Harap baca sampai yang paling bawah XD

.

.

Chapter 14

.

.

Suzuna dengan panik berjalan di lorong rumah sakit mencari kamar yang dituju. Dua jam yang lalu, dia mendapatkan kabar buruk bahwa Mamori jatuh dari tangga. Dia langsung menuju ke Fukuoka dengan kereta cepat. Dan di sinilah dia, berharap Mamori baik-baik saja.

Suzuna segera membuka pintu kamar saat sampai. Dia melihat wanita berusia tiga puluh tahunan yang sedang duduk di kursi. Di depannya terbaring Mamori yang masih tidak sadarkan diri.

"Bagaimana keadaannya?" tanya Suzuna.

"Anezaki-san baru saja dipindahkan dari ruang operasi," jawabnya. "Kata dokter kepalanya hanya gegar ringan. Kita hanya menunggu sampai dia sadar."

"Memang apa yang terjadi?"

"Dia terguling di tangga. Dokter juga bilang, tangannya kirinya ada yang retak. Dan yang lebih parah... Anezaki-san kehilangan bayinya."

.

.

Suzuna memandangi Mamori. Air matanya mengembang melihat Mamori yang tidak berdaya seperti ini. Bagaimana orang yang baik seperti Mamori bisa kehillangan segalanya. Dia kehilangan kedua orangtuanya. Dan sekarang, dia kehilangan bayinya. Suzuna menghapus air mata yang mengalir di pipinya.

Sena yang berdiri di samping Suzuna hanya bisa merangkul pundaknya. Sena pun langsung melesat ke Fukuoka setelah selesai dari latihannya.

"Kamu sudah menghubungi You-Nii?" tanya Suzuna.

"Tadi rumah sakit sudah menghubunginya," jawab Sena. "Aku juga meneleponnya lagi, tapi sepertinya dia sedang jalan kesini, karena sekarang ponselnya tidak aktif."

"Atau dia tidak peduli," gumam Suzuna.

"Apa?" tanya Sena tidak mendengar perkataan Suzuna barusan.

Suzuna menggeleng sambil menyeka air matanya lagi.

"Aku akan belikan air," sahut Sena. Dia lalu menutup pintu dari luar. Belum sempat dia melangkahkan kakinya, Sena melihat seseorang yang berlari ke arahnya. "Oh, Hiruma-san."

Hiruma tidak peduli dengan Sena yang melihatnya. Dengan cepat Hiruma memnggeser pintu kamar. Suzuna menoleh dan bangun dari duduknya melihat Hiruma, dengan wajah panik yang seumur hidup belum pernah dilihatnya.

"You-Nii," sahutnya.

Pandangan Hiruma tetap terpaku pada sosok yang tengah terbaring di ranjang. Mamori terlihat sangat tenang di sana, yang membuat Hiruma tidak bisa menahan kegelisahannya. Kaki Hiruma terasa lemas, dan dia berlutut di samping ranjang sambil tangannya meraih tangan Mamori. Hiruma menunduk sambil mengatur napasnya. Dia menggengam erat tangan Mamori, berharap rasa ketakutannya bisa hilang.

Suzuna dan Sena hanya bisa berdiri terpaku memandangi Hiruma yang tidak seperti biasanya. Hiruma masih mengenakan jaket dan celana trainingnya. Bahkan dia masih membawa tas besar olahraganya. Dan Suzuna melihat tangan yang gemetaran itu, mendengar tarikan napas yang tidak beraturan itu. Suzuna tidak percaya dengan apa yang dilihatnya, bahwa seorang Hiruma Youichi, bisa secemas itu memikirkan orang lain.

"Duduklah You-Nii," sahut Suzuna.

Hiruma hanya menoleh melihat kursi sambil bangkit dari berlututnya. Dia duduk di kursi itu sambil tidak melepaskan tangan Mamori.

Tanpa kata-kata, Suzuna berjalan ke pintu sambil meraih lengan Sena dan mengajaknya keluar. Dia lalu menutup pintunya perlahan.

Hiruma masih terdiam memandangi wajah Mamori. Dia bukan orang yang akan mengeluarkan kata-kata kesedihan pada saat situasi seperti ini. Tapi dia hanya berdoa dalam hatinya. Ya, setan ini memohon kepada Tuhan agar tidak membawa malaikatnya. Dengan merelakan segalanya, Hiruma memohon agar Mamori bisa kembali ke sisinya.

Dengan satu tangan yang masih menggenggam tangan Mamori, Hiruma menyentuh pipi Mamori dengan tangan yang lainnya. Merasa menyesal bagaimana dia selalu menahan keinginannya untuk mengusap kepalanya, menggenggam tangannya, mencium keningnya, dan memeluknya. Bagaimana selama ini dia tidak berani mengungkapkan perasaannya.

"Sadarlah, Mamori."

.

.

Hiruma membuka matanya perlahan. Entah sudah berapa jam dia terlelap di samping ranjang Mamori. Dia bahkan tidak sadar bahwa dirinya sudah tertidur. Hiruma mengangkat kepalanya. Dia merogoh kantung jaket mencari ponselnya. Sudah jam dua malam.

"Kau sudah bangun?"

Hiruma mendongak mendengar suara yang lemah itu. Kaget dan tidak percaya, Hiruma menggenggam tangan Mamori sambil menyentuh pipinya, meyakinkan diri kalau semua ini nyata. Mamori tersenyum memandang Hiruma, tepat di kedua bola matanya.

"Aku baik-baik saja," sahutnya, menjawab kekhawatiran Hiruma.

"Kapan kau sadar?" tanya Hiruma, ketika bisa mengeluarkan suaranya kembali.

"Satu jam yang lalu mungkin."

"Kenapa tidak membangunkanku," ujarnya. Hiruma lalu menekan bel dokter untuk memeriksa kondisi Mamori.

Selang beberapa menit, dokter datang bersama seorang perawat. Hiruma melihat dengan cemas saat dokter itu memeriksa kondisi kesehatan Mamori. "Kondisinya sudah stabil, namun dia akan merasakan sedikit pusing jika menggerakkan kepalanya," ujar dokter. Dia lalu menoleh ke Hiruma. "Anda suaminya?"

"Ya," jawab Hiruma.

"Ikut saya sebentar."

Mamori melihat Hiruma keluar bersama dokter dan meninggalkannya sendirian. Dia lalu memandang ke sekeliling, bertanya-tanya berapa lama dia tidak sadarkan diri. Saat pertama kali membuka matanya, tentu saja dia merasakan kepala sebelah kirinya berdenyut. Mamori hendak mengangkat tangan kirinya, namun dia tidak bisa menggerakkannya. Tangannya terasa ngilu. Dia melihat tangannya sudah diperban dengan penyangga. Mamori lalu melihat ke sisi kanannya. Dia melihat seseorang disana, tengah terlelap menaruh kepalanya di atas ranjang. Dan Mamori baru menyadarinya, kalau orang itu terus memegangi tangannya.

Mamori tersenyum. Dia tahu siapa orang ini. Mamori lalu membalas genggamannya berharap bisa membangunkannya. Tapi niat Mamori tidak terlaksana karena dia tidak tega membangunkannya. Akhirnya Mamori hanya memandangi wajah Hiruma lama. Dia akan menyimpan dalam ingatannya, seperti inilah wajah tidur Hiruma.

Mamori tersadar dari lamunannya kembali saat pintu terbuka dan Hiruma masuk kemudian menutupnya kembali.

"Apa kata dokter?" tanya Mamori.

"Tidak apa-apa," ujar Hiruma. "Masih jam dua. Kau tidur lagi saja."

Mamori menggelengkan kepalanya. "Aku sudah tidur dari tadi," jawabnya. "Bantu aku," ujarnya sambil mengisyaratkan agar Hiruma membantunya menaikkan tempat tidur agar dia bisa bersandar. "Apa yang terjadi dengan tangan kiriku?"

"Hanya terkilir. Dalam beberapa hari juga akan sembuh." Hiruma lalu kembali duduk.

Mamori memperhatikan pakaian yang dikenakan Hiruma. "Apa kamu langsung kesini sehabis latihan?"

Hiruma tidak langsung menjawab. Walau pada kenyataannya memang seperti itu, namun Hiruma tidak mau mengakuinya. "Dokter bilang kau tidak boleh banyak bicara."

Mamori tertawa kecil melihat Hiruma mengalihkan pembicaraan mereka.

"Apa tidak bisa kau berhenti bekerja? Pindahlah ke Tokyo dan tinggal bersamaku," sahutnya serius.

"Apa aku belum bilang kalau aku dipindahtugaskan ke Chiba?"

"Kau belum bilang."

"Ya. Aku pindah kesana akhir bulan ini."

Hiruma menghela napas. Dia mengenggem tangan Mamori di dalam tangannya. "Jangan pernah membuatku seperti ini lagi, kau paham? Jangan pernah."

Mamori hanya tersenyum. Dia tidak mengerti mengapa Hiruma bertindak seperti ini. Mengapa dia sekhawatir ini dengan keadaan Mamori.

Hiruma terdiam beberapa saat dan merasakan ponselnya bergetar. "Sebentar. Aku ingin menjawab telepon dulu." Hiruma lalu berjalan keluar.

.

.

Lima menit Hiruma berbicara di telepon dengan rekan satu timnya, Furukawa, yang selalu menelepon tanpa melihat waktu dan tempat. Setelah selesai, Hiruma menyandarkan punggungnya di dinding sebelah pintu kamar Mamori. Dia mengingat apa yang dikatakan dokter tadi, mengenai kondisi Mamori, dan tentang kegugurannya. Mengingat kondisi Mamori yang seperti ini, tidak memungkinkan untuk mendengar kabar buruk. Selain itu juga, Hiruma tidak ingin Mamori tahu karena alasannya sendiri. Jika Mamori tahu, dia pasti akan segera ingin berpisah darinya. Karena sudah tidak ada penghubung di antara mereka. Mamori pasti akan melakukannya. Mengingat mereka menikah karena adanya bayi itu.

Tapi cepat atau lambat, Mamori pasti akan mengetahuinya. Tapi Hiruma belum siap untuk memberitahukannya sekarang. Hiruma lalu menghela napas. Dia tidak pernah merasa kebingungan seperti ini.

Hiruma menoleh mendengar suara langkah kaki di lorong yang mendekat ke arahnya.

"You-Nii," sahut Suzuna.

Hiruma lalu menegakkan punggungnya. "Dia sudah sadar. Bisa kau menemaninya sebentar?"

"Syukurlah," ucap Suzuna gembira.

Suzuna mengangguk dan segera masuk ke dalam diikuti dengan Sena.

Mamori menyambut dengan senyuman saat melihat Suzuna dan Sena datang.

"Mamo-Nee," rengek Suzuna yang ingin sekali memeluk erat Mamori, tapi tidak bisa dilakukannya karena kondisi Mamori.

Mamori menggenggam tangan Suzuna. "Maaf sudah membuatmu khawatir," ujarnya. Dia lalu beralir kepada Sena. "Apa tidak apa-apa Sena kamu ikut kemari? Bagaimana dengan latihannya?"

"Jangan bicara seperti itu Mamo-Nee. Kalau terjadi apa-apa padamu, bagaimana aku bisa memikirkan latihan?"

Mamori tertawa. Dia lalu melihat ke arah pintu. "Apa kalian melihat Hiruma saat jalan kesini?"

Suzuna mengangguk. "Dia tadi di luar. Dan sepertinya ingin membeli sesuatu."

Mamori terdiam beberapa saat lalu melihat Sena. "Sena, bisa kamu tolong tunggu diluar? Aku ingin mengganti bajuku," sahut Mamori.

"Oh ya. Tentu saja Mamo-Nee."

Mamori lalu melihat ke arah Sena sampai dia keluar kamar dan menutup pintunya kembali.

"Kamu ingin ganti baju Mamo-Nee? Dimana baju gantinya."

Mamori tersenyum, menggenggam tangan Suzuna dan mengarahkannya untuk duduk. "Ada yang ingin aku bicarakan," ujarnya.

Suzuna melihat pandangan serius Mamori dan menunggunya bicara.

"Apa aku keguguran Suzuna?" tanya Mamori langsung.

Suzuna terhenyak mendengarnya. Tidak percaya dengan pertanyaan itu. "Itu... hmm.."

"Katakan saja Suzuna," lanjut Mamori. "Aku ingat aku jatuh dari tangga. Jadi aku sudah siap mendengar kenyataan buruk sekali pun."

Suzuna menghela napas berat. Dia tidak tega mengatakan ini. "Ya, Mamo-Nee. Dokter yang bicara pada tetanggamu tadi bilang seperti itu."

Mamori memandang sedu. Air mata menggenang di bola matanya. Dia berusaha kuat. Seperti yang dikatakannya, Mamori harus siap menerima kenyataan pahit ini.

"Satu lagi, Suzuna," lirihnya lagi. "Apa Hiruma tahu tentang ini?"

"Aku belum memberitahunya," jawab Suzuna.

"Jangan bilang padanya," sahut Mamori.

"Kenapa Mamo-Nee? Bukannya dengan begitu kalian bisa berpisah?"

Mamori menggeleng, mengusap air mata yang perlahan menetes di ujung matanya. "Jangan bilang padanya Suzuna," balasnya. "Jangan katakan apa-apa."

Suzuna terdiam, mencerna perkataan Mamori dan memandangi kesedihannya. Dia mengerti sampai dimana Mamori bisa menanggung semuanya. Mamori kehilangan bayinya. Suzuna bisa melihat bagaimana usaha Mamori menerima kenyataan itu. Dan sekarang, kesedihan itu sudah mencapai batasnya, Mamori tidak sanggup menahannya jika dia harus kehilangan seseorang lagi. Dan tentu Suzuna tahu pasti apa alasannya.

"Kamu mencintainya, Mamo-Nee?" ucapnya lembut.

Mamori tidak menjawab. Namun air mata itu menjawab semuanya.

"Tidak apa-apa, Mamo-Nee," sahut Suzuna menenangkan. Semua akan baik-baik saja. Aku tidak akan bilang pada You-Nii. Jadi kamu tidak perlu menangis."

.

.

Tiga hari berlalu. Mamori sudah siap keluar dari rumah sakit yang membosankan baginya. Kondisi kesehatannya cepat membaik. Tangan kirinya sudah tidak terasa sakit lagi walau kaki kirinya masih diperban. Tapi Mamori bisa melakukan aktivitasnya karena orang-orang yang setia menemaninya. Hiruma selalu menjaganya siang dan malam, sementara pada siang hari Suzuna menemaninya sampai Sena menjemputnya.

Hiruma memberikan dua tas besar kepada sopir taksi. Setelah itu dia berjalan ke Mamori yang duduk di kursi roda. Hiruma berlutut di depan Mamori dan memandanginya. "Kau siap?" ujarnya tersenyum bersemangat.

Mamori balas tersenyum dan merangkul leher Hiruma.

Hiruma mengangkat Mamori dengan mudah dan memindahkannya ke dalam kursi belakang taksi.

"Terima kasih suster," sahut Mamori dari jendela kepada perawat yang mengantarkannya dan membawa kembali kursi roda ke dalam.

Hiruma mengitari belakang taksi dan duduk di sebelah Mamori. Setelah itu taksi melaju menuju apartemen Mamori.

.

.

Hari sudah hampir malam saat mereka tiba di tempat yang dituju. Mamori merangkul leher Hiruma di punggungnya saat mereka menaiki tangga menuju apartemennya.

"Kau harus segera pindah," sahut Hiruma.

"Aku baru saja membayar uang sewa sampai bulan depan," jawabnya.

Mamori melihat ke depan saat mereka tiba di lorong dan melihat tasnya yang dibawakan oleh supir taksi tadi di depan pintu apartemen.

"Kau akan menginap?" tanya Mamori sambil diturunkan dari punggung Hiruma saat mereka tiba di pintu dan hendak membuka kunci apartemen.

"Aku akan ke Tokyo jam 8 nanti."

Mamori merasakan kekecewaan dalam dirinya. Dia lalu membuka pintu dam berjalan hati-hati dengan memggandeng tangan Hiruma.

"Aku sudah menelepon si gila skate itu untuk menemanimu."

"Hmm," sahutnya. Mamori dengan usahanya sendiri, berjalan perlahan-lahan ke kamarnya dan diikuti Hiruma di belakangnya yang sudah membawa dua tas besar dari luar tadi. "Taruh saja disana," sahutnya menunjuk ke depan lemari.

"Istirahatlah," ujar Hiruma, membantu Mamori merebahkan tubuhnya.

"Kau mau menemaniku sampai Suzuna datang?" pinta Mamori lembut, berharap Hiruma tidak menolaknya dan tidak mempertanyakan permintaannya. Dia hanya ingin bersikap egois sekali saja, bersama Hiruma dan berada di dekatnya.

"Tidurlah. Aku akan menemanimu," jawab Hiruma, duduk bersandar di tempat tidur dengan Mamori berbaring di sebelahnya.

"Terima kasih," lirihnya sambil mendekat ke Hiruma. Mamori memejamkan matanya perlahan saat merasakan tangan Hiruma yang mengelus pundaknya dan tangan yang lain menggenggam tangannya.

Dan tanpa Hiruma tahu, Mamori perlahan tertidur dengan air mata yang menetes ringan dari ujung matanya.

Satu jam berlalu sampai Hiruma mendengar suara bel berbunyi. Perlahan Hiruma memindahkan Mamori yang merangkul pinggangnya agar tidak terbangun. Hiruma lalu beranjak dari kasur dan membukakan pintu untuk Suzuna.

"Mamo-Nee mana?" tanya Suzuna sambil meletakkan tas di sofa.

"Dia tidur di dalam," ujar. "Tunggu sebentar disini," sahutnya lagi lalu masuk ke dalam kamar dan menutup pintunya.

Hiruma mengambil jaketnya dan menghampiri Mamori. Dia memandanginya dan mengusap lembut rambutnya. Hiruma perlahan menunduk dan mencium kening Mamori. Dia terhenti saat melihat Mamori bergerak dan membuka matanya.

"Suzuna sudah datang?" tanya Mamori lirih.

"Aku pergi dulu," jawabnya, masih mengusap kepala Mamori.

Mamori meraih tangan Hiruma yang bebas lalu menggenggamnya.

Hiruma melihat segeluntir air mata jatuh dari ujung mata Mamori, bertanya-tanya mengapa dia meneteskan air matanya.

"Aku akan kembali kesini besok," sahutnya.

Mamori mengangguk lemah memahami, tidak bisa lagi menyembunyikan kesedihan dari wajahnya.

Hiruma menunduk lagi dan mengecup kening Mamori lembut. Hiruma menatap matanya, berusaha mencari kepastian sebelum mendekat bibir mereka dan menciumnya tanpa keraguan.

Hiruma menatap Mamori lagi, meyakinkan dirinya bahwa Mamori baik-baik saja sebelum dia pergi.

"Sampai besok," sahut Hiruma dan perlahan melepaskan tangan Mamori.

Suzuna sudah menunggu di depan pintu saat Hiruma keluar.

"Pastikan dia baik-baik saja," ujar Hiruma kepada Suzuna.

"Tenang saja You-Nii. Aku akan menjaganya," balas Suzuna.

Setelah itu Hiruma membuka pintunya dan pergi kembali ke Tokyo.

.

.

To Be Continue

.

.

Catatan Kecil :

Mungkin kalian sudah bosan mendengar kata maaf dari saya. Tapi saya benar-benar ingin minta maaf. Pertama karena saya update terlalu lama. Kedua karena kalian kecewa dengan chapter sebelumnya.

Yang pasti saya punya alasan untuk keduanya. Yang pertama kalian sudah pasti tau. Dan untuk alasan yang kedua. Ada beberapa alasan mengapa kalian kecewa. Salah satunya karena kurangnya adegan HiruMamo disana. Saya paham. Tapi saya sengaja membuat seperti itu, karena saya pikir cerita akan membosankan dan tidak ada perkembangan kalau hanya menampilkan adegan romantis saja. Butuh adanya variasi dan pergolakan. Jadi makanya saya buat seperti itu.

Nah, sebagai bentuk membayar rasa kecewa kalian, saya menulis chapter ini dengan sedikit kesulitan bagaimana kedua karakter tersebut bisa menciptakan sesuatu yang romantis (apa sih). Jadi harap maklum kalau kalian masih kecewa dan tidak sesuai dengan harapan kalian.

Tapi saya harap kalian enjoy dengan chapter ini dan memberi kritik agar saya bisa membuat cerita ini tetap menarik.

Okay guys... jangan lupa review-nya XD

Salam : De

.

.

.

Note : Saya akan update tiga minggu lagi kalau ada 30 orang yang me-review chapter 14 ini.