK SEGALANYA.

SALAM, CKH

Penolakan standar. Pasti itulah artinya. Kalau tidak, Kyuhyun pasti akan menyerahkan kunciku kepadaku sepulang kerja dalam perjalanan ke gym.

Telingaku berdengung. Aku merasa pusing. Bingung. Aku tersiksa dan takut. Marah.

Aku juga berada di tempat kerja.

Aku memejamkan mata dan mengepalkan tangan, mengendalikan diri dan melawan desakan untuk naik ke atas dan mengatai Kyuhyun pengecut. Ia mungkin melihatku sebagai ancaman, seseorang yang masuk begitu saja, tidak diinginkan dan tidak diundang, dan mengancam dunianya yang teratur.

Pada saat aku pulang kerja dan turun, aku masih belum mendengar kabar dari Kyuhyun. Emosiku begitu kacau saat itu sampai aku hanya merasakan seberkas keputusasaan sementara aku keluar dari gedung Chofire.

.

.

Aku menelepon eommaku dan memintanya menyuruh Zhoumi ke gym untuk menjemputku menghadiri pertemuan dengan . Ketika aku mengenakan pakaianku kembali, aku mengumpulkan tenaga untuk melakukannya.

Aku menunggu mobil di pinggir jalan, merasa jauh dan terpisah dari kota di sekitarku. Ketika Zhoumi menghentikan mobil dan keluar untuk membuka pintu belakang untukku, dan aku melihat eommaku sudah ada di dalam.

"Hei, eomma," kataku lelah dan duduk di sampingnya.

"Bagaimana bisa kau melakukannya, Sungmin?" Eommaku menangis dalam saputangannya, wajahnya tetap cantik walaupun memerah dan basah karena air mata."Kenapa?"

Tersentak dari kesedihanku, aku mengerutkan kening dan bertanya, "Memangnya apa yang kulakukan?"

"Kau memberi tahu Cho Kyuhyun tentang… apa yang terjadi padamu." Bibir bawah eommaku bergetar karena merasa tertekan.

Kepalaku tersentak kaget. Bagaimana eommaku bisa tahu tentang hal itu? Ya Tuhan… Apakah dia menyadap rumah baruku? Dompetku? "Apa?"

"Jangan pura-pura bodoh!"

"Bagaimana eomma bisa tahu aku memberitahunya?" Suaraku hanya berupa bisikan tersiksa. "Kami baru bicara kemarin malam."

"Dia pergi menemui Kangin tentang hal itu hari ini."

Aku mencoba membayangkan wajah Kangin selama pembicaraan itu. Aku tahu appa tiriku tidak akan menerimanya dengan baik. "Kenapa dia melakukannya?"

"Dia ingin tahu apa yang sudah dilakukan untuk mencegah informasi itu bocor. Dan dia ingin tahu di mana Kris berada—" Eommaku terisak. "Dia ingin tahu semuanya."

Napasku mendesis keluar di antara gigiku. Aku tidak yakin apa motif Kyuhyun, tetapi kemungkinan ia mencampakkanku karena Kris dan sekarang ia memastikan bahwa ia aman dari skandal terasa lebih menyakitkan daripada apa pun. Kupikir masa lalunya yang memisahkan kami, tetapi ternyata masa laluku.

Untuk sekali ini aku merasa bersyukur atas keegoisan eommaku, yang membuatnya tidak bisa melihat betapa putus asanya diriku.

"Dia berhak tahu," kataku dengan suara yang begitu serak sampai tidak terdengar. "Dan dia berhak melindungi dirinya dari serangan apa pun."

"Kau tidak pernah memberitahu kekasih-kekasihmu yang lain."

"Aku tidak pernah berkencan dengan orang yang bisa menghiasi tajuk utama hanya dengan bersin." Aku memandang keluar jendela mobil ke arah lalu lintas yang mengelilingi kami. "Cho Kyuhyun dan Cho Industries adalah berita global, Eomma. Dia sangat jauh berbeda dengan namja-namaj ayang kukencani saat kuliah."

.

.

.

Kantor masih sama seperti yang kuingat. Dihiasi warna-warna natural, kantor itu terlihat professional sekaligus nyaman. juga masih sama—namja tampan dengan rambut beruban dan mata yang lembut serta cerdas.

Ia mempersilakan kami masuk ke kantornya sambil tersenyum lebar. Katanya ia senang bertemu denganku lagi dan aku terlihat sehat, tapi aku tahu ia berbicara seperti itu demi kebaikan eommaku. Ia adalah pengamat yang ahli dan ia tidak melewatkan emosi meledak-ledak yang kupendam.

"Jadi," ia memulai, duduk di kursinya di seberang sofa tempat aku dan eommaku duduk."Apa yang membuat kalian datang ke sini hari ini?"

Aku memberitahunya tentang eommaku yang mengikuti gerak gerikku melalui sinyal ponsel dan betapa kesal perasaanku. Eomma memberitahunya tentang minatku pada Krav Maga dan ia menganggapnya sebagai tanda bahwa aku tidak merasa aman. Kukatakan padanya tentang eommaku dan Kangin mengambil alih studio Siwon, yang membuatku merasa tercekik dan tertekan. Eommaku memberitahunya aku mengkhianati kepercayaannya dengan cara menceritakan masalah-masalah yang sangat pribadi kepada orang-orang asing, yang membuatnya merasa sangat rapuh.

Selama itu, mendengarkan dengan penuh perhatian, mencatat, dan tidak banyak bicara, sampai kami selesai mencurahkan semuanya.

Setelah kami diam, ia bertanya, "Leeteuk, kenapa kau tidak memberitahuku bahwa kau melacak ponsel Sungmin?"

Dagu eommaku terangkat, sikap defensive yang tidak asing. "Aku tidak melihat bahwa itu salah. Banyak orangtua melacakkeberadaan anak-anak mereka melalui ponsel."

"Anak-anak di bawah umur," balasku. "Aku sudah dewasa. Waktu pribadiku bersifat pribadi."

"Kalau kau membayangkan dirimu di posisinya, Leeteuk," sela , "apakah kau mungkin akan merasakan apa yang dirasakannya? Bagaimana kalau ada orang yang mengawasi gerak-gerikmu tanpa sepengetahuan atau izinmu?"

"Kalau orang itu adalah eommaku, aku tidak akan keberatan dan aku tahu hal itu membuatnya tenang," bantah ibuku.

"dan apakah kau menyadari bagaimana tindakanmu memengaruhi ketenangan Sungmin?" tanya lembut. "Aku mengerti kau merasa ingin melindunginya, tapi kau harus membahas langkah yang ingin di ambil secara terbuka dengannya. Penting sekali kalau kau meminta sarannya—dan mengharapkan kerja sama hanya apabila dia memilih memberikannya. Kau harus menghormati haknya untuk menetapkan batasan yang mungkin tidak seluas yang kauinginkan."

Eommaku membantah dengan kesal.

"Sungmin membutuhkan batasannya, Leeteuk," lanjut , "Dan kendali atas hidupnya sendiri, dan kita harus menghormati haknya untuk memiliki kendali itu sekarang dengan cara yang paling tepat untuknya."

"Oh," Eommaku meremas-remas saputangan yang dipegangnya. "Aku tidak pernah berpikir seperti itu."

Aku mengulurkan tangan dan menggenggam tangan eommaku ketika bibir bawahnya gemetar. "Tidak ada yang bisa mencegahku memberitahukan masa laluku kepada Kyuhyun. Tapi aku seharunya memperingatkanmu terlebih dahulu. Aku minta maaf, aku tidak memikirkannya."

"Kau memang jauh lebih kuat daripada aku," kata eommaku, "tapi aku tetap merasa cemas."

"Saranku," kata , "adalah kau mencari waktu, Leeteuk, dan benar-benar berpikir tentang kejadian dan situasi yang membuatmu cemas. Lalu tuliskan."

Eommaku mengangguk.

"Buat daftar secara singkat, dan itu menjadi awal yang bagus." Lanjut , "kau boleh menemui Sungmin dan membahas strategi untuk mengatasi masalah itu—strategi yang bisa kalian berdua terima dengan baik. Contohnya, apabila kau cemas karena tidak mendengar kabar dari Sungmin selama beberapa hari mungkin SMS atau e-mail bisa mengatasinya."

"Oke."

Ketika satu jam berlalu dan kami dalam perjalanan keluar, aku meminta eommaku menunggu sebentar sehingga aku bisa menanyakan satu pertanyaan terakhir dan pribadi kepada .

"Ya, Sungmin?" berdiri di hadapanku, terlihatsangat sabar dan bijak.

"Aku hanya bertanya-tanya…"Aku berhenti sejenak, menelan ludahku dengan susah payah. "Apakah dua orang yang pernah mengalami pelecehan bisa memiliki hubungan romantis yang berhasil?"

"Tentu saja." Jawabannya yang langsung dan tegas membuatku bernapas lega.

Aku menjabat tangannya. "Terima kasih."

.

.

Bared to You

.

.

Ketika aku tiba di rumah, aku membuka pintu dengan kunci yang dikembalikan Kyuhyun kepadaku dan langsung masuk ke kamar, melambai lemah kepada Donghae yang sedang berlatih yoga di ruang duduk, mengikuti gerakan di DVD.

Aku melepaskan pakaian sementara aku melintasi jarak dari pintu kamar tidurku yang tertutup ke ranjang, akhirnya merangkak ke balik selimut hanya mengenakan pakaian dalamku. Aku memeluk bantal dan memejamkan mata, merasa teramat sangat lelah.

Pintu terbuka di belakangku, dan sesaat kemudian Donghae duduk di sampingku.

Ia menyapu rambut dari wajahku yang basah karena air mata. "Ada apa, baby girl?"

"Aku dicampakkan hari ini. Melalui surat pendek sialan."

Donghae mendesah. "Kau tahu apa yang akan terjadi, Sungmin. Dia akan terus mendorongmu menjauh, karena dia pikir kau akan mengecewakannya seperti orang-orang lain."

"Dan aku terus membuktikan bahwa dia benar." Aku mengenali diriku sendiri dalam gambaran yang biberikan Donghae tadi. Aku kabur ketika keadaan terasa buruk, karena aku yakin segalanya akan berakhir dengan buruk. Satu-satunya kendali yang kumiliki adalah menjadi orang yang pergi, bukan orang yang ditinggalkan.

"Karena kau berjuang melindungi pemulihan dirimu sendiri." Donghae berbaring dan memelukku dari belakang,melingkarkan sebelah lengannya yang berotot ke tubuhku dan mendekapku erat-erat.

Aku meringkuk dalam kasih sayang fisik yang kubutuhkan tanpa sadar. " Dia mungkin mencampakkanku karena masa laluku, bukan masa lalunya."

"Kalau itu benar, baguslah hubungan kalian sudah berakhir. Tapi kurasa kalian berdua pada akhirnya akan saling menemukan, setidaknya kuharap begitu." Desahannya terasa hangat di leherku. "Aku ingin ada akhir yang bahagia untuk orang-orang yang kacau. Tunjukkan caranya kepadaku, Sungmin sayang. Buatlah aku percaya."


.

.

.

To Be Continued

.

.

.