DISCLAIMER : I OWN NOTHING, especially Rolls-Royce T.T its wayyyy too expensieve. And iam a loser

HAPPY ROKUNAMI DAYS (TELAT SIH MESTINYA 3/28)


Chapter 13

So this is your plan?

Namine dengan sibuk mengelilingi kamar bercat putih yang baru dia tempati selama beberapa bulan di kediaman Cavaler . Menjejalkan begitu banyak barang-barang pribadi miliknya kedalam koper-koper berbeda, berharap semuanya muat. Gadis itu meninggalkan beberapa helai pakaiannya di rak gantung lemari kayu di sudut kamar. Masih ada waktu sampai upacara kelulusan. Sudah dua minggu berlalu semanjak Namine memberitahu Roxas mengenai kepergiannya ini, tapi hingga detik ini pemuda berambut emas itu tidak memberikan tanda-tanda sedikitpun bahwa ia telah memutuskan sesuatu.

Sebaliknya, Roxas tampak amat canggung saat mereka bertemu, bahkan saat mereka berpapasan di lorong depan kamar mereka. Kalau mereka begini terus mungkin saat mereka benar-benar harus berpisah nanti tidak akan terlalu sulit bagi Namine untuk pergi, pikir gadis itu . Ayahnya tentu saja menentang keras keputusan Namine untuk masuk Wayward, tapi kali ini Namine tidak akan menjadi gadis baik dan patuh saja menuruti Ayahnya lagi. Tentu saja perekataan Ayahnya saat Namine menelpon Pria itu dua minggu lalu masih terngiang jelas . Sebagian kata-kata Ansem hanya berisi kalimat-kalimat penuh amarah.

"Jadi apa ini maksudnya kau akan bercerai dengan suamimu? Kurasa semua jelas, kau kaburke kota antah beranth hanya setelah menikah dengannya selama empat bulan. Keluarga Cavaler adalah keluarga bangsawan terhormat, kau tidak bisa keluar dari rumah mereka begitu saja. Kalau kau pergi ini berarti perpisahan."

Perkataan Ayahnya seperti tamparan sakit yang harus dia terima. Bercerai, kedengarannya sangat aneh dan asing. Seakan dia baru sadar bahwa dia sudah menikah. Padahal kenyataan mengenai hal itu seakan telah terpampang dengan sangat jelas di depan matanya. Hanya saja hunbungannya yang aneh dengan Roxas sama sekali tidak membuatnya benar-benar sadar bahwa dia adalah seorang istri bukan teman ataupun pacar atau hubungan kasual lain. Mungkin kalau pikiran Roxas tidak melayang ke gadis lain semua ini akan jadi lebih mudah.

Namine menghela nafas panjang dan melemparkan novel setebal 600 halaman miliknya kedalam koper biru tua yang terbuka lebar di dekat kakinya.

Dengan bunyi derit kecil, Namine menghempaskan punggunya ke atas ranjang dan menutup matanya dengan letih. Aku benar-benar harus melupakan ini. Roxas hanya satu pria! Hidupku masih panjang. Mungkin lebih baik kalau aku mulai berbicara pada Mrs Cavaler soal kepindahanku dan mengatur perceraian.

"Namine?"

Namine langsung duduk dan membalikkan badannya untuk melihat siapa yang datang. Wajah tampan yang sangat dia kenali, hanya saja jauh lebih ramah dan hangat, Ventus.

Dengan sedikit kebingungan Ventus memasuki kamar Namine yang luarbiasa berantakan dengan barang-barang yang belum dia kemas. Namine hanya bisa menggigit bibirnya, dia belum memberitahu siapapun selain Ayahnya dan Roxas, Namine baru mengumpulkan keberanian untuk memberitahu sisa keluarga Cavaler lain soal ini.

"Kau mau pergi?liburan?" Tanya Ventus sambil merentangkan tangannya dengan keheranan. Namine mengerucutkan bibirnya dan menggelenng. Ventus duduk di ujung ranjang dan tersenyum penuh pengertian kepada Namine. "Ada apa Namine? Kau bisa bercerita kepadaku?Apa ini masalah Roxas?"

Namine tidak berkata apa-apa melainkan menarik sesuatu keluar dari laci meja kecil disamping tempat tidurnya. Ventus mengambil map putih yang Namine serahkan kepadanya dan membaca selembar kertas didalamnya. Butuh waktu semenit penuh hingga Vetus bisa menemukan suaranya kembali.

"Ja-jadi kau akan pergi?maksudku Land of departure jauh sekali" Ventus mengalihkan matanya dari map ditangannya dan menatap mata Namine dalam-dalam "bagaimana dengan Roxas?"

"Aku sudah bicara dengannya" jawab Namine singkat. Ventus memutuskan kontak matanya dan memilih kembali menatap kertas dipangkuannya.

"Apa tanggapannya?" Tanya Ventus dalam bisikan lirih. Namine tidak menjawab, mulutnya terbuka sedikit namun gadis itu menutup kembali dengan canggung. Keadaan kamar Namine langsung hening sekali lagi. Tapi Namine tidak punya topic apapun untuk dibicarakan pada Ventus agar bisa mencairkan suasana.

"Nox? Kau mendapat dukungan dari perusahaan Nox?" seru Ventus tiba-tiba, Namine terperangah ketika mendapati Ventus mencengkram tangannya hingga bergetar karena amarah. Belum pernah Namine melihat Ventus semarah itu.

Ventus menaruh map Namine di atas meja rias di sebrang ranjang , "Aku-Aku punya sedikit urusan" ujar Ventus masih dengan suara bergetar yang sama.


Ruang kerja mewah dengan lantai marmer putih berkilau, perapian elektrik yang menyala di ujung ruangan dan meja kerja dari kayu paling baik yang bisa ditemukan. Hanya gambaran kecil dari ruang kerja pribadi Raminas Cavaler. Pria tua itu tidak sering menghabiskan waktunya di ruang kerjanya di perusahaan utama Cavaler di Twilight Town mengingat dia lebih sering bekerja di balik layar di luar kota. Karena seperti yang sering Pria itu ingatkan pada dirinya sendiri, dia sudah tua dan lelah sudah waktunya berdiri di belakang layar dan memperhatikan berubahnya dunia dari balik sofanya.

Raminas baru akan mulai mengecek keadaan financial perusahaannya dari laptopnya ketika dia mendengar kericuhan dari arah luar ruangannya.

"Dengar! Aku tidak peduli kalau dia tidak mau diganggu atau apapun! Sekarang kembali ke mejamu. Jangan sampai aku mengulangi kata-kataku, Ariel!"

Raminas mengangkat sebelah alisnya dengan penasaran dan menutup kembali laptop hitamnya yang berkilau, menyingkirkannya ke sebrang meja. Dia mengenali suara itu dengan baik. Mungkin saja Roxas, tidak mungkin Ventus. Walau suara mereka sama Raminas tidak pernah mendengar Ventus marah besar. Pemuda itu terkadang justru terlalu naïf hingga membuat Raminas sedikit khawatir.

Tebakan Raminas terbukti salah karena yang muncul dari balik pintu gandanya adalah sang anak tertua, Ventus. Wajah Ventus nyaris semerah kemeja yang dipakainya, sementara alisnya bertautautan.

"Nox, Kakek? Sekarang kau bermain-main dibawah nama peusahaan itu?" hardik Ventus.

"Aku tidak mengerti sedikitpun yang kau katakan Ventus" ujar Raminas tenang, dia melambaikan tangannya yang panjang kearah kursi hitam berlengan didepannya memintanya duduk. Ventus mengabaikannya dan hanya mendengus kesal.

"Apa kakek sudah terlalu tua untuk mengingat apa yang kau lakukan sebulan ini?"

Raminas mengenyakkan dirinya kedalam kursi kulitnya "Ingatanku masih bagus Nak, lagipula perusahaan Nox sudah tidak berada di bawahku lagi. Aku mungkin sudah terlalu tua dan perusahaan itu Cuma perusahaan kecil jadi sayangnya apapun yang kau tuduhkan padaku itu salah"

Ventus memandang kakeknya dengan tidak percaya. Mulutnya terbuka lebar dan kehabisan kata-kata.

"Kakek memberikan Nox padanya?" Tanya Ventus setengah berteriak. Raminas mengangguk tenang. "untuk terakhir kalinya Ventus, duduklah. Kau terlihat akan pingsan"

"Tidak" bisik Ventus sambil menggelengkan kepalanya "A-Aku akan segera pergi" hanya sebelum Ventus membalikkan badannya, Raminas menyela.

"Tunggu sebentar" tahan Raminas . "Bagaimana kabar hubungan Roxas dan Namine?"

Harus Ventus akui dia sedikit terkejut mendengarnya, dia tidak pernah tahu Kakeknya benar-benar memperhatikan hubungan keduanya.

"Baik-baik saja" Kurasa,batin Ventus. Raminas tersenyum puas.

"Aku senang mendengarnya. Aku menyukai anak itu, si Namine. Menurutku dia dan Roxas benar-benar serasi. Aku benar-benar berharap hubungan mereka terus lancar"

Kalau tadi Ventus terkejut, sekarang dia mengira dia sedang berkhayal . Mungkin kakeknya benar-benar sudah menua. Dan itu hanya akan menyulitkan Namine dan Roxas seandainya mereka bercerai, mereka harus merusak hati pria ini.

"Yeah, Ya" kata Ventus dengan suar tercekat "Roxas dan Namine, hubungan mereka sangat hebat sekarang ini"


Senyum lebar menghiasi wajah pucat Vanitas yang sinis. Pria itu menggosok telapak tangannya dengan sikap puas. Belum pernah dia merasa sebahagia ini, hanya sedikit lagi semua mimpinya akan berada dalam genggamannya. Dia bersumpah sudah bisa merasakan kemenangan di ujung jarinya, menunggu untuk digapai.

Riku mendongak memandang Pria mata kuning disebrangnya melalui sela-sela rambut peraknya yang menutupi wajahnya. Apa boleh dia melakukan semua ini? Mata biru-hijau pemuda itu kemudain menyusuri Xion Metis yang terbaring di depannya. Gadis malang ini bahkan tidak tahu apa yang menimpanya. Sekarang dia jatuh ke tangan seorang iblis berkulit manusia, Vanitas.

"Kenapa mukamu seperti itu. Kau sudah menolong orang-orang. Bergembiralah!. Kalau kau tidak menceritakan masalah gadis ini padaku, Masalah Namine akan bertambah rumit bukan?" kata Vanitas dalam suara ceria yang memuakkan.

Riku hanya membuang muka ketika Vanitas menarik kursi besi murahan kamar rumah sakit dan memotret Xion dengan kamera ponselnya, memandangi hasil jempretannya dengan raut wajah amat puas sebelum mengalihkan perhatiannya kepada Riku.

"Dalam waktu singkat, gadis ini akan sembuh kembali! Jadwal operasinya sudah berjalan dengan penangan dokter top yang kau sarankan. Begitu si Xion inu bangun kembali Roxas pasti akan langsung berlari datang kemari. Dan aku sudah mengatur tempat Namine di Wayward University. Pengalih perhatian yang baguskan?Roxas tidak akan sadar kita melakukan operasi di sini sementara dia meratapi kepergian istrinya"

Mendongakkan kepalanya memandang langit-langit putih rumah sakit, Riku menghela nafas panjang.

"Berhentilah mengeluh Alexis!" Vanitas mengangkat tangannya dengan sedikit marah meski senyum lebar masih terpampang di wajahnya. "Tidak ada yang rugikan? Kau berhasil memisahkan Namine dan Roxas. Dan gadis kecil ini selamat"

"Aku masih tidak mengerti kenapa kau mau melakukan ini" kata Riku berterus terang, dia menyisiri rambut panjangnya kebelakang dengan jari-jarinya,"Kau bukan orang baik, Aku tahu itu. Kau tidak akan mau susah-susah melakukan sesuatu kalau tidak ada untungnya buatmu. Kenapa lagi kau mau repot-repot mencariku?"

Senyuman Vanitas hanya bertambah lebar mendengar perkataan Riku. "Bayangkanlah kalau akau orang baik kalau begitu. Hanya seorang sepupu baik hati yang ingin menolong keluarganya dari kesusahan"

Riku berdiri dari kursi besinya dengan marah. Dia baru akan memaki Vanitas ketika suara handphone menginterupsinya. Vanitas mengambil handponenya dengan santai di saku jas hitam mahalnya. Mengamati ponselnya sebentar dan ekspresinya berubah penuh kemenangan. Pria rambut hitam itu mengetik sesuatu dan berkata tenang.

"Aku baru saja mendapatkan hadiahku Alexis"


Vanitas melangkah gontai keluar dari mobil hitam Rolls-Royce mengkilapnya menuju Cavaler Tower yang emnjulang tinggi didepannya. Menara megah yang separuhnya terbuat dari kaca itu tidak pernah berhenti membuatnya kagum. Seperti istana tanda kekuasaan Cavaler Company di Kingdom Hearts. Vanitas sangat mendambakan semua ini, melangkah kedalam tower ini dan semua orang menunduk kearahnya. Rasanya sungguh luarbiasa. Mengingat semua ini nyaris seperti mimpi belaka lima belas tahun lalu. Terutama setelah Stella Nox, ibunya meninggal tanpa meninggalkan apapun untuknya dan Sora. Kawin lari dengan seorang pria tidak jelas dari Negara lain dan membuat anak-anaknya menderita. Hebat. Hebat sekali.

Begitu pintu lift di depannya terbuka dan menunjukkan lantai enam belas, Vanitas keluar dan merapikan jasnya. Mendorong terbuka begitu saja pintu oak besar di ujung lorong lantai enam belas dengan dramatis.

Didalam ruang berisi meja-meja kayu panjang dengan rentetan kursi berlengan yang membentuk sebuah ruang rapat mewah itu hanya ada seorang pria lain yang duduk di ujung meja yang secara ikonik menjadi tempat pemimpin rapat.

Pria berambut pirang bermata biru yang mengenakan kemeja merah,hanya setahun lebih tua daripada Vanitas.

"Ventus" sapa Vanitas sambil member sepupunya kedikan kepala.
"Vanitas. Duduk,atau berdiri saja. Terserah. Aku tidak pernah tahan berlama-lama denganmu. Orang kejam tidak berperasaan yang mengerikan"

Vanitas hanya mengangkat bahunya dan memberi Ventus tatapan ingin tahu. "Jadi ada apa? Bukankah kau harusnya bekerja jam segini?" Tanya Vanitas "Atau kau sudah merasa aman karena kau adalah sang pewaris perusahaan?"

Ventus mendecakkan lidahnya dengan tidak sabar dan meletakkan kedua tangannya diatas lutut, mencengkramnya penuh amarah. "Jangan main-main denganku Vanitas. Aku tidak bodoh" Ventus melompat dari meja dan menggebbraknya dengan marah.

"BISA-BISANYA KAU?" Ventus merendahkan suaranya hingga menjadi bisikan. "Bisa-bisanya kau melakukan ini pada keluargamu sendiri?. Aku tahu kau bukan orang yang paling baik di dunia tapi, aku tidak tahu kau bisa sekejam ini!Kau menghancurkan hidup mereka!memisahkan mereka dengan segala tipu daya yang kau buat!Aku tidak tahu kau sehina itu"

"Apa kau pernah mendengar kata 'aku tidak peduli?'" balas Vanitas dalam nada rendah yang bahkan lebih membahayakan.

Tetapi Ventus tidak merasa tergentak. Dia berjalan mendekati Vanitas dan menusuk dadanya dengan jarinya yang bergetar penuh amarah.

"Kau tidak peduli? Bahkan tidak peduli pada keluargamu sendiri?. Apa kau tidak punya hati?Apa yang terjadi pada mu?" ujar Ventus putus asa.

Vanitas menggelengkan kepalanya. Tidak adalagi senyum pura-pura di wajah sinisnya.

"Tidak. Aku tidak seperti keluargamu tidak peduli padaku saat aku ditendang keluar dari keluargamu karena aku adalah anak haram. Kau boleh menghinaku dengan semaumu. Aku sudah pernah mendengar yang terburuk Ventus! Aku harus melakukan semua kelicikan untuk bertahan hidup. KARENA AKU BUKAN KAU! Aku tidak punya dunia dalam kau tidak akan pernah mengerti apa yang kualami"

"Dengar" ujar Ventus dengan nada yang jauh lebih tidak kasar,"Aku menyesal atas apa yang terjadi padamu di masa lalu Vanitas. Sungguh, tapi tindakanmu sudah keterlaluan"

Vanitas mengabaikan kata-kata Ventus begitu saja dan menarik sesuatu dari saku jasnya, sebuah foto.

"Aku tidak menghancurkan Namine. Aku membantu sepupu baruku itu." Vanitas menyerahkan foto yang dia pegang kepada Ventus.

Meski sedikit bingung Ventus mengambilnya. Itu adalah foto seorang gadis pucat kurus dengan rambut gelap pendek yang tengah terbaring di atas ranjang putih rumah sakit.

Sebelum sempat bertanya apapun, Vanitas langsung menyela.

"Aku hanya bermaksud membantu Namine melalui pernikahan menyedihkan yang harus ia lalui. Sebab gadis kecil itu adalah pacar Roxas jauh sebelum dia bertemu dengan Namine. Namine mengetahuinya tentu saja, dan yang kulakuakan hanyalah memberinya kesempatan emas untuk melanjutkan hidupnya"

Ekspresi Ventus jelas memancarkan rasa shock yang sangat jelas. Apa maksudnya ini? Jadi selama ini Roxas…

"Dan Aku juga menemukan hal menarik lain" Vanitas mengeluarkan ponselnya dan melemparkannya di meja terdekat dengan Ventus, dengan sikap skeptis penuuh curiga Ventus mengambil ponsel itu. Jendela yang terbuka di ponsel itu adalah galeri foto. Sekitar sepuluh foto yang berada di ponsel itu menangkap gambar yang sama. Organization XIII.

Hanya beberapa berjubah hitam yang tertangkap kamera, dan salah satunya adalah Roxas yang tengah menurunkan tudungnya hingga wajahnya terlihat jelas meski di tengah kepungan gelapnya telah menangkap basah Roxas.

Sunyi langsung merayap ke ruang rapat itu, kedua Cavaler tidak saling melontarkan kata apapun. Vanitas menunggu dengan tenang reaksi yang akan dikeluarkan Ventus. Dan kalau feelingnya benar, hanya tingal sedikit lagi dia hingga mendapatkan apa yang dia selalu idamkan.

Ventus tidak bisa mengatakan apa-apa, dia menggertakkan giginya ketika berbagai macam emosi berkemauk di dalam dirinya. Pria muda itu bisa merasakan bulir-bulir keringat meresat jatuh dari keningnya meskipun ruang rapat iru masih dingin akibat belum berakhirnya efek musim dingin.

Dia pikir rahasia Roxas dengan Organization XIII aman tersimpan. Kalu masalah ini sampai terkuak ke permukaan, maka dia yakin bencana akan segera datang tidak hanya bagi adiknya tapi juga bagi Cavaler.

"Aku bisa menghancurkan hidup Roxas hanya dengan jentikan jariku, Ventus" Vanitas memperingatkan dengan sinis. "Cukup dengan foto itu dan tentu saja, gadis kecil bernama Xion Metis tadi"

Vanitas menunggu adanya tanda-tanda perlawanan dari Ventus, namun Sepupu rambut emasnya itu masih tampak sangat shock untuk melontarkan makian apapun padanya, jadi Vanitas melanjutkan kata-katanya.

"Gadis kecil itu akan masuk meja operasi kapan saja sekarang. Dia bisa selamat tentu saja. Tapi kecelakaan kecil mungkin saja bisa terjadi"

Ventus membelalak mendengar ini. "Kau mau membunuhnya?Gadis itu tidak ada hubungannya dengan urusan ini!" kata Ventus lambat-lambat dengan nada memperingatkan.

Tentu saja Vanitas tidak setuju, dia menggelengkan kepalanya. "Sudah terlambat untuk menghentikanku Ventus. Sudah sangat terlambat" Vanitas berhenti sebentar dan senyum sadis kembali menghiasi wajah pucatnya. Ventus sekarang sangat muak melihat wajah Vanitas yang sangat mirip dengannya, mengutuk garis darah Cavaler yang terlalu kuat hingga kerabatnya yang mana saja akan berupa nyaris sama dengannya.

"Tapi Aku punya penawaran menarik untukmu. Kalau kau menyetujuinya, Roxas akan selamat. Gadis itu Akan selamat. Aku bersumpah tidak akan menggagu kehidupan keluargamu lagi" kata Vanitas sambil mmenyilangkan tangannya di depan dada menunggu jawaban Ventus.

"Lanjutkan" geram Ventus pada sepupunya. "Oh, mudah saja sebenarnya" Vanitas berjalan melewati Ventus dan duduk di meja yang tadi di tempati oleh Ventus.

Mata Kuningnya berkilat keji saat mengatakan ini, "Serahkan statusmu sebagai pewaris Cavaler Company padaku"

Ventus menutup matanya yang terasa perih. Dia tidak punya waktu banyak untuk berpikir. Semuanya tergantung padanya sekarang…


Langit malam itu tampak sangat gelap dari bawah jendela kamar Namine. Dia selalu suka duduk dibawah jendela putih ini, saat dia beruntung dan langit sedang cerah dia bisa melihat bintang dengan sangat jelas dari sini, sesuatu yang sangat sulit terlihat dibawah langit berpolusi Twilight Town. Tapi hari ini seperti hari-hari kemarin dia tidak beruntung. Namine bahkan mulai berpikir fortuna sudah meninggalkannya sejak dia menginjak Mansion batu milik Keluarga Cavaler ini.

Dengan tarikan nafas panjang, Namine menyudahi sketsa yang dia buat di Sketchbooknya. Tidak hanya keberuntungan. Inspirasinya sepertinya juga enggan bersama Namine.

Buang-buang waktu batin Namine. Kalau dia bahkan tidak bisa lagi menggambar untuk menenangkan pikirannya, mungkin sebentar lagi dia harus menemui terapis. Gadis itu merapikan kerutan di gaun tidur berendanya dan berdiri dari sofa di depan jendelanya untuk mengembalikan sketchbooknya .

Begitu Namine meletakkan kembali Sketchbook warna beige itu kedalam laci meja belajarnya, sesorang mengetuk pintu kamarnya. Tapi Namine tidak perlu repot-repot membuka pintu karena sang tamu sudah membukakan pintu untuk dirinya sendiri.

Mengenakan T-Shirt putih biru dan sweatpants abu-abu pudar, Roxas masuk. Pemuda itu tampak lebiih kurus dari saat terakhir kali Namine melihatnya lebih dari dua menit. Roxas tersenyum simpul dan bertanya apakah dia boleh masuk. Namine mengangguk pelan dan mempersilahkannya duduk dimana saja. Roxas mereganggang lehernya dengan canggung dan memilih untuk berdiri saja.

"Um…" Roxas menggaruk belakang lehernya mencoba mencari awal percakapan yang tepat demi menghindari kecanggungan. "Ba-Bagaimana kabarmu?" Tanya Roxas dengan suara tersedak yang aneh.

"Baik" Namine menjawab pendek "Aku baru selesai mengepak, belum semuanya tapi…" Namine memutuskan untuk tidak melanjutkan kata-katanya dan mengalihkan topik "Um, Aku jarang melihatmu belakangan ini"

"Ya, Aku di tempat Axel. Dia bilang sebaiknya Aku tidak bertemu denganmu dan Xion supaya tidak membuat kesalahan pada akhirnya" ujar Roxas menjelaskan, "Tapi Axel bilang kalau dia akan membunuhku kalau bersembunyi lebih lama lagi. Jadi yah…"

"Kau sudah membuat keputusan?" kata Namine menyarankan. Roxas mengangguk, pemuda itu melangkah pelan menuju Namine. Mata biru tuanya memandang mata indigo milik Namine. Gadis berambut pirang-putih itu merasakan tangannya berkeringat dan mendingin ketika tangan Roxas meraihnya.

"Aku berpikir dan berpikir. Dan kurasa Aku sudah membuat keputusan yang paling benar." Roxas melepaskan tangannya dari Namine dan mundur selangkah dari tempatnya berdiri. Namine bisa merasakan rasa nyeri asing di dalam dadanya. Kekecewaan dan segala emosi bercampur aduk.

Jangan bodoh Namine,kau sudah tahu ini akan terjadi. Jangan menangis lagi, Oh Aku benar-benar tidak berguna. Roxas pasti akan memilih Xion! Apa hebatnya Aku?Kalau dia sudah bercerai, Cavaler pasti akan membantu biaya rumah sakit menantu baru mereka. Uang tidak jadi soal lagi bagi kesembuahan Xion dan Roxas tidak perlu berada di Organization XIII demi mengumpulkan uang lagi.

Tapi alih-alih pergi meninggalkannya, Roxas justru memeluk Namine seakan dia tidak akan pernah melepasnya lagi.

"Kumohon, izinkan Aku pergi denganmu Nam. Aku tidak mau kehilangan kau. Kau-Kau yang terbaik yang bisa kumiliki. Kalau kau mengizinkan Aku akna tetap mengirim uang untuk biaya rumah sakit Xion. Tapi Aku bersumpah hanya itu saja! Aku-"

Namine melepaskan dirinya dari pelukan Roxas, gadis itu sudah tidak dapat menahan aliran air matanya. Roxas memandang istrinya keheranan. Apakah dia telah mengatakan sesuatu yang salah?Apa Namine sudah muak dengannya?

"Terima kasih Roxas, Terima kasih karena kau mau tetap bersamaku…" ujar Namine diantara isakannya, gadis itu kemudian melingkarkan lengannya dipinggang Roxas, menghirup nafas panjang mencium aroma mint segar khas pemuda balas tersenyum ketika dia membelai rambut Namine.

Untuk pertama kalinya pada hari itu, keduanya tersenyum tulus dari lubuk hati.


A/N

SO yeah…Harusnya saya belajar…Tapi yah meh. I need a break…so update(kejang-kejang ingat praktek fisika,)!

Nah kalo boleh saya mau rambling gak jelas, soalnya saya baru nyadar sejauh mana cerita ini sudah berkembang (BERKAT KALIAN TENTU SAJA) padahal awalnya saya Cuma mau bikin oneshot gak jelas soal Namine mutusin Roxas dan Roxas punya 100 rencana buat ngedapetin Namine lagi. OHH Masa remaja… (ingat AUTHOR ADALAH ORANG TUA)

Ceritanya sedikit intens HOT-HOT-HOT!*digampar. Yah soalnya kita sudah mencapai klimaks! Jejejejeng!*ditabokin lagi. DAN bener-bener klimaks gak kayak cinta F*****

EHEM!

CHAPTER BERIKUTNYA BAKALAN HEBOH stay tune yah (IKLAN GAGAL) . Maklum AUTHORNYA SUDAH TUA jadi garing naujubile.

Update selanjutnya mungkin agak lama *sujud-sujud minta maaf. Soalnya ada Ujian ini itu di depan mata, belum lagi ada story board yang mesti dibikin biar dapat duit (miskinnya kentara)

TAPI I LOVE YOU GUYS AND I WILL KEEP THIS STORY AS MY TOP-NOTCH PRIORITY SO EXPECT UPDATE ANYTIME!

TAPI YANG JELAS SAYA CUMA MAU BILANG MAKAAaaaaaaaaaaaaaaaaAAAASIH ATAS SUPPORT DAN DOA YANG DIBERIKAN UAN TAK PERNAH. SO THANKS DUDE and dudette ! STAY WITH ME!

Jangan lupa doanya buat uan saya (MARUK) .mau lulus? belajar!

REVIEWS REPLY:

Addict fanfic : Yah belajar-semelajar. Ini belajar jugakan?belajar ? hehehehe

Kumbang Merah : AW. Hiatus ⅘ % hobi say amah nulis jadi pasti ada waktu doanya

Orang nyasar : Makasih!tujuan hidupku adalah membuat orang penasaran (sok misterius)

Miyako : AMIEEEN!Nah Roxas akan selalu dalam masalah!MWAHAHAHA

RoxasSoraCoolz : AMIEENN!nah udah ketauan kan belangnya si albino-ehem- Riku ama Vani.

Drilicious : Aduuuh penasaran amat mbakk. Makasih buat supportnya (reviewnya dobel asikee)

Picasso1309: Intens my friend Intens! (Apaan sih)

Mizuki Asakura : Oooh Roxas bisa tidur tenang nih mala ada Non Mizuki yang siap menyantet. YAH sayangnya saya musti ya

RANDOM : DUH tenang mbak Roxas, tuh Roxas pilih Namie !

XxDarkDemonVanitasxX : Whew ternyata story ini gak gagal total. Nami mengambil semua kebaikanku sih. HAHA. Yep UAN adalah pembodohan

Megahalo : wah-wah siapa yang tahu ada pikiran apa di balik mereka. HAha sayangnya Ven sudah jadi pria di chapter ini T.T . AMIIEEN MEGAHALO DOA MU NGE-ROCK!

Nao imaki : AMIEN!UPDETNYA gak bakalan lama-lama amat. Saya orang yang tidak punya kehidupan T.T

XASOR zzz : WOOO!asik semangat banget!siip updetnya saya !

Rinkaro-chan : THANKS DUDETTE!I LOVE YOU!

Nn : Lanjutannya saya persembahkan untuk anda

HannaTierra : You love this STORY?THEN I LOVE YOU! Amieenbuat suportnya

Fangirl : yep-yep mimpi buruk. SAYA AKAN NGELANJUTIN STORY INI

Gunslinger Girl :Thanks Thanks Thanks

SO. PLEASE REVIEW DAN ASK ME ANYTHING!SERIOUSLY DUDE AND DUDETTE ASK ME ANYTHING.

Kontes gak jelas:

"TANYA APA AJA DI RIVIEW KALIAN! MAKIN KONYOL MAKIN ASIKE! YANG PALING ASIKE USERNAMENYA BAKALAN MUNCUL DI CERITA CHAPTER BERIKUTNYA"

peace out!