After The Weeding
Novel Remake, karya Kim Ji-Oh
Min Yoongi
X
Park Jimin
MINYOON/MINGA/YOONMIN FANFICTION
RATED BERUBAH – UBAH SEWAKTU – WAKTU!
IF YOU DON'T LIKE. DON'T READ IT !
IF YOU WANT COPAS, WITH AUTHOR NAME JUSEYO
Genderswitch for Min Yoongi and other characters!
Happy reading~
.
.
.
.
Hoho~ sebelumnya makasih baik sider maupun yg bukan sider ataupun yg msh setia baca ini, favorit following juga. Makasih banyak. Mungkin pada bingung yah sm konflik yg terjadi. Ikutin aja alur ini terus. Nanti kalian jg paham. Aku dulu pertama baca ini juga bingung wkwk. Tp karena penasaran jadinya yahh dibaca terus. BTW ajhumma ingatkan ini emg remake novel ya sayang ^^
.
.
.
.
.
.
After the Wedding
Chapter 12
Pusaran Angin Topan
Hal yang bisa membuat seorang penipu mengeluarkan air mata sejati, kekuatan yang bisa membuat seorang pembunuh memegang bunga di tangannya. Itu adalah cinta.
.
.
.
.
.
.
.
Beberapa Jam Sebelumnya, Jimin's Office
Sabtu sore, Jimin yang datang terlambat ke kantor pura-pura mengerjakan pekerjaannya yang tidak tersentuh, dan langsung pulang ke rumah mertuanya saat jam kerja usai.
Kepala sekretaris yang sangat khawatir sampai bertanya kepadanya, karena Jimin terlihat tidak fokus sama sekali. Ia bertanya apa Jimin sakit. Jimin yang tidak pernah sakit malah terkejut mendengar pertanyaan itu, ia tertawa dengan tulus, menahan rasa ingin pamernya yang sudah naik ke tenggorokkan dan hanya menjawab "cuma sedikit lelah" kepada kepala sekretarisnya.
Setelah itu, Jimin duduk memandang ke luar jendela sambil menyandarkan tangan di meja berisi tumpukan dokumen yang harus ditandatanganinya. Semakin ia menunggu, semakin jauh terasa jam pulang kerja, sampai akhirnya, ia tidak bisa melepaskan diri dari pikirannya.
"Kau… tidak senang mendengar kabar kehamilanmu?"
"…. Tidak."
Jelas-jelas Yoongi baru saja mengatakan bahwa ia mencintai Jimin sore itu. Bukannya setiap perempuan pasti akan sangat senang jika ia mengandung anak dari pria yang ia cintai? Tidak… bukannya seharusnya ia bahagia? Bukankah itu hal yang wajar? Kenapa, kenapa Yoongi malah memasang wajah sedih dan berkata "tidak"? Ada masalah apa sebenarnya?
Seperti seseorang yang memiliki kepribadian ganda.
Padahal, Jimin hampir terbang karena gembira saat melihat bayinya di layar hitam putih, tapi ia hanya bisa terduduk diam saat melihat reaksi Yoongi yang datar.
"Huuuh…"
Jimin hanya bisa pasrah dan menghela napas panjang. Ia kemudian menoleh, foto Yoongi yang ia letakkan di mejanya menarik perhatiannya. Yoongi masih cantik, tapi Yoongi yang belum menikah dengannya selalu memasang ekspresi segar dan penuh semangat. Dulu matanya bercahaya. Ia juga selalu tersenyum dengan cerah. Entah kapan semua itu hilang selamanya. Jimin tidak terlalu yakin, tapi sepertinya ini foto yang diambil di kampus Yoongi. Namun, intinya, senyum ceria Yoongi menghilang setelah menikah dengan Jimin. Sayang sekali.
Jimin mengambil patung marmer kecil buatan Yoongi, lalu meletakkannya di samping foto Yoongi. Karya seni itu sangat kecil, ukurannya hanya sebesar telapak tangan, tapi benda itu adalah buatan tangan Yoongi yang dihadiahkan kepadanya, sehingga Jimin merasakan perasaan sayang yang berbeda terhadap benda tersebut. Jimin merasa sedikit aneh. Jelas-jelas patung itu adalah patung wajahnya, tapi patung itu terlihat sedang tersenyum lebar sampai timbul kerutan di ujung matanya. Jimin bertanya-tanya apakah ia pernah memasang ekspresi seperti itu, dan akhirnya ia hanya bisa mengagumi kemampuan istrinya yang sangat hebat.
"Jangan-jangan kau salah lihat dan menganggapku selalu memasang ekspresi seperti ini, ya? Atau kau ingin aku memasang ekspresi seperti ini? Kau suka ekspresi ceria seperti ini?"
"Kau tahu kalau kata 'jangan-jangan' bisa membunuh seseorang? Aku menakutkan, lho, jadi jangan macam-macam denganku. Lagi pula, aku memahat ini berdasarkan sketsa wajah yang kubuat. Kalau tidak suka, kau bisa pulang becermin, lalu kau bisa membenarkan pahatan ini. Ini bukan salahku."
"Sulit dipercaya. Wajah konyol ini adalah wajahku."
"Sini kalau kau tidak suka! Bukannya berterima kasih malah terus-terusan meledekku!"
Jimin teringat betapa sulitnya menghibur Yoongi yang benar-benar marah. Ah, kenangan masa lalu terus bermunculan di kepalaku. Apa karena aku sudah tua?
Semakin Jimin mengkhawatirkan Yoongi, semakin Jimin teringat akan ibunya. Jimin tidak tahu kenapa, tapi sepertinya hubungan Yoongi dan ibunya tidak terlalu baik. Jimin telah mengira bahwa ibunya yang keras kepala tidak menginginkan menantu seperti Yoongi sejak awal. Tentu saja Yoongi— yang hidup terlalu bebas karena ia mahasiswi jurusan seni dan masih terlalu muda— juga akan menganggap ibu Jimin sangat merepotkan.
Tidak. Sepertinya bukan hanya Yoongi; Ibu pasti juga akan mencari kesalahan setiap perempuan pilihan Jimin dan berkata bahwa ia tidak puas dengan pilihan Jimin. Apakah aku salah karena telah menganggap mereka bisa saling bersabar dan beradaptasi? Apakah aku salah mengharapkan hubungan mereka baik setelah kami menikah? Apa seharusnya dulu aku mengambil tindakan khusus untuk mengatasi masalah ini?
"…."
Jika aku mengambil tindakan, aku malah akan terlihat konyol, kan? Yoongi dan Ibu tidak pernah terlihat sedang beradu mulut, jadi tidak ada peristiwa yang bisa kujadikan alasan atas tindakanku. Kami juga tidak tinggal bersama; kami hanya bertemu seminggu atau dua minggu sekali. Pasti Ibu akan semakin memandang rendah Yoongi jika aku terlihat memihak Yoongi. Aku sudah cukup sibuk mengurus perusahaan besar ini, apa aku masih harus menyelesaikan perselisihan antarwanita di keluargaku?
Jika Yoongi sedikit bersabar dan bersikap sedikit lebih baik di hadapan Ibu, pasti masalah ini akan langsung selesai. Apa Yoongi begini karena menikah terlalu muda dan tidak tahu bahwa dunia luar itu kelam? Apa ini karena aku terlalu terburu-buru?
Kupikir orang di sekitar juga akan bersikap baik jika kami hidup dengan damai, tapi sekarang, sepertinya pemikiranku itu sangat kekanakan. Kupikir semua akan beres asal aku dan Yoongi bahagia… ah, apakah ini maksudmu, Yoongi? Maksud dari perkataanmu yang berbunyi cinta bukanlah segalanya? Ternyata kau sudah tahu dari awal. Apa selama ini kau terluka sendirian dan menyembunyikannya terus-menerus di dalam dirimu? Tapi… jika kau menanggung semuanya sendirian dan terluka sendirian, apa gunanya pernikahan ini?
Yoongi, saat ini aku bersedih karenamu. Tidak, tidak, sepertinya aku terlalu tidak peduli padamu. Benar. Mulai sekarang, aku akan melindungimu dan selalu bersamamu. Kita berdua… tidak… bertiga… benar. Kita bertiga akan selalu bersama. Karena kita pasangan suami istri karena kita keluarga. Benar.
"Karena kita keluarga."
Jimin memandangi pesawat telepon untuk beberapa saat. Ia merasa harus menelepon ibunya. Ia ingin berbagi cerita menyenangkan dengan ibunya. Namun, Jimin akhirnya mengurungkan niatnya.
Yoongi berpesan kepada Jimin agar ia tidak bertemu maupun menelepon ibunya untuk memberitahukan berita kehamilannya. Yoongi berkata bahwa lebih baik mereka mencari kesempatan baik dan bertemu langsung dengan ibu Jimin. Aku akan mampir ke sana dengan Yoongi jika Yoongi sudah lebih tenang. Itu lebih baik.
Jimin pulang sedikit terlambat karena sibuk tenggelam dalam pikirannya sendiri. Tentu saja ia tidak lupa membeli melon. Ada toko buah yang menjual dua melon dalam satu kotak karton di kawasan pertokoan apartemen ini. Ini adalah pertama kalinya Jimin membawakan Yoongi buah, bukan bunga. Walaupun begitu, Jimin merasa senang karena buah yang ia beli terlihat masih segar. Untunglah.
.o.
Present Time, At Yoongi's Family Apartment
"Jimin."
"Eh, Yoongi, kenapa wajahmu begitu?"
"Hmm, karena mual. Sekarang sudah tidak apa. Kau benar-benar membeli melon. Ibu, biar aku saja. Kau duduk saja, Jimin."
"Iya."
Wajah Yoongi yang baru keluar dari kamar mandi terlihat tidak sehat. Lagi, terlihat tidak sehat. Apa hamil memang seberat itu? Dalam seperempat hari, wajah Yoongi sudah terlihat tirus. Sepertinya ia tidak membaik walau sudah berada di rumah keluarganya. Kalau begitu, bukankah lebih baik jika ia pulang ke rumah dan istirahat yang cukup? Aku jadi cemas.
Jimin menatap Yoongi dengan kasihan, juga memandang Woobin yang sedang makan. Hubungan mereka berdua sangat buruk. Berbeda dengan Woobin yang berusaha keras untuk tidak memperhatikan Jimin, Jimin memberi salam kepada Woobin dengan tenang. Woobin, yang sama sekali tidak senang melihat kehadiran Jimin, membalas salamnya dengan dingin.
"Kau baik-baik saja, Kakak Ipar?"
"Mungkin. Memangnya aku bisa terlihat lebih baik darimu, Adik Ipar?"
"Woobin! Menantu Park, maaf. Yoongi, kau duduk saja. Biar Ibu saja yang mengerjakannya. Ibu tidak bisa berkonsentrasi, jadi duduklah."
Woobin melihat ibunya yang terlihat tidak tenang. Ia tersenyum getir dan bangun dari tempat duduknya. Tamu yang sangat penting. Tamu sekaligus menantu yang sangat hebat. Aku mengerti kenapa Ibu bersikap begitu. Mengerti!
"Ibu, aku masuk, ya. Aku tidak mau sakit perut karena memakan itu."
"Duduklah, Kakak Ipar."
"Tidak mau. Perutku sudah bergejolak karena makan malam yang baru saja kumakan. Aku kan harus sopan di depan adik iparku, mana boleh aku buang gas di hadapanmu!"
"Woobin, kau benar-benar…"
"Aku mengerti, mengerti. Aku mengerti, jadi aku akan masuk ke kamarku."
Jimin menahan tawa saat melihat Woobin yang mencoba mengabaikannya. Ia mengatupkan mulutnya rapat-rapat agar tawanya tidak pecah. Berani-beraninya kau mencoba mengabaikanku.
"Min Woobin, duduk."
"Hah, suaramu jadi rendah seperti itu karena menahan emosi? Bagaimana ini, bagaimana? Kau, kau yang super hebat dan uangmu yang super hebat tidak ada hubungannya dengan tempat ini! Kau pikir kau bisa datang sesukanya ke sini?"
"Berhenti bersikap dingin seperti itu. Lebih baik kita berbincang-bincang."
"Tidak perlu."
Jimin sangat ingin memukul Woobin yang dari tadi bicara sesuka hatinya. Namun, ia tidak dapat melakukan hal seperti itu terhadap kakak yang sangat dicintai oleh istrinya, sehingga ia hanya mengulurkan tangannya yang gatal ingin memukul dan mencengkeram lengan Woobin. Jimin kemudian melihat ke sekeliling ruangan.
Tatapan mata istrinya terlihat cemas. Ibu mertuanya terlihat tidak tenang. Mata penuh emosi Woobin. Napas berat Woobin. Dada yang bergerak naik turun. Bom waktu yang dapat meledak kapan pun.
Kecuali Jimin yang masih bisa mengontrol perasaannya, semua orang terlihat tegang, karena Min Woobin yang bodoh bukanlah apa-apa baginya.
"Min Woobin, ayo kita bicara…."
"Lepaskan brengsek!"
Woobin melayangkan tinjunya ke pipi Jimin sambil berteriak. Jimin menghindar secepat mungkin, tapi tinju Woobin masih berhasil mengenai dahi Jimin. Bintang bertebaran di depan mata Jimin untuk beberapa saat akibat pukulan dari Woobin tadi.
"…"
"Aaah!"
Yoongi menjerit melihat kakaknya— yang biasanya lembut— menggunakan kekerasan untuk pertama kalinya. Jimin tidak mendengar jeritan itu. Ia merasa marah karena terus-menerus diabaikan oleh pecundang seperti Min Woobin, bahkan sekarang ia harus menerima tinju payah dari Woobin.
Bodoh. Berani-beraninya ia memukulku!
Jimin balas menyerang Woobin, menyerang tanpa peringatan, tanpa teriakan sama sekali. Kedua lelaki itu berkelahi sambil mengingat-ingat kebencian dan amarah dalam hati mereka. Sementara kedua lelaki itu saling adu kekuatan, Yoongi dan ibunya hanya bisa terdiam karena terlalu terkejut.
Tanpa disadari, Jimin berhasil mendaratkan pukulannya kepada Woobin. Woobin yang belum pernah ditinju sekali pun terlihat sangat marah. Hidung Woobin berdarah, ujung matanya sobek, dan gigi depannya patah. Itu semua akibat pukulan Jimin yang diarahkan pada seseorang yang tidak tahu apa-apa akan perkelahian. Walaupun begitu, sepertinya Jimin tidak ingin menghentikan aksi pemukulannya. Padahal, wajah Woobin sudah sangat pucat, darahnya juga terus mengelir. Menakutkan. Menakutkan.
Akan kuhabisi semua. Kuhabisi semua. Akan kuhabisi semua. Bocah-bocah yang mencaci dan mengabaikanku. Akan kuhabisi semua, kuhabisi…
Tahu rasa kau. Dasar, kena kau. Berani-beraninya orang sepertimu mengabaikan dan mencaciku. Akan kuhancurkan kau agar tidak bisa memperlakukanku seperti itu lagi. Anak tidak tahu diri. Akan kubuat kau menjadi lumpuh. Kau akan menjadi mayat hidup.
Park Jimin berubah menjadi Kim Jimin kecil dan terus melayangkan tinjunya. Kegilaan yang terngiang-ngiang di telinganya, teriakan Kim Jimin kecil yang beracun masih teringat jelas di kepalanya. Sesosok wajah putih sedih terlihat samar-samar di matanya.
Aku tahu apa yang akan kau katakan. Jangan memandangku seperti itu! Jangan mengeluarkan sepatah katapun! Sebelum aku berubah sepenuhnya. Ibu. Ibu.
"Jimin! Hentikan! Hentikan, Jimin! Oppa bisa mati kalau kau begitu! Hentikan!"
Yoongi berteriak dan langsung melindungi sosok manusia yang ia panggil Oppa. Ia menangis tersedu-sedu sambil menghambur ke pelukan Jimin. Jimin gemetar saat merasakan tubuh istrinya yang lembut dan cantik— pikirannya langsung kembali ke kenyataan.
Apa yang terjadi…!
"Ah! Aku, aku…" Jimin memandangi kepalan tangannya sambil berbicara sendiri, seakan tidak percaya akan apa yang telah terjadi. Ia tidak percaya bisa melakukan hal yang hanya dilakukan orang brengsek. Jika ia tidak mendengar jeritan Yoongi, jika ia tidak merasakan tubuh Yoongi yang lembut di pelukannya, ia pasti telah berubah menjadi seorang pembunuh. Mustahil. Lebih baik aku menghilang sekarang.
Jimin memandang tangannya yang masih terkepal dengan jijik, lalu melepaskan kepalanya dan memeluk istrinya. Napasnya yang memburu terdengar menjijikkan.
Ibu mertuanya hanya bisa membuka dan menutup mulutnya karena terkejut. Kakak ipar yang hidungnya berdarah tersungkur di lantai.
Park Jimin yang tak terkalahkan bertindak brutal. Park Jimin melakukan hal yang seharusnya hanya dilakukan oleh Kim Jimin.
"Ayo… pulang, Jimin. Kita pulang ke rumah saja."
"Iya…"
Yoongi dan Jimin berpamitan sebelum mereka melarikan diri dari rumah keluarga Yoongi. Jimin yang terlihat sedikit kebingungan menyetir mobil, sementara Yoongi terus memperhatikan Jimin dengan seksama.
Menakutkan.
Suamiku sangat menakutkan.
"Jimin, kau baik-baik saja?"
Yoongi kaget sendiri saat mendengar suaranya yang terburu-buru. Jimin menghela napas sambil menganggukkan kepalanya. Mungkin menghela napas dapat menular, karena setelah itu, Yoongi juga menghela napas dengan sangat panjang.
"Huuuh, aku takut setengah mati."
"!"
Yoongi, sepertinya aku tidak baik-baik saja. Jimin menghentikan laju mobilnya secara tiba-tiba di pinggir jalan. Kubilang sepertinya aku tidak baik-baik saja! Jimin memegang kepala Yoongi dengan kuat dan mencium bibir istrinya itu kasar.
Aku takkan melepaskanmu, Yoongi. Tidak akan walau kau mengatakan bahwa aku menakutkan. Walau kau mengatakan kau kesakitan. Karena aku orang seperti ini. Aku memang seperti ini.
Yoongi berusaha melepaskan diri dari suaminya dan berteriak dalam hati, tapi pada saat bersamaan ia juga masih berusaha keras untuk memahami kemarahan dan kesedihan suaminya, yang alasannya tidak pernah ia ketahui.
Kenapa? Kenapa kau terlihat sangat kesakitan? Kenapa kau marah? Jimin, suamiku.
Sekarang, Yoongi tidak melihat tindakan suaminya sebagai tindakan yang menakutkan, melainkan menyedihkan. Bibir Yoongi terasa sangat sakit, tapi ia tidak memikirkan itu. Hatinya malah tergetar dan pedih karena suaminya yang sangat putus asa. Sebenarnya kenapa?
"Jimin."
Apa yang harus kulakukan agar dapat menghibur suamiku? Apa yang harus kulakukan…?
Yoongi menggenggam tangan Jimin yang masih terkepal. Tangannya yang kecil memang tidak bisa menggenggam tangan Jimin sepenuhnya, tapi ia tetap melakukannya. Yoongi mengelus tangan itu, yang bergetar dan akhirnya melepaskan kepalannya.
"Aku mencintaimu…"
Aku mencintaimu. Jimin, kau bilang kau hanya menginginkanku, kan? Aku ada di sini. Jangan bersedih lagi. Tataplah aku. Aku mencintaimu.
Sejujurnya, Yoongi tidak yakin, karena sepertinya penderitaan dan kesedihan suaminya sangat dalam. Ia tidak yakin cintanya dapat menghibur suaminya, apalagi ia dapat berkata membenci lalu menyukai suaminya puluhan kali dalam sehari. Ia benar-benar tidak yakin.
"Kau bodoh. Harusnya kau memakiku karena aku nyaris membunuh orang. Malah berkata bahwa kau mencintaiku…"
Saat Jimin berkata seperti itu sambil tersenyum, Yoongi merasa sangat terharu. Ia menyandarkan dahinya yang dingin ke dahi suaminya yang panas, merasa begitu tersentuh.
"Aku mengatakan aku mencintaimu karena aku memang mencintaimu."
Aku sungguh-sungguh.
"Kau bilang cinta bukan segalanya, kan?"
"Walaupun bukan segalanya, boleh kan aku mengatakan ini kepada suamiku?"
Ini juga.
"Suamimu bodoh sekali, ya."
"Bodoh apanya! Suamiku sangat hebat, lho!"
"Maaf."
Untunglah.
Kemudian Jimin yang merasa malu seperti anak kecil membenamkan kepalanya di pelukan Yoongi sambil berkata "maaf". Tindakannya menandakan bahwa angin topan sudah berlalu. Jimin telah kembali menjadi pria yang Yoongi kenal, pria yang sangat tenang sampai takkan ada mengira bahwa peristiwa tadi dapat terjadi. Untunglah…
Namun, sebenarnya inti dari semua ini bukanlah angin topan yang sudah berlalu, melainkan pusaran angin topan yang telah mampir sebentar dalam kehidupan mereka. Pusaran angin topan yang dapat menyedot mereka ke dalam kesedihan dan kesakitan yang lebih dalam. Topan susulan selalu lebih hebat dari topan sebelumnya, dan mereka sedang berjalan menuju topan susulan itu. Topan susulan yang sedang mengamuk…
.
.
.
.
.
TBC
Maaf apdet telat ya... BTS3rdWin chukkae ! seneng banget dan terharu kekeke ~ KimTaehyungYou'rePerfect ! saranghanda Kim Taehyung! Jangan menangis lagi, ini hanyalah cobaan Tuhan /? Wkwkwk
.
THANKS FOR READING
REVIEW PLEASE?
