I'M SORRY TO LOVE YOU

CAST :
JUNG YUNHO
KIM JAEJOONG
SHIM CHANGMIN

Other Cast :
CHO KYUHYUN
WU YI FAN-KRIS

RATED : T

GENRE : Hurt/Comfort, Angst , Romance

CHAPTER 13

BOLD WORDS = FLASHBACK

.

.

.

3 YEARS LATER

3 tahun telah berlalu. Itu bukanlah waktu yang singkat untuk mengalami suatu perubahan dalam hidup. Pasti keadaan hidup setiap orang selalu berubah seiring jalannya waktu, meskipun itu suatu hal yang baru atau hal yang lama tetapi belum dapat terhapus.

Ini juga terjadi pada namja yang memiliki marga KIM. Entah sudah berapa banyak cerita bahagia, cerita sedih, cerita mengharukan hingga memilukan hati yang terjadi selama 3 tahun ini. Tapi jika ia bercerita, mungkin cerita bahagia yang lebih banyak terdengar. Jika namja itu boleh jujur, selama ini orang yang berada disampingnya selalu membuatnya bahagia.

Jika fajar sudah sedikit terlihat, dapat dirasakan pipinya yang selalu dikecup sayang untuk membangunkannya dari mimpi indahnya. Setiap dirinya merasa kesepian karena ditinggal sendiri, seorang yang berucap diseberang sana melalui telfon genggamnya selalu mengucapkan kata rindu. Jika bintang dan langit telah bermunculan, dekapan hangat selau dirasakannya. Hal itu selalu terjadi setiap hari, ia tidak menyangka jika kekasihnya SANGAT mencintainya. Jaejoong harus berterima kasih kepada Tuhan karena telah mengirimkan seorang bernama WU YIFAN dalam hidupnya walaupun di lain sisi terkadang rasa bersalah bermunculan di hatinya, karena sudah banyak waktu ia habiskan bersama kris tetapi rasa cinta itu hanya terasa sangat sedikit dihatinya. Ia harus belajar dan belajar untuk mencintai kekasihnya.

.

.

.

Dedaunan yang berubah warna menjadi cokelat berguguran menutupi jalanan. Entah apa yang membuat daun-daun itu terlihat indah yang pasti orang-orang terlihat senang ketika musim gugur telah berdatangan. Suara berisik saat pejalan kaki menginjak beberapa helai daun membuat suatu ciri khas dari musim gugur tersebut.

Dengan pakaian casual yang digunakannya, sebuah kaos v neck putih dan celana jeans yang membalut kulit putihnya membuat wajah cantik nan tampannya semakin terlihat indah. Sepertinya bahan-bahan makanan rumahnya yang habis menyuruhnya untuk berjalan ke mall yang tidak terlalu jauh dari apartemennya. Diliriknya catatan kecil yang sudah dibuatnya untuk membeli bahan apa saja yang dibutuhkannya sebelum dirinya benar-benar memasuki mall tersebut dan siap berbelanja.

"Aku tidak mengerti apa yang anak kecil ini ucapkan" Ucap seorang pramuniaga kepada pramuniaga lainnya "sepertinya dia tidak bisa bahasa mandarin"

Jaejoong, namja itu hanya mendengar percakapan tersebut sembari mengambil beberapa sayur-sayuran dan memasukannya ke dalam ranjang belanjaannya. Dia melirik sekilas pramuniaga-pramuniaga yang masih berbicara itu dan dilihatnya seorang anak kecil yang dimaksud pramuniaga tadi. Anak kecil yang berumur sekitar 4 tahun itu menangis sesenggukan di gendongan salah satu pramuniaga. Jaejoong melihat kasihan pada anak kecil itu.

"Dari tadi aku bertanya tapi dia malah menjawab 'hyung eodiseo, hyung eodiseo' aku tidak mengerti apa maksudnya" Salah satu Pramuniaga itu mengikuti bagaimana anak kecil tadi berbicara sebelum ia benar-benar menangis keras seperti sekarang. Dielusnya kepala anak kecil itu yang mungkin saja bisa menenangkannya walaupun hanya sedikit.

Jaejoong yang masih mendengarkan percakapan tersebut merasa iba. Ia bisa berbahasa korea berarti ia harus menolongnya bukan? Namja berbibir kecil itu berjalan kearah pramuniaga yang berjumlah lebih dari tiga orang

"Permisi"

"Ya?"

"Maaf tadi aku lancang mendengar percakapan kalian, tapi maksud kedatangan saya kemari ingin membantu kalian karena saya mengerti maksud anak kecil ini" Jaejoong tersenyum

"Tidak apa-apa Tuan. Syukurlah jika anda mengerti. Saya tidak tega melihatnya menangis seperti ini"

Jaejoong kembali melemparkan senyumnya pada semua pramuniaga di depannya, diliriknya anak kecil itu "Adik kecil, apa kau terpisah dari hyungmu hmm..?"

Merasa bahasa yang dilontarkan oleh Jaejoong tidak asing ditelinga anak kecil tersebut dan dimengerti olehnya, diulurkan tangan kecilnya kearah Jaejoong seperti ingin meminta Jaejoong saja yang menggendong dirinya. Mengerti maksudnya, Jaejoong mengambil alih anak kecil itu dan menggendongnya kembali

"H-hyun ilang ahjuci..hikss.. tidak tau temana pelginya.. hikss.."

"Sshh..jangan menangis nanti air matamu habis sayang" Jaejoong menghapus air mata yang sudah banyak mengalir dipipi anak kecil yang tidak ditau namanya. Ah benar ia lupa menyakan nama anak ini.

"Siapa nama—"

"Yoogeun! Ternyata kau disini"

Dengan bahasa koreanya, seseorang tadi sedikit berteriak kearah Jaejoong saat dilihatnya anak kecil atau lebih tepat namdongsaengnya yang sudah dicarinya kemana-kemana kini sudah ditemukannya

"H-hyung .. hikss"

Jaejoong menolehkan kepalanya kesamping saat hyung dari anak kecil yang bernama yoogeun ini sudah tepat disampingnya. Mata Jaejoong terbelalak kaget, orang ini..

"Kyuhyun? Changmin?"

"Jaejoong hyung?"

.

.

.

Musik klasik yang mengalun membuat suasana di kafe semakin nyaman. Apalagi meluangkan waktu bersama keluarga, sahabat dan juga kerabat untuk bercerita menjadi lebih seru. Jaejoong, Changmin , Kyuhyun, dan tentu saja Yoogeun sudah menghabiskan waktunya setengah jam bercengkrama di kafe ini. Terutama Jaejoong dan Changmin yang lebih banyak bercerita dan Kyuhyun yang sibuk menyuapi yoogeun, karena meskipun seorang anak kecil tapi siapa sangka yoogeun memesan begitu banyak makanan seperti kue dan ice cream. Changmin senang akhirnya ia dapat bertemu dengan Jaejoong, karena terakhir kali ia mengetahui kabar namja yang sudah dianggapnya Hyung ini bersumber dari Yunho yang setelah sukses bertemu dengan Jaejoong di China tetapi ia tidak dapat memebawa kembali Jaejoong ke Korea dan itu tepatnya 3 tahun lalu.

"Apa kalian sudah menikah?" Tanya Jaejoong pada Changmin dan Kyuhyun. Kyuhyun menghentikan tangannya yang sedang menyuapi yoogeun dan melihat kearah Changmin. Mereka saling pandang dan tertawa kecil.

"Kami memang sudah merencanakannya hyung. Tahun depan kami akan melangsungkan pernikahan" Jawab Changmin.

"Benarkah? Aku doakan semoga kalian selalu bersama"

"Terima kasih atas doanya Jae hyung. Kami akan mengundangmu dan ingat, hyung harus datang. Karena hyung tamu special kami" Kali ini Kyuhyun yang menjawab.

"Tentu saja, hyung pasti akan datang. Benar tidak Yoogeun?"

Yoogeun tersenyum kepada Jaejoong dengan bibir yang sudah penuh dengan ice cream. Sepertinya usaha Kyuhyun yang ingin menyuapi Yoogeun sia-sia saja karena Yoogeun sedari tadi berusaha mengambil sendok yang dipegang oleh Kyuhyun dan mencoba menjadi anak kecil mandiri yang ternyata gagal.

"Yoogeun, hyung kan sudah bilang biar hyung saja yang menyuapimu. Apa kau ingin disuapi changmin hyung?"

Yoogeun menggeleng. sendok kecil yang sudah berisi ice cream diarahkannya kepada Jaejoong.

"Ahjuci cantik.. ini yoogeun cuapi ice tlim buat ahjuci, talena tudah menolong yoogeun tadi"

Kyuhyun dan Changmin hanya menggeleng melihat tingkah Yoogeun. Sedangkan Jaejoong menerima suapan Yoogeun dengan membantu tangan Yoogeun menggunakan tangannya saat anak kecil nan imut ini ingin memasukan ice cream cokelat kedalam mulutnya.

"Aaaaaa.. Mashita" Jaejoong memperlihatkan senyum tulusnya pada Yoogeun, kemudian kepada kyuhyun dan Changmin. Tapi anehnya, Kyuhyun dan Changmin hanya terdiam menatap dirinya, membuatnya sedikit bingung.

"Ada apa?"

"H-hyung cincin itu?" Changmin menunjuk cincin yang melingkar di salah satu jari Jaejoong. Ia tidak sengaja melihat saat Jaejoong memegang tangan Yoogeun menggunakan tangan kanannya. Jaejoong terkesiap dan memegang cincin yang dimaksud Changmin.

"A-aku, changmin.."

"kau sudah bertunangan hyung?" Tanya Changmin pelan tetapi ia merasa sangat sangat gugup menanyakan ini pada Jaejoong.

Jaejoong mengangguk sebagai jawaban "Aku sudah bertunangan 2 bulan lalu. Aku bertunangan dengan K-kris"

Kyuhyun sangat kaget mendengar jawaban dari Jaejoong. Sulit dipercaya jika lelaki itu telah berhasil merebut hati Jaejoong dan sebentar lagi Jaejoong akan menjadi milik kris seutuhnya. Berbeda dengan ekspressi kaget Kyuhyun, Changmin tersenyum kecut dengan matanya yang sudah memerah. Hatinya sangat tertohok mendengar Jaejoong yang berbicara langsung jika Ia telah bertunangan dengan Kris. Ditolehnya Kyuhyun yang berada disampingnya, dan saat itu juga air matanya jatuh.

"C-Changmin? Kenapa kau menangis? A-ada apa? Bukan maksudku untuk—"

"Hyung?" Changmin menggenggam kedua tangan Jaejoong. Menatap lekat mata Jaejoong. Jika ia boleh saja menangis meraung saat ini juga, Changmin akan menangis sejadi-jadinya. Tapi untuk saat ini ia tahu dimana sekarang ia berada "Aku ingin minta pertolonganmu hyung. Ini tentang—" Changmin terdiam. Ini bukanlah cara yang salah, betul ini bukan keputusan yang salah mungkin ini cara satu-satunya agar seseorang disana merasa bahagia.

"Tentang Yunho hyung"

Jaejoong menarik tangannya yang digenggam oleh Changmin

"Yunho?" Ucapnya lemah.

.

.

.

Awan kemerehan menyelimuti awan putih yang semakin pudar. Matahari mulai tersembunyi dengan mengumpatkan dirinya dibelahan bumi lainnya. Angin yang tidak terlalu keras membuat dedaunan berguguran tidak terlalu banyak.

Jaejoong hanya menyenderkan kepalanya dekat dengan jendela taxi yang mengajaknya untuk balik ke apartemennya. Rasanya setengah harinya sudah habis untuk bersama Changmin, Kyuhyun dan Yoogeun. Kepalanya terasa akan pecah mendengar berita yang Changmin katakan hingga sampai akhirnya ia menyetujui untuk membantu apa yang dimaksud Changmin. Changmin hanya memeluk erat tubuhnya dan mengucapkan banyak-banyak 'terima kasih' tetapi setelah itu dirinya menangis sama seperti apa yang changmin lakukan sebelumnya.

Rasa lelah merasuki dirinya. Jaejoong memejamkan matanya, hanya memejamkannya saja dan tidak sepenuhnya jatuh tertidur. Dalam matanya yang terpejam, ia dapat melihat cahaya-cahaya lampu jalanan yang mencoba menerobos masuk ke dalam retinanya.

"Yunho-ah" Bibir merahnya menggumamkan nama orang itu. Orang yang selama 3 tahun ini hampir dapat dilupakannya. Tetapi mendengar nama orang itu kembali kilasan-kilasan masa lalu yang sangat banyak kembali terbayang. Jaejoong masih ingat saat terakhir kali ia melihat namja bermata musang itu

FLASHBACK

"Jaejoong, ada temanmu yang ingin bertemu"

Nama yang dipanggil menolehkan kepalanya kebelakang dan melihat Bibinya yang berada di pintu kamarnya. Jaejoong mengernyitkan dahinya, Teman? Bukankah jika temannya ingin bertemu dengannya pasti ada pesan atau telepon yang ia terima. Tapi ini?

Jaejoong kembali melihat pemandangan salju yang semakin banyak berjatuhan seperti air hujan. Helaan nafas panjang membuat kaca jendela di depan Jaejoong menjadi sedikit buram. Tangannya bermain-main dan menuliskan kata-kata random yang berada dipikirannya.

"Kau tidak ingin bertemu dengannya?"

"Tidak" ucap Jaejoong cepat. Masih jelas sekali memori pertikaian antara Kris dan orang yang disebut TEMAN oleh bibinya ini. Kejadian itu baru saja terjadi kemarin, bagaimana mungkin bisa terhapus dengan cepat?

"Tapi dia hanya ingin berpamitan denganmu Jae. Karena nanti sore dia akan kembali ke Seoul. Sungguh kau tidak ingin bertemu dengannya?"

Berpamitan?
Kembali ke Seoul?
Semua cerita telah selesai sampai disini?
Begitu gampangnya membuat suatu keputusan dengan sepihak?

"Tolong panggilkan dia Bi. Aku akan menunggunya disini"

"Baiklah. Kau tunggu disini, bibi akan panggilkan dia untukmu"

Jaejoong memainkan baju sweater hangatnya. Entah mengapa tiba-tiba dia merasa gugup untuk berhadapan lagi dengan Yunho. Jantungnya berpacu dengan cepat, tangannya sedikit terasa dingin. Ia tahu apa yang tengah terjadi pada dirinya sekarang tapi sekuat mungkin ia akan melawan rasa itu. Jaejoong menarik roda kursi rodanya, semakin mendekat kearah jendela. Dilihatnya pemandangan putih yang semakin jelas dari kaca beningnya.

KLEK

Matanya dengan cepat melihat orang yang membuka pintu kamarnya melalui kaca jendelanya. Jaejoong tidak menoleh sama sekali, ia hanya bertatap muka dari jendela bening yang memantulkan wajah masing-masing. Dapat dilihat orang itu tersenyum pada Jaejoong meskipun dengan luka diwajahnya yang masih terlihat jelas.

KLEK

Pintu kamar itu berbunyi sekali lagi menandakan pintu itu kini kembali tertutup. Suasana hening mewarnai keadaan dikamar Jaejoong. Jaejoong tetap berada di posisinya begitu juga namja yang ingin bertemu dengan Jaejoong. Jarak mereka lumayan Jauh karena luas kamar Jaejoong yang lumayan luas, tapi bagi Jaejoong bayangan namja itu terasa sangat dekat dengannya.

"Waktumu hanya 5 menit. Cepat katakan apa yang perlu kau katakan Jung Yunho"

"Terima kasih kau masih mengizinkanku untuk bertemu denganmu Jae. Aku sangat senang" Yunho semakin melebarkan senyumnya. Jaejoong tetap menonton pantulan diri Yunho dari jendela kamarnya.

"Hanya itu?"

"Tidak" Yunho menggelengkan kepalanya "Aku kemari untuk memberi tahumu, bahwa aku akan berhenti sampai disini"

"…."

"Kris, ternyata dia memang sangat mencintaimu dibandingkan aku yang lebih sering membuatmu menangis. Mungkin Tuhan menghukumku karena telah menyia-nyiakan orang yang dengan tulus mencintaiku. Kini hukuman setimpal dengan apa yang telah ku perbuat padamu"

"Penyesalan selalu datang diakhir cerita, bukankah begitu Yunho-ssi?" Jaejoong tersenyum remeh, Mata musang itu dapat melihat bagaimana ekspressi Jaejoong sekarang. Itu memang pantas buat dirinya

'Akting yang sangat bagus Jae, dirimu memang hebat berakting seperti ini'

"Benar. Dan akulah yang harus menderita diakhir cerita ini" Balas Yunho

'Tidak, tidak hanya kau Yun. Aku masih tersiksa, sangat tersiksa'

"Benar sekali Tuan Jung. Kaulah yang pantas menerima semua itu"

"Maafkan aku Jae, maaf. Kau boleh membunuhku, kau boleh mencaciku, kau boleh memukulku, kau boleh membuatku selamanya menderita—"

"Pergilah dari hidupku. Itu sudah cukup untuk mengurangi rasa bersalahmu padaku. Itu hal yang mudah bukan? Aku tidak perlu harus mengotori tanganku dengan membunuhmu, atau mencaci maki dirimu, itu hanya membuang-buang waktuku"

Yunho hanya terdiam mendengar perkataan Jaejoong. Sesakit inikah yang dirasakan Jaejoong saat ia pernah menyuruh Jaejoong pergi dari hidupnya? Ternyata sangat menyakitkan sekali sampai bibirnya susah untuk mengeluarkan kata-kata.

Tapi..

Yunho menganggukan kepalanya

"Baiklah aku akan pergi dari hidupmu tapi biarkan kau selalu berada dihidupku. Aku akan selalu menunggumu datang di kehidupku Jae. Kau tidak akan tahu apa yang terjadi besok bahkan sedetik dari sekarang, Tuhan akan mencoba membalikan hati manusianya, mengaturnya sesuai kehendaknya. Dan aku yakin suatu saat aku akan KEMBALI kehidupmu walau kau tak ingin itu terjadi"

Jaejoong seketika membeku mendengar penuturan Yunho. Benar, ia bahkan tidak tahu apa yang akan terjadi di kehidupan selanjutnya. Apakah ia akan bersama Kris atau orang yang diinginkannya pergi dari hidupnya ini atau bersama orang lain? Seperti sebuah teka-teki ada saatnya kolom-kolom kosong akan terisi dengan jawaban yang pas sesuai dengan waktunya.

"Cih! Omong kosong! Waktumu habis Yunho-ssi, kau tahu apa yang harus kau lakukan sekarang bukan? Pergi sebelum Kris kembali melihatmu, siapa tahu ia akan melukai lukamu yang belum mengering itu?"

"Aku tahu. Dan sampai Jumpa Jaejoong-ah, kuharap kau bahagia bersama Kris. Dan satu hal lagi yang harus kau ketahui, bahwa aku sangat mencintaimu. Sangat mencintaimu"

FLASHBACK END

Kelopak matanya kembali terbuka perlahan disaat kilasan balik ceritanya telah selesai. Itu, sudah sangat lama. Jujur ia merindukan bagaimana suara Yunho yang memanggil namanya, mengatakan cinta kepadanya, tersenyum kepadanya, dan juga muka menjengkelkannya ketika melihat Jaejoong. Tawa yang sangat halus mengalun kecil ketika Jaejoong mengingat bagaimana ia memaksa Yunho untuk tersenyum. Jaejoong ingin sekali lagi merasakan kenangan itu lagi.

"Aku sudah tahu apa yang akan terjadi setelah ini Yun. Tapi ternyata kau tidak mengetahuinya. Tunggu aku, aku akan menemuimu kembali. Yunho-ah? aku merindukanmu" Gumam Jaejoong sembari memeluk tubuhnya yang sedikit bergetar

.

.

.

Kris menarik selimut tebal lalu menyelimuti tubuh Jaejoong sampai dadanya. Setiap malam dikala ia tidak ketiduran karena pekerjaannya yang sangat banyak Kris akan menyempatkan waktu untuk datang ke kamar Jaejoong dan mengucapkan selamat malam untuk tunangannya. Walaupun sudah bertunangan tapi Jaejoong masih belum siap untuk tidur seranjang dengan Kris. Kris memakluminya, ia tidak marah atau membenci Jaejoong hanya karena hal sepele –jika bisa dikatakan- seperti itu. 'Jika kita sudah menikah, aku akan selalu disampingmu selama kau tertidur' itulah ucapan Jaejoong padanya. Selama kehidupan masih berjalan waktu pasti tidak akan terasa, 6 bulan lagi ucapan Jaejoong akan menjadi nyata dan 6 bulan lagi Kris akan menjadi SUAMI jaejoong.

"Tidurlah baby" Kris mengelus sayang rambut Jaejoong. Tak lupa senyumnya yang diberikan untuk Jaejoong "Ini sudah malam kau harus tidur"

Jaejoong hanya menatap Kris dan juga tersenyum kecil. Jaejoong menggeleng disaat Kris menyuruhnya untuk mulai memejamkan matanya. Tingkah Jaejoong seperti anak kecil yang tidak ingin tidur tanpa ditemani orang tuanya.

"Oh, kau sudah mulai nakal hmm..?" Namja bertubuh tinggi itu mencubit hidung Jaejoong dan terdengar nada kesakitan dan juga protes dari Jaejoong.

CHUP

CHUP

CHUP

Kris mencium kening lalu kedua mata Jaejoong dan memeluk tubuh Jaejoong erat. Jaejoong merasakan degup jantung Kris yang berdetak begitu cepat dan nafasnya yang berhembus pelan mengenai lehernya. Jaejoong mengaitkan kedua tangannya ketika ia berhasil memeluk tubuh Kris. Posisi Kris yang duduk di pinggir kasur Jaejoong membuatnya semakin mudah memeluk tubuh dibawahnya.

"Jae, kau adalah hadiah yang paling terindah dihidupku"

"Dan aku sangat bahagia karena pemilik hadiah ini selalu menjagaku, melindungiku, menyayangiku dan juga mencintaiku"

"Untuk permintaanmu tadi—"

Bibir cherrynya digigit pelan saat arah pembicaraan Kris sudah mulai berubah. Tadi, pada saat makan malam ia berbicara pada Kris jika dirinya meminta izin selama seminggu untuk kembali ke korea. Awalnya Jaejoong sudah merencanakan jika ia memang harus berbohong kepada Kris untuk mengizinkannya ke Korea. Tapi Kris yang statusnya sudah sebagai sahabat Jaejoong dari kecil hingga menjadi tunangannya, tentu saja ia tahu jika Jaejoong tengah berbohong. Mau tidak mau Jaejoong harus jujur untuk apa tujuannya ke Korea. Jaejoong merasa bersalah dan berdosa kepada Kris, tapi apa boleh buat? Ia harus mewujudkan permintaan Changmin dan juga ini tulus dari hatinya untuk Yunho.

"—aku sudah memutuskan jika kau boleh pergi ke Korea dan melakukan apapun yang kau inginkan bersamaNYA selama waktu yang tersedia"

"K-kris…"

"Aku mengizinkanmu untuk bersamanya bukan berarti aku tidak mencintaimu lagi. Tapi aku melakukan ini agar kau bisa merasakan cintanya"

"Terima kasih, terima kasih Kris"

"Untuk malam ini saja, boleh aku tidur bersamamu baby?"

"Tentu. Kau boleh tidur bersamaku"

TO BE CONTINUE

.

.

.

Hallo. Apa kabar semua? ^^
Maaf baru bisa update chapter yang ke-13 sekarang dan maaf juga jika mengecewakan.
Lebih dari 1 bulan saya tidak urus ini ff u,u
But for next chap saya akan update sekitar 1-2 minggu lagi. Itu special chap buat
YUNJAE MOMENT:D

Makasih buat yang sudah baca, review, follow, favorites fanfic ini.
Welcome buat new readers^^

See you di next chap ya. Sorry buat typo-typonya karena saya tidak edit lagi.
Love you readers. Bye.. #BOW