Annyeong ~
Maaf updatenya agak lama
Mian!
Btw, gigi saya udah dicabut, saya bela2in ditemenin ama sepupu saya, pas dicabut sepupu saya bilang inget aja kejadian yang paling bikin saya kesel, jadi sakit di gigi itu ga seberapa dan BOM! bener bgt! Gigi saya dcabut begitu aja! Ya begitu saja! ga da sakit dan saya ga sadar sampai tang itu keluar dari mulut saya! sumpah! ga kerasa apa-apa! saya ngakak keras2 kaya org gila karena ngesara lucu udah takut duluan kmaren2 itu wkwkwkwk
Well, chapter sebelumnya dan yang ini emang masa lalu YoonMin, disebelumnya saya udah bikin di awal kan ya, 'masa lalu' berarti YoonMin nya belum pacaran.
Nah, selamat membaca ~
.
.
"Kau ke mana Hoseok-a?"tanya Seokjin begitu Hoseok berdiri dan melangkah menuju pintu.
"Aku akan mencari Yoongi-hyung."
Jimin mendongak, sontak matanya menatap bingung.
"Sekarang? Memangnya kau akan mengatakan apa?"tanya Soekjin lagi.
"Aku akan menanyakannya langsung pada Yoongi-hyung."
"Menanyakan apa?"Seokjin masih tak mengerti.
Berbeda dengan Jimin yang sepertinya tahu benar maksud Hoseok, "Hyung, jangan..."pinta Jimin.
Hoseok tak menjawab, memutar kunci, membuka pintu kamar dan-
"Aku mohon."
Langkahnya terhenti oleh tarikan Jimin.
"Hyung, aku mohon hm. Biar aku saja yang bicara dengan Yoongi-hyung."
"Astaga, Jiminie. Mana bisa aku membiarkan-"
"Aku mohon,"pinta Jimin, lebih halus lagi namun lebih serius, "aku yakin Yoongi-hyung tidak akan suka jika orang lain menanyakan hal ini padanya. Hyung cukup berbicara padaku saja. Ne?"
Hoseok terdiam sebentar. Sungguh, tentu ia tak tega menolak Jimin yang melempar ekspresi benar-benar memohon kepadanya itu tapi setelah mendengar penjelasan Jimin tadi hatinya semakin tak tenang sebelum berbica- menghajar Yoongi.
Hoseok melepas genggaman Jimin, "aku akan menemuinya, kau tak akan bisa mencegahku,"tolak Hoseok dengan lembut, "maaf ya, Jiminie."
Jimin terdiam. Hilang sudah niatnya untuk lebih menahan Hoseok. Bibirnya terkatup rapat, merelakan Hoseok dengan wajah sedih dan terlihat letih.
Hoseok akhirnya meninggalkan dorm setelah bersiap-siap sebentar. Ia pergi keluar meski belum tahu pasti akan ke mana. Dan ia tidak bisa memastikannya karena ternyata Yoongi pergi tanpa membawa handphone.
Yang pertama ia akan ke studio dulu. Jika Yoongi tidak ada mungkin ia akan ke cafe langganan Yoongi atau ke tempat Daehan, sahabat dekat Yoongi.
.
.
"Aku tahu ini masalah kalian berdua."
Sebuah suara menyadarkan Yoongi. Ia yang melamun entah memikirkan apa, akhirnya sedikit bergerak meski tadi sudah merdengar jelas pintu studio terbuka dan seseorang duduk di kursi beroda.
"Tapi ceritanya lain lagi kalau Jimin sudah menangis seperti itu. Aku terpaksa ikut campur, Hyung,"lanjut Hoseok.
Yoongi hanya meliriknya sekilas, dengan tatapan malas. Lalu kembali bebaring di sofa, menatap lurus langit-langit studio dan bergumam tak jelas, sepertinya mengikuti lagu yang ia dengarkan dari headsetnya.
Hoseok memutar bola matanya, "nah, aku akan langsung saja,"tukas Hoseok, "aku tahu kau mendengarku, Hyung. Kau benar-benar tidak memiliki perasaan apapun kepada Jimin, kan. Mulai hari ini aku akan merebutnya."
Gumaman Yoongi sempat terhenti, matanya mengerling tak nyaman namun kembali mengacuhkan Hoseok, melanjutkan nyanyian tak jelasnya.
Hoseok mengangkat kedua bahu singkat sebelum benar-benar pergi, "aku senang kau tak repot-repot mencegahku, Hyung. Berarti akan lebih mudah untuk mengalihkan hati Jimin."
.
.
"Kau tak akan menyerah, Jiminie?"tanya Seokjin.
Jimin menggeleng memaksakan senyum, "aku tak akan menyerah selama kebohongan Yoongi-hyung masih bisa aku rasakan."
Seokjin menghela napas ikut tersenyum seperti Jimin, "aku berharap yang terbaik untuk kalian berdua."
"Ne, Hyung..."
.
.
.
.
Malam ini merupakan perayaan peluncuran album baru BTS. Semua member beserta staff mengadakan acara minum-minum di salah satu restoran BBQ terkenal di Seoul.
Makan malam yang meriah, kontras dengan mood Jimin yang memburuk karena sedikit mabuk. Tak ada meja khusus BTS, member dan staff duduk dicampur dalam beberapa meja. Kebetulan Jimin duduk di hadapan Yoongi yang di sebelahnya duduk salah satu make up artist.
Pandangan sayu yang begitu menyelidik Jimin lempar ke arah depannya. Ya, ke arah Yoongi yang sedang asik mengobrol dengan wanita di sampingnya.
Jimin kembali meneguk sojunya. Lagi. Dan lagi. Padahal sebenarnya Jimin bukanlah tipikal orang yang biasa minum.
Hoseok di sebelahnya mendesah pelan. Alih-alih mencegah agar Jimin tidak banyak minum, Hoseok yang biasanya menghibur Jimin ketika ada kejadian seperti ini, kali ini lebih memilih bertaruh bagaimana kecemburuan seorang Jimin yang sedang mabuk. Hoseok sedang iseng sepertinya.
TAK! Sebuah gelas dihentakkan ke permukaan meja. Menimbulkan bunyi keras yang membuat bungkam orang-orang disekitarnya.
"MIN YOONGI!"teriak Jimin tiba-tiba.
Seketika semuanya terkejut melihat pemuda mabuk itu.
"YA! MIN YOONGI!"kembali Jimini bersuara lantang. Terhuyung, Jimin mencoba berdiri tegak.
Yang dipanggil hanya bisa membesarkan kedua matanya dan mengernyit bingung.
Jimin mengepalkan jemarinya, "KAU!"teriaknya, menunjuk-nunjuk Yoongi, "YA! Min Yoongisshi! Dasar kau! Berani-beraninya bersikap seperti itu hha?! Heol! Apa kau tahu hha?! Selama ini aku mati-matian menahan di sini!"Jimin memukul-mukul dadanya, "SAKIT!Tahu tidak! Sakit sekali! Tidak mengerti perasaan orang apa?! Maunya enak sendiri! Egois! Raja tega! Tidak pernah memikirkan penderitaan orang lain hah!? Dasar kepala besar! Eh! Besar kepala! Ah! Kepalamu memang besar kan! Haahahhaha! Bukan! Bukan kepalamu yang besar! Bohong-mu yang besar! Hahahaha!"
Jimin tertawa keras dibarengi sendawa runtut khas orang mabuk.
"Pft!"sontak Hoseok menahan tawa mendengarnya. Sepertinya dia hanya akan jadi penonton untuk saat ini.
Sedang yang lain termasuk Yoongi masih terpaku benar-benar heran.
"YOONGISSHI!"teriak Jimin masih belum selesai, "MIN YOONGISSHI!"
"Ne?"jawab Yoongi hati-hati dan tersenyum paksa. Sumpah! Sebenarnya ia bisa saja acuh dan bersikap tak peduli, tapi namanya sedang dipertaruhkan sekarang, Jimin tak akan berhenti meneriaki namanya jika ia tidak menjawab bukan.
"Hiks! Hiks! Hhah! Huweee!"
"We! We? We?"Yoongi langsung bergerak refleks mendekati Jimin yang sekarang menangis, "hei, tenanglah."
"Huweeeeeeeeeee!"
Isakan Jimin semakin menjadi. BTS menjadi tontonan semua orang di restoran itu. Yoongi menelan ludah dan mencoba menenangkan Jimin. Ia melirik ke yang lain meminta bantuan. Hoseok berpaling acuh. NamJin malah santai melanjutkan santapan daging panggangnya. Dan Jungkook yang kompak dengan Taehyung, masih mematung, terkesima begitu takjub akan Jimin yang pertama kali seperti itu. Lalu sialnya managernya sedang di toilet sekarang. Staff yang lain? Masih belum mampu mencerna apa yang sebenarnya terjadi.
"Yoongi~a."
Belum sempat Yoongi mengajak Jimin untuk duduk, sepasang lengan melingkari lehernya. Langsung saja Yoongi semakin panik dibuatnya.
"Yoongi~a."
Air muka Jimin yang mengiba dibarengi rintihan sendu memanggil Yoongi.
"Waaa-"
BRUK
Jimin mendorong jatuh tubuh Yoongi. Pemuda mabuk itu menindih rappernya seraya tersenyum nakal.
Beberapa penonton tadi yang sempat teralih kini kembali memperhatikan keduanya.
"YA! Teman-teman!?"Yoongi bergantian menatap semua membernya berharap ada yang menghentikan Jimin. Ia jadi sulit bergerak karna posisinya, dan tenaga ekstra dari pemuda mabuk di atasnya.
Perlahan Jimin mendekatkan wajahnya ke wajah Yoongi.
"Ya! Ya! Ya! Tu- Tunggu!"panik Yoongi bercampur dengan rasa yang lain, "Tu- Tunggu! Ya! Semuanya!?"
Jimin menutup mata. Bibirnya ia monyongkan ke wajah Yoongi yang salah tingkah.
"Jiminie. YA!"
Semakin dekat. Entah kenapa Hoseok malah tak ingin mencegah, baginya kini raut Yoongi menghibur sekali.
"Aish! Jjinja!"
Mata Yoongi mulai kehilangan fokus. Bibir ranum itu mau tak mau menarik sorot matanya.
Tepat ketika beberapa milisenti lagi bibir mereka akan bersentuhan.
"Huuuueeekkkkk!"
"WUUUAA!"
Muntahan dahsyat berhasil keluar dari mulut Jimin.
.
.
"Klise ! Klise sekali! Sial!"umpat Yoongi menatap kesal pada Jimin, "mabuk. Lalu muntah di baju orang. Aiish! Dasar!"geramnya mengendus-endus sekujur tubuhnya yang ia rasa masih berbau muntahan Jimin meski tlah membersihkan diri dan berganti baju.
Hoseok melap mulut Jimin yang telah tertidur pulas. Bibir tebal yang Hoseok bersihkan itu berkali-kali menyebut 'Min Yoongi Pabo' dalam igauannya. Sekuat tenaga Hoseok menahan tawanya yang seharusnya pecah sedari tadi. Kejadian sial bagi Yoongi namun sebuah hiburan yang unik baginya. Sehabis makan malam ia mengajukan diri sebagai yang mengurus Jimin hingga ke kamarnya. Samar-samar kesadaran Jimin muncul selama itu.
Sesaaat ketika tubuh Jimin direbahkan ke ranjang, matanya menangkap jelas bahwa sosok Hoseoklah yang mengantarnya. Senang karna perhatian seorang Hoseok bercampur rasa kecewa karna orang itu bukanlah Yoongi. Padahal segera setelah Yoongi tertidur pulas, Yoongi yang mendapati hanya ada Jimin di dalam kamar karna Hoseok sedang mandi perlahan masuk dengan langkah hati-hati.
"Min Yoongi..."JImin masih mengigau, "pabo..."
"He-eh,"Yoongi manyun lalu tersenyum simpul melihat Jimin, "aigo. Dasar. Siapa yang pabo hha,"desahnya pelan, menyelimuti Jimin dan membelai lembut kepala pemuda manis itu.
Suasana sunyi. Penerangan satu-satunya -lampu tidur-, memfokuskan cahaya untuk menerpa wajah Jimin. Kamar dengan spectrum kekuningan itu terlihat hangat mengikuti bagaimana Yoongi memandang Jimin.
Tiba-tiba rasa bersalah menyergap Yoongi. Sekilas perkataan Jimin memenuhi pikirannya. Meski terdengar asal, namun celotehan Jimin sudah pasti merupakan perwakilan dari emosi yang ditahannya selama ini.
Yoongi mendesah panjang. Sejak ia kejadian di hotel itu wajah Jimin lebih sering lesu dan tak bersemangat. Bagaimana bisa ia menjadi seseorang yang telah merebut senyum manis seorang Jimin. Tanpa sengaja menyakiti perasaannya. Dan mau tak mau harus membatasi perhatian terhadapnya karena ia sudah terlanjur menolak Jimin.
"Maaf..."gumam Yoongi pada sosok yang tengah tertidur pulas itu. Haaah. Ingin rasanya Yoongi memeluk erat tubuh Jimin. Bisa membelainya setiap saat tanpa ada batasan apapun. Dan selalu memberi perhatian secara lebih menyeluruh lagi. Tapi dia tidak punya hak untuk itu. Yang ia yakini adalah Jimin salah mengartikan perasaannya kepada Yoongi. Pemuda Daegu itu merasa dirinya bahkan tak pantas mendapatkan rasa suka dari seorang Park Jimin.
Dia bukanlah seseorang yang mudah menunjukkan perasaanya. Tidak bisa berkata lembut dan penuh sayang. Sekalipun tak pernah berhasil menyampaikan maksud kehangatan hatinya. Berarti nantinya hanya akan menyakiti seorang Park Jimin.
Dia mencintai Park Jimin. Benar, sangat mencintainya, terlalu mencintainya sampai-sampai ia takut membuat hancur pemuda manis yang rapuh ini. Berlebihan memikirkan Park Jimin hingga ia sendiri gamang bahwa rasa ini mungkin akan terlihat tak masuk akal.
Sekali lagi Yoongi menjulurkan tangannya dan sekali lagi ia tersenyum kepada Jimin.
Jimin menggeliat dan tersenyum lebar. Menampilkan warna wajah yang sangat manis. Seolah-olah ia mendengar Yoongi melalui mimpinya.
"Maaf. Aku hanya ingin membuatmu mengerti apa yang sebenarnya kau rasakan."
Untuk terakhir kalinya Yoongi membelai kepala Jimin sebelum berlalu pergi setelah memastikan salah satu dongsaengnya itu nyaman dalam lelapnya.
.
.
Begitu terbangun pusing langsung menyerang kesadaran Jimin. Berat ia membuka kedua mata. Dengan satu mata masih tertutup, kerongkongan kering, wajah bengkak, Jimin memijit-mijit keningnya.
Jimin bangkit meregangkan sekujur tubuhnya. Kemudian berjalan gontai menuju dapur. Segelas air mineral ia teguk sambil mengumpulkan keping ingatannya tadi malam.
Berangsur kejadian tadi malam tergambar jelas di kepalanya.
Glek.
Bagaimana ia mabuk. Berteriak asal. Dan-
Air tersembur dari mulut Jimin.
Pemuda itu tercekat, bergidik ngeri. Namun tertawa remeh menampik scene terburuk tadi malam yang tidak mungkin terjadi.
"Tunggu. Haha. Mustahil aku-"
Segera Jimin menaruh gelasnya. Wajahnya memelas seakan ingin menangis.
"Jeeebaaal..."dua bahunya seketika jatuh. Sungguh! Ingatannya sudah pulih sekarang.
"HOSEOK-HYUUUUUNNNG!"
.
.
"Maaf~ Maaf~"Hoseok saling mengelus-elus telapak tangan di depan wajah, "maaf, ya, Jiminie. Habis malam itu- pft!"
"Apa!?"
"Wajah mabukmu itu lucu sekali. Hahahaha!"
"Hyuuuuung!"
"Iya. Iya. Aku minta maaf."
Jimin masih kesal, masih ada sisa-sisa tawa dalam ucapan Hoseok.
"Maafkan aku, toh Yoongi-hyung sepertinya tidak ambil pusing."
"Tapi tetap saja kan! Apa aku benar-benar ingin menciumnya malam itu?"
"Pft!"
"Hyuuunng!"
"Iya, iya. Kau ingin menciumnya."
"Benarkah?!"
"Yup!"
"Hhhhhheeeeee..."
"Kau tahu, Jiminie?"
"Ne?"
"Bibirmu lucu sekali waktu itu, tebal, memerah karena mabuk, dan dimonyongkan- semonyong-monyongnya. Hahaha!"
"Aish! Hyung!"
.
.
"Yoongi-hyung..."panggil Jimin ragu setelah membuka pintu.
"Wae?"
"Ee, apa Hyung sedang sibuk?"
"Masuklah."
"Annyeong..."
"Ada apa?"
"Em, kemarin-"
"Sudahlah, kau sedang mabuk kan. Aku sudah tak begitu memikirkannya."
"Eh? Oh, em... syukurlah."
"Apa kau baik-baik saja?"
"Ne. Tadi pagi masih pusing, tapi sekarang sudah tidak apa-apa."
Mulut Yoongi membulat mengangguk-angguk.
"Tapi, Jiminie."
"Ne, Hyung?"
"Lain kali hati-hati. Untung aku yang kena muntahanmu, kalau orang lain bagaimana hm?"
"Hehe. Ne..."
Eh? 'Untung aku yang kena muntahanmu' Jimin terdiam sebentar.
"Oh, ya."
"Ne, Hyung?"
"Ah. Ani. Tidak jadi."
"Oh..."
"Aish!"
"Wae, Hyung?"
"Kau- aaah. Cih."
"Wae, Hyung?"
"Begini, aku hanya sekedar bertanya, ya, sekedar bertanya, bukan, aku hanya sekedar menyimpulkan, sekedar, ya."
"Ne?"
"Ee, akhir-akhir ini kau dan Hoseok semakin dekat ya."
"Eh?"
"Ah, sudahlah."
"Apa kami kelihatan begitu, Hyung?"
"Ne, lumayan."
"Apa kau tidak senang, Hyung?"
"Ntahlah. Well, mustahil kau- mustahil kalian berdua..."
"Mwo? Jangan bilang Hyung mengira kami berdua-"
"Bisa saja kan."
"Hyung. Kau tahu aku masih menyukaimu kan?"
Yoongi terdiam. Dan Jimin langsung bangkit.
"Apa kau serius berpikir bahwa semudah itu perasaanku beralih, Hyung?"
Sebelah bibir Yoongi tertarik, bahunya diangkat singkat, "bisa saja kan..."ucapnya santai kembali fokus pada layar laptop.
"Mwo?"
Jimin menggigit bibir. Alisnya menyatu pertanda kesal.
"Kau anggap apa perasaanku selama ini, Hyung?"
Tak ada jawaban dari Yoongi.
"Hyung?"
"Jiminie."
Jimin menunggu. Kemudian Yoongi kembali berpaling untuk Jimin.
"Pertanyaan itu bukan untukku, tapi untuk dirimu sendiri,"kata Yoongi, menatap lekat bola mata Jimin, "aku harap kau mengerti apa yang sebenarnya kau rasakan untukku. Satu lagi, aku bukannya tidak senang, aku juga bukannya senang. Aku tak peduli hubunganmu dengan Hoseok. Sudah kubilang aku hanya 'sekedar' menyimpulkan."
Wajah manis itu memberengut. Dua tangannya mengepal erat. Hilang sudah kata-kata dalam pikirannya. Menahan sesak napas ia bergegas menuju pintu.
BRAK
Pergi dengan membanting pintu.
.
.
'Jangan menyapa Jimin hari ini'
'Jangan ajak Jimin bercanda hari ini'
'Tolong maklumi tatapan Jimin hari ini'
'Tolong maklumi sikap uring-uringan Jimin hari ini'
Begitu peringatan dari Seokjin dan Hoseok.
Benar, lihat saja, seolah-olah ada aura kegelapan yang sedang betah menyelimuti Jimin. Ekspresinya tenang namun terlalu menyeramkan. Gerak-geriknya hening namun memancarkan teriakan lantang tak terelakkan. Bibirnya terkatup erat namun jelas menyuarakan hati yang sama sekali tidak boleh diganggu gugat.
Sesuatu yang sangat disyukuri ketika kamera mengarah kepada Jimin, maka sosok dingin itu langsung berubah menjadi boneka manis yang menggemaskan. Tepat ketika tak lagi jadi sorotan, si manis seketika berubah total menjadi putri kegelapan.
Semua tahu, semua mengerti dan semua memaklumi. Hingga mereka seharian bersikap terlalu hati-hati terhadap Jimin. Menjaga jarak dari Jimin tetapi masih memperhatikan dengan baik pemuda manis itu.
Kecuali satu orang.
Siapa lagi kalau bukan dalang dari semua ini.
Penyebab utama Jimin Manis bertolak menjadi Jimin Dingin.
Sang Antagonis yang sama sekali merasa tak bersalah dan memilih bersikap acuh tidak peduli sama sekali. Eksistensi Jimin ia hilangkan begitu saja dari dirinya. Jadi seolah-olah seperti ikut menjaga jarak memaklumi Jimin padahal sebenarnya sungguh tak ambil pusing.
Ya, Min Yoongi.
Orang bodoh -bagi Hoseok- yang tak kunjung mengakui bahwa Jimin benar-benar mencintainya.
Raja Tega -bagi Seokjin- yang tanpa belas kasih tidak kunjung menghargai perasaan tulus seorang Jimin.
BRENGSEK! -bagi Jimin- yang tak tahu lagi deskripsi apa yang cocok untuk menggambarkan dirinya.
Dan 'pengecut', bagi dirinya sendiri. Benar, benar sekali. Yoongi tahu benar kalau dia seorang pengecut. Dia mencintai Jimin, tapi tak berani menunjukkannya. Dia cemburu dengan kedetakan Jimin dan Hoseok, tapi tak berupaya mencegahnya.
Yoongi mengiyakan dirinya seorang pengecut. Maka Yoongi semakin bertekad untuk menghilangkan-
BRUK
"Astaga! Jiminie!"
Pekikan Seokjin membangunkan Yoongi. Dia yang tengah berbaring di sofa ruang tunggu mengernyit heran melihat kerumunan di depannya. Tepat di hadapannya.
Kedua matanya dikucek.
Sesuatu menyerang firasatnya.
Suasana panik, dengan dirinya yang masih termangu belum percaya.
Selama ia bergerak untuk duduk, selama itu pula detik seolah-olah berjalan dengan lambatnya.
Pendengaran Yoongin tak berfungsi. Teriakan-teriakan cemas tenggelam karna fokus dirinya terpusat pada sosok pucat itu.
Yang mengeluarkan darah dari hidungnya.
Yang terengah tak sadarkan diri.
Tubuh lemah yang kini digerakkan untuk dipapah ke-
"-gi!"
...
"-gi-yung!"
...
"YOONGI-HYUNG MINGGIR!"
Yoongi tersentak. Secepat kilat ia mengembalikan kepekaan-nya dan langsung bangkit memberi ruang untuk membaringkan Jimin di sofa.
"Cepat! Bawa kotak obatnya!"
"Astaga, Jminie!"
"Jiminie!"
"Hentikan darahnya!"
"Bantal!"
"Jiminie!"
"Jminie!"
Yoongi masih membisu. Terpana dan berdiri gamang melihat Jimin yang kesakitan.
"Bawa dia ke rumah sakit!"
.
.
Kerahnya ditarik paksa.
Belum sempat Yoongi tahu tangan siapa itu sebuah tinju mendarat telak di sebelah pipinya.
"Kau sadar apa yang kau lakukan hha!?"
"YA! APA YANG KAU-"
"Semua karena dirimu!"
"MWO!?"
Hoseok menghempaskan Yoongi ke dinding, "kau sadar tidak, Jimin tak mau makan, Jimin kurang tidur, Jimin berpikir keras, fisik dan mental Jimin terkuras karena sikapmu!"
Yoongi mendengus remeh, "aku tak mengerti apa yang kau bicarakan."
"Astaga!"
"Bukannya akhir-akhir ini kau yang bersamanya hha?"tuding Yoongi.
Hoseok terdiam.
Yoongi menepis tangan Hoseok dan menatap tajam, "kau bilang kau ingin merebutnya, lalu apa ini? Kalau kau tidak bisa menjaga Jimin jangan berlagak di depanku."
"Berarti kau tahu aku tidak bisa menjaga Jimin, kan?"
"Hha?"
"Kenapa kau malah tak mau mempertahankan Jimin?"
"Karena aku juga tak bisa menjaga Jimin."
"Astaga. Apa yang kau makan hha? Sampai-sampai otakmu tak bisa berpikir bahwa kau yang seperti ini yang justru menyakiti Jimin."
"Hha?"
"Kau tahu Jimin sakit karena sikapmu kan?"
"Dia terlalu mendramatisir."
"Astaga, Hyung!"
Akhirnya Hoseok lebih sopan, karena amarahnya mulai berangsur hilang terganti geregetan level maksimal pada makhluk di hadapannya ini.
"JIMIN MENCINTAIMU HYUNG! KURANG APA LAGIII!?"geram Hoseok.
"Hei, sudah, sudah."
Seseorang muncul, Namjoon. Dan Seokjin dari balik punggungnya.
Keduanya lalu duduk di sofa studio.
Namjoon menyandar santai, "Hyung, tolong pertegas hubungan kalian,"tekannya, "kalau seperti ini terus, bisa-bisa fisik dan mental Jimin semakin kehilangan fokus dan kembali jatuh sakit seperti tadi malam. Aku tak ingin manager menyalahkanku karena lalai dalam memperhatikan member."
"Yoongi,"timpal Seokjin, tidak seperti Namjoon, ia tersenyum, "aku yakin hanya kau yang mengerti Jimin,"tuturnya lembut, "dia sudah mendingan, sekarang hanya ada dia di dorm, kuharap kalian berdua bisa bicara baik-baik siang ini. Kami tak akan mengganggu. Tolong, jika kau-"Seokjin terdiam sebentar, tersirat rasa kecewa di sorot matanya, "jika kau bersikeras menolak Jimin,"lanjutnya, "beri dia alasan dan pengertian yang membuatnya menerima keputusanmu. Yakinkan Jimin bahwa kalian memang tak bisa menjalin sebuah hubungan."
Yoongi terdiam cukup lama hingga akhirnya menghela napas panjang dan bersiap untuk pergi. Tepat ketika ia akan membuka pintu, Seokjin memanggilnya lagi.
"Aku harap setelah ini kalian bisa saling mengejek seperti biasanya,"senyum Seokjin penuh arti.
.
.
"Apa kau menyukaiku, Hyung?"
"Aku menyukaimu, sebagai adikku sendiri."
"Aku tahu kau berbohong, Hyung."
"Berarti kau juga tahu alasan aku berbohong."
"Tak bisakah-"
"Semua tak sesederhana yang kau pikirkan, Jiminie."
Pandangan sayu Yoongi lempar untuk sosok di hadapannya, "tak semudah itu untuk menjalin sebuah hubungan,"lanjutnya, "kau hanya melihat sisi baiknya saja dari Seokjin-hyung dan Namjoon. Banyak yang harus kau pertimbangkan terlebih dahulu. Naif sekali jika zaman sekarang kau masih beranggapan asalkan saling mencintai, maka tak ada lagi yang perlu dikhawatirkan."
"Aku menyukaimu, Hyung."
Yoongi memutar bola matanya, "bisakah kau berhenti-"
"HIks, aku menyukaimu, Hyung..."
"Jiminie...jebal..."
"Hiks, hiks. Aku menyukai-"
"Berhenti!"
"Aku tak akan berhenti, hiks sampai Hyung mengatakan yang sebenarnya."
Yoongi mendecak. Sumpah! Kenapa semua orang begitu menyebalkan hari ini.
"Aku menyukaimu."
Cepat Yoongi meraih tangan Jimin, menariknya dan bergegas menuju kamar.
"Hyung?"
Yoongi mengunci pintu kamarnya. Tubuh Jimin dihempaskan secara kasar ke atas ranjang.
"Hyung?"tanya Jimin mulai merasa takut.
"Aku tahu Seokjin-hyung ingin kita bicara baik-baik, tapi kau keras kepala sekali,"tukas Yoongi ikut naik ke atas ranjang.
"Hyung?"
Yoongi langsung merebahkan Jimin, mengunci kedua tangan Jimin, mencium Jimin secara sepihak.
"Mppm... mmmp."
Jimin langsung memalingkan wajah namun jemari Yoongi secara kuat menahan dagunya. Tangan dan kakinya mencoba meronta. Bibirnya yang terkatup rapat digigit. Cengkraman pada rahangnya semakin keras membuat mulutnya terpaksa terbuka hingga lidah Yoongi mulai menelusuri rongga mulutnya.
"Nnggh!"
Jimin mengemis untuk bernapas. Namun lidah Yoongi malah kehilangan kendali, mempercepat temponya, memaksa lidah Jimin agar ikut bermain bersamanya.
"Ngh!"
Ciuman akhirnya lepas. Sontak Jimin meraup udara sebanyak-banyaknya. Sedang Yoongi kini bangkit dan segera melepas kaos-
PLAK
Tamparan keras mendarat di pipi Yoongi.
Kepalanya yang tertoleh karena itu perlahan berputar memandangi Jimin.
"Hiks, hiks."
Tangan yang habis menampar itu bergetar hebat. Dan tangan lainnya berusaha menenangkannya. Napas Jimin semakin kacau. Dadanya kembang kempis bukan main. Semua bukan karena ciuman tanpa belas kasih tadi, melainkan karena tangisannya yang sekuat tenaga ia hentikan. Isakan yang terdengar pilu semakin menyedihkan dengan raut wajah Jimin yang sangat tertekan.
"Hiks, hiks."
Yoongi malah mendengus sambil tersenyum tipis. Ia lalu menyeringai dan memberi tatapan remeh, "wae? Huh. Bukannya ini yang kau mau?"
"Hiks, hiks."
Mulutnya gemetar. Tangisan Jimin tak membaik. Bibir lecetnya semakin memberengut, mata merahnya menatap sosok di depannya dengan sorot kecewa bercampur takut dan kesedihan. Desahan Jimin, rintihan Jimin sudah benar-benar memprihatinkan sekarang. Hatinya bagai dihujam jutaan duri. Fisiknya nyaris ternodai karena sekedar pelampiasan nafsu. Bukan ini dibayangkannya. Bukan ini yang sepantasnya ia dapatkan dari orang yang mencintainya.
Dan dua bola mata itu akhirnya menangkap jelas pemandangan miris di hadapannya. Seketika Yoongi terpaku. Sejurus kemudian otaknya sudah mulai berpikir dan emosi liarnya langsung surut digantikan rasa bersalah yang menggerogoti seluruh jiwa raganya. Apa yang barusan ia lakukan? Bagaimana bisa ia membuat Jimin seperti ini?
Sebelah tangan Yoongi terangkat dengan sendirinya. Ingin rasanya menyapu lembut pipi lengket penuh air mata itu. Namun Jimin masih merasa takut, menarik diri menjauhi jemari Yoongi yang padahal sudah tidak memiliki niat untuk menyakitinya. Sentuhan Yoongi ditolak mentah-mentah, lengannya lalu turun. Pemuda pucat itu menunduk dalam.
"Hiks, hiks."
Isakan Jimin masih belum berhenti. Sikap Yoongi barusan sukses menorehkan perih di hatinya. Tindakan kasar yang membuatnya menderita dan masih gemetar ketakutan.
Yoongi menatap lekat sepuluh jarinya yang terpangku dikedua lutut. Lama ia pandangi mereka hingga kebencian dan umpatan kotor mulai ia tujukan pada tangannya sendiri, tangan yang telah menyakiti Jimin, "keluar..."
Jimin terdiam.
"Keluar sekarang,"perintah Yoongi dingin.
Jimin menelan ludah. Entah kenapa tubuhnya belum mau berpindah sedikitpun.
"KUBILANG KELU-"
Greb
Yoongi melotot.
Karena Jimin memeluknya.
Ya, benar. Sosok yang tadi ia sakiti malah memeluknya erat sekarang. Jimin sadar apa yang telah ia lakukan bukan. Apa-apaan ini? Kenapa ia memeluk sosok tak berotak yang nyaris merengut kesuciannya.
"Hiks, hiks mian. Miane, Hyung,"ujar Jimin cepat.
Yoongi terperangah.
"Hiks, mian..."
Sial! Kenapa kau yang meminta maaf.
"Hiks, selama ini aku selalu menuntutmu untuk berkata jujur, hiks mian, aku terlalu egois agar Hyung menerima perasaanku, hiks mian."
Brengsek, berhenti meminta maaf.
"Hyung, maafkan aku..."
Jimin menutup erat kedua matanya. Berusaha sekuat tenaga agar bisa menenangkan diri agar bisa menguatkan sosok yang ia cintai. Karena jika ia pergi meninggalkan Yoongi sekarang, malah akan membuat Yoongi semakin merasa bersalah, tak berhenti mengutuk kekhilafannya dan hubungan mereka akan semakin buruk setelah ini.
"Mianne,"bisik Jimin serak.
Kepala Yoongi menunduk. Terbenam dipundak Jimin yang masih bergetar. Sepasang tangannya bergerak hati-hati –sangat hati-hati sekali, masih terlalu gamang untuk menyentuh malaikatnya itu- membalas pelukan Jimin.
"Pabo."
"Hiks."
"Berhenti menangis."
"Hiks."
"Aku yang salah, aku yang seharusnya minta maaf."
"Hiks. Ani, aku yang salah..."
"Pabo..."lirih Yoongi. Mendekap lebih erat tubuh Jimin. Dan matanya ikut mengeluarkan cairan bening seperti Jimin, "sarang he..."bisiknya, terdapat isakan disela-sela itu.
Jimin terdiam. Kemudian semakin menangis dibuatnya.
"Sarang he, Jiminie..."ulang Yoongi.
"Hiks, hiks. Nado Hyung! Sarang he, hiks, hiks...sarang he..."
"Maafkan aku..."
"Hiks, sudah kubilang aku yang salah, Hyung."
"Ani, aku yang salah."
"Hiks, ani aku yang salah."
"Hei, kau keras kepala sekali."
"Hyung juga, hiks, hiks."
"Nah, kita sama-sama salah, adil kan? Jangan membalasnya lagi."
"Hiks, hiks."
Perlahan Yoongi melepas pelukannya, meraih kaos hitam di sampingnya, menyapu mata, pipi dan hidung Jimin dengan itu, "hei, sudah, sudah. Jangan menangis lagi."
"Hiks, hiks."
"Kau sadar tidak sih, umurmu sudah 20 tahun lebih lho."
"Biarin, hiks."
Yoongi mendengus kecil. Tersenyum simpul melihat wajah Jimin yang ternyata terlihat lucu. Alih-alih membersihkan ingus Jimin, jarinya mencubit hidung kemerahan itu kuat-kuat karena merasa gemas.
"Hgyunghh!"protes Jimin.
"Kubilang berhenti menangis kan."
Isakan Jimin mulai hilang. Napasnya juga sudah teratur. Pipinya kemudian ditangkup oleh dua tangan Yoongi. Kepalanya ditarik dan kecupan hangat dikeningnya diberikan beriringan dengan senyuman lembut dari Yoongi.
Jimin menekuk tersenyum manis.
Keduanya lalu seolah-olah lupa pada hal yang barusan terjadi dan hal-hal menyakitkan selama ini. Semua sirna, hilang begitu saja. Secara ajaib, perasaan mereka berubah sekejap mata menjadi rasa manis yang berbunga-bunga. Meski sembab, namun wajah Jimin jelas-jelas terlihat cerah dan malu-malu. Tak jauh berbeda dari Yoongi.
"Apa aku boleh menciummu?"
Sungguh, mereka benar-benar sudah kembali seperti semula. Bahkan Yoongi repot-repot bertanya sekarang.
"Eh?"
"Ah! Maaf, aku,"Yoongi segera bangkit, hendak turun dari tempat tidur namun lengannya cepat dipagut oleh Jimin.
Jimin menatapnya lekat, "gwenchana... Hyung boleh menciumku..."
Sebenarnya Yoongi sangsi, tentu saja, sopan sekali setelah nyaris memperkosa Jimin sekarang ia malah ingin bercumbu dengan sosok polos itu. Tapi sepertinya Jimin sudah tak mempermasalahkannya lagi.
Hening.
Pandangan itu beradu tanpa mengedip. Menelusuk masuk saling memberikan pengertian masing-masing. Dalam keheningan hanya mata mereka yang berbicara. Dan akhirnya tangan sang dominan bergerak pelan-pelan menelusuri pipi si pemuda manis. Perlahan keduanya menutup mata.
Bibir tipis itu menyentuh yang lebih tebal.
Padahal bergerak sangat tenang, hati-hati dan begitu lembut namun ciuman Yoongi dan Jimin kini terasa jauh lebih nikmat dari yang sebelumnya.
.
.
-END-
.
.
Ciuman mereka dilepas. Jimin langsung menunduk malu. Pipi dan telinganya memerah. Bibirnya tersenyum manis. Wajahnya semakin cerah dan merona bahagia.
"Hyung."
"Hm?"
"Ee..."
"Apa?"
"Apa mulai sekarang kita...emm..."
"Kau ingin dipanggil apa oleh kekasihmu, Jiminie?"
Oh. Mata Jimin membulat lebar, ia mendongak. Ia tak salah dengar bukan, "apa, Hyung?"
"Kau ingin aku memanggilmu apa? Mulai sekarang kau kekasihku kan?"
"Sayang! Panggil aku sayang! Hehe..."cengir Jimin.
Yoongi menepuk pelan kepala Jimin, "masih cepat seribu tahun. Haha."
"Ish."
"Hmm,"Yoongi mendekatkan wajahnya, "Honey?"
Wooooaaahhh! Hati Jimin langsung meleleh mendengarnya.
"Honey! Ne! Honey. Hehe..."
.
.
.
.
-kembali pada masa sekarang-
Jimin cemberut pada botol digenggamannya.
"Kenapa wajahmu begitu Jiminie?"tanya Seokjin, "kau tidak suka madunya?"
"Cepat habiskan sarapanmu,"tegur Yoongi.
Bibir Jimin mengerucut dan bertambah dongkol. Tatapan kesalnya pada botol madu beralih untuk Yoongi.
"Semalam kau mimpi apa hha?"tanya Yoongi heran. Padahal tadi mood Jimin baik-baik saja, kenapa tiba-tiba berubah setelah melihat botol madu.
Jimin mendengus kasar. Satu jarinya menunjuk-nunjuk tulisan 'Honey' pada botol sembari melempar ekspresi marah pada Yoongi.
"Honey?"eja Yoongi, "ada apa hha?"
"Ugh! Kau tidak ingat ya, Hyung!?"
"Hha?"
"Cih! Aku sarapan sereal saja!"tandas Jimin, keluar dari meja makan, beralih mengambil mangkuk, sekotak sereal, susu. Duduk di sofa ruang tengah dan menyuap kasar sambil menggerutu tak jelas.
"Kalian bertengkar lagi?"tanya Namjoon.
"Tidak ah,"jawab Yoongi, "kenapa anak itu?"herannya lalu menatap lekat botol madu yang menjadi penyebab badmood Jimin.
Honey? Aaaahhh!
Yoongi tersenyum simpul. Sudah mengerti dengan sikap Jimin. Ya, pasti karena itu. Mungkin Jimin tiba-tiba ingat bahwa dulu, tepat setelah mereka baru pacaran, ada panggilan sayang yang pernah Yoongi janjikan untuk Jimin. Panggilan yang setelah ia pikir-pikir semalaman suntuk malah membuatnya sangat malu dan sejak hari berikutnya ia merasa tak perlu melakukannya. Sepertinya secara tak langsung Jimin masih menuntut Yoongi mengenai hal ini.
"Kenapa kau sarapan di sana, Honey?"celetuk Yoongi, "kursi di sebelahku kosong. Kau bisa duduk di sini kan, Honey?"
Hening.
Namjoon dan Seokjin bergidik ngeri menatap Yoongi. Mereka mematung pasca mendengar kata-kata menakutkan dari seorang Min Yoongi. Seorang Min Yoongi yang tak pernah berkata seperti itu kepada siapapun.
Jimin terdiam, perlahan ia menoleh pada Yoongi yang tersenyum lebar untuknya.
"Oh, apa aku saja yang ke sana, Honey?"lanjut Yoongi dengan bahasa mengerikannya. Ia berdiri dan duduk di samping Jimin secara santai.
Sungguh. Jimin memang ingin sekali dipanggil begitu, tapi kalau tiba-tiba seperti ini malah-
"Habiskan sarapanmu, Honey,"ujar Yoongi ramah.
Heol. Apa barangkali Yoongi sedang mengerjai Jimin sekarang.
"Kenapa wajahmu begitu, Honey?"
Jimin menelan ludah. Yoongi di sampingnya bukanlah Yoongi yang selama ini ia kenal.
"Ada apa hm? Honey?"
"HUWAAAAAA!"teriak Jimin berlari menuju kamar, "YOONGI-HYUNG MENAKUTKAAAAN!"
"Pfft!"
"Hahahhahahaha!"
Yoongi tertawa terpingkal-pingkal. Jarang-jarang keisengannta membuahkan hasil yang sangat menarik.
"Hahaha!"
.
.
-CUE-
.
.
Gamsahamnidaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa ~
Makasiiii udah nyempetin baca ya hehe ^^
How? How?
Di sini saya bikin Yoongi itu tipikal yang belum bisa nerima kenyataan bahwa sebenarnya ada lho! Ternyata ada lho yang sayang ama dia, yang cinta ama dia... Yoongi ngerasa dirinya yang seperti ini mana mungkin disukai ama Jimin, padahal kalo gentle, 'suka? Iya! Soh tunggu apa lagi!' seharusnya gitu kan ya, tapi Yoongi punya pemikiran sendiri mungkin, tapi sejak dia pacaran ama Jimin udah pede bgt kok, posesif bgt malah jadinya. Nganggap Jimin tu cuman bolehnya ama dia hahaha begitulah, lagipula banyak yang dipikirin Yoongi kalau mereka menjalin hubungan, Yoongi orangnya kepikiran terus kan ya segala sesuatunya...
Mian, lama update
Saya lagi sibuk ngayal yg aneh2 soalnya, mungkin ff saya yang satu lagi cepet update mana dua chapter deketan lagi, tapi yang ia agak dicuekin hihi mian, mian, sekali lagi saya lagi sibuk ngayal yg aneh2 soalnya, jadi ga semangat lanjutin ini... saya ngayal foto2 mesra mereka tersebar di internet, BigHit bilang itu ga mereka padahal jelas bgt kalo itu YoonMin, heboh bgt, abis itu tersebar foto2 lain, nah Bighit no komen, bahkan aktifitas BTS tetap jalan kaya ga da apa-apa, padahal dibalik layar si jiminnya udah mati kutu karena malu plus takut fansnya marah dan nama BTS tercoreng karena itu, sedang si yoongi mah, dianya ga khawatir cuman dia khawatir bgt ama Jimin. Selama beberapa bulan cuman rumor2 ga jelas yang tersebar, mereka bedua udah dipanggil ama bang pd, si yoonginya ngaku, jiminnya agak ragu tapi akhirnya ngaku juga, well, agensi terpaksa nutupin, disuruh putus juga percuma, putus ga putus sama aja kan toh mereka satu grup, kemana2 juga bareng, ngapain2 juga bareng, pa lagi kalo disuruh ngejaga jarak malah kesannya nge'iyain' rumor jadinya, kaya gitu aja terus sampai ide gila terpikir ama yoongi, kontrak mereka per lima tahun kan ya, 2013... brarti 2018 pembaharuan kontrak mereka, sekarang 2016, nah, selama dua tahun mereka backstreet trus konser 2018 yoongi bakal ngumumin kalo dia ama jimin bakal keluar dari BTS, trus tinggal bedua di rumah yang udah yoongi cicil bangunnya dari sekarang (bahkan rumahnya udah saya bayangin, model klasik, dua lantai, lantai satu khusus garase mobil, lantai dua satu ruangan lepas gaya apa namanya ituh, yang kayu yang kaya studio tua apartemen2 newyork gitu, ruangannya tinggi jadi kesannya luas banget, di sudut ruangan ada studio yoongi, studionya dinding kaca bening tapi kedap suara jadi keliatan dari luar ataupun dalam, yoongi mah pasti sibuk di studio terus kan, kalo ada apa-apa ama jimin di luar gmn? makanya dibuat pake dinding kaca bening, jiminpun bisa liat yoongi lagi ngapain, disebelahnya dapur soalnya hihi, di depan dapur ruang nonton sebelahnya kamar, dapur-ruang nonton-kamar ga da dinding benar2 ruang lepas soalnya mereka cuman bdua kan ya hehe, nah baru kamar mandi,kamar mandi mereka luas bgt, aduh kalo kamar mandi susah nih jelasinnya) well, sampai di mana tadi? sampai ide gila yoongi, bahkan dia rencana ngelamar jimin pas jimin ulang tahun, 13 oktober 2018, JIAH! trus mereka hidup bareng, yoongi jd composer, pencipta lagu, jiminnya pemilik cafe. ternyata akhir tahun 2016 rumor mereka kencan makin menguat, well fansnya ternyata ngedukung bgt, pro kontra sih, tapi sejak awal 2017 YoonMin couple resmi diketahui publik. ada suka duka di sana, keluarga jimin setuju2 aja kecuali adik cowoknya, mana setuju dia ya. kalo keluarga yoongi bapaknya yg ga setuju, emaknya seneng bgt bahkan, soalnya jiminnya baik kan ya manis kan ya dan hyungnya yoongi no komen. abis itu BTS tetap lanjut bahkan makin terkenal sampai 2018 yang direncanain yoongi itu, well mereka emang bener2 keluar, dan rencana yoongi berjalan lancar sampai mereka nikah tahun 2019 di amerika, BUT! khayalan saya masih lanjut bahkan sampai mereka punya anak hahha hari2 jimin ama yoongi sering jimin update di twitter lho, pernah dia-nya demam trus ada video singkat dr jimin isinya gini 'wajahnya cemberut trus kamera beralih ke dapur, tampak yoongi lagi masak, abis itu balik lagi ke dia yang udah senyum lebar aja' tulisan twitternya gini 'aku demam huhu TT v TT tapi yoongi-hyung jadi memasak untukku :D' begitu salah satu updatenya jimin, nah poko e pasangan satu ni so sweet bgt dah, sampai dua atau tiga tahun kemudian ada kejadian di mana si jiminnya jadi manjaaaaa bgt ama yoongi, jadi mesum, maunya nempel mulu ama yoongi, maunya ena2 mulu ama yoongi, cemburuan juga, pokonya tiba2 agresif gitulah, yoongi awalnya heran, makin heran pas jiminnya tiba2 malas ga mau beresin rumah, poko nya maunya nempel ma yoongi terus, semua terjawab ketika suatu malam yoongi terbangun denger muntahannya jimin, dia panik, jiminnya lemas dan yoongi langung bawa jimin ke rumah sakit dan, si dokter bingung awalnya, soalnya jiminnya ga kaya org keracunan makanan, demam atau dll, trus entah napa dia iseng aja, jiminnya tes kehamilan! abis pipis jiminnya shock bgt! garisnya itu! nunjukin kalo dia hamil! langsung aja si jiminnya di USG dan WHAT THE?! ada janin di perut jimin (saya udah searching kemana2 ttg malepregnant ini hoho) yoonmin abis kata2, palagi dokternya, dokter kandungan sekarang, (dokter umum nyerahin jimin ke dokter kandungan super ganteng, ntar dia lumayan bikin problem dihubungannya yoonmin) dokter ganteng ni bilang itu ga mustahil, berarti mulai sekrang jimin musti ngerawat tubuhnya hati2 trus harus rajin check up, secara kasus jimin langka banget, sampai dalam mobil di parkiran rumah sakit baru dua2nya sadar, sempat nganga2 aja dari tadi haha, pas di mobil so sweet bgt, jiminnya nangis trus yoongi ikutan terharu dan meluk jimin, ga nyangka mereka bakalan punya seseorang yang berhubungan darah mereka bedua, duh saya ngebanyanginnya, pasti mengharukan bgt, jimin langsung nelpon eommanya, ngasih tahu, awalnya eommanya ga percaya tapi akhirnya percaya juga karena denger suara serak jimin, wualah terharu bgt dah, mau punya cucu soalnya, dia ngasih selamat, ngasih nasehat ngasih salam buat menantunya hihi trus jiminnya nyuruh yoongi nelpon eomma yoongi, mana yoongi mau, tapi akhirnya mau juga karena dibujuk jimin, sebelas dua belaslah reaksinya ama reaksi eomma jimin, yang saya seneng itu eommanya pengen ngomong ama jimin, dia bilang gini "jiminie,"manggilnya lembut bgt, soalnya eomma yoongi sayang bgt ama jimin, "ne, eommonim,"jiminnya juga sopan campur ceria gitu hehe "aigooo, selamat ya nak, eomma seneng bgt, besok eomma ke rumah kalian ya." begonohlah kira2, OPS! panjang bgt ya? bosan? wkkwkwk atau saya bikin ff tentang kunjungan mertua ini dalam edisi khusus bin spesial? wkwkkwk
well, masih panjang lagi khayalan, sampai2 kehidupan sekolah anak2 mereka juga kepikiran wkwkkwk
Well, maaf udah curhat panjang lebar
Once again, gamsahamnida ~
Balasan review ^^
nnavishiper : Ne, kasian chimchim, yoongi-nya mah ga pede-an gitu orangnya, tapi sekrang mereka udah aman kok hoho Yup! Bagi saya di BTS ukenya 2 doang hihi Cabut Giginya Sukses! (Gomawo ^^)
Fify : Kaciaaaannn ~ But, mereka udah co cweett lagi kok hihi Yup, ni edisi masa lalu mereka (Gomawo ^^)
amiracarlin2: Aaah~ Makasi makasi! Hoho Saya emang baik hati hoho saya emang rajin nabung hoho saya emang ga sombong hoho PLAK #ditabokemaksaya Bener, sakit hati, kezzzellll banget dah anda ini suka sekali ngajak orang ngopi ya, punya hubungan apa ama jessica? Kakak seperguruan? Haha (Gomawo ^^)
Senashin0817: Huuuaaa! Tapi sekarang udah ga lagi hehe Benarkah? So, gimana ama chapter ini?
kkwonzz: Azeeek! Panjang reviewnya! XD Saya suka! Saya suka! Astaga! Min Yoongi! Anda dituntut karena sudah menyakiti hati reader saya ini! Silahkan cari wali dan saksi, soh nikah aja! Tapi siap-siap ama Jimin yang jadi iblis hahahahaha Ish! Ish! Ish! So sweet dah poko e untuk YoonMin Couple ini hehe Bener! Yoongi PHP level dewa, karena itu juga si Jiminnya bersikeras biar Yoongi-nya jujur, dia bohong karena ga pede hihi SEMOGAYOONMINBAHAGIA! HOHO! Fighting! (Gomawo ^^)
jchimchimo: emang (Gomawo ^^)
itsathenazi: Iya, waktu mereka belum jadian ~ hehe How? (Gomawo ^^)
Tiwi21: Bener. Bener. Ngapain ditutup2i gitu. Dasar si Yoongi Pabo! Haha (Gomawo ^^)
sersanjung : Mau gimana lagi, pikiran Yoongi emang gitu. Tapi, mereka akhirnya jadian juga kok hoho (Gomawo ^^)
The Min's: Maap ya lama update... (Gomawo ^^)
kumiko Ve : Bener kan ya? Jimin itu menggoda banget kaya coklat kaya permen pengen dimakan pengen diemmmmut hihi Iya, ini flashbak hubungan mereka, Yoongi ngerasa Jimin terlalu sempurna untuk dia JIAH! Mana dia pikir Jiminnya ga suka ama dian, tapi sekrang mereka udah saling ngerti kok hehe (Gomawo ^^)
Park Rinhyun-Uchiha: Jiminie ~ Hihi bener bener, saya sampai nabung demi BTS NOW 3 itu padahal ga pernah pesen sebelumnya, ga niat tapi karena YoonMin feel saya makin akut- TABUNGAN SAYAAAA! Hiks hiks! Fighting! (Gomawo ^^)
sxgachim : *eits!langsung Yoongi tangkep hahaha Bener! Bener! Jahat kan ya, makanya kalua bisa besok2 saya bikin Yoongi yang menderita Wa! Wa! Wa! Ga janji ya, ga janji hehe (Gomawo ^^)
