REMAKE DYING EXHORTATION DOCUMENT

By IfUchiha

Disclaimer : Masashi Khisimoto

Rate : M

Pair : SasuxNaru

Genre : Romance

Warning : YAOI, M-preg, Lime(?), OOC, Geje, Abal, typos berterbangan.

.

.

Chapter 14

.

.

"Dobe bangun!" Sasuke sudah berusaha untuk membangunkan Naruto dari tadi tapi sama sekali tidak berhasil. Kenapa pemuda blonde itu sangat sulit dibangunkan. Sasuke tidak habis pikir.

Mereka masih berada di kawasan pantai. Sasuke baru saja bangun dan hendak membangunkan Naruto juga. Hari sudah siang dan matahari bersinar dengan teriknya. Sasuke tidak terlalu tahan dengan cuaca panas.

"Dobe, bangun!" Sasuke menggoncang-goncangkan bahu Naruto. Pemuda blonde itu mengerang. Tidak suka tidurnya diganggu. Sekalipun itu oleh Sasuke.

Sasuke pun akhirnya bangun, menyerah membangunkan Naruto. Mengingat Naruto tadi tertidur di bahunya, otomatis pemuda itu jatuh ke tanah dan langsung terbangun. Sasuke menyeringai.

"Itte-itte!"

"Akhirnya bangun juga." Sasuke membuang nafas berat.

"Kau itu! Kalau membangunkan yang lebih manusiawi gitu!" Naruto menggerutu. Memegangi kepalanya yang berdenyut karena menyentuh akar pohon.

"Hey! Aku sudah membangunkanmu dengan lebih manusiawi, tapi kaunya malah tidur!" Sasuke mendengus. Kemudian meninggalkan Naruto seorang diri.

Naruto yang sadar telah ditinggalkan oleh Sasuke pun menyusul pemuda itu. Mensejajarkan langkah kakinya dengan sang suami.

"Kenapa meninggalkanku?!" Naruto cemberut.

"Hn."

"Kau! Jawab yang benar Baka!"

"Hn."

"Sasuke-teme! Kubilang jawab yang benar."

"Hn."

"Terserah kau saja deh."

Suasana kembali hening. Hanya terdengar suara ombak di belakang mereka. Desau angin dan beberapa burung camar.

Naruto terlau asyik melamun hingga tidak sadar jika Sasuke menghentikan langkahnya. Terlihat pemuda raven itu sedang berbicara dengan seseorang.

"Teme?!" panggil Naruto. Sasuke menoleh. Tidak hanya pemuda raven itu. Sosok lain yang diajak berbincang oleh Sasuke tampak ikut menoleh. Mata levendernya begitu indah di mata Naruto. Tapi bagi pemuda blonde itu tidak ada yang bisa menggantikan keindahan mata onyx milik Sasukenya.

"Siapa dia Sasuke?!" Tanya pemuda berambut coklat itu. Naruto tidak tahu namanya karena belum dikenalkan oleh Sasuke.

"Neji, kenalkan dia Naruto. Naruto, ini Neji." Ujar Sasuke dengan nada datarnya. Naruto mengangguk. Paham betul dengan sikap Sasuke yang seperti itu. Neji pun tampak memaklumi.

"Hyuuga Neji." Neji mengulurkan tangannya ke arah Naruto dan disambut oleh Naruto.

"Uchiha Naruto."

"Uchiha?!" Neji menaikkan sebelah alisnya. Sasuke berdehem.

"Naruto itu istriku. Kami baru menikah malam minggu kemarin." Jelas Sasuke. Berdehem sekali lagi karena merasa ada yang tersangkut di tenggorokannya.

Naruto pun tampaknya salah tingkah. Wajahnya menampilkan semburat merah. Neji terkekeh. Maklum dengan pasangan baru ini.

"Maaf tidak bisa datang di pesta pernikahan kalian. Saat itu aku ada pekerjaan." Ujar Neji menjelaskan. Naruto pun mengangguk. Karena ia memang tidak melihat Neji hadir di pesta pernikahannya dengan Sasuke.

"Em-Teme~" panggil Naruto pada Sasuke. Neji hanya mampu mengernyit. Tidak pernah sekalipun ia mendengar sahabatnya itu dipanggil dengan kata kasar seperti yang dilakukan Naruto. Apalagi Sasuke terlihat tidak marah.

"Hn?!"

"Sebaiknya kita mengobrol sambil makan siang. Tidak enak mengobrol di sini." Naruto tersenyum kikuk. Sasuke mengangguk. Neji pun tampak setuju.

"Sebaiknya kita makan di mana?!" Tanya Sasuke.

Neji tampak berpikir. Naruto pun begitu. Sedetik kemudian wajah tan Naruto berbinar-binar.

"Teme~ kita makan di kedai ramen kemarin ya?! ya ya?!"

"Tidak." Sasuke berkata tegas. Menolak permintaan Naruto. Tidak ingin jika pemuda itu terus-terusan memakan makanan tidak sehat macam ramen.

"Teme~" mata Naruto berkaca-kaca. Sedangkan Neji merasakan firasat buruk.

"Tidak Dobe!"

"Kau itu kenapa sih!? Ayolah kita makan ramen di kedai kemarin oke?!"

"Tidak."

"Kenapa tidak boleh?!"

"Nanti kau gendut Dobe!"

Naruto dan Neji sweatdrop

"Aku tidak gendut Teme!"

"Sekarang tidak gendut. Tapi nanti?!"

"Aku tidak akan gendut. Buktinya tiap hari makan ramen aku tidak gendut."

"Tapi tetap saja ramen itu tidak sehat."

"Kau selalu bilang begitu! Ayolah Teme~ sekali saja."

"Tidak."

"Kau menyebalkan."

"Dari dulu."

Naruto sweatdrop.

"Teme!"

"Dobe."

"A-ano~ bukankah kita akan makan siang?!" tanya Neji dengan sweatdrop di dahinya. Ia tersenyum kikuk. Entah mengapa ia merasa tidak sepantasnya ada di antara Sasuke dan Naruto.

"Kita memang akan makan siang. Dan aku ingin ramen." Ujar Naruto sambil cemberut. Kedua lengannya dilipat di depan dada.

"Kita akan makan siang tapi bukan ramen. Kau mengerti Dobe?!" kali ini Sasuke dengan suara tegasnya. Terdengar tidak ingin dibantah. Naruto dengan mata berkaca-kaca melanjutkan acara ngambeknya.

"Bagaimana kalau kita makan sushi saja?!" usul Neji. Naruto mengerjabkan matanya yang berkaca-kaca kemudian menatap ke arah Neji dengan senyuman lebar. Memeluk Neji karena reflek.

"Yey! Neji baik gak kayak Sasu-teme!" ujar Naruto. Masih memeluk Neji. Lidahnya terjulur mengejek ke arah Sasuke yang berusaha menahan amarahnya karena cemburu.

.

.

.

Kyuubi sedang ada di kediaman Namikaze ditemani oleh Deidara dan Ino. Kedua sepupunya itu sedang tidak ada kerjaan.

"Kyuu, kau tidak mengurus kantor Namikaze?!" tanya Deidara. Ino yang sedang membaca majalah pun mengalihkan pandangannya ke arah Kyuubi dan sedang menguap. Acara TV yang sedang mereka tonton dibiarkan begitu saja.

Kyuubi memasukkan keripik kentang ke dalam mulutnya.

"Mungkin besok. Atau besok lusa." Ujar Kyuubi setelah menelan keripik kentangnya. Menggedikkan bahu acuk ke arah Deidara.

"Lalu siapa yang mengurus kantor kalau bukan kamu?! Bukankah Naru tidak diperbolehkan mengurus kantor?" tanyanya lagi.

"Untuk apa gunanya sekretaris Dei?!" sahut Ino. Kemudian kembali fokus pada majalahnya.

"Aissh.. aku kan hanya bertanya."

"Kakashi yang mengurus semuanya. Setidaknya sampai aku kembali." Jawab Kyuubi. Meletakkan kantung berisi keripik kentangnya ke atas meja dan mengecek ponselnya. Siapa tahu ada e-mail dari Itachi.

"Oh ya Kyuu. Kemarin kau pergi kemana?!" tanya Ino. Sudah melupakan majalah modenya dan memperhatikan Kyuubi.

"Pergi jalan-jalan." Balas Kyuubi acuh.

"Kemana?!" kali ini Deidara yang bertanya.

"Kenapa kau sangat ingin tahu?!" tanya Kyuubi balik dengan tatapan menyelidik.

"Tidak ada maksud apa-apa. Dan jangan bertanya balik Kyuu!"

"Oke oke, aku ke taman bermain."

"Taman bermain?!" alis Deidara naik.

"Ya. Dan berhenti bertanya Dei!"

"Apa salahnya jika aku bertanya?!"

"Kau mengganggu."

"Bisakah kalian diam?!" Potong Ino sebelum Deidara membalas ucapan Kyuubi. Ia jengah mendengar pertengkaran antara Deidara dan sepupu berambut merahnya itu. Kalau tahu begini, ia tidak akan ke Konoha.

"Kenapa jadi kau yang nyolot sih?!" Deidara memandang sinis ke arah adiknya itu.

"Ya. ini kan bukan uru-..."

Drrttt drrtt...

Ucapan Kyuubi terpotong karena dering ponselnya. Tidak mengindahkan Ino dan Deidara yang mulai berdebat, ia mengangkat telponya. Menyuruh Deidara dan Ino untuk diam.

"Moshi-moshi."

"Kyuu-chan?!"

"Em-.. Kaa-chan?!"

"Iya ini Kaa-chan. Ada berita penting yang ingin Kaa-san sampaikan."

"Berita penting?! Apakah buruk Kaa-chan?" tanya Kyuubi. Mendadak jantungnya berdetak kencang. Apa yang sebenarnya terjadi. Sesuatu yang buruk pasti sedang terjadi. Kyuubi tidak pernah merasa seperti ini sebelumnya.

"Ini mengenai Itachi."

"I-itachi?! ada apa dengannya Kaa-chan?!" Nada suara Kyuubi terdengar panik. Detak jantungnya semakin cepat berdetak. Deidara dan Ino tampak berpandangan. Seakan tahu jika sesuatu terjadi pada Itachi. mereka sadar jika Kyuubi menaruh hati pada Itachi.

"Itachi mengalami kecelakaan di jalan. Saat ini sedang dirawat di RS Konoha. Keadaannya sangat kritis."

Kritis

Kritis...

Entah mengapa mendengar kata itu, hati Kyuubi hancur berkeping-keping. Air matanya meluncur mulus di pipi chubby nya. Bahkan Deidara dan Ino tampak terkesiap. Tidak pernah sekalipun mereka melihat Kyuubi menangis seperti ini. Bahkan saat gadis itu menceritakan kisah cintanya yang kandas bersama Pein. Tidak pernah sekalipun iris ruby itu serapuh ini. Begitu indah, tapi bisa hancur kapan saja.

"Kyuu akan segera kesana. Uh-... Kaa-chan tidak perlu khawatir. O-oke?!" Suara Kyuubi terdengar bergetar. Itu disadari oleh Dei dan Ino. Bahkan Mikoto sadar akan hal itu.

"Kyuu tidak perlu menangis. Kaa-chan tunggu di rumah sakit oke?!" suara lembut Mikoto terdengar samar-samar di telinga Kyuubi. Gadis itu mengusap air matanya kasar. Menuruti permintaan orang yang telah ia anggap sebagai ibu.

"Ha'i."

Dan sambungan pun terputus.

Kyuubi segera mengambil sweater nya. Mengenakannya secara terburu-buru. Deidara memandang bingung ke arah Kyuubi. Ino pun melakukan hal yang sama.

"Kyuu. Apa yang terjadi?!" Tanya Ino.

"Aku harus segera ke rumah sakit."

"Siapa yang sakit Kyuu?!" tanya Deidara. Ino menganggukkan kepalanya. Setuju dengan pertanyaan Dei.

"Itachi."

"Biar aku antar." Tawar Deidara. Ia paham sifat sepupunya itu. Dia tidak akan bisa berpikir saat ini.

"Tidak perlu. Aku bisa sendiri."

Deidara mencekal tangan Kyuubi.

"Kau tidak bisa menolak Kyuu. Keadaanmu pun sama buruknya saat ini. Jadi jangan menolak oke?!"

Kyuubi hanya mampu mengangguk pasrah.

.

.

Dunia Sasuke berputar mendengar kabar yang dibawa ibunya. Setelah pertemuannya dengan Neji yang berakhir dengan makan siang di sebuah kedai sushi, ibunya menelpon. Mengatakan jika kakaknya mengalami kecelakaan dan sedang dirawat sekarang. Awalnya sang ibu merasa tidak enak karena mengganggu acara bulan madu Sasuke dan Naruto, tetapi beliau berpikir tidak apa-apa. Lagipula Itachi pasti butuh orang terdekatnya. Dan selama ini, Sasuke sangat dengan dengan Itachi.

Ekspresi Sasuke snagat sulit dibaca. Naruto pun tidak tahu harus bagaimana saat Sasuke secara terburu-buru menyeretnya setelah sebelumnya pamit pada Neji dengan nada yang terdengar aneh.

"Cepat kemasi barang-barang kita. Kita akan pulang hari ini juga." Ujar Sasuke sesampainya mereka di penginapan. Pemuda itu tidak terkontrol. Ekspresinya terlihat begitu panik dan Naruto tidak sempat untuk menenangkannya karena sibuk dengan barang-barang mereka.

Cukup lama Naruto berkutat dengan barang-barang dan koper. Mereka menuju mobil setelah check out dari penginapan. Sasuke mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh. Naruto berusaha untuk membuat Sasuke memelankan laju mobilnya. Jalanan cukup lenggang. Tapi tidak dapat dipungkiri jika ada perasaan takut dalam diri Naruto. Bgaaimana jika mereka mengalami kecelakaan?

Sasuke belum memberi tahu kenapa mereka harus kembali hari ini. Dan Naruto sendiri tidak berani bertanya saat sadar mood Sasuke sedang buruk. Ia hanya bisa berdoa semoga mereka selamat sampai di rumah.

.

.

.

Kyuubi berlari di lorong rumah sakit dengan tergesa-gesa. Setelah sebelumnya bertanya pada resepsionis tempat di mana Itachi berada. Deidara dan Ino mengikuti di belakang. Tidak berani menyuruh Kyuubi untuk berjalan pelan-pelan. Mereka tahu Kyuubi sedang panik sekarang.

Di ujung lorong, Kyuubi bisa melihat Mikoto duduk di kursi tunggu. Kyuubi bertanya-tanya di mana Fugaku sekarang. Mungkin pria itu sedang berada di kantor saat ini. Kyuubi tidak tahu.

"Kaa-chan!" seru Kyuubi. Berusaha untuk mengatur nafasnya yang terengah-engah. Mikoto menatap ke arah Kyuubi dengan senyum lembut. Wajahnya terlihat sangat khawatir. Kyuubi tahu Mikoto pasti baru saja menangis. Meskipun air mata tidak lagi mengalir di pipinya. Mata onyx ibunya yang sembab itu menjadi bukti.

"Duduklah Kyuu." Ujar Mikoto. Menepuk kursi di sebelahnya. Ino dan Deidara berada tak jauh dari mereka. Duduk di kursi yang lain. Tidak ingin mengganggu acara ibu dan anak itu.

"Kaa-chan kenapa menangis?!" tanya Kyuubi dengan suara lirih. Tangannya menangkup pipi Mikoto. Seketika itu setetes air mata meluncur di pipi putih Mikoto.

"Bagaimana Kaa-chan tidak menangis. Putra Kaa-chan menderita di sana." Ujar Mikoto tak kalah lirihnya sembari menunjuk ruang Operasi.

"Tapi Kaa-chan harus kuat." Kyuubi mengelus pipi Mikoto. Menghilangkan air mata yang jatuh dari sana. "Itachi butuh ibunya yang tegar. Bukan yang seperti ini. Itachi pasti sedih melihat ibunya menangis." Bisik Kyuubi kemudian memeluk Mikoto.

"Kenapa hal ini harus terjadi pada putra Kaa-chan Kyuu. Katakan pada Kaa-chan. Kenapa?!"

"Takdir Kaa-chan. Dan kita tidak bisa mengubahnya. Yang bisa kita lakukan sekarang adalah berdoa untuk kesembuhan Itachi."

Mikoto melepaskan pelukan Kyuubi. Kemudian menatap gadis di hadapannya dengan tatapan khas seorang ibu.

"Terima kasih karena Kyuu ada di sini. Kaa-chan kuat sekarang." Akhirnya Mikoto tenang kembali.

"Lalu bagaimana keadaan Itachi Kaa-chan?" tanya Kyuubi. Tak dapat dipungkiri jika ia pun khawatir terhadap pria itu. Bagaimanapun ia menyukai Itachi.

"Dokter bilang terjadi pendarahan di otaknya dan harus dioperasi. Kemungkinan Itachi selamat sangat kecil. Kaa-chan takut itu terjadi. Kaa-chan takut Itachi pergi meninggalkan Kaa-chan."

"Kaa-chan tidak perlu takut. Kyuu pun tak ingin Itachi pergi. Kita berdoa saja semoga Kami-sama menyelamatkan Itachi."

"Arigatou Kyuu. Kaa-chan sayang pada Kyuu." Ujar Mikoto kemudian memeluk Kyuubi.

"Kyuu pun sayang pada Kaa-chan."

.

.

.

Butuh waktu 3 jam untuk sampai ke pusat kota Konoha. Hari sudah beranjak sore. Akan gelap sebentar lagi. Naruto pikir Sasuke akan langsung ke rumah utama. Tapi mengapa pemuda itu malah menuju rumah sakit. Siapa yang sakit? Apakah ini alasan mengapa mereka harus pulang hari ini juga?

Sasuke memarkirkan mobilnya di halaman parkir rumah sakit dan keluar dengan tergesa-gesa. Naruto baru tahu jika yang sedang sakit adalah Itachi saat mereka bertanya di meja resepsionis. Pantas saja Sasuke terlihat begitu panik. Itahci dalha orang yang sangat disayangi oleh Sasuke. Jadi wajar jiak Sasuke khawatir.

Pemuda itu begitu terburu-buru. Naruto sudah menyuruhnya untuk pelan-pelan saja tapi tidak dihiraukan. Berusaha untuk mengatur nafasnya, akhirnya mereka sampai di ruang rawat Sasuke. Terlihat Kyuubi yang sedang memegang tengan Itachi dan Mikoto yang sedang tertidur di sofa.

Itachi terlihat begitu buruk. Kepala yang diperban. Mulut yang tertutupi alat bantu pernafasan. Kaki yang terpasangi gips. Naruto yakin kaki kakaknya itu patah.

Kyuubi menyingkir. Mempersilahkan Sasuke menempati posisinya tadi dan berganti menggenggam tangan kakaknya. Kyuubi pun paham perasaan Sasuke. Pemuda itu pastilah khawatir dengan kakaknya.

"Apa yang terjadi dengan Aniki?!" tanya Sasuke. Pandangannya kosong. Tetapi tertuju pada Itachi. Pemuda yang telah menjadi suami Naruto itu begitu rapuh. Naruto mengelus pundak Sasuke. Berusaha menenangkan suaminya. Tapi Sasuke sama sekali tidak mengalihkan pandangannya dari Itachi.

"Dari keterangan Kaa-chan. Itachi mengalami tabrak lari saat hendak makan siang di luar. Aku tidak tahu pasti keadaannya. Beruntung ia bisa selamat dari pendarahan di otaknya. Keadaannya masih kritis. Jika dalam 48 jam Itachi tidak bangun. Dokter mengatakan Itachi sedang koma." Jelas Kyuubi. Naruto pun terkesiap mendengarnya. Tubuhnya tegang. Bagaimana pun Iatchi terlah seperti kakaknya sendiri.

"Begitu?!" Sasuke menangis. Dan Naruto melihatnya. Bahu suaminya bergetar. Naruto memeluk bahu Sasuke dari belakang dan mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja dan Itachi akan berkumpul bersama mereka seperti sebelumnya. Sasuke bangkit dan otomatis Naruto melepaskan pelukannya. Tidak disangkanya Sasuke berbalik dan memeluk bahunya erat. Menyembunyikan wajahnya di perpotongan lehernya. Bisa Naruto rasakan air mata Sasuke membasahi bahunya. Tapi Naruto tidak peduli.

Lengan tannya merambat memeluk punggung Sasuke. Mengelusnya. Meski Naruto pun ingin menangis. Ia berusaha untuk menahannya. Setidaknya Sasuke butuh sosok yang tegar sekarang. Bukan ia yang lemah. Yang selalu bermanja-manja. Ia ingin Sasuke tahu, bahwa disaat-saat terntentu, Naruto akan jadi sosok yang kuat untuknya.

Kyuubi menyingkir. Tidak ingin mengganggu pasangan dihadapannya.

"Tidak apa-apa Sasuke. Tidak apa-apa." Bisik Naruto. Tak berapa lama Sasuke melepaskan pelukannya. Kemudian keluar dari ruang rawat Itachi. Naruto hendak mencegah Sasuke namun suaminya itu bilang ia ingin sendiri. Naruto tidak bilang bilang tidak. Tidak disaat Sasuke ingin sendiri.

"Sebaiknya kau pulang ototou." Ujar Kyuubi. Gadis itu telah kembali duduk di samping Itachi dan menggenggam tangannya erat.

Naruto menatap ke arah kakaknya.

"Lalu siapa yang akan menjaga Ita-nii?!" tanyanya.

"Aku yang akan menjaganya. Kau pulanglah. Kau pasti lelah karena perjalanan jauh."

"Baiklah. Ngomong-ngomong kemana Tou-chan?!" tanya Naruto. Ia tidak melihat sosok sang ayah mertua dari tadi.

"Tou-chan masih ada di kantor. Mungkin akan pulang sebentar lagi. Tadi ia bilang akan mampir melihat Itachi setelah dari kantor."

"Kalau begitu aku pulang dulu."

"Ya."

.

.

.

TBC

.

.

Gomen lama update TAT

Ifu kena WB dan malas nyentuh laptop apalagi ngetik.

Kemungkinan Ifu bakal update cepet karena adegan Sasuke rape Naruto hampir dekat dan rencananya bakal Ifu update sebelum bulan puasa.

Maaf juga karena di chapter ini acara bulan madunya harus dipotong. Tuntutan cerita XD

.

.

Orang ketiga di SasuNaru? Emhh... gimana ya?! liat nanti aja deh!

Lemon SasuNaru udah hampir dekat yo yo. Mohon ditunggu. Pokoknya gak sampek bulan puasa kok jadi aman.

Mantan Kyuu itu Pein. Ada yang nanya mantannya Kyuu itu Yahiko atau Pein. Ifu jadi dilema baca nih review. Apa Yahiko itu marganya aja trus Pein itu namanya?!

SasuNaru dapet bayi kalo udah ML dong... kok masih ada yg tanya gimana SasuNaru dapet bayinya. Ifu geli baca reviewnya uzumakinamikazehaki

Ada yang usul diselipin tes psikologi cinta kayak fic sebelah. Kayaknya gak deh. Nanti ceritanya jadi kemana-mana dan gak sesuai rencana. Gomen.

Ada yang tanya apa Pein cinta ma Kyuu? Ifu Cuma bisa jawab, Maybe yes, maybe no.

Kalo Pein cinta ma Kyuu, kenapa ia nyakitin Kyuu? Liat chapter selanjutnya aja deh.

Kalo Pein gak cinta kenapa dikejar? Mungkin karena Pein cinta ma Kyuu #PLAK *Jawaban absrud*

Thanks yang ngingetin tentang Typo. Ifu akan lebih teliti lagi.

Naru hamilnya pas sekolah dong? Jawabannya iya.

.

.

Spesial thanks buat yang udah review. Karena Ifu ingin kayak di fic fic lain yang dicantumin reviewer nya. Nih Ifu tulis :

Christal Otsu, choikim 1310, Dewi15, heriyandi kurosaki, Hyuul, hanazawa kay, SuzyOnyx, kyuubi no kitsune 4485, mifta cinya, guest, uzumakinamikazehaki, saphire always for onyx, istiartika, Ryuusuke583, andika yoga, FairyFaith, Retnoelf, ouch.

.

Arigatou yang udah mampir baca dan review fic ini.

.

Oke...

Tinggalkan review.

Fic ini bakal discontinued kalo reviewnya macet!

.

.

Dadah... ^_^