My Wishes
Ooc, Gs, Typo, tidak sesuai EYD dll.
Main Cast : Luhan, Sehun, JongIn and Kyungsoo
Rated : T
Chapter : 14/21?
Ke empat orang itu kini sedang berada di tengah rumah, mereka semua sudah selesai membantu para maid membersihkan rumah Luhan yang baru saja digunakan untuk pesta. Sehun dan Luhan berada dikursi yang berbeda dengan Dyo dan Kai, tepatnya bersebrangan.
Beberapa maid masih ada dibelakang, membereskan beberapa hal yang memang harus dikerjakan. Dyo bersandar pada bahu Kai, dia terlihat sangat lelah. Begitupula dengan Luhan yang terlihat kelelahan.
"Kalian bisa istirahat disini…" Usul Luhan.
Untuk sesaat suasana menjadi hening, hanya ada suara jam yang berdetak dan beberapa langkah kaki dari maid yang berada dibelakang rumah. Luhan memejamkan matanya dan mendengar detak jantung Sehun. Luhan tersenyum kecil saat dia menyadari kalau ternyata jantung Sehun berderup dengan kencang, sama seperti miliknya. Luhan mengangkat kepalanya dan menatap Sehun.
"Baiklah, sekarang aku tidak bisa menyembunyikannya darimu." Ucap Sehun pelan –hampir menyerupai bisikan- pada Luhan. Sang wanita terkekeh pelan dan kembali menyembunyikan wajahnya didada Sehun. mendengarkan detak jantung Sehun yang bergemuruh membuat jantungnya semakin ikut bergemuruh.
"Kau tau? Aku merasakan hal yang sama. Konyol sekali bukan?" bisik Luhan terendam didada Sehun. tapi sang pria masih bisa mendengarnya.
"Itu bukan hal konyol, kau tau? Itu hal yang wajar jika kita berdekatan dengan orang yang kita cintai jantung kita kan berdetak lebih kencang." Bisik Sehun disambut anggukan oleh Luhan.
Sang wanita mengangkat kepalanya dan menatap Sehun beberapa detik sebelum dia mencium pipi sang pria.
"aku akan tidur, ini sudah larut, sebaiknya kau juga ikut tidur." Ucap Luhan sambil bakit dari sofa. Dia menatap Dyo yang masih menyandarkan kepalanya di bahu Kai dengan tangan mereka yang bertautan dengan eratnya.
"Kau mau ikut bersamaku atau tidur dengan Kai?" tanya Dyo membuat wanita itu menatap Luhan. Dengan cepat Dyo bangkit dan melepaskan tangannya.
"Denganmu, tentu saja." Ucap Dyo.
"Sehun, sebaiknya kau memilih kamar yang berbeda dengan Kai. Kau tau? Dia akan membawa pengaruh buruk untukmu." Ucap Luhan saat dia berjalan di tangga.
"Aku tidak membawa pengaruh buruk." Sela Kai membela dirinya. Luhan memutar bola matanya dan melambaikan tangannya pada Kai tanda kalau dia sama sekali tidak perduli dengan apa yang baru saja dia katakan.
"Sudahlah." Ucap Sehun sambil bangkit dari kursinya. "Sebaiknya kita ikut tidur juga, ini sudah hampir tengah malam." Kai mendesah nafas panjang dan melihat jam yang melingkar di tangannya. Ternyata memang sudah hampir tengah malam.
Kai dan Sehun pun masuk kedalam kamar yang berbeda –sebenarnya bersebelahan- sebelum tidur mereka membersihkan dirinya dan kemudian dengan cepatnya mereka terlelap. Mungkin itu karena hari ini begitu melelahkan.
~My Wishes~
Dyo dan Luhan sudah bangun terlebih dahulu, mereka sudah berdadan dengan cantik. Dyo meminjam salah satu dress Luhan karena ukuran tubuh mereka yang memang hampir sama, hanya saja Dyo yang sedikit lebih pendek dan berisi dari pada Luhan. Dyo dan Luhan keluar dari kamar, mereka tau kalau kedua pria itu belum bangun. Dyo dan Luhan berdiri bersebelahan –tepatnya didepan pintu kamar kekasih mereka masing – masing. Luhan menghela nafas panjang dan mulai mengetuk pintu, sedangkan Dyo langsung menerobos masuk tanpa mengetuk pintu. Luhan mengerti, percuma saja dia mengetuk pintu akan si hitam kkamjong itu tidak akan mendengar kalau ada yang mengetuk. Dia memang pria yang sulit untuk dibangunkan.
Luhan kembali menghela nafas panjang dan mengetuk pintu. Ayolah… Sehun bangun. Aku tau kau sudah bangun. Ucap Luhan dalam hatinya.
Pintupun terbuka, menampakan Sehun dengan rambut yang basah disana. Luhan tersenyum dengan manisnya.
"Aku kira kau masih tidur." Ucap Luhan. Sehun tersenyun dan menggaruk belakang kepalanya. Dia terlihat kebingungan untuk mengatakan sesuatu.
"Ada apa?" tanya Luhan. Sehun menatap wanita itu dengan tak yakin, tapi kemudian dia menghela nafas panjang. "Sebenarnya ada sedikit masalah disini." Ucap Sehun. Luhan mengerutkan keningnya. Dia mencoba mencari tau apa yang sedang terjadi didalam, karena dia hanya bisa melihat kepala Sehun saja.
"Apa aku tidak boleh masuk?" tanya Luhan. Sehun kembali menggaruk kepalanya. "Entahlah, tapi… masuk saja." Ucap Sehun membuka kedua pintunya.
Luhan kaget saat menyadari kalau Sehun hanya memakai handuk yang menggantung dipinggangnya. Dengan cepat Luhan membalikan badannya, tak mau menatap Sehun. Luhan yakin wajahnya pasti sudah memrah sempurna. "Sehun! kenapa kau tidak memakai bajumu?" tanya Luhan dengan suara yang cukup nyaring.
"Bukan begitu, hanya saja bajuku sangat bau, aku memang bisa memaki jasnya tapi aku tidak bisa memakai kemejanya. Kau tau? Badanku ternyata sangat bau." Jelas Sehun. Luahn terkekeh pelan.
"Kenapa kau tidak bilang dari tadi. Tunggu disini." Ucap Luhan. Wanita itu keluar dari kamar tamu dan melesat entah kemana, meninggalkan Sehun yang masih kebingungan. Tapi tak lama kemudian Luhan kembali masuk dengan membawa sebuah kaos berwarna putih polos dengan sebuah celana jeans.
"A-aku t-tidak t-tau i-ini s-sesuai d-dengan u-ukuranmu atau tidak…" Luhan menarik nafas panjang mencoba meredam detak jantungnya yang tak terkendali. "…setidaknya kau bisa mencobanya dulu, kalau tidak muat, biar aku membelikanmu pakaian." Ucap Luhan sambil menyerahkan baju itu dan memutar tubuhnya memunggungi tubuh Sehun.
Sehunpun berjalan kembali kekamar mandi. Luhan memutar tubuhnya saat mendengar pintu kamar mandi ditutup. Luhan menghembuskan nafas panjang dan duduk di samping kasur. Dia mencoba kembali menstabilkan nafasnya yang memburu. Setelah itu barulah Luhan membereskan kasur yang baru saja ditempati oleh Sehun.
Luhan langsung menengok kearah kamar mandi saat mendengar suara pintu itu. Dia melihat Sehun keluar dari sana dengan pakaian yang baru saja dia berikan. Luhan tersenyum puas, ternyata pakaian itu memang sama persis dengan tubuh Sehun.
"Bagaimana?" Tanya Sehun. Luhan tersenyum manis.
"Ternyata pas sekali dengan tubuhmu, aku tak menyangka kalian memiliki tubuh yang sama." Jawab Luhan. Sehun mengerutkan keningnya mendengar jawaban itu. "kalian? Siapa maksudmu dengan 'kalian'?" Tanya Sehun heran. "Maksudku appa dan dirimu, kau tau, ini adalah hadiah yang aku berikan pada appa beberapa tahun yang lalu, tapi karena dia memang tidak suka memakai pakaian yang seperti ini jadi dia menaruhnya di lemari." Jelas Luhan sambil menaikan bahunya acuh.
"Tunggu sebentar." Ucap Luhan melihat sesuatu yang kurang dari tampilan Sehun. Dia membawa jas Sehun yang tergantung di kursi dan memakaikannya pada Sehun. Luhan mengelus pelan jas beludru hitam itu, merapihkannya dibeberapa tempat. Kemudian dia mundur beberapa langkah dan tersenyum puas.
"Kau tampan." Ucap Luhan. Bagimana tidak? Walaupun Sehun hanya terbalut dengan kaos putih dengan jas hitam dan celana jeans, dia masih terlihat mempesona.
"Aku tau aku ini tampan, bagaiman bisa aku mendapatkan seorang putri jika aku sendiri tidak setampan pangeran." Gurau Sehun. Luhan memutar bola matanya dan melangkahkan kakinya keluar dari kamar tamu.
"Berhentilah menggodaku, ini masih pagi." Ucap Luhan sambil berlalu, tapi jauh dilubuk hatinya, dia suka sekali dengan apa yang dikatakan Sehun. Suka. Sekali.
~My Wishes~
Sedangkan dengan Dyo~
Wanita itu tengah menghela nafas panjang saat menatap Kai dengan piamanya yang sangat berantakan. Sungguh, pria ini memang sulit sekali untuk rapi. Dyo mendekati Kai dan menarik pelan selimutnya. Dyo membawa selimut itu kepangkuannya dan menggoyangkan Kai.
"Kai… bagunlah, ini sudah pagi." Tapi pria itu tak bergeming dan hanya mengeluarkan gumaman pelan. Dyo memang harus banyak bersabar menghadapi Kai yang kadang – kadang seperti anak kecil.
"Kai bangunlah, ini sudah pagi. Aku yakin Sehun pasti sudah bangun." Ucap Dyo kembali mengguncangkan Kai. Tiba tiba saja Kai menarik Dyo, membuatnya jatuh dan ikut tertidur dikasur.
"Kau. Membandingkanku dengannya?" Tanya Kai tanpa membuka matanya. Dyo menghela nafas panjang dan memeluk Kai sesaat kemudian melepaskannya lagi tapi sebelah tangan Dyo masih melingkar dipinggang Kai.
"Menurutmu? Aku tau? Sepertinya Sehun itu pria yang disiplin, rapi dan tertata, tidak salah kalau dia sudah menyelesaikan sekolahnya." Ucapan Dyo yang barusan membuat Kai membuka matanya.
"Apa? Coba katakan sekali lagi?"
"Memangnya apa?" tanya Dyo dengan wajah polos dan mata membulat.
"Kau memujinya? Kau memujinya didepanku?" Tanya Kai. Dyo melepaskan tangannya dari pinggang Kai dan berbaring disamping Kai sambil menatap langit – langit.
"Memang itu kenyataannya, kau bertolak belakang dengannya. Andai saja…" Dyo menggantungkan kalimatnya membuat Kai tiba – tiba saja tidak suka dengan segala ucapan Dyo tentang Sehun, bahkan sepertinya Kai mulai tidak suka kedekatan Dyo dengan Sehun.
"Andai apa huh?" Tanya Kai. Dyo memutar bola matanya dan memainkan telunjuknya di dada Kai.
"Andai saja aku lebih dulu mengenal Sehun, Andai saja aku tidak bersamamu, Andai saja…"
"BERHENTI!" Bentak Kai. Dyo menghentikan gerakan tangannya dan menatap Kai dengan wajah memerah karena marah.
"Andai saja…"
"Berhenti." Sergah Kai kasar.
Dyo kembali memainkan jari terlunjuknya didada Kai tanpa menatap pria itu.
"Dyo…" Panggil Kai dengan suara yang melembut. Kai mengelus pelan rambut Dyo membuat wanita itu menatapnya. "Apa kau mengatakan itu dengan serius? Maksudku apakah kau menyukai…"
"Tidak." Potong Dyo. "Aku hanya bercada." Ucap Dyo sambil tersenyum. Matanya memancarkan kejujuran tanpa kebohongan sedikitpun. Kai mengangguk. Dia percaya.
"Kalau begitu apa tujuanmu mengatakan hal itu?" tanya Kai sambil menaikan sebelah alisnya. Dyo menghela nafas dan mengalihkan pandangannya dari Kai. Jarinya kembali menelusuri dada Kai dan beralih ke bahu Kai yang masih terbalut piyama.
Dyo tersenyum. "aku hanya ingin kau sadar. Kau tau?" Dyo menghela nafas berat. Dia mengigit bibirnya pelan. "kau tau… kau hampir menjadi seorang appa…" Ucap Dyo mengalihkan pandanganya kesamping. Dia tak ingin menatap Kai. "…aku hanya ingin kau menjadi ayah yang baik, yang bisa mendidik anaknya…" Lanjut Dyo dalam bisikan. Dyo mengigit bibirnya lebih kuat. Dia mencoba menahan tangisannya.
"tapi aku sadar, itu masih dalam batasan kata 'hampir.' Hampir…" Dyo menghembuskan nafas berat. "…hemmm, hampir masih terlalu ja…"
Seketika itu juga Kai memeluk Dyo. Sang wanita memandang lurus kedepan. Pandangan kosong. Tapi detik berikutnya, air mata menetes dengan sebuah isakan yang menyertainya.
"maafkan aku." Bisik Kai. "ini salahku yang tak bisa menjagamu dengan dia." Dyo menggeleng pelan.
"Ini bukan salahmu, tidak ada yang bisa disalahkan disini. Kita sudah membahasnya. Hanya saja…" Dyo bungkam. Hanya saja itu akan selalu teringat dalam bekanku. Lanjut Dyo dalam hatinya.
"terserah apa katamu. Tapi aku hanya ingin meminta maaf karena tak bisa menjagamu." Ucap Kai sambil mengeratkan pelukannya.
Dyo menangis. Entah sudah berapa kali dia mencoba melupakan hal itu dan entah sudah berapa kali juga dia menangis karenanya.
Setelah beberapa menit mereka berpelukan dan Dyo menumpahkan semua air matanya, barulah wanita itu mendongakkan wajahnya dan menatap Kai.
"Maafkan aku. Aku sama sekali tidak ingin membuatmu marah. Aku hanya kembali teringat…" Dyo tidak meneruskan perkataannya dan mengalihkan pandangannnya.
Kai mengecup pipi Dyo. "Aku mengerti, kejadian itu memang sulit untuk dilupakan. aku mengerti. Sangat, mengerti." Ucap Kai kembali memeluk Dyo.
~My Wishes~
Luhan tengah berada di kampusnya. Dia masih sibuk dengan beberapa tumpukan buku dimejanya. Luhan memang sudah selesai dengan semua mata kuliahnya hari ini, tapi sayang dia memiliki banyak sekali tugas dari dosennya. Luhan sempat menggerutu pelan saat dosennya memberikan tugas sebanyak itu.
Dan sekarang Luhan masih harus mengerjakan semua itu. Wanita itu beberapa kali membuka – buka halaman dan menulis beberapa kalimat dibukunya. Lelah? Tentu saja, apalagi dia sudah melakukan hal itu selama hampir 3 jam lamanya.
Luhan menyandarkan badannya di punggung sofa dan memejamkan mata. Membiarkan matanya beristirahan untuk sesaat. "Dan sekarang aku masih harus membaca semuanya." Gumam Luhan pelan sambil memijat pelipisnya yang terasa berdenyut.
Suara orang berlaliran terdengar di sepanjang perpustakaan membuat Luhan kembali membuka mata dan melihat siapa yang membuat kegaduhan di perpustakaan ini. Matanya langsung menangkap dua orang yang sudah sangat dia kenal. Dyo dan Kai. Luhan menghela nafas panjang dan kembali menutup matanya.
"Dasar mereka itu…" Gumam Luhan. Tak lama kemudian Dyo dan Kai sampai dihadapan Luhan yang masih menutup matanya.
"LU!" Pekik Dyo. Sontak semua orang memandang kearahnya dan… "sssttttt… ini perpustakaan." Dyo baru sadar akan hal itu, diapun membungkuk beberapa kali meminta maaf.
Luhan kembali menghela nafas panjang dan membuka matanya menatap dua orang sahabatnya yang sudah duduk dihadapannya. "ada apa dengan kalian?" Gumam Luhan.
"Baca ini." Ucap Kai sambil menyodorkan sebuah majalah yang ada ditangannya. Luhan membalikan majalah itu. Matanya membelalak kaget.
Cover majalah itu adalah Sehun dan dirinya. Oh dear… Luhan mengangkat kepalanya menatap kedua sahabtanya. "Kita bicarakan diluar." Ucap Luhan, membereskan semua peralatannya dan langsung pergi bersama Dyo dan Kai.
~My Wishes~
Sekarang mereka sudah berada di kediaman Luhan. Mereka bertiga menatap majalah itu dengan nanar. Berita tentang dia dan Sehun ini akan menjadi masalah besar. Luhan mengerutkan keningnya mencoba mencari cara agar beirta ini tak bisa terdengar oleh orang tuanya yang ada di New York sana.
"jam berapa sekarang?" Tanya Luhan. Dyo menatap jam yang melingkar ditangannya.
"jam satu." Jawab Dyo. Luhan mengangguk singkat. "Perbedaan waktu antara Seoul dan New York itu hampir 7 jam lebih, mungkin disana masih sangat pagi." Gumam Luhan pada diirnya sendiri.
"Jadi apa yang akan kita lakukan?" Tanya Dyo. "Apa Sehun sudah tau masalah ini?" Tanya Kai. Luhan menghela nafas panjang mendengar dua pertanyaan itu. "Aku berharap Sehun belum mengetahui berita ini." Ucap Luhan.
"kalian akan membantuku kan?" tanya Luhan pada kedua orang sahabatnya. Dyo mengangguk dan mengusap tangan Luhan pelan. "Tentu saja, kami akan selalu membantumu." Ucap Dyo.
~My Wishes~
Luhan, Dyo dan Kai terus berupaya menghilangkan berita itu, mereka datang kebeberapa majalah agar berhenti menerbitkan majalah yang berisi tentangnya, tentu saja hal itu tidak gratis, Luhan harus membayar sejumlah uang pada perusahan itu.
Semua upaya sudah dilakukannya tapi sayang mereka melupakan satu hal. Internert. Mereka lupa akan teknologi jaman sekarang yang memang sangat pesat. Luhan baru sadar ketika mereka sudah selesai mengurus masalah dengan perusahaan majalah yang ada di Seoul.
"Bagaimana aku bisa melupakan hal itu." Ucap Luhan sambil membuka Tablet PC miliknya. Dan seperti apa yang sudah dia duga, beritanya sudah menyebar luas. Dan sekarenag tidak ada lagi yang bisa dilakukan Luhan untuk menutupi berita ini.
Luhan melirik jam yang ada di tangannya. Oh dear… dia yakin kalau sekarenag orang tuanya pasti sudah bangun dan mereka akan-
Menelphonenya.
Luhan menatao nanar ponselnya yang terus berdering karena ada panggilan masuk. Dan jujur dia sama sekali tidak mau melihat siapa yang menelphonenya karena dia sudah tau kalau itu adalah… Ummanya.
"Angkat dulu saja, jika tidak masalahnya akan semakin rumit." Usul Dyo. Luhan menghembuskan nafas berat dan mengangguk.
"Yeo…"
"LUHAN! WHAT HAVE YOU DONE?" Pekik Ummanya membuat Luhan harus menjauhkan ponsel itu dari telinganya.
"Wae umma?" Tanya Luhan.
"Appa maksud semua berita di internet itu? Kau berkencan dengan Pria? Bukankah dia yang waktu itu ada di ulang tahunmu? Bukankah dia temanmu? JAWAB UMMA!" Pekik Tao semakin menjadi – jadi.
"Bagaiman aku akan menjawab jika umma terus berbicara." Ucap Luhan.
"Baiklah, sekarenag jelaskan semuanya." Ucap Tao. Luhan mengangguk walaupun Tao tidak akan melihatnya.
"Mianhae, Luhan tidak tau kalau akan terjadi hal seperti ini." ucap Luhan dengan menyesal.
"JADI SEMUA BERITA INI BENAR?"
"Ne. Mianhae umma." Ucap Luhan. Dyo yang ada disampingnya mengusap pelan punggung Luhan, sedangkan Kai hanya bisa menepuk pelan pundak Luhan.
"Umma tidak menyangka kau, anak umma, melakukan hal itu. Kau tau itu hal yang salah, dan kau sendiri tau kalau kita dari keluarga atas dan dengan adanya berita ini... hahhh… (menghela nafas)… Appamu sangat marah besar."
Luhan tau, tanpa diberi tau oleh ummanyapyn Luhan tau kalau Appanya akan marah besar, apalagi dengan berita seperti itu.
"Mianhae." Hanya kata itu yang bisa Luhan ucapkan.
"Bersiaplah, Umma dan Appa akan pulang besok." Ucap Tao. What? PULANG? YANG BENAR SAJA? Pekik Luhan dalam hatinya.
"U-umma tapi… jangan… aku bisa mengatasinya sendiri." Ucap Luhan.
"Tidak, ini bukan keputusan Umma. Appamu yang memutuskan, jadi bicaralah pada appamu." Ucap Tao.
"Tapi… Umma tau bagaiman jika appa sedang marah, aku tidak bisa berbicara dengannya. Ayolah umma…"
"Tidak, umma tidak bisa membantumu. Kita harus cepat – cepat menyelesaikan masalah ini, umma tidak mau keluarga kita di cap tidak baik dimasyarakat." Ucap Tao. Dan dengan itu Tao memutuskan panggilangnya.
"Umma! Umma! Umma!"
Luhan menjatuhkan ponselnya di sofa, dia menutup wajahnya dengan bantal. Sekarang tidak ada yang bisa dia lakukan. Semuanya sudah terlambat. Jika Appanya datang itu sama saja dengan neraka. Dia tidak mau membayangkan bagaimana nanti Appanya yang marah besar. Dia terlalu takut, Karena jika appanya marah dia akan terlihat sepeti naga yang mengeluarkan api dari mulutnya.
Tiba – tiba saja ponselnya kembali berdering. Luhan segera melihat siapa yang menelphonenya. Sehun. Tanpa pikir panjang Luhan langsung mengangkat telphonenya.
"SEHUN!" Pekik Luhan dengan suara yang serak.
"Dimana kau sekarang chagi?" Tanya Sehun.
"Aku dirumah, disini ada Kai dan Dyo juga." Jawab Luhan.
"baiklah, tunggu aku disana…. Chagi?"
"Ne?"
"Mianhae."
Sehun menutup telphoennya sedangkan Luhan mulai menurunkan ponsel itu dari telinganya. Dia menatap Dyo yang ada disampingnya. "eotteoke?" Bisik Luhan. Dyo yang ada disana memeluk Luhan dan membiarkan sahabatnya itu menangis dipundaknya.
Dyo menatap Kai yang memasang wajah sedih. Dyo menatap Kai mencoba bertanya apa yang sekarenag harus mereka lakukan. Tapi Kai menggeleng pelan. Memang tidak ada yang bisa mereka lakukan lagi, selain satu… menunggu Kris dan Tao yang tak lain Ayah-Ibu Luhan pulang, kembali ke Seoul.
~My Wishes~
Saat mendengar ketukan dipintu Luhan langsung berlari dari pelukan Dyo menuju pintu. Dia membuka pintu itu lebar – lebar dan menemukan Sehun dengan tangan yang menggenggam majalah yang sudah lusuh ditangannya.
Tanpa mengatakan sepatah kata apapun, Sehun memeluk Luhan dengan erat yang dibalas tak kalah eratnya oleh Luhan.
"maafkan aku membuatmu terkena masalah." Bisik Sehun. Luhan menggeleng pelan.
"Tidak, aku yang bersalah disini." Sangkal Luhan. Sehun meregangkan pelukannya dan menatap Luhan. Ibu jari Sehun menuntunnua untuk menghapus air mata yang terus mengalir di pipi Luhan.
"Semua sudah terjadi. Kita berdua salah disini jadi kita lewati berdua oke?" Ucap Sehun sambil membawa Luhan masuk kedalam rumahnya.
"Kau sudah mendengar beritanya?" Tanya Kai saat Luhan dan Sehun ikut duduk disofa. Sehun mengangguk, sebelah tangannya masih dipakai untuk merangkul pinggang Luhan.
"Aku mendengar dari model yang sedang melakukan sesi pemotretan. Dan saat aku mendengar berita ini aku langsung datang." Kai mengangguk. Tiba – tiba saja Jongdae datang dengan terengah – engah.
"Nyonya… maksudku Luhan… Diluar banyak sekali wartawan yang mencoba untuk masuk." Luhan membelalak dan satu hal lagi yang luput dari perhatiannya. Wartawan.
"Mereka bertanya soal berita…" Jongdae menatap Luhan dan Sehun tak yakin. "…Maaf saya lancang." Ucap Jongdae segera menundukan kepalanya.
"Gwenchana Jongdae-ah. Ini memang benar terjadi…" Ucap Luhan sambil menghela nafas sesak. Sehun yang ada disampingnya mencoba untuk menenangkan.
"Jongdae?" Panggil Luhan.
"Ne?"
"Bisakah kau bicara dengan mereka kalau saat ini Luhan dan semua orang yang ada disini tidak ada, katakan kalau kami ada di…. Indonesia." Ucap Luhan.
"Indonesia?" Luhan mengangguk. "Itu salah satu negara yang ada di asia. Katakan kalau Luhan sedang memiliki urusan di Indonesia." Jongdae mengangguk dan segera melesat keluar.
"Kenapa harus Indonesia?" Tanya Dyo heran. Karena wanita itu jarang sekali mendengar negara Indonesia.
"Karena aku yakin tidak akan ada yang mencariku sampai sana." Jawab Luhan disambut dengan anggukan oleh Sehun.
"Sekarang masalahnya adalah Appa dan Umma akan datang besok." Gumam Luhan setelah beberapa saat suasana hening. Sehun menghela nafas panjang dan kembali membawa Luhan kedalam dekapannya.
"Maafkan aku sudah membuatmu terlibat dalam masalah." Gumam Sehun. Luhan menggeleng pelan. "Bukan itu intinya…." Luhan mendongakan kepalanya menatap Sehun. "Aku sama sekali tidak perduli dengan berita di majalan seperti ini, aku tidak perduli apa yang akan orang bicarakan tentangku, bagaimana aku dimata mereka, aku tidak takut jika seluruh dunia menghakimiku hanya saja…." Luhan kembali menatap Sehun dengan air mata yang mulai menutupi pandangannya.
"…Hanya saja aku takut kita tak akan bisa bersama lagi." Suasana seketika itu juga hening. Dyo, Kai dan Sehun tidak pernah berpikir tentang hal satu itu.
"… karena aku yakin dengan berita seperti ini, Appa akan memisahkan kita berdua… hisk… hsik…" Isakan mulai keluar disela – sela pembicaraannya. "…Aku tak mau hal itu sampai terjadi."
"Ssstttt…" Sehun memeluk Luhan semakin erat dan membiarkan wanita itu menangis di bahunya.
"Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Percayalah…"
Luhan mengangguk dan membalas pelukan Sehun, semakin erat, seakan – akan dia tak ingin melepaskan pria itu. Sedangkan Dyo dan Kai hanya bisa menatap dengan prihati Sehun dan Luhan bergantian, andaikan mereka bisa membantu, mereka akan melakukan apa saja untu sahabat mereka, tapi sayang takdir berkata lain.
Sedangkan Sehun, dia menatap majalah yang tergeletak dimeja dengan pandangan marah. Huruf yang di cetak tebal itu seakan – akan sedang mengejeknya. Bagimana tidak dimajalah itu tertulis…
"Seorang Luhan anak dari pengusahan yang sangat kaya yang tak lain adalah Xi Kris memasuki sebuah kamar disalah satu apartemen bersama seorang pria yang tak dikenal."
Sehun bersumpah dia akan selalu melindungi Luhan dan melakukan apapun untuk bersama Luhan , karena sepertinya hanya ada satu cara untuk menyelesaikan masalah ini dan dia harus merelakan…. Mimpinya.
.
.
.
~To Be Continued~
