Title : The Kingka Strawberry and Vanilla

Author : Sulis Kim

Main C : Kim Jaejoong

Jung Yunho

Other

Rate : M

Genre : School life, Family, Comedy (gagal) Friendship.

WARNING

YAOI Boy x Boy, jika tidak suka jangan baca, Author cinta damai.

Ff ini milik saya seorang. Jika ada kesalahan typo dan salah kata mohon maaf. Menerima kritik dan saran yang membangun.

Don't like Don't read.

Alwasy keep the faith.

Happy Reading...!

Keheningan tercipta setelah Yunho mengatakan apa yang diingankan pria itu. Dan ia mengabaikan tatapan membunuh dari banyaknya pasang mata yang menatapnya tajam. Yang ada di dalam pandanganya hanya Jaejoong dan ia harus berusaha menenangkan kucing manisnya itu agar tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.

Seandainya Yunho tahu segalanya akan menjadi serumit ini, ia bersumpah tidak akan membuat Jaejoong marah, atau membentaknya atau bahkan menuntut. Yunho akan menekan kemarahan dirinya sendiri mulai saat ini agar tidak melukai hati kekasihnya yang rapuh.

Merendahkan suaranya untuk membujuk Jaejoong, Yunho sengaja meraih jemari kekasihnya dan meremasnya lembut. "Aku minta maaf Kitten, kita perlu bicara hanya berdua."

"Dan siapa yang mengijinkanmu boleh menyentuhnya,"Changmin menarik lengan Jaejoong sampai tubuh pemuda cantik itu mundur dan membentur dadanya.

"Dengar, masalah ini bermula dari kami berdua biarkan kami menyelesaikanya sendiri tanpa bantuan kalian," Yunho menahan kemarahanya sedemikian rupa dan sebisanya. Ia mengatakan kepada dirinya sendiri jika kekerasan tidak akan menyelesaikan masalah.

"Kitten, ku mohon ..." Yunho menatap tangan Younghwa yang menahan dadanya untuk tidak melangkah maju.

"Jongie sudah mengatakanya dengan jelas, kau bukan lagi kekasihnya."

Cukup sudah kesabaran Yunho di uji. Kepalan tanganya mendarat di wajah Younghwa tanpa mereka perkirakan sebelumnya. Pemuda itu terjerembab ke tanah. Dan sebuah bogem mendarat di wajah Yunho, ia mundur beberapa langkah, Gdragon lah yang mendaratkan pukulan itu.

Yunho maju untuk membalas akan tetapi Jaejoong sudah berdiri di hadapan Gdragon untuk menghalanginya, "Kalau kau berani menyakitinya, Yunho, "Jaejoong menekan kata katanya begitu menyakinkan. "Aku bersumpah tidak akan memaafkanmu seumur hidupku."

Genggaman tangan Yunho melonggar perlahan, Ya Tuhan. Ia mengacak rambutnya frustasi. "Semua ini tidak akan terjadi kalau kau tidak membawa teman temanmu kesini untuk mencari masalah. Dan kau benar benar kekanak kanakan mengandalkan bantuan mereka ketika kau sendiri tidak mampu ..." Yunho mengigit lidahnya.

Wajah Jaejoong merah padam karena menahan marah dan juga ... Jangan! Jangan menangis.

"Jaejongie maafkan aku,,,"

"Jangan sentuh Jongie," Jaejoong mengepalkan tanganya kemudian mendaratkan satu bogem kewajah Yunho dan sialnya tepat di tempat yang sama seperti tinju yang Dragon berikan padanya, dan pukulan kedua kalinya terasa lebih menyakitkan.

"Aku membencimu Yunho."

Yunho menatap Jaejoong yang berlari menerobos taman kegedung sekolah. Ia sudah akan mengejarnya sebelum seseorang menyerangnya dan ia terjerembab di tanah dengan Junsu di atas tubuhnya dan memukulnya membabi buta.

Astaga, Junsu yang menggemaskan menghajar Yunho.

Yoochun dan Changmin menarik Junsu dari atas tubuh Yunho. "Sudah Junsu, kau tidak usah menghajarnya lagi mereka akan melakukanya." Changmin menatap Geng Younghwa dan Gdragon.

"Aku pikir bukan ide yang bagus Chwang, kita sudah berjanji untuk tidak mencari gara gara atau kau akan dikirim keasrama."

"Aku lebih menyukai asrama ketimbang melihat Jaejoong menangis, bodoh." ia membenatak Yoochun. Dan Yoochun berpikir mungkin mereka bertiga bisa masuk ke asrama yang sama.

"Sial, satpam itu datang disaat yang tidak tepat."GD dan yang lain menyebar untuk lari keluar pagar.

Begitu juga Changmin dan Yoochun, kalau sampai mereka dikenali akan gawat. Dan ternyata Yunho juga mengikuti mereka di belakang.

Mereka berlari menuju arah gudang,"Kenapa kau juga kabur, kau bisa mengatakan kepada kepala sekolah dan membiarkan kami terkena hukuman."

"Dan membiarkan Jaejoong lebih membenciku dari sebelumnya." Yoochun menghentikan langkahnya ketika merasa mereka sudah aman dari kejaran satpam sekolah.

"Aku tidak tahu apa yang terjadi terhadap Jaejoong akhir akhir ini," Ia duduk di tangga paling bawah gudang. "Jaejoong menjadi tertutup sejak dia mengenalmu, dan sialan kau." Yoochun menerjang Yunho sampai tubuh pemuda itu membentur tembok dengan suara yang begitu keras. "Aku akan memotong lidahmu kalau kau tak menjaga kata katamu, kau menyakiti Jaejoong sekali lagi."

Changmin melongo melihat kemarahanYoochun yang bisa dibilang langka. Demi apa, pemuda itu tidak pernah marah apalagi sampai ingin menghajar seseorang seperti yang terjadi pada Yoochun yang berdiri di hadapanya saat ini, tetapi ia memaklumi kemarahan Yoochun dan kehilangan kendali karena dia juga akan melakukan hal yang sama kalau saja Jaejoong GD dan Junsu tidak menghajar Yunho sebelumnya.

"Sudahlah, Yoochun. Kita harus menemukan Jaejoong sebelum ..." Ia mengumpat Bell berbunyi disaat yang tidak tepat. "... bell masuk berbunyi." ia menambahkan dengan lelah.

"Aku akan mencari Jaejoong dan memastikan dia baik baik saja, katakan kepada Guru, bahwa Jaejoong tidak enak badan,"Yunho berlari menjauh setelah berhasil mendorong Yoochun dari hadapanya.

"Apa yang akan kita lakukan Yoochun." Junsu bertanya.

"Masuk ke kelas dan mengatakan apa yang dikatakan Yunho." Ia berjalan dengan langkah lebar keluar gudang. "Kita juga harus memberikan Yunho kesempatan, karena entah mengapa aku merasa Jaejoong merancanakan sesuatu yang aku sendiri tidak tahu apa?" Ia berhenti untuk menatap kedua sahabatnya itu. "Kalian tahu?"

Junsu menggeleng, dan Changmin mengedikan bahu tak acuh. "Kau benar, tidak ada salahnya kita memberi mereka kesempatan untuk menyelesaikan masalah mereka sendiri."

.

.

.

Seluruh sudut sekolah sudah Yunho telusuri dari atap sampai gudang, bahkan ia harus mengendap endap dari pintu kelas ke kelas lain agar tidak tertangkap basah oleh guru dan ia masih tidak menemukan Jaejoong dimana mana. Pemuda itu seakan lenyap di telan bumi atau ...

Yunho menghentikan langkahnya. Apakah Jaejoong pergi bersama pemuda pemuda brandal dari sekolahan lain itu?

Ya Tuhan jangan sampai.

Yunho memasuki kantin, tempat terakhir yang belum ia telusuri meskipun ia sendiri tidak yakin Jaejoong akan bersembunyi disini ia harus memastikanya sebelum mencari Jaejoong di luar sekolahan, namun kantin masih kosong hanya terdengar suara suara dari arah dapur kantin.

Yunho sudah akan berbalik ketika telingnya menangkap suara kekehan kecil yang tidak asing di telinganya terdengar dari arah dapur. Langkah kaki Yunho terhenti untuk mendengarkan suara itu dan lagi, suara itu terdengar semakin jelas.

Yunho mengayunkan langkahnya kepintu dan mengintip. Jaejoong disana dengan wajah bernoda tepung dan tangannya memegang sebuah sendok adonan. Pamuda itu terkekeh lagi ketika sang koki pembuat roti itu menceritakan sesuatu yang lucu.

Menghela nafasnya lelah ia memberanikan diri membuka pintu lebih lebar. Dan semua mata para Chef yang sibuk memasak menatapnya. "Ah, kita kedatangan tamu lain, apakah kau juga di keluarkan dari kelas karena lupa tidak membawa buku pelajaranmu." Dan Yunho tahu, itulah alasan yang Jaejoong katakan agar pemuda itu dibiarkan membantu mereka disini.

Melenggang masuk Yunho menghampiri meja yang penuh dengan adonan entah apa itu. Ia menghela nafas, setidaknya Jaejoong tidak kabur bersama berandalan lainya."Iya, dan kau Jaejoong, apa yang kau lakukan disini?"

"Tentu saja membuat roti, Paman Jo selalu memberiku roti pertama yang keluar dari oven setiap kali aku membantunya." Jaejoong mengatakan itu dengan bangga, dan Yunho merasa hatinya menghangat melihat senyuman yang pemuda itu berikan kepada pria tua yang di panggilnya Paman Jo.

"Jadi, ini bukan pertama kalinya kau kesini?"

"Ketiga kalinya dalam enam bulan terakhir,"paman Jo menjawab, "Terakhir kali kau bersama kedua sahabatmu itu, siapa namanya?"

"Yoochun dan Changmin."

"Ah, iya. Dan pemuda yang lebih tinggi itu menghabiskan kue pertama paman yang keluar dari oven." seluruh orang yang sibuk membuat adonan dan masakan lainya tertawa mengingat kejadian tersebut.

Astaga, Yunho merasa dirinya sangatlah kejam telah membuat Jaejoong menderita selama dua hari tetakhir ini.

Meskipun awalnya Jaejoong menolak kehadiran Yunho, akhirnya pria itu mengabaikanya setelah tidak berhasil mengusir Yunho dari dapur Kantin. Meskipun pemuda itu tetap tidak menjawab pertanyaan dan mengabaikan gurauan Yunho.

Ketika jam istirahat sudah akan selesai Yunho dan Jaejoong keluar dari dapur kantin dengan sekantong penuh roti hangat yang derikan paman Jo untuk mereka dan dua botol minuman yang Yunho beli, mereka duduk di atap sekolah yang panas. Syukurlah matahari tidak bersinar terlalu terik sehingga Yunho tidak perlu menghawatirkan kulit Jaejoong yang sensitif.

"Kalian sering kemari," Yunho bertanya ketika ia menutup pintu yang menuju atap gedung.

Jaejoong masih mengabaikanya. Pemuda itu mengambil sesuatu dari sela sela tumpukan barang yang sudah tidak digunakan, dan Yunho tahu mereka sering kemari.

Jaejoong sibuk menggelar tikar yang ia ambil dari tumpukan barang dan mengeluarkan sebuah tenda kecil yang entah dari mana bisa ada disana.

Seakan tahu dengan tanda tanya besar di kepala Yunho Jaejoong menjawab. "Changmin yang membawa ini ketika suatu malam kami kesini di malam tahun baru, ah tahun lalu dan kami tidur semalam disini."

"Oh." Yunho membantu Jaejoong untuk membuka tenda itu dan mereka berteduh di dalamnya, setidaknya itu bisa membuat mereka lebih nyaman dari pada tidak sama sekali.

"Sepetinya akan hujan" Jaejoong mendongak menatap langit yang mendung. "Langit semendung hatiku." Ia bergumam tidak jelas dan Yunho bersyukur Jaejoong tidak mengusirnya lagi.

"Aku minta maaf,"

Mata Jaejoong beralih menatapnya dengan mata bening pemuda itu. Yunho melanjutkan. "Tidak seharusnya aku menuntutmu berubah menjadi anak baik, atau mengubah kebiasaanmu yang suka berkumpul dengan kedua sahabatmu, hanya saja aku cemburu."

Penyataan Yunho mengejutkan Jaejoong. "Mereka sahabatku Yunho,"

"Ya dan kau lebih sering bersama mereka ketimbang bersama kekasihmu ini." Yunho meraih tangan Jaejoong kedalam genggamanya.

"Jangan mengatakan kita putus, dan jangan pernah mengatakan kau membenciku, Mungil," Menarik tangan Jaejoong ke bibirnya Yunho mendaratkan ciuman di jari jari lentik Jaejoong. Mengagumi keindahan jari jari kekasihnya itu.

"Kau yang mengatakan tidak menginginkanku, aku nakal dan biang masalah sulit di atur dan,,," Bibir Yunho membungkam bibir Jaejoong agar pemuda itu tidak lagi mengoceh, dan tentu saja Jaejoong terdiam menatapnya terkejut dengan mata besarnya yang terbelalak semakin lebar.

"Aku minta maaf, Kitten. Waktu itu aku terlalu marah dan tidak dapat mengontrol kata kataku,"

"Dan juga tadi, kau mengatakan aku cengeng dan lemah karena memerlukan mereka untuk menghajarmu." Yunho terkekeh kemudian menarik Jaejoong semakin dekat untuk memeluknya. Ya Tuhan. Ia sangat merindukan Jaejoong.

Jaejoong hanya diam saat Yunho memeluknya namun tidak berniat membalas pelukan pria itu.

"Kau sudah membuktikan kalau kata kataku salah karena kau sudah menghajarku." Mendorong tubuh kekasihnya menjauh Yunho menunjukan luka lebam yang sudah mulai terlihat membiru di ujung matanya. "Kau berhasil menghajarku tanpa memerlukan bantuan siapapun."

Oh Tuhan, tangan Jaejoong membekap mulutnya. "Yunho maafkan aku, apakah itu sakit? Perlukah kita ke dokter?"

"Tidak perlu." kembali Yunho membawa Jaejoong kedalam pelukanya. "Kita baikan, jangan marah lagi, karena aku tidak bisa jauh dan diabaikan olehmu lebih lama lagi, mungil." pelukan Yunho semakin erat. "Kau tahu, dua hari ini aku selalu memikirkan kata kataku dan aku sadar aku salah." Menarik diri Yunho menyatukan kening mereka, mata musangnya menatap kedalam bola mata Jaejoong yang selalu membuatnya merasa damai hanya dengan menatap mata indah itu.

"Aku mencintaimu, aku benar benar mencintaimu Kim Jaejoong yang nakal bandel dan suka mencari masalah. Jadi kita baikan, tidak ada lagi kata putus, sekarang besok dan selamanya."

"Aku akan memutuskanmu kalau kau membuatku marah dan mengatakan aku cengeng dan aku tidak suka kau dekat dengan anak baru itu."

Yunho tercenggang. Astaga! Apakah Jaejoong cemburu?

Tawa Yunho menggema di atap gedung . "Kau sudah merebut jantung hatiku dan aku akan mati kalau jauh darimu dan kau juga menggenggam jantungku erat erat apakah kau akan membiarkan Jantungku direbut oleh anak baru itu, siapa namanya?

"Ga Eun."

"Ya, Ga Eun."

"Langkahi dulu mayatku."

Sudah cukup! Yunho tidak butuh kata kata lain lagi dan ia kembali membawa Jaejoong kedalam ciuman panjang yang tidak akan pernah Jaejoong lupakan.

Jaejoong memasrahkan dirinya kepada Yunho membiarkan kekasihnya itu menciumnya sedemikian rupa sampai mereka puas dan Jaejoong tersenyum menyerigai saat Yunho menciumnya semakin dalam dan menuntut.

Yunho adalah miliknya. Titik.

Siapapun tidak akan ia biarkan untuk menyentuh miliknya bahkan menyentuh lengan Yunho sekalipun, dan Jaejoong akan meminta bayaran atas itu kepada Kim Ga Eun karena telah berani mengganggu milik Kim Jaejoong.

.

.

.

"Apa yang kalian lakukan,"Ga Eun terkejut ketika segerombol murit perempuan mendorong dan mendesaknya menjauh dari kantin, tempat biasanya ia menghabiskan waktu makan siang bersama teman temanya.

Akan tetapi sejak pagi mereka menghindarinya dan mengabaikan Ga Eun ketika ia mengajak mereka untuk makam siang bersama. Semua orang menatapnya sinis dengan cebilan bibir yang mirip bibir ikan.

Segerombolan gadis itu tidak memerlukan tempat sepi untuk mengingatkan Ga Eun karena semua murit yang lewat mengabaikan mereka seakan mereka kasat mata dan tak menghiraukan ratapan minta tolong Ga Eun.

"Kalian tahu siapa aku?" Teriaknya di lorong yang lumayan jauh dari kantin.

Hey kesembilan Gomiho yang diberikan nama untuk kesembilan anak geng Jessica itu tidak akan mencari masalah dengan menyudutkan gadis manja itu di kantin, dimana para Guru bisa datang kesana kapan saja.

"Ya ,ya kami tahu."

"Kim Ga Eun anak pengusaha kaya yang tidak lebih kaya dari keluarga Jaejoong kita yang manis." Alis Ga Eun melengkung pasrah, ia pikir Jaejoong adalah anak keluarga biasa yang bisa ditindas untuk meninggalkan Yunho, sepertinya ia salah seandainya meminta bantuan atas nama keluarga Kim Kakeknya.

"Kami tahu apa yang ada dalam pikiranmu Ga Eun, kau salah jika mengandalkan keluargamu atau kakekmu yang baru pindah untuk melawan Jaejoong, Yunho tidak akan memaafkanmu."

Jadi, mereka semua tau siapa dirinya dan tidak takut kepadanya. "Kau melupakan sekolahan kita sekolah elit yang hanya boleh dimasuki oleh anak keluarga berada dan keluarga Choi Siwon yang palin kaya, Yunho kedua."

Yuri menggeram. "Untuk apa kau menyebutkan keluarga terkaya Yoona, kita tidak membutuhkan nama keluarga untuk menghajar gadis manja ini."

"Tidak, kita tidak akan menghajarnya, itu hanya akan membuat tangan kita kotor." Jessica bersandar santai di dinding sambil meniup niup jemarinya yang lentik. "Kita hanya akan memberi tahu dia apa yang akan terjadi kalau dia berani mengganggu pasangan Yunjae kita yang tersayang."

Ah, Ga Eun mengerti sekarang. "Jadi Jaejoong tidak berani memeberitahuku sendiri dan menyuruh kalian untuk memberitahuku, dasar pecundang."

"Tarik kata katamu," Sunny mendorong bahu Ga Eun sampai punggung gadis itu membentur tembok sampai menimbulkan suara yang begitu keras.

"Aku peringatkan kau Ga Eun sunbae yang manis, aku tidak ingin mengotori guntingku dengan rambut mu jadi jauhkan tubuhmu dari pasangan Yunjae kita."

Mata Ga Eun mendelik lebar. Jemarinya menyentuh ujung ujung rambut panjangnya dengan ngeri.

Yuri menyenggol lengan yang lain sampai ia mendapatkan semua perhatian mereka. "Ada apa Yuri." Yoona memutar tubuh diikuti yang lain.

Mata mereka berbinar bahagia melihat pasangan Yunjae mereka berjalan mendekat sambil berpegangan tangan, sesekali Yunho menggoda Jaejoong sampai wajah kucing nakal itu merona. Oh, mereka sudah baikan ternyata.

"Apa yang kalian lakukan disini, para Gomiho yang manis." Tanya Jaejoong, suaranya begitu manis sampai membuat sembilan gadis itu meleleh di buatnya.

"Jongie Sunbae, kalian sudah baikan." Salah satu dari sembilan gadis itu bertanya.

Jaejoong mengangguk malu malu menyembunyikan wajahnya di lengan Yunho." So sweeeeet." Sembilan gadis itu berteriak serempak melihat kemanjaan Kingka mereka yang semakin menggemaskan.

Ketika manik matanya melihat Ga Eun senyuman di bibir manis Jaejoong lenyap, jemarinya menggenggan jemari Yunho semakin erat. Yunho yang menyadari hal itu menatap kekasihnya itu khawatir. "Ada apa Kitten?"

Dengan tatapan ngeri yang dibuat buat sedemikian rupa ia menatap lurus kearah Ga Eun, Yunho menyadari keberadaan gadis itu, iapun menggeryit. Astaga apa yang akan di lakukan Jessica cs kepada gadis malang itu. "Kalian tidak melukai Ga Eun, bukan?"

"Tentu saja tidak," jawab mereka serempak sambil menggoyangkan kedua tangan mereka, meskipun Yunho tahu mereka berbohong ia mengabaikan kenyataan itu.

Mendengar Yunho membelanya Ga Eun tersenyum senang, semangatnya kembali berkobar. Dan ia menerobos kerumunan itu untuk berdiri tepat dihadapan Yunho.

Yunho mundur seketika saat gadis itu akan menyentuh lenganya. Kekecewaan gadis itu terlihat nyata, dan kesembilan gomiho itu tertawa bahagia tanpa di tutup tutupi.

Yunho mengeratkan jemarinya untuk menggem jemari Jaejoong ketika merasakan Jaejoong akan melepaskan tanganya. "Tenanglah Kitten," Tangan besarnya mengusap rambutnya penuh sayang.

Kepada Jaejoong ia berkata. "Aku hanya tidak ingin kesembilan Gomiho yang manis ini,,," ia melirik Jessica Cs dan mereka membalas tersenyum manis kearahnya." ,,,mendapat hukuman karena kita, apa kau akan membiarkan mereka menyakiti Ga Eun sampai mereka mendapat hukuman."

Jaejoong menggeleng imut." Tentu saja tidak, Bear. Mereka gadis manis aku tidak rela mereka dihukum demi membela Jongie. Kita masihlah pasangan terkeren di Sekolahan ini, jadi tidak usah membalas dendam."

Ya Tuhan, mengapa Jaejoong harus mengatakan itu dengan nada merajuk yang menggemaskan. Meskipun Yunho tahu Jaejoongnya itu sedikit menambah ekspresi untuk meyakinkan ucapanya tetap saja ia tersenyum.

Yunho sengaja mencium sekilas bibir Jaejoong di hadapan para gadis yang menjerit histeris karena ulahnya itu. Ia hanya ingin mengatakan kepada mereka kalau Jaejoong adalah miliknya mutlak, begitu juga sebaliknya.

Yunho berbalik menatap Ga Eun. "Sebaiknya kau berhenti menyebarkan gosip yang tidak benar, itu hanya membuatmu akan jadi sasaran keusilan murit yang lain." Dan Yunho merangkul bahu Jaejoong yang malu malu Jiji semakin dekat kemudian meninggalkan mereka semua.

Yunho terkekeh saat Jaejoong menyembunyikan wajahnya di bahunya. "Ya Tuhan, kau akan membunuhku dengan tingkahmu yang menggemaskan ini Kitten."

Dengan senang hati Jaejoong mencubit perut Yunho yang keras." Jongie tidak akan membunuhmu, Bear." Ia mencebilkan bibirnya.

Ketika mereka memasuki kelas Jaejoong, semua mata menatapnya dengan pandangan yang berbeda beda. Mereka berhenti di bangku Jaejoong dengan Yunho duduk di meja. "Bagaimana kalau kita kencan minggu ini,"

"Kencan." Junsu berteriak dari arah pintu diikuti Yoochun dan Changmin di belakangnya. Mereka melenggang masuk. "Jongie boleh aku ikut," Kaki Junsu menghentak hentak penuh semangat.

"Maaf Yunho, Jongie sudah janji akan membantu Daddy di kantor, banyak yang lembur jadi untuk membayar atas kenakalan Jongie, Daddy meminta ku untuk membantu Daddy di kantor."

"Benarkah." Yunho sedikit kecewa mendengarnya, namun ia tetap tersenyum. "Baiklah, siangnya aku akan menjengukmu dan membawakan makan siang untukmu juga Paman, Kim, aku akan memesan langsung dari restoran bintang lima khusus untukmu."

"Bolehkan kami ikut." Junsu menatap Yunho penuh harap. "Yunho-a ayolah tadi aku sudah membantumu memberitahu Guru kita dan kau harus ..."

"Baiklah." Yunho menghela nafas pasrah. Sepertinya ia harus merelakan acara mereka di ganggu oleh ketiga sahabat mereka itu.

"Aku juga ikut," Changmin merasa tergoda dengan bekal yang di janjikan Yunho, ia menyenggol Yoochun. "Kau juga ikut kan, Yoochun."

Pemuda itu mau tak mau mengangguk setelah mendapat lirikan maut dari Changmin.

~TBC~

Sudah saatnya ff ini tau mau dua atau tiga chap lagi masih mikir endingnya mau kaya apa.

Semakin lama akan kehilangan fell baca kalau ceritanya hanya tentang kekonyolan Jaejoong cs. Secara Author sendiri tidak suka ff terlalu panjang, ceritanya pasti muter muter.

Kamsahamnida sudah jadi pembaca setia, jangan lupa baca Ff Sulis lainya.