-Kembalinya dewa petir-
Di lapangan mereka mendapatkan monster yang begitu Kuat, sementara Mia di rumah sakit kabur melarikan diri. Mia ingin meninggal secara alami tidak meminum obat herbal, dia merangkak menuju kursi roda. Ventilator yang terpasang di lehernya sudah di lepas semenjak dia belajar bernapas dengan selang oksigen. Sekarang ia belajar bernapas dengan udara alami sambil merangkak menuju kursi roda layaknya seorang bayi baru lahir. Di lapangan Zen memberi tahu tentang rahasia Zaki dan Elv.
"Sebenarnya gini, ayahnya si Elv menutupi karena istana kayangan sedang ada pemberontak dan dewa langit kabur." Kata Zen.
"Masalahnya aku dan Zen waktu itu menguping pembicaraan mereka ketika menginap di rumah Elv, dan sampai saat ini akhirnya dia muncul," ucap Matsuko seorang magus dan seorang medis. Dia masuk ke team dengan pakaian yang terkena darah.
Entah kenapa tiba-tiba si dewa petir muncul di hadapan mereka, yang sedang di tugaskan mengusir monster dan mencari dewa petir.
"Aku tanya dulu ya, ke Zaki apakah dia mau kembali ke kayangan." Kata Gingga, dia terburu-buru mengobati Zaki.
"Kau ini datang tak di undang pulang tak di antar seperti hantu saja."
Gingga mengobati luka dalam si Zaki walau Zaki kuat dia tetap lemah.
"Waktu itu aku menghilang, karena aku ingin tau siapa suara merdu yang nyanyi di kayangan?" ucap Zaki, dia keringatan karena kehabisan energi.
"Kau tidak tau? Kata Zen semenjak kamu hilang dan menjadi pacarnya si Elv, ayahnya Elv tidak mengizinkan Elv turun ke bumi. Dia harus mengganti posisi ayahnya sebagai peri," Ucap Gingga.
"Gingga… apakah benar si Elv sudah move on?" tanya Zaki kesakitan. Dia kejang-kejang karena mempunyai penyakit Epilepsi. Gingga berusaha mengobati cedera di otaknya Zaki, dengan Shosen jutsu yang pernah di ajari Matsumo atau yang di panggil Amai.
"Semenjak dia putus dari mu Zak, dia jadi tak mau berteman dengan Zen dan Miia," Ucap Gingga.
"Oii Gingga, aku bawa Elv pulang ya panasnya sudah turun."
Zen dan yang lain meninggalkan si Zaki dan Gingga di lapangan, mereka membawa Elv untuk di obati ke tabit. Walaupun panas di badan Elv sudah turun tapi harus di obati.
"Eh ada surat nih dari langit buat mu Elv,"
Kata Zen yang kaget tiba-tiba surat dari langit turun.
Srekkkk!
Surat di buka oleh Elv Zy
To Elv Zy putriku yang manis
Ini ayah,selamat kamu telah berhasil menemukan dewa petir.
Ayah sudah melihat monitor, bahwa kamu dalam luka parah.
Ada obat di klinik yang bisa menyembuhkan peri.
Dan karena kamu telah menemukan Dewa Petir, Level mu naik dari peri perang ke peri komando
From : Ayah
"Ada apa Elv, kamu cengar cengir sendiri," Ucap Zen. Dia heran karena Elv itu suka mendadak moodnya down atau up.
"Ayahku sudah memaafkan ku dan dia suruh aku berobat ke klinik peri dan levelku naik.,"
"Wah, selamat ya kak Elv,"Kata Megu dengan senyum manisnya.
Di tengah lapangan, Ginga dan Matsumo masih melawan monster yang datang satu persatu dari sudut lapangan hingga mencapai lingkaran dalam lapangan. Di bagian paling depan, Matsumo menyerang dengan jurusnya untuk memusnahkan monster yang membandel menebarkan bau busuk menjadi pelemah tubuh. Di depan rumah sakit, Zen dan Arche melihat Mia terjatuh saat menaiki kursi roda, Arche pun berkata kepada Zen untuk segera menolong Mia.
"Zen, umurku tidak akan lama. Aku mengidap tumor otak, mataku buta, dan dokter juga bilang bahwa penyakitku bukan kebutaan dan tumor otak saja. Aku tidak bisa berjalan dengan normal menggunakan kedua kakiku. Aku mengidap Limb-Gridle Muscular Dystrophy 2A. Aku tidak ingin Mia meninggal karena kelelahan mengurusiku, dia tidak boleh lelah sedikit. Karena dia mempuyai penyakit yang lebih sadis dan mematikan dari padaku," ucap Arche. Dia meneteskan air matanya. Dan Zen yang di dekat Arche, berlari ke arah Mia yang terjatuh menaiki kursi roda. Saat itu Mia melihat Zen yang menangis, dia mengelap air mata Zen.
Namun terlepas dari apakah Mia jadi cacat atau mudah pingsan, Zen melihat Mia yang mengelap air matanya dengan senyum walau tubuh Mia rapuh, dan jantungnya lemah. Dalam rumah sakit darurat di samping lapangan ini, Mia yang mengidap penyakit komplikasi dan terminal berobat untuk mengobati luka luar dan dalam. Dan inilah dia, Nona cacat, mengabdi pada kerajaan dan warga desa. Mia menahan sakit sambil menunggu sampai akhirnya dia bisa menaiki kursi roda dengan pertolongan Zen. "Ma-ka-sih…ji-" Mia batuk berdarah dan kejang-kejang, wajahnya pucat. "Ka-kak-ku, Ar-che ke-na-pa di-a ti-dak ke-li-ha-tan?"
Zen tersenyum kepada Mia.
"Ma-af…a-ku….bei…zzzzzzz…." ucapan Mia semakin tidak jelas karena penyakit lyme disease menyerang tubuhnya di saat jantungnya kambuh dan pneumianya kambuh. Mia sebenarnya ingin berbicara bahwa dirinya membuat calon suaminya selalu overview dan overprotektor sehingga dia merasa calon suaminya kerepotan. "Zzzzz….Zzzzzzz…..Zzzzzzz," ucap Mia, tubuhnya kejang-kejang menggigil kedinginan. Zen menangis, krena mengetahui apa yang Mia ucapkan. Dia bisa membaca pikiran dan isi hati Mia. Dia juga dilema karena kebingungan jika dia bilang bahwa Arche belajar jalan di pusat rehabilitasi karena penyakit Muscular Dystrophy 2A nanti malah Mia mengalami serangan jantung, tetapi kalau di sembunyikan Mia sedang butuh semangat kakaknya. Dia akhirnya mempunyai ide, jika Arche sedang di ruang pengobatan bertemu dengan rekannya.
"Sayang, Kakakmu tadi berpesan kepadaku. Bahwa dia sedang ada tamu dari luar negeri di daerah Norwegia. Dokter yang akan menyembuhkan lukamu dan luka kakakmu. Dia pencipta Game ini,"
Zen menyerahkan secarik kertas catatan yang di tulis oleh Arche.
Zen, tolong kamu beritahu adikku bahwa aku tidak bisa menemaninya. Karena ada tamu dari norwegia sang pencipta Game dia juga bisa mengobatiku dan adikku.
Mia terpana tersenyum melihat Zen. "Ta-pi…Ak-"
Mia batuk berdarah dan kejang-kejang lagi. Zen melihat tubuh Mia makin pucat, ia megambil buku sihir untuk menyembuhkan Mia.
Cara mengobati penderita peyakit kronis dan terminal
Obati dengan jutsu Shosen jutsu
Menaruhkan dia di kursi roda
Suntik dengan obat herbal yang di campurkan
Bawa ke ruang UGD untuk di beri pertolongan terakhir.
Kemudian, Zen mengobati Mia sesuai yang tertulis di buku sihir pengobatan: tangannya yang serba guna mengobati luka dalam di kepala dan di jantung Mia, serta memberikan obat bius di tangan Mia, disuntikannya di lengan kanan yang sudah di olesi antiseptik.
Zen terkejut melihat calon istrinya yang duduk di kursi roda dengan keadaan tidak sadarkan diri. Dia Menggendong Mia dengan berlari cepat ke ruang UGD, bahwa dia tidak mau lagi Mia pingsan dan koma selamanya. Dia memencet tombol darurat yang terpasang di ruang UGD, dengan alarm berwarna putih, dan tombol berwarna biru di alarm itu. Kemudian, dia menghentikan pendarahan di tubuh Mia, calon istriya masih belum sadarkan diri, mulutnya mengeluarkan darah karena pendarahan di jantungnya begitu hebat.
Zen melakukan sau-satunya hal yang diketahui setiap kali dihadapkan dengan code blue.
Zen menahan pendarahan dengan sekuat tenaga, petugas medis datang dan memeriksa keadaan Mia. Salah seorang dari petugas medis bertanya kepada Zen.
"Kenapa sampai penyakitnya kambuh lagi?"
"Dia berusaha kabur dari rumah sakit, saat aku di depan rumah sakit aku melihat dia menaiki kursi roda dengan lemas. Saat aku tolong, kodisinya sudah parah. Lalu terjadi code blue," ucap Zen dengan sedih.
Mia memejamkan matanya menahan sakit jantung, dia kesakitan karena jantungnya berdetak lebih cepat memompa darah—tubuh yang kurus, nafas yang pendek, dadanya membiru—hingga dia sampai kejang-kejang dengan mulut yang berdarah dan tekanan darahnya yang menurun sehingga membuat dia kritis. Di ruang UGD, kunang-kunang dan aroma terapi mengobati pernapasan Mia yang pendek. Sebelum pendarahan Mia begitu banyak, semua tenaga medis memasang alat medis di tubuh Mia untuk mengecek kondisi Mia yang sedang kritis.
Zen keluar dari ruang UGD untuk istirahat, menangis seperti bayi di depan ruang UGD yang terdapat kursi. Setelah mengelap air matanya, dia duduk di kursi dan meminum pil penambah energi —seorang lelaki yang dadanya bekas luka sayatan datang menghampirinya. Dia memeluk Zen dan menenangkan Zen yang shock dan menangis. Namun lama-kelamaan, Zen masih belum bisa menghentikan air matanya yang mengalir.
Ketika Zen mengelap air mata, pria yang menemaninya itu tersenyum ke arahnya.
Pamannya tadi mungkin melihat dia menangis, Karena melihat keponakkannya menangisi Mia sahabat baiknya. Mia dan Zen dijodohkan oleh Karai ketika di game. Dia sekarang meminum air putih yang membuatnya tenang. Karai bernapas lega pada keponakannya. Di depan ruang UGD.
Keringat membasahi pakaian Zen. Paman! Mungkin Paman mengetahui spirit Mia dan sifat Mia!
"Zen," pamannya memegang bajunya. Zen melihat pamannya yang memakai kursi roda dan memakai oksigen.
"Paman masih sakit? Jika masih sakit jangan keluar dulu."
Tangan Karai memegang tangan Zen, kedua lelaki itu saling berpandangan, saling meneteskan air mata.
Mereka sedih karena Mia sedang kritis, di ruang UGD.
Kesakitan dan napas pendek, dengan senyuman Karai memberi tahu bahwa Mia mungkin kritis tapi dia mempunyai semangat untuk hidup.
"Jangan sedih nak, kamu kan seorang medis juga. Walau kamu belum cukup kuat, kamu sudah menyelamatkan Mia dari sekarat. Kini dia hanya kritis, berdoa kepada Tuhan supaya Mia sadar," ucap Karai, memeluk Zen. "Ini semua salahku! jika aku tidak menurutinya. Mungkin dia akan sembuh, dan mendapat sepenuhnya perhatian khusus."
"This is not your fault, neither Mia nor Elv, nor Zaki, but these are fates. Zaki reveals himself again to be the God of Thunder because of destiny. Elv, Mia, and the wounded Arche were also destiny. That monster appears that it is also our destiny in this world," ucap pamannya dengan nada England, walau pamannya orang asli jepang. Karai menikah dengan wanita di England. Karai pandai berbahasa England karena istrinya.
