Everything's Back to Normal
Chanbaek
Yaoi
Mpreg
M
14
.
.
.
Sehun terus menyudutkan diri di dekat lemari, rambut cekangnya bergoyang saat ia menggosok mata yang tak berhenti mengeluarkan air asin. Isakan Sehun putus-putus, Kyungsoo yang sedang berdiri beberapa langkah didepannya sambil memeluk Eddy menjadi bingung.
"Kenapa Sehunie menangis? Papa tidak akan marah, kok." Katanya begitu, berusaha menghibur si bungsu yang malah semakin menjadi-jadi.
"Se-Sehunie takut-hiks."
"Tidak apa-apa, Sehunie. Kyungsoo akan membela Sehunie kalau papa mengomel." Kyungsoo ikut berjongkok ketika Sehun pun berjongkok menyembunyikan wajah sembabnya.
Sebenarnya, yang dialami Sehun pagi ini adalah hal sepele yang sering dirasakan anak enam tahun. Meskipun sudah besar dan mengerti setiap peringatan yang diberikan orang tua, untuk hal satu ini memang kadang terjadi diluar kesadaran.
Sehun mengompol dan ia benar-benar takut Baekhyun akan memarahinya karena membuat kasur basah dan bau.
"Lebih baik Sehunie ganti piyamanya dulu. Nanti pantat Sehunie gatal-gatal karena pipis." Kyungsoo berjalan ke arah lemari, mengambil sepaket pakaian Sehun dan menarik adiknya itu ke kamar mandi. Masih sambil menenangkannya dengan kalimat kalau papa tidak akan marah.
"Kyungsoo-hiks, bagaimana kalau kasur Sehunie dibuang? Nanti Sehunie tidur dimana-huwee." Sehun menghentakkan kaki.
"Daddy akan membelikan yang baru, ada gambar heroesnya juga kalau Sehunie mau. Jadi sekarang cepat masuk ke bathup, biar Kyungsoo nyalakan showernya."
Meskipun masih tersedan-sedan, Sehun tetap masuk ke bathup dengan wajah lengket bekas air mata, setelah membuka piyama dan celana dalam berpipisnya. Kyungsoo melipat lengan baju berserta celana piyamanya sampai selutut agar tidak basah, lalu meletakkan Eddy dalam posisi duduk di westafel. Tidak mau teman mainnya juga ikut terguyur shower.
Karena Sehun belum bisa mandi sendiri, lebih benarnya malas karena takut shampo masuk ke mata, maka Kyungsoo yang bertugas menggosok rambut hitam adiknya. Seperti seorang kakak yang bertanggung jawab, si sulung pun memakaikan sabun cair di setiap sela kulit Sehun dari luar bathup. Ia tidak mungkin masuk kalau tidak mau basah.
Padahal Kyungsoo dan Sehun itu kembar, usia mereka sama. Hanya pola pikir dan kebiasaannya saja yang saling bertolak.
Dari luar kamar, Baekhyun menguap kecil sambil merapikan anak rambutnya sebelum mengernyit bingung dengan kesenyapan apartemen yang sangat jarang terjadi. Biasanya pagi-pagi sudah menjadi rutinitas si kembar untuk membuat kegaduhan, entah itu jeritan atau barang-barang yang berjatuhan.
"Kyungsoo-ya? Sehunie?"
Panggil Baekhyun sambil melongokkan kepala ke kamar si kembar, namun tidak ada siapapun disana kecuali kasur yang sudah berantakan dan satu set Pororo disana-sini.
Juga.. bau yang langsung menusuk hidung, terasa tak asing bagi Baekhyun. Ia membuka pintu lebih lebar kemudian melangkah masuk mendekati ranjang si kembar, merabai kasur keduanya dan mendapati jejak pulau basah ketika memegang permukaan milik Sehun.
Sudah bisa diduga kalau si bungsu, tetaplah si bungsu. Baekhyun merotasikan bola mata selagi melepas seprai juga mengamankan selimut yang ikut terkena pipis, lalu membawanya ke ruang cuci.
Tak lama Baekhyun kembali ke kamar anak-anak, penampakan Sehun yang terbalut handuk dan piyama Kyungsoo disingsingkan, ia sudah tahu kalau si sulung bisa mengurus adiknya dengan baik.
"Apa ini? Sehunie mulai mengompol lagi?" Baekhyun bersedekap, nada bicaranya tidak terdengar marah tapi tetap saja membuat Sehun mengkeret.
"Papa, jangan mengomeli Sehunie." Kyungsoo berdiri didepan Sehun, sesuai janji ia akan menamengi adiknya.
"Tidak, kok. Sini Sehunie, biar papa pakaikan bajunya dan biarkan Kyungsoo mandi." Baekhyun memanggil Sehun yang bersembunyi di belakang Kyungsoo.
Awalnya si bungsu tidak mau, tapi ketika Kyungsoo bilang tidak apa-apa, kaki kecilnya pun mulai melangkah mendekati Baekhyun yang berposisi duduk di atas karpet dengan pakaian yang dipilihkan Kyungsoo tadi.
Sedangkan si sulung masuk ke kamar mandi menenteng handuk kuningnya.
"Sehunie menangis, ya? Kenapa?" Tanyanya lembut sambil melap wajah Sehun yang masih dihinggapi bulir-bulir air. Tertinggal jejak sembab dihidung dan kelopak mata si bungsu, itu sudah cukup bukti.
"Sehunie takut papa marah karena mengompol dan membuat tempat tidur bau." Sehun menjawab dengan nada sangat menyesal, membuat Baekhyun terenyuh.
Kenapa anak-anak bisa membuat perasaan orang dewasa jungkir balik?
"Dan kenapa Sehunie mengompol?"
"Entahlah, pa. Sepertinya Sehunie terlalu senang dalam mimpi sampai-sampai tidak sadar pipis."
Baekhyun terkekeh. Setelah memakaikan celana selutut dan kaos merah lengan pendek, ia membaluri rambut hitam Sehun dengan cologne rambut kemudian menyisirnya. Kini si bungsu sudah segar dan wangi bedak, tidak bau pipis lagi.
"Pa, Sehunie mau minum susu."
Sehun berdiri sambil memainkan jemarinya. Takut dianggap tidak tahu diri, dia baru saja membuat masalah dengan mengompol dan sekarang malah minta susu?
Baekhyun tersenyum mendengarnya.
"Sehunie kan sudah mau punya adik bayi, masa masih menyusu, sih? Nanti adik bayinya minum apa?" Baekhyun meletakkan perlengkapan Sehun seperti bedak dan cologne ke meja rias lagi.
"Adik bayinya bisa minum susu yang sama seperti Kyungsoo! Pokoknya papa itu punya Sehunie!" Sehun menghentak kakinya, "Papa~ Sehunie haus~" Kemudian merengek manja.
Baekhyun tidak bisa bergerak banyak karena Sehun memeluk kakinya sambil menangis pura-pura. Sudah tidak bisa diapa-apakan lagi, ia tetap harus menyusui Sehun kalau tidak mau si bungsu meraung seperti orang kesetanan dilantai. Jadi setelah mematikan AC kamar si kembar agar bau pipis tidak menyebar, Baekhyun menggendong Sehun keluar dan duduk di sofa ruang tv.
Menyusui si bungsu dengan tenang sebelum seseorang melempar tubuh bongsornya ke samping Baekhyun dan memeluk dari samping. Sehun yang terjepit langsung merengek, membuat Chanyeol tersadar dan buru-buru melepaskan diri.
"Oh maaf, Daddy tidak tahu ada Sehunie ternyata." Chanyeol terkekeh sambil mengusap punggung kecil putranya yang kembali menghisap puting gemuk Baekhyun.
"Kau sudah baikan?" Kini ia beralih ke suaminya, mengelus rambut halus Baekhyun perlahan.
"Sudah tidak apa-apa."
Si mungil Byun menoleh, agak mendongak untuk bisa menatap wajah bantal Chanyeol yang juga tengah memandangnya dengan mata sayu. Manik Baekhyun bergerak turun merabai hidung dan bibir kering suaminya dengan penglihatan tajam seolah memindai, sebelum tangan terangkat mengusap rahang dan dagu Chanyeol.
Terasa sangat kasar.
"Sudah berapa minggu kau tidak cukuran? Dasar jorok." Baekhyun menempeleng pipi suaminya sampai tertoleh ke lain arah.
"Hah, malas sekali rasanya. Kenapa tidak kau bantu aku bercukur? Banyak istri yang melakukan itu." Chanyeol merentangkan tangannya di atas sandaran sofa, secara sengaja berada dibalik bahu Baekhyun.
"Pekerjaanku banyak daripada harus mencukur janggutmu. Lagipula kebutuhan sendiri tidak bisa kau urus, sudah seperti Sehunie saja."
Mendengar namanya sempat disebut, Sehun menggeliat terusik dalam tidurnya sebelum Baekhyun kembali mempuk-puk pantat kecil si bungsu.
"Ayolah, Baek. Kau sendiri yang mengingatkan tentang bercukur, jadi kau yang harus melakukannya. Siang ini sehabis makan, okay?"
"Memangnya kau tidak ke kantor?"
"Kapan-kapan saja. Aku ingin mandi dan bikin sarapan buat kita dulu." Setelah mencuri lumatan di bibir tipis Baekhyun, Chanyeol beranjak masuk ke kamarnya sebelum berpapasan dengan Kyungsoo yang sudah wangi, plus handuk putih melilit kepalanya tak beraturan.
Langsung saja Chanyeol menculik gemas Kyungsoo dan masuk ke kamar untuk membanting tubuh mereka berdua ke tempat tidur. Menimbulkan pekikan geli dari Kyungsoo ketika Chanyeol menggelitikinya.
"Astaga dua manusia itu."
Baekhyun mendengus karena harus menenangkan Sehun yang mulai merengek lagi mendengar keributan sehingga tidurnya jadi tidak nyenyak.
...
Beranjak siang, matahari meninggi dengan sangat bebas seolah tak ada kumpulan awan yang ingin menghalau sinarnya memanaskan isi bumi. Termasuk manusia-manusia yang memiliki pekerjaan di luar ruangan harus rela kulitnya terbakar dan merasa gerah sepanjang hari.
Kilas pemberitahuan cuaca setelah berita utama di televisi mengisi ruang tengah. Sehun dan Kyungsoo kompak sudah menanggalkan pakaian mereka, meninggalkan kaos singlet dan celana dalam berkarakter masing-masing. Plus diapers untuk Sehun.
Si kembar menggemaskan milik Baekhyun itu iseng baring menelungkup diatas karpet sambil menopang dagu. Sesekali akan terkekeh bahkan tergelak jika salah satu diantara mereka mengolok-ngolok si pembawa acara berita.
Chanyeol membuka sandal luarnya diujung keset, lalu diganti dengan sandal rumah dan melongok ke arah ruang tengah saat mendengar kikikan-kikikan dari sana. Ah senangnya, melihat anak-anaknya tertawa hanya karena hal konyol saja membuat Chanyeol tak tahan untuk memutar haluan.
Padahal tadinya ia ingin membantu Baekhyun menata meja makan untuk menu siang mereka.
"Tertawa kenapa, sih?" Chanyeol memukul pelan pantat kecil Sehun dan Kyungsoo lalu keduanya bergerak duduk.
"Sehunie mengatai paman Hwan seperti kakek-kakek." Kyungsoo tertawa, memancing Sehun untuk mengulang olok-olokannya.
Chanyeol ikut tergelak, bukan karena humor Sehun dan Kyungsoo tapi karena kedua putranya memiliki cara tertawa yang lucu. Secara tak sengaja menulari siapa pun yang mendengarnya untuk tertawa.
"Huuu, panas sekali, Dad." Sehun naik ke pangkuan Chanyeol dan duduk diatas paha kanannya yang sedang menyilakan kaki.
"Enaknya makan es krim di kedai kak Jaehyun." Si sulung ikut duduk di paha kiri Chanyeol.
Bagi si tinggi, bukan hal berat memangku si gendut-gendut hasil benihnya ini sekaligus. Dengan tubuh bongsor dan otot-otot kokoh, memangku Baekhyun yang memiliki berat badan lima puluh delapan saja Chanyeol kuat.
"Kyungsoo tahu harus minta izin ke siapa untuk makan es krim?" Telunjuk Chanyeol menjawil hidung mungil Kyungsoo, dengan cemberut si sulung mengerling ke konter dapur dan malah tak sengaja bertemu tatap dengan Baekhyun yang sedang menyeringai.
"Tidak jadi, deh." Cebikkan bibir Kyungsoo membuat Baekhyun tertawa iblis.
"Lagipula kalau makan es krim siang-siang begini bikin demam. Terus nanti Kyungsoo batuk-batuk lagi. Malah Daddy yang kena omelan papa." Chanyeol mengusak gemas surai kedua putranya yang sudah acak-acakan.
Sebenarnya tidak apa-apa membelikan seporsi es krim untuk sikembar. Yang bikin Baekhyun cemas adalah Kyungsoo dan Sehun tidak pernah cukup seporsi, pasti minta nambah dengan alasan ingin mencoba rasa lain. Chanyeol yang lemah dengan melasan kedua putranya malah menurut dan pergi ke konter pemesanan untuk dua mangkuk es krim lagi.
Lalu saat sampai di apartemen, Baekhyun langsung marah-marah seperti ibu pada anaknya yang ketahuan pulang larut. Kyungsoo mengalami batuk berdahak dan besoknya menular pada Sehun, kerepotan sudah Baekhyun mengurus kedua buah hatinya. Chanyeol yang merasa bersalah langsung meluncur ke apotek untuk membeli obat batuk sirup stroberi.
"Tapi uncle Changmin bilang, kedainya kak Jaehyun punya rasa es krim baru. Berwarna-warni seperti pelangi, ditambah lava cokelat." Sehun mengadu sekaligus merengek.
Dalam hati Chanyeol merutuki mulut gampang tumpah sepupunya itu. Bisa-bisanya menggoda anak kecil yang mudah tergiur makanan manis.
"Pokoknya kalau tidak ada izin papa, tidak boleh makan es krim."
Chanyeol menggendong kedua putranya di masing-masing lengan menuju konter dapur. Melihat mangkuk-mangkuk makanan sudah berdampingan dengan asap mengepul. Si kembar di dudukkan bersebelahan, sedangkan Chanyeol di samping Baekhyun.
"Apa?" Tanya Baekhyun ketika ia membenarkan duduknya, tahu-tahu dari arah depan sudah dilayangkan tatapan sebal oleh Kyungsoo dan Sehun.
"Tidak ada apa-apa, kok." Keduanya langsung membuang pandangan.
Baekhyun mengangkat bahunya tak perlu merasa pusing dengan tingkah si kembar. Ia segera melayani makan Chanyeol dengan cara menyiapkan nasi dan lauk di mangkuknya, lalu tak sengaja menatap Sehun yang hanya mengetuk-ngetukkan sumpit di atas permukaan meja.
"Kenapa tidak makan, Sehunie?"
"Papa suapin, dong."
Chanyeol menggoyangkan telunjuknya.
"Sehunie sudah besar, sudah bisa makan sendiri. Memangnya tidak malu dengan adik bayi?"
Sehun berdeham, "Adik bayinya saja belum lahir."
Diingatkan dengan kenyataan kalau Sehun masih lah anak kecil, Chanyeol mengalah ketika Baekhyun bangkit berdiri dan menyeret kursi makannya ke samping Sehun. Lebih milih menyuapi si bungsu terlebih dahulu daripada dirinya sendiri.
"Pa, nanti sore kita makan es krim di kedai kak Jaehyun, ya?" Sehun mengerjap-ngerjapi bulu mata panjangnya.
"Nanti ya, kalau Sehun dan Kyungsoo sudah baikan. Kalian masih mudah terserang flu, sayang." Baekhyun membelah daging dengan sendok, "Apalagi musim panas begini. Papa tidak mau melihat Sehunie dan Kyungsoo batuk-batuk lagi."
"Satu cone saja, please?"
"Setengah scoop juga boleh, pa." Kyungsoo ikut menyahut disamping Sehun, dengan mulut penuh daging.
Lagipula darimana ceritanya es krim bisa dibeli setengah scoop?
"Yasudah boleh, tapi es krimnya di bawa pulang." Dengan baik hatinya Baekhyun mengiyakan, meskipun agak khawatir.
"Lho, kenapa begitu?!"
"Kyungsoo ingin makan es krim sambil melihat chila dan chilo!"
Chila dan chilo adalah ikan hias kembar dalam akuarium yang ada di kafe milik Jaehyun. Kyungsoo sangat menyukai ikan berwarna oranye itu karena terlihat seperti dirinya dan Sehun.
"Mau makan es krim tapi di rumah atau tidak sama sekali?" Baekhyun menaik turunkan alisnya, memberikan dua penawaran yang membuat si kembar cemberut sambil mendumel.
"Papa janji dulu." Sehun mengangkat kelingkingnya, "Kalau Sehunie dan Kyungsoo sudah lebih sehat, papa izinkan kami makan es krim sepuaaaaasnya di kedai kak Jaehyun, ya?"
Baekhyun cukup sabar dengan kekeras kepalaan si kembar yang tidak mau mengalah. Chanyeol terkekeh sebelum meneguk minumnya. Jika dipikir-pikir, sudah sangat lama ia melewatkan hari-hari menyenangkan seperti ini. Melihat mantan-mungkin kini bisa dibilang calon-suaminya yang kewalahan menghadapi permintaan si kembar.
"Iya. Tapi Sehunie dan Kyungsoo juga harus mendapat lima bintang di Sekolah."
"Ukay! Lima bintang itu gampang, pa. Iya kan, Kyungie?" Sehun menyikut saudara kembarnya.
"His, jangan panggil Kyungie!"
"Ups, iya iya iya, hehe." Sehun menyengir lalu membuka mulutnya lagi menerima sodoran sendok dari Baekhyun.
Selanjutnya konter dapur diisi dengan ocehan kecil Kyungsoo dan Sehun diselingi obrolan Baekhyun mengenai kafenya juga Chanyeol yang sesekali menanyakan kabar keluarga Jongdae di Jepang.
...
Chanyeol melihat pantulan wajahnya di cermin kamar mandi sambil merabai rahang, merasakan kasarnya bagian kulit sekitaran dagu. Kemudian Baekhyun menyusul sambil memastikan ketajaman pisau cukur dengan kulit arinya.
"Ck, kenapa belum dipakai krim cukurnya?" Si mungil protes saat tahu Chanyeol malah berdiri didepan cermin tanpa melakukan apapun.
"Itu juga urusanmu. Mencukur dan memakaikan krim itu sepaket." Chanyeol tersenyum lalu menapakkan kedua tangannya di pinggang Baekhyun, mengangkatnya dengan mudah dan mendudukkan tubuh kecil itu diatas westafel.
Baekhyun menghela napas, membiarkan saja ketika Chanyeol membuka kaki telanjangnya untuk mengambil posisi ditengah-tengah. Mengukung tubuh Baekhyun dengan kedua tangan kokohnya dan dengan sengaja menatapi wajah manis sang calon suami yang semakin terlihat memikat sejak hamil lagi.
"Selama ini siapa yang mencukur rahangmu?" Tanya Baekhyun selagi membaluri bagian bawah wajah Chanyeol dengan krim cukur. Meskipun ia sudah duduk di westafel, tetap saja tubuh mantan suaminya ini masih cukup tinggi. Sampai harus mendongak.
"Aku pergi ke barber, paling tidak meminta bantuan ibuku." Chanyeol hampir saja tertawa melihat ekspresi terkejut Baekhyun.
"Ya ampun, memalukan sekali pria yang hampir memiliki anak tiga ini." Baekhyun menggeleng-geleng tak menyangka, mulai menarik pisau cukur dari rahang kiri Chanyeol.
"Nanti kalau dia lahir, aku akan mencoba cukuran sendiri, deh." Tangan Chanyeol bergerak ke perut rata Baekhyun, sedangkan yang tersisa menapak di paha gemuk si mungil dan meremasnya, "Memangnya kau yakin aku akan memiliki tiga anak?"
Baekhyun berdecih saat melap pisau cukur penuh krim dan bulu-bulu halus yang terangkat di handuk, kemudian kembali menarik pisau cukurnya di rahang Chanyeol.
"Maksudmu apa? Berniat menghamiliku lagi saat aku sudah melahirkan nanti?"
"Bukan. Mungkin saja kan aku pria yang sangat perkasa sampai-sampai kau hamil kembar lagi, atau triplet?" Chanyeol tersenyum berharap.
Keinginan mantan suaminya itu menggelitiki perut Baekhyun sampai-sampai rona menjalari pipi dan telinganya. Sangat bahagia memikirkan kalau saja ia benar-benar membawa dua janin dalam perutnya, bahkan beruntung sekali jika tiga. Sayang sekali mereka belum bisa melihatnya, kandungan Baekhyun baru tiga minggu.
"Berdoa saja. Tapi kalau pun tidak kembar apalagi triplet, kau harus bersyukur dengannya, Yeol."
"Tentu saja. Bersyukur adalah hal yang kulakukan setiap saat. Melihat senyummu, bisa merespons rengekan si kembar dan sekarang kehadiran calon malaikat baru. Astaga, kurang beruntung apa lagi aku sebagai pria?"
"Jangan banyak bicara, nanti cukurannya jadi tidak rapi." Baekhyun menyentil bibir Chanyeol, padahal sedang berusaha menutup rasa debarannya sendiri.
Sesuai perintah, Chanyeol hanya diam menyelami wajah serius Baekhyun yang berada didekatnya. Merasakan deru napas masing-masing yang malah membuat Chanyeol jadi tidak sabar menyelesaikan ini dan langsung menyerang bibir tipis sewarna peach matang milik Baekhyun.
"Nah, sudah. Selebihnya urus saja sendiri, kalau kau mau mencuci muka juga boleh. Aku ingin mengecek si kembar sudah tidur siang apa belum." Kata Baekhyun ketika melap rahang Chanyeol dengan handuk, merabai untuk memastikan kulit wajah mantan suaminya sudah kembali mulus.
"Tunggu sebentar lagi. Biarkan aku menikmatimu dulu." Chanyeol menahan pinggang Baekhyun agar tetap duduk di westafel, berada di kungkungannya.
"Nikmati apa? Bercinta? Ck, anakmu baru masuk di minggu ketiga dan kau sudah mau mengunjunginya? Jangan, nanti dia terkejut."
"Hanya ciuman. Tapi tidak tahu nanti, mungkin aku akan membantingmu ke ranjang, hehe."
Chanyeol langsung merendah untuk meraup belah peach yang sejak tadi memanggil-manggilnya agar dilumat brutal. Ia tidak bisa menahan diri saat liur manis Baekhyun masuk ke indera pencecapnya, segera saja kedua lengan yang sudah ditimbuli urat-uratnya melingkari pinggul berbentuk sang calon suami. Merengkuhnya posesif sekaligus menuntut.
Kaki-kaki menggantung Baekhyun bergerak gelisah sebelum melingkari pinggang Chanyeol. Menggeliatkan tubuhnya dalam pelukan Chanyeol selagi lidah membelit kasar, mendorong kepala satu sama lain dalam tekanan bibir yang tidak sabaran. Dengan Baekhyun yang tidak memakai celana, memudahkan Chanyeol merabai tubuhnya sambil berfantasi.
"Chanyeol, tidak sekarang." Jemari ranting Baekhyun meremas pundak Chanyeol saat si tinggi berpindah mengerjai batang lehernya, "Tahan sampai adiknya si kembar berumur lima bulan, okay?"
"Aku akan bermain lembut. Kupastikan dia tidak kenapa-kenapa. Please?"
Ya ampun, kenapa Chanyeol harus memelas ala-ala Sehun, sih? Kalau saja Baekhyun tidak sedang hamil, sudah pasti ia akan melemparkan diri ke ranjang dengan paha terbuka lebar-lebar.
"Sebaiknya jangan daripada berisiko, sayang. Tahan, lima bulan tidak lama, kok."
"Tidak lama apanya? Janggutku bisa tumbuh puluhan kali dalam waktu segitu."
Chanyeol cemberut melepas rengkuhannya di pinggang Baekhyun lalu bergeser ke kanan. Membuka keran di westafel kedua dan mencuci mukanya disana sedangkan Baekhyun menatap kasihan si mantan suami yang tersiksa.
"Kau tegang?" Celetuk si mungil spontan ketika melihat ke selangkangan Chanyeol.
"Belum terlalu. Tak apa, jangan dipaksa. Aku bisa rileks dengan sendirinya nanti." Chanyeol mematikan keran kemudian mengeluarkan handuk dalam lemari kecil di samping cermin, melap wajahnya yang sudah segar.
"Sebentar ya, aku lihat Sehunie dan Kyungsoo dulu. Kalau sudah tidur, berarti aku bisa memakai waktuku untuk mengulum penismu." Baekhyun mengerling nakal selagi turun dari westafel.
"Kau sendiri yang menawarkan diri. Awas saja ingkar!"
Baekhyun terkekeh cantik ketika berjalan keluar dari kamar mandi. Membiarkan Chanyeol mengerutkan dahi menahan kedutan dibatang selangkangannya.
...
Notes:
Satu, aku maksain banget ini update. Otakku belum sampe mikir cara nyingkirin Luhan. Gemes-gemesan sama si kembar aja dulula.
Dua, Baekhyun makin cantik Ya Allah ga ga ga ga kuad. Memori card ku bengkak nampung foto cantiknya papa :(
Tiga, chapter ini ga muasin? Yaiya, yang muasin kan cuma anunya Chanyeol :( /Astaghfirullah bulan ramadan
Empat, dari puasa sampe nemu puasa lagi nih ff murahan ga kelar-kelar ya :3
Lima, ga bisa bayangin Sehun jadi Sehunie di ff ini. Dengan muka dan badan bongsornya yang berkeliaran di tl, aku.. nyerah. Semoga aja masih ngefeel Sehun jadi bocil ya.
Enam, banyak banget yang mau aku bilangin. Tapi kapan-kapan ajalah, takutnya sok ngebacot di notes padahal chapter ini gak layak konsumsi :(
Terakhir,
Ini ff debut tapi masa promosinya lama banget ya. Hampir setahunan -_-
/halah
