Naruto belongs to Masashi Kishimoto. I didn't any material profit from this fanfiction.

Warning : AU, highly OOC, OCs, typos, etc

.

.

.

"Nggak mau."

Kalau ada yang mengira itu jawaban Hinata atas lamaran Gaara, maka orang itu harus siap-siap kecewa. Biarpun pose Gaara sekarang ini beda-beda tipis sama pangeran ganteng yang lagi berlutut sambil membawa cincin permata, benda segiempat di tangannya jelas lebih mirip tablet pc ketimbang penanda cinta. Lagi pula kalau memang benar Gaara melamarnya, pastilah Hinata dengan refleks akan menerimanya.

Yang membuat Hinata sewot adalah cara Gaara memilih pakaian. Oh, tentu saja ini bukan tentang lingerie merah muda atau bikini bermotif bunga-bungaan. Kalaupun mau, semestinya Gaara memberi masukan tentang dress yang akan ia pakai ke pesta pernikahan. Bukan pesta mereka tentunya, karena jelas-jelas Itachi takkan rela kalau mereka menikah duluan.

"Tapi ini bagus," ucap Gaara masih bersikeras.

Jawaban itu tentu saja memberikan efek migrain akut. Bagaimana coba cara Hinata menjelaskan pada Gaara bahwa memakai hakama—tapi dengan rok mini—legging hitam, dan scarf berornamen kupu-kupu itu bukanlah sesuatu yang patut. Yang jelas ber-cosplay ria di pesta pernikahan pasti akan membuat si empunya acara cemberut.

"Hinata, kamu mau, kan?" tanya Gaara dengan senyum manis—yang sebenarnya lebih mirip seringai iblis, "Kamu cocok, lho, jadi Shirakiin Ririchiyo."

Untuk kesekian kalinya Hinata menghela napas dalam-dalam. Ia yakin Gaara bukannya tidak paham. Tetapi jiwa otaku yang masih tersisa di umur 25 membuat fetish-nya masih susah diredam. Biasanya Hinata tidak akan segigih ini menyuarakan keberatan, tetapi kali ini ia memang benar-benar tidak bisa tinggal diam.

"Gaara ... menurutmu apa kata Itachi-nii kalau aku datang ke resepsi pernikahannya dengan baju seperti itu?" tanya Hinata setengah gemas.

Yang ditanya refleks menjawab, "Kawaii."

Kami-sama ... Hinata benar-benar butuh aspirin sekarang.

Maunya sih Hinata memukul-mukul lengan atau dadanya, mengata-ngatai Gaara sebagai pria paling bodoh sedunia, mengomelinya untuk tidak ikut campur urusan busananya. Kalau perlu, ia ingin mendorong Gaara ke ranjang—demi Tuhan, bukan untuk urusan mesum—lalu mengajaknya perang bantal sampai Gaara menyerah dan membiarkan Hinata memilih pakaiannya. Tapi begitu melihat mata hijau jernihnya, segala kegilaan dan ke-out of character-an di kepalanya sirna seketika.

Sepasang mata sejernih dan sepolos itu seharusnya milik seekor bayi panda, bukan milik dokter tampan yang sudah lima tahun menjadi pacarnya. Celakanya, kalau Gaara sudah memberikan tatapan supercute-oh-so-kawaii begitu, mana tega Hinata memukulnya. Reaksi paling mainstream yang Hinata berikan paling-paling hanya...

"Sudah, ah. Pokoknya aku mau little black dress saja."

... bicara begitu sambil tersipu-sipu dan menghindari tatapan Gaara.

"Uh, okelah. Apa saja sih. Yang penting memberiku akses lebih buat ngapa-ngapain kamu," jawab Gaara sekenanya.

Yang jelas Hinata tidak perlu merinci lagi apa arti kalimat 'ngapa-ngapain kamu'. Gaara punya lebih dari seribu definisi bila disuruh menjelaskan makna kalimat itu. Kadang kala ia menunjukkannya dengan melakukan hal yang membuatnya menggerutu. Misalnya cukup dengan menatapnya selama belasan menit sampai Hinata tersipu-sipu atau bisa saja langsung mencumbunya tanpa ragu. Atau bahkan ia cuma mencomot quote-quote dangdut untuk merayu.

"Ngomong-ngomong, Gaara, istirahatmu sampai jam berapa?" tanya Hinata seraya melirik jam di pergelangan tangan kirinya.

"Harusnya sebentar lagi," jawab Gaara, "tapi aku masih mau di sini."

"Atasanmu tidak marah?" tanya Hinata lagi.

"Kau mengusirku?" Gaara balik bertanya.

"Bukan begitu," Hinata buru-buru mengoreksi, takut Gaara tersinggung lalu ujung-ujungnya pundung. "Aku hanya tidak ingin atasanmu marah gara-gara kamu keasyikan pacaran."

"Pacaran emang asyik kok. Apalagi kalo ceweknya gampang dibikin tersipu-sipu kayak yang lagi duduk di depanku," komentar Gaara.

Cubitan kecil bersarang di lengan Gaara sejalan dengan lirikan Hinata yang menyimpan berbagai arti. Yang dicubit hanya bisa menyeringai, apalagi ketika tanpa sadar Hinata menggembungkan pipi. Yah, biarpun sudah beranjak dewasa, kebiasaan-kebiasaan semacam itu masih belum sepenuhnya lekang dari kehidupan sehari-hati.

"Pipimu kenapa? Gusimu bengkak? Atau gigimu berlubang? Kamu sih kebanyakan makan yang manis-manis." Pernyataan sok polos itu meluncur begitu saja. Efeknya jelas saja meningkatkan level cubitan Hinata.

"U-uh ... Gaara ... kan tadi kita membahas soal atasanmu. Kok jadi berubah begini?" protes Hinata, "Aku serius. Kudengar dari mamamu, kepala divisimu lumayan galak."

"Nah, makanya. Lebih enak membahas gadis muda yang lebih cantik dan seksi kan daripada nenek-nenek tua yang super galak?" sahut Gaara sembari menatap lurus ke arah Hinata.

"Jangan menggodaku terus, Gaara," ucap Hinata setengah merajuk.

"Habis kamu gampang tersipu-sipu dan kamu jelas kelihatan lebih manis dengan itu," ucap Gaara, "ah, ngomong-ngomong soal manis, kamu punya utang ongkos konsultasi jasa dokter Kabuto padaku." Ia menyebutkan seorang internis di rumah sakit tempatnya bekerja.

"Kamu sakit?" Pertanyaan itu langsung muncul ke permukaan meski inner Hinata ingin lebih dulu bertanya 'Kenapa aku yang harus bayar jasa konsultasinya?'

Anggukan kepala Gaara membuat Hinata terlihat cemas. Gaara memang seorang dokter, tapi bukan spesialisasinya untuk mengurusi penyakit ganas. Lelaki itu bahkan baru memantapkan hati untuk melanjutkan studinya di bidang kardiologi sembari menimbang segalanya dengan jelas.

"Kamu sakit apa?" Kali ini Hinata sedikit memaksa. Kami-sama ... jangan bilang Gaara sakit keras dan hanya punya waktu beberapa bulan saja untuk tetap eksis di dunia. Tidak ... mereka bahkan belum menikah, belum punya anak, belum membina keluarga. Masa Gaara mau mati begitu saja.

"Gula darahku naik."

Diam-diam Hinata mengambil napas lega. Setidaknya penyakit Gaara tidak seseram yang dibayangkannya. Tetapi kelegaannya tak berlangsung lama karena ia segera mempersiapkan diri kalau-kalau Gaara menyebutkan penyakit yang membuatnya merana.

"Dokter Kabuto bilang, sepertinya ini gara-gara kamu," kata Gaara.

"Kok bisa? Kan yang makan cake cuma aku. Gaara kan tidak suka makanan manis," tanya Hinata, masih belum sepenuhnya paham pembicaraan Gaara.

"Aku suka yang manis-manis, asal bukan untuk dimakan atau diminum," kata Gaara, "Dokter Kabuto bilang, memperhatikan dengan saksama raut wajah yang manis juga bisa berpengaruh pada kadar glukosa dalam darah. Dan kamu tahu kan seberapa sering aku memperhatikanmu."

Semburat tipis di pipi Hinata berubah menjadi merah merona bersinar. Akhirnya ia memahami ada gombalan yang terselip dari ucapan yang terlontar. "A-asal, deh. Mana mungkin Dokter Kabuto bilang begitu."

Hinata benar, dokter seserius Dokter Kabuto memang takkan mungkin bicara begitu. Gaara memang sekadar mencomot namanya untuk bisa merayu. Toh, cara itu tidaklah sia-sia karena Hinata tetap saja tersipu-sipu.

.

.

.

"Kamu nggak nyuruh Hinata pakai baju yang aneh-aneh ke pestaku, kan?"

Itu yang ditanyakan Itachi ketika ia dan pacar Hinata berjumpa. Entah ada urusan apa sampai-sampai ia tersasar ke ruangan Gaara. Si empunya sendiri terlihat tak begitu senang menyambut tamu dadakannya. Uchiha satu ini, bisa tidak sih tidak usah datang pada jam kerja?

"Aku maunya dia pakai baju yokai ala Shirakiin Ririchiyo, tapi dia tidak mau," tukas Gaara tanpa melepaskan mata dari lembar hasil laboratorium di tangannya.

"Yokai?" Dalam benak Itachi, terbayang sosok-sosok culas yang tidak ada mirip-miripnya dengan si adik sepupu. Mana ia tahu, yokai yang dimaksud Gaara punya wajah yang unyu-unyu? Karena itu, ia langsung menyambar, "Nggak boleh. Yang cakepan dikit. Baju kurungan ayam atau apalah itu. Biar kayak putri-putri di abad sembilan belas."

"Aku nggak suka. Susah dibuka. Bikin repot saja."

Itachi mendelik mendengar komentar Gaara yang super datar. Maunya sih, dia bisa mempertegas lagi soal kata-kata Gaara yang baru saja ia dengar. Tapi niat itu ia urungkan mengingat belum tentu ia siap mendengar jawaban macam apa yang akan terlontar. Mengingat yang diajaknya bicara adalah Gaara, siapa tahu jawabannya malah menyerempet hal-hal yang lebih vulgar. Dan kalau saja Sasuke atau Naruto mendengar, mungkin si rambut merah ini sudah habis ditampar.

Belum tentu juga sih, apa lagi kalau mengingat betapa bangganya Sasuke dan Naruto pada si calon menantu—yang entah kapan akan naik pangkat menjadi menantu. Itachi ingat betapa sumringahnya mereka waktu berfoto bersama di acara wisuda Gaara hampir dua tahun lalu. Bahkan Naruto—yang terkadang masih suka melempar spatula—juga akan dengan bangga memperkenalkan Gaara pada setiap relasinya, "Ini calon menantuku."

"Ngomong-ngomong, kamu nggak ke sini cuma buat memastikan baju Hinata, kan?" tanya Gaara. Pertanyaan retorik sebenarnya, karena keberadaan Itachi di sini jelas bukan tanpa alasan. Tetapi andaikata memang begitu, mungkin Gaara perlu menyuntiknya dengan anestetik dosis tinggi supaya Uchiha satu itu tidak kurang kerjaan.

"Jasmine sedang menemui dokternya. Biasanya memang ia datang ke klinik kecantikannya. Tapi karena dokter itu sedang bertugas di sini dan Jasmine memang perlu bertemu dengannya, ya, di sinilah aku sekarang," jelas Itachi.

"Oh," komentar Gaara singkat, "kamu nggak ikut? Calon istrimu sibuk mempercantik diri agar terlihat sempurna di hari pernikahanmu. Kukira kamu akan melakukan hal yang sama."

"Oh, tidak perlu. Aku sudah punya program menjaga ketampanan sendiri kok."

Gaara hanya bisa mengerutkan kening. Ini bukan pertama kalinya ia mendengar judul program yang terdengar agak sinting. (Calon) ayah mertuanya, Sasuke, juga kerap mengatakan bahwa bagi seorang Uchiha, menjaga ketampanan atau kecantikan sangatlah penting. Hal itu juga menjelaskan mengapa kebanyakan Uchiha, walaupun sudah paruh baya, tetap saja memiliki kulit yang begitu cling.

Kecuali Itachi yang mungkin perlu melakukan revisi agar programnya berjalan lebih baik lagi. Yah, walaupun program itu tidak sepenuhnya gagal juga mengingat buktinya Itachi bisa menggaet bule Skotlandia sebagai calon istri. Kecuali kalau ternyata ada unsur magis semacam pelet yang terlibat di sini.

"Dokter Akasuna," dari arah pintu, muncul seorang perawat. Ia berhenti sejenak ketika melihat Itachi, "Ah, maaf. Saya tidak tahu kalau ada pasien Anda yang datang."

"Masuklah, Tayuya. Orang ini tidak datang sebagai pasienku." Jawaban Gaara jelas-jelas membuat kening Itachi mengerut. Kesannya seolah-olah ia hanya datang sebagai pengganggu.

Kerutan di keningnya bertambah setelah ia mengamati baik-baik bagaimana gestur Tayuya. Mau dilihat pakai mata telanjang atau pakai ujung sedotan sekalipun, perawat satu ini tidak datang semata-mata karena kertas yang entah-isinya-apa. Kentara sekali Si Tayuya ini juga sedang mencari-cari perhatian Gaara.

Penampilannya memang biasa saja. Tidak seducing atau semacamnya. Hanya saja, ada beberapa kali ketika Itachi merasa perempuan itu seolah sengaja menyentuh Gaara. Dan nada bicaranya ... terdengar dibuat-buat lebih manis menyerupai Hinata. Dan pipinya, Itachi yakin ada sentuhan blush on ikut andil dalam membuat pipinya merona. Singkatnya, perawat ini mencoba menjadi Hinata wannabe agar dilirik Gaara.

"Dia selalu begitu?" tanya Itachi ketika Tayuya sudah pergi.

"Siapa?" Gaara balik bertanya.

"Perawat itu. Namanya Tayuya, ya?" kejar Itachi.

Gaara mengerutkan kening, "Kenapa memangnya?"

"Fake," jawab Itachi singkat.

"Oh," komentar Gaara, "dulu dia tidak begitu. Kesannya malah jauh lebih liar dari yang baru saja kamu lihat. Tapi belakangan ini dia terlihat lebih kalem. Mungkin seseorang sudah berhasil men-settle down sisi liarnya."

"Belakangan itu, apa sejak Hinata sering datang ke sini?" kejar Itachi.

Gaara terlihat mengingat-ingat, "Kayaknya sih. Bagus deh kalau pacarku bisa menginspirasi mereka."

"Iya, terinspirasi buat merebutmu dari Hinata," gerutu Itachi dalam hati. Ia berani bertaruh, Tayuya bukan satu-satunya perempuan yang haus perhatian Gaara. Sayangnya, Gaara juga bukan tipikal lelaki yang cukup peka. Ia tidak pernah begitu memperhatikan wanita kecuali wanita itu adalah Hinata atau tokoh dua dimensi kesayangannya. Dan dalam hal ini, Itachi tidak tahu apakah ia patut bersyukur atau malah harus menghajar pacar adik sepupunya.

"Hati-hati saja. Bisa repot kalau Hinata tahu dan dia cemburu," komentar Itachi.

"Huh? Kadang-kadang sih. Kadang dia cemberut kalau menurutnya aku terlalu dekat dengan perawat, rekan sesama dokter, atau bahkan pasienku," tukas Gaara.

"Dan tipe dangduters kayak kamu pasti langsung bilang 'Biarpun banyak kembang di sekeliling Abang, cinta Abang cuma buat Eneng seorang'. Iya kan?" cibir Itachi.

Gaara setengah mendelik setengah berpikir dialog opera sabun macam apa yang sudah dicomot Itachi. Atau mungkin kakak sepupu Hinata satu ini salah memilih sarapan pagi. Karena tidak biasanya kaum Uchiha berkomentar nyinyir kayak tante-tante begini. Atau jangan-jangan, ini efek samping dari cold feet yang dirasakannya menjelang pernikahannya yang tinggal menghitung hari.

Tak tahan dengan ejekan dari ekor mata Itachi, Gaara buru-buru menjawab, "Aku nggak pernah bilang begitu. Aku cuma bilang, 'Ngapain khawatir? Kan kunci hatiku kamu yang pegang.'"

Kali ini Itachi mati-matian menahan tawa. Untuk kesekian kalinya, ia bisa mengerti kenapa Hinata bisa sebegitunya mencintai Gaara. Tidak sia-sia Sasuke berbagi ilmu dengannya. Karena kenyataannya, kemampuan merayu Gaara sudah bisa disejajarkan dengan para Uchiha.

.

.

.

"Tadi Itachi-nii ke rumah sakit," ucap Gaara—setengah mengadu—pada Hinata. Ia melonggarkan simpul dasinya sembari menengok apa yang sedang dimasak Hinata. Senyumnya terpampang singkat ketika tahu gadis itu memasak salah satu menu favoritnya.

"Itachi-nii sakit?" Gadis itu sedikit merengut ketika Gaara tahu-tahu sudah mencomot sepotong daging yang masih ia tumis. Dagingnya memang sudah matang karena sudah digoreng terlebih dahulu. Tapi tetap saja, Hinata lebih suka kalau Gaara menanti dengan tenang sambil duduk manis.

Yang dicemberuti malah menyeringai sembari berkata, "Kamu kelihatan makin cantik kalau lagi cemberut begitu. Pengganti senam wajah, huh?"

"Serius, Gaara. Itachi-nii sakit apa? Cuma pilek atau semacamnya saja, kan?" Hinata mengabaikan kalimat terakhir Gaara. Lagi pula kalau diladeni, pastinya akan berakhir dengan kekalahan telak di pihaknya.

"Malarindu tropikangen," jawab Gaara sekenanya. Ia buru-buru mengoreksi ketika Hinata sudah bersiap hendak menyergah, "Nggak sih. Cuma menemani calon istrinya menemui dermatolog. Mungkin dia bosan, makanya mencariku."

"Syukurlah," ucap Hinata. Ia membawa masakan yang baru saja ia selesaikan ke meja makan. Ia tahu, setelah seharian bekerja—bahkan ditambah lembur—Gaara pasti kelaparan. Barangkali sekarang perutnya juga sudah mulai dangdutan.

Hampir setahun yang lalu, mereka memutuskan untuk tinggal bersama. Mulanya Gaara tinggal sendirian, menempati apartemen yang relatif lebih dekat dengan rumah sakit tempatnya bekerja. Seiring berjalannya waktu, ia memberanikan diri meminta Hinata untuk menemaninya. Biarpun tindakannya terbilang lumrah untuk ukuran anak muda Konoha, tetap saja agak sulit baginya mendapatkan ijin dari kedua orang tua Hinata. Terlebih dari Papa Naruto dengan talenan terbangnya.

Yeah, talenan terbang. Sampai sekarang, Gaara tidak pernah paham mengapa alat dapur satu itu yang selalu jadi senjata pamungkas Naruto untuk menyerang. Walaupun memang kalau dilihat dari densitas dan massanya, digeplak dengan talenan jelas lebih mantap ketimbang sekadar dilempari bongkahan arang.

Bila orang tua Hinata mengonfrontasi habis-habisan niatnya, lain halnya dengan Mama Sakura dan Papa Sasori. Kedua orang tua Gaara itu—terutama Sakura—malah bersuka cita begitu tahu Gaara takkan tinggal sendirian lagi. Lupakan saja deh soal ceramah panjang mereka soal betapa malangnya Gaara yang sebelumnya tiap makan harus sendiri, cuci baju sendiri, bahkan tidur pun sendiri.

"Lusa aku pulang ke tempat Ayah dan Papa, ya," ujar Hinata dengan tiba-tiba.

Gaara berhenti menyuapkan makanannya. Ia mengernyitkan kening sebelum bertanya, "Kenapa?"

"Ayah ingin kami sekeluarga bisa pergi bersama-sama ke pernikahan Itachi-nii. Di luar urusan itu, ada yang ingin kudiskusikan juga dengan ayah soal salah satu klienku," jelas Hinata.

"Kalau untuk urusan pekerjaan, kamu kan selalu bertemu dengan Paman Sasuke di kantor. Bilang saja, Paman Naruto kan yang memintamu pulang?" komentar Gaara.

Hinata memperhatikan lekat-lekat ekspresi Gaara ketika mengucapkannya. Ia tersenyum, kemudian menjawab, "Ternyata kamu bisa menebaknya. Nggak apa-apa, kan?"

"Hmm...," gumam Gaara setengah hati.

Hinata tersenyum penuh arti. Ia tahu, di dalam hatinya Gaara sedang menggerutu tak rela ditinggal sendiri. Gaara tak pernah suka ditinggal pergi. Namun, ia juga selalu berusaha menghargai apa pun keputusan dan pilihan yang telah Hinata pertimbangkan dengan teliti. Paling-paling kalau jahilnya sedang kumat, Gaara akan meminta kompensasi.

Dan kalau Gaara diam saja seperti ini, biasanya Hinata akan memberanikan diri untuk mempraktikkan saran dari Neji.

"Kalau aku nggak ada, kamu kan bisa tidur sama Hinata-chan. Dutch wife-mu itu masih ada kok di lemari," ujar Hinata.

Gaara nyaris tersedak potongan paprika ketika mendengar Hinata menyebut frasa 'dutch wife' dan Hinata-chan. Demi apa, Hinata akhirnya memang tahu soal sebuah guling sebesar orang dengan sarung lavender dengan totol-totol indigo yang selalu ia peluk-peluk tiap kali merasa kesepian. Mama Sakura mungkin juga sudah membocorkan soal nama guling kesayangan. Tapi mendengar Hinata menyebutnya sendiri ditambah dengan menyebutnya dutch wife—bukan guling—rasanya cukup memberinya efek kejutan.

"Gulingku memang empuk, tapi tidak hangat dan harum sepertimu," kata Gaara setengah memelas.

"Umm ... ada minyak kayu putih di laci mejaku. Ambil saja, balurkan ke tubuhmu biar rasanya hangat dan aromanya harum," jawab Hinata agak ragu-ragu.

Oh, kalau saja ia tahu pelipis Gaara sudah memasang sudut siku-siku. Alasannya apa lagi kalau bukan karena Gaara sama sekali tak mengharapkan jawaban itu. Maunya Gaara, gadisnya akan merespon dengan malu-malu, sekurang-kurangnya tersipu-sipu. Tetapi di sisi lain, Hinata yang begini memang akan membawa pembicaraan mereka menjadi lebih seru.

"Tapi kan gulingku tidak bisa diajak mengobrol," kilah Gaara.

"Kamu kan bisa memeluknya sambil meneleponku," jawab Hinata kalem.

"Nggak bisa. Nanti cintaku berat di pulsa," Gaara masih mencoba bernegosiasi.

"Umm ... err ... jadi kamu lebih sayang pulsa dari pada sayang pada ... pada ... ku?"

Biarpun Hinata menyematkan intonasi pura-pura ngambek, tetap saja keragu-raguannya merupakan bukti valid kalau ia hanya sedang berpikir keras bagaimana harus membalas Gaara. Bukan hal yang sia-sia, mengingat ada sekitar lima detik di mana Gaara terlihat begitu terpana. Kitab undang-undang macam apa yang dibaca Hinata sampai ia sebegini jagonya? Apakah sekarang KUH Perdata juga sudah mengatur tentang perikatan hati antara mereka?

"Ehm, bukan begitu," ujar Gaara setengah mencoba menyelamatkan harga diri—dan rekor selalu menang—dari Hinata. Jarang-jarang mendapat 'serangan tajam' dari Hinata membuat dirinya tak siap juga.

Hinata hanya bisa tersenyum simpul melihat sikap Gaara yang salah tingkah. Sesekali, Gaara harus merasakan bagaimana efek dari kata-kata manis yang membuat pipinya memerah. Ia suka, selalu suka tiap kali melihat Gaara menggigit bibirnya, memikirkan bagaimana cara untuk tidak kalah. Apalagi kalau tiba-tiba Gaara terlihat stuck lalu untuk sejenak ia memalingkan wajah.

Gaara yang seperti ini benar-benar terlihat manis sekaligus terlihat seksi di saat yang sama.

.

.

.

"Dokter Akasuna, akhir-akhir ini saya sering merasa pusing. Mata berkunang-kunang. Rasanya seperti mau pingsan. Terus..."

Biasanya Hinata tidak terlalu memikirkan siapa saja pasien Gaara yang datang. Apalagi kalau yang datang benar-benar sedang meriang. Namun, jelas lain urusannya kalau yang datang malah seorang gadis centil berpenampilan ala tante girang. Sudah jelas, tipe-tipe begini tidak mendatangi Gaara karena sakit, tapi cuma karena mau dipegang-pegang.

Gaara memang belum berniat membuka klinik sendiri—mengingat pengalaman dan jam terbangnya yang belum seberapa tinggi—tetapi kadang ia juga didatangi pasien. Kebanyakan dari mereka adalah yang berdomisili di sekitar komplek apartemen. Ada yang datang karena memang merasa kurang sehat, ada pula berpura-pura tak enak badan sebagai kedok sifat asli mereka yang ganjen.

Seperti gadis muda satu ini. Apa pula maksudnya menggunakan intonasi dan nada suara yang sok seksi?Kalau dia memang sakit, lantas pasien macam apa yang mendatangi seorang dokter dengan memakai rok mini?

"Pola makanmu bagaimana?" Gaara bersikap seperti biasa, mempertahankan profesionalisme yang menjadi kode etik profesinya.

"Teratur sih, tapi...," gadis itu menjawab ragu-ragu sembari memilin-milin ujung rambutnya, "tolong diperiksa saja deh, Dok."

Hinata sudah tidak bisa lagi berpura-pura tak peduli. Telinganya sudah jenuh mendengarkan rengekan manja dari seorang gadis yang tak tahu diri. Dan sikap tenang Gaara—yang sebetulnya tak bisa disalahkan juga—semakin membuatnya tak tenang hati. Ia percaya pada Gaara, tapi tidak dengan gadis yang sedang ia eksaminasi.

"Ga-Gaara...," panggil Hinata ragu-ragu. Ia menengok ke arah Gaara dan pasien (gadungan)nya di ruangan sebelah. Ruang tersebut merupakan bagian dari ruang tengah yang kemudian disekat dan dijadikan tempat bila Gaara kedatangan pasien atau Hinata kedatangan klien. "Kamu lihat di mana stopmap biruku?"

"Di mejamu. Ada di dekat berkas klienmu," jawab Gaara setengah menahan senyum. Ia tahu Hinata tak benar-benar sedang mencari stopmap biru. Gaara tahu, Hinata bertanya begitu karena dia sedang cemburu.

"Oh, OK," respon Hinata. terlihat kurang puas karena Gaara dinilainya kurang peka.

"Tadi itu ... adik dokter, ya?"

Entah gadis itu buta, atau memang sengaja membutakan diri. Memangnya bagian mana dari diri Hinata dan Gaara yang menunjukkan kesamaan ciri? Dan kalaupun ada, kalau Hinata hanya adik Gaara, untuk apa dia repot-repot menginterupsi.

"Berbaringlah," Gaara sengaja menggantungkan jawaban. Bukan cuma biar pasiennya penasaran, tetapi juga karena ia tahu di luar sana Hinata sedang mengepalkan tangan. "Coba kulihat kelopak matamu. Ohh ... sepertinya ada tanda-tanda anemia. Fujikawa-san, apa akhir-akhir ini kau sering mimisan kalau melihat pria tampan?"

Wajah pasiennya memerah, seolah mengerti kalau niat aslinya sudah tertangkap basah.

"Aku khawatir kadar eritrositmu sudah turun drastis. Kusarankan kau mengeceknya di laboratorium. Mereka akan mengecek sampel darahmu untuk mengetahui kepastiannya. Tapi kalau kau bersedia, aku bisa mengambil sampel darahmu sekarang," Gaara menunjukkan jarum yang berukuran agak besar.

Bila tadi wajah pasiennya memerah, kali ini malah berganti menjadi pucat pasi.

"Fujikawa-san?"

"Apa tidak ada cara lain?" tanyanya mulai was-was.

Gaara menggelengkan kepala, "Aku tidak bisa gegabah memberimu resep obat ataupun menuliskan apa saja yang bisa kaumakan dan yang tidak. Jadi, Fujikawa-san, apa pilihanmu?"

"Do-Dokter Akasuna, kurasa akau akan ke laboratorium sendiri saja," kata Fujikawa memilih untuk menyerah.

"Baiklah," ujar Gaara, "kaubisa menemuiku lagi kalau sudah membawa hasil lab-nya. Di rumah sakit." Ia menekankan intonasinya pada frasa 'rumah sakit'.

"Baik, Dok," Fujikawa menundukkan kepalanya. Tidak berani menatap Gaara.

"Setelah ini kau mau langsung pulang?" tanya Gaara, "Kaubisa ikut kami kalau rumahmu searah dengan rumah mertuaku."

"Mertua?" Fujikawa refleks menatap Gaara dengan segala keterkejutan yang terlihat di matanya, "Dokter Akasuna sudah...,"

"Wanita yang kaulihat tadi," Gaara mengambil jeda sejenak, "adalah istriku."

Fujikawa tidak bicara apa-apa lagi. Bahkan ia hanya menggunakan gestur untuk pamit undur diri. Bola matanya melirik sekilas ke arah Hinata ketika 'istri Gaara' itu sedang mencermati sejumlah lembaran dengan teliti. Merasa sedang diperhatikan, Hinata juga sempat menoleh tapi tak sempat mengucapkan apa-apa karena Fujikawa keburu pergi.

Sebagai gantinya, sosok Gaaralah yang sekarang mendapat perhatian penuh. Gadis itu masih tak bicara apa-apa, tapi tatapan matanya seolah berkata 'Apa kau sudah selesai berselingkuh?' Menyadari arti tatapan Hinata, Gaara hanya meminimalisir jarak mereka lalu menggunakan kedua tangannya untuk merengkuh.

"Mau ngambek?" tanya Gaara setengah menggoda.

Hinata menggelengkan kepala dengan cepat. Biarpun rasa tidak sukanya sudah bertumpuk-tumpuk, tetap saja ia tak ingin Gaara bisa mengetahuinya dalam waktu singkat. Karena dengan begitu, ia seperti merasa memberikan Gaara sebuah kemenangan kilat.

Gadis itu sedikit tersentak ketika jemari Gaara menyusuri garis pipi, membelainya dengan hati-hati. Ketika menatap bola mata kehijauan milik Gaara, tersimpan semacam gumpalan afeksi. Cara Gaara memandangnya memang tak pernah berubah meski tahun telah berganti. Ia selalu begini, tepat ketika intuisinya mengatakan bahwa Hinata—dirinya—butuh ditemani.

Tatapan Gaara mengingatkannya pada momen-momen di mana dirinya masih menjadi kurir surat cinta. Ia menahan perasaannya, menerima sebuah amplop dari seorang fans Gaara untuk diteruskan pada Si Jelmaan Panda. Ia tak pernah bisa menolaknya, tidak juga bisa menyuarakan isi hatinya. Hinata cemburu, tapi tidak tahu bagaimana harus menghentikannya.

Lagi pula Gaara juga selalu mengerti tanpa ia harus repot-repot bicara. Kadang ia menggoda Hinata, kadang pula menatapnya begini tanpa bicara apa-apa. Yang jelas Gaara ingin Hinata tahu bahwa hatinya takkan lari ke mana-mana.

"Aku mau pulang ke rumah Ayah dan Papa. Tapi melihat pasienmu tadi ... aku jadi agak khawatir," ujar Hinata lirih, "ah, jangan salah paham, Gaara. Aku percaya padamu. Tapi pasienmu...,"

Gaara memperhatikan cerita Hinata dengan saksama, memilih untuk mendengarkannya secara lengkap ketimbang buru-buru memberikan tanggapan.

"Aku yakin kautahu, beberapa pasienmu hanyalah ... pemburu pria-pria tampan," Hinata melirik kekasihnya, memastikan pria itu tak sedang menyeringai begitu ia menyebut pria tampan. "A-aku tahu ini sudah menjadi risikoku punya pacar sepertimu. Aku juga tahu ini mungkin bodoh, kekanak-kanakan atau apa pun itu. Aku merasa tidak nyaman, jadi tidak apa-apa, kan, kalau aku begini?"

Gaara mendekapnya, "Bodoh, kalau aku tidak tampan, mana mungkin aku punya kepercayaan diri untuk berada di sisimu? Kau kan cantik. Dan lagi, menurutmu, bagaimana hatiku ketika klienmu adalah eksekutif-eksekutif muda yang karismatik dan berdompet tebal?"

Hinata mengangkat wajahnya, "Jadi...,"

"Tidak perlu merasa khawatir. Kurasa ini adalah sesuatu yang wajar," potong Gaara.

Kali ini Hinata mengeratkan pelukannya. Ada rasa syukur yang tak terucapkan begitu mengetahui Gaara juga merasakan hal yang sama. Lebih bersyukur lagi karena ia merasa telah membuat keputusan yang tepat dengan membicarakan masalah ini dengan Gaara. Ah, pokoknya...

"Hey," Gaara berbisik, "kalau kamu memang sebegitu khawatirnya dengan pasien-pasienku, nggak usah jadi pulang saja bagaimana? Biar ada yang menemaniku tidur."

Refleks Hinata memukul pelan bahunya. Padahal baru saja ia menjadi sosok Gaara yang mesra—tanpa gombalan noraknya. Kenapa cepat sekali berubah menjadi Gaara yang hobi menggoda dirinya. Berpura-pura merasa jengkel, Hinata melepas pelukan Gaara dan dengan segenap keberanian yang tersisa, ia berkata kepada Gaara.

"Ti-tidur sama dutch wife-mu saja sana!"

.

.

.

Thank's to : diane ungu*gomen baru update orz*, Hanazono Shimizuka, Ms. KuDet, kyuakira28, firuri ryuusuke, kirei- neko, Riz Riz 21, Lavender Bhi-chan, Sabaku No'Ruki-Chan, Yeonra Gekikara, yon aki*yup. lama-lama agak jenuh juga kan kalau Hinatanya terlalu pasrah*,chiaki arishima, Lorren, mayu masamune, aiko*jangaan~~ Gaara sama Hinata. dirimu kalau mau sama Itachi aja*, Sabaku no SasuHina, Kaze no Nachi, Minatsuki Heartnet, Guest, Guest, Guest, Githa Aikawa, Nyanmaru*animenya. Manganya bacanya lompat-lompat *plakk*, Freyja Lawliet, NaruNarurin, sabaku elf*hari ini *digeplak gara2 kelamaan*, Moofstar, Zecka S. B. Fujioka, nazuka hanami, goonerette *aish ... dirimu sih ga ngeliat tumbuh kembangnya GaaHina di sini :/ Mei Matsuri? Banyak yang cosu dong? *udah telat nanyanya hoi*, tamu*di kepercayaan saya, kalo talak tiga itu berarti diceraikan*, Kyuubee-chan, amerta rosella, Reky-chan*gpp, santai aja. GaaHina nikah? Ntar kalo Itachi udah*, Oran Echigoya, Shen Meileng, onpu azuka*SasuHina, ya? hmm ... request yang sulit karena udah lama banget saya nggak ngerjain pair itu orz*, crazed apple, Guest*lol. makanya bacanya jangan sampe ketahuan orang. kasian mamamu tuh sampe harus datengin ustad segala *plakk*,Karin Ryodai, Sunny-nn, Widy awesowme*sabar aja. orang sabar disayang pacar, lho ^^v*,Noira Hikari, OraRi HinaRa, Diaz the empress of neverland, Azumi Nafis, dan Diane Ungu

Yang login balasannya via PM, ya, walo mungkin bakal rada-rada telat.

Chapter 14 dengan segala keamburadulan yang ada. Mood saya lagi fluktuatif. Ga niat-niat banget update kalo nggak denger istilah 'program menjaga ketampanan' di tempat kerja. Detailnya? Tadinya mau saya jabarin tapi ragu-ragu LoL

Tadinya saya mau bikin ada sedikit konflik di mana Gaara atau Hinata merasa jenuh sama hubungan mereka, tapi kok nanti ujung-ujungnya bakal jadi drama. Jadinya hanya saya sisipkan sedikit konflik lewat pasien Gaara. Dan di sini, Hinata sudah mulai bisa mengimbangi gombalan Gaara. Semoga ini jadi perubahan yang disukai semuanya

Terima kasih sudah meluangkan waktu buat baca fic yang oh-very-absurd ini. Mudah-mudahan bisa jadi pereda stress atau sekadar jadi bacaan selewat saja. Kalau sempat, tinggalkan jejak, ya.

Molto grazie