A Late Story
LOVE IN THE PALACE
.
Bonus Story
.
.
Kim Mingyu
Jeon Wonwoo
.
.
.
Genderswitch
Joseon Era
.
.
.
"Akhh! Sakit, gyu. Aku tidak tahan." Wonwoo mengerang kesakitan sambil memegangi perut besarnya. Mingyu duduk di bagian atas kepala Wonwoo. Mengusap pipi sang istri dengan sayang.
"Berjuanglah, sayang. Bertahanlah." Mingyu menunduk untuk mengecupi dahi berkeringat Wonwoo. Dengan setia Raja berkuasa itu menemani sang istri melakukan persalinan. Sudah menjadi kebiasaannya. Berada di sisi sang istri ketika mengerang kesakitan demi buah hati mereka.
"Kita akan mulai, Yang Mulia. Tarik nafas yang dalam lalu dorongkan melalui perut." Seorang kepala tabib berbicara setelah memeriksa tanda persalinan sang Ratu.
"Aku tau. Cepat. Ini sakit sekali." Sang tabib memberikan aba-aba. Dan dalam hitungan ketiga Wonwoo menarik nafas. Menahannya untuk memberikan dorongan dari dalam perutnya.
"Kepala bayinya sudah terlihat. Kita lakukan lagi." Wonwoo terengah namun tidak menyerah. Sakit yang menjalar di seluruh perutnya membuat ia ingin segera menyelesaikan persalinan.
Wonwoo menarik nafas sesuai aba-aba lagi kemudian mendorong janinnya lagi. Hingga dorongan yang ketiga dan terakhir.
"Selamat, Yang Mulia. Anda mendapatkan bayi laki-laki lagi." Ucap sang tabib setelah persalinan selesai. Wonwoo menghela nafas lega. Ini yang terakhir.
Lagi?
.
"Ibunda, apakah adik Wook akan di panggil Yang Mulia juga?" Wonwoo sedang duduk sambil menyusui bayi yang baru seminggu ia lahirkan dan diberi nama Kim Wook. Dihadapannya ada Mingyu yang sedang duduk sambil memandangi istri dan anaknya.
"Tentu saja, Putera Mahkota. Semua yang Ibunda lahirkan akan dipanggil Yang Mulia." Mingyu tersenyum mendapati seorang gadis kecil berceloteh dengan cerdas. Kim Woo. Putri pertama Mingyu dan Wonwoo.
"Berarti Putera Mahkota ada dua?" Wonwoo ikut tersenyum mendapati interaksi polos dari kedua anak nya.
"Kim Yool. Putera Mahkota itu hanya ada satu. Jadi nanti adik Kim Wook akan dipanggil Yang Mulia Pangeran. Mengerti?" Wonwoo mengulurkan tangannya mengusap lembut pipi anak keduanya. Seorang Putera Mahkota yang baru berumur tiga tahun.
Ya. Wonwoo dan Mingyu telah memiliki tiga buah hati. Kim Woo, sang Puteri. Kim Yool, sang Putera Mahkota. Dan yang baru saja ia lahirkan, Kim Wook, sang Pangeran.
Tidak ada lagi yang menghalangi kebahagiaan Wonwoo dan Mingyu sebagai Raja dan Ratu negeri Joseon. Kerajaan telah mendapat penerus tahta dari kehamilan kedua Wonwoo. Mingyu menepati janjinya untuk hanya menjadikan Wonwoo wanita satu-satunya di negeri ini dan dihatinya. Karena memang hanya Wonwoo-lah yang ia inginkan.
.
.
.
A Late Story
.
.
.
"Selamat pagi, Pengawal Lee. Kenapa terburu?" Gadis dengan gaun perak itu berhenti menatap pengawal khusus Putera Mahkota sedikit berlari melewatinya. Yang di sapa lalu berhenti dan memberi hormat.
"Selamat pagi, Yang Mulia Puteri. Ini hari pertama Yang Mulia Putera Mahkota mengikuti rapat kerajaan. Sehingga saya harus bergegas mengawal beliau. Mohon maaf, saya undur diri." Tanpa mengurangi rasa hormatnya pada keturunan pertama Raja Min itu, Lee Seokmin membungkuk hormat sebelum pergi meninggalkan sang gadis yang tersenyum kecil.
"Hati-hati, Paman Seokmin." Benar. Itu adalah Lee Seokmin. Sahabat kecil Wonwoo yang di hukum setelah membuat kekacauan di ritual pertama Ratu Won. Masa hukumannya telah selesai dan ia dapat kembali ke ibukota kerajaan setelahnya. Kemudian mengikuti seleksi untuk menjadi prajurit istana. Karena kemampuannya yang luar biasa, ia akhirnya di terima menjadi prajurit istana bahkan di jadikan pengawal khusus Putera Mahkota.
.
"Selamat pagi, Dayang Utama Jeon. Wajahmu terlihat panik, ada apa?" Puteri Woo yang awalnya berniat bermain bersama Putera Mahkota Yool akhirnya memutuskan untuk menemui Ibunda-nya, Wonwoo. Namun saat melewati paviliun kediaman Pangeran Wook ia mendapati Jeon Hye berlarian dengan panik.
"Selamat pagi, Yang Mulia Puteri. Maaf karena aku harus bergegas mengantar ramuan obat ini untuk Yang Mulia Pangeran." Hye membungkuk sebelum berbicara pada gadis berumur sebelas tahun tersebut.
"Pangeran Wook sakit?"
"Benar. Pangeran demam tinggi sejak dini hari dan Yang Mulia Ratu bersama tabib istana sedang berusaha merawatnya." Hye berbicara dengan raut wajah khawatirnya. "Kalau begitu aku permisi, Yang Mulia." Hye yang memegang sebuah nampan dengan mangkuk berisi ramuan obat kemudian bergegas memasuki paviliun Pangeran. Meninggalkan Puteri Woo sendirian.
Woo memutuskan ikut ke paviliun Pangeran untuk melihat keadaan sang adik. Ia juga merasa khawatir akan keadaan anak bungsu kerajaan tersebut.
"Yang Mulia Puteri. Sedang apa anda disini?" Woo sedikit terkejut ketika Seungkwan keluar dari pintu paviliun Pangeran tepat saat ia ingin masuk.
"Aku ingin melihat Pangeran Wook, Dayang Boo. Ibunda juga ada didalam kan?" Woo tersenyum mencoba untuk bersikap manis. Gadis berwajah mirip dengan Wonwoo itu berdiri berhadapan dengan Seungkwan menunggu persetujuan.
"Sebaiknya Yang Mulia Puteri kembali ke kediaman anda. Karena keadaan Pangeran sedang tidak baik dan Yang Mulia Ratu sedang merawatnya. Kembalilah setelah Pangeran Wook membaik." Seungkwan tak bermaksud mengusir Puteri Woo dari sana. Hanya saja keadaan benar-benar sedang tidak baik.
.
Woo berjalan dengan sedih meninggalkan paviliun Pangeran. Ia hanya ingin teman bermain ataupun bercerita hari ini. Tapi sepertinya semua orang sedang dalam keadaan sibuk.
Ayahnya pasti sedang memimpin rapat pertama yang dihadiri adik pertamanya, Putera Mahkota Yool. Sebagai Putera Mahkota yang sudah menginjak umur sepuluh tahun, ia sudah harus ikut dalam setiap rapat kerajaan agar dapat memahami seluruh peraturan istana dan cara pemerintahannya sejak muda. Ia yang akan Raja berikutnya sehingga pelatihan dan pembelajaran terus diberikan pada anak lelaki pertama Raja Min dan Ratu Won tersebut.
Woo kadang berpikir, jika saja ia adalah lelaki sudah tentu ia yang akan jadi Putera Mahkota. Dikawal oleh dayang dan pajurit khusus. Mendapat pelayanan istimewa. Dan lebih di hormati di seluruh istana. Bahkan seluruh negeri.
Namun apa daya ia hanya seorang gadis yang terlahir menjadi Puteri tertua Raja. Keberadaannya bahkan tak berarti apa-apa diistana. Pengawalnya tidak sebanyak Putera Mahkota yang seorang penerus tahta atau tidak sebanyak milik Pangeran yang masih berumur tujuh tahun tapi berstatus pendamping tahta. Artinya ia juga memiliki peran penting dalam kerajaan jika saja terjadi hal buruk pada Putera Mahkota. Ya. Kedua anak lelaki itu memiliki peran penting.
.
"Bahkan jika aku menghilang dari istana, tidak akan ada yang menyadarinya. Mereka terlalu sibuk dengan Putera Mahkota dan Pangeran." Woo tersenyum kecut. Kembali ke paviliun-nya untuk berganti pakaian. Ia memutuskan untuk pergi keluar istana. Menyelinap pergi tanpa pengawal dan dayang disisinya. Ia sendiri yang meminta agar tak terlalu mendapat pengawalan ketat karena ia bersifat persis seperti Wonwoo yang keras kepala.
.
"Kenapa jalannya terlihat berbeda?" Woo telah beberapa kali menyelinap keluar istana bersama dayang miliknya untuk pergi ke kediaman Jungkook, bibinya. Namun hari ini ia benar-benar menyelinap sendiri. Tanpa dayang yang sekarang juga ikut sibuk merawat Pangeran.
Woo berjalan sesuai apa yang ia ingat. Namun perjalanan kali ini terasa berbeda. Ia tersesat hingga memasuki kawasan pasar rakyat di tengah ibukota Joseon. Begitu ramai hingga Woo kebingungan ditengahnya.
Brugh
"Aww.. Hey! Berhenti." Woo terjatuh dan mengerang kesakitan. Kakinya terluka akibat di dorong oleh sekelompok anak yang berlarian di tengah kerumunan pasar. Berkejaran kemudian tanpa sengaja mendorong tubuh Woo hingga terjatuh menghantam tanah kasar.
Woo meringis sakit namun anak-anak yang mendorongnya tetap berlari tanpa mempedulikan Woo.
Woo mencoba berjalan dengan terseok menghindari keramaian. Ia mendudukan diri di sebuah sudut gang kecil untuk melihat luka di betisnya. Berdarah dan tergores lebar. Woo mendesis menahankan perih yang terasa.
"Bagaimana bisa ada seorang gadis manis di sudut gang kumuh seperti ini?" Woo terlonjak kaget ketika dua orang pria muda dan tinggi menghampirinya. Dari yang terlihat, Woo dapat menyimpulkan bahwa dua pria ini bukan orang yang baik.
"Mau apa kalian?" Woo berdiri dengan kaki terlukanya. Mencoba mundur perlahan saat dua pria itu mulai mendekatinya.
"Hentikan. Dia ketakutan, Jung. Ikut denganku saja, gadis manis. Kita akan bersenang-senang." Woo berjengit ketika salah satu pria mengulurkan tangannya untuk menyentuh wajahnya. Benar-benar bukan pertanda baik.
Woo melepas ikat rambut peraknya kemudian menyerahkan pada kedua lelaki itu. "Ambil ini. Tapi biarkan aku pergi. Kalian bisa menjual itu dan mendapatkan uang yang banyak." Woo mencoba tenang dan tak terlihat ketakutan.
"Wah, kau putri orang kaya ternyata. Sayangnya aku tak butuh uangmu. Aku bisa dapat uang yang lebih banyak dari seluruh pedagang disini. Sekarang yang aku mau adalah bersenang-senang denganmu, gadis manis." Lelaki dengan baju katun itu makin mendekat kearah Woo. Mencoba menyentuh Tuan Puteri dengan tangannya lagi.
Kali ini Kim Woo mengumpulkan keberaniannya untuk menampar lelaki yang mendekat kearahnya itu. Kemudian dengan sisa tenaga yang ia punya, Woo berlari menghindari dua pria yang mengejarnya.
Woo berlari sambil menahan perih di kakinya. Sebisa mungkin pergi jauh dari dua pria jahat itu. Memasuki gang-gang sempit dan kumuh. Kemudian kembali ke tengah keramaian pasar. Woo mencoba berteriak meminta pertolongan namun sepertinya ketika para pedagang itu melihat siapa yang mengejarnya mereka akan berpura tidak tahu. Dua lelaki itu adalah orang berpengaruh di pasar ini. Woo menyimpulkan demikian.
Woo terus berlari. Ia sungguh tak tau kemana ia harus berlari. Di situasi begini ia akan ingat nasihat dayang-nya lagi untuk tidak keluar istana sendirian. Diluar istana begitu berbahaya. Woo merasa menyesal. Namun menyesal saat ini sungguh tak berguna. Ia hanya ingin segera terbebas dari kejaran dua lelaki jahat itu.
Woo menoleh kebelakang di sela larinya. Dua lelaki itu masih terus mengejarnya tanpa menyerah.
"Aaaa! Lepask-" Woo gemetar. Tiba-tiba tubuhnya ditarik kesebuah sudut bangunan yang sempit dan berdebu. Mulutnya dibungkam dengan jemari seorang lelaki yang kini sedang berdiri mendekap tubuhnya berhadapan. Woo melotot menyadari posisinya saat ini. Tubuhnya begitu rapat dengan pria yang lebih tinggi dari dirinya itu.
Lelaki yang berhadapan dengan Woo itu perlahan membuka bungkamannya di mulut Woo setelah memastikan dua pria jahat diluar tak lagi terdengar mengejar Woo.
"Maaf, Nona. Aku mengejutkanmu. Aku hanya berusaha menolongmu." Woo dengan tenaganya yang tersisa mendorong tubuh yang menempel dengan tubuhnya. Kemudian keluar dari tempat mereka bersembunyi tadi.
"T-terima kasih." Woo menunduk. Rasa takutnya masih hinggap didirinya. Lepas dari dua lelaki jahat bisa saja ia malah terjerat oleh lelaki jahat lainnya.
Woo gemetar. Kakinya makin terasa perih dan ngilu. Namun ia juga merasakan debaran berbeda di jantungnya.
"Namaku Kwon Chan. Aku baru pindah ke ibukota seminggu lalu. Sungguh aku bukan orang jahat." Lelaki itu masih berdiri mematung. Woo memperhatikan pria yang mengatakan dirinya bermarga Kwon tersebut. Penampilannya cukup rapih untuk terlihat seperti penjahat. Kwon Chan ini juga terlihat masih terlalu muda untuk menjadi penjahat seperti dua lelaki tadi.
"Kalau begitu sekali lagi terima kasih. Namaku Woo dan aku harus segera pergi dari sini." Woo membungkuk kemudian hendak beranjak pergi dari sana. Namun kakinya terasa ngilu yang amat sangat. Bahkan ia tidak sanggup menggerakan kakinya.
"Ijinkan aku mengobati lukamu Nona. Kau tidak mampu kembali dengan keadaan demikian. Rumahku tidak jauh dari sini. Ijinkan aku menggendongmu." Kwon Chan mendekat dengan ragu.
"Kau bukan bagian dari dua lelaki tadi kan?" Chan menggeleng. Lalu dengan seijin Woo, ia menggendong gadis sebelas tahun itu dibelakang. Membawa Woo ke rumahnya untuk diobati lukanya.
.
.
.
"Mau kemana kau dengan pakaian seperti itu?" Wonwoo menoleh saat seorang pria masuk ke kamarnya. Ia baru saja mengganti pakaiannya menjadi pakaian biasa.
"Aku akan keluar istana. Akan ku cari sendiri putriku." Wonwoo berbicara dengan raut wajah khawatir.
"Tidak bisakah kau menunggu di kamarmu saja? Woo akan segera di temukan. Aku telah mengerahkan seluruh prajurit." Lelaki itu, Mingyu, menahan Wonwoo yang hendak pergi meninggalkan ruangannya.
"Aku sudah menunggu dengan gusar sejak tadi. Namun hingga malam datang, tak ada kabar sama sekali tentang keberadaan anak perempuanku. Bagaimana aku bisa diam saja sementara putriku bisa saja dalam keadaan berbahaya saat ini." Wonwoo menatap Mingyu dengan kesal. Bagaimana suaminya ini bersikap tenang sementara putri satu-satunya telah menghilang dari istana.
Mingyu menghembuskan nafas kasar. Dengan tenaga yang ia punya, ia menarik Wonwoo dalam dekapannya. Memeluk satu-satunya wanita yang ia cintai dengan erat. "Kim Woo juga putriku, Won. Aku juga merasa khawatir dengan keadaannya. Namun membiarkanmu pergi keluar akan menjadi bahaya lainnya. Ku mohon bersabarlah sebentar." Mingyu memberikan usapan lembut di punggung sang Ratu. Menenangkan istrinya yang sedang kalut tersebut dengan pelukannya.
"Putriku sedang dalam bahaya, gyu. Woo kita sedang diluar dan aku tak tau keadaannya." Wonwoo membalas pelukan Mingyu. Menangis terisak di bahu sang suami.
Wonwoo baru saja lega setelah demam yang Pangeran Wook derita sudah reda siang tadi. Kemudian ia ingin menemui putri satu-satunya untuk mengajaknya bermain. Namun yang ia temukan adalah paviliun Puteri yang kosong. Puteri Woo menghilang dan tak dapat ditemukan dimanapun didalam istana.
.
"Yang Mulia, Tuan Puteri Woo telah ditemukan." Sebuah ketukan terdengar bersahutan dengan suara Dayang Boo membawa berita tentang Puteri Woo.
Wonwoo bergegas melepas pelukannya dengan Mingyu lalu berlari keluar ruangannya.
Wonwoo berhenti beberapa detik memandang putri kecilnya berdiri dengan gemetar dan menunduk. Kemudian berlari menerjang gadis kecilnya kedalam sebuah pelukan erat.
"Putriku.." Wonwoo terisak sambil mengecupi wajah anak pertamanya berkali-kali. Bersyukur bahwa putrinya telah kembali dengan selamat.
.
"Ibunda jangan menangis. Maafkan Woo karena telah membuat Ibunda khawatir." Woo duduk berhadapan dengan Wonwoo yang sedang menyeka wajahnya dengan kain basah. Membantu Woo membersihkan diri setelah mengganti pakaian putrinya.
"Ibunda hanya bersyukur kau telah kembali, sayang. Jangan pernah meninggalkan Ibunda lagi." Wonwoo mengulurkan tangannya untuk merapihkan lilitan kain putih yang melingkar di luka putrinya.
"Ibunda masih punya Putera Mahkota Yool dan Pangeran Wook jika aku pergi kan?" Woo menunduk sedih disela perkataannya. Mengingat hal itu lagi membuat ia merasa sedih.
Woo tadinya menolak pulang ke istana kalau saja Kwon Chan dan keluarganya tidak memaksanya. Ia tidak ingin kembali ke istana jika masih saja diabaikan seperti sebelumnya.
"Kenapa kau berpikiran seperti itu, sayang?" Woo menoleh kearah suara berat yang ada si belakangnya. Sang ayah masih setia disana mendampingi dua perempuan cantik berparas mirip tersebut.
"Semua orang selalu mempedulikan Yool dan Wook, Ayahanda. Aku merasa terabaikan dan tidak memiliki teman. Aku pikir tidak ada yang menyayangiku." Woo meremas hanbok yang ia kenakan. Entah mengapa membayangkan perkataannya sendiri membuat hatinya perih.
"Dengar, Kim Woo…" Woo mendongak untuk menatap ibu dihadapannya. Menanti setiap ucapan yang keluar dari Ratu negeri ini. "Jika ada seribu orang yang bertanya pada Ibunda, siapa yang paling Ibunda sayangi di dunia ini, jawabannya adalah Kim Woo. Jika ada seribu orang yang bertanya pada Ibunda, siapa anak yang paling berharga untuk Ibunda, jawabannya adalah Kim Woo." Wonwoo menjelaskan dengan senyum terpatri di bibirnya.
"Kenapa begitu, Ibunda?" Woo bertanya ingin tau. Apakah ibunya sedang berbohong demi menenangkan hatinya?
"Kau telah Ibunda kandung dengan sekuat tenaga. Melahirkan dengan bertaruh nyawa. Hampir kehilangan nyawa. Hampir kehilangan Ayahmu. Bahkan hampir kehilangan seluruh negeri ini. Hanya kau yang berhasil selamat, nak. Jadi dengan seluruh kekuatan Ibunda yang tersisa, Ibunda tidak ingin kehilanganmu. Karena kehilanganmu berarti seluruh berjuangan Ibunda dan Ayahanda terbuang percuma." Wonwoo mengusap lembut rambut hitam sang putri.
"Jangan pernah berpikir bahwa Ibunda atau Ayahanda tidak menyayangimu, Puteri Woo. Kau, Yool dan juga Wook adalah buah hati kami yang berharga. Tidak mungkin kami akan menyia-nyikan kalian. Mengerti?" Mingyu memberi dekapan hangat pada sang putri.
Mingyu sedikit merasa bersalah karena selama ini ia terlalu sibuk dengan pemerintahan hingga waktunya tak banyak tersisa untuk gadis kecilnya. Ia sungguh tidak ingin membedakan kasih sayang yang ia punya untuk ketiga anaknya. Ia tak akan mengecewakan siapapun lagi.
.
.
"Bagaimana keadaan Pangeran, Ibunda?" Woo mencoba memejamkan matanya. Ia berbaring disebelah Wonwoo yang mendekapnya. Mereka tidur bersama setelah Mingyu memutuskan untuk tidur bersama Putera Mahkota dan Pangeran. Membiarkan dua wanita itu untuk memiliki waktu berdua.
"Sudah jauh membaik. Dia ingin bertemu denganmu sejak pagi. Ia merindukan kakak cantiknya." Ibu jari Wonwoo membelai pipi gembil sang putri dengan lembut.
"Tadi di kediaman Pangeran sedang panik karena keadaan Wook. Jadi aku tidak berani masuk karena takut akan mengganggu." Woo tersenyum kecil lalu memiringkan tubuhnya untuk memeluk Wonwoo.
"Semua orang menyayangimu lebih dari yang kau pikirkan, sayang. Meskipun mereka sering bersikap acuh padamu namun merekalah orang-orang yang tidak ingin kehilanganmu."
"Ibunda, aku mendengar tentang rencana pernikahanku tahun depan. Bisakah aku memilih sendiri pendampingku?" Woo berbicara lirih. Ingin menyampaikan maksudnya namun dengan hati ragu.
"Kau memiliki calon pendamping, sayang? Siapa? Prajurit junior? Atau putra dari salah satu menteri?" Wonwoo menatap putrinya dengan antusias. Tidak menyangka pembicaraannya akan sejauh ini.
Pembicaraan tentang pendamping Puteri memang sudah berhembus kencang di kalangan anggota kerajaan. Namun Wonwoo-lah yang bersikeras meminta agar Kim Woo dapat memilih sendiri pendamping hidupnya.
Sudah menjadi kebiasaan bahwa anggota kerajaan akan dijodohkan atau dipilihkan pendamping dari kalangan bangsawan atau orang-orang dari kalangan istana. Namun Wonwoo dengan tegas berpikir bahwa pendamping hidup haruslah pilihan sendiri dan tidak dipaksakan kehendaknya.
Woo menggeleng.
"Aku bertemu anak lelaki baik hati tadi siang. Ia yang telah menolongku ketika terluka dan ia juga yang telah membujukku kembali ke istana." Woo berbicara dengan takut tanpa memandang mata ibunya.
"Kau berdua dengan seorang anak lelaki?"
"Bukan, Ibunda. Dia menyelamatkanku. Kemudian membawaku ke rumahnya. Ibunya yang mengobati lukaku dan menasehatiku agar tidak pergi dari rumah. Mereka tidak tau aku adalah Puteri Raja. Mereka keluarga bangsawan Kwon yang baru saja kembali ke ibukota setelah sebelumnya tinggal di pulau Dokdo selama bertahun-tahun." Woo menatap mata ibunya perlahan guna memberikan ibunya keyakinan.
"Siapa nama anak itu?"
"Kwon Chan. Ia sangat tampan, Ibunda. Ia juga sangat pintar dalam pelajaran dan berbahasa China seperti Ibunda." Woo tanpa sadar tersenyum disela ucapannya.
"Ya Tuhan. Putri kecilku sudah dewasa sekarang. Ia telah mengenal pria tampan dan telah membicarakan pernikahan."
"Ibunda.." Woo mencebik kesal. Ia sedang serius dan ibunya malah berbicara dengan nada jenaka dan menggodanya.
"Ibunda ingin bertemu dengan pemuda itu dan keluarganya."
.
.
.
"Kwon Chan! Bibi Kwon! Kim Woo datang berkunjung." Woo berteriak riang di depan sebuah rumah besar dengan pagar bebatuan di depannya. Wonwoo, Seungkwan serta dua pengawal pria berdiri diluar pagar.
"Woo? Sedang apa disini? Kau kabur dari rumah lagi?" Lelaki muda putra Kwon itu keluar dari rumahnya setelah mendengar teriakan Woo. Woo tersenyum melihat Chan berdiri dihadapannya.
"Aku datang bersama Ibunda dan Bibiku. Mereka ingin berterima kasih padamu dan keluargamu, Chan. Dimana ibu dan ayahmu?" Chan menoleh pada dua orang wanita berkarisma yang masuk ke halaman rumahnya. Chan menunduk dengan hormat.
"Siapa yang datang, Chan? Persilahkan masuk." Seorang lelaki bangsawan dan seorang wanita cantik keluar dari pintu utama kediaman itu. Mencoba menyambut tamu yang datang berkunjung ke rumahnya.
Wonwoo menatap sepasang manusia yang ia yakini adalah orang tua dari Kwon Chan, teman putrinya. Mata mereka bertemu. Dan tatapan dua pasang mata itu membuat tubuh Wonwoo membeku. Ingatan masa lalunya kembali berputar dikepalanya.
Masa kecilnya. Persahabatannya. Kwon. Sahabat kecilnya.
"Kwon Soonyoung. Lee Jihoon." Tanpa sadar Wonwoo meneteskan air matanya. Wajah itu terlihat tak berubah sejak ia bertemu malam terakhir itu. Sehingga Wonwoo yakin ia tidak sedang salah orang. Ya. Itu dua sahabat kecilnya.
"Choi Wonwoo…"
.
Wonwoo sadar bahwa takdir telah benar-benar mengikatnya. Pertemuan dan perpisahan hanyalah sebuah kisah yang sedang berjalan. Tidak ada kisah yang usai. Hanya saja tertunda untuk berjalan kembali sesuai takdir.
Wonwoo telah kehilangan banyak hal. Berpisah dengan banyak orang. Menjalani banyak kisah. Namun ia sadar semuanya hanyalah bagian dari kisah yang tertunda.
Meski butuh pengorbanan, airmata serta ketakutan yang menimpa. Semua kisah pahit akan datang lagi untuk diselesaikan dengan manis.
Dan Wonwoo mempercayai segalanya.
.
.
.
A Late Story
END
.
.
.
Sesungguhnya Chap kemarin adalah yang terakhir. Tapi tidak mungkin Noona hentikan begitu saja tanpa pelengkap dan pemanis.
Dan jadilah ini.
Terima kasih untuk yang sudah fav, follow, terutama yang sudah review. Terima kasih telah mengapresiasi fiksi penuh konflik ini. Haha
Ini fiksi terpanjang yang pernah noona tulis. Meskipun sudah segini panjang, masih saja terasa terlalu cepat dan terburu-buru kan?
Akhir kata, sampai jumpa di fiksi Noona berikutnya.
Ppyong!
.
Kim Noona
Wed, 4th Jan 2017
