Mereka berdua berjalan dalam diam, bisa tebak mereka sekarang ada dimana?. Mereka sekarang ada di taman kota Karakura yang memberikan suasana nyaman untuk orang yang sedang depresi seperti Rukia saat ini dan disini juga ada danau kecil. Tapi terlihat dari jauh ada seorang wanita mungil tengah berlari tergesa-gesa ia juga sepertinya membawa beberapa kertas di tangannya, wanita mungil itu berambut kelam sebahu ia memakai kemeja berwarna putih dengan blazer berwarna coklat tanah serta high heels yang terdengar berhentak dengan keras karena dibuat berlari oleh wanita mungil itu.
Bug.
"Ah~ gomen ne aku tidak sengaja menabrakmu aku terlalu terburu, sekali maafkan atas kesalahanku aku benar-benar tidak sengaja,"ucap wanita itu meminta maaf pada Rukia yang masih dengan posisi terjatuh karena baru saja tertabrak.
"Ah tidak apa-apa,"ucap Rukai dengan menerima bantuan dari wanita yang tadi menabrak dirinya, ia masih belum sempat melihat wajah wanita ini.
Setelah memastikan Rukia sudah berdiri dengan benar wanita itu menunduk dan memunguti kertas bawaannya yang berserakan di tanah itu, hingga menyulitkan Rukia untuk melihat wajah wanita itu, "Kalau begitu aku pergi dulu."ucap wanita itu dan mengangkat wajahnya dan tersenyum lembut pada Rukia.
Seketika setelah wanita itu berlalu dari hadapan Ichigo dan Rukia, mereka berdua membatu setelah melihat wajah wanita itu, "Rukia... wajah wanita itu begitu mirip denganmu,"ucap ichigo pada Rukia yang juga sama halnya dengan dirinya, terkejut.
"Benar, padahal aku tak memiliki kembaran sekalipun dan kelihatannya wanita itu berumur 29 tahun sama dengan Nii-san tapi mungkin berbeda satu tahun lebih muda dari Nii-san!"cicit Rukia kecil.
Mereka berdua tetap tak melangkah dari tempatnya masih sama-sama terdiam dan tercengang atas apa yang baru mereka alami dengan itu membuat mereka bertanya-tanya siapa wanita cantik tadi sehingga mereka tak menyadari orang yang tengah melihat mereka dengan tatapan gembira.
"Rukiaa!".
.
.
.
.
Remorse For You
.
.
.
.
Remorse For You
Disclimer : Om Tite Kubo
Author : Hanna Hoshiko
Rated : T
Genre : Romance/Hurt/Comfort
Cerita Abal, gak jelas, banyak typo,OOC (banget), AU , tidak memenuhi kaidah EYD...
.
.
.
.
Warning :
Maaf kalau fic ini tidak memuaskan karena saya tergolong Author pemula ...!
Maaf kalau ceritanya gak bisa bikin nangis...
Mohon RnR yaa minna...!
Kalo gak suka boleh gak dibaca kok...
.
.
.
.
Remorse For You
.
.
.
Mereka masih saja terdiam, tanpa sadar Ichigo mengenggam tangan mungil Rukia yang masih memegang tongkat bantunya. Kini sepertinya Ichigo juga merasakan apa arti dari kehilangan untuk kedua kalinya, menyesal. Tentu saja ia menyesal ini semua gara-gara Inoue yang sempat membuatnya terpesona pada gadis itu. Dan apa lagi sekarang Rukia membenci dirinya harus apa dirinya sekarang.
"Rukiaa!"teriak seseorang memanggil Rukia.
Sontak karena kaget Rukia menyentakkan tangan Ichigo yang menggenggam tangannya membuat Ichigo hanya mendesah kecewa karenanya, Rukia justru mengabaikan Ichigo sekarang dan fokus mencari orang yang telah memanggilnya dan ketemu... itu adalah Kaien, Rukia teringat sudah beberapa hari ini dia tidak bertemu dengan senpainya yang satu ini mungkin itu karena Kaien yang terlalu sibuk dengan kegiatan OSIS baru-baru ini.
"Ah~ akhirnya aku bisa bertemu denganmu Rukia, aku sudah ke rumahmu tapi kata Hanataro-san kau sedang tidak ada di rumah. Dan... kalian ini sedang apa?, kencan. Ah... benar kalian pasti sedang kencan 'kan? Tapi Ichigo aku dengar sebenarnya ini lebih menjurus pada gosip di sekolah bahwa kau berpacaran dengan Inoue Orihime apakah itu benar?. Tapi kau sekarang sedang bersama dengan Rukia pasti hanya sekedar gosip belaka."ucap Kaien panjang lebar.
"Semua gosip itu benar, aku kesini hanya untuk bersantai,"ucap Rukia menjawab pertanyaan Kaien.
Sebetulnya Ichigo sudah tidak suka melihat Kaien menghampirinya tadi yang tengah menikmati waktu berdua bersama Rukia, dan apa yang dikatakan pemuda bermarga Shiba itu tambah membuatnya geram. Ia tahu pemuda Shiba ini belum tahu hubungannya dan Rukia berakhir tapi apa harus menanyakannya pada dirinya dan Rukia langsung seperti ini?. ini sudah keterlaluan.
"Baiklah sepertinya kita bisa membeli es krim di sana,"ucap Kaien mencairkan suasana yang tiba-tiba tegang karena ucapannya tadi.
"Uhm... baiklah senpai tapi bisa kau bawakan alat bantu ini karena aku rasa, aku sudah bisa berjalan dengan normal,"ucap Rukia pada Kaien.
Ichigo hanya diam melihat mereka yang tengah berbicara bahagia bila ia harus bilang jujur sekarang dirinya sudah dirambat oleh apa yang namanya itu cemburu,dia benci ketika Rukia tertawa bukan karenanya dan ia juga benci ketika Rukia lebih bahagia selain bersamanya. Apapun itu Rukia adalah miliknya selamanya, apapun yang berurusan dengan Rukia mulai sekarang dirinya harus egois dan tak mengenal kasihan.
"Apa kalian akan terus bercanda disini dan tidak jadi ke tempat es krim?"tanya Ichigo kesal.
"Ah~ baiklah rupanya Ichigo mulai cemburu padaku Rukia karena mengambilmu darinya,"ucap Kaien menggoda Rukia.
"Apa? Ia tidak akan cemburu, dia sudah ada Inoue-san senpai,"ucap Rukia mencoba memancing Ichigo.
"Benarkah?"pancing Kaien juga.
Mendengar ucapan-ucapan Kaien dan Rukia membuat Ichigo menjadi naik pitam dan merasa semakin marah pada mereka, "Hentikan!"ucap Ichigo kesal.
"Sudah jangan menggodanya lagi senpai, jika dia marah maka nona bernama Inoue Orihime itu akan siap menghajar kita,"pancing Rukia lagi.
Kaien tahu disini ada yang tidak beres,bukannya Ichigo sudah putus dengan Rukia kenapa sekarang malah ia cemburu hanya karena melihatnya menggoda Rukia. Pasti disini ada yang tidak beres terutama pada putra Kurosaki Isshin itu. Kaien dapat melihat di mata adik kelasnya itu bahwa ia masih sangat mencintai gadis mungil adik kesayangan Byakuya Kuchiki itu dan untuk Rukia sendiri Kaien sudah tahu betul gadis ini masih sangat mencintai Ichigo tapi kenapa malah hubungan mereka harus berakhir.
"Baiklah aku saja yang membelikan kalian es krim dan kalian tunggu disini saja, dan Ichigo bisa kau bawa ini,"ucap Kaien dengan memberikan tongkat Rukia pada Ichigo.
"Tapi Senpai..."
"Biar aku saja yang kesana."ucap Kaien dan berlari pergi.
Sebenarnya Kaien sangat penasaran apa yang sedang terjadi diantara mereka berdua tapi dia bisa bertanya pada Ichigo nanti dan akan tahu segalanya jadi biarkan saja sekarang mereka berdua menyelesaikan masalahnya, ia hanyalah orang asing untuk mereka jadi dirinya tidak bisa ikut campur dalam urusan hubungan mereka terlalu jauh, kalau dirinya juga ikut dalam masalah mereka maka akan bertambah rumit nantinya.
Sedangkan Rukia hanya diam setelah di tinggalkan Kaien dengan Ichigo berdua saja, ia merasa canggung jika harus berduaan dengan Ichigo sekarang. Bagaimana pun tadi dirinya sudah bisa membalaskan sakit hatinya meskipun sedikit, sepertinya ia harus meminta bantuan Kaien sepertinya sekarang untuk memanas-manasi Ichigo. Rukia menggeleng-gelengkan kepalanya untuk menyingkirkan ide bodoh yang sempat terpikir di kepalanya. Karena ia tidak bisa membuat harapan palsu pada senpainya itu.
"Kau sengaja?"tanya Ichigo penuh tanya.
"Apa?"tanya Rukia balik dengan bingung.
"Apa kau sengaja membuatku cemburu setelah kau tahu bahwa aku masih mencintaimu,"ucap ichigo dengan nada kesal dan dongkol pada Rukia.
Rukia hanya menatap datar ichigo, ia hanya menutupi atau lebih tepat menahan tawanya untuk keluar dari mulutnya saat melihat wajah dongkol dari Ichigo. rupanya rencananya tadi berhasil, "Aku tidak sengaja kenapa kau begitu kesal padaku?"tanya Rukia kembali memancing Ichigo lagi.
"Harus aku bilang berapa kali agar kau mengerti Rukia, bahwa aku masih mencintaimu,"jawab Ichigo penuh emosi.
"Kau... tidak punya bukti Ichigo Kurosaki!"ucap Rukia datar dengan menampilkan senyum tipis di bibirnya.
"Akanku buktikan padamu,"ucap ichigo menjawab apa yang Rukia katakan, sepertinya otak encer Kurosaki yang satu ini tak bekerja dalam permainan Rukia.
"Tak usah berusaha yang mungkin akan membahayakan diriku, karena semakin kau membuktikannya padaku semakin nona besar itu akan marah padaku."ucap Rukia telak.
"Apa? Tak akan ada nona besar yang marah padamu. Ingatlah Rukia Kuchiki bahwa aku akan mendapatkanmu lagi,"ucap ichigo yang mulai terjebak pada permainan Rukia.
Ingatlah Ichigo bahwa Rukia adalah keturunan Kuchiki, dan apa kau tahu Kuchiki pasti bisa mendapatkan apa yang mereka inginkan, mereka juga bisa mendapatkan apa saja yang orang lain telah rebut dari mereka dengan mudah yang pasti membuat orang itu jauh lebih menderita dari pada dirinya. Sepertinya Kurosaki ini masih belum tahu fakta tentang seorang Kuchiki. Bisa kita tebak sifat itu pastilah menurun dari Byakuya jika kita samakan semua sifat Rukia dengan Byakuya, tentu sifat mereka tak jauh beda.
Rukia hanya menyeringai dalam hati rupanya mantan kekasihnya ini belum paham benar apa maksud dari ucapannya sendiri, "Ah... aku yakin nona itu tidak akan mau melepaskanmu Ichigo,"ucap Rukia startistik.
"Ck... he, kita buktikan saja besok. Apa kau mau melihatnya sendiri?"tawar Ichigo pada Rukia.
Sekali lagi Rukia hanya bisa menahan tawanya dalam hati saat pemuda bermarga Kurosaki ini dengan suka rela menawarkan kesenangan untuk Rukia, dan tak mungkin bisa Rukia lewatkan dengan ini rasa sakit hatinya sedikit demi sedikit pasti akan terbalaskan dengan sempurna. Ia juga harus membuat Ichigo merasakan apa yang Rukia rasakan, apa dirinya terlalu kejam jika berharap begitu dirinya rasa tidak. ini setimpal dan tak mungkin bisa ia lupakan.
"Ah... benarkah?. Mungkin aku tidak bisa melihatnya Ichigo,"sulut Rukia lagi.
"Ck, akanku seret kau melihatnya agar kau tahu betapa aku masih mencintaimu."
"Baiklah kita lihat saja besok."ucap Rukia mengakhiri semuanya.
Ia tak sabar menunggu hari esok lebih tepatnya tak sabar melihat penderitaan gadis jalang itu dengan mata kepalanya sendiri, jika gadis itu bisa membuatnya menderita hanya dengan Ichigo kenapa dirinya tidak bisa dan mungkin akan lebih kejam dari apa yang gadis itu lakukan padanya. Ia adalah Kuchiki semua yang ia mau harus ia dapatkan, dari dulu dirinya tak pernah egois pada siapapun jadi biarkan sekarang dirinya egois dan memiliki apa yang ia mau sendirian dan tak mau membagi untuk orang lain, hanya dirinya.
Karena Kaien sudah datang Rukia harus segera mengakhiri pembicaraan yang menurutnya seru itu dengan ichigo. Kaien datang dengan kesusahan membawa tiga es krim di tangannya, ia membawa satu es krim rasa jeruk, strawberry, dan vanilla. Sebenarnya Kaien tidak tahu rasa apa yang Ichigo suka jadi kaien membelikan strawberry untuknya karena mungkin Ichigo suka buah yang sama dengan namanya sedangkan Rukia, ia sudah tahu kebiasaan Kuchiki bungsu itu. Ia selalu saja meminta jus jeruk pada maid di rumahnya dan dari situ Kaien menyimpulkan bahwa Rukia menyukai buah dengan warna yang sama seperti warna rambut Ichigo itu.
"Ini untukmu Rukia,"Kaien menyerahkan es krim rasa jeruk itu pada Rukia dan Rukia menerimanya dengan senang hati.
"Dan ini untukmu Ichigo,"Kaien memberikan es krim rasa strawberry itu pada Ichigo.
"Hei senpai bodoh aku tidak suka memakan diriku sendiri,"ucap Ichigo kesal dan tak mau mengambil es krim yang di sodorkan oleh Kaien.
"Oh, ternyata kau tak suka ya?, kupikir tadi kau suka jadi aku membelikan kau rasa yang ini tapi jika kau memang tak suka kau boleh memakan milikku,"tawar Kaien senang hati.
"Haa~ tak perlu Baka-senpai. Aku kan mengambilnya, aku kasihan padamu jika aku harus mengambil milikmu secara kau yang membelikan ini untukku."ucap Ichigo mengalah pada Kaien.
"Baiklah mari kita makan bersama, mungkin tidak untuk Rukia,"ucap Kaien karena melihat Rukia sudah lebih dulu memakan es krimnya.
Mereka makan dalam diam dan setelah makan pun Rukia langsung pamit pada Ichigo dengan Kaien menyusulnya terburu-buru, Rukia rasa refresingnya hari ini sudah cukup mungkin bisa di bilang sempurna. Memikirkan itu membuatnya tidak sabar menunggu hari esok, jika dulu dirinya tak sengaja melihat Ichigo menyataakan cinta pada Inoue sekarang juga dirinya tak sengaja akan melihat berakhirnya hubungan mereka hanya karena pancingan darinya saja. Mungkin dulu cara inilah yang Inoue gunakan untuk menghasut Ichigo tapi dirinya tak mau memikirkan betapa bodohnya mantan kekasihnya itu hingga bisa terpancing dengan mudah.
Dalam perjalanan Kaien tak berani banyak bicara pada Rukia, takut-takut ucapannya nanti akan menyinggung perasaan Rukia yang nantinya membuat suasana menjadi tidak enak, "Na Rukia sudah sampai, aku pulang dulu. Jaa nee"ucap Kaien dengan terus berjalan tanpa menoleh pada Rukia.
Rukia hanya tersenyum melihat tingkah Kaien, sebenarnya ia cukup merasa bersalah pada Kaien sejak Kaien menyatakan cintanya dulu tapi ia menolaknya karena ia lebih memilih Ichigo. Tapi senpai-nya tetap saja mau membantunya, menjaganya, dan melindunginya jika Ichigo tak bisa melakukaknnya. Jika saja dulu ia pertama bertemu dengan Kaien bukan dengan Ichigo mungkin ia akan lebih memilih Kaien daripada Ichigo, semoga saja senpai-nya itu menemukan gadis yang lebih pantas untuknya dari pada dirinya.
.
.
.
^^ Hanna ^^
.
.
.
Inilah hari yang di tunggu-tunggu Rukia dari kemarin, hari ini separuh sakit hatinya akan tergantikan. Hari ini pasti menyenangkan untuknya padahal Rukia tak pernah menyuruh Ichigo untuk memutuskan hubungannya dengan nona Inoue itu tapi perkataan Ichigo di luar perkiraannya tapi itu adalah hal bagus semakin perkataan Ichigo di luar perkiraan mungkin akan semakin menguntungkan dirinya.
Rukia memakai seragam sekolahnya biasa-biasa saja tak ada yang mencolok darinya mungkin hanya wajahnya saja yang bertambah cantik, dengan segera Kuchiki bungsu ini turun dan di meja makan Byakuya telah menunggunya. Saat pulang bersama Kaien kemarin ternyata kakaknya itu sudah berada di rumah dengan wajah khawatir meski itu tertutupi dengan wajah stay coolnya, tapi Rukia juga sempat marah pada kakaknya itu karena tidak jadi menjemputnya tanpa kabar.
"Ohayou Rukia, kelihatannya kau pagi ini senang sekali,"ucap Byakuya datar tapi tak menghilangkan kesan hangat dalam ucapannya.
"Ohayou juga Nii, benarkah padahal aku sudah biasa mungkin hanya bertambah cantik saja hahahaha,"gurau Rukia pada Byakuya.
"Adikku memang selalu cantik,"puji Byakuya dengan sedikit tersenyum tipis pada Rukia.
"Aku 'kan adikmu Nii-san,"balas Rukia dengan bangga pada Byakuya membuat Byakuya terkekeh pelan melihatnya.
"Sudahlah ayo kita makan dan aku akan mengantarkanmu ke sekolah tentu dengan tidak adanya penolakan darimu Rukia."ucap Byakuya datar kemudian memakan kare di piringnya.
"Baiklah Nii."ucap Rukia lesu.
Kini dirinya sudah berada di depan gerbang sekolahnya, Rukia menunduk untuk melihat Nii-sannya yang berada di dalam mobil. Kalau di pikir-pikir kapan Nii-sannya itu akan menikah dan memberikan keponakan-keponakan yang lucu padanya, kapan-kapan dirinya harus memaksa Nii-sannya itu untuk kencan buta bersama seorang wanita dan melupakan sejenak tentang perusahaan sialan itu.
"Arigatou Nii-san, Jaa ne."ucap Rukia pada Byakuya.
Tanpa membalas ucapan adiknya Byakuya langsung melajukan mobilnya pergi dari depan sekolah adiknya juga, sebenarnya ia tak pernah bersekolah di jepang. Dirinya hanya pernah bersekolah di tempat kakeknya, karena dulu setelah orang tua mereka tiada Byakuya masih terlalu muda untuk memimpin perusahaan milik kedua orang tuannya tapi sekarang ia jauh lebih matang. Ia senang bisa melihat Rukia bahagia, apapun pasti ia lakukan untuk membuat adik kesayangannya itu bahagia, dengan cara apapun.
"Rukia,"teriak Kaien dari luar gerbang saat melihat Rukia berjalan masuk sendirian dari gerbang.
"Ohayou Kaien-senpai,"sapa Rukia pada Kaien.
"Ohayou juga Rukia, apa tadi kau di antar Byakuya-Nii?"tanya Kaien pada Rukia karena tadi ia melihat Rukia yang biasanya lebih memilih berjalan kaki keluar dari mobil BMW milik Byakuya.
"Dia memaksaku,"ucap Rukia enteng.
"Byakuya-Nii memang tidak berubah, nanti apa kau mau makan siang bersamaku?"tanya Kaien mengajak Rukia makan siang bersama.
"Bisa, asalkan senpai mau makan bersama kami bertiga,"ucap Rukia.
"Baiklah, nanti akanku jemput di depan kelasmu, jaa."ucap Kaien tanpa mendengar persetujuan dari Rukia.
"Baiklah, mungkin ini akan semakin seru dan tentu saja akan semakin menarik. Tapi kenapa aku semakin lebih mirip seorang psychopath begini... ah tapi sudahlah ini semua berawal darinya aku hanya tinggal melanjutkan dan menyelesaikannya saja."gumam Rukia pada dirinya sendiri.
"Ohayou Rukia-chan apa kau sudah baikan?"tanya Rangiku heboh setelah melihat Rukia masih ke dalam kelas dan memeluknya erat.
"Apa yang kau lakukan Rangi-chan, Rukia-chan bisa kehabisan nafas bila kau seperti itu,"tegur Momo pada Rangiku.
"Ah~ gomen ne."ucap Rangiku dan melepaskan Rukia.
Setelah insiden pelukan Rangiku tadi pagi membuat Rukia senang melihat sahabatnya yang satu itu khawatir padanya, karena Rangiku khawatir padanya itu adalah hal yang jarang terjadi begitu juga dirinya, sekarang perutnya mulai keroncongan minta untuk diisi olehnya tapi rupanya bukan dirinya saja yang mengeluh kelaparan tapi sahabat berdada besarnya itu juga mengeluh kelaparang dengan suara cemprengnya pada dirinya. Tapi belum ia sempat menjawabnya, sahabatnya itu kembali meneriakkan namanya.
"Rukiaaaa! Senpai tampan ini sedang mencarimu,"teriak Rangiku pada Rukia dan membuat Rukia terlonjak kaget karenanya, bagaimana bisa ia lupa bila tadi Kaien mengajaknya makan siang bersama.
"Berhentilah berteriak Rangiku, Oh... senpai aku lupa bila kau akan makan siang bersama kami."ucap Rukia pada Kaien yang hanya tersenyum canggung pada Rangiku yang terus menggodanya.
"Oh! Apa senpai tampan ini akan makan siang bersama kita, aku tak mengira makan siangku kali ini akan bersama seorang Kaichou paling tersohor di sekolah ini."ucap Rangiku.
"Berhentilah berbicara yang tidak perlu Rangiku lebih baik kita sekarang pergi ke kantin saja. Momo ayo!"ucap Rukia malas pada Rangiku dan hanya mendapat balasan umpatan dari bibir Rangiku.
Setelah pertemuan terakhirnya kemarin dengan Rukia, hatinya masih kesal karena gadis mungil dan cantik itu sangat meragukannya dan malah menyuruh membuktikannya sekarang tapi... jika ia tak membuktikannya bisa saja dirinya kehilangan Rukia lagi. Apapun pasti akan ia lakukan untuk Rukia. Sekarang Ichigo berjalan menuju meja kekasihnya, rupanya gadis itu tahu ia akan menghampirinya.
"Bisa ikut aku?"tanya Ichigo pada Inoue.
"Uhn."jawab Inoue mengiyakan permintaan Ichigo.
Mereka berdua berjalan dalam diam, Inoue berjalan di samping Ichigo dan sepertinya Ichigo tak merasa risih pada kelakuan Inoue padanya. Ia rasa ini wajar, mereka sepasang kekasih sekarang tapi entah nanti pikir ichigo. Sekarang dirinya hanya harus mencari adik Byakuya itu dan segera menyeret bersamanya agar tak ada alasan lagi untuk adik Kuchiki Byakuya itu menyangkal bahwa ia mencintai gadis mungil itu sepenuh hati. Biasanya gadis mungil itu akan ke kantin dan makan bersama kedua sahabatnya.
Dan benar saja gadis munguil itu tengah memakan ramen sambil sesekali bercanda bersama ketiga orang yang sedang bersamanya, tapi... tunggu Ichigo mengerutkan dahinya. bukannya sahabat Rukia hanya dua kenapa sekarang bertambah menjadi tiga tapi... itu adalah Shiba Kaien. Ah... orang itu memang menjengkelkan selalu saja berdekatan dengan Rukia yang kadang sepertinya bukan kadang tapi selalu membuatnya cemburu.
Rukia terus memakan ramen pesanannya dengan sesekali mengeluarkan tawa dari mulutnya saat mendengar ucapan-ucapan Kaien yang selalu mengundang tawa mereka. Ia pikir Kaien orang selalu serius tapi ternyata orang ini sangat loyal dan mudah membuat orang tersenyum.
"Hei senpai aku tak mengira kau seorang Kaichou yang memiliki selera humor tinggi seperti ini,"ucap Rangiku pada Kaien yang duduk di sebelah Rukia.
Tanpa mereka sadari sang hazel terus mendekat dan terus memandang lekat-lekat gadis Kuchiki mungil itu. Dan ia sekarang telah sampai di depan gadis mungil itu membuat gadis di sampingnya menatap tajam pada Rukia. Sedangkan Rukia hanya memandang bingung pada pemuda berambut Orange itu, sepertinya Kuchiki ini lupa perkataan Ichigo pada dirinya kemarin. Dan... sekarang ia baru ingat.
"Ini yang kau bilang sibuk dan tak bisa datang?"tanya Ichigo tiba-tiba pada Rukia.
"Aku lupa."jawab Rukia enteng dan kembali memakan ramennya.
"Berarti kau sekarang ingatkan?, jadi ayo ikut aku sekarang,"ucap Ichigo dengan sedikit kesal.
Sebenarnya Inoue tak tahu apa-apa apa yang sedang terjadi di sini, maupun yang di bicarakan kekasihnya dengan gadis mungil Kuchiki itu, yang hanya menanggapinya dengan cuek dan datar.
"Baiklah tapi ada yang harus ikut bersamaku, aku... tak mau sendirian."ucap Rukia dengan memandang Ichigo.
"Ck, baiklah bila itu keinginanmu cepat pilih dari mereka."ucap Ichigo pada Rukia.
Sebenarnya Kaien ingin sekali ikut dan menemani Rukia tapi jika ia ikut maka otomatis dirinya akan ikut ke dalam masalah mereka. Mungkin itu akan semakin rumit jika ia harus masuk juga ke dalamnya jadi... lebih baik ia memilih untuk pergi. lagi pula sebentar lagi ia harus kembali karena ada rapat OSIS.
"Aku harus kembali Rukia, aku... ada rapat OSIS sekarang."ucap Kaien dengan tersenyum lebar pada Rukia kemudian mengelus puncak kepala Rukia dengan di balasan dengusan sebal oleh Ichigo.
"Jaa, Rukia, Matsumoto-san, Hinomori-san, dan Ichigo. Eh... ternyata disini ada Inoue-san kalau begitu aku pergi dulu semuanya."pamit Kaien kemudian melesat pergi secepat mungkin.
"Aku tidak memilih siapapun jadi kita bisa sekarang saja?"tanya Rukia pada Ichigo.
Ichigo hanya mengiyakan apa yang Rukia tanyakan padanya sekarang yang terpenting adalah membuat Rukia kembali percaya padanya. dengan cepat Ichigo menggenggam tangan mungil milik Rukia dengan tangan bersamanya kemudian membawanya melesat pergi. Sedangkan... Rukia hanya tersenyum tipis melihat Ichigo lebih memilih menggenggam tangannya daripada gadis Inoue itu, tapi rupanya gadis Inoue itu juga tak mau meyerah ia berlari mengejar dirinya dan Ichigo.
Sekarang mereka ada di halaman belakang sekolah mereka. Rukia berdiri agak jauh dari Inoue dan Ichigo, sebenarnya ia tak begitu berminat melihat penderitaan orang lain. ia sudah cukup melihat penderitaannya sendiri tapi ini demi membalas apa yang gadis itu lakukan padanya. Apapun pasti ia lakukan meski ia harus melihat penderitaan gadis itu dengan matanya sendiri, sebenarnya ia juga tak bermaksud seperti itu. Dari sini ia sudah bisa sangat jelas melihat wajah penuh tanya dengan terus menatap wajah Ichigo lekat.
Ichigo menatap gadis itu dan gadis menunduk merona malu karena di tatap begitu intens oleh Ichigo, Rukia hanya memandang dengan datar dan sesekali mendengus kesal karenanya, kenapa Ichigo lama sekali melakukannya ia sudah bosan menunggunya lebih baik ia kembali ke kelas dari pada melihat drama romantis Ichigo dengan gadis bermarga Inoue itu.
Ichigo melirik gadis berambut hitam yang tengah berdiri dengan bersindekap dada agak jauh darinya, sepertinya ia tengah bosan dan berniat untuk pergi. Lama otak Ichigo memproses gerakan Rukia itu. akhirnya ia tahu gadis akan pergi dan mungkin kesempatannya untuk membuktikan rasa cintanya akan hilang begitu saja bila Kuchiki mungil itu pergi.
"Inoue..."panggil Ichigo pada Inoue denga suara agak keras supaya terdengar Rukia.
Inoue mengernyitkan mendengar Ichigo memanggilnya begitu. Apalagi memanggil dengan nama marganya, ini tidak seperti biasanya. Pemuda itu biasanya akan memanggilnya dengan nama kecilnya yang berartikan tuan putri.
"Kenapa kau memanggilku seperti itu?"tanya Inoue pada Ichigo.
"Inoue... mungkin aku akan terus memanggilmu seperti itu. karena... sehebat apapun dirimu menghasutku, kau takkan pernah bisa menghasut hatiku untuk melupakan seorang Rukia Kuchiki. Jadi..."
"Tunggu Kurosaki-kun, hentikan ini."ucap Inoue menyuruh Ichigo untuk melanjutkan ucapannya padanya. Karena ia tahu akan berakhir seperti apa nantinya.
"Tidak! ini tidak bisa di hentikan, aku sudah sangat menderita melihat orang yang aku cintai menderita karenaku. Jadi lebih baik kita akhiri ini,"ucap Ichigo dengan na memohon pada Inoue.
Mendengar ucapan Ichigo padanya, Inoue mulai menangis dan mencengkram dadanya yang terasa sakit, membuat kemeja sekolahnya lusuh.
"Aku tidak mau berpisah denganmu, Kurosaki-kun."ucap Inoue dengan bergetar hebat.
"Gomen Inoue. Aku tak bisa."ucap Ichigo tulus.
Melihat semua yang ia inginkan telah tercapai, Rukia membalikkan tubuhnya dan melangkah pergi dari halaman belakang sekolahnya. Meninggalkan Ichigo dengan Inoue berdua disana. Rukia melangkah dengan tenang ke arah kelasnya, meski ekspresi di wajahnya datar tapi tak dapat menghilangkan senyum tipis yang singgah di sudut bibirnya. Apa ini keterlaluan? Setelah ia pikir-pikir kembali ini tidaklah keterlaluan. Sekarang senyum tipis yang singgah di bibirnya di gantikan dengan sebuah senyum tulus yang menambah kecantikan seorang Rukia Kuchiki.
"Selamat datang kembali Ichigo."
.
.
.
.
.
.
.
To be Continued.
Author Talk :
Haaaaaaloooo! Loooohaaa Minna-san. Saya kembali lagi dengan membawa kelanjutan cerita saya yang sempet saya terlantarkan gara-gara lagi UKB. Meski sekarang masih UKB tapi saya sempet'in untuk apdate cerita. Saya seneng cerita saya yang gak jelas, gak sempurna , gak bagus kayak author lainnya ini bisa dapat Review hingga melebihi angka seratus... maklum saya baru author baru, gak pernah cerita saya melebihi 100 reviewnya. jadi saya makasih banget buat para senpai sekalian yang mau nyempetin Review cerita saya ini. maaf saya apdate malam karena lagi seru liat S.A.O.
Dan sekarang saya waktunya bales Review dulu.
Balasan Review :
15 Hendrik Widyawati : yaa... begitulah saya selalu senang bikin orang penasaran pas endingnya. Terima kasih udah review.
Naruzhea Aichi : Gak usah minta maaf senpai, itu awalan karakter Rukia memang saya bikin begitu tapi di Chapter ini saya udah bikin berubahan pada Rukia. Terima kasih udah review.
Azura Kuchiki : iya itu Hisana, biar gak penasaran baca aja de. Terima kasih udah review.
Eigar Alinafiah : bakalan di jawab di Chapter ini. Terima kasih udah mau review.
FidyaIR : Sekarang lanjutnya. Salam kenal Fidya-san dan Terima kasih udah mau nge-review cerita aku.
Darries : Iya itu Kaien, bakalan saya usaha'in buat Ichi menderita. Terima kasih udah Review.
Chelsea : Terima kasih sarannya, bakalan saya usaha'in yang lebih baik lagi dan untuk... paragraf yang panjang juga bukan mau saya. Saya gak sengaja. Terakhir salam kenal dan terima kasih udah mau nge-review cerita saya.
Haaa~ karena saya udah nge- bales Review jadi saya sekarang cuman mau ngingetin bahwa cerita ini udah mau selesai, itu aja dan...
Jaa ne.
