Believe In Love
Cast : Kai, Sehun, etc
Aq ga tau lagi gimana akhirnya ini ff. Maafkan kalo klimaksnya gagal ya. Dan untuk yang nebak siapa pelakunya dengan benar, selamat ya. Ga sulit kan nebaknya.
No edit, typo bertebaran.
KaiHun Lovea
.
.
.
.
.
.
Jaemin menaruh buku yang baru saja ia beli ke atas meja, ia sudah memutuskan untuk makan malam dulu di kedai pinggir jalan sebelum pulang ke rumah. Hari ini Jungwoo bilang kalau ia tak bisa menemaninya seperti malam minggu biasanya.
Jaemin cukup sadar diri kalau ia tak bisa memaksakan Jungwoo untuk menemaninya. Ia hanyalah dari kalangan biasa, Jungwoo bahkan bisa mendapatkan seseorang yang jauh lebih baik darinya. Karena itu saat Jungwoo akhir-akhir ini mulai jarang menghubunginya, Jaemin tak pernah marah ataupun protes.
Handphonenya bergetar saat Jaemin berhasil menyuapkan satu suapan makanan kemulutnya. Tanpa melirik siapa yang menelpon Jaemin tetap meneruskan makannya, siapa lagi yang akan menghubunginya kalau bukan Jungwoo dan kali ini ia merasa malas harus bicara dengan kekasihnya tersebut. Ketika getaran itu akhirnya berakhir, Jaemin menarik napas lega. Namun kelegaannya tidak berlangsung lama karena lagi-lagi handphonenya bergetar. Jaemin mengambil handphone dari sakunya dan melihat siapa orang yang menelponnya. Keningnya berkerut saat menyadari kalau itu bukanlah dari Jungwoo, melainkan kakak ipar kekasihnya tersebut.
Ragu-ragu Jaemin menjawab panggilan itu. "Halo..."
"Jaemin, syukurlah..."
Suara Sehun yang bergetar di tambah dengan isakan lirihnya membuat Jaemin terlihat bingung. "Kak Shixun ada apa?"
"Jae, bisakah kau menolongku?"
"Ada apa, apa yang terjadi kak? Apa kakak bertengkar dengan kak Jongin?"
"Ku mohon tolong aku, bantu aku bertemu dengan Jongin."
Kening Jaemin makin berkerut, "Bertemu kak Jongin? Apa maksudnya?"
"Dengarkan aku..." Sehun menceritakan secara singkat tentang rencana kejahatan yang akan dilakukan pada Jongin malam ini.
"Omo..." Jaemin menutup mulutnya, terlihat begitu shock mendengar penjelasan singkat Sehun. "Jadi kakak bukan..."
"Ya, aku bukan Shixun. Jaemina, meski aku bukan Shixun, masihkah kau mau membantuku menyelamatkan Jongin?"
"Kakak dimana sekarang?"
"Di dalam kamar, Jungwoo mengurungku disini, ia tahu siapa aku karena itu ia marah dan..."
"Aish, anak itu... aku akan kesana secepatnya ka." Jaemin mematikan telponnya, ia meletakkan selembar uang di atas meja dan bergegas keluar dari kedai. Kalau apa yang dikatakan Sehun benar, maka sekarang waktunya sudah semakin dekat dengan apa yang mereka janjikan di video itu. Ia harus secepatnya mengeluarkan Sehun dari kamar itu.
.
.
.
.
.
Jungwoo sedang duduk santai di ruang tengah sambil menonton televisi ketika ia mendengar suara gedoran keras di pintu rumahnya.
"Siapa yang datang?" dengan kesal Jungwoo bangkit dari duduknya dan melangkah cepat menuju pintu depan.
"Yak, apa kau tidak melihat ada bel di depan... Nana." Jungwoo tampak terkejut melihat kedatangan kekasihnya.
"Minggir," Jaemin mendorong tubuh Jungwoo kesamping hingga ia bisa melangkah masuk ke dalam. "Dimana kamar kak Sehun?"
Mendengar nama Sehun disebut, Jungwoo dengan cepat menahan lengan Jaemin. "Kau mengetahuinya?"
"Kak Sehun sudah menceritakan semuanya padaku. Sekarang lepaskan aku Jungwoo, aku harus membawa kak Sehun pergi."
"Kau mau membawanya kemana?"
"Ke tempat kak Jongin."
"Kenapa kau ingin membawanya ke sana?"
"Jungwoo, please... kita sudah tak punya banyak waktu lagi, nyawa kak Jongin sedang dalam bahaya."
Pegangan tangan Jungwoo mengendor, ia terlihat shock mendengar ucapan Jaemin. "Apa maksudmu nyawa kakakku dalam bahaya?"
"Ada orang yang ingin mencelakakannya, kak Sehun mengetahuinya dan sekarang sebelum terlambat kita harus mencegahnya." Jaemin melepaskan pegangan tangan Jungwoo dan berlari menuju ke lantai atas sambil berteriak menyebutkan naman Sehun, di belakangnya, Jungwoo ikut berlari menyusulnya.
"Nana, kau belum menjelaskan apa maksud dari ucapanmu tadi," Jungwoo menghalangi jalan Jaemin hingga pria berparas manis itu tak bisa melanjutkan langkahnya. "Siapa yang kau maksud ingin mencelakakan kakakku?"
Jaemin mendorong dengan kasar tubuh Jungwoo. "Tidak bisakah kau hanya percaya pada ucapanku? Ucapan dari kekasihmu sendiri."
Jungwoo terdiam.
"Atau kau memang tidak pernah menganggapku sebagai kekasihmu?"
Jungwoo maju satu langkah, tangannya merogoh saku celana, mengeluarkan satu kunci dan menyerahkannya ke tangan Jaemin. "Pintu kedua sebelah kanan," ucapnya singkat.
Jaemin memajukan bibirnya, ia terlihat cemberut, namun tetap melangkah maju setelah menyenggol keras pundak Jungwoo. "Dasar kekasih brengsek, kau bahkan tidak mengatakan apapun setelah aku mengatakan itu, apa hubungan kita memang sudah berakhir,"Jaemin mengumpat lirih sembari menundukkan kepalanya. Saat ia tiba di pintu yang dimaksud oleh Jungwoo, Jaemin langsung memasukkan anak kunci itu kelubangnya. Namun sebelum ia sempat memutar kenop pintunya, sebuah pelukan hangat lebih dulu mengurung tubuh mungilnya.
"Aku sangat mencintaimu, Nana-ya. Sangat... maaf kalau aku sedikit mengabaikanmu beberapa hari ini, semua hal yang akhir-akhir ini terjadi telah membuatku jadi bingung dan akhirnya jadi mengabaikanmu. Mianhe..."
Satu kecupan hangat Jaemin dapatkan dipipinya.
"Aku juga mencintaimu," bisik Jaemin lirih.
Jungwoo melonggarkan pelukannya dan membuka pintu itu. "Aku tidak tahu apa yang terjadi, dan aku juga tidak tahu kenapa kamu mau membantu Sehun. Tapi karena aku percaya padamu, aku akan membiarkannya kali ini. Tapi kau harus berjanji padaku kalau kau akan menjelaskan semuanya nanti."
"Pasti..." Jaemin melepaskan pelukan Jungwoo dan melangkah masuk ke dalam kamar. "Kak Sehun..."
Sehun yang sedang meringkuk di lantai langsung mendongak. "Jaemin, syukurlah kau datang..." dengan bantuan dari Jaemin, Sehun bisa berdiri dengan tegak. Tatapan Sehun beralih pada Jungwoo yang tengah menatapnya balik.
"Aku tak tahu apa yang terjadi, tapi Nana bilang kakakku sedang dalam bahaya. Apa itu benar?"
"Ya," Sehun merogoh saku jaketnya dan menyerahkan flashdisk yang sedari tadi ia simpan ke tangan Jungwoo. "Ini adalah bukti yang aku dapatkan. Tak ada waktu lagi untuk menjelaskan semuanya. Kita harus pergi ke sana sekarang."
Jungwoo terdiam sejenak, tatapannya tak lepas dari Sehun yang tampak begitu cemas. "Oh Sehun..."
"Ya?"
"Bisakah aku mempercayaimu?"
Sehun tertegun, namun tak lama, ia memalingkan wajahnya seraya bergumam. "Aku... tak masalah bagiku kalau kau tak percaya padaku, tapi paling tidak tolong lakukan ini untuk calon keponakanmu..."
Giliran Jungwoo yang tertegun, bagaimana mungkin ia bisa lupa akan calon keponakannya yang berada di dalam perut Sehun?
"Setelah ini semua selesai, aku janji tak akan menuntut hak apapun dari keluargamu. Aku hanya ingin ayah dari bayiku tetap hidup hingga ia bisa merasakan kasih sayang dari ayahnya, meskipun..." Sehun menundukkan wajahnya yang sudah penuh dengan air mata. "... orang tuanya tidak bisa hidup bersama."
Jungwoo memalingkan wajahnya ke arah lain, "Katamu kita harus cepat pergi kan, ayo berangkat ..."
.
.
.
.
.
Jungwoo tak berhasil memarkirkan mobilnya di dekat hotel tempat pesta itu di adakan. Karena itulah kini ketiganya dengan keringat yang bercucuran setelah berlari beberapa saat akhirnya tiba di lobi hotel tersebut. Sehun berusaha mengatur napasnya dengan tangannya yang terus memegang perutnya yang terasa sakit setelah dibawa berlari.
"Apa dia tidak kenapa-napa?"
Sehun yang mengerti dengan apa yang ditanyakan oleh Jungwoo, mencoba tersenyum. "Tak perlu cemas, dia kuat."
Tak ada waktu untuk mencemaskan perutnya yang terasa sakit, nyawa Jongin jauh lebih penting sekarang. Entah apa yang sudah dilakukan orang itu pada Jongin saat ini. Sehun harap ia belum terlambat untuk menyelamatkan Jongin.
"Aku sudah menghubungi polisi dan kurasa sebentar lagi mereka akan tiba di sini."
"Tak ada waktu lagi untuk menunggu," Sehun berusaha menyelinap di antara orang-orang yang berkerumun di lobi. Dengan tak sabar ia menyikut-nyikut, mencari jalan di antara para orang yang sibuk mengobrol.
"Permisi-permisi..." Dengan susah payah Sehun berjalan di celah-celah orang banyak itu. "Sialan... siapapun tolong menyingkirlah, suamiku dalam bahaya..."
"Sehun..." Jungwoo yang berhasil menyusulnya segera mencengkeram lengan Sehun. "Kau tidak bisa bertindak ceroboh seperti ini, kalau seperti ini bukan hanya nyawa Jongin yang terancam, tapi kau juga."
"Tidak. Jungwoo-ya, bantu aku untuk bertemu Jongin. Demi Tuhan, aku mohon. Tolong aku!"
.
.
.
.
.
.
Ruangan tempat pesta itu di adakan merupakan sebuah tempat dengan dekorasi yang sangat indah. Memang sangat cocok untuk tempat melakukan pesta dalam nuansa pribadi. Ruangan itu hanya memiliki satu pintu untuk masuk, dan banyaknya tamu yang di undang tentunya sedikit membuat kesulitan untuk bisa masuk maupun keluar dari tempat tersebut.
Di salah satu sudut ruangan tersebut, Jongin sedang berdiri, mengobrol bersama orang tuanya dan juga rekan bisnisnya. Jongin melambaikan tangannya saat melihat Kris yang berdiri tak begitu jauh darinya. Kris hanya membalasnya dengan mengangkat gelas anggurnya ke arah Jongin, disampingnya berdiri seorang pria yang dengan setia terus mendampingi Kris ketika sedang mengobrol dengan teman-teman bisnisnya. Di sudut lain terlihat Minseok yang minum ditemani salah satu temannya.
Kris melirik jam tangannya sebelum kemudian meletakkan gelas anggurnya di atas meja. "Tunggu disini, Baekhyuna... aku harus membawa bintang kita ke tengah ruangan sekarang."
"Bintang?" Baekhyun terlihat bingung, namun ia menurut untuk tetap berada di tempatnya saat Kris menjauh darinya.
"Jongina..." Kris menepuk pelan pundak Jongin.
"Ada apa?"
"Sudah saatnya kau berdiri di tengah ruangan sekarang."
Jongin tersenyum lebar, "Apa kau ingin aku menjadi saksi dari kejutanmu untuk pria mungil yang berdiri disana?"
Kris tersenyum tipis, "Bisa dibilang seperti itu."
"Baiklah..." Jongin bergerak ke tempat itu di iringi oleh Kris, saat keduanya berpapasan dengan Minseok yang masih minum di mejanya, Kris menoleh padanya dan mengedipkan sebelah matanya yang dibalas dengan dengusan pelan dari Minseok.
"Hei, jangan memulai untuk melakukan pertengkaran disini," bisik Jongin memperingatkan.
"Ya, ya, ya. Aku tahu itu, sahabatku." Kris mendorong tubuh Jongin untuk melangkah lebih cepat.
Disaat itu Sehun tiba diruangan tersebut dengan napasnya yang terengah-engah. Dia baru saja berlari melewati tangga dan tak menunggu lift bersama dengan Jungwoo. Sehun berhenti sebentar untuk menarik napas dan mengusap keringat yang mengalir deras dikeningnya. Perutnya terasa semakin sakit namun Sehun mencoba untuk mengabaikannya.
Orang-orang yang berkumpul di ruangan itu semakin banyak, tubuh mereka berdempetan hingga Sehun kesulitan saat berusaha menembusnya.
Sehun berhasil melihat kepala Jongin di tengah kerumunan, tubuh Jongin yang tinggi memudahkan bagi Sehun untuk menemukan keberadaannya.
"Jongin!"
Jongin mungkin mendengat teriakannya karena ia memutar kepalanya ke arah kerumunan, tapi ia mungkin tak berhasil melihat Sehun karena ia langsung kembali menatap lurus ke depan dan terus melangkah maju.
Sehun mengigit bibir bawahnya saat melihat Kris berdiri tepat di belakang Jongin. Ini tidak boleh terjadi, Sehun harus menghentikannya.
"Jongin!"
Tanpa menghiraukan apapun lagi, Sehun menendang dan mendorong siapapun yang menghalangi jalannya untuk mendekat kepada Jongin. Terdengar umpatan-umpatan nyaring yang dilayangkan orang-orang yang terpaksa menyingkir karena ulahnya, namun Sehun tak peduli. Ia terlalu cemas melihat Jongin berada tepat di dekat Kris.
Sebersit rasa penyesalan Sehun rasakan. Kenapa ia baru bisa mengingatnya, mengingat pria itu...
Flashback
Sehun melangkahkan kakinya menuju ke arah toilet yang letaknya tak begitu jauh dari tempatnya menitipkan barang belanjaanya. Namun sebelum ia sempat masuk ke dalam, langkahnya terhenti karena mendengar suara pertengkaran yang berasal dari dalam sana.
"Aku mendengar semuanya... semua yang kau bicarakan dengan orang di telpon itu. Kenapa... kenapa kau ingin melakukan semua itu?"
"Menurutmu... menurutmu apa yang membuatku ingin melakukannya?"
"Apa ini karena masalah itu? Karena aku menolakmu dan lebih memilih Jongin? Atau ini karena aku yang menolak untuk tidur denganmu pada saat itu?"
"Apa kau pikir aku serendah itu? Hanya karena orang seperti dirimu aku merencanakan semua ini?"
Sehun menutup mulutnya, apa yang baru saja ia dengar, ada seseorang di dalam sana yang sedang merencanakan pembunuhan. Dengan langkah gemetar Sehun memberanikan mendekat dan mengintip ke dalam. Kedua orang itu sepertinya berada di pojok hingga Sehun tak bisa melihatnya.
"Lalu apa Kris? Kenapa kau melakukan semua ini, Jongin itu sahabatmu."
"Sahabat..." terdengar suara tawa yang sumbang. "Seorang sahabat tak akan merebut orang yang dicintai oleh sahabatnya Sendiri. Dan terlebih lagi seorang sahabat tak akan pernah menghancurkan keluarga sahabatnya sendiri."
"Tapi itu bukan kesalahan Jongin, Jongin hanya melakukan tugasnya sebagai..."
"Bukan salah Jongin katamu... dia jelas bersalah. Dia sengaja menjebak orang tuaku untuk mengakui kesalahan yang tidak pernah mereka lakukan. Jongin melakukan itu semua demi kemulusan kariernya. Dan kau bisa lihat setelah ia menghancurkan keluargaku... bamm... perusahaannya menjadi begitu terkenal. Apa kau pikir aku akan membiarkannya... membiarkannya orang itu bersenang-senang di atas penderitaanku."
"Apapun yang akan kau lakukan, aku tak akan membiarkannya. Aku akan mengatakan semuanya pada Jongin."
"Oh ya, apa kau pikir Jongin akan percaya? Kau mungkin istrinya tapi Jongin lebih percaya kepadaku dibandingkan dirimu.
"Tidak. Aku..."
"Kau seorang istri yang buruk untuknya. Kau lebih mementingkan kariermu sendiri dari pada mengurusnya, Shixun. Dan ketika tiba-tiba kau mengatakan tentang semua ini, apa kau pikir dia akan percaya padamu?"
"Aku punya bukti Kris... aku sudah merekam semuanya."
"Kau sudah melangkah terlalu jauh Kim Shixun... jangan kau pikir karena aku pernah mencintaimu maka aku tak akan berani mencelakaimu? Tidak Shixun, aku akan menyingkirkan siapapun yang menghalangi jalanku. Dan satu hal yang harus kau ingat, aku tidak sendirian Kim Shixun, jadi berhati-hatilah..."
Sehun merapatkan tubuhnya ke dinding saat terdengar suara langkah kaki mendekati pintu dan salah satu dari orang itu keluar.
Setelah yakin kalau orang itu tidak melihat dirinya, Sehun bergegas masuk ke dalam untuk pipis. Dan disanalah ia bertemu dengan orang itu, Kim Shixun...
Flashback End
Seandainya Sehun menyadari lebih cepat kalau orang yang keluar dari toilet itu adalah Kris, mungkin ia bisa memberi peringatan lebih cepat pada Jongin. Tapi ia tak bisa menyesalinya sekarang, selagi masih ada waktu ia harus melakukan sesuatu untuk menyelamatkan Jongin.
Jungwoo mencoba mendorong orang-orang yang menghalangi jalan mereka. "Sekarang, Sehun!"
Sehun tidak membuang kesempatan itu, ia merangsek maju dengan cepat hingga tiba di bagian depan. Tepat di saat itu ia melihatnya tangan Kris menyusup masuk ke balik jasnya.
"Tidak!" teriak Sehun. "Jongin!"
Jongin memalingkan wajahnya. "Sunshine..."
Sehun berlari menuju ke arah Jongin, tapi tatapannya tak lepas dari Kris yang berdiri dengan kaku di samping Jongin. Tatapan mata mereka bertemu, dan Sehun bersumpah ia bisa melihat Kris menyeringai kepadanya.
Saat itulah Sehun menyadarinya, bukan Kris yang akan melakukannya. Tapi orang lain yang akan melakukannya.
"... aku tidak sendirian Kim Shixun, berhati-hatilah..."
Seolah-olah dalam gerakan yang lambat, Sehun melihatnya. Melihat Minseok yang merogoh sesuatu dibalik jas mahalnya, mengeluarkan pistol dan membidik tepat di kepala Jongin yang tidak menyadarinya.
"TIDAAAKKKK..."
Sehun menerjang tubuh Jongin dan membuatnya terjatuh, dan tak sampai sedetik kemudian peluru itu menembus tubuh Sehun, membuat pria berparas manis itu ikut terjatuh ke dada Jongin.
"Shit..." terdengar suara umpatan dan juga teriakan. Dalam pandangan matanya yang mulai mengabur, Sehun melihat Kris dan Minseok yang sama-sama menodongkan pistol ke arahnya dan Jongin. Sehun mulai kehilangan kesadaran dan menutup matanya tepat saat terdengar bunyi letusan pistol yang kedua kalinya.
Jongin tampak begitu shock hingga ia tak bisa mengucapkan satu patah katapun. Di saat bersamaan tubuh Kris dan Minseok jatuh ke lantai dengan darah yang terus merembes dari bekas tembakan di dada mereka. Polisi yang ditelpon Jungwoo datang disaat yang benar-benar tepat.
"Sehuuunnn... Ya Tuhan Sehunnnn..."
.
.
.
.
.
.
"Aku tak tahu apa yang harus aku katakan saat ini..." ucap Jongin.
Saat ini semua orang dengan wajah murungnya telah berkumpul di ruangan tempat Sehun dirawat.
Sehun sudah sadar dari pingsannya setelah di operasi. Dadanya di perban. Ia mungkin sangat beruntung karena peluru itu tidak menembus alat vitalnya.
"Aku tak mengerti kenapa semua ini bisa terjadi. Maksudku Minseok... Kris... kenapa mereka melakukannya?"
Chanyeol meletakkan tangannya di pundak putra sulungnya itu, mencoba menguatkannya. Jongin jelas terlihat begitu terguncang karena peristiwa tersebut. "Kau sudah melihat video itu bukan. Itulah kebenarannya anakku..."
"Aku mengerti kalau Kris membenciku karena aku telah membongkar kejahatan orang tuanya. Tapi Minseok... kenapa..."
Chanyeol berdeham pelan. "Mungkin sudah saatnya papa menceritakan hal ini pada kalian?" Chanyeol tersenyum tipis pada istrinya yang tampak begitu pucat. Ia melepaskan tangannya dari pundak putranya dan beralih memeluk tubuh istrinya. "Kau tahu tentang paman kalian yang terusir dari keluarga kita bukan?"
"Ayah dari kak Minseok?" tanya Jungwoo, pria itu tampak letih dan ia hanya bisa bersandar di pundak kekasihnya, Jaemin. "Kami hanya tahu kalau ia telah lama meninggalkan keluarga kita, tapi kami tidak tahu kalau dia pergi karena di usir..."
"Kakek kalian mengetahui bahwa kakakku telah melakukan penyelewengan dana perusahaan hingga perusahaan itu mengalami kebangkrutan. Karena itulah ia marah besar kepadanya. Ayah menghapus nama kakakku dari daftar silsilah keluarga sekaligus juga menguburkan niatnya untuk menjadikan kakakku menjadi pewaris utama perusahaan." Chanyeol menundukkan kepalanya. "Saat itu terjadi Minseok baru bisa berjalan dan kau Jongin... kau baru lahir saat pamanmu harus haru angkat kaki dari rumah kakek."
"Apakah Minseok ikut dengan paman?" Jongin ingat, dulu ia menghabiskan masa kecilnya bersama-sama dengan Minseok.
"Tidak, ayahku tidak memperbolehkannya untuk membawa Minseok pergi, karena itulah ia memintaku untuk merawat anak itu sekaligus menjadi pewaris perusahaan menggantikannya. Aku berjuang keras saat itu untuk kembali membuat perusahaan kita bangkit seperti semula... pada akhirnya setelah berjuang cukup lama perusahaan kita kembali seperti semula bahkan bisa dibilang lebih sukses dari sebelumnya."
Chanyeol berdeham pelan. "Hingga peristiwa itu terjadi..."
"Peristiwa apa?" tanya Jongin penasaran.
"Tak lama setelah aku berhasil membangkitkan kembali perusahaan tersebut, kakek kalian meninggal dan kakakku yang mengetahui hal itu kembali datang ke rumah dan menuntut haknya sebagai seorang pewaris utama. Sebagai seorang adik, aku sadar akan posisiku, aku bisa saja menyerahkan semuanya padanya karena ia lebih berhak dariku. Tapi aku tak bisa..."
"Kenapa papa?" tanya Jungwoo. "Apa karena dia sudah di usir dari rumah?"
Chanyeol menggeleng, "Bukan karena itu nak. Tapi karena papa sudah terlanjur bersumpah pada kakek kalian untuk tidak menyerahkan harta itu kepada kakakku. Kakek kalian mengetahui semua kebiasaan buruk kakakku, yang tak hanya suka berjudi, tapi juga suka mabuk-mabukan dan gonta ganti pasangan. Kakek kalian tak ingin perusahaan itu kembali hancur di tangan kakakku karena itulah ia memintaku bersumpah seperti itu."
"Apa paman bisa menerimanya?" tanya Jungwoo pelan.
"Tentu saja tidak, ia marah besar, memaki-maki papa bahkan sampai mengancam papa."
"Mengancam papa?"
"Ya, ia bersumpah akan melakukan hal apapun juga agar papa tidak bisa hidup bahagia."
"Ya Tuhan..."
"Papa yang kesal dengan sikapnya segera mengusirnya dari rumah kita dan ..."
"Dan..." Jongin memperbaiki letak duduknya di ujung tempat tidur Sehun.
"Saat itu Minseok melihatnya, melihat aku yang mengusir ayahnya dan dia mungkin juga mendengar ucapan ayahnya saat itu. Tapi kurasa Minseok hanya mendengarnya sebagian saja, karena itulah perlahan sikapnya berubah. Ia memang masih menghormatiku tapi aku tahu sikapnya sedikit berubah menjadi lebih dingin. Aku pikir seiring berjalannya waktu ia sudah melupakan semuanya. Tapi mungkin kematian ayahnya setahun yang lalu telah membangkitkan kenangan itu lagi."
"Karena itu, ia merencanakan semua ini, mencoba membunuhku..."
"Dia tahu nak, kalau papa sangat mencintai kalian berdua dan dengan melenyapkanmu bukankah itu sama saja seperti ia telah merenggut setengah dari kebahagian yang papa rasakan."
"Aku tak bisa percaya ini." Jongin mengacak rambutnya sendiri, wajahnya terlihat begitu kacau.
"Aku bisa," sahut Jungwoo tenang. "Kalau dipikir-pikir selama setahun ini ia memang telah banyak berubah. Ia lebih sering pergi keluar saat malam hari. Dan kurasa saat itu ia melakukan pertemuan rahasia dengan Kris. Tak kusangka ia memanfaatkan kehancuran keluarga Kris untuk membantunya melakukan hal ini. Walau semuanya akhirnya bisa digagalkan berkat Sehun."
"Sehun..."
Semuanya menoleh ke arah Sehun yang tampak pucat, matanya bengkak dan merah karena banyak menangis.
"Ya mama, ia bukan kak Shixun. Kak Shixun sudah meninggal dan dia adalah Sehun," jelas Jungwoo.
"Ya Tuhan, berita apa lagi ini." Suho memegang kepalanya yang pusing.
"Maaf..."
Suho melepaskan pelukan suaminya dan beranjak mendekati Sehun, meraih tangannya dan menggenggamnya. "Aku tak tahu apa kenapa kau berbohong soal dirimu kepada kami, tapi aku mengucapkan terima kasih padamu. Karena dirimulah anakku selamat."
"Shixun lah yang menyelamatkan Jongin, bukan saya. Kalau bukan karena video yang ditinggalkan Shixun, saya sendiri bahkan tidak tahu apa-apa." Sehun menatap ibu dari orang yang dicintainya itu dengan tatapan sedih. "Saya minta maaf kalau saya bukanlah menantu anda. Saya tidak berpura-pura untuk hilang ingatan dan menjadi bagian dari keluarga ini."
"Bisakah kau ceritakan pada kami apa yang sebenarnya terjadi sebelum kejadian itu?" tanya Chanyeol.
Sehun mengangguk, ia pun menceritakan semuanya tanpa mengurangi ataupun menambahkannya sedikitpun.
"Jadi kau mengejar kak Shixun untuk mengantarkan cincinnya yang tertinggal?" tanya Jungwoo.
"Ya, dan aku tak tahu kalau peristiwa itu akan terjadi. Aku minta maaf..." Sehun menundukkan kepalanya, "Ingatanku baru kembali beberapa hari ini dan aku terlalu bingung untuk mengatakannya, apalagi..." Sehun tak sanggup lagi melanjutkan kata-katanya, ia menangis.
Suho dengan baik hati mengelus lengannya. "Aku mengerti, ini pasti tak mudah untukmu. Kau tak perlu meneruskannya lagi sekarang..."
Sehun tidak menjawabnya.
"Aku tak tahu bagaimana caranya aku membalas jasamu karena telah menyelamatkan anakku, Sehuna..."
"Anda tak perlu melakukannya, Mrs. Kim. Aku tak menginginkan apa-apa." Ya, itu benar. Sehun tak menginginkan apa-apa, ia cukup menyadari bagaimana posisinya sekarang.
Suho menepuk punggung tangannya, "Kami akan meninggalkanmu disini, kau harus banyak istirahat." Ia kemudian pergi di iringi oleh suaminya yang tidak mengatakan sepatah katapun lagi.
Jaemin melangkah mendekati Sehun dan memeluknya dengan hati-hati. "Kakak bisa hubungi aku kapanpun kakak memerlukan sesuatu, aku akan menunggu diluar."
Sehun hanya mengangguk, ia bertatapan mata sebentar dengan Jungwoo, lalu kembali menunduk, membiarkan kesunyian kembali menemaninya di kamar itu setelah keduanya pergi.
Pergerakan di ujung tempat tidurnya membuat Sehun kemudian menyadari kalau masih ada satu orang lagi di sini. Kim Jongin. Sehun menggigit bibirnya, tak tahu harus bereaksi seperti apa saat semuanya sudah terbongkar seperti ini.
"Bagaimana perasaanmu sekarang, Jongin?" Sehun memberanikan diri untuk memulai pembicaraan.
"Buruk," gumam Jongin. "Aku bahkan tak tahu harus bersikap seperti apa sekarang."
"Aku ingin berkabung atas kematian saudara dan juga sahabatku terbaik. Tapi saat tahu apa yang mereka lakukan untuk membunuhku... aku..." Jongin menjambak rambutnya. Dari tempatnya berbaring Sehun bisa melihat setetes air mata turun membasahi pipi Jongin.
Ia ingin memeluk tubuh pria itu dan menenangkannya, tapi setelah semua terbongkar, Sehun merasa tak pantas lagi untuk melakukannya.
"Rasanya hatiku hancur," Jongin menatap ke wajah Sehun, lalu tatapannya turun ke perut Sehun.
"Kau bisa berpura-pura untuk tidak mengetahui keberadaannya jika itu yang kau inginkan," ucap Sehun lirih.
"Apa kau pikir aku bodoh, dia darah dagingku, aku menginginkannya."
Air mata mengalir deras di pipi Sehun, Jongin hanya menginginkan bayinya dan bukan dirinya. "Dia anakku juga..."
"Aku tak bisa memulai suatu hubungan yang di awali dengan kebohongan."
"Kau bisa menceraikan aku sebagai Shixun, Jongin. Setelah itu aku akan pergi."
"Kenapa? Kenapa kau begitu ingin berpisah dariku? Apa kau ingin membawa pergi anakku dan kemudian memerasku suatu saat nanti."
"Aku tak ingin kau mengira aku memanfaatkan keadaanku ini Jongin. Aku tidak akan memerasmu, aku akan menghilang dari kehidupanmu untuk selamanya jika itu yang kau inginkan."
Jongin memicingkan matanya, "Apa alasanmu hingga kau tidak mau mengakui siapa dirimu setelah ingatanmu kembali?"
Sehun membuang muka ke arah lain, "Kurasa bukankah itu sudah jelas, aku mencintaimu..."
"Cinta?" tawa Jongin terdengar begitu hambar saat ia mengatakannya. "Kalau kau mencintaiku kau tak akan pernah meminta untuk berpisah dariku Sehun."
"Aku bukan istrimu."
Sehun mencintai Jongin dengan sepenuh hati dan segenap jiwanya, tapi Sehun sadar, ia tak akan mungkin bisa bersama dengan Jongin, karena itu sebelum hatinya lebih terluka lagi.
"Ya, kau benar. Kau memang bukan istriku," ada nada terluka di suara Jongin. "Karena itu kau bisa berbohong padaku dengan tidak mengatakan siapa dirimu yang sebenarnya." Jongin memang tahu kalau Sehun bukanlah istrinya, tapi ia tak menyangka kalau pria itu juga sebenarnya sudah menyadarinya tapi tak mau mengakuinya dihadapannya.
"Maaf..."
"Kau melakukan semuanya untukku, melayaniku, bahkan kau rela mengorbankan nyawamu untukku, tapi bahkan setelah semua itu terjadi, kau masih ingin pergi menjauh dariku."
"Jongin... bukan begitu... aku..."
"Kalau kau melakukan semua ini demi melihat kehancuranku, kau sudah berhasil Sehun." Jongin bangkit dari duduknya. "Aku berterima kasih padamu atas apa yang telah kau lakukan padaku. Semua biaya rumah sakit akan aku bayar dan kau bisa bebas pergi setelah kau sembuh."
Sehun terdiam.
Hingga saat Jongin ingin berbalik keluar dari kamar, Sehun mulai membuka suaranya.
"Aku pernah ingin mencoba untuk mengungkapkan hal ini padamu. Tapi kau bilang kalau kita sebaiknya melupakan masa lalu."
"Lalu... apa pengaruhnya hal itu Sehun?"
"Kau tidak mengerti Jongin."
Jongin berbalik, wajahnya tampak mengeras menahan amarah.
"Bagian mana yang aku tidak mengerti Sehun? Bagaimana kau memberiku perhatian, pelayanan yang baik dan bahkan memberikanku seorang anak. Aku selalu berpikir kalau kau tulus melakukannya. Tapi setelah semua terbongkar, kau dengan mudahnya mengatakan kata perpisahan. Apa yang harus aku mengerti lagi Sehun, bahwa kau ingin membawa pergi anakku dan kemudian meminta hak-hak anak itu kepadaku?"
"Jongin..."
"Aku akan memberikan semua hartaku untukmu, tapi anak itu... aku akan mengambil anak itu kembali ketika ia lahir."
Air mata Sehun mengalir semakin deras dipipinya. "Aku tak akan membiarkan kau menyakitiku lebih dalam lagi Sehuna... selamat tinggal."
Dan kali ini Jongin benar-benar pergi keluar dari kamar itu. Meninggalkan Sehun yang terus terisak sendirian di kamarnya. Jongin tak mengerti, bagaimana inginnya Sehun bersama dengan pria itu. Tapi ia tak bisa mempercayai dirinya sendiri kalau Jongin mungkin mencintainya sama seperti dirinya yang mencintai pria itu.
"Sehun..."
Sehun mendongakkan kepalanya dan pandangan matanya bertemu dengan Baekhyun yang juga tengah menangis disana.
"Hiks... Baekkie..."
Baekhyun melangkah mendekat untuk memeluk Sehun. "Hiks... aku tak menyangka kalau Kris..."
Sehun memejamkan matanya membiarkan air mata terus mengalir dari sela-sela kelopak matanya yang tertutup.
"Baekkie... ayo pergi dari sini."
.
.
.
.
.
.
TBC
Satu chapter lagi ya...
Kalau mau cepat di up, please review. Hehehe...
Maaf ya kalo bagian klimaksnya gagal. Aku ga jago soal ngetik yang seperti ini. T_T
Salam Kaihun Shipper
KaiHun Lovea
