Disclaimer : demi neptunus naruto bukan punya saya, punya masashi sensei. sasuke punya saya *dibantai masashi sensei dan sakura

Warning : OOC, TYPO tingkat akut, AU, OOT, EYD berantakan, flame tidak diijinkan

.


.

Don't Like Don't Read

.

~ Stay With A Murderer~

[chapter 13]

.

.

.

Enam hari berlalu begitu saja, pekerjaanku tetap berjalan dengan baik, ini semua berkat Sasuke. Tangan dan kakiku sudah sembuh, meskipun ada bekas yang cukup mencolok pada tanganku. Tidak masalah, setidaknya pagi ini aku sudah bisa bersiap, membuatkan Sasuke sarapan dan bergegas ke kantor.

"Sasuke, aku pergi yaa." Ucapku sebelum turun dari lantai dua, dia mungkin lelah mengurusku beberapa hari ini. Aku membiarkan Sasuke tidur, dia akan bangun dengan sendirinya.

Berjalan keluar rumah dan mengunci pintu, Sasuke sudah memperbaiki pintu dapurku dan aku sudah memberinya kunci cadangan. Aku harus bergegas ke kantor dan menyelesaikan rajutanku juga.

"Sakura, kau sudah sembuh?" Ucap ibu-ibu yang seperti biasa mereka akan di depan rumahku.

"Ah, iya, aku sudah sembuh, terima kasih sudah menjengukku." Ucapku.

Kemarin nenek Chiyo mengatakan aku sakit, para tetangga khawatir padaku yang tidak pernah terlihat beberapa waktu lalu, mereka datang menjengukku dan ribut bergosip sambil menanyakan kabar pasangan hidupku, aku tidak ingin mengatakan jika aku sudah punya tujuan untuk satu orang, tapi itu masih simpang siur, aku tidak boleh terlalu berharap banyak padanya. Aku sendiri belum memastikan perasaan Sasuke padaku. Apa arti memberi perhatian lebih darinya, dia bahkan sudah memelukku beberapa kali, bahkan menciumku sekali, ini bukan hal yang wajar untuk seseorang yang tidak memiliki hubungan, aku merasa aneh sendiri.

"Hati-hati di jalan yaa." Ucap mereka.

Aku hanya tersenyum dan mengangguk. Mereka sedang tidak ingin membahas pasangan hidupku, sepertinya mereka sedang istirahat untuk hal itu, aku beruntung hari ini.

Setengah jam berlalu, aku sudah tiba di kantor, mejaku sudah di tumpuk map-map berkas, Ino berlari ke arahku dan memelukku, dia merasa sangat rindu padaku, padahal kita hanya tidak bertemu beberapa hari, Sai mulai bercerita tempat kunjungan kerjanya, dan Naruto memberiku minuman vitamin. Mereka merasa senang setelah aku sudah kembali, bahkan pak Yahiko memuji hasil kerjaku selama di rumah. Aku rasa pujian itu lebih tepat untuk Sasuke, tapi aku tidak mungkin katakan pada pak Yahiko jika seorang direktur dari perusahaan lain yang mengerjakannya, dia pasti akan marah besar padaku, setidaknya Sasuke tidak berniat menjatuhkan perusahaan Yahiko dengan merusak data perusahaannya.

Setelah pekerjaanku selesai, aku mulai merajut lagi, mencoba menyelesaikan rajutan itu sebelum pulang, gara-gara Sasuke aku harus lama bergelut dengan berkas-berkas itu.

Tanpa terasa sudah jam 9 malam, aku sebaiknya pulang, ini sudah terlalu malam, melirik ke arah meja Ino, dia masih sibuk, sepertinya Ino akan lembur.

"Lembur?" Ucapku saat menghampiri meja Ino.

"Ya, begitulah, apa kau sudah mau pulang? sudah selesai merajut?" Ucap Ino.

"Iya, aku akan pulang, tapi untuk rajutan, besok akan aku lanjutkan lagi, aku sudah lelah." Ucapku.

"Oh, baiklah."

"Eh, ngomong-ngomong, apa kau sudah memberi hadiah pada Sai saat dia kembali ke Konoha?" Tanyaku. Aku masih penasaran apa Ino sudah memberinya sebuah hadiah.

"Tidak Sakura, aku tidak sempat memberikannya apapun." Ucap Ino, raut wajanya terlihat kecewa, aku rasa dia ingin sekali memberikan sesuatu pada Sai, tapi sikap ragu-ragunya lebih besar dari keinginannya untuk menyenangkan hati Sai.

"Sudah, besok kita akan membuat topi rajutan untuknya." Ucapku, aku akan membantu Ino.

"Aku tidak pandai merajut." Ucapnya.

"Tidak susah kok, nanti akan aku ajari." Ucapku.

Ino tersenyum dan kembali bersemangat, besok aku harus membawa benang wol baru lagi dan alat rajutan, aku rasa Ino bisa membuatnya. Setelah berbicara pada Ino, aku pamit padanya untuk pulang lebih dulu.

Naik ke dalam bus dan melihat-lihat jalanan melalui jendela bus, aku lelah, kepalaku pusing untuk menganalisis data, ini gara-gara Sasuke, lagi, aku mengatakan ini salah Sasuke, tanganku yang baru saja ku gunakan lagi terasa pegal, masih ada sedikit lagi hingga rajutan itu selesai, di luar sudah semakin dingin, aku rasa salju juga akan segera turun. Bulan november akan segera berakhir dan desember menyusul. Bus yang ku tumpangi sudah sampai di halte jalur rumahku, turun dari bus dan berjalan santai.

Beberapa menit berjalan dan aku sudah tiba di depan rumahku, gelap dan sunyi seperti biasanya. Membuka pintu dan berjalan masuk, aku ingin segera beristirahat, mencari saklar lampu, bukannya mendapat saklar, tiba-tiba seseorang memeluk dari belakang.

"Si-siapa!" Aku terkejut, siapa yang memelukku? Apa ada pencuri? Sasuke, Sasuke, dimana! Aku berusaha memberontakan untuk melepaskan orang ini.

"Tenanglah." Eh? Ini suara Sasuke, berusaha tenang dan perlawananku menghilang. Mau apa dia?

"A-ada apa Sasuke?" Ucapku. Rasanya sangat malu jika seperti ini,

"Aku rasa kau ingin mengatakan sesuatu padaku." Ucapnya.

Ah? Mengatakan apa? Apa maksudnya? Kenapa tiba-tiba seperti ini? Apa Sasuke mengetahuinya? mengetahui kalau aku menyukainya. Aku belum siap untuk mengungkapkan perasaanku sebelum aku tahu dia menyukaiku juga atau tidak, aku hanya ingin bertanya tentang sikap pedulinya secara berlebihan itu.

"A-apa maksudmu?" Tanyaku, grogi.

"Aku rasa ada yang ingin kau tanyakan padaku saat kita sedang makan di luar." Ucapnya.

Dia mengingat hari itu? Jika dia menyadarinya, kenapa tidak memberiku waktu untuk bertanya, dia malah mendorongku dan pergi begitu saja, dasar menyebalkan.

"Ha-hanya persaaanmu saj-"

"-Katakan saja, aku akan mendengarnya." Ucap Sasuke. Dia sedang memancingku untuk menanyakan hal yang tidak sempat ku tanyakan padanya.

Menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan, aku harus tenang, berharap Sasuke tidak menjawab seperti opsi pertama dan kedua yang sudah ku pikirkan.

"A-aku, uhm... aku ingin mengatakan sesuatu padamu." Ucapku, aku sudah gugup sekali. Bahkan dalam keadaan seperti ini Sasuke masih bisa tenang, aku bisa merasakan detak jantungnya yang stabil, sedangkan aku? Rasanya sesak dan aku merasa sulit untuk bernapas. Jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya. "A-apa, apa kau menyukaiku? Bu-bukan maksudku seperti itu, aku hanya merasa aneh dengan sikapmu akhir-akhir ini, kau selalu bersikap baik padaku, khawatir berlebihan dan bahkan kau kadang melindungiku, aku hanya ingin mengetahui yang sebenarnya, tolong jangan membuatku bingung dan selalu saja salah paham akan hal ini." Ucapku panjang lebar dan menundukkan kepalaku. Aku merasa sangat konyol saat ini.

Sasuke terdiam dan dia belum menjawab apapun, pelukkannya mengerat aku bisa merasakannya, seakan-akan dia tidak ingin melepaskanku,

"Hn, menurutmu?." Ucap Sasuke. akhirnya dia berbicara tapi tidak sesuai apa yang ku harapkan. Aku hanya ingin mendengar dia suka padaku.

"Menurutku? Jika kau bertanya seperti itu, aku harap kau suka padaku." Ucapku. Di mana harga dirimu Sakura, kau bahkan ngomong blak-blakan seperti itu.

"Hn, aku suka padamu." Ucap Sasuke, meskipun cara pengucapannya sesuai sikapnya. Dia tidak ingin terlalu memperlihatkan rasa sukanya.

Mataku melebar, aku sendiri tidak percaya, Sasuke menyukaiku? Rasanya jantungku akan berhenti berdetak sekarang juga, senang, ya aku sangat senang, akhirnya aku tahu jika Sasuke juga menyukaiku, perasaanku terbalas. Kalau sudah seperti ini, aku bisa mengatakannya sekarang dengan tenang tanpa khawatir Sasuke akan menolakku.

"Sasuke, mau kah kau jadi pa-"

"-Tidak."

Eh? Heeee...! Apa? Apa aku tidak salah dengar? Sasuke mengatakan 'tidak', aku segera melepaskan pelukkannya dengan kasar dan berbalik menatap Sasuke, lampu belum ku nyalakan dan aku hanya bisa melihat keadaan ruangan dan Sasuke dengan sinar bulan dari arah jendela, bahkan wajahnya masih tenang seperti itu, bagaimana dengan wajahku, bodoh amat! Aku sudah tidak peduli jika wajahku sudah semerah tomat yang masak.

"Ti-tidak? Apa maksudnya? Aku pikir jika kita saling menyukai, kita bisa meresmikan hubungan ini." Apa aku tidak terlalu terburu-buru mengambil keputusan ini? Entalah, ada perasaan kuat aku ingin bersamanya.

"Saling menyukai? Bahkan aku belum bertanya hal itu padamu." Ucap Sasuke, nada suaranya terdengar meremehkan bahkan dia memicingkan mata ke arahku.

Aku menutup mulut dan malu sendiri, aku keceplosan tentang perasaanku padanya, aku juga menyukainya, kenapa aku tidak bisa menahan diri untuk tidak mengatakannya dulu, aku jadi grogi sendiri.

"Kenapa? Kau keceplosan." Ucapnya.

Ahhk...! dia membaca pikiranku. Jangan berpikir Sakura, dia akan membaca pikiranmu dengan gampang lagi. Melirik kesana-kemari, aku tidak tahu harus berbuat apa, sejujurnya aku sedikit kecewa, meskipun kami saling menyukai, Sasuke tidak ingin meresmikan hubungan kita.

"Kau kecewa?" Ucapnya lagi.

Apa-apaan dia? Bahkan masih bisa membaca apa yang tengah ku pikirkan. Kosongkan pikiran, aku tidak boleh berpikir lagi. Kosongkan pikir-an.

"Jangan membaca pikiranku! Dasar penyihir!"

"Ha? Apa? Kau terlalu banyak berdelusi dengan hal mitos, tidak ada namanya penyihir, semua bisa ku baca dari raut wajahmu." Ucapnya, santai, dan malah mendorong pelan jidatku dengan jari telunjuknya.

Dasar menyebalkan, dia lagi-lagi membantah ucapanku dan membalikkannya menjadi terasa menusuk sendiri. Diam, hanya itu yang bisa ku lakukan, semakin aku banyak bicara semakin Sasuke akan menepis semua perkataanku yang terkesan benar-benar konyol.

"Jika masalahku sudah selesai, aku yang memintanya padamu..." Aku hanya mendengar Sasuke berbicara. Aku tidak boleh gegabah lagi dengan mengeluarkan apa yang sedang ku pikirkan, aku harus membiarkan Sasuke menyelesaikan apa yang ingin dia ucapkan agar aku tidak salah paham lagi."...Dimana harga diriku sebagai seorang pria jika seorang wanita yang duluan memintanya. Bersabarlah, aku janjikan hal ini." Ucap Sasuke. Aku mengangguk.

Melihat tangan Sasuke mulai memegang perlahan tanganku, senang dan takut bercampur jadi satu. Apa yang ku lakukan ini sudah benar? aku hanya menuruti apa yang tengah kurasakan saat ini. Apa keputusanku sudah tepat? Sejujurnya aku belum terlalu mengetahui siapa Sasuke yang sebenarnya, aku hanya bisa berangan-angan dan menyimpulkan jati diri Sasuke dari pembicaraan tentang keluarganya, aku belum mengenal Sasuke dengan lebih dari ini. Jarak kami makin menyempit, Sasuke mendekapku dan memelukku, lagi, pelukkannya terasa aneh, semakin hangat dan membuatku tenang, aku merasa grogiku mulai meredah. Apa yang harus ku lakukan sekarang? Membalas pelukkannya? Uhm, aku juga ingin memeluknya, sedikit ragu tapi tanganku sudah mulai naik kearah punggung Sasuke dan membalas pelukkannya. Aku mulai tenang, Sasuke membuatku bisa mengendalikan diriku lagi.

"Maukah kau menungguku hingga waktunya?" Ucap Sasuke.

Aku menggangguk lagi dalam pelukkannya, rasanya nyaman, aku sungguh mencintaimu Sasuke, aku harap kau tidak seperti mereka yang menyukaiku lalu mencampakkanku.

.

.

.

.

.

Memaksa membuka mataku, melirik ke arah jam, 08:10, ya ampun! Aku akan terlambat jika tetap di kasur, bukannya bangun aku malah kembali berbaring, semalam, apa bukan mimpi yaa, Sasuke menyukaiku dan aku juga menyukainya, kami berpelukan cukup lama hingga dia pamit untuk tidur. Rasanya malu sekali, sudah lama aku tidak merasakan hal seperti ini, merasakan seperti ada yang menggelitik perutku, Sasuke, apa aku sedang beruntung? Jika memikirkan sikap sok cuek dan suka mengejeknya, dia sebenarnya pria yang baik, dari keluarga terpandang, dan dia jenius, sangat jenius.

"Maukah kau menungguku hingga waktunya?"

Aku kembali mengingat ucapnya semalam, dia memintaku untuk menunggu, iya, aku tidak boleh terburu-buru, aku tahu jika Sasuke masih memiliki masalah yang besar, dia mungkin hanya ingin memiliki hubungan dengan seseorang tanpa melibatkannya dengan masalah yang sedang di landanya.

Ahk, ya ampun, kenapa aku malah bersantai, berjalan turun dari kasur dan keluar dari kamar, aku harus segera ke kamar mandi. Sebelum mencapai kamar mandi, rasanya aku seperti tengah membeku, Sasuke juga ingin ke kamar mandi, kami berhadapan dan membuatku tidak bisa menatapnya, memilih memalingkan wajah.

"Se-se-selamat pagi." Demi apa! Aku bahkan tidak bisa berbicara dengan benar di hadapannya.

"Tidak perlu gugup seperti itu." Ucap Sasuke, dia mengacak-ngacak rambutku dan membuatku semakin malu, melihat ke arahnya dan apa yang ku lihat, pandangan indah di pagi hari, Aku baru tahu dia bisa tersenyum semanis itu, rasanya aku bisa mati sekarang. Dia membiarkanku masuk duluan, berjalan lebih dulu darinya.

"Selamat pagi juga." Ucapnya dan dia sangat dekat denganku, kepalanya berada di atas bahu. Aku segera melompat masuk, kaget, kenapa dia harus melakukan itu? Bisa tidak ucapkan selamat pagi dengan biasa saja. "Wajahmu memerah." Ucapnya, santai.

"Di-diam kau!" Ucapku dan malah menutup pintu kamar mandi. Ada apa dengannya, selalu saja membuatku deg-degan begini, meskipun aku tahu dia juga menyukaiku tapi kelakuannya itu terlalu, errr romantis, kyaaaa...! Bagaimana jika kita sudah resmi dan tinggal bersama, mungkin setiap harinya aku akan mati.

Aku tidak bisa bersantai lagi, segera menyelesaikan acara mandi dan bergegas untuk bersiap ke kantor, Sasuke sudah menunggu di meja makan, aku membuat sarapan dan kami makan bersama.

Blussh...~

Sial! Kenapa dia keren dan tampan sekali, ada apa dengan penglihatanku, dia manusia biasa, hanya manusia biasa, Sasuke duduk tepat di hadapanku, dia terlihat menikmati sarapannya. Aku akan menjadikanmu sarapanku, Sasuke, bodoh, apa yang kau pikirkan Sakura, melirik ke arah jam, sudah tidak ada waktu. Aku segera menyelesaikan sarapanku, menaruh piring di westafel dan berjalan keluar. Langkahku terhenti, Sasuke tiba-tiba memegang tanganku dan menarikku perlahan.

"A-ada apa? A-aku sudah terlambat." Ucapku, grogi, gugup, canggung. Ahk, semualah. Sasuke hanya menatapku dan aku tidak tahu harus berkata apa.

"Sakura." Ucapnya.

"A-apa?"

Deg. Deg.

Deg. Deg.

Deg. Deg.

"Hati-hati di jalan." Ucapnya

Apa-apaan itu, aku menarik tanganku dari tangannya dan bergegas pergi. Menyebalkan, aku pikir dia mau melakukan apa, mungkin seperti mencium kening atau mencium pipi. Tidak-tidak, apa yang kau pikirkan Sakura, hubungan kalian belum resmi dan jangan mikir yang aneh-aneh.

Segera berjalan keluar dan menyapa para tetangga tercintaku, mereka masih sibuk bertanya pacarku, mereka bahkan sudah mem-vote, gara-gara Naruto sering mengantar dan menjemputku, mereka berpikir Naruto bisa menjadi pacarku dan juga mereka penasaran dengan pria yang bertemu dengan nenek Chiyo, kenapa nenek Chiyo mengatakan jika Sasuke datang lagi. Ini gara-gara mereka bertanya siapa yang merawatku dan nenek Chiyo keceplosan mengatakan Sasuke, untungnya nenek Chiyo lupa menanyakan namanya dan aku tidak sudi mengatakan nama Sasuke pada mereka. sekarang, mereka menjuluki Sasuke, pria X. Ahk, masa bodoh lah, aku harus menghindari mereka, aku sudah sangat terlambat, gara-gara kejadian semalam aku jadi susah tidur, jam 2 pagi baru mataku bisa tertutup.

Bersyukur tiba di kantor tepat waktu, sepertinya hari ini lebih santai, pekerjaan sedang tidak menumpuk dan Ino juga tidak terlalu sibuk, mungkin setelah menyelesaikan pekerjaan ini, aku dan Ino bisa mulai merajut bersama.

"Sakura." Panggil Ino.

"Iya? Ada apa?" Tanyaku. Kami tengah merajut bersama, Ino mulai mengerti dan mencoba mengerjakannya sendiri. Dia cepat belajar sesuatu. Merajut syal untuk Sasuke, membuatku mengingat kejadian semalam, Sasuke menyukaiku.

"Hari ini kau terlihat aneh." Ucapnya.

"Aneh? Aneh bagaimana?"

"Kau terus-terusan saja tersenyum malu. Apa ada sesuatu yang membuat sangat senang hari ini?" Ucap Ino.

"Ahk, tidak-tidak aku hanya senang karena pekerjaanku tidak banyak." Ucapku. Aku tidak mengatakan hal ini pada Ino, aku harus memastikan apapun tentang Sasuke terlebih dahulu, dan aku sedang menunggunya untuk memintaku untuk menjadi pacarnya.

"Oh, aku pikir ada sesuatu yang menarik." Ucapnya, sedikit kecewa.

"Hahaha, kau ini, cepat selesaikan itu. Ahk, tidak, benangku habis." Aku pikir benang yang ku beli sudah cukup, ternyata masih kurang, aku harus ke pusat kota lagi untuk membelinya.

"Mau aku temani membelinya?" Ucap Ino.

"Tidak Ino, terima kasih, kau harus menyelesaikan ini segera, jangan menunda lagi hadiah untuk Sai." Ucapku.

"Iya-iya."

"Baiklah, aku pulang duluan yaa." Ucapku, pamit pada Ino. Pekerjaanku sudah selesai sebelum kami mulai merajut.

Setelah merapikan meja aku bergegas pergi. Menaiki bus yang berbeda dan akhirnya tiba di pusat kota, masuk ke dalam salah satu toko benang wol terlengkap di kota ini. aku membeli beberapa lagi. Mungkin kalau di buat lebih panjang akan lebih bagus, yang ku pikirkan adalah Sasuke yang menawarkan untuk memakai satu syal berdua, kyaaa...~ mikir apa sih kamu Sakura, cepat pulang sana. Membayar pada kasir dan mulai berjalan, aku harus naik melalui halte yang langsung menuju rumahku.

"Sakura."

Ada yang memanggilku dari belakang, menoleh dan aku tidak menyangka bisa bertemu dengan kakaknya Sasuke.

"Ah, anda. Kita bertemu lagi." Ucapku.

"Oh, aku lupa memperkenalkan diri. Namaku Uchiha Itachi." Ucapnya, dia pikir karena kita belum berkenalan dan aku tidak bisa menyebutkan namanya, yang sebenarnya aku sudah tahu tapi pura-pura tahu, ini demi kamu, Sasuke.

"Boleh ku panggil kak Itachi saja. Aku merasa tidak enak jika memanggil yang lebih tua dengan sebutan nama." Ucapku.

"Tentu, ngomong-ngomong kau mau kemana?" Tanyanya.

"Aku akan pulang. Oh iya, apa aku boleh minta tolong, tapi kalau sibuk, tidak apa-apa kok." Aku ingat ingin ke klinik dokter Kabuto, setidaknya aku harus cek kondisiku padanya.

"Apa? Katakan saja, sebenarnya aku sedang senggang dan tengah berjalan-jalan di sini." Ucapnya.

Berjalan-jalan atau mencari adik yang hilang, dia adalah sosok kakak yang sangat bertanggung jawab dan penyayang. Kau beruntung Sasuke punya kakak seperti ini, aku sendiri, anak tunggal dan tidak tahu rasanya punya saudara.

"Setelah sembuh, aku ingin sekali ke klinik dokter Kabuto, hanya saja aku lupa jalan ke sana, aku hanya ingin sekedar konsultasi saja." Ucapku, aku jadi merasa tidak enak.

"Oh, baiklah, aku akan mengantarmu lebih baik kita pergi bersama." Ucapnya.

Beruntungnya. Aku akan di antar dan tidak perlu lagi susah-susah menaiki kendaraan umum.

"Tapi sebelum kesana, kita singgah di toko roti dulu yaa." Ucapnya.

"Okey." Ucapku.

Kami berjalan santai menuju toko roti yang ingin di datangi Itachi, dia melihatku membawa kantongan dan bertanya tentang isinya, aku hanya mengatakan jika isinya benang wol, dia memahaminya dan tersenyum, dia pasti sudah memikirkan sesuatu hal yang sering di kerjakan seorang wanita di saat musim dingin begini. Sama seperti adiknya, mereka berdua benar-benar cepat membaca situasi.

Beberapa menit berlalu kami sudah tiba di sebuah toko roti, toko roti ini? ya ampun ini toko roti yang terkenal sampai memiliki katalok tersendiri. Rotinya sangat menggoda dan terlihat enak, aku juga ingin membelinya beberapa untuk Sasuke. Dia pasti akan menyukainya. Melirik ke arah Itachi yang tengah sibuk berbicara dengan pemilik toko, aku mulai memilih beberapa roti, sangat sulit untuk memilih, aku akan membeli satu kotak saja, satu kotak isinya 5 buah, harganya juga lumayan, aku tidak boleh boros.

"Membeli beberapa juga?" Tanya Itachi.

Huaaah! Aku kaget, ya ampun, Itachi tiba-tiba sudah ada di sampingku dan melihatku tengah pusing memilih.

"Maaf membuatku terkejut." Ucapnya. Dia sadar jika aku kaget tadi.

"Hehehe, ti-tidak apa-apa."

"Kau suka roti juga?"

"Yaah, lumayan, aku juga suka, hanya saja aku bingung memilihnya, semuanya kelihatan enak-enak." Ucapku, aku benar-benar harus berhemat, di rumah ada Sasuke dan aku harus menanggung kehidupannya juga.

"Kau lucu juga Sakura." Ucapnya.

Apanya yang lucu, aku hanya berbicara jujur tentang apa isi kepalaku.

"Apa sudah mau pergi?" tanyaku.

"Iya, tapi aku harus menunggumu dulu."

"Ahk, baiklah." Aku harus cepat-cepat memilih, yang mana yang paling enak yaa, susah sekali memilih roti di sini.

"Bagaimana kalau begini saja." Ucapnya. Aku berhenti memilih dan menatap Itachi. Aku tidak tahu apa yang sedang di pikirkan kakak Sasuke ini. "Pelayan, tolong bungkuskan roti satu-satu dari semua yang sedang di jual hari ini." Ucapnya.

Heeeee...! apa yang baru saja ku dengar. Dia menyuruh pegawai toko ini untuk membungkus satu-satu dari semua roti yang di jual.

"A-apa tidak kebanyakan? Aku harus membayarnya bagaimana?" Ucapku.

"Tidak perlu, aku yang akan mentraktirmu hari ini. Kau ingin mencoba setiap kue yang sedang di pajang kan hari ini?" Ucapnya.

Adik dan kakak sama saja, mereka bahkan bisa membaca apa yang tengah ku pikirkan, iya! Aku mau mencoba satu persatu roti yang ada di sini. Kayaknya aku kelewatan, aku sudah membuat orang repot.

Roti-roti sudah di bungkus rapi menggunakan kotak, akhirnya jadi ada 4 dos yang harus ku bawa pulang, terkesan aku rakus sekali, tapi aku bisa berbagi dengan Sasuke, salah satu pegawainya sudah membawa kotak-kotak itu ke dalam mobil Itachi yang ternyata mobilnya terparkir di depan toko ini.

"Tunggu tuan." Ucap pemilik toko ini. Dia sepertinya memanggil Itachi.

"Ada apa?"

"Ini, roti keluaran terbaru, mungkin nona ingin mencobanya." Ucap bapak-bapak itu.

"Eh? Ma-masih ada lagi? Tapi yang tadi sudah sangat cukup." Ucapku, bukan sangat cukup, sudah terlalu berlebihan lagi.

"Tidak apa, kau coba saja ini, ini adalah produk baru kami." Ucap Itachi.

Produk baru, uhm... jadi roti ini baru saja di buat dan merupakan yang masih baru dan belum di jual, jadi semacam testimo.

"Lagi pula, roti-roti di sini bertahan cukup lama, kau bisa menyimpannya beberapa hari." Ucap Itachi.

Dia sangat memahami roti-roti yang ada di sini, aku jadi merasa tambah tidak enak, mengambil kotak kecil itu dan membawanya juga, katanya aku harus mencoba ini dan beri kritikan dan saran jika sudah mencobanya, hahahha padahal aku tidak terlalu ahli memberi kritikan untuk sebuah makanan.

"Terima kasih." Ucapku pada pemilik toko itu.

"Sama-sama." Ucap pemilik toko itu, dia sangat baik, aku harap tokohnya ini bisa lebih laku lagi.

"Apa masih ada yang bos inginkan?"

"Ah, tidak ada lagi, aku sudah mengerti penjelasanmu tadi, aku pergi yaa."

"Baik bos, hati-hati di jalan."

Aku mendengar pembicaraan mereka. Eh? Bos? Tu-tunggu dulu, bos! Pemilik toko ini memanggil Itachi dengan sebutan 'bos' jadi toko ini, toko roti ini milik Itachi.

"Ada apa Sakura?" Tanya Itachi, kami sudah berada di mobil dan mobil itu mulai melaju di jalan raya.

"Toko roti tadi milikmu?" Ucapku, aku tidak menyangka, toko roti yang terkenal itu milik Itachi, Sasuke seberapa kayanya dirimu sebenarnya.

"Ya begitulah, aku mampir kesana untuk mengecek pekerja dan produksi roti, dan karena kau ingin ke Kabuto, aku membawakannya beberapa, dia sangat suka roti dari tokoku, roti yang tadi kau bisa mencobanya nanti jika kita sudah sampai." Ucap Itachi. Aku hanya mengangguk senang, sepertinya aku sedang beruntung bulan ini.

Kami tiba di klinik kabuto, sepertinya dia tengah ada pasien, beberapa mobil terlihat terparkir di depan klinik, aku dan Itachi turun dari mobil dan masuk ke dalam klinik, lagi banyak pasien aku jadi merasa canggung begini, mereka menatap ke arahku dan ke arah Itachi, wajah mereka merona, rata-rata pasiennya adalah wanita. Kejadian ini terasa tidak asing bagiku, melihat beberapa wanita yang fokus pada Itachi, ah, aku lupa, kakak dan adik memang tidak ada bedanya. Saat bersama Sasuke juga seperti ini, wanita-wanita fokus pada wajahnya. Melirik ke arah Itachi dan wajah mereka memang terlihat hampir mirip, hanya ada tatapan santai dan datar di sana, kaget, Itachi berbalik dan menatapku. Tatapan kami bertemu dan dia tersenyum ramah. Aku membalasnya dengan tersenyum malu, apa aku ketahuan menatapnya terus, semoga tidak, aku tidak ingin dia salah paham. Meskipun mereka terlihat sama tapi Itachi lebih lembut dari pada Sasuke yang keras kepala. Pintu ruangan pemeriksaan terbuka, Kabuto keluar dan menghampiri kami.

"Maaf, aku sedang ada banyak pasien, apa bisa menunggu di ruang tamu saja?" Ucap Kabuto. Dia meminta kami menunggu di rumahnya yang berada di samping kliniknya.

Itachi mengikut apa yang di ucapkannya dan aku pergi bersama Itachi. Seorang pembantu membukakan pintu dan kami duduk bersantai di ruang tamu, rumah dokter Kabuto cukup besar dan mewah, yaa wajar saja dia seorang dokter.

"Kau bosan?" Tanya Itachi. Kami masih menunggu.

"Tidak, aku tidak apa-apa kok menunggu." Ucapku.

"Mau mencobanya sekarang?" Tanya Itachi.

Oh iya, aku lupa dengan kotak roti yang ku bawa-bawa sejak tadi. Aku mengangguk dan mulai membuka kotak itu, harum, empuk dan rasanya enak, padahal ini hanya roti test tapi rasanya roti ini akan laku keras.

"Bagaimana?" Tanya Itachi.

"Aku tidak tahu harus berkomentar apa, tapi kalau ini di jual, banyak yang akan membelinya." Ucapku. Aku hanya bisa berkomentar seadanya.

Itachi tersenyum, lagi-lagi, apa dia selalu menanggapi apapun dengan tersenyum dan tersenyum, membuatku canggung saja.

"Maaf membuat kalian menunggu lama, mereka akhirnya selesai ku tangani." Ucap Dokter kabuto, dia sudah duduk dan bersantai sejenak, dia terlihat lelah hari ini. "Sakura, halo, kita bertemu lagi." Ucapnya.

"Iya, akhirnya ketemu lagi, aku memang ingin bertemu denganmu." Ucapku.

Kemudian aku memperlihatkan lengan dan tanganku, kabuto duduk di sebelahku dan mulai memeriksanya.

"Lukanya sembuh dengan cepat, obatnya sudah habis?" Tanyanya padaku.

"Iya, aku rajin meminumnya, hanya saja." Aku tidak bisa mengatakan jika aku merasa tidak senang dengan bekas luka ini. mencolok dan aku harus selalu memakai lengan panjang.

"Aku tahu, tunggu di sini." Ucap dokter kabuto. Eh? Apa dia mengerti keadaanku? Aku tidak mengatakan apapun dan dokter Kabuto sudah memahaminya, melirik ke arah Itachi, lagi-lagi dia tersenyum.

Dokter Kabuto kembali dengan membawa sebuah salep. Kalau salep untuk menghilangkan bekas luka aku juga punya, tapi bungkusannya sedikit berbeda.

"Ini salep racikan sendiri dan sudah di uji coba, bahkan sudah mendapatkan nomer produksi dan ijin pengeluarannya, gunakan ini setiap hari, salep ini akan lebih cepat menghilangkan bekasnya, bukan menyamarkan, tapi menghilangkannya." Ucap dokter Kabuto dan ini terdengar seperti sedang iklan produk obat.

"Berapa?" Tanyaku.

"Harga khusus untukmu, gratis." Ucapnya.

Demi apa! Apakah dewi keberuntungan sedang berada di pihakku. Dari Sasuke, Itachi, sampai dokter kabuto, mereka sangat baik padaku dan aku berkali-kali mendapatkan apapun dengan cuma-cuma.

"A-aku jadi tidak enak." Ucapku canggung.

"Tidak apa-apa, aku sendiri tidak menyangka jika kau mau datang kembali hanya ingin konsultasi, aku pikir kau akan menemui dokter lain." Ucapnya.

"Tidak bisa seperti itu, dokter siapapun yang sudah mengobatiku, jika setelah sembuh aku harus mendatanginya kembali." Ucapku.

"Kau polos sekali Sakura." Ucap Itachi tiba-tiba dan dia tertawa. Padahal tidak ada yang lucu, kenapa mereka terlihat bahagia sekali. Menyebalkan tapi...

"Terima kasih banyak." Ucapku, aku sungguh-sungguh berterima kasih pada mereka.

Setelah ini aku pamit dan lagi di antar Itachi, perasaanku jadi tidak enak, aku takut akan terlalu akrab dengannya, jika Sasuke melihatku bersama Itachi dia pasti akan sangat marah, dia sudah menyuruhku untuk menjauhi Itachi. Aku meminta Itachi untuk menurukanku di halte saja, aku tidak ingin berdebat dengan Sasuke tentang kepercayaannya padaku, aku merasa sedikit bersalah.

"Sekali lagi terima kasih." Ucapku.

"Apa tidak sekalian aku antar masuk?" Tawar Itachi.

"Tidak perlu, aku bisa sendiri kok." Ucapku dan mulai berjalan pulang, aku tidak ingin berlama-lama dan Itachi akan kembali membantuku, lumayan membawa empat kotak ini, Tapi baunya harum.

Aku tiba di rumah, melirik ke arah jam dan sudah jam 9, menghabiskan waktu membeli benang wol, ke toko roti dan ke klinik Kabuto.

"Kau sudah pulang?" Ucap Sasuke yang baru saja turun dari kamar.

"Iya, apa kau sudah makan." Tanyaku.

"Belum."

"Hari ini kita makan roti saja yaa. Aku terlalu banyak membelinya." Ucapku.

Sasuke membantuku membawa kotak-kotak itu ke ruang tv, aku rasa menonton dengan makan roti ini akan terasa lebih enak, aku berjalan ke dapur dan mengambil beberapa minuman dingin. Sasuke mulai membuka kotak itu dan mencoba beberapa roti.

"Apa kau suka?" Tanyaku. Berjalan menghampirinya dan duduk di sebelah Sasuke.

"Di mana kau beli roti-roti ini?" Tanyanya. Apa dia mengenal roti-roti ini? akh, tidak mungkin, ada banyak toko roti di kota ini, tidak mungkin Sasuke mengetahuinya kalau ini dari toko kakaknya.

"Tadi aku ke pusat kota dan membelinya, di sana roti-rotinya enak." Ucapku, aku harus tenang dan berusaha untuk tidak ketahuan.

"Benarkah?" Ucapnya, seakan-akan dia tidak percaya dengan ucapanku.

"Sungguh, aku tadi ke pusat kota membeli sesuatu dan kebetulan mampir di sebuah toko roti, pemilik rotinya baik sekali, sampai-sampai memberiku roti percobaan." Ucapku panjang lebar. Aku harap Sasuke tidak mencurigaiku lagi. Aku tahu ini salah, aku sudah bertemu kakaknya dan dia tidak boleh mengetahuinya.

"Apa? Roti percobaan?" Ucapnya, tiba-tiba Sasuke menatapku, ada apa ini? tatapannya tidak biasanya, membuatku sedikit takut.

"Iya, roti percobaan yang belum di jual." Ucapku lagi, kenapa tatapannya semakin menakutkan. Apa ada yang salah dengan ucapanku?

"Asal kau tahu saja, roti percobaan di toko yang kau datangi ini, tidak akan memberi roti percobaan kepada pembeli biasa sepertimu, bos mereka yang akan mencobanya sendiri. Bagaimana bisa mereka memberimu begitu saja ha?" Ucap Sasuke, nada bicaranya terdengar santai tapi tatapannya yang tidak santai.

Ba-bagaimana ini, tatapan Sasuke semakin menakutkan dan menuntut aku harus jujur padanya. Apa yang harus ku katakan? Jujur padanya? dia akan marah besar padaku, Sasuke itu tipe emosian. Aduh..., panik-panik-panik.

"Katakan Sakura kau dari mana?" Ucapnya.

"Ahk! Baiklah-baiklah!" Aku sudah sangat takut dan panik. "Saat ke pusat kota tadi aku bertemu kak Itachi, itu pun tidak sengaja, apa kau pikir aku harus lari ketika seseorang yang kau kenal menyapamu, itu akan terkesan aneh, dan juga aku ingin bertemu dengannya, tapi kau melarangku, aku hanya ingin bertanya dimana klinik dokter kabuto padanya, sebelum ke sana dia mengajakku ke toko roti yang ternyata adalah toko roti miliknya! Sudah puas! apa kau sudah puas mendengar semua yang ku ucapkan!" Ucapku, kesal, aku sudah meluapkan apapun saat ini, aku tidak bisa bertahan untuk menyembunyikan semuanya dari Sasuke.

Eh? Sasuke, aku pikir dia akan marah besar padaku, saat ini di tengah membaringkan kepalanya di bahuku, ada apa dengannya? apa dia sedang tidak ingin ribut denganku.

"Aku harap ini untuk yang terakhir kalinya, jangan bertemu lagi dengannya," Ucapnya.

Aku tahu, dia pasti sangat marah, tapi Sasuke mencoba meredam amarahnya, aku sedikit ceroboh dan mementingkan kepentinganku sendiri.

"Iya, aku tidak akan bertemu dengannya lagi, aku minta maaf." Ucapku. Aku rasa dia sedikit berubah, biasanya Sasuke akan membentakku tapi kali ini tidak. "Apa kau bisa membantuku menghambiskan roti ini, ini terlalu banyak untukku." Ucapku

Sasuke mengangkat kepalanya dari bahu dan menatapku dengan tatapan datar

"Habiskan sendiri." ucapnya.

"Ja-jahat, aku tidak bisa, kau harus membantuku." Ucapku.

"Tidak."

Menyebalkan! Dasar pria menyebalkan. Apa yang harus ku lakukan dengan roti sebanyak ini, ahk, mungkin membaginya ke tetanggaku akan lebih baik.

"Awas saja jika kau bertemu dengannya lagi." Ucap Sasuke, kedua tangannya mencubit pipiku.

"Maaf."

"Aku akan mencubit pipimu dengan keras." Ucapnya seperti tengah mengancam.

Dia benar-benar jahat dan tidak berperasaan, tapi cubitannya tidak terlalu Sakit. Sasuke terdiam, tatapan kami bertemu dan kedua tangannya masih belum pindah dari kedua pipiku. Ini terlalu dekat, aku bahkan sulit untuk menatap wajahnya, gawat! apa wajahku sudah memerah, jangan sampai Sasuke melihatnya. Aku menutup mataku, apa Sasuke akan menciumku. Aku tidak peduli, aku tidak keberatan di cium orang yang ku sukai.

"Hei, untuk apa kau menutup mata?" Ucapnya

Segera ku buka mataku dan rasanya malu minta ampun, apa yang sedang ku pikirkan, aku mau di cium Sasuke, bodoh, kamu bodoh Sakura di mana harga dirimu.

"Si-siapa yang menutup mata, aku hanya berkedip."

"Berkedip dalam hitungan detik yang lama." Ucapnya.

"Bo-bodoh, hanya perasaanmu saja."

Cup...

Sasuke tiba-tiba mencium keningku. Manisnya, rasanya aku sudah deg-degan tidak karuan, aku tahu dia pria yang baik, sangat baik. setelah ciuman itu lepas, aku memeluknya dan menyembunyikan wajahku pada dadanya, aku tidak ingin dia melihat wajahku yang sudah sangat memerah. Aku rasa dia tersenyum dan membalas pelukanku.

Apa ini adalah sebuah mimpi atau kenyataan yang indah? Aku menemukan seseorang yang sangat berarti bagiku, Sasuke mengisi kekosongan yang sudah ku rasakan sejak lama.

Aku mencintaimu Sakura..

.

.

TBC

.

.


update 'kilat'... ini buat mengisi malming, eeeaa...~ ohohohoh, sejujurnya dalam satu hari author mampu membuat satu chapter =w= tapi efeknya, punggung keram dan b*kong sakit karena terlalu lama duduk. hahahahhaha,

hari ini balas review aja yaa.

Asuura-chan : Sasuke membunuh atau tidak yaaa...? aduh, ndak mau bocor ceritanya, hahhaha, nanti akan author jelaskan, tapi masih beberapa chapter lagi heheh. ini sudah kilat kan.. tapi satu chapter aja.

Haruno Enmma : asek, author di peluk *mimisan* :D :D sudah update lagi yaa

zarachan : lanjuut...~

Shinju Hyuuga : nanti akan di ceritakan kok, tapi sabar, biarkan fic ini mengalir begitu saja hahaha

pikacherryblossom : author malas bikin lemon, cukup mengganggu sih, tapi bikin yg soft aja, biar tidak terlalu vulgar, hahahhaha

Joanna Katharina : Sasuke megang celana d*lam Sakura, hahahahha, tapi dia santai aja yaaa XD sudah update lagi yaa. :)

sitieneng4 : author mau juga di manja sama abang sasu doongg...~ :D

YoenDa : waduuuh..., uhmm uhmm, *kabur* maaf, itu masih sangat sulit untuk author :D :D :D

.

see you next chapter lagi...~~~